Would You Be Mine?

Cast : Lee Sungmin, Choi Ha Ra, Lee Eun Jin.

Genre : Romance

Rating : PG+15

Length : One shot

 

Choi Ha Ra’s POV

Lagi-lagi aku begini, terasing oleh teman-teman kampusku. Yah nasibku memang selalu sial. Aku heran setauku aku tak mempunyai kesalahan apapun tapi mengapa mereka begitu membenciku? Pernah suatu kali aku bertanya kepada salah satu temanku, ah ya aku lupa, aku bahkan tak mempunyai seorang teman di sini. Yang aku maksud adalah kenalanku, Nam Ji Young, setidaknya dia jauh lebih baik daripada yang lainnya walaupun dia juga suka bersikap acuh padaku. Seingatku dia bilang alasan teman-temanku membenciku adalah karena aku selalu mendapat pujian dari songsaengnim dan selalu mendapat nilai tertinggi di kelas. Aku terkejut, tentu saja. Apakah itu alasan yang masuk akal? Menurutku tidak. Karena masih penasaran, aku kembali bertanya padanya, dan jawabannya waktu itu sama juga mengejutkannya dengan jawabannya yang pertama. Dia bilang bahwa aku ini gadis penggoda, karena waktu itu aku diantar pulang oleh Sungmin sunbae, namja idola sekaligus anak pemilik dari kampus tempatku berkuliah sekarang.

***

“Yak teman-teman lihat siapa yang datang!” seru seseorang dari dalam kelas. Ya aku baru saja tiba di kelas setelah tadi menjernihkan pikiranku di atap kampus, tempat favoritku. “Si gadis sok pintar!” serunya lagi. “Aniyo dia bukan gadis sok pintar, tapi gadis penggoda! Hahahahahah…”  timpal temannya lagi. Aku hanya diam dan tetap berjalan ke tempatku, percuma saja jika aku melawan, mereka akan lebih kasar padaku. Beginilah aku menjadi bahan cemoohan bagi teman-teman sekelasku. Memang di awal rasanya begitu sakit, tapi aku mencoba tegar dan tetap tersenyum walau diperlakukan seperti itu. Awalnya aku berpikir, jika aku mengacuhkan mereka, mungkin mereka akan capek sendiri dan berhenti mencemoohku, tapi aku salah, semakin aku diam semakin giat mereka menghinaku. Aish Hara-ya nasibmu memang kasihan sekali.

“Selamat pagi Anak-anak!” suara songsaengnim yang terdengar tegas itu membuyarkanku dari lamunanku. Hhhmm baiklah untuk sesaat aku akan melupakan masalahku dengan teman-temanku dan mencoba fokus pada apa yang dijelaskan songsaengnim di depan kalau aku tak mau mendapat ribuan nasihat darinya.

***

“TENG TENG TENG!!!” terdengar bunyi bel yang begitu memekakkan telinga, tapi itulah bunyi favoritku hahaha. Setelah dosenku meninggalkan kelas dengan memberikan begitu banyak tugas, aku segera bergegas keluar dan menuju tempat kampus di latai 4. Aku yang memang sudah tak sabar ingin mencurahkan isi hatiku di sana, membuatku jalan tergesa-gesa dan tak melihat suasana sekitar, dan yak kalian bisa tebak apa yang terjadi.

“YAK KAU KALAU JALAN LIHAT PAKAI MATAMU!” teriakan seorang yeoja begitu nyaring di telingaku.

“Mianhae, aku tak sengaja.” Memang aku yang salah kali ini aku berjalan tak lihat-lihat, tapi sialnya lagi yeoja yang kutabrak ini adalah yeoja populer di kampusku.

“APA KAU BILANG? MAAF? HEI KAU TAK TAHU SIAPA AKU HAH?”  yeoja itu belum juga menurunkan nada suaranya.

“Maaf, tapi aku benar-benar tak sengaja, Lee Eun Jin-ssi.” Ulangku. Sesaat aku tak mendengar suara Eun Jin, tapi aku melihat anak buah dibelakangnya sedang mebisikkan sesuatu ketelinga Eun Jin.

“Oh jadi kau gadis penggoda itu ya? Gadis yang diantar pulang oleh Sungmin oppa-ku?” tanyanya tiba-tiba dengan nada mengejek.

“Aku memang gadis yang diantar pulang oleh Sungmin oppa-mu Eun Jin-ssi, tapi aku bukan gadis penggoda. Lagipula waktu itu Sungmin oppa-mu yang menawarkanku untuk pulang bersamanya, bukan aku yang memintanya.” Jawabku dengan tegas.

“Hahaha berani sekali kau! Kau punya dua kesalahan fatal yang kau perbuat Nona Choi Ha Ra yang terhormat.”

“Setauku aku hanya mempunyai satu kesalahan, yaitu menabrakmu, dan aku pun sudah minta maaf padamu. Lalu apalagi kesalahanku?”

“Kau masih bertanya apa kesalahanmu? Baiklah karena aku sedang berbaik hati, kali ini aku kuberi tahu kesalahanmu. Kau mencari ribut denganku! Itu kesalahanmu!”

“Jadi itu kesalahanku menurutmu, Eun Jin-ssi? Aku tak merasa berbuat hal itu, karena kau yang memulai duluan, jadi aku tak mau minta maaf. Aku sudah membuang waktuku untuk terlibat dalam pertengkaran yang tak penting ini, kalau begitu aku duluan Eun Jin-ssi. Oh ya, lain kali kalau kau ingin menunjukkan kekuasaanmu, kau salah orang. Aku bukan tipikal orang yang takut hanya dengan gadis populer sepertimu. Annyeong Eun Jin-ssi.” Aku berjalan meninggalkan Eun Jin yang terkejut dengan perkataanku dengan senyum sinisku. Hah dia pikir dia siapa? Ya ya ya aku tahu dia memang gadis populer hanya karena dia kekasih dari Sungmin sunbae, tapi itu tak membuatku takut padanya.

“Sial! Choi Ha Ra lihat saja pembalasanku nanti! Rupanya dia belum tahu siapa aku! Liat saja nanti, dia akan berlutut meminta ampun padaku!”

***

Mengapa hari ini aku sial sekali sih? Aku paling malas berurusan dengan gadis sok kuasa itu, tapi apa boleh buat, aku tak terima jika aku harus terus-terusan dibilang gadis penggoda. Aku melirik arloji kesayanganku yang melingkar manis ditanganku. Pantas saja kampus sudah sepi, rupanya sudah jam 5 sore. Baiklah mungkin aku harus cepat pulang karena aku mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan. Tapi tiba-tiba aku merasa tanganku ditarik paksa oleh seseorang.

“Hei kau lepaskan tanganku!” teriakku sambil meronta.

“Diam saja kau gadis manis. Ini tidak akan lama jika kau menurut padaku.”

Mataku di tutup oleh kain hitam dan aku ditarik secara paksa ke tempat yang entah aku tak tau di mana karena mataku ditutup oleh kain sialan ini.

BUK. Aku di dorong dengan kasar  hingga tubuhku membentur tembok. Sakit dan dingin. Aku rasa aku berada di sebuah tempat yang penuh dengan air, karena tembok yang mengahantamku ini lembab dan terasa dingin. Kalo perasaanku tidak salah, aku sekarang berada di kamar mandi. Tapi buat apa dia membawaku ke sini?

Tiba-tiba kain hitam penutup mataku di lepas dan aku mengerjap karena terkejut. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah seorang yeoja yang sangat jelas aku kenal ini sedang berdiri dengan angkuhnya di depanku.

“Hai Nona Choi Ha Ra, kita bertemu lagi rupanya.”

“Ada urusan apa lagi denganku? Bukannya urusan kita tadi siang sudah selesai?”

“Urusan pertama kita memang sudah selesai, tapi untuk urusan yang kedua itu sama sekali belum selesai, Hara-ssi.”

“Lalu kau mau apa sekarang?”

“Aku akan membuatmu bertekuk lutut memohon ampun di hadapanku! Hei kalian tunggu apalagi cepat serang dia!”

“Ya! Kalian mau apa denganku hah?” Buk. Lagi-lagi aku di dorong kasar ke tembok. Yeoja-yeoja dihadapanku ini terlihat beringas. Mereka menamparku tanpa ampun. Aku merasa sesuatu mengalir dari sudut bibirku. Darah. Belum cukup mereka menamparku, mereka menjambak rambutku, menendangi perutku, dan mencoba melepas pakaianku. Aku berontak, tapi semakin aku berontak, mereka semakin menjadi-jadi saja. Tidak aku tidak boleh menyerah. Tapi badanku sudah tak kuat menahan siksaan dari mereka. Aku yang sudah terduduk lemah di sudut kamar mandi, hanya pasrah menerima perlakuan mereka. Aku melihat salah satu dari mereka mengambil seember air dan menyiramkannya padaku. Sakit. Itulah yang aku rasakan. Aku belum mau menyerah. Biarlah kalau perlu aku mati disini. Mungkin karena mereka geram melihatku yang tak kunjung menyerah, mereka mengambil sebuah balok kayu yang sudah disiapkan dan memukulku –lagi- secara bertubi-tubi. Pasrah dan menahan rasa sakit, itulah yang aku lakukan. Aku tidak berteriak ataupun menangis, karena aku tak mau dianggap gadis lemah. Tiba-tiba suara Eun Jin menghentikan aktivitas yeoja-yeoja gila yang sedang memukuliku.

“Hentikan sebentar. Ada telfon dari Sungmin oppa.” “Yeoboseyo? Ah ne, ada apa oppa? Mwo? Oppa menungguku? Oppa di mana sekarang? Baik aku segera ke sana sekarang.”

Tidak usah Eun Jin-ya~ biar aku yang menghampirimu. Di mana kau sekarang?”

