Dark Christmas

Author : chokyu88

Cast : Kim Jong Woon aka Yesung, Cho Ha Na

Genre : Sad romance

Length : One Shoot

Rating : PG+15

 

Seoul, 24 Desember 2011

Cho Ha Na’s POV

“Yak Cho Ha Na! Kau mau tidur sampai kapan hah?” suara Hyun Ki oppa terdengar bising di telingaku.

“Aku masih mengantuk oppa, biarkanlah aku tidur sebentar lagi.” Aku kembali menarik selimutku.

“Baiklah kalau kau tidak mau bangun juga, aku akan menyuruh Yesung-mu untuk pulang lagi.” Hyun Ki oppa mulai berjalan keluar kamarku.

“Yak oppa jangan!!! Baik aku segera bangun! Aish oppa ini kerjanya mengangguku saja!” gerutuku kesal.

“Salah sendiri kau tidur larut malam. Sudah cepat lekas mandi, kasihan Yesung sudah menunggu cukup lama.” Perintah Hyun Ki oppa lagi.

“Ne oppa.” Aku menjawab dengan malas.

Aku bergegas bangkit dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi, tapi tak sengaja aku melihat kalender yang tergantung manis di dinding kamarku.

“ASTAGA! Kenapa aku bisa lupa! Aku kan memang punya janji dengan Yesung oppa hari ini! Aish bodohnya aku sampai lupa.”

Setelah 10 menit berada di kamar mandi, akhirnya aku selesai dan memilih pakaian yang kurasa cocok. Cukup lama aku memilih pakaian mana yang akan aku kenakan, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah baju terusan bewarna merah muda. Tak lupa juga aku memakai mantel tebal jika tak ingin mati kedinginan. Rambutku kubiarkan terurai. Sengaja aku tak mengikatnya dengan tujuan untuk membantu menghangatkan tubuhku. Yap. Aku siap sekarang.

Aku keluar kamarku dan berjalan menuju ruang tamu. Aku melihat Yesung oppa, Hyun Ki oppa, dan eomma sedang bercakap-cakap. Aish mereka sedang membicarakan apa sih? Kelihatannya seru sekali. Awas saja kalau mereka sampai membicarakanku.

“Nah itu Ha Na. Yak! Kau ngapain saja hah? Lama sekali kau tahu! Apa kau tidur lagi?” celoteh Hyun Ki oppa.

“Aniyo oppa! Aku tidak tidur lagi! Cerewet sekali sih kau ini oppa!” gerutu kesal.

“Hei, kalian sudah jangan bertengkar. Sudahlah Ha Na, makanya kau jangan suka tidur larut malam! Lihat, kasihan kan Yesung jadi menunggumu lama begitu.” Lerai eomma.

“Gwenchana eommonim.” Kata Yesung oppa.

“Ah mianhae oppa, aku kesiangan.” Ucapku bersalah.

“Untung saja kau kubangunkan, coba kalau tidak…”

“CHO HYUN KI BISAKAH KAU TIDAK CEREWET HAH? ATAU KAU MAU MELIHAT VAS BUNGA INI MELAYANG KE WAJAHMU?” teriakku marah.

“Aigooo nae dongsaeng mengapa jadi galak begini? Ya, Yesung-a kau kok betah sih berpacaran dengan gadis galak satu ini?” ledek Hyun Ki oppa lagi.

Hampir saja aku melempar vas bunga, jika Yesung oppa tidak menahanku.

“Sudahlah Ha Na-ya~ Hyung memang benar, kau itu galak sekali.” Ujar Yesung oppa sambil cengengesan.

“Tuh lihat kan? Oppa-mu saja sampai bilang kau galak…YAK APPO eomma.” Hyun Ki oppa mengelus-ngelus kepalanya karena terkena jitakan eomma.

“Kau itu bisanya hanya meledek adikmu saja, itu rasakan jitakan eomma.” Kata eomma.

“Hahahaha rasakan kau oppa!” ejekku sambil memerongkan lidah.

“Ehm eomonim, hyung, aku dan Ha Na pergi sekarang ya.” Pamit Yesung ditengah keributan ini.

“Ah iya silakan. Maaf telah menyuguhkan keributan ini di depanmu.” Ucap eomma tak enak.

“Gwenchana eomonim.” Balas Yesung sambil tersenyum.

Baru saja aku dan Yesung menuju pintu untuk pergi, tiba-tiba terdengar suara paling menyebalkan itu lagi,

“Ya~! Yesung-a~ Jaga dirimu ya! Hati-hati dengan gadis galak disebelahmu!”

BUG. Sebuah vas bunga berhasil mendarat mulus di kepala Hyun Ki oppa. Hahaha rasakan itu. Siapa suruh memanggilku gadis galak, memangnya dia pikir aku akan makan orang apa?

***

Aku masih saja mengkerucutkan bibirku karena kesal dengan ulah Hyun Ki oppa, dan bisa-bisanya Yesung malah ikut meledekku.

“Ya~ kau terlihat jelek jika kau bersikap seperti itu Hana-ya~”

“Biarkan saja. Siapa suruh kau tadi ikut-ikutan meledekku bersama manusia menyebalkan satu itu!” balasku kesal.

“Aku kan hanya bercanda, Ha Na-ya~ sudahlah jangan kau ambil hati perbuatan oppamu itu.”

“Ah ya, aku ingin bertanya padamu oppa.” Kataku mengalihkan pembicaraan.

“Jadi kau sudah tidak marah?”

“Tidak jika kau menjawab jujur pertanyaanku.”

“Baik baik aku akan menjawab jujur pertanyaanmu, jadi apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Yesung oppa terlihat begitu penasaran.

“Hhhmm, sebenarnya apa yang tadi kau bicarakan dengan eomma dan Hyun Ki oppa?”

Yesung tidak langsung menjawab, ia terlihat menimbang-nimbang sesuatu dan akhirnya menjawab,

“Aku suka kebiasaanmu itu Ha Na-ya~”

“Ne?” tanyaku tak mengerti. Aish jangan bilang kalau Hyun Ki oppa dan eomma membeberkan kebiasaanku yang selalu saja bercerita tentang Yesung oppa kepada mereka.

“Ya, aku suka kebiasaanmu yang selalu menceritakan tentang diriku kepada mereka. Kau tahu? Itu artinya aku selalu ada di pikiranmu. Terima kasih sudah memikirkanku, Ha Na-ya~” jawab Yesung oppa sambil tersenyum ke arahku.

Sial! Hyun Ki oppa memang benar-benar menyebalkan! Lihat saja nanti di rumah akan habis dia ditanganku.

“Jangan menyalahkan Hyun Ki hyung, dia tidak salah. Justru aku mau berterima kasih padanya.” Kata Yesung seraya bisa membaca pikiranku.

Wajahku bersemu merah karena malu. Tapi untuk menutupinya aku berusaha bersikap sedingin mungkin dan bertanya padanya, ke mana tujuannya pergi mengajakku hari ini.

“Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana sih?”

“Bukit.” Jawabnya singkat.

“Mwo? Ke bukit? Apa kau sudah gila hah? Kau berencana untuk mengajakku piknik begitu? Apa kau tidak berpikir, bahwa aku bisa mati membeku di sana!” ujarku tanpa henti.

Ish, yang benar saja! Di tengah-tengah cuaca begini dia mengajakku ke bukit dan membiarkan aku mati membeku di sana? Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.

Aku melirik ke arahnya, ia hanya tersenyum dan tiba-tiba saja ia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Karena begitu tiba-tiba, aku agak terhentak ke belakang. Tapi kemudian dia membisikkan sesuatu di telingaku,

“Kematianmu adalah sesuatu yang paling tidak aku harapkan.” Kata Yesung dan dia memakaikan sabuk pengamanku.

Dua kali saja dia membuat pipiku memerah hari ini. Tapi yeah, harus aku akui, aku tersentuh dengan kata-katanya.

“Oh ya Ha Na-ya, aku lupa jika bukit yang aku maksud itu akan jauh lebih indah jika malam hari, jadi bagaimana jika sekarang kita taman bermain dulu? Ke Lotte World maksudku. Bagaimana?” tanyanya kemudian.

“Ya ya terserah padamu oppa.” Kataku yang benar-benar tak mengerti apa kemauannya.

“Baiklah.” Yesung oppa segera melajukan mobilnya keluar dari rumahku.

Selama perjalanan kami saling diam. Entah apa yang dia pikirkan, tapi berulang kali aku melihatnya sedang tersenyum. Jujur aku terpana dengan senyumannya itu. Wajahnya terlihat 2 kali lebih tampan, ani, 10 kali lebih tampan kalau dia sedang tersenyum seperti itu.

“Aku tahu aku tampan. Tapi kau tak perlu memandangku seperti itu kan?” ujarnya mengagetkanku.

