My First and Only [ Part 1 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan tanpa minat di sepanjang jalan Dongdaemun. Sehabis menolong  sepasang kekasih itu malah membuat moodku semakin memburuk. Kasihan sekali si gadis tadi, tepat di hari natal, kekasihnya malah mengalami kecelakaan. Benar-benar tragis.

Berkali-kali aku menendang kaleng minuman kosong yang ada di depanku. Tidak adakah hal menarik yang bisa kukerjakan saat ini? Aku mendengus kesal. Andai aku mempunyai saudara atau teman yang bisa kuajak bertukar pikiran, kuajak adu panco, atau hal-hal menantang lainnya. Aishhhhh Kim Hyuri itu memang tidak berguna. Kerjaannya hanya belajar, belajar, dan belajar. Ani, kalau tidak belajar ia akan pergi kencan dengan kekasihnya, Lee Donghae. Yak aku muak dengan kehidupanku. Aku ingin bebas melakukan sesuatu yang aku suka, tidak selalu dibawah bayang-bayang Hyuri. Iya aku tahu dia memang gadis yang sempurna, cantik, baik hati, lembut, dan tidak suka membuat onar sepertiku, tapi seharusnya eomma tidak membanding-bandingkan diriku dengannya!

Jiyeong, kenapa kau masih tidur jam segini hah?! Lihat kakakmu! Dia sudah membantu eomma di dapur!”

“Jiyeong! Lihat kakakmu ini! Dia selalu mendapat peringkat 1 di kelasnya! Harusnya kau mencontoh kakakmu!”

“Jiyeong, tak bisakah kau bersikap sopan pada eomma mu hah? Contoh kakakmu! Dia selalu sopan dengan eomma!”

“Kali ini kau membuat onar di mana hah?! Bisa tidak kau tidak membuat malu eomma?!”

Ya begitulah setiap hari teriakan eomma padaku. Eomma selalu membela dan memperhatikan Hyuri. Dan aku? Cih bahkan eomma tidak peduli padaku. Mau aku sakit atau tidak, eomma tidak pernah memperdulikanku. Mungkin jika aku mati sekalipun, aku yakin eomma tidak akan menangisi kepergianku. Ya itu semua karena Hyuri sialan itu. Aku benar-benar muak dengannya. Selalu saja dia bersikap baik padaku, tapi aku yakin itu pasti semua dia lakukan untuk mencari perhatian eomma saja. Itu alasan mengapa aku tak betah di rumah. Dan kalau aku suka membuat onar, itu hanya caraku untuk mendapat perhatian dari eomma, karena tidak ada cara lain selain itu.

***

            Sudah seharian aku jalan-jalan tanpa tujuan. Aku tak peduli jika hari ini hari natal sekalipun. Memangnya apa yang spesial? Bagiku tidak ada. Tapi mungkin bagi Hyuri sialan itu ada. Ya, apalagi selain kencan dengan kekasihnya itu?

Aku menatap pakaianku yang penuh bekas darah ini. Aishhhhh aku yakin sekali, pasti eomma akan memarahiku lagi.

***

“Kim Jiyeong! Dari mana saja kau?” teriak eomma ketika aku baru tiba di rumah.

“Cih tumben sekali eomma peduli padaku? Sejak kapan eomma peduli dengan apa yang aku lakukan hah?”

“Dasar anak kurang ajar! Cepat katakan kau darimana!”

“Jalan-jalan.” Jawabku singkat.

“Kau membuat onar di mana lagi hah? Siapa lagi yang kau ajak berkelahi? Ck bahkan bekas darahnya masih menempel seperti itu dibajumu.”

“Apa peduli eomma padaku?! Ah ya asal eomma tahu, aku sehabis menolong orang yang kecelakaan.”

“Jadi, sejak kapang seorang Kim Jiyeong suka menolong orang?”

“Terserah apa kata eomma, aku tak peduli.” Aku berjalan meninggalkan eomma dan segera menuju kamarku.

“KIM JIYEONG! EOMMA BELUM SELESAI BICARA!” Lagi-lagi eomma berteriak padaku.

“Hhhmm…” jawabku malas sambil tetap tidak menoleh.

“Lusa, kau akan satu sekolah dengan kakakmu.”

“MWORAGO? Apa yang barusan eomma katakan hah? Aku satu sekolah dengan Hyuri? Yak! Yang benar saja!” balasku tak terima.

“Dia kakakmu! Panggil dia eonni!”

“Eomma, tapi kenapa? Aku betah dengan sekolahku sekarang. Lagipula aku tidak mau satu sekolah dengan Hyuri!” protesku.

“Kali ini aku tidak mau kau bantah. Kau akan terus membuat onar jika tidak ada yang mengawasimu kan?”

“Eomma! Jangan bilang bahwa kau menyuruh Hyuri untuk mengawasiku?”

“Sudah kubilang panggil dia eonni! Ya, eomma memang menyuruhnya mengawasimu! Kau tahu eomma sangat malu mempunyai anak sepertimu! Selalu membuat onar di mana-mana! Kau pikir mau taruh dimana nanti wajah eomma, ketika bertemu dengan relasi bisnis eomma hah?”

“Ah jadi alasannya itu? Baiklah kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa tidak dari dulu saja eomma membuangku? Oh atau sekalian kenapa eomma tidak menggugurkanku saja ketika aku masih dalam kandungan…”

PLAK. Eomma menamparku. Pipiku terasa panas. Bukan hanya pipiku tapi hatiku juga.