“Aku…aku…ada di kamar mandi oppa. Tidak usah repot-repot menemuiku oppa, aku yang akan ke sana.”

“Kamar mandi ya? Baiklah aku akan ke sana. Tunggu aku.”

“Tidak usah Oppa! Aku sudah…” Aish sial! Mengapa dia seenaknya menutup telfonku? Gerutu Eun Jin.

“Nasibmu kali ini sedang beruntung Hara-ssi. Tapi tidak untuk lain kali. Tapi rasanya aku tidak puas jika tidak turun tangan langsung untuk memukulmu. Hwa Yeong-ah berikan balok kayumu padaku, aku ingin memukul gadis sok kuat ini.” BUK. Kali ini aku tak bisa menahan rasa sakit yang aku terima akibat pukulan dari Eun Jin. Aku mengerang kesakitan dan air mataku jatuh begitu saja.

“Hahaha lihat dirimu Hara-ssi. Bahkan kau tidak pantas untuk mendekati Sungmin oppa-ku. Lihat kan? Kau tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Menangislah sepanjang malam di sini, karena aku tak akan membiarkanmu…” ucapan Eun Jin terpotong karena ada seseorang yang membuka pintu kamar mandi secara paksa.

“Oppa…oppa…apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eun Jin tergagap.

“Aku mendengar suara jeritan seorang gadis dari kamar mandi, aku kira itu kau, makanya aku segera berlari ke sini. Tapi ternyata bukan kau yang berteriak.”

“Oppa tapi apa yang kau lihat tidak seperti yang kau kira. Aku bisa jelaskan semuanya…”

“Kau bahkan segera melempar balok kayu yang kau pegang? Kau kaget melihat kedatangangku?”

“Bukan begitu oppa, aku bisa menjelaskan semuanya.” Eun Jin mulai terisak.

“Lee Eun Jin, kau kira aku bodoh? Aku tak perlu penjelasanmu. Aku mendengar semua ucapanmu tadi. Ternyata benar kau ini gadis arogan dan kasar. Aku kecewa padamu.”

“Oppa itu tidak benar! Gadis ini yang memukulku duluan! Makanya aku tak terima dan aku membalasnya!”

Aku yang hampir kehilangan kesadaran tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Yang aku rasakan adalah sakit disekujur tubuhku dan…seseorang menggendongku. Tunggu apakah Sungmin oppa yang menggendongku? Tapi tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan aku tidak merasakan apapun lagi.

“Errgggghh sialan kau gadis pembawa sial! Urusan kita belum selesai! Lain kali aku tak akan bermain-main lagi seperti ini. Aku akan langsung membunuhmu. Hahahaha!!!”

***

Lee Sungmin’s POV

Gadis itu lagi. Entah apa yang dilakukan Eun Jin sampai membuat gadis itu menderita luka di sekujur tubuhnya. Aku melirik ke kaca spion untuk melihat kondisinya di bangku penumpang. Aish seingatku gadis itu kan tinggal sendiri, aku jadi tidak tega untuk membiarkannya sendirian di rumah. Apa boleh buat, aku terpaksa membawanya ke rumahku. Ya setidaknya dia akan mendapat perawatan sedikit dari Lee Ahujumma.

Aku memakirkan mobilku tepat di depan garasi rumahku. Segera kuturunkan dia dan kugendong masuk ke dalam rumah. Lee Ahjumma terlihat setia menungguku di depan pintu.

“Ahjumma tolong siapkan air hangat dan kompres untuk gadis ini. Dan ohya tolong buatkan bubur juga ya.” perintahku.

“Baik Tuan.” Lee Ahjumma menuruti perintahku.

Rumahku memang cukup besar, tapi bodohnya, aku tak menyediakan kamar tamu. Jadi mau tidak mau gadis yang bahkan aku belum tahu namanya ini akan kubawa ke kamarku. Aku harap ketika dia terbangun nanti dia tidak akan terkejut melihat kamarku yang penuh dengan warna merah muda.

“Tuan, ini air hangat dan kompres yang Anda minta.”

“Ah ne, gomawo Ahjumma. Boleh aku minta tolong lagi? Tolong gantikan baju gadis ini dengan bajuku untuk sementara. Aku kasihan melihat bajunya yang basah kuyup seperti itu.”

Untuk sesaat, Lee Ahjumma hanya tersenyum ke arahku, kemudian dia menyanggupi permintaanku.

“Tuan saya sudah mengganti baju Nona itu dengan baju Tuan sementara.”

“Terima kasih banyak Ahjumma.” Aku memeluk Lee Ahjumma dan mengeluarkan senyum manis andalanku.

Aku kembali masuk ke kamarku dan duduk di samping ranjangku. Tadinya aku tak berniat untuk membangunkannya, tapi mungkin karena gerakan tubuhku ini, makanya dia terbangun.

“Aku…aku di mana?” suaranya terdengar serak.

“Tenang saja. Yang pasti kau bukan di rumah seorang penjahat sekarang.” Dia mengerjapkan matanya dan membuka suara lagi.

“Sung-sungmin-ssi?”

“Ah rupanya kau sudah benar-benar sadar sekarang. Kau bahkan mengenaliku tanpa aku mengenalkan diriku.”

“Aaaaaah” Dia memegangi kepalanya yang mungkin terasa sangat sakit.

“Aku tahu pasti kau merasa sangat sakit di seluruh badanmu. Kemari biar aku obati lukamu.” Aku mencelupkan kompres ke dalam air hangat yang tadi sudah disiapkan oleh Lee Ahjumma. Perlahan-lahan aku mengusap luka yang terdapat di sudut bibirnya. Deg. Ada apa ini? Mengapa jantungku berdebar-debar keras seperti ini? Ah mungkin karena ini kali pertama aku berada sedekat ini dengan seorang gadis. Aku hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang ini. Luka yang di derita gadis ini benar-benar dalam. Eun Jin itu manusia apa bukan sih sebenarnya? Dan apa yang dia perbuat sampai-sampai meninggalkan luka seperti ini?

“Maaf Sungmin-ssi, kau tidak perlu repot-repot mengobati lukaku. Lebih baik aku pulang sekarang.”

“Tidak. Kau tidak akan kuijinkan pulang malam ini. Kau tidak lihat ini jam berapa? Apa kata orang nanti jika mereka melihatmu keluar dari rumahku di jam segini? Kau mau mendapat ejekan dari teman-temanmu lagi?”

Kata-kata itu keluar dengan mulutku mungkin gadis itu kebingungan dengan ucapanku yang terdengar seperti perintah itu.

“Tapi aku ini seorang gadis. Masa dengan enaknya aku menginap di rumah seorang namja yang tidak ku kenal?”

“Namja yang tidak kau kenal? Kau bahkan tadi menyebut namaku ketika kau tersadar. Padalah seiingatku, aku belum memperkenalkan diriku. Justru akulah yang belum mengenalmu. Jadi siapa namamu?”

“Ha Ra. Choi Ha Ra.”

“Oh baiklah Nona Choi, sebaiknya malam ini kau menginap di rumahku. Besok pagi akan aku antarkan kau ke rumahmu. Tenang saja kau aman disini. Aku tak akan berbuat apa-apa padamu. Aku akan tidur di ruang tamu. Dan satu lagi, panggil aku oppa. Arra?”

“Ne, Sungmin-ssi. Mianhae, maksudku Sungmin oppa.”

“Bagus. Sekarang kau lebih baik tidur. Kalau ada apa-apa panggil aku di ruang tamu.”

Aku menutup pintu kamarku dan berjalan ke ruang tamu. Aku membaringkan tubuhku di sofa panjang favoritku. Choi Ha Ra. Nama yang bagus untuk gadis sepertinya.

Drrt..drrt…

Aish siapa sih yang mengirim SMS malam-malam begini? Dengan malas aku mebuka flip handphoneku dan mendengus begitu tahu siapa si pengirim SMS itu.

From : Lee Eun Jin

Content :

Oppa, kau sedang di rumah kan sekarang? Apa kau sedang sibuk?

To : Lee Eun Jin

Content :

Ne, aku di rumah dan sedang tidak sibuk. Ada apa?

Aku menekan tombol send di tombol handphoneku. Tak lama kemudian SMS baru masuk lagi.

From : Lee Eun Jin

Content :

Baiklah, aku akan ke rumahmu sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Oppa.

Apa gadis ini gila? Sekarang sudah hampir jam 12 malam, dan dia ingin ke rumahku? Yang benar saja!

To : Lee Eun Jin

Content :

Ini sudah terlalu malam. Kalau kau ingin bicara denganku, temui aku di kafe biasa pukul 12 siang.

Tak sampai satu menit, Eun Jin membalas SMS ku.

From : Lee Eun Jin

Content :

Baiklah oppa. Aku tunggu kau besok di kafe biasa jam 12 siang.

Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan gadis itu sampai-sampai dia nekat ingin ke rumahku jam segini? Dasar gadis gila.

Aku kembali merebahkan tubuhku di sofa. Sofa ini memang nyaman, tapi aku tidak bisa tidur jika tidak ada bantal. Baiklah ini tidak akan lama. Aku hanya ke kamarku sebentar mengambil bantal, lalu kembali lagi ke ruang tamu.

Kriieett…aku berusaha tidak menimbulkan suara yang begitu kencang agar Hara tidak terbangun. Aku bahkan berjalan seperti seorang maling yang mengendap-ngendap di kamarku sendiri.