Ah sial aku tertangkap basah sedang memandanginya.

“Memangnya siapa yang sedang memandangmu hah? Aku itu sedang memandang pemandangan di luar sana.” Ucapku mengelak

“Aah jadi sejak kapan deretan gedung-gedung dan kemacetan lalu lintas kau bilang pemandangan?”

“Memangnya tidak boleh?” tanyaku ketus.

“Baiklah terserah padamu. Silakan kau nikmati “pemandangan” yang menurutmu indah itu.” Jawabnya menyerah.

Aku diam. Dan Yesung pun juga diam. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak begini.

“Kau kenapa Ha Na-ya? Kau sakit?” tanya Yesung sambil menempelkan telapaknya di dahiku.

“Kau tidak panas.” Katanya lagi.

“Memangnya siapa bilang aku sakit?”

“Habis wajahmu menjadi pucat begitu. Aah jangan bilang kau merasa gugup karena berkencan denganku?” katanya meledek.

“Kau berhenti meledekku, apa kencan kita hari ini batal?” tanyaku tajam.

“Hyun Ki hyung benar, rupanya gadis di sebelahku ini memang benar-benar galak.”

“OPPA!” teriakku.

“Arra arra, aku akan berhenti meledekmu. Hahaha aku baru tahu meledekmu itu ternyata sangat mengasyikkan, Ha Na-ya~ Ayo kita lekas turun.” Katanya sambil melepas sabuk pengamannya.

Aku pun melakukan hal yang sama dengannya dan bergegas turun dari mobil.

“Huaaah.” Yesung oppa meregangkan otot-ototnya yang pegal karena habis mengemudi.

“Oppa, ayo kita langsung masuk!” ujarku tak sabar.

“Hah dasar kau ini. Tadi sikapmu sangat ketus padaku. Sekarang kau bersikap seperti anak kecil. Aku bingung padamu Ha Na-ya~”

“Yak oppa, ayo kita masuk ke dalam! Lihat antrian sudah mulai panjang!” kataku sambil menarik tangannya.

Yesung oppa benar. Tadi aku bersikap ketus padanya dan tiba-tiba saja aku bersikap seperti anak kecil padanya. Aku sendiri pun tidak mengerti kenapa, yang aku rasakan sekarang adalah perasaan ingin terus bersama dengan pria di sampingku ini.

Setelah mengantri cukup lama, akhirnya kami mendapatkan tiket masuk.

“Huah aku jadi tidak sabar menaiki semua wahana di sini!” ucapku antusias.

“Ya Ha Na-ya~ tunggu dulu, aku punya sebuah perjanjian yang harus kita sepakati bersama hari ini.”

“Aish apalagi sih oppa, ayolah kita segera bersenang-senang.” Aku merengek seperti anak kecil.

“Siang ini kubiarkan kau yang meminta dan aku menuruti permintaanmu. Tapi malam nanti biarkan aku yang meminta dan kau yang menuruti perimintaanku, bagaimana kau setuju?”

Aku tampak berpikir sebentar dan menganggukan kepalaku tanda setuju.

“Nah baguslah. Sekarang kau mau apa?” tanya Yesung oppa.

“Aku mau gulali itu oppa!” tunjukku pada pedagang gulali yang aku maksud.

“Baiklah! Kajja!” ucapnya sambil menarik tanganku.

Aku dan Yesung oppa membeli 2 buah gulali dengan ukuran besar. Aku melahapnya seperti anak kecil.

“Yak kau itu sudah besar tapi makan saja masih tidak benar! Lihat wajahmu itu jadi penuh gulali seperti itu.”

Aku hanya cengengesan mendengar omelannya, “Hehehe. Oppa bagaimana jika habis ini kita bermain roller coaster?” tanyaku.

“Cih memangnya kau berani?”

“Tentu saja! Bukankah ada kau yang akan melindungiku?”

Yesung oppa mengacak rambutku. “Ya kau benar, ada aku yang akan melindungimu. Yasudah cepat habiskan gulalimu dan kita naik roller coaster.”

Aku merutuki kebodohanku yang sok berani ini. Andai aku bisa menarik ucapanku kembali. Aku tidak mau naik roller coaster. Teriakan pengunjung yang sudah menaikinya itu membuatku takut.

“Kau kenapa? Takut? Kalau kau takut kita bisa keluar dari antrian ini.” Katanya.

“Tidak, aku tidak takut oppa. Lagipula sayang jika kita keluar dari antrian, kita sudah mengantri sejauh ini.”

“Hhmm baiklah jika itu maumu. Nah Ha Na-ya giliran kita sudah sampai. Ayo kita naik!”

Aku bergetar hebat. Demi Tuhan aku tidak mau naik roller coaster ini, tapi sudah terlambat, aku sudah berada dalam kereta yang akan membawaku dengan kecapatan tinggi.

“Kalau kau takut kau bisa teriak sekencang-kencangnya. Lagipula ada aku di sampingmu.” Katanya menenangkan.

Belum sempat aku menjawab iya, kereta ini sudah bergerak, awalnya aku memang ketakutan setengah mati, tapi ketika kereta ini menambah kecepatannya, aku malah menikmati permainan ini. Apalagi mengetahui bahwa dari awal Yesung oppa tidak sedikitpun melepaskan genggamannya padaku, justru malah semakin kuat.

Ciiitttt…suara gesekan antara roda dan rel terdengar begitu nyaring. Kereta inipun berhenti dan aku sibuk mengecek barang bawaanku agar tidak ada yang tertinggal.

“Huah tadi itu seru ya oppa!” seruku

“Iya seru sekali! Saking serunya telingaku rasanya sakit sekali mendengar teriakanmu yang super kencang itu.”

“Hehehe ternyata naik roller coaster tidak semenyeramkan apa yang kubayangkan.” Kataku sambil tetap tersenyum.

“Kau mau ke mana lagi sekarang?”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja oppa? Siapa tahu nanti ada wahana yang menarik.”

“Baik baik terserah kau saja.”

“Kajja oppa!” Kali ini bukan Yesung oppa yang duluan menggandeng tanganku, tapi akulah yang duluan menggandeng tangannya.

Selama kami mengelilingi Lotte World, aku melihat banyak muda mudi yang sedang berduaan seperti kami ini. Tak sedikit juga kulihat anak-anak yang sedang berlarian ke sana kemari. MWO? Apa itu? Aish jinjja! Aku tahu memang jika sedang berdua dengan pasangan kita, dunia terasa milik berdua, tapi jika sampai berciuman di depan umum itu sangat keterlaluan.

“Hush, jangan memandangi mereka seperti itu. Kau tahu, perbuatanmu itu bisa menganggu mereka.” Kata Yesung oppa.

“Biarkan saja. Aku risih melihat mereka begitu. Apa mereka tidak sadar, di sekeliling mereka itu banyak anak-anak. Cih bagaimana nanti kalau anak-anak itu meniru mereka? Dasar keterlaluan.” Celotehku.

“Kau risih atau iri?” tanya Yesung oppa yang sukses membuatku menganga lebar.

“Tentu saja risih oppa! Aish bagaimana bisa aku iri? Menurutku berciuman di tempat umum itu hanya perbuatan orang-orang tak punya aturan oppa.” Jawabku sedikit kesal.

“Tapi bagaimana jika aku yang melakukannya? Apa aku termasuk orang yang tak punya aturan?” tanyanya. Sedetik kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Yak! Lihat itu oppa! Ada tenda peramal! Ayo kita ke sana!” Untung saja aku cepat melihat tenda itu untuk mengalihkan perhatiannya.

“Mencoba mengalihkan perhatianku, Nona Cho? Baiklah kali ini kau lolos tapi tidak lain kali.” Katanya tajam.

Aku tidak terlalu menghiraukan kata-katanya, tapi aku sibuk memikirkan apa maksudnya aku tidak akan lolos lain kali?

“Aish antriannya panjang sekali. Bagaimana jika kita ke tempat lain dulu Ha Na-ya?

“Aish shireo oppa! Aku tidak mau. Lagipula tenda peramal ini hanya ada setiap menjelang natal, aku tidak mau melewatkan kesempatan ini.”

“Tapi ini kan sudah zaman modern, apa kau masih percaya dengan hal-hal mistis seperti itu?”

“Yak tentu saja tidak oppa. Kau ini bodoh sekali. Aku hanya ingin mencoba bagaimana rasanya di ramal lagipula kata orang ramalan di sini jitu, aku jadi penasaran apa kata ramalanku nanti.”

“Ya baiklah terserah apa maumu. Hanya kau harus berjanji padaku, kau tidak boleh mempercayai perkataan peramal itu, arra?”

“Baiklah oppaku sayang, aku mengerti.”