“Berhentilah jadi anak yang kurang ajar! Kali ini eomma benar-benar marah padamu. Eomma tidak mau tahu, lusa kau sudah harus pindah sekolah!”

“Aku tetap tidak mau. Tapi jika eomma memaksa, aku akan mengurung diriku di kamar, dan tidak akan keluar sampai eomma membiarkanku tetap sekolah di sekolahku yang sekarang!” Aku berbalik dan meninggalkan eomma di ruang tamu. Aku tidak main-main dengan kata-kataku barusan. Biarlah kalau perlu aku mati kelaparan saja di dalam kamar.

“Terserah apa yang mau kau lakukan. Keputusan eomma sudah tidak bisa diganggu gugat.”

BLAM. Aku membanting pintu kamarku. Aku menenggelamkan wajahku di bantal dan menangis sekuat-kuatnya. Mengapa eomma tidak pernah mengerti perasaanku? Kau tahu? Rasanya sangat menyakitkan saat orangtua kita sendiri mengatakan malu mempunyai anak seperti kita. Jika eomma tetap memaksaku untuk satu sekolah dengan Hyuri, aku benar-benar tidak akan keluar dari kamar ini!

            Cukup lama aku menangis. Mungkin karena aku lelah setelah menangis, aku pun tertidur.

***

Kim Hyuri’s POV

“Ya, oppa, kau tidak mau masuk dulu?” tawarku pada Donghae oppa.

“Anio, tidak usah chagi, aku langsung pulang saja, lagipula ini sudah malam aku takut akan menganggu eommamu.” Tolaknya lembut.

“Ah baiklah oppa. Kau hati-hati di jalan ya!”

“Ne Hyuri-ah~ Aku pulang dulu ya. Ah semoga kau mimpi indah.” Donghae oppa mengecup pipiku singkat.

“Ya! Oppa apa-apaan kau?”

“Wae? Kau malu? Aku ini kan pacarmu, kenapa kau malu?”

“Tidak aku tidak malu. Hanya saja kau terlalu tiba-tiba!”

“Aishhh jangan begitu Hyuri-ah~ bukannya kau suka kejutan dariku?”

“Oppa! Kau bilang tadi katanya mau pulang! Sudah sana pulang!”

“Jadi sekarang kau mengusirku?”

“Bukan begitu oppa, habis kau menyebalkan sekali sih.”

“Arra Hyuri-ah~ aku hanya bercanda, tidak usah cemberut begitu dong.”

“Hhhmm.”

“Nah begitu baru cantik. Sudah aku pulang ya, sampaikan salamku untuk eomma dan dongsaengmu.”

“Ne, akan kusampaikan nanti pada mereka. Hati-hati di jalan oppa.”

“Ne, annyeong Hyuri-ah~”

Aku menatap mobil Donghae oppa yang menjauhi rumahku. Aaah benar-benar natal yang berkesan, ucapku dalam hati. Aku segera masuk ke dalam rumah, karena cuaca di luar benar-benar dingin.

“Hyuri-ya~ kau sudah pulang?” tanya eomma dari meja makan.

“Sudah eomma.” Jawabku.

“Sudah makan?” tanya eomma lagi.

“Ah kebetulan sudah tadi. Ohya, di mana Jiyeong? Dia belum pulang? Kok tumben dia tidak ikut makan bersama eomma?”

“Biarkan saja adikmu. Mungkin dia sudah tidur. Sudah lebih baik kau lekas mandi dan istirahat.”

“Ne eomma.” Aku mengiyakan eommaku dan segera menuju kamarku. Aissshh pasti Jiyeong dan eomma bertengkar lagi.

Aku berhenti tepat di depan kamar Jiyeong. Aku yakin sekali pasti dia belum makan malam. Lebih baik aku bangunkan dia.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a ayo bangun. Kau pasti belum makan malam kan?” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar suara Hyuri dari luar. Mau apa dia ke sini? Ah pasti mau sok peduli lagi padaku.

“Pergi kau! Jangan ganggu aku! Aku tidak mau makan malam!” usirku dari dalam kamar.

“Ya, kalau kau tidak makan malam, kau bisa sakit nanti. Ayolah Jiyeong-a~ Kau mau aku ambilkan makananmu ke sini?”

“Sudah kubilang aku tidak mau! Lalu kenapa kalau aku sakit hah? Memangnya ada yang peduli? Bukannya justru bagus kalau aku sakit?”

“Tentu tidak Jiyeong-a~ Aish kau kenapa sih? Baiklah aku akan mengambilkan makan malammu sekarang.”

“KIM HYURI BERHENTILAH SOK PERHATIAN DAN PEDULI PADAKU! AKU TAK BUTUH ITU! LEBIH BAIK KAU TAK USAH GANGGU AKU DAN KEMBALI SAJA KE KAMARMU!” teriakku geram.

“Jiyeong-a~ asal kau tahu, aku tak pernah sekalipun sok perhatian atau sok peduli padamu, aku ini kakakmu, aku sangat menyayangimu, jadi tentu saja jika aku perhatian dan peduli padamu. Kalau kau tak mau makan malam yasudah itu terserah padamu, tapi kalau kau sampai jatuh sakit, aku tak akan membiarkanmu.”