Yap. Susah payah aku berusaha untuk mengambil bantalku dengan tidak membangunkan Hara. Aish gadis ini rasanya tadi aku melihatnya sudah berselimut, tapi kenapa selimutnya sekarang sudah jatuh ke lantai? Apa dia tidak merasa kedinginan? Aku mengambil selimut yang jatuh itu dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut agar dia tak merasa kedinginan. Entah setan apa yang merasuki ku sekarang, dengan ringannya tanganku menjulur dan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Wajahnya yang mulus itu ternodai oleh luka-luka hasil karya Eun Jin. Benar-benar gadis itu, tega-teganya dia membuat luka di wajah gadis ini. Yak! Lee Sungmin apa yang kau pikirkan? Bukankah tadi niatku hanya mengambil bantal sebentar lalu keluar lagi? Mengapa sekarang aku menikmati pekerjaan baruku ini? Memandangi gadis bernama Choi Ha Ra yang sedang tertidur lelap di hadapanku. Aku rasa aku benar-benar gila sekarang.

Dengan mengendap-endap seperti tadi aku berjalan kembali ke ruang tamu dan segera kembali merebahkan tubuhku di atas sofa. Aku harap aku bisa segera tidur malam ini tanpa memikirkan gadis itu.

***

            Aku membuka mataku perlahan dan meregangkan otot-ototku yang terasa pegal karena tidur di sofa semalaman. Aku melirik jam dinding di ruang tamu yang sekarang sedang menunjukkan pukul 08.00. Sudah jam 08.00 tapi kenapa gadis itu belum bangun juga? Baiklah kali ini aku yang akan membangunkannya. Ah iya lagipula bubur yang semalam dimasak oleh Lee Ahjumma belum sempat dimakan, lebih baik kubawakan bubur itu untuk sarapan Hara pagi ini.

“Hara-ya~ ireona. Yak Hara-ya~ ppali ireona ini sudah siang.” Hara terlihat menggeliat karena aku mengguncang tubuhnya agar dia terbangun. Aigoo wajahnya bertambah cantik dua kali lipat ketika dia bangun tidur seperti ini.

“Hah, akhirnya kau bangun juga. Ini sudah jam 8 Hara-ya, dan seorang gadis sepertimu baru bangun. Cepat ke sini habiskan buburmu dan lekaslah mandi.”

“Oppa, kau tahu ini kali pertamaku bangun jam 8 pagi, semenjak aku diantar pulang olehmu waktu itu aku selalu bangun di pagi buta dan segera pergi ke kampus.”

“Itu salahmu sendiri kenapa kau bangun di pagi buta.”

“Karena jika aku sampai di kampus dan teman-temanku sudah datang duluan, mungkin aku tak akan bisa selamat sampai di kelas.” Jawab Hara enteng.

“Mwo? Tak bisa selamat sampai di kelas? Memang apa yang diperbuat teman-temanmu?”

“Sudahlah oppa tak usah dibahas lagi. Mana buburku? Aku sangat lapar karena semalaman tidak ada yang masuk ke perutku hehehe.” Senyumnya kini menghiasi bibir mungilnya.

“Kali ini kau lolos. Aku biarkan kau membuatku penasaran dengan apa yang sebenarnya dilakukan oleh teman-temanmu.”

“Aish Oppa, sudah kubilangkan tidak usah dibahas lagi.” Hara mengekerucutkan bibirnya.

“Arra, arra aku tidak akan membahas hal ini lagi. Yasudah cepat buka mulutmu, makan bubur ini.”

“Yak oppa! Kau kira aku ini balita apa yang harus disuapi begitu hah? Aku bisa sendiri tahu!” semburat merah terlihat dari pipinya.

“Hahaha asal kau tahu Hara-ya~ pipimu itu sudah seperti badut, merah sekali! Hahahaha.” Aku tak bisa menahan tawaku yang melihatnya malu akibat perbuatanku.

“Kau ini sebenarnya mau membantuku atau mau mengejekku sih?” Hara menanggapiku dengan nada sedikit kesal.

“Aigoo Hara-ya~ kenapa jadi marah seperti itu? Aku kan hanya bercanda.”

“Bercandamu tidak lucu oppa! Sudahlah aku tidak bernafsu makan lagi sekarang. Lebih baik aku segera pulang dari sini.” Hara bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke pintu untuk segera keluar.

“Aish kau benar-benar tidak punya selera humor. Ah iya, kau mau pulang dengan keadaan seperti itu?”

“OPPA CEPAT KEMBALIKAN PAKAIANKU SEKARANG!” suara Hara terdengar begitu nyaring.

“Akhirnya kau sadar juga hahahaha. Pakaianmu ada di samping lemariku, semalam Lee Ahjumma lah yang mencucinya.” Kataku sambil menunjuk tempat yang kumaksud.

“Berhentilah tertawa oppa. Aku takut kantung tertawamu itu akan kering dan akhirnya kau tidak akan bisa tertawa lagi hahaha.” Kali ini gantian Hara yang tertawa. Tertawa mengejek lebih tepatnya.

***

Choi Ha Ra’s POV

Awas saja kau Lee Sungmin!! Sial aku tahu tadi pasti mukaku memang seperti badut. Merah sekali. Siapa suruh dia bersikap begitu? Apa aku kira aku ini balita apa? Untungnya dia hanya mengetahui mukaku yang memerah gara-gara sikapnya tadi. Hhmpph semoga saja dia tidak mendengar debar jantung yang bekerja ekstra keras dari biasanya.

Aku lekas mengganti pakaianku dan sedikit merapikan penampilanku yang benar-benar berantakan. Aww. Yeoja sialan itu memang benar-benar tak berperasaan. Mukaku jadi penuh luka begini dibuatnya. Untunglah aku tinggal sendiri, jadi setidaknya aku tak usah repot-repot mengarang alasan mengapa wajahku jadi tak berbentuk seperti ini. Setelah merapikan sedikit penampilanku, mataku menjelajahi setiap sudut kamar ini. Namja itu benar-benar. Bahkan kamarnya pun jauh lebih rapi dibandingkan kamarku yang nyaris tidak bisa disebut kamar lagi. Semua barang tersusun rapi di tempatnya. Aku tidak mempersalahkan mengapa kamar ini penuh dengan warna merah muda, karena menurutku wajar saja jika lelaki menyukai warna merah muda. Toh tidak disebutkan kan dalam undang-undang jika lelaki dilarang menyukai warna merah muda?

“Kau sudah selesai?” tanyanya setelah aku keluar kamar.

“Apa kau tidak lihat?” jawabku sinis.

“Jangan galak-galak seperti itu Hara-ya~ Iya aku lihat, lagipula aku hanya memastikan saja. Yasudah ayo kita berangkat!” dia menarik tanganku tanpa memperhatikan efek apa yang ditimbulkannya. Untuk yang kedua kalinya jantungku bekerja dua kali lebih keras dari yang biasanya. Sial! Lihat saja kau Lee Sungmin, aku akan membalas perbuatanmu ini lain kali!

Hening. Itulah yang terjadi selama perjalanan menuju rumahku. Aku dan Sungmin sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi aku masih bisa menyadari bahwa sekali-sekali ia melirik ke arahku. Baiklah setidaknya aku bisa sedikit geer kali ini karena memang itulah yang terjadi.

Ciiiit..! Terdengar suara ban berdecit karena dipaksa berhenti oleh sang pengemudi.

“Nah Nona Choi sekarang kita sudah sampai di rumahmu.”

Bukannya segera turun aku malah memasang tampang bodohku dan bertanya-tanya sendiri mengapa ia tahu rumahku padahal aku belum memberi tahu alamatku padanya.

“Kau lupa kalau waktu itu aku pernah mengantarmu pulang?” tanyanya seakan-akan bisa membaca pikiranku. “Sudahlah tidak usah memasang tampang bodohmu itu lagi, Hara-ya~” ucapnya lagi.

Astaga kenapa aku sebodoh ini! Dia benar! Aku lupa bahwa aku pernah diantarnya pulang waktu itu! Aish! Aku merutuki kebodohanku sendiri.

“Benar. Aku lupa waktu itu kau pernah mengantarku pulang.” Jawabku sebisa mungkin agar terdengar dingin.

“Tidak usah berusaha agar ucapanmu terdengar dingin Hara-ya~ Aku tahu kau lupa hahaha.”

“LEE SUNGMIN TIDAK BISAKAH KAU BERHENTI MEMBACA PIKIRANKU HAH?” teriakku kesal, karena dia selalu saja bisa membaca pikiranku.

“Kau pikir aku ini peramal? Sudahlah cepat sana masuk dan istirahat.” Balasnya sambil mengacak rambutku.

“Tidak usah sok perhatian padaku. Ah iya terima kasih sudah mengantarku pulang, Oppa.” Kembali aku mengeluarkan nada ketus dan segera keluar dari mobilnya. Kali ini aku benar-benar tidak akan memaafkan perbuatannya padaku. Lihat saja tanggal mainnya Tuan Lee, kataku dalam hati.

“Hara-ya~! Tunggu sebentar!”

Dengan malas aku menoleh ke arahnya lagi. “Ada apa lagi oppa?”

“Hmm aku hanya ingin bilang, jika Eun Jin berbuat macam-macam lagi padamu, jangan takut untuk melapor padaku.” Jawabnya sambil mengeluarkan senyum super manisnya.

“Ne, baiklah.” Ucapku singkat.

Terdengar suara mobilnya menjauhi rumahku. Aku segera masuk ke kamarku dan membaringkan tubuhku di sana. Pandanganku menerawang ke langit-langit kamarku. Tidak boleh Choi Ha Ra. Kau tidak boleh menyukainya. Dia sudah milik Lee Eun Jin. Lagipula gadis sepertiku ini tidak pantas untuk bersanding dengannya. Lagipula aku tak yakin akan masih bisa terus menghirup oksigen, jika teman-temanku mengetahui bahwa aku menyukai seorang Lee Sungmin. Biarlah aku memendam rasa sukaku ini tanpa ada yang mengetahuinya. Hatiku terasa sakit dan cairan bening mulai membasahi pipiku. Mungkin begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.