“Hah dasar giliran ada maunya saja kau memanggilku sayang.” Kata Yesung oppa sambil cemberut.

“Ahahaha kau keliatan jelek sekali saat sedang cemberut seperti itu oppa! Ayolah kita masuk giliran kita sudah tiba!” Aku menarik Yesung ke dalam tenda itu.

Di dalam tenda peramal…

“Kemarikan tanganmu.” Perintah peramal itu.

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Tentu saja untuk kuramal bodoh.” Ujar peramal itu lagi.

Aish galak sekali peramal ini. Tapi aku tetap mengulurkan tanganku untuk segera di ramal olehnya. Kening peramal itu tampak berkerut, dia terlihat berpikir keras, dan ini hal yang paling aku tidak suka, wajah peramal itu telihat sedih.

“Apa kalian sepasang kekasih?’ tanya peramal itu tiba-tiba.

“Ne.” Jawabku ragu-ragu. Astaga kenapa perasaanku jadi tidak enak begini, harusnya aku menuruti Yesung Oppa untuk tidak ke sini.

“Kalian saling mencintai?” tanyanya lagi. Tidak tidak tidak. Ini pasti ada yang tidak beres. Perasaanku mendadak jadi sangat tidak enak.

“Ya, kami saling mencintai.” Jawab Yesung Oppa setengah tidak sabar.

“Lalu apakah kalian sudah saling menyatakan perasaan kalian masing-masing?” pikiranku mendadak kosong, aku diselimuti beribu-ribu pikiran buruk dan bertanya-tanya, apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian Yesung oppa kemballi membuka suaranya lagi,

“ Sudah cepat katakan apa yang kau baca dari gadis ini! Jangan terlalu lama basa-basi!” ucap Yesung oppa yang kali ini sudah tidak sabar.

“Kalian tahu? Waktu itu sangat berharga. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang kalian miliki untuk bersama. Cepat nyatakan persaan kalian sebelum…”

Peramal itu mengehentikan ucapannya. Dan aku benar-benar menyesal sekarang. Seumur hidupku aku tak pernah mendengar atau melihat peramal menangis, tapi sekarang peramal itu menangis di depanku. Aku benar-benar bingung. Aku yakin pasti ada-yang-tidak-beres.

“Cepat nyatakan persaan kalian sebelum…” peramal itu mengulangi ucapannya dan menarik nafas dalam-dalam, “Sebelum salah satu dari kalian pergi.” Ucap peramal itu yang sukses membuatku menjatuhkan air mata.

“Yak apa maksudmu? Jangan asal bicara!” ucapan Yesung terdengar begitu frustasi.

“Terserah kalian mau percaya atau tidak, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat.” Balas peramal itu sedikit tersinggung.

“Kapan?” Entah mengapa pertanyaan bodoh itu meluncur dengan mudahnya dari mulutku.

“Apa-apaan kau bertanya seperti itu hah? Harusnya sejak awal aku tak mengijinkanmu ke sini! Ayo kita pergi dari sini, lebih baik tidak usah mempercayai perkataan peramal gila ini!” Yesung tampak murka dan dengan kasar menarik tanganku untuk keluar.

“Malam natal. Tepat di malam natal.” Kata peramal itu yang lagi-lagi sukses membuat nafasku tercekat dan pandanganku kabur karena air mata yang jatuh semakin deras.

***

“Ha Na-ya berhentilah menangis. Apa sih yang sebenarnya kau tangisi? Aku benar-benar menyesal dengan keputusanku yang mengijinkanmu diramal oleh perempuan gila itu.”

“Dia bukan perempuan gila oppa.” Kataku dengan masih sesegukan.

“Jangan katakan bahwa kau mempercayai ramalan perempuan itu?”

“Memang awalnya aku tak berniat untuk mempercayainya, tapi entah kenapa hatiku berkata lain oppa…”

Yesung menarikku ke dalam pelukannya dan berkata, “Kau melanggar janjimu Ha Na-ya~ Aku tak akan menuruti permintaanmu lagi lain kali. Sekarang kau lah yang harus menuruti permintaanku. Cepat berhenti menangis! Aku tak tahan melihatmu menangis begitu. Dan ohya kau harus tau satu hal, kematian itu hanya diatur oleh Tuhan, jadi kau tak boleh mempercayai kata-kata peramal itu.” Yesung oppa mengelus rambutku lembut.

“Ka-kau benar oppa, aku lupa bahwa kematian itu hanya diatur oleh Tuhan. Tak seharusnya aku mempercayai kata-kata peramal.” Kataku membenarkan Yesung oppa, tapi hatiku sama sekali tidak membenarkan, malah justru berkata sebaliknya.

“Ya~ bagus. Ha Na-ya, apa kau tidak merasa lapar? Sekarang sudah jam 3 sore.”

“Tentu saja aku lapar! Tapi aku mau makan es krim dulu oppa.” Rengekku pada Yesung oppa.

“Kau lupa ya, bahwa sekarang kau lah yang harus menuruti permintaanku? Tidak. Sekarang kita makan dulu, setelah makan baru kau kubelikan es krim.” Balas Yesung oppa.

“Ne eomma.”

“Mwo? Kau memanggilku eomma? Apa maksudmu hah?”

“Habis kau cerewet seperti eommaku oppa! Hihihi.” Aku tertawa cengengesan melihatnya terkejut karena kupanggil eomma.

“Ya~ kau ini, sebentar nangis sebentar lagi sudah meledekku.”

“Kan kau yang suruh aku berhenti menangis! Bagaimana sih? Oh atau oppa ingin aku menangis lagi?”

“Yak! Awas kau kalau menangis lagi!”

“Arra oppa, tapi janji belikan aku es krim yang besar ya?”

“Baikalah Nona Cho.” Aku tersenyum senang. Bukan karena es krim yang dijanjikannya, setidaknya saat ini aku masih bersamanya, itulah yang membuatku senang.

***

Yesung’s POV

Gadis ini benar-benar. Setelah gulali dia sekarang meminta es krim. Dan wajahnya itu benar-benar bahagia ketika semangkuk es krim besar berhasil didapatkannya. Senyum terus terukir di wajah cantiknya. Ah biarlah, aku akan melakukan apapun untuk membuatnya terus tersenyum seperti itu.

“Ya oppa, sekarang sudah malam. Katanya kau ingin mengajakku ke bukit.” Katanya membuyarkan lamunanku.

“Ah iya kau benar. Ayo lekas kita pergi. Semoga saja salju tak turun malam ini.” Balasku mengharap.

***

“Yak oppa! Sebenarnya kau membawaku ke mana sih?”

“Rahasia. Lihat saja nanti. Kau pasti menyukainya.”

“Iya tapi mataku tak usah ditutup seperti ini kan?”

“Tidak bisa. Aku ingin memberikan kejutan padamu.”

“Aish tak usah sok misterius begitu oppa! Cepatlah buka penutup mataku ini.”

“Sebentar lagi kita sampai. Sabarlah sedikit.”

Gadis itu terus mengomel sepanjang jalan. Hahaha aku yakin sekali, jika dia sudah melihatnya, dia tidak akan mau pulang.

“Yap. Kita sudah sampai.” Kataku sambil membuka penutup matanya.

“Omonaaaaaaa, indah sekali oppa! Lihat! Itukan Lotte World yang tadi kita kunjungi! Waah kota Seoul tampak jauh lebih indah jika dilihat dari sini. Aigoo aigoo itu kan Sungai Han! Aku tidak tahu kalau Sungai Han akan jauh lebih indah di malam hari!” Ha Na tak henti-hentinya mengaggumi pemandangan dari atas sini.

“Kau lihat sendiri kan? Kau pasti suka tempat ini.”

“Kau benar oppa, aku sangat menyukai tempat ini.”

Ha Na masih saja terkagum-kagum dengan pemandangan baru di hadapannya, sampai-sampai aku lupa tujuanku mengajaknya ke sini.

“Ha Na-ya~ bisa ke sini sebentar?” panggilku yang sekarang sudah berada di bawah pohon satu-satunya yang ada di bukit itu.

Ha Na menoleh dan menghampiriku.

“Ada apa oppa? Aish kau ini selalu saja mengangguku.”

“Sebentar saja.” Kataku sambil menyerahkan secarik kertas kepadanya.

“Yak, kertas ini buat apa oppa?”

“Nah sekarag tulis permohonanmu pada kertas itu. Tulis saja semua yang kau inginkan.” Kataku tanpa menghiraukan pertanyaannya.

“Tapi untuk apa?”

“Kau tahu, konon, jika seseorang membuat permohonan tepat di malam hari sebelum natal, permohonan orang itu akan dikabulkan. Sudah cepat jangan banyak bicara, tulis saja semua permohonanmu di kertas itu. Ohiya, aku lupa satu hal, kau hanya boleh membuka kertas ini lagi di malam hari sebelum natal setiap tahunnya, jika permohonanmu mau dikabulkan.”