Aku tak membalas ucapannya. Aku sudah terlalu muak dengan semua kata-kata manis darinya. Cih, apa katanya? Dia menyayangiku? Wajar jika dia perhatian dan peduli padaku? Pasti lagi-lagi itu caranya untuk menarik perhatian eomma.

“Selamat malam, Jiyeong-a~” katanya lagi.

Ah akhirnya dia pergi juga. Sakit telingaku mendengar setiap uacapannya. Ah, aku memegangi perutku yang tiba-tiba sakit. Aishhh, aku lapar sekali. Aku segera bangkit dan membuka lemari tempatku biasa menyimpan makanan. Sial! Persediaan makananku habis! Aigooo aku lapar sekali. Apa aku lebih baik keluar sebentar ya untuk mengambil makanan dan segera kembali lagi ke kamar? Yak! Apa yang kau pikirkan! Tidak boleh! Bagaimana nanti jika eomma atau Hyuri memergokiku sedang mengambil makanan? Ani itu tidak boleh terjadi. Kim Jiyeong fighting! Yaa, setidaknya aku harus bertahan sampai lusa nanti, kataku lemah.

Aku bolak-balik mengganti channel tv. Aisshhh kenapa acara tv tidak ada yang bagus sih? Piiip. Aku mematikan tv dan kembali membaringkan tubuhku di kasur. Mungkin tidur bisa menghilangkan rasa laparku ini.

Sudah berkali-kali aku berusaha mencoba tidur, tapi mataku tidak mau terpejam juga. Arrrggghhh! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Akupun tidak bisa tidur karena perutku terus berbunyi minta diisi. Ah iya! Kata orang minum air putih bisa membantu untuk mengurangi rasa lapar. Aigooo kenapa baru teringat sekarang sih? Aku melirik ke arah galon air yang berada tepat di sebelah meja belajarku. Huh syukurlah airnya masih terisi penuh. Tak perlu menunggu waktu lama, aku segera mengambil gelas yang kebetulan sudah ada di sana dan meminum air sebanyak-banyaknya, ya setidaknya sampai rasa laparku berkurang.

“Hah sudah sudah aku tak kuat minum lagi, perutku sudah hampir mau meledak rasanya.” Aku menghentikan kegiatanku itu dan kembali merebahkan tubuhku dikasur. Lagi-lagi mencoba untuk tidur.

***

“…eomma kau keterlaluan!” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar teriakan Hyuri dari bawah.

“Masa aku tidak boleh membawakan sarapan untuk Jiyeong? Dia sudah tidak makan dari kemarin eomma!” terdengar suara Hyuri lagi. Bisa tidak sih perempuan itu tidak mengangguku? Aku memegang kepalaku yang sedikit sakit. Apa dia tidak tahu? Aku ini baru bisa tidur 3 jam yang lalu! Aishhh ini juga sebenarnya juga salahku. Aku tak bisa tidur karena bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil karena minum terlalu banyak.

“Biarkan saja adikmu itu! Itu salahnya sendiri kenapa tidak mau makan! Dan kau, sejak kapan kau berani berteriak pada eomma seperti itu? Apa kau sudah ketularan adikmu hah?” balas eomma pada Hyuri.

Hah, benarkan apa kataku. Eomma memang tidak peduli padaku, dan tidak akan pernah peduli padaku. Lihat? Bahkan dia tega membiarkanku kelaparan dan melarang Hyuri untuk membawakan sarapanku. Yah meskipun aku akan menolak sarapan yang nanti akan dibawakan Hyuri padaku.

“Aniyo eomma, tidak maksudku begitu. Aku hanya takut Jiyeong sakit.” Kata Hyuri lagi.

“Aku bilang tidak usah ya tidak usah! Kau itu terlalu baik padanya! Dia itu tidak pernah menghormatimu sebagai kakak, memanggilmu saja tanpa embel-embel eonni. Sudah biarkan saja, aku ingin memberikan pelajaran padanya. Awas kalau kau sampai berani memberinya sarapan pagi ini!” ancam eomma.

“Ne eomma.” Jawab Hyuri akhirnya. Aku tahu tidak akan ada yang bisa membantah eomma, termasuk Hyuri sekalipun.

“Yasudah, eomma berangkat kerja dulu. Mungkin eomma akan pulang larut. Kau jaga dirimu dan rumah ini baik-baik ya.” Ucap eomma.

Aku tersenyum miris di kamarku. Mana ada eomma seperti itu? Harusnya dia itu mengatakan, “Kau jaga dirimu dan adikmu baik-baik ya.” Aku jadi ragu sebenarnya aku ini anaknya apa bukan sih? Ah biarkanlah, lagipula dari awal aku memang sudah tak dianggapnya sebagai anak. Lebih baik aku lanjutkan tidurku, kepalaku ini pusing sekali rasanya.

***

Kim Hyuri’s POV

Eomma keterlaluan. Aku tahu memang Jiyeong itu suka membantah pada eomma, tapi kenapa beliau sampai tega membiarkan Jiyeong kelaparan? Maafkan aku eomma, sekali ini saja aku melanggar perintahmu. Aku segera menyiapkan sarapan untuk Jiyeong dan mengantarkannya ke kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a~ kau sudah bangun belum? Ini aku bawakan sarapan untukmu.” Kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.

Tidak terdengar jawaban dari dalam. Apa dia masih tidur?

“Jiyeong-a~” panggilku lagi.

“Hmmm.” Ucapnya dari dalam kamar.