***

Lee Sungmin’s POV

Sebenarnya aku tadi tidak ingin meninggalkan Hara sendirian, jika aku tak ingat bahwa aku mempunyai janji dengan Eun Jin. Aku melirik arloji ditanganku yang sekarang sedang menunjukkan pukul 12 siang lewat. Masa bodoh jika aku terlambat. Lagipula kan yang ingin bicara itu Eun Jin bukan aku, jadi biarlah dia yang menunggu.

Aku memakirkan mobilku di tempat parkir kafe tempat janjianku dengan Eun Jin. Segera aku masuk ke dalam kafe dan menemui Eun Jin yang sudah gelisah menungguku. Tanpa basa-basi segera saja aku menanyakan apa yang ia ingin bicarakan denganku.

“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku?”

“Apa kau semarah itu padaku? Sampai-sampai kau bahkan tidak meminta maaf atas keterlambatanmu.”

“Cepatlah Lee Eun Jin, aku tidak punya waktu untuk sekedar berdebat denganmu.”

“Jadi katakan apa alasanmu datang terlambat? Padahal biasanya kau selalu tepat waktu Oppa.”

“Aku terlambat karena habis mengantar Hara pulang, semalaman dia menginap di rumahku. Aku tak tega membiarkannya sendirian di rumah dengan kondisi seperti itu. Apakah kau sudah puas dengan alasanku?”

“Aah jadi gara-gara Hara kau sampai terlambat.” Eun Jin terlihat memaksakan senyumnya. Aku tahu pasti sekarang dia ingin marah, tapi entah kenapa dia lebih ingin menyimpan amarahnya itu.

“Cepat apa yang ingin kau bicarakan denganku, Nona Lee?” nada bicaraku terdengar begitu sakratis. Aku bahkan memanggilnya dengan formal. Masa bodoh, aku sudah terlanjur kecewa dengannya.

“Bahkan kau memanggilku dengan sapaan formal oppa.” Cairan bening mulai membasahi pipinya. Ia menangis. “Aku…aku ingin menjelaskan kejadian kemarin oppa. Sungguh apa yang kau lihat kemarin bukan seperti apa yang kau pikirkan.” Ucapnya sambil terisak.

“Sudah kubilang, aku ini bukan laki-laki bodoh yang harus diberi penjelasan olehmu. Aku mendengar semua ucapanmu terhadap Hara. Dan aku benar-benar kecewa padamu!”

“Oppa tapi itu Hara yang memulai duluan, bu-bukan aku.”

“Apa selain menjadi gadis yang arogan dan kasar, kau juga ingin menjadi gadis pembohong? Tidak mungkin jika Hara yang memulainya duluan!”

“Baik baik baik!!! Aku mengaku salah! Memang aku yang memulainya duluan! Apa sekarang kau puas?” tangisan Eun Jin semakin menjadi-jadi.

“Aku tidak percaya kau tega berbuat seperti itu. Aku kira omongan orang-orang yang mengatakan bahwa kau itu gadis arogan dan kasar tidak benar, tapi ternyata dugaanku…”
belum selesai aku bicara Eun jin sudah memotongnya.

“Lalu apa kau berniat memutuskanku? Andwae oppa, aku mencintaimu.”

Sial aku paling tidak tega melihat seorang wanita bersikap begini di hadapanku. Mau tidak mau aku melunakkan sikapku dan berusaha menanamkan kepercayaanku lagi padanya,

“Tidak aku tidak akan memutuskanmu, asalkan kau berjanji satu hal padaku.”

“Apa oppa?” Eun Jin terlihat antusias dan senyum kembali terukir di wajahnya.

“Kau harus berubah. Berjanjilah padaku kalau kau akan menjadi gadis baik-baik. Kau mengerti?”

“Baik oppa aku akan berjanji padamu. Aku berusaha untuk berubah menjadi gadis yang kau inginkan.”

“Nah bagus kalau begitu. Aku akan pegang janjimu. Baiklah aku duluan ya, aku mempunyai urusan lain. Annyeong Eun Jin-ah~”

Aku segera berjalan keluar meninggalkan kafe ini. Aku bahkan tak yakin bahwa Eun Jin benar-benar akan berubah. Sudahlah lebih baik aku tak usah terus berpikir negatif padanya, siapa tahu ia benar-benar akan berubah.

***

Lee Eun Jin’s POV

Choi Ha Ra sialan! Bisa-bisanya dia menginap semalaman di rumah Sungmin oppa, bahkan aku yang kekasihnya pun belum pernah menginjakkan kaki di sana. Aish aku harus berbuat apalagi sih untuk menyingkirkannya? Aku berpikir sebentar, mencoba mencari cara bagaimana untuk menyingkirkannya tanpa harus terlibat langsung. Ah iya! Aku tahu bagaimana caranya! Ya, Lee Eun Jin kau memang pintar.

Segera ku keluarkan telfon genggam milikku dari dalam tas dan mencari nomor Hwa Yeong. Terdengar bunyi nada sambung sebentar, kemudian terdengar suara dari sebrang sana.

“Yeoboseyo, Hwa Yeong-ah~ Apa kau sedang sibuk?”

“…”

“Ah baguslah kalau kau tidak sedang sibuk. Aku punya pekerjaan untukmu. Bisakah kau menemuiku di kafe tempat biasa kita bertemu?”

“…”

“Baik. Aku akan menunggumu di sini. Annyeong Hwa Yeong-ah~”

Piip. Aku memutuskan sambungan telfon dengan Hwa Yeong. Hah baiklah, aku tinggal menunggu Hwa Yeong datang dan segera memberi tahunya ide briliantku ini.

***

Author’s POV

“Kling kling” lonceng di depan pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang datang. Seseorang itu mengedarkan matanya untuk mencari seseorang.

“Hwa Yeong-ah disini!” ucap Eun Jin sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Ah mianhae Eun Jin-ah, kau sudah lama menunggu?” tanya Hwa Yeong dengan nada bersalah.

“Gwenchana Hwa Yeong-ah. Aku belum lama menunggu kok.” Jawab Eun Jin menenangkan Hwa Yeong.

“Aish baiklah aku kira kau sudah lama menungguku. Apa pekerjaan untukku?” tanya Hwa Yeong antusias.

“Kau ini terburu-buru sekali Hwa Yeong, apa kau tidak mau memesan minum terlebih dahulu?”

“Tidak, tidak. Yak Eun Jin-ah cepat beritahu aku apa pekerjaan yang harus aku lakukan?” tanya Hwa Yeong tidak sabar.

“Baiklah ternyata kau ini orang yang tidak sabaran ya. Yasudah kemari mendekat padaku. Aku tak mau ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita.”

Hwa Yeong pun mendekat ke arah Eun Jin, dan pembicaraan cukup serius pun terjadi diantara mereka. Terlihat sesekali Eun Jin dan Hwa Yeong tertawa sinis dan mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tak sampai 30 menit, mereka menyudahi pembicaraan mereka.

“Kau memang pintar, Eun Jin-ah!” puji Hwa Yeong.

“Kau jangan memujiku seperti itu Yeong-ah~ ini ide biasa saja kau tahu?”

“Tapi sungguh aku tak pernah sekalipun memikirkan tentang hal ini! Mempermalukan si gadis penggoda itu di depan Sungmin sunbae? Hahahaha aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya nanti.”

“Tapi kau yakin kan bisa melaksanakannya?”

“Kau meragukanku Eun Jin-ah?”

“Ani, aku tidak pernah meragukanmu Yeong-ah~”

“Baiklah. Aku pamit duluan ya, aku sudah tidak sabar untuk memberi tahu pada teman-teman kampus agar rencana kita berjalan sesuai rencana!” Hwa Yeong tampak antusias.

“Hahaha baiklah sampai jumpa besok Yeong-ah~!”

Sepeninggal Hwa Yeong, Eun Jin kembali sendirian di kafe itu. Dia tampak menyeringai dan menggumam dalam hatinya, “Kita lihat saja besok, apa kau masih berani mendekati Sungmin oppa-ku, Choi Ha Ra?”

***

Choi Ha Ra’s POV

Hooammm. Aku menguap dan mengerjapkan mataku. Mataku yang masih belum mau terbuka sempurna ini mencari-cari jam dinding untuk tahu jam berapa sekarang. Aah, sekarang pukul 7 rupanya. MWO?! Pukul 7?! Astaga aku terlambat! Ya Tuhan aduh bagaimana bisa aku kesiangan? Segera saja aku bangkit dari tempat tidurku dan mengambil handuk dan segera mandi. Tak sampai 5 menit aku sudah selesai, dan mengambil asal pakaianku dalam lemari. Kemeja putih kebesaran favoritku dan celana jeans hitam. Itulah pakaian yang kugunakan hari ini. Rambutku yang panjang, aku kucir satu ke belakang. Ah masa bodoh kalau rambutku acak-acakan begini. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya tiba di kampus sebelum teman-temanku yang lain datang. Tapi jelas hal itu tidak mungkin, pasti sekarang teman-teman sudah menunggu di sepanjang koridor kampus dan bersiap mengejekku. Aish, sial sekali aku hari ini.

Aku mempercepat langkahku untuk tiba di halte bis. Beruntung karena aku tidak ketinggalan bis. Begitu bis datang, aku segera menaiki bis itu dan mencari tempat duduk kosong. Kau tahu pepatah yang mengatakan bahwa sekali kau tertimpa sial, akan seharian kau akan tertimpa sial. Yah aku percaya itu, karena sekarang aku tak mendapatkan tempat duduk kosong dan terpkasa harus berdiri. Aku mengatur nafasku perlahan. Jarak rumahku dengan kampus lumayan jauh, dan aku harus berdiri terus seperti ini? Bisa patah kakiku kalau begini.