“Jadi?”

“Ya, kau hanya boleh membuka kertas ini lagi tahun depan Ha Na-ya~”

“Baiklah aku mengerti oppa. Tapi kenapa aku harus sendirian membukanya? Kau tidak ikut bersamaku untuk membuka kertas ini?” tanya Ha Na ketakutan.

“Tentu saja aku akan ikut bersamamu. Aish kenapa kau jadi ketakutan seperti itu sih?”

“Habis sepertinya oppa tidak akan ikut bersamaku.”

“Yak, aku janji tahun depan dan tahun-tahun berikutnya aku akan ikut bersamamu untuk membuka kertas ini.”

Senyum kembali terukir di wajah cantiknya itu. Dan tak lama kemudian dia mulai menggoreskan tinta pulpennya di atas kertas itu. Entah apa yang ditulisnya, ia begitu terlihat antusias, senyum tak bosan-bosannya hinggap di wajahnya itu.

“Yak oppa! Kau menulis apa sih?” tanya Ha Na tiba-tiba. Aku terlalu asik memandangi wajahnya sampai tidak sadar jika gadis itu sudah berhenti menulis.

“Tentu saja ini rahasia Ha Na-ya~ Sabarlah menunggu tahun depan dan kau akan mengetahui apa yang kutulis malam ini.”

“Kau menyebalkan oppa!” gerutu Ha Na.

“Ya~ itu sudah peraturannya. Lagipula aku juga tidak melihat isi kertasmu kan?”

“Itu salahmu sendiri kenapa tidak memintaku!”

“Oh baiklah, sini aku ingin melihat apa yang kau tulis barusan. Aku yakin sekali, namaku pasti yang paling banyak kau tulis kan?”

“Percaya diri sekali kau oppa. Tidak. Aku tidak akan memberi lihat apa yang aku tulis padamu. Sabarlah menunggu tahun depan, Oppa~” kata Ha Na mengopi kata-kataku.

“Cih, kau mengikuti kata-kataku. Sudah cepat sini masukan kertasmu ke dalam kotak ini.”

Ha Na memasukkan kertas yang sudah dilipat-lipat menjadi 4 bagian itu ke dalam kotak. Begitupun aku, aku mengikuti hal yang sama dengannya. Setelah itu, aku mengubur kotak itu tepat di bawah pohon itu.

“Fiuh akhirnya selesai. Semoga saja aku masih bisa membuka kotak ini tahun depan bersama Ha Na.” Ucapku pelan.

***

Cho Ha Na’s POV

“Fiuh akhirnya selesai. Semoga saja aku masih bisa membuka kotak ini tahun depan bersama Ha Na.” Ucap Yesung oppa pelan.

Maksudnya apa dia berbicara seperti itu hah? Lagi-lagi perasaanku menjadi tidak enak. Aku mencoba menarik nafasku agar perasaanku menjadi lebih baik.

“Ha Na-ya~ cepat duduk sini.” Panggil Yesung oppa yang sudah mendahuluiku duduk di kursi taman, tepat di bawah pohon.

Aku menuruti perintahnya dan segera mengambil posisi tepat di sampingnya. Entah kenapa tapi saat ini aku benar-benar takut. Takut kehilangan orang yang sedang duduk disampingku ini.

“Untunglah malam ini tidak turun salju. Yah walaupun udaranya masih terasa sangat dingin.” Ucap Yesung oppa.

Aku tidak menghiraukan ucapannya. Yang aku lakukan malah menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku merasa dia agak terkejut, tapi hal itu bisa diatasinya dengan baik karena, sedetik kemudian, dia merendahkan bahunya, agar aku lebih nyaman bersandar padanya.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Oppa, kau tidak akan meninggalkanku kan?” kataku tanpa memperhatikan pertanyaannya. Pertanyaan paling bodoh yang pernah aku tanyakan pada Yesung oppa.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tak akan meninggalkanmu? Apa justru kau yang berniat untuk meninggalkanku?”

“Tidak oppa. Aku sama sekali tidak berniat untuk meninggalkanmu.” Kali ini mataku terasa panas, dan bulir-bulir bening sudah menggenang di mataku. “Hanya saja aku merasa sebentar lagi kau akan meninggalkanku…” gumamku dalam hati.

“Ha Na-ya~ tolong dengarkan aku baik-baik.” Yesung oppa menarik nafasnya dan berkata, “Aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sampai nanti waktu yang akhirnya akan memisahkan kita. Dan kalau saat itu tiba, aku juga tidak akan benar-benar meninggalkanmu, aku akan terus mengawasi dan menjagamu dari atas sana. Kau percaya padaku kan?” Entah ini hanya perasaanku atau bukan, tapi aku merasa Yesung oppa bergetar sangat mengucapkan hal itu.

“Aku-aku percaya padamu oppa.” Kataku yang terus berusaha menahan tangis, tapi sia-sia karena Yesung oppa segera mengetahui hal itu.

“Lebih baik kita pulang sekarang, kelihatannya kau sakit karena terlalu lama terkena udara dingin.”

“Tidak oppa, aku tidak mau pulang. Biarlah aku terus bersamamu malam ini.”

“Yak apa kau gila! Kau mau jatuh sakit hah? Lagipula besok kan hari natal Ha Na-ya~ masa kau sakit? Besok kita akan ke sini lagi. Sehabis acara kebaktian di gereja besok, aku akan menjemputmu. Dan kita ke sini lagi, melihat pesta kembang api yang biasanya dilaksanakan di malam natal.”

“Tidak oppa, aku tetap tidak mau. Aku takut tidak akan ada hari esok.” Kataku semakin melantur.

“Bicaramu semakin melantur saja Ha Na-ya, sudahlah kalau itu maumu, aku tidak akan memaksa. Sini mendekatlah padaku, udara sudah semakin dingin, setidaknya kau akan merasa sedikit hangat jika aku peluk.”

Yesung oppa memelukku. Aku merasa hangat sekali. Tapi entah kenapa aku merasa kehangatan ini akan hilang sebentar lagi. Aku menangis dalam pelukannya, dan Yesung oppa pun tidak berusaha mencegahku menangis. Dia malah mengelus rambutku mencoba menenangkanku. Semakin lama aku menangis, aku menjadi semakin lelah, dan akhirnya aku tertidur.

***

Yesung’s POV

Aku bisa merasakan apa yang dirasakan gadis yang ada dipelukanku ini, karena aku pun merasakan hal yang sama. Perasaan takut kehilangan. Tapi aku lebih memilih menahannya dalam hati, karena jika aku ungkapkan aku takut malah akan membuat gadis ini semakin sedih.

“Na-ya~ ini sudah jam 12 malam, apa kau masih tidak mau pulang juga?” kataku lembut.

Tidak terdengar jawaban dari Ha Na, aku yakin pasti gadis ini tertidur. Apa boleh buat, aku akan menggendongnya sampai ke mobil.

***

Meski ini sudah lewat tengah malam, tetapi jalanan masih ramai. Ya wajar saja, ini kan hari natal, pasti orang-orang mau menghabiskan waktu dengan keluarganya lebih lama. Seperti aku yang ingin menghabiskan waktuku lebih lama dengan gadis ini.

Tak terasa aku sudah sampai di depan rumah Ha Na. Aku membukakan sabuk pengamannya. Wajahnya terlihat begitu damai ketika sedang tidur, tapi matanya terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis.

Aku mengetuk pintu rumah Ha Na, dan tak lama kemudian Hyun Ki hyung muncul dari balik pintu. Tampangnya kusut, jelas sekali bahwa ia sedang pulas-pulasnya tertidur.

“Ya~ hyung maaf membangunkanmu.” Kataku tak enak.

“Gwenchana Yesung-a~ bawa saja dia ke kamarnya. Aku percaya padamu.” Balas Hyun Ki hyung sambil menguap.

“Baiklah hyung.” Aku segera membawa Ha Na ke kamarnya di lantai dua. Tiba di kamarnya, aku membaringkannya di tempat tidur, aku membuka sepatunya, dan menaruh tas tangan yang dibawanya di meja riasnya. Aku mengambil selimut dan segera menyelimutinya. Ini kali pertamaku masuk ke kamar Ha Na, sejak aku menjadi kekasihnya. Ha Na memang gadis yang suka memajang foto di kamarnya, dinding kamarnya dipenuhi foto-foto dirinya, eomma appa, hyun ki hyung, dan foto…diriku. Hahaha aku kira dia tak akan memajang fotoku di kamarnya. Di meja riasnya juga terdapat potret diriku bersamanya ketika sedang berada di Namsan Tower. Aish manis sekali gadis ini. Sebelum aku keluar dari kamarnya, aku mengecup keningnya perlahan. Langkahku kemudian terhenti dengan suara gadis itu.