“Oh ternyata benar kau sudah bangun. Ini aku bawakan sarapan untukmu. Kau pasti lapar kan? Perutmu belum diisi apapun sejak semalam.”

“Ya. Taruh saja di depan kamarku. Nanti akan kuambil.”

“Ne. Kau jangan sampai tidak makan ya.” Aku meletakkan nampan berisi sarapan itu di depan kamar Jiyeong. Ada apa dengannya? Mengapa reaksinya seperti itu? Aku kira dia akan memakiku seperti semalam. Sudahlah itu tidak penting, yang penting dia mau makan.

“Ya, Jiyeong-a~ kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku.” Kataku lagi. Jujur aku cemas dengan kondisi Jiyeong sekarang. Aku takut dia sakit.

“Tidak usah repot-repot. Aku tidak akan apa-apa.” Jawab Jiyeong.

Aku menarik nafasku. Sepertinya aku tidak usah cemas padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

            Aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Baguslah dia sudah pergi. Andai saja kepalaku tak pusing begini, mungkin aku akan kembali memakinya seperti semalam. Cih, memangnya siapa yang akan memakannya? Aku bahkan tidak berniat untuk menyentuhnya. Biarlah makanan itu menjadi basi dengan sendirinya. Malah sekarang aku tak mempunyai selera makan. Yang aku rasakan sekarang itu perutku mual dan kepalaku pusing. Lebih baik aku melanjutkan tidurku saja. Siapa tahu ketika bangun nanti aku merasa lebih baik.

***

Aku melirik ke arah jam wekerku. Ah sudah jam 6 pagi. Mwo?! Jadi aku tidur selama itu? Hahaha aku seperti mayat hidup saja. Tidak ada kan manusia normal yang mampu tidur selama itu selain aku? Ya tapi kenapa kepalaku makin bertambah sakit? Lebih-lebih sekarang aku menggiggil kedinginan. Tidak. Jangan katakan kalau aku sakit! Aishhh aku tidak mungkin sakit. Tapi sungguh badanku tidak enak. Untuk mengangkat kepala saja rasanya sakit sekali. Aigooo, mana hari ini aku harus masuk sekolah. Masuk ke penjara maksudku. Aishh pasti sebentar lagi eomma akan masuk ke kamarku dan meneriakiku agar segera bangun dan berangkat sekolah bersama Hyuri.

“KIM JIYEONG CEPAT BUKA PINTU KAMARMU!” Yap. Tepat sekali duganku. Itu suara eomma yang memaksaku untuk membuka pintu kamarku.

“Tidak dikunci.” Jawabku lemah. Jujur untuk bicarapun tenggorokanku terasa sakit.

Setelah membuka kasar pintu kamarku, eomma dan lagi-lagi Hyuri masuk ke kamarku. Eomma memarahi aku kenapa belum bangun dan bersiap-siap untuk sekolah.

“Kau mau begitu sampai kapan hah?”

Aku tidak menjawab. Aku malah meringkuk lagi ke dalam selimutku.

“Jawab aku, Kim Jiyeong!”

“Aku sakit eomma.” Jawabku pasrah. Aku tidak mau bertengkar dengan eomma dalam kondisiku yang seperti ini.

“Apa kau bilang kau sakit? Seorang anak seperti kau bisa jatuh sakit? Hah aku tidak percaya! Bilang saja kau tidak mau pergi ke sekolah bersama kakakmu kan, jadi kau pura-pura sakit?”

“Tidak, eomma, tapi aku benar-benar sakit.” Jawabku serak. Mungkin perasaan seseorang akan jauh lebih sensitif jika sedang sakit. Ya inilah yang aku rasakan. Entah kenapa air mataku sudah mendesak ingin keluar mendengar perkataan eomma barusan, padahal biasanya aku tak gentar dengan perkataan eomma seperti apapun. Aku kembali merapatkan selimutku, agar eomma tidak bisa melihat aku menangis.

BRAK. Tiba-tiba eomma menarik selimutku.

“Aku tidak percaya padamu! Cepat bangun dan mandi. Aku tidak mau Hyuri terlambat karena harus menunggumu terlalu lama.”

“Ya eomma. Jangan terlalu kasar seperti itu. Itu lihat wajah Jiyeong pucat sekali, dia pasti benar-benar sakit.” Hyuri akhirnya membuka suara.

“Jangan coba-coba kau membelanya di depanku! Aku tahu persis wataknya. Itu pasti hanya akal-akalannya saja supaya aku kasihan padanya.” Kali ini air mataku benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Aku menangis.

“Wah wah sekarang kemampuan aktingmu sudah meningkat Jiyeong-a.” Kata eomma lagi. Aku tak suka mendengar nada saat dia mengatakan itu. “Tak usah repot-repot kau keluarkan air matamu itu, aku tak akan tertipu olehmu. Ah ya dan caramu untuk menarik perhatianku salah besar. Sekarang cepat turun dari kasurmu dan segera mandi!” perintah eomma sambil menyeretku turun dari tempat tidur.

Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Hatiku benar-benar sakit.