Aku melirik arloji di tanganku. Pukul 08.10. Aku semakin tergesa-gesa saja dan buru-buru menuju kelasku. Sebenarnya kelas pertamaku itu dimulai pukul 10.00, yang aku khawatirkan sekarang adalah teman-temanku. Aku tak mau mereka mengejekku lagi, ditambah dengan luka di wajahku yang belum sepenuhnya sembuh.

BRUK. Yak. Aku mendapatkan kesialanku yang ke-3 hari ini. Aish nan pabo-ya! Harusnya meski tergesa-gesa, aku tetap harus memperhatikan jalan.

“Mianhae, aku tak sengaja.” Kataku sambil menunduk. Aku bahkan tahu siapa yang kutabrak tanpa harus melihatnya. Lee Eun Jin dan… omooo Sungmin sunbae!

“Tch, lagi-lagi kau menabrakku Hara-ssi.”

“Mianhae Eun Jin-ssi, tapi aku benar-benar tak sengaja. Dan aku sekarang sudah terlambat, jadi aku tak punya waktu untuk bertengkar denganmu lagi.” Kataku sambil tetap menunduk. Bukannya aku takut dengan Eun Jin, tapi entah kenapa aku tak ingin melihat wajah Sungmin oppa saat ini.

“Lagipula siapa yang mau bertengkar denganmu! Aku hanya heran, biasanya kan kau selalu datang pagi-pagi sekali, tapi kenapa hari ini kau datang jam segini?”

“Aku kesiangan.” Jawabku singkat dan segera pergi meninggalkan mereka.

Bodohnya aku, kenapa hatiku terasa sakit sekali mengetahui bahwa Eun Jin dan Sungmin sunbae jalan berdua? Yak Choi Ha Ra! Mereka berdua itu pacaran! Jadi wajar saja jika mereka jalan berdua. Hah seandainya tadi aku tidak menabrak mereka berdua, pasti hatiku tidak akan terasa sakit lagi.

***

“Ya ya~! Lihat itu siapa yang datang!”

“Si gadis penggoda itu kan?”

“Hei kau tidak tahu? Bahkan dia bukan seorang gadis penggoda lagi. Dia sudah berubah menjadi wanita murahan.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Kau tahu kemarin malam dia menginap di rumah Sungmin sunbae…”

Aku berjalan lemah dan tetap menunduk. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Sampai berita bahwa aku menginap di rumah Sungmin sunbae pun mereka sudah mengetahuinya. Tch, aku tersenyum miris di dalam hati. Rupanya panggilanku sudah berubah hari ini.

BRUG. Buku-buku yang aku bawa berserakan di lantai. Sudah kakiku pegal-pegal karena tadi berdiri di bis ditambah lagi sekarang lututku yang terasa nyeri karena di selengkat oleh seorang teman, yang bahkan aku tak tahu namanya siapa.

“Hahaha lihat dia jalan saja tidak benar!”

“Dia terlihat seperti gadis bodoh saja! Hahahaha.”

Hanya satu yang kumohon pada Tuhan hari ini. Aku mohon supaya aku diberi kesabaran lebih banyak daripada hari kemarin, karena aku rasa hari ini akan lebih menyakitkan dari hari-hari kemarin. Tiba-tiba gadis yang kukenal dengan nama Park Hwa Yeong ini berjalan mendekatiku.

“Ya~ kau Nona Choi Ha Ra, aku tak akan berbasa-basi denganmu. Aku ingin langsung saja bicara denganmu.” Hwa Yeong berkata sambil mencengkram daguku.

“Kau mau bicara apa? Tidak perlu dengan cara seperti ini kan?”

“Tidak. Tidak bisa. Bicara denganmu harus dengan cara seperti ini!” cengkraman di daguku semakin terasa menyakitkan.

“Baiklah, apa yang kau mau biacarakan?” ujarku pasrah.

“APA KAU TAHU BAHWA SUNGMIN SUNBAE ITU NAMJA PUJAAN HATI YEOJA-YEOJA DI KAMPUS INI SEKALIGUS KEKASIH DARI LEE EUN JIN HAH?” teriakan Hwa Yeong membuat bulu kudukku merinding. Dan entah sejak kapan Sungmin dan Eun Jin sudah berdiri di ujung koridor dan melihatku layaknya aku ini tontonan gratis.

“Jawab aku, Hara-ssi!!” perintah Hwa Yeong, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Iya aku tahu. Lalu apa urusannya denganku hah?”

PLAK. Pipiku terasa panas dan lagi-lagi aku merasa sesuatu mengalir dari ujung bibirku.

“Kalau kau sudah tahu, lalu mengapa kau tetap mendekatinya, perempuan murahan?”

“Asal kalian tahu, aku tidak mendekatinya. Waktu itu aku menginap di rumahnya karena aku sakit.” Jawabku sambil berusaha menahan tangisku yang sudah mau pecah ini.

“Kau pikir kita ini bodoh? Bukankah orang sakit harusnya dibawa ke rumah sakit?”

Aku membenarkan ucapan mereka sekaligus bingung harus menjawab apa.

“Tch, kau diam. Berarti benar kau menggoda Sungmin sunbae dengan berpura-pura sakit agar dia membawamu ke rumahnya kan?” Hwa Yeong mengeluarkan senyum mengejeknya.

“Tidak Hwa Yeong-ssi, bukan seperti itu.” Kini aku sudah tak bisa menahan tangisku. Aku menjawabnya sambil terisak.

“Lalu kalau tidak seperti itu, seperti apa? Kenyataannya kan memang kau gadis penggoda.”

“Aku berani bersumpah bahwa kejadiannya bukan seperti itu Hwa Yeong-ssi. Tapi aku tak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya di sini.”

“Alasan! Dasar gadis pembual! Aku muak dengan semua ucapanmu! Sekarang cepat katakan di hadapanku, apa kau menyukai Sungmin sunbae?” tanya Hwa Yeong tajam.

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menyukai namja itu di sini. Terlebih-lebih Sungmin dan Eun Jin juga ada di sini.

“Kau diam. Kuanggap jawabanmu iya. Hahahaha tentu saja gadis sepertimu menyukainya. Sungmin sunbae itu kan kaya, pasti kau menggodanya karena ingin mendapatkan hartanya, iya kan Hara-ssi?” Ucapan Hwa Yeong terdengar begitu menyakitkan di telingaku.

“Ya! Hara-ssi apa kau tidak malu? Kau itu tidak pantas bersanding dengannya! Kau itu tidak lebih dari gadi miskin dan bodoh yang mengharapkan cinta dari seorang pangeran!” timpal seseorang.

“Ya kau benar! Hara itu bagaikan itik buruk rupa, dan Sungmin sunbae layaknya seorang pangeran! Hahaha apa kau tidak malu bermimpi untuk menjadi kekasih dari Sungmin sunbae?” timpal seseorang lagi.

“Nah, gadis itik buruk rupa, apa kau masih berani mengatakan bahwa kau menyukainya?”

Hatiku benar-benar sakit sekarang. Bahkan untuk melakukan pembelaan diripun rasanya aku tak sanggup. Tapi mereka memang benar, aku hanyalah seorang gadis miskin yang mengharap cinta dari seorang pangeran. Dengan sekuat tenaga aku memberanikan diri untuk bicara.

“Hwa Yeong-ssi, bahkan dari awal apa aku mengatakan bahwa aku menyukai Sungmin sunbae?” tanyaku di sela-sela tangis.

“Memang kau tidak bilang secara langsung, tapi ketika tadi aku bertanya padamu, kau hanya diam. Dan diammu itu menunjukkan jawaban iya!”

“Hah sok tahu sekali kau Hwa Yeong-ah. Kau tau aku sama sekali tidak menyukai Sungmin sunbae.” Kataku berusaha untuk tidak terlihat meragukan.

***

Author’s POV

“Hah sok tahu sekali kau Hwa Yeong-ah. Kau tau aku sama sekali tidak menyukai Sungmin sunbae.” Kata Ha Ra berusaha untuk tidak terlihat meragukan.

Mendengar perkataan itu, tubuh Sungmin menegang. Tidak menyangka bahwa gadis itu bisa berkata seperti itu. Tak sadar Sungmin sudah mengepalkan tangannya hendak menahan amarahnya yang daritadi sudah menjadi-jadi. Tak lama kemudian terdengar lagi suara Hwa Yeong.

“Apa kau bilang barusan? Coba katakan sekali lagi padaku, bahwa kau tidak meyukai Sungmin sunbae.” Tantang Hwa Yeong.

“AKU TIDAK MENYUKAI SUNGMIN SUNBAE! IYA AKU TAHU TIDAK PANTAS BERSANDING DENGANNYA. AKU HANYALAH GADIS BURUK RUPA YANG MENHARAPKAN CINTA DARI SEORANG PANGERAN. DAN AKU TIDAK AKAN MENGANGGU PANGERAN KALIAN ITU! APA KALIAN PUAS?” Ha Ra menumpahkan seluruh amarahnya sambil menangis tersedu-sedu.

“Hahahaha akhirnya Nona penggoda ini menyerah juga. Belum. Kami belum puas Hara-ya~ Ya teman-teman silakan beri Nona manis ini hadiah atas kejujurannya.” Perintah Hwa Yeong kepada seluruh teman-temannya.

BYUURRRR. Ha Ra disiram oleh air dingin oleh teman-temannya. Ia menggigil sekarang. Sungmin yang melihat hal itu terjadi di depan matanya tak tahan dan melangkahkan kakinya untuk menolong Ha Ra, tapi Eun Jin mencegahnya. Eun Jin mengatakan bahwa jika Sungmin menolong Ha Ra, nanti malah akan memperburuk keadaan. Entah kenapa, tapi Sungmin menuruti perkataan Eun Jin dan mengurungkan niatnya itu.

Masih dalam keadaan tersedu-sedu, Ha Ra membuka suaranya.