“Ya oppa jangan tinggalkan aku. Kau kan sudah janji tidak meninggalkan aku! Oppa kau mau ke mana?”

Rupanya Ha Na mengigau. Mau tidak mau aku kembali mengahmpirinya dan menenangkannya.

“Na-ya~ oppa di sini, oppa tidak akan ke mana-mana. Sudah ya tidur lagi.” Aku mengelus-ngelus rambutnya sebentar dan tak lama kemudian dia tertidur lagi. Aish gadis ini benar-benar.

“Yesung-a, ada apa dengan Ha Na, kenapa dia berteriak-teriak seperti itu?” tanya Hyun Ki hyung. Kini aku sudah berada di ruang tamu.

“Dia mengigau Hyung.” Jawabku.

“Ah Ha Na mengigau? Jarang sekali ia seperti itu. Terakhir kali dia mengigau tepat di hari sebelum appanya meninggal.” Kenang Hyun Ki hyung.

“Aku juga tidak tahu hyung. Sikapnya juga tiba-tiba aneh. Bicaranya juga terus melantur sedari tadi. Aku takut dia sakit.”

“Ya, kau tidak usah khawatir seperti itu. Besok juga pasti dia sudah membaik.” Kata Hyun Ki Hyung mencoba membuatku tenang.

“Ya kurasa juga begitu. Baiklah hyung, aku pamit ya.” Ujarku sambil membungkukkan badan.

“Ne. Hati-hati dijalan Yesung-a~”

Setelah berpamitan dengan Hyun Ki hyung, aku segera keluar dan menuju mobilku. Aku memasukkan tanganku ke saku jasku. Ah iya aku lupa memberikannya ini. Lebih baik sekalian saja besok aku memberikan cincin ini padanya sekaligus melamarnya. Aku jadi tak sabar melihat ekspresinya saat aku melamarnya hahaha.

***

Seoul, 25 Desember 2011.

Cho Ha Na’s POV

“Ha Na-ya~ ayo bangun, kau mau telat datang ke gereja hah? Kebaktian dimulai tepat pukul 8 pagi. Ayo cepat bangun dan lekas mandi.” Kata Hyun Ki oppa membangunkanku.

“Ne oppa.” Jawabku serak.

“Ya~ tumben sekali kau tidak mengomeliku karena aku membangunkanmu? Kau kenapa?” tanya Hyun Ki oppa cemas.

“Anio oppa aku tidak apa-apa.”

“Aigooo Ha Na-ya wajahmu pucat sekali. Kau sakit ya?”

“Aish oppa sudah kubilang aku tidak apa-apa! Berhentilah mencemaskanku!” jawabku ketus.

“Nah ini baru Ha Na yang aku kenal.”

“Sudah cepat keluar oppa! Bagaimana aku bisa mandi jika kau masih terus di sini?” perintahku.

“Memangnya kenapa kalau aku tetap di sini? Kau ini kan adikku, masa malu dengan oppamu.” Kata Hyun Ki oppa lagi.

“OPPA KAU KELUAR SEKARANG ATAU VAS BUNGA INI AKAN MENDARAT LAGI DI KEPALAMU?” teriakku geram.

“Aish arra arra aku keluar. Syukurlah ternyata benar kau memang tidak apa-apa Ha Na-ya~”

Setelah Hyun Ki oppa keluar, aku bergegas mandi. Tapi tiba-tiba hapeku berdering tanda ada SMS masuk.

From : Yesung Oppa

Content :

Ya, kau sudah bangun? Kau tidak sakit kan? Aku akan menjemputmu jam 4 sore. Sampai nanti Ha Na-ya~ Saranghae.

Aku tersenyum membaca SMS darinya. Segera saja aku membalas SMSnya.

To : Yesung Oppa

Content :

Ne, aku sudah bangun. Yak! Kau pikir aku ini anak kecil yang gampang sakit hah? Awas kalau kau sampai terlambat nanti! Nado sarangahe.

Aku menekan tombol send dan tak lama kemudian tanda bahwa SMSku sudah terkirim muncul. Aku meletakkan handphoneku kembali. Semoga semua perasaan tak enak ku kemarin hanyalah sebuah angin lalu.

Setelah aku siap aku turun ke ruang tamu dan mendapati eomma dan Hyun Ki oppa sudah siap.

“Kau sudah siap Ha Na-ya?” tanya eomma.

“Sudah eomma.” Jawabku.

“Yak~ kalau begitu kita berangkat sekarang!” kata Hyun Ki oppa penuh semangat.

***

“Ha Na-ya~ tumben sekali kau mengigau seperti semalam?” tanya Hyun Ki oppa memecah keheningan di dalam taksi. Ya saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang setelah acara kebaktian di gereja.

“Ne? Aku mengigau? Cih jangan bercanda oppa. Aku tidak mengigau kok.”

“Hei hei kau lupa atau pura-pura lupa hah? Yesung itu sampai pulang sangat larut karena kau terus-terusan mengigau kau tahu?”

Aku berpikir sebentar. Ah iya benar semalam aku memang mengigau. Tapi aku tidak tahu kalau Yesung oppa menemaniku sampai aku tertidur lagi.

“Kau sudah ingat sekarang? Ohya satu lagi, Yesung berkata padaku, kalau kau tiba-tiba menjadi aneh, dan bicaramu itu terus melantur. Sebenarnya ada apa hah?” tanya Hyun Ki oppa.

Aku terdiam. Mengingat kejadian kemarin. Ya memang sikapku tiba-tiba berubah menjadi aneh dan aku tidak bisa mengelak jika memang bicaraku melantur. Aish lagi-lagi perasaan ini datang lagi. Sial! Tapi bedanya perasaan ini jauh lebih kuat dari kemarin. Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa pada Yesung oppa.

“Yak kenapa diam?”

“Tidak apa oppa. Sudah jangan cerewet. Perasaanku sedang tidak baik sekarang.” Hyun Ki oppa menurut. Aku tidak berbohong jika sekarang perasaan memang benar-benar tidak baik. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan pandanganku kosong menatap ke arah jalan. Eomma ataupun Hyun Ki oppa tidak ada yang menegurku.

“Ha Na-ya kita sudah sampai. Kau mau terus-terusan di dalam taksi hah?” suara Hyun Ki oppa mengembalikan kesadaranku.

Aku tak banyak bicara dan langsung keluar dari taksi. Aku tahu eomma dan Hyun Ki oppa sedari tadi memandangku dengan tatapan penuh tanya tapi aku tidak menghiraukannya. Ketika sampai di rumahpun aku segera menuju kamarku.

“Eomma, lihat itu Ha Na, dia aneh sekali kan?” bisik Hyun Ki eomma yang masih bisa terdengar jelas olehku.

“Bukan aku yang aneh tapi perasaanku.” Batinku dalam hati.

***

Aku merasa kepalaku sedikit pening. Mungkin lebih baik aku tidur dulu sebentar sebelum Yesung oppa menjemputku nanti.

Aku membaringkan tubuhku di kasur. Tiba-tiba saja kenangan-kenangan indah saat aku bersama dengan Yesung oppa terputar di kepalaku. Aku tersenyum mengingat hal itu. Tapi itu tidak lama, karena tak lama kemudian aku tertidur.

2 jam kemudian…

Drrt…drrt…

Aku terbangun karena ponsel milikku bergetar. Aku segera mengeceknya dan mendapati sebuah pesan baru muncul di layar ponselku. Dari Yesung Oppa.

Yak kau berdandanlah yang cantik. Ada sebuah kejutan yang telah aku siapkan untukmu.

Begitulah isi pesan itu. Aku tersenyum membaca pesan darinya dan menerka-nerka apa kejutan yang disiapkannya untukku.

Tak perlu waktu lama, aku segera mandi dan mempersiapkan diriku. Sekitar 1 jam aku berkutat di depan meja riasku, dan terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Ha Na-ya, Yesung sudah datang. Dia menunggumu di ruang tamu sekarang.” Tumben sekali eomma yang memanggilku.

“Baik eomma, aku segera keluar.”

“Aigooo cantik sekali anak eomma.” Puji eomma yang membuatku malu.

“Ya eomma jangan memujiku seperti itu. Ohya eomma, tumben sekali yang memanggilku bukan Hyun Ki oppa?” tanyaku penasaran.

“Kau ini ya, giliran oppamu itu yang memanggil kau tidak suka, tapi giliran dia tak memanggilmu, kau menanyakannya. Dia sedang mengobrol dengan Yesung di ruang tamu.”

Aku meng-oh-kan perkataan eommaku. Tak lama kemudian aku dan eomma tiba di ruang tamu.