“Eomma…aku tahu sekeras apapun aku berusaha, aku tak akan pernah mendapatkan perhatianmu. Sekeras apapun aku mencoba, kau tak akan pernah menganggapku sebagai anak. Aku tahu aku hanya beban bagimu dan Hyuri. Aku hanya akan mempermalukan keluarga ini. Aku tahu aku selalu membantah perintah eomma dan maafkan aku karena aku tidak bisa seperti Hyuri. Baik untuk kali ini aku akan menuruti kemauan eomma dengan satu sekolah dengan Hyuri. Ya untuk kali ini saja. Setidaknya dengan begitu kau akan memandangku sedikit kan, eomma?” kata-kataku barusan meluncur dari mulutku diiringi dengan isak tangisku. Bodohnya aku! Kenapa aku malah bersikap lemah seperti ini sih?

“Darimana kau belajar kata-kata seperti itu? Jangan harap aku tersentuh dengan perkataanmu barusan. Kau benar, selama kau tidak seperti Hyuri, kau tidak akan mendapat perhatianku.” Aku bingung apa ada seorang ibu yang berkata seperti ini di depan anaknya sendiri? Ani aku lupa, aku ini kan bukan anaknya.

“Eomma, sudahlah, kenapa malah jadi bertengkar seperti ini? Katanya kau tidak mau aku terlambat, tapi jika eomma terus memarahi Jiyeong, dia kan jadi tidak bisa bersiap-siap. Ayo keluar eomma. Aku sudah siapkan sarapan, lebih baik kita menunggu Jiyeong di bawah.” Lerai Hyuri.

“Jiyeong-ah, sudah lebih baik kau cepat bersiap-siap. Aku dan eomma akan menunggu kau dibawah.” Kata Hyuri lagi.

“Aniyo, Hyuri-ssi, tidak usah repot-repot. Kau berangkat duluan saja. Eommamu ini kan takut kau terlambat. Aku biar naik bis saja nanti.”

“Tidak bisa. Aku akan menunggumu. Bagaimana jika kalau nanti kau tiba-tiba pingsan di jalan? Lihat wajahmu pucat sekali.”

“Hyuri! Sudah kalau dia tidak mau biarkan saja! Benar apa katanya, eomma tidak mau kau terlambat. Kajja, kita sarapan dan segera berangkat.” Kata eomma lagi.

Eomma segera menarik Hyuri keluar dari kamarku. Aku hanya menatap kepergian mereka dengan hati terluka. Aku lupa menanyakan sesuatu pada eomma. “Apakah jika aku mati sekalipun, dia tetap tidak akan memperhatikanku?”

***

Aku keluar dari kamarku setelah selesai bersiap-siap dan segera menuju ruang tamu. Aku penasaran, apakah Hyuri benar menungguku apa tidak. Begitu aku tiba di ruang tamu, tak kudapati eomma ataupun Hyuri. Ya, mereka benar-benar meninggalkanku.

            Aku berjalan lemas keluar rumah dan menuju halte bis. Jujur saja, kepalaku pusing sekali, dan lagi-lagi aku tidak sarapan. Ah masa bodoh, lagipula tidak akan ada yang peduli denganku. Aku melirik jam tanganku. Aish setidaknya, jika bis datang tepat waktu aku tidak akan terlambat. Ah pasti hari-hariku disekolah nanti akan menjadi lebih suram. Ya, satu sekolah dengan Hyuri adalah satu-satunya hal yang tidak aku inginkan. Tak sampai 10 menit kemudian, akhirnya bis yang kutunggu datang. Segera saja aku masuk ke dalam bis dan syukurlah untung aku masih mendapat tempat duduk kosong.

***

Kim Hyuri’s POV

“Hyuri-ya~ katanya mulai hari ini adikmu akan pindah ke sini? Di mana dia? Aku tidak melihatnya sedari tadi. Kau tidak berangkat bersamanya?” tanya Donghae oppa.

“Tidak oppa. Tadi dia memaksa untuk berangkat sendiri.” Jawabku.

“Ah jadi itu yang membuatmu berdiri terus dipintu masuk ini? Kau menunggu adikmu benar? Lalu apa yang kau cemaskan? Aku lihat kau gelisah daritadi.”

“Dia sedang sakit oppa. Tapi eomma memaksanya untuk tetap sekolah.”

“Jadi hubungan eomma dan adikmu belum membaik juga?”

“Malah justru lebih buruk dari sebelumnya.” Jawabku lemas.

“Jangan sedih begitu Hyuri-ya~ aku yakin nanti suatu saat mereka pasti bisa berbaikan.”

“Ya aku harap begitu oppa.”

“Ya! Lihat itu adikmu datang!” kata Donghae oppa yang membuatku langsung mencari-cari keberadaan Jiyeong.

“Benar katamu, Hyuri-ya~ dia pucat sekali.” “Ya ya itu lihat dia berjalan ke arah kita.” Kata Donghae oppa lagi.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aish aku baru sampai tapi sudah disambut oleh makhluk yang paling tidak aku harapkan kehadirannya.

“Jiyeong-ah~ kau sudah sampai. Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya sok perhatian padaku.

“Tidak usah sok perhatian padaku Hyuri-ssi. Memangnya kalau aku kenapa-kenapa, kau peduli hah?”

“Ya aku tidak sok perhatian padamu. Sudah kubilang aku ini kakakmu! Jadi wajar jika aku memperhatikanmu.”

“Tapi aku tak butuh perhatian darimu. Ah iya, aku mohon dengan sangat padamu, tolong kau jangan bilang kepada siapapun bahwa aku ini adikmu. Aku tidak mau mendapat perhatian yang berlebihan dari orang-orang karena tahu aku ini adikmu. Kau mengerti, Hyuri-ssi?”