“Apa kalian sudah puas sekarang? Atau mungkin belum? Jika belum silakan kalian tumpahkan rasa kesal kalian sekarang padaku. Aku akan terima semua perlakuan kalian, karena pada hakikatnya si miskinlah yang selalu kalah bukan?”

“Tepat sekali! Yang miskin memang selalu kalah! Aigooo sejak kapan kau menjadi pintar begini, Hara-ssi?” ejek Hwa yeong.

“Aku bukannya menjadi pintar, tapi itu memang sudah menjadi hukum alam, Hwa Yeong-ssi. Baiklah aku rasa, kalian sudah puas hari ini. Ohya, tolong sampaikan pada songsaengnim, bahwa aku absen hari ini. Masalah karena apa, itu terserah kalian mau menjawabnya bagaimana. Terima kasih atas perlakuan kalian hari ini padaku. Aku tak akan pernah melupakannya, tapi tenang saja, aku sudah memaafkan kalian.”

Ha Ra bergegas merapikan buku-bukunya yang berserakan di lantai dan segera bangkit. Tak sengaja matanya dan mata Sungmin bertemu. Tapi Ha Ra segera membuang pandangannya ke arah lain. Ha Ra pun segera meninggalkan koridor kampus itu dengan pakaian basah kuyup.

“Ya~ Hara-ssi, kau tidak berniat untuk bunuh diri kan seperti di drama-drama itu?” ejek seseorang, dan suara tawapun menggema.

Ha Ra kemudian menghentikan langkahnya dan berkata, “Ide yang bagus. Terima kasih atas idemu!”

Suara tawa yang menggema itupun mendadak menjadi hening. Mereka semua terhenyak oleh ucapan Ha Ra barusan dan memasang tampang bertanya-tanya –apakah Ha Ra benar-benar akan bunuh diri?-

***

Lee Sungmin’s POV

Sial! Bisa-bisanya aku menuruti perkataan Eun Jin! Seharusnya tadi aku berlari dan menolong Ha Ra, tapi bisa-bisanya aku seperti orang bodoh yang hanya menontoni Ha Ra diperlakukan seperti itu. Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencari dalang di balik semua ini. Aku tak percaya bahwa mereka melakukan ini semua tanpa ada dalangnya. Ya aku yakin itu. Aku pun segera mengahmpiri Hwa Yeong yang masih berkumpul bersama teman-temannya.

“Hwa Yeong-ssi, tolong jawab pertanyaanku sekarang. Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?”

“Sun-sun-sunbae?” ucapnya tergagap.

“Tidak usah banyak main-main, cepat katakan padaku siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua!” Emosiku sudah memuncak akibat perbuatan gadis bodoh ini.

“Ti-tidak ada yang menyuruhku ataupun menyuruh kami untuk melakukan ini semua sunbae. Ini semua memang kemauan kami.”

“Kalian pikir aku akan percaya begitu saja hah? Cepat katakan atau kau akan tahu akibatnya!”

Hwa Yeong terlihat gugup dan pandangannya sedari tadi tidak menatap mataku, melainkan ke arah belakangku. Tunggu aku lupa bahwa Eun Jin tadi mengikutiku dari belakang. Jangan katakan kalau dalang dari semua ini adalah Eun Jin?

“Apa yang menyuruhmu itu Lee Eun Jin, Hwa Yeong-ssi?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Ne?” Hwa Yeong tampak terkejut dengan pertanyaanku.

“Cepat jawab aku! Apa yang menyuruhmu itu Lee Eun Jin?” ulangku.

“Sunbae jangan bercanda, tidak mungkin dia yang menyuruhku.” Ucapnya ragu-ragu. Jelas sekali bahwa ia sedang berbohong.

“Aku beri satu kesempatan lagi untuk kau menjawab jujur, apa Lee Eun Jin yang menyuruhmu?”

Hwa Yeong diam. Jelas sekali dari sorot matanya bahwa memang Eun Jin lah yang menyuruhnya, tapi dia takut untuk mengatakannya padaku.

“Karena kau diam, kuanggap jawabanmu iya. Eun Jin kan yang menyuruhmu dan teman-temanmu itu?”

“Yak! Apa kalian tidak bisa bicara hah? Atau kalian takut terhadap Eun Jin? Kalian lupa sia aku? Justru akulah yang bisa mengeluarkan kalian semua dari kampus ini jika kalian tidak jujur.” Emosi ku benar-benar sudah memuncak sekarang.

“Be-benar sunbae. Yang menyuruh kami adalah Eun Jin.” Jawab seorang gadis tiba-tiba.

Tch ternyata benar, memang gadis itu dalang dari semua ini,batinku dalam hati,

“Terima kasih nona atas kejujuranmu. Kau tidak perlu takut dengan Eun Jin, justru dia lah yang akan aku keluarkan dari kampus ini.” Ucapku menenangkan gadis itu.

“Shireo oppa! Jangan keluarkan aku dari kampus ini!” Eun Jin akhirnya buka suara.

“Lalu apa alasanmu melakukan semua ini, Eun Jin-ssi?” tanyaku murka.

“Aku-aku hanya tak mau kehilanganmu oppa.” Jawabnya mulai tersedu.

“Ah jadi hanya karena alasan sepele itu? Kau lupa dengan janjimu kemarin Eun Jin-ssi? Kalau tidak salah kau berjanji padaku untuk berubah menjadi gadis baik-baik, ini yang kau sebut gadis baik-baik hah?”

“Aku hanya tak ingin Ha Ra merebutmu dariku oppa, itu saja. Tolong jangan keluarkan aku dari kampus ini.” Tangisan Eun Jin makin menjadi-jadi.

“Baik, aku tak akan mengeluarkanmu dari kampus ini. Tapi, Lee Eun Jin, mari kita berpisah, aku tak akan bisa bertahan dengan wanita jahat sepertimu. Ah iya, asal kau tahu, sebenarnya dari awal aku tak pernah mencintaimu, aku hanya kasihan melihatmu yang terus mengemis cinta kepadaku.” Kata-kata itu keluar dengan mulusnya dari mulutku. Masa bodoh dengan perasaan Eun Jin sekarang.

“Oppa…oppa…” Eun Jin berusaha bicara tapi aku memotong ucapannya.

“Tidak usah menangis sepeti itu, aku tidak akan mempan dengan tangisanmu kali ini. Hei, apa kalian lihat, gadis yang selama ini kalian hormati dan takuti, sedang dicampakkan oleh pacarnya sendiri! Apa kalian masih akan terus menghormatinya?” tanyaku seraya mengejek.

Eun Jin terlihat mati kutu. Hahaha pasti dia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya nanti. Aku tersenyum puas dalam hati.

“Kalau kalian memang benar-benar tak mau aku keluarkan dari kampus ini, besok kalian harus minta maaf pada Ha Ra! Apa kalian mengerti?” perintahku.

“Arraseo sunbae. Kami mengerti.” Jawab mereka serempak termasuk Hwa Yeong.

“Bagus jika kalian mengerti. Ah iya, aku ingin bertanya, ke mana biasanya seorang gadis melarikan diri jika sedang putus asa?”

“Sungai Han, sunbae.” Jawab seseorang.

“Sungai Han? Hhmm bukan tempat yang buruk. Terima kasih atas jawabannya.” Ucapku sambil berlari keluar dari koridor ini.

Sebenarnya aku bukan seseorang yang akan memanfaatkan pangkat atau jabatan ayahku jika keadaannya bukan seperti ini. Choi Ha Ra, awas kalau kau sampai berani melompat ke Sungai Han!

***

Choi Ha Ra’s POV

Aku menatap Sungai Han di depanku tanpa minat. Pikiranku kosong. Terserah apa kata orang yang sekarang sedang melihatku dengan tatapan aneh. Wajar saja memang. Hujan tidak turun, tapi bajuku basah kuyup begini. Aku bingung harus lari ke mana lagi. Sungai Han ini merupakan tempat satu-satunya yang ada di pikiranku. Yah lagipula tempat ini tidak terlalu buruk untuk tempat bunuh diri.  Daripada aku menggantung diriku di kamar, itu sudah biasa hahaha aku tersenyum miris di dalam hati.

“Eomma…Appa~~!! Aku merindukan kalian. Tidak bisakah kalian menjemputku sekarang? Aku sudah tidak kuat menjalani hidupku sekarang?” Aku mulai menangis. Tiba-tiba memori kejadian tadi di kampus terputar kembali di otakku. Sakit. Itulah yang aku rasakan. Mungkin aku memang pantas mendapatkan hal itu. Dan bisa-bisanya tadi aku mengharapkan Sungmin sunbae untuk menolongku. Cih memangnya siapa aku? Tidak tidak. Aku tidak menyukainya. Tidak aku tidak menyukainya, tapi aku mencintainya…Bulir-bulir bening jatuh membasahi pipiku begitu saja dan sekali lagi aku memandangi Sungai Han. Airnya tampak tenang dan jernih. Aku jadi tak tega mengotorinya dengan mayatku.

***

Lee Sungmin’s POV

Aish semoga gadis itu benar-benar ada di Sungai Han. Aku tak tahu harus mencari ke mana, jika dia memang tak ada di sana. Aku melambatkan laju mobilku di sekitar Sungai Han. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar mencari-cari keberadaan Ha Ra. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok gadis yang aku cari. Ah rupanya dia disitu. Gadis itu memang benar-benar bodoh. Angin sedang bertiup kencang dan dia sama sekali tidak memakai penutup tubuh? Aku rasa dia memang benar-benar gila.

***

Choi Ha Ra’s POV

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri sampai tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan jasnya di tubuhku. Reflek aku menoleh ingin mencari tahu siapa orang yang memakaikan jas padaku. Mungkin aku terlalu memikirkan namja satu itu hingga sekarang aku berhalusinasi benar-benar melihatnya ada di depanku. Ya, aku pasti sekarang sudah benar-benar gila.