“Aigooo, tumben sekali kau dandan seperti itu Ha Na-ya~” ledek Hyun Ki oppa.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka hah?” tanyaku tajam.

“Aku memang tidak suka. Tapi pasti orang yang disebelahku ini menyukainya. Lihat dia sampai tidak berkedip memandangimu!” Komentar Hyun Ki oppa yang membuatku salah tingkah.

“Aniyo hyung.” Jawab Yesung oppa ikut salah tingkah juga.

“Ya Hyun Ki-ah jangan terus meledek kedua dongsaengmu itu. Lebih baik cepat kau cari pacar daripada terus merecoki adikmu.” Kata eomma.

Gotcha! Hahaha kena kau oppa. Siapa suruh dia merecokiku terus. Aku tertawa terbahak-bahak karena melihat Hyun Ki oppa mati kutu.

“Yak! Kau berhenti tertawa!” perintah Hyun Ki oppa padaku. Aku tetap tidak bisa menahan tawaku sedari tadi.

“Sudah, sudah kalian ini bisanya bertengkar saja. Ya~  lebih baik kalian cepat pergi, ini sudah sore. Eomma takut salju akan turun malam ini.”

“Aish jadi eomma mengusir kami?” gerutuku sambil mengkerucutkan bibir.

“Ha Na-ya~ eomma tidak bermaksud mengusir kita, beliau hanya khawatir saja. Sudah ayo kita berangkat.”

“Cih bahkan Yesung lebih peka dari pada dirimu Ha Na-ya~” celoteh Hyun Ki oppa lagi.

“Terserah kau saja oppa. Aku capek terus bertengkar padamu.”

“Eomonim, hyung, aku dan Ha Na pamit ya.”

“Ya ya silakan. Kalian hati-hati di jalan ya!” pesan eommaku.

“Arraseo eomma.” Balasku. Aku dan Yesung oppa segera keluar dari rumahku. Tapi tiba-tiba Hyun Ki oppa berteriak sesuatu,

“Ya Yesung-a! Hwaiting!”

“Ah ye, gomawo hyung.” Balas Yesung oppa.

“Hei, apa maksudnya itu?” tanyaku penuh selidik.

“Rahasia. Kau akan mengetahuinya nanti, Ha Na-ya~”

“Cih terserah kau sajalah.” Ucapku acuh tak acuh.

***

“Jadi kau mau mengajakku ke sini?” tanyaku padanya. “Yah tidak buruk kok aku suka tempat ini. Tapi kenapa sepi sekali?” tanyaku lagi.

“Aku sudah menyewa tempat ini.” Jawab Yesung oppa.

“Mwo? Kau menyewa tempat ini? Tapi buat apa?” tanyaku tak percaya.

“Belum saatnya Ha Na-ya~ Nah sekarang kau tunggu di sini dulu ya, aku ada urusan lain sebentar.”

“Yak oppa kau mau ke mana?”

“Aish sebentar saja Ha Na-ya~ aku akan segera kembali.”

“Baiklah. Jangan lama-lama oppa! Kau tau kan aku tak suka sendiri.”

“Iya Ha Na-ku sayang. Aku pasti kembali.”

Aku menatap punggung Yesung oppa yang pergi menjauh. Ya, aku yakin dia pasti kembali. Sepeninggal Yesung oppa, aku memperhatikan interior tempat ku sekarang berada. Tempat yang kumaksud adalah restaurant ala perancis. Aku heran kenapa dia bisa mengetahui bahwa aku menyukai aksen eropa. Ya, setidaknya alunan musik yang mengalun di restaurant ini tidak benar-benar membuatku merasa sendirian.

***

Yesung’s POV

Aish bodohnya aku, kenapa bisa sampai lupa membeli bunga sih? Untung saja aku tadi sempat mengobrol dengan Hyun Ki hyung, jadi aku mengetahui bunga apa yang disukai Ha Na. Syukurlah toko bunga langgananku tidak terlalu jauh dari restaurant itu sehingga aku tak usah repot-repot mengendarai mobilku.

“Ahjumma, aku minta satu ikat mawar putih ya.” Pintaku pada ahjumma penjaga toko.

“Baiklah. Yak! Kau ke mana saja? Kenapa baru ke sini lagi?” tanya ahjumma penjaga toko bunga tersebut.

“Aku sibuk ahjumma.”

“Ya ini bunga yang kau minta. Kali ini untuk apa bunga itu hah?”

“Untuk melamar seorang gadis.” Jawabku sambil tersenyum.

“Aigoo jadi sekarang kau ingin melamar seorang gadis? Semoga beruntung Yesung-a~”

“Gomawo ahjumma. Oh ya jadi berapa semua?”

“Ani, tidak usah kau bayar bunga itu, anggap saja ini sebagai hadiah dariku.” Ucap ahjumma itu.

“Jinjja? Ah jeongmal gomawoyo ahjumma~’’

“Ne, sudah sana cepat temui kembali gadismu. Kau tahu kan wanita itu tidak suka lama menunggu.”

“Arraseo ahjumma. Aku pergi sekarang ya.”

Setelah mendapatkan bunga yang aku cari aku segera keluar dari toko bunga tersebut. Tidak salah aku menjadikan toko bunga itu sebagai langgananku, ahjumma penjaga tokonya sangat baik hati, lihat bahkan dia memberiku seikat bunga secara cuma-cuma. Aku tidak sabar melihat reaksi Ha Na ketika nanti aku melamarnya. Sepanjang jalan aku terus tersenyum dan membayangkan reaksi Ha Na sampai-sampai tidak memperhatikan bahwa lampu untuk pejalan kaki sudah berubah menjadi merah. Aku terus saja berjalan tanpa memperhatikan lampu lalu lintas itu.

“YAK KAU AWAS TERTABRAK! LIHAT ADA SEBUAH TRUK YANG MELAJU KE ARAHMU!” teriak seorang gadis yang entah itu siapa.

CIIIIIIITTTTT BRAAAKKKKKK!!!!

Terlambat. Aku sudah terlambat untuk menghindar. Aku merasa tubuhku terhempas keras di jalan. Cairan lengket nan amis itupun mengalir deras dari kepalaku. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku, aku melihat ada seorang gadis yang mungkin tadi memperingatiku berjalan ke arahku.

“Kau bertahanlah. Aku sudah panggilkan ambulans untukmu.” Katanya.

“Nona, bisakah aku minta tolong padamu?” kataku dengan sisa-sisa tenagaku.

“Ya katakan saja.”

“Tolong kau telfon seorang gadis yang bernama Ha Na, dan bilang padanya aku ingin bertemu dengannya sekarang di sini. Ini ambilah ponselku dalam jasku.” Aku sudah nyaris kehabisan oksigenku untuk bernafas.

***

Cho Ha Na’s POV

Aigoo lama sekali dia. Sudah hampir 30 menit dia tak kembali. Diriku mulai diliputi rasa takut. Pikiranku melayang ke mana-mana, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Drrt…drrt…

Aish jinjja siapa sih yang menelfonku disaat begini? Dengan malas aku mengambil ponselku dalam tas dan melihat siapa yang menghubungiku.

Mwo? Yesung oppa? Mengapa dia menelfonku?

“Yeoboseyo oppa, ada apa?”

“Mianhae. Apa benar ini Nona Ha Na?”

“Ne ini aku. Maaf tapi kenapa ponsel milik Yesung oppa bisa di tanganmu?” jantungku berdebar tak tentu. Ini pasti ada yang tidak beres. Dan benar saja jawaban dari gadis yang bahkan aku tak tahu siapa, sukses membuatku tak bisa bernafas.

“Di-dia kecelakaan. Kau bisa segera ke sini? Katanya dia ingin bertemu denganmu.”

“Cepat katakan di mana kalian sekarang!” perintahku dengan air mata yang terus mengalir.

“Sekarang kami berada tepat di samping restaurant tempatmu berada.”

Piiip tak perlu lama-lama aku segera menutup ponselku dan berlari keluar dari restauran ini. Masa bodoh dengan tatapan aneh pelayan ini. Mengapa aku bisa tidak menyadari kecelakaan itu? Cho Ha Na bodoh! Aku terus berlari hingga aku temukan sebuah kerumunan. Mendadak tubuhku lemas, aku tak bisa ke sana. Melihat Yesung oppa terkapar. Tidak lebih baik aku yang tadi tertabrak. Dengan langkah gontai, aku mendekat ke arah kerumunan itu. Keadaannya sungguh mengenaskan. Tanpa basa-basi aku segera memeluknya.

“Oppa, kenapa bisa begini. Oppa bangunlah oppa, kau kan janji tidak akan meninggalkanku, oppa!!!! Andwae oppa kau harus bangun!!! Oppa!!!” Aku berteriak histeris. Tiba-tiba aku merasa Yesung oppa mengenggam tanganku.