“Tapi kenapa begitu? Apakah hubungan kita seburuk itu, sampai-sampai kau tidak mau mengakuiku sebagai kakakmu?”

“Bukankah hubungan kita memang tidak pernah baik dari awal? Apa alasanku masih kurang jelas? Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak mau mendapat perhatian berlebih dari orang-orang hanya karena tahu bahwa aku adikmu. Aku ingin menjadi diriku sendiri!”

“Baiklah jika itu maumu. Sekarang katakan padaku di mana kelasmu? Biar aku antar.”

“Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil yang ke mana-mana harus diantar.” “Ah Donghae-ssi maaf jika aku berkata tidak sopan pada kekasihmu. Jangan tanya alasannya, karena kau pasti sudah tahu. Aku duluan.” Kataku pada mereka berdua.

***

Errghhh ternyata sekolah ini lumayan besar. Aku sudah berkeliling untuk mencari di mana kelasku tapi tetap tidak kutemukan. “TEEEEENGG!!! TEEEENGG!!!” Aish jinjja! Bel sudah berbunyi dan aku belum menemukan kelasku! Aduh bagaimana ini? Aku panik dan terus mencari di mana kelasku. 5 menit setelah bel berbunyi, akhirnya aku menemukan kelasku. Dengan takut-takut aku mengetuk pintu dan melangkah masuk.

“Annyeong songsaengnim, maaf aku terlambat.” Kataku ketika memasuki kelas.

“Ah jadi kau murid baru itu ya? Gwenchana, ayo sini lekas masuk.” Ah syukurlah ternyata songsaengnim ini tidak galak seperti yang kubayangkan.

“Anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Nah sekarang perkenalkan dirimu.” Kata songsaengnim itu lagi. Ini sebenarnya sekolah menengah atas atau taman kana-kanak sih? Masa aku harus memperkenalkan diriku segala? Aish ini memalukan.

“Ah ye songsaengim.” Jawabku akhirnya dan aku pun mulai memperkenalkan diriku.

“Annyeong. Joneun Kim Jiyeong imnida. Bangapseubnida.” Ujarku sambil membungkukkan badan.

“Nah sekarang kau pilih di mana kau mau duduk.” Ujar Songsaengnim itu lagi. Ya, songsaengnim itu bodoh atau apa sih? Jelas-jelas bangku kosong yang tersisa hanya satu! Kenapa menyuruhku untuk memilih tempat duduk?

“Ne songsaengnim.” Jawabku. Aku segera mengambil tempat duduk yang tersisa di belakang. Aku suka posisi di belakang. Setidaknya aku tidak langsung kelihatan jika nanti aku tertidur di kelas.

“Baiklah anak-anak mari kita lanjutkan pelajaran kita.” Kata songsaengnim yang kembali meminta para siswa untuk kembali fokus pada pelajaran.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kata seorang pria di sebelahku yang memperkenalkan dirinya sebagai Eunhyuk.

Aku hanya tersenyum dalam menanggapi ucapannya. Aku tidak ingin terlalu banyak bicara. Jujur saja, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah sekarang.

***

Eunhyuk’s POV

Aku melihat gadis itu mendekat ke arahku. Ya pasti dia akan duduk di sebelahku. Tapi kenapa sedari tadi dia menunduk terus?  Ah itu bukan urusanku. Begitu dia duduk di bangkunya aku segera menyapanya dan memperkenalkan diriku.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kataku padanya.

Dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Astaga wajahnya pucat sekali. Apa karena itu dia menunduk sedari tadi? Aku tidak berani menganggunya lagi. Lagipula sorot wajah gadis itu menunjukkan bahwa perasaannya sedang tidak baik. Apa yang terjadi dengannya ya? Yak! Apa urusanmu Lee Hyuk Jae! Sudah, sudah lebih baik aku kembali fokus pada pelajaran yang disampaikan songsaengnim.

Selama pelajaran berlangsung, sesekali aku melirik ke arahnya. Dia terlihat benar-benar sedang tidak enak badan. Sedari tadi dia merebahkan kepalanya ke meja. Dan aku tidak bohong jika wajahnya pucat sekali. Persis seperti mayat hidup. Aku ingin bertanya padanya, tapi aku segera mengurungkan niatku. Lebih baik aku tak usah ikut campur urusannya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aissshhh kapan sih pelajaran yang membosankan ini berakhir. Aku sama sekali tak berminat untuk memperhatikan apa yang dijelaskan songsaengnim di depan, apalagi mencatatnya. Kepalaku benar-benar terasa pusing, jadi selama pelajaran berlangsung, aku merebahkan kepalaku di atas meja.

“Yak anak-anak apa kalian mengerti tentang materi ini?” tanya songsaenim.

“Ye songsaengnim.” Jawab murid-murid serempak.

“Baguslah, kalau kalian mengerti aku akan memberi tugas pada kalian. Buka buku kalian halaman 123, dan lihat disitu ada latihan soal yang berjumlah 100 soal kan? Nah kalian kerjakan itu dan jangan lupa besok dikumpulkan!” perintah songsaengnim lagi.

“Ye, songsaengninm.” Jawab murid-murid yang lagi-lagi serempak.