“Gadis bodoh. Siapa suruh kau keluar tidak memakai penutup tubuh hah? Kau tau kan angin sedang bertiup kencang? Kau mau mati kedinginan?” tanyanya tiba-tiba.

Ya Tuhan bahkan sekarang aku bermimpi bahwa dia sedang bicara denganku. Baik mungkin sehabis dari sini aku akan pergi ke psikiater, untuk memastikan apakah aku masih waras apa tidak.

“Yak! Kenapa diam saja? Bahkan jasku sekarang tak cukup menghangatkan tubuhmu kan? Sini mendekat padaku.” Tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya. Hangat. Itulah yang aku rasakan. Tapi aku tak yakin bisa bertemu dengannya setelah kejadian tadi pagi di kampus.

“Apa yang kau lakukan di sini sunbae? Lepaskan aku!” gerutuku.

“Oh jadi panggilanmu sudah berubah terhadapku? Sunbae? Cih terdengar menggelikan. Kau itu seharusnya memanggilku oppa!” katanya kemudian.

“Justru oppa itulah yang menggelikkan. Dasar bodoh.” Kataku pelan, tapi aku yakin Sungmin bisa mendengar jelas ucapanku.

“Apa kau bilang tadi? Kau bilang aku bodoh?”

“Ani, aku tidak bilang apa-apa. Sudahlah kau pergi saja sunbae, aku sedang ingin sendirian.”

“Jangan harap aku akan membiarkanmu sendirian. Kau kan gadis bodoh, siapa yang tahu nanti jika kau benar-benar akan nekat untuk melompat.”

“Berhenti memanggilku gadis bodoh.” Jawabku ketus.

“Hara-ya kau sekarang berubah menjadi gadis yang mengerikan kau tahu?”

“Dari dulu aku memang seperti ini. Kau saja yang tidak tahu.” Nada ketusku belum juga aku kurangi, malah semakin bertambah.

“Terserah apa katamu. Ini minum kopi ini. Lihat bibirmu sudah mulai membiru karena kedinginan.”

“Aku tak butuh belas kasihan darimu. Lagipula siapa bilang aku kedinginan?” sergahku.

“Kau masih mau mengelak? Saat kupeluk tadi terasa jelas bahwa tubuhmu mengiggil. Sudah cepat minum kopimu, mungkin akan sedikit membantu untuk menghangatkan tubuhmu.”

Aku membenarkan ucapannya, tubuhku memang menggiggil sedari tadi. Hhmm baiklah mungkin tidak ada salahnya menerima kopi darinya.

“Bagaimana? Benar kan? Kopi itu bisa membantu menghangatkan tubuhmu?” tanyanya.

“Sedikit.” Jawabku singkat.

“Kau tidak benar-benar ingin melompat kan tadi?” tanyanya tiba-tiba.

“Aku memang ingin melompat tadi, hanya saja aku tidak tega mengotori kejernihan air Sungai Han dengan mayatku nanti.” Jawabku sekenanya.

“Apa kau gila? Kenapa kau memutuskan untuk melompat hah?” ucap Sungmin frustasi.

Aku tersenyum miris dan menarik nafasku perlahan.

“Aku merasa tidak ada gunanya untuk hidup. Aku hanya gadis parasit yang kerjaannya hanya merepotkan orang saja. Aku merasa tidak ada orang yang membutuhkan kehadiranku. Makanya aku berpikir lebih baik untuk mati. Toh jika aku mati sekalipun tak akan ada yang menangisi dan mencariku, lagipula orang tuaku juga sudah tidak ada, aku ingin menyusul mereka, aku tak tahan jika harus hidup sendiri seperti ini…” aku tak sanggup melanjutkan perkataanku, dadaku sudah terasa sangat sesak, dan air mata ini pun sudah tak bisa aku bendung lagi.

Lagi-lagi Sungmin menarikku ke dalam pelukannya. Tapi kali ini aku tidak berusaha untuk melepaskan diri, aku malah menangis sekencang-kencangnya dalam pelukannya. Biarlah untuk satu kali ini saja, aku menangis di hadapan namja yang aku cintai. Aku merasakan tangannya membelai lembut rambutku. Kehangatan yang aku rasakan saat ini. Tuhan, bisakah kau berhentikan waktu? Aku mau tetap seperti ini bersamanya.

“Kalau kau ingin menangis, menangislah sepuasnya sekarang. Aku mengerti perasaanmu sekarang.” Ucapnya lembut sambil membelai rambutku.

Aku memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap matanya. Aku masih saja terisak. Kemudian jari-jari lembutnya itu mengusap air mataku.

“Kau tahu, banyak wanita yang berfikir bahwa dirinya akan jauh keliatan lebih cantik jika sedang menangis. Tapi menurutku tidak. Justru wanita yang sedang menangis malah jauh terlihat lebih jelek.” Ucapnya.

“Ya! Apa kau pikir aku sedang ingin bercanda?” Aku tidak habis pikir, disaat begini dia masih saja bercanda.

“Aku serius. Makanya berhentilah menangis, asal kau tahu, aku lebih senang melihatmu saat sedang tersenyum, karena kau terlihat lebih cantik.” Katanya lagi.

“Apa kau lupa? Aku ini kan gadis buruk rupa, jadi aku mau menangis ataupun tidak, akan sama hasilnya.”

“Tapi di mataku tidak.” Jawabnya lembut.

Aku yakin sekali kalau pipiku sekarang seperti kepiting rebus. Aish apa dia tidak ada kerjaan lain selain membuat pipiku memerah?

“Yak! Choi Ha Ra, aku peringatkan kau, jangan coba-coba untuk bunuh diri lagi! Arra?” perintahnya tiba-tiba.

“Apa hakmu melarangku? Lagipula sudah aku bilangkan tidak ada yang mebutuhkanku, jadi untuk apa aku masih hidup?” Ish namja bodoh ini masih saja membahas masalah itu. Bisa-bisa aku benar-benar melompat di hadapannya sekarang, jika dia masih terus membahasnya.

“Aku membuthkanmu.” Jawabnya singkat.

“Mwo? Kau membutuhkanku? Tapi buat apa? Aish bercandamu itu tidak lucu sunbae!” Aku membulatkan mataku tidak percaya dan berusaha meyakinkan diriku sendiri, aku pasti salah dengar, Sungmin tidak mungkin membutuhkanku.

“Berhenti memanggilku sunbae, dan panggil aku oppa!” perintahnya.

Aku tidak bohong jika sekarang aku benar-benar sedang ketakutan setengah mati akibat perintahnya itu. Nada bicaranya terdengar mengerikan dan wajahnya kali ini benar-benar serius. Aku jadi takut untuk membantahnya.

“Ne, baik oppa. Tapi untuk apa kau membutuhkanku?” ulangku.

“Aku membutuhkankan untuk tetap hidup dan bernafas setiap hari. Hanya itu. Tapi kau perlu tahu aku bahkan tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu jika kau sedang tidak dalam jarak pandangku. Apa alasanku bisa kau terima?”

Aish ini benar-benar, mungkin selain ke psikiater, aku harus ke dokter THT untuk memerikasakan keadaan telingaku. Aku bahkan sekarang tak bisa mempercayai apa yang aku dengar barusan.

“Apa maksudmu oppa?” tanyaku pelan. Bodohnya kau Choi Ha Ra, bisa-bisanya kau meresponnya seperti itu. Aku merutuki kebodohanku sendiri.

“Benar-benar gadis bodoh. Itu artinya aku menyukaimu. Eh tidak maksudku, aku mencintaimu. Apa kau masih tidak mengerti juga maksudku?”

Aku merasa debar jantungku lebih keras dari biasanya. Aku harus menjawab apa? Kali ini aku terima jika aku dibilang gadis bodoh, karena sekarang otakku sudah tidak bisa bekerja normal lagi.

“Apa kau sekarang sedang menyatakan perasaanmu padaku?” tanyaku dengan sisa-sisa oksigen di pari-paruku.

“Iya. Apa masih kurang jelas Nona Choi?” Aish rasanya aku ingin sekali memukul namja di depanku ini.

“Tapi kau kan sudah tau jawabanku. Apa kau lupa, tadi kan aku sudah secara gamblang mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu?” jawabku. Entah hanya kata-kata itu saja yang dapat aku pikirkan dalam kondisi seperti ini.

“Kau yakin? Bagaimana kalau setelah ini?” Sungmin menarik tengkukku dan kemudian melumat bibirku lembut. Ini bukan ciuman yang penuh tuntutan, tapi ciuman penuh kasih sayang, ciuman dari seorang namja yang ingin menunjukkan seberapa besar rasa cintanya terhadap seorang yeoja. Entah berapa lama aku dan dia melakukan hal ini, sampai tiba saatnya dia menyudahi ciumannya dan kembali bertanya padaku,

“Apa kau masih mau bilang bahwa kau tidak menyukaiku? Dan lihat wajahmu memerah seperti itu! Itu pasti karena perlakuanku kan? Hhmm kalau aku tidak salah tadi kau juga tidak menarik diri, kau malah menikmati ciumanku..”

“HENTIKAN LEE SUNGMIN! BAIK BAIK AKU MENGAKU, AKU MENYUKAIMU! APA KAU PUAS? BERHENTILAH MEMPERMALUKAN DIRIKU SEPERTI ITU!” ucapku geram karena terus dipermalukan olehnya.

“Aaah jadi kau hanya menyukaiku, benar?”

“Aish, baiklah oppaku yang menyebalkan…” Aku menarik nafasku sebentar kemudian berkata, “Saranghae”. Aku yakin sekali wajahku pasti sekarang sudah sangat merah karena menahan malu.

“Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak dengar. Bisa kau ulangi?” katanya kemudian.

“Saranghae.” Ucapku pelan

“Apa?” tanyanya lagi.

“Saranghae!” kataku mulai sedikit sedikit kesal.

“Aish Hara-ya aku tidak bisa mendengar ucapanmu itu, tolong katakan sekali lagi.”

“SARANGHAE OPPA, SARANGHAE! APA SUDAH CUKUP JELAS? KALAU BELUM LEBIH BAIK AKU MENARIK KATA-KATAKU LAGI.” Teriakku kesal karena merasa dikerjai olehnya.

“Arra, arra, jangan kau tarik kata-katamu itu Hara-ya~ Nado Saranghae.” Ucapnya sambil mengecup pipiku.

“Would you be mine?” ucapnya lagi yang otomatis mengembalikan kesadaranku.

“Mwo? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau memiliki kekasih yang kerjaannya hanya bisa membuatku malu!” tolakku main-main.

“Aaaah jadi kau sedang menolakku? Kau mau aku cium lagi?” katanya menantang.

“Jadi kau memaksaku?” kataku tak mau kalah.

“Ya, aku memaksamu agar kau mau menjadi kekasihku!” jawabnya.

“Bagaimana jika aku tetap tidak mau?”

Sungmin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup bibirku singkat.

“Aku akan menerormu setiap hari, sampai akhirnya kau mau menjadi pacarku.”

Tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi namja ini, akhirnya aku menganggukkan kepalaku yang memberi isyarat bahwa aku mau menjadi kekasihnya.

“Tapi oppa, bagaimana dengan Eun Jin?” tanyaku kemudian.

“Kau tidak usah memikirkan dia. Aku sudah memutuskannya tadi.”

“Kau baru tadi memutuskannya tapi kau sudah memintaku menjadi pacarmu, apa kau berniat untuk menjadikanku pelampiasanmu?”

“Tentu saja tidak. Dari awal aku memang tidak pernah mencintainya.”

“Baiklah aku percaya denganmu. Aku peringatkan kau jangan coba-coba untuk mempermainkanku!” ujarku memperingatinya.

“Aish kenapa kau galak sekali? Tentu saja aku tidak akan mempermainkanmu Hara-ya~”

Aku tersenyum puas mendengar jawabannya. Sepertinya aku salah menilai hari ini, ternyata hari ini bukan hari kesialanku tapi ini adalah hari keberuntunganku seumur hidup.

“Ya~ lebih baik kita pulang sekarang. Aku tak mau melihatmu jatuh sakit karena kedinginan seperti itu. Dan ohya Nona Choi, mulai besok aku akan menjemputmu ke kampus. Jadi jangan coba-coba ku berangkat sendiri tanpaku. Arra?”

“Arraseo oppa.” Ucapku pasrah.

“Hahaha tumben sekali kau langsung menurut. Kajja!” ucapnya sambil menggandeng tanganku.

***

Keesokan harinya, Seoul University.

Sungmin menepati janjinya, dia menjemputku tadi pagi. Aku berjalan di sampingnya, tapi kemudian aku merasakan tangannya menggandeng tanganku. Mungkin dia bisa mengerti apa yang aku rasakan.

“Kau tidak usah khawatirkan teman-temanmu itu. Mereka sudah tidak akan lagi menganggumu.” Ucap Sungmin seraya mengerti perasanku.

Dan benar saja begitu aku memasuki koridor kampus tak ada lagi teman-teman yang kemarin mengejekku. Tapi tunggu dulu, kerumunan apa itu? Karena penasaran aku mendekati kerumunan itu dan mendapati Eun Jin sedang dipojokkan oleh yang lainnya. Karena kesal, segera saja aku hentikan aktivitas mereka yang memojokkan Eun Jin.

“Ya! Kalian! Bisakah kalian berhenti memojokkan Eun Jin hah?” teriakku.

Salah satu dari mereka menengok dan mungkin terkejut melihatku.

“Ah Hara-ssi ternyata kau. Ah iya aku minta maaf atas perlakuanku dan teman-teman selama ini terhadapmu.”

Aku menyeringai dan dalam hati aku berkata tak semudah itu mendapatkan maafku.

“Apa kau tulus meminta maaf denganku?” tanyaku kemudian.

“Ne, aku tulus Hara-ssi, tolong maafkan aku dan teman-teman yang lain.” Pintanya.

“Jika kalian benar-benar ingin aku maafkan, berhentilah memojokkan Eun Jin seperti itu! Apa kalian tidak puas sudah memojokki ku kemarin hah?”

“Baik-baiklah Hara-ssi. Ya~ teman-teman berhentilah memojokkan Eun Jin.” Perintahnya kepada teman-temannya.

“Ya, Eun Jin-ssi apa kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir.

Bukannya malah menjawab pertanyaanku, Eun Jin malah berlari menghampiriku dan memelukku.

“Hara-ya aku mohon maaf atas sikapku selama ini padamu. Aku tahu aku memang tak pantas menerima maaf darimu, tapi setidaknya izinkan aku untuk mengatakan bahwa aku sangat menyesal telah berbuat jahat padamu.” Ucap Eun Jin sambil terisak.

“Kau tahu? Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan terbesar hamba-NYA sekalipun, masa aku tidak bisa memaafkanmu? Sudahlah tidak usah menangis lagi, aku sudah memaafkanmu. Nah sekarang kita jadi teman, setuju?”

Eun Jin tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Eun Jin-ya aku duluan ya, aku lupa kalau kelas pertamaku dimulai 15 menit lagi, hehehe. Annyeong Eun Jin-ah~!” ucapku sambil melambaikan tangan.

“Rupanya aku tidak salah memilih seorang gadis.” Ucap Sungmin oppa tiba-tiba.

“Maksudmu apa oppa?” tanyaku tak mengerti.

“Tak hanya wajahmu yang cantik tapi hatimu juga cantik. Dengan mudahnya kau memaafkan orang yang sudah jelas-jelas banyak menyakitimu. Kau seperti seorang malaikat, Hara-ya~”

“Sudahlah Oppa, tidak usah terlalu memujiku seperti itu. Aku masuk kelas duluan ya oppa!”

“Ne, baiklah. Ah iya, aku akan menjemputmu ke sini untuk makan siang nanti ya.” Ucapnya.

“Terserah kau saja Oppa, aku masuk duluan ya!” Aku pun masuk ke dalam kelas dengan wajah berbinar. Tak pernah kusangka hari seperti ini akan terjadi dalam kehidupanku. Dan aku benar-benar bersyukur akan hal ini.

***

Hari-hari berikutnya terasa begitu menyenangkan. Sekarang aku sudah mempunyai banyak teman, dan Eun Jin pun menjadi sahabat pertamaku. Tapi yang paling aku sykuri adalah aku mempunyai seorang kekasih yang sangat mencintaiku, dan akupun sangat mencintainya.. Hari-hariku dibuatnya penuh warna.

“Ya! Chagiya! Sampai kapan kau akan terus melamun di mejamu itu? Aku sudah lapar.”

Aish benar-benar, rasanya ingin kutinju saja wajahnya itu! Enak saja dia memanggilku chagiya di depan teman-teman kelasku, mau taruh dimana wajahku ini.

“Yak kau! Jangan pernah memanggilku chagiya lagi! Sangat menggelikan asal kau tahu.” Ucapku ketus.

“Baiklah aku tak akan memanggilmu chagiya lagi. Hhmm tapi bolehkan jika aku memanggilmu yeobo?” bersamaan dengan dia mengatakan hal itu, dia mengucup pipiku.

“Lee Sungmin awas kau ya!” teriakku pura-pura marah. Dalam hati aku terus bersyukur kepada Tuhan karena memberikanku kekasih sepertinya.

“Hei kau tunggu aku! Aku juga lapar!” Aku berlari meyusulnya dan mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.

Semoga aku masih bisa terus bersamanya sampai batas waktu yang tak ditentukan. Karena aku mencintainya. Sangat mencintainya.

THE END

 Kya~kya~!!  Ini ff oneshot pertama saya~.~ iya saya tau ini pasti gaje tingkat dewa. Ini beneran nista banget saya tau, tapi saya nulis ff ini cuma iseng iseng buat ngisi luang waktu libur kok. Saya emang gak ada bakat buat nulis, ya tapi daripada gak nyoba sama sekali lebih baik ngaco gini kan? /plak hehe oke sebenernya saya gak ngarep di komen kok, karena ini ff sampah banget T_T well, thank you for reading 😀 

 

Iklan

2 comments on “Would You Be Mine?

  1. FF. INI. SAMA. SEKALI. BUKAN. SAMPAH. well, y i must capslock the words. lol

    pas awalnya FF ini agak ngebosenin, aku pikir -yayaya, pasti nanti sungmin akan jadian sama Hara setelah Hara dipukulin di wc itu, but… TERNYATAAAAA OH TERNYATAAAA

    Authornya sukses membuatku terkesima O_O Sewaktu Hara diejek didepan Sungmin dan mengungkit2 bunuh diri, I cried T_T

    Ituuuu Umin kamarnya serba pink *Q* Mau liat dong gambaran kamar umin kayak gimana :3

    Choi Hara sedih banget ya hidupnya. diejek, ga ada orangtua lagi… haaa 😥

    overall, so far so good *LOH* menurutku, untuk ukuran oneshoot, ini agak kepanjangan. hem, lebih cocok dibikin twoshoots. dan juga banyak typo._.

    k, last… aku tau banget ini komen sampah abis. but keep up the good work ya authornyaaaaa chu ~~~~ ❤

    • Waaaa makasih banget udah mau baca^^ iya aku tau ini pasti banyak bgt typonya…makasih atas saran dan kritiknya 🙂 next time, aku usahain supaya lebih bagus dari ini hehehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s