“Ha Na-ya~ tidak usah menangis, aku tidak akan pergi. Ini aku tadinya ingin memberikan ini padamu. Tapi ini karena kecerobohanku yang menyebabkan rencanaku gagal. Mianhae Ha Na-ya~”

“Tidak usah banyak bicara oppa! Bertahanlah! Kau pasti bisa bertahan! Sebentar lagi ambulans datang untuk menolongmu!” kataku benar-benar frustasi.

“Na-ya~ dengarkan aku baik-baik…Aku-aku-aku mencintaimu.” Tepat setelah Yesung oppa mengatakan itu dia menutup matanya.

“Andwae oppa!!!!!!! Kau tidak boleh pergi!!!!!! Aku tidak mau kau pergi meninggalkanku!!!!! OPPA!!!!!!!! AKU MENCINTAIMU!!!!” tangisanku makin menjadi-jadi saja.

“Ahgashi tenanglah.” Kata gadis tadi menenagkanku.

“MANA BISA AKU TENANG HAH? MELIHAT ORANG YANG AKU CINTAI SEPERTI INI?” teriakku padanya.

Aku rasa dia mengerti perasaanku karena dia tak berkomentar lagi. Tak lama kemudian, ambulans datang. Orang-orang berseragam putih itu segera membawa Yesung oppa masuk ke dalam ambulans dan aku pun ikut masuk. Selama perjalanan menuju rumah sakit, aku tak henti-hentinya menangis dan mengenggam tangan Yesung oppa. Aku terus berharap pada Tuhan agar Beliau menyelamatkannya. Aku tidak keberatan jika aku harus menggantikan posisinya sekarang.

Seoul International Hospital

“Maaf Nona tapi sebaiknya kau tunggu diluar. Biarlah dokter kami berusaha untuk menyelamatkannya.” Ucap suster sambil menahanku.

“Biarkan aku masuk! Aku mau melihat keadaannya!” Aku terus meronta pada suster itu.

“Daripada kau memaksa masuk lebih baik kau berdoa untuknya dari luar sini.” Ucap seorang gadis yang tak tahu kapan datangnya.

“Nona itu benar, lebih baik kau berdoa untuk keselamatannya.” Kata suster itu lagi.

Aku melunak dan bersedia untuk menunggu di luar.

“Maaf jika aku ikut campur, tapi aku hanya ingin memberikan ini padamu.” Gadis itu berkata sambil menyerahkan kotak kecil padaku.

Aku mengambilnya tanpa banyak bicara. Aku membuka kotak itu dan kembali menangis ketika aku melihat apa isinya. Sebuah cincin. Cantik sekali.

“Kau meninggalkannya tadi. Aku kira itu barang yang penting makanya aku jauh-jauh datang ke sini untuk memberikannya padamu. Ah iya satu lagi, ini ponsel milik kekasihmu.”

“Te-terima kasih banyak.” Ucapku sambil terus sesegukan.

“Sama-sama. Lebih baik kau telfon keluargamu dan keluarga kekasihmu supaya ada yang menemanimu di sini. Aku tak bisa lebih lama lagi di sini.” Ucap gadis itu lagi.

“Ne baiklah. Terima kasih atas bantuanmu…”

“Ji Yeong. Kim Ji Yeong.”

“Ji Yeong-ssi.” Kataku terbata.

“Baiklah aku pergi sekarang. Aku turut berdoa agar kekasihmu itu cepat sadar.”

“Terima kasih Ji Yeong-ssi.”

Sepeninggal Ji Yeong, aku terkulai lemas di depan pintu Unit Gawat Darurat tempat Yesung Oppa diberi penanganan pertama. Dengan lemas aku mengambil ponselku dan menghubungi Hyun Ki oppa. Entah kenapa tapi dia yang pertama kali melintas dalam pikiranku dalam kondisi seperti ini.

“Yeoboseyo, Ha Na-ya~ ada apa? Acara kalian sukses kan? Bagaimana? Cara Yesung untuk melamarmu keren kan?” Seperti disambar petir rasanya aku mendengar perkataan Hyun Ki oppa. Dengan sekuat tenaga aku menjawabnya.

“Oppa bisakah kau dan eomma segera ke sini?”

“Ya ada apa denganmu Ha Na-ya? Kau menangis? Memangnya ke mana Yesung?”

“Dia-dia-dia kecelakaan…” Air mataku lagi-lagi jatuh tanpa diminta.

“MWO? Apa kau bilang? Cepat katakan di mana kau sekarang? Aku dan eomma akan segera menyusulmu setelah memberi kabar pada orang tua Yesung.” Kata Hyun Ki oppa panik.

“Seoul International Hospital, cepatlah ke sini oppa, aku tak kuat jika harus menghadapi ini sendiri…” kataku putus asa.

“Tunggulah kami Ha Na-ya, jangan berbuat hal bodoh!” kata Hyun Ki oppa memperingatiku.

Setelah percakapan singkat di telfon itu, aku tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan, agar Yesung oppa bisa kembali bersamaku. Aku menatap pakaianku yang sudah berubah warna menjadi merah karena terkena darah dari Yesung oppa. Tak sengaja aku melihat ponsel Yesung oppa, dan menemukan fotoku sebagai wallpaper di handphonenya. Hatiku terasa dirajam ribuan peluru sakit sekali. Lalu aku mengalihkan pandanganku pada cincin pemberian Yesung oppa. Tidak ada kata lain selain kata cantik yang pantas menggambarkan cincin itu.

“Ha Na-ya! Di mana Yesung?” tanya Kim ahjumma dengan panik.

“Dia ada di ruang UGD eomonim.” Kataku sambil terisak.

“Apa dia baik-baik saja?” tanyanya lagi. Aku hanya diam dan kembali menangis. Tiba-tiba Kim Ahjumma sudah menarikku dalam pelukannya. “Aku tahu jawabannya. Lebih baik kita berdoa bersama untuk keselamatannya sekarang.”

Aku tidak tahu kapan datangnya mereka, tapi sekarang eomma, Hyun Ki oppa, Kim ahjumma, dan Jong Jin sudah ada bersamaku.

Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang UGD dan aku segera menyerangnya dengan pertanyaan.

“Dokter, bagaimana keadaannya? Dia bisa selamat kan? Dokter jawab aku! Dokter tolong katakan padaku bahwa dia selamatkan?!”

Dokter itu hanya diam. Tidak. Aku tidak mau mendengar jawaban tidak dari dokter itu.

“Kau Nona Cho Ha Na, benar?” tanya dokter itu kemudian.

“Iya benar! Cepat katakan padaku bagaimana keadaannya!”

“Maaf tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami tidak bisa menyelamatkannya. Dia terlalu banyak kehilangan darah. Nona, sebelum dia mengehembuskan nafas terakhirnya, aku disuruhnya untuk menyampaikan pesannya utukmu, dia pesan padamu, bahwa dia minta maaf padamu karena dia tidak bisa ikut bersamamu…”

“Hentikan! Kau pasti bohong! Yesung oppa tidak mungkin mengingkari janjinya! Dia pasti masih hidup!” aku memotong ucapan dokter itu.

“Tenanglah Ha Na-ya. Ah terima kasih dokter. Kami tahu kau pasti sudah melakukan yang terbaik untuknya.” Ucap Eomma.

“Andwae! Ini tidak mungkin!” Aku berlari menuju tempat Yesung oppa berada. Lagi-lagi aku merasa tubuhku dirajam ribuan peluru. Aku bergetar hebat, ketika melihat Yesung oppa tergeletak tak berdaya. Aku membuka kain penutup wajahnya. Senyum yang biasanya dia tunjukkan kepadaku kini sudah tidak ada lagi. Matanya yang indah kini akan tertutup untuk selamanya. Yesung oppa yang aku cintai kini sudah pergi. Pergi untuk selamanya.

“Ha Na-ya sebaiknya kau merelakan kepergiannya. Aku yakin dia sudah bahagia di sana.” Ucap Hyun Ki oppa.

Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Kehilangan orang yang aku cintai untuk selamanya. Kau tahu rasanya? Ya rasanya seperti separuh jiwamu hilang ditelan oleh bumi.

***

Seoul, 26 Desember 2011.

Aku menatap pusaran di depanku dengan tatapan kosong. Acara pemakaman Yesung oppa sudah berakhir daritadi. Tapi aku masih belum berniat untuk pergi dari sini. Pedih yang kurasakan belum pulih dan aku rasa tak akan pernah pulih.

“Ha Na-ya~ ini sudah sore, mau sampai kapan kau di sini?” ucap Hyun Ki oppa.

Aku tak bergeming. Pandanganku menatap lurus pada pusaran itu.

“Aku mencintaimu. Semoga kau mendengarnya dari atas sana.” Ucapku dan air mataku kembali jatuh.