Mwo? Apa-apaan mereka? Mengapa mereka tidak menolak diberi tugas sebanyak itu hah? Aku sih tidak mau. Ya ya andai saja ini bukan hari pertamaku bersekolah disini, aku pasti akan langsung protes pada songsaengnim itu! Enak saja dia memberi tugas sebanyak itu, dia pikir aku ini robot apa? Gerutuku dalam hati.

“Ya, Kim Jiyeong, apa kau sudah mengerti tugasmu?” tanya songsaengnim tiba-tiba.

“Ah ne, aku mengerti songsaengnim.” Tch, kenapa dia menanyaiku seperti itu hah? Lihat kan sekarang aku jadi pusat perhatian siswa lain. Seakan-akan aku ini siswi pindahan baru yang sangat bodoh.

“Anak-anak kita cukupkan pelajaran kita hari ini. Jangan lupa kalian kerjakan tugas kalian di rumah.” Songsaengnim itu berkata sambil merapikan barang bawaannya.

“Gamsahamnida songsaengnim.”

TEEEEENGGG!!! TEEEEENGGG!!!” Baguslah akhirnya bel tanda istirahat berbunyi juga. Setidaknya sekarang aku bisa tidur di kelas. Baru saja aku ingin melaksanakan niatku, lelaki yang bernama Eunhyuk itu menanyaiku dengan pertanyaan yang tidak penting, menurutku.

“Jiyeong-ssi, kau tidak ke kantin?”

“Tidak.”

“Kau kenapa? Sakit?”

“Tidak.”

“Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

“Aku bilang aku tidak sakit! Sudah jangan mengangguku!”

“Ah mianhae, tapi aku hanya khawatir padamu, aku lihat wajahmu sangat pucat, makanya aku pikir kau sakit.”

“Tidak usah minta maaf dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Eunhyuk-ssi. Lebih baik sekarang kau urusi saja urusanmu, jangan ganggu aku, aku ingin tidur!” usirku padanya.

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk akhirnya.

Eunhyuk’s POV

“Baiklah.” Jawabku akhirnya. Aku segera meninggalkan kelas dan bergegas ke kantin.

Aigooo gadis itu benar-benar galak. Bisa-bisanya dia mengusirku seperti tadi! Awas saja lain kali akan kubalas perbuatannya! Aku melonggarkan ikatan dasiku yang terasa sangat mencekik leherku ini. Ah begini lebih baik. Aku tidak suka berpenampilan rapi seperti murid-murid lain, toh justru dengan penampilanku seperti ini, banyak yeoja-yeoja yang menyukaiku kan? Hahaha.

“Ya Hyukkie oppa! Kau mau ke mana?” Aisshh suara yeoja menyebalkan itu lagi. “Oppa tunggu aku!” katanya lagi.

Aku tetap tak menghentikan langkahku, malah makin mempercepat langkahku. Aku malas berurusan dengan yeoja satu itu. Ya aku akui dia mantanku, tapi tidak bisakah dia berhenti merecokiku?

“Oppa, kenapa terburu-buru begitu sih?” ucapnya yang kini sudah ada di sampingku.

“Aku lapar, ingin segera membeli makanan ke kantin.”

“Ya, jadi kau sudah merubah sikapmu menjadi dingin seperti ini terhadapku oppa? Kau jahat! Kau bilang meskipun sudah putus, kau tetap akan bersikap baik padaku.”

“Memangnya sekarang aku tak bersikap baik padamu, Ji Eun-ssi?

“Kau bahkan memanggilku dengan embel-embel –ssi! Kau benar-benar keterlaluan oppa! Kau jahat!”

“Lalu aku harus memanggilmu dengan embel-embel apa hah? Chagiya? Iya begitu maumu?”

“Aku ingin kita seperti dulu oppa.” Ucap Ji Eun yang kini sudah mulai menangis.

“Hah, jangan mimpi Ji Eun-ssi, kita tak akan bisa seperti dulu. Kau yang mengkhianatiku waktu itu.”

“Tapi aku kan sudah minta maaf.”

“Apa kau pikir minta maaf saja sudah cukup hah? Sudahlah minggir kau! Aku jadi membuang-buang waktu istirahatku yang berharga ini dengan bicara denganmu.”

“Jadi sekarang waktu istrirahatmu lebih berharga dariku?”

“Tepat sekali! Sudah sana minggir, dan aku mohon padamu jangan mengangguku lagi.”

“Baik jika itu maumu, aku tak akan menganggumu, tapi aku pastikan kau akan kembali bertekuk lutut padaku, tuan Lee.” Kini nada bicaranya berubah menjadi ancaman.

“Kau mengancamku? Tch, coba saja kalau kau bisa.” Tantangku balik padanya. Aku pun tak perlu berpikir lama, aku segera meninggalkannya dan melanjutkan niat awalku, pergi ke kantin.

“Sialan! Tunggu saja tanggal mainnya dan aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku!” geram Ji Eun.

Aku tak memperdulikannya. Dasar gadis agresif, harusnya kan lelaki yang mengejar wanita, kenapa malah sebaliknya?

“TEEEEENGG!!! TEEEEENGG!!!”

Aissshh dasar! Gara-gara Ji Eun, aku jadi tak sempat ke kantin! Dasar wanita menyebalkan! Aku mengurungkan niatku ke kantin dan kembali menuju kelasku. Ah syukurlah aku tiba lebih dulu sebelum songsaengnim. Aku segera menuu tempat dudukku dan mendapati Jiyeong masih tertidur.