“Na-ya~ Ayo kita pulang.” Ajak Hyun Ki oppa. Aku menurut saja. Lagipula aku tak kuat jika harus terus di sini.

“Noona! Tunggu sebentar!” panggil Jong Jin.

“Ne, ada apa Jong Jin-ah?”

“Ini. Aku ingin memberikan ini padamu noona. Bukalah kotak ini saat kau sampai di rumah.” Kata Jong Jin sambil menyerahkan sebuah kotak besar padaku.

“Gomawo Jong Jin-ah~”

“Sama-sama Noona. Ya! Berhentilah menangis! Kau tahu kan Yesung hyung paling benci melihatmu menangis!” katanya lagi.

“Arraseo Jong Jin-ah.” Jawabku sambil mencoba untuk tersenyum.

Apa isi kotak ini sebenarnya? Pertanyaan itu kubiarkan terus mengahantui pikiranku sampai akhirnya aku tiba di rumah.

***

“Eomma, oppa, aku ke kamar duluan ya.” Kataku pada eomma dan Hyun Ki oppa.

“Ne. Lebih baik kau istirahat. Kau kelihatan letih sekali.” Ujar eomma khawatir.

“Arraseo eomma.” Jawabku sambil tersenyum getir.

Aku segera menuju ke kamarku dan segera membuka kotak yang diberi Jong Jin. Hatiku seperti disayat-sayat melihat apa isinya, barang-barang peninggalan Yesung oppa. Puluhan album foto memenuhi kotak itu. Tak luput juga berbagai macam figura foto yang menunjukkan potret diriku bersamanya. Mataku tertuju pada sebuah buku. Ya pasti itu adalah buka diary miliknya. Dengan ragu-ragu aku mengambil buku itu dan mengambilnya. Halaman demi halaman aku buka, air mataku tak henti-hentinya menetes. Aku kembali histeris ketika melihat halaman terkakhir dari buku itu.

Seoul 25 Desember 2011.

Ya~ akhirnya setelah 3 tahun berpacaran dengannya, hari ini aku akan melamarnya! Aku sengaja tak memberitahukan dulu padanya, karena ini kejutan! Aish semoga saja dia suka dengan cincin pemberianku. Na-ya~ saranghae.

“Ha Na-ya kau tidak apa-apa?” tanya eomma khawatir.

Aku hanya memeluk eommaku sambil menangis.

“Ha Na-ya~ kau tahu? Kematian adalah kewajiban setiap manusia. Dan Yesung sudah menjalankan kewajibannya dengan baik. Harusnya kau turut senang, bukannya malah menangisinya seperti ini. Dia pasti sudah bahagia di sana. Dan dia pasti sangat ingin melihatmu tersenyum. Ayolah anak eomma pasti bisa. Kau tunjukkan padanya kalau kau gadis kuat!” kata eomma dengan bijak.

“Ne, eomma benar. Aku harus tunjukkan padanya bahwa aku ini gadis kuat.” Aku mencoba tersenyum.

“Nah ini baru namanya anak eomma. Sudah cepatlah kau istirahat.”

“Baik eomma.”

Ya eomma benar, aku harus tunjukkan padanya bahwa aku gadis kuat. Aku tidak boleh terus terpuruk dalam keadaan ini. Oppa, kau pasti bisa mendengar janjiku sekarang kan? Ya aku yakin kau pasti sedang melihatku dari atas sana.

***

Seoul, 24 Desember 2012.

“Yak Ha Na-ya! Mau ke mana kau?” tanya Hyun Ki oppa.

“Ya oppa bisakah kau membiarkanku pergi tanpa harus bertanya terus hah?” kataku kesal.

“Tidak. Aku hanya khawatir padamu.”

“Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam.”

“Baguslah. Yasudah sana pergi. Tapi ingat jangan pulang terlalu malam!” perintah Hyun Ki oppa.

“Arraseo oppa. Ah iya terima sudah mengkhawatirkanku.” Aku tersenyum pada Hyun Ki opaa dan segera keluar.

Baiklah tidak apa-apa jika aku harus membuka kotak itu sendirian, batinku dalam hati. Kemudian aku memberhentikan taksi yang kebetulan melintas di depan rumahku.

***

Cho Hyun Ki’s POV

Adikku memang hebat. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum padahal aku tahu jelas bahwa hatinya sangat sakit. Walaupun dia bukan seperti Ha Na yang dulu ku kenal, tapi aku masih bersyukur bisa melihatnya beraktivitas seperti biasa. Aish, aku kadang jadi rindu bertengkar dengannya, rindu dengan celotehannya tentang Yesung oppanya. Walaupun Yesung sudah tiada tetapi keluargaku dan keluarganya masih berhubungan baik. Jong Jin masih sering ke sini seperti biasanya, dan Ha Na pun masih sering mengunjugi rumah Yesung. Yesung-a~ semoga kau tenang di sana.

***

Cho Ha Na’s POV

Yak oppa mana janjimu? Katanya kau akan ikut bersamaku untuk membuka kotak yang kita kubur bersama-sama tahun lalu kan? Tapi kenapa malah aku sendirian sekarang? Kau jahat oppa! Aku teringat kenangan tahun lalu di mana aku dan dia mengubur kotak itu. Kini kotak itu sudah berada di depanku. Dengan tangan bergetar aku membuka kotak itu. Aku tak kuasa menahan air mataku ketika aku membaca permohonan yang sama-sama kami tulis tahun lalu.

Ha Na’s Wish

Yak sebenarnya aku tidak percaya bahwa apa yang sekarang aku tulis ini akan menjadi kenyataan dan sungguh ini permintaanku yang paling memalukan. Aku mohon supaya esok, tepat di hari natal Yesung oppa akan melamarku^^ hihihi bisa kupastikan kalau hal itu terjadi, itu akan menjadi natal terindah dalam hidupku.

Aku tertawa miris melihat permintaanku sendiri. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, pasti permohonanku sekarang sudah terkabul, dan pastinya sekarang Yesung oppa sedang berada di sampingku. Lalu, dengan ragu-ragu aku membuka kertas milik Yesung.

Yesung’s Wish

Aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin terus bersama gadis yang kucintai selamanya. Terus membuatnya tersenyum saja itu sudah cukup bagiku. Ha Na-ya~ jika kau melihat permintaan ku ini awas kalau kau sampai mentertawakanku. Aku mencintaimu.

Bagaimana bisa aku mentertawakan permintaanmu itu hah? Baiklah untuk tahun ini, hanya akan ada 1 kertas yang berada di dalam kotak ini. Aku mulai menggoreskan penaku di atas kertas, dan menulis kata demi kata.

Oppa! Lihat aku sekarang sendirian menulis permintaanku di sini. Kau tahu di sini sangat dingin. Tapi tak apalah, rasa dingin itu tak sebanding dengan rasa penasaranku untuk membaca permintaan yang kau tulis tahun lalu^o^ Sayang sekali oppa permintaanmu tahun lalu tak terkabul, karena kau yang meninggalkan ku duluan. Dan malangnya permintaanku juga tak terkabul. Hhhmm tahun ini aku hanya meminta, kau akan setia menungguku di sana. Aku pasti akan menyusulmu oppa, tapi tak tahu kapan hehehe^^ Ah kau tak berniat menjemputku? Padahal aku sangat menunggumu. Datanglah ke mimpiku sekali-kali. Aku sangat merindukanmu. Ohya aku sangat suka cincin pemberianmu. Aku tahu kau sangat benci melihatku menangis kan? Baiklah akan aku tunjukkan padamu bahwa aku tidak akan menangis lagi. Sudah ya oppa, aku yakin kau pasti akan membaca permintaanku ini, tapi entah di mana. Oppa, aku mencintaimu.

Aku menyudahi kegiatanku. Aku melipat kertas itu menjadi 4 bagian dan kumasukkan kedalam kotak dan kembali aku kubur. Setelah selesai, aku menyimpan kertas permintaanku dan Yesung oppa tahun lalu ke dalam tasku. Aish udara malam ini kenapa begitu menusuk sih? Aku mengencangkan syal yang aku kenakan. Sekali lagi aku melihat ke tempat aku mengubur kotak itu dan mendengus dalam hati, lagi-lagi aku akan membukanya sendirian tahun depan.

“Oppa aku tahu kau sedang memperhatikanku sekarang. Ya~ aku merindukanmu, datanglah ke mimpiku malam ini.” Ucapku pasrah. Aku melangkahkan kakiku berat dari tempat ini dan segera pulang.

***

Na-ya~ aku juga mencintaimu. Baiklah aku akan setia menunggumu sampai kau meyusulku, tapi aku tak akan pernah menjemputmu. Terus tersenyum seperti itu Ha Na-ya~ karena itu hal satu-satunya yang membuat aku tenang di sini.

 

THE END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s