“Ya, apa dia tidak mendengar bunyi bel berbunyi? Atau bunyi bel itu masih kurang kencang untuk membangunkannya?” tanyaku dalam hati. Dengan hati-hati aku membangunkan Jiyeong.

“Jiyeong-ssi, bangunlah. Bel sudah berbunyi. Kau mau kena marah songsaengnim karena melihatmu tertidur di kelas?” aku membangunkannya pelan-pelan sekali, takut dia akan marah. Tapi, dia tak segera menanggapiku. Ah baiklah mungkin dia benar-benar tak mau kuganggu. Lebih baik aku kembali ke tempat dudukku.

“Eunhyuk-ssi…bisakah aku minta tolong padamu?” dia menarik tanganku tiba-tiba. Astaga tangannya dingin sekali! Dan kenapa suaranya serak begitu?

“Ya, kau kenapa? Kau sakit?” refleks aku menempelkan telapak tanganku di dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya. “Yak! Badanmu panas sekali! Ayo aku antarkan kau ke ruang kesehatan!” kataku lagi.

“Bukan itu yang aku minta padamu. Tolong kau halangi aku dari songsaengim, aku ingin tidur di kelas, kepalaku pusing sekali, bisa kan?”

“Tapi badanmu itu panas sekali! Lebih baik kau istirahat di ruang kesehatan.”

“Jangan berteriak seperti itu. Aku hanya pusing! Tidak usah berlebihan. Kalau kau tidak bisa menolongku, yasudah tidak apa-apa. Biarkan sekalian songsaengnim melihatku, dan mengeluarkanku dari kelas.”

“Aish bukan begitu maksudku. Baik-baik aku akan menolongmu.”

“Gomawo Eunhyuk-ssi.” Aku masih bisa melihatnya tersenyum ditengah-tengah wajah pucatnya itu.

Belum sempat aku menjawabnya, songsaengnim sudah memasuki kelas. Aku segera duduk di bangkuku dan membantu gadis itu. Entah bagaimana caranya aku sendiri juga bingung, tapi aku sudah berjanji padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Baguslah laki-laki itu mau menolongku. Satu-satunya alasan mengapa aku tak mau di ruang kesehatan adalah karena aku takut bertemu dengan Hyuri. Kalau tidak salahkan dia itu petugas kesehatan di sekolah ini, makanya aku tidak mau dibawa Eunhyuk ke ruang kesehatan meskipun kepalaku ini benar-benar pusing.

“Ya! Kau jangan menengok ke arahku terus! Nanti bisa ketahuan! Katanya kau mau menolongku, tapi jika kau begitu sama saja! Pada akhirnya aku akan ketahuan juga!” protesku pelan pada Eunhyuk yang sedari tadi menengok ke arahku.

“Aku hanya memastikan keadaanmu.” Bisiknya pelan. Entah kenapa tapi aku mendengar nada khawatir dari suaranya.

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasku. Eunhyuk menuruti perintahku. Dia tidak menganggu lagi. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidurku lagi.

Eunhyuk’s POV

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasnya. Aku menuruti perintahnya dan tidak menganggunya lagi. Aku membiarkannya untuk istirahat.

Selama pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi. Aku sebenarnya ingin sekali menengok ke arahnya lagi dan melihat apa yang dilakukannya. Tapi tidak jadi. Benar apa katanya, kalau aku bersikap begitu terus, bisa-bisa songsaengnim mencurigai kami dan akhirnya Jiyeong akan dikeluarkan dari kelas. Hah aku hanya berharap bahwa bel pulang sekolah segera berbunyi dan songsaengnim pergi meninggalkan kelas.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku sudah cukup sabar menunggu sampai akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-teman yang lain mulai berlalu meninggalkan kelas. Mungkin langsung pulang atau mungkin mereka mempunyai acara lain. Kini tinggal aku dan Eunhyuk berdua di dalam kelas. Aku segera merapikan barangku dan Eunhyuk pun melakukan hal yang sama denganku.

“Jiyeong-ssi, rumahmu di mana?” tanyanya yang memecah keheningan di antara kami.

“Kenapa kau menanyakan rumahku?” Eunhyuk tampak berpikir sebentar kemudian berkata lagi.

“Aku ingin mengantarmu pulang. Dengan melihat kondisimu sekarang, aku takut kau pingsan di jalan.”

“Ya apa pedulimu memang? Aku bisa pulang sendiri! Memangnya aku gadis lemah yang akan pingsan begitu saja? Jangan mentang-mentang tadi aku meminta tolong padamu jadi kau bersikap begini padaku!”

-Hening-

Mungkin aku terlalu kasar padanya. Baik kali ini aku akan melunakkan sikapku.

“Ya, Eunhyuk-ssi, aku hanya tidak mau kau repot-repot mengantarku pulang.” Kataku akhirnya.

“Tapi aku tidak merasa direpotkan jika harus mengantarmu pulang.” Aissshhh laki-laki ini ngeyel sekali sih.

“Kau memaksaku sekarang? Hhmm sepertinya aku perlu memberi tahumu satu hal penting Eunhyuk-ssi, aku tidak suka dipaksa. Jika diawal aku berkata tidak, itu berarti tidak akan ada yang berubah. Kau mengerti?” tanyaku tajam padanya.

“Aish iya iya terserah kau sajalah. Sebagai temanmu aku hanya merasa khawatir.” Mwo? Apa dia bilang barusan? Aku tidak salah dengar kan?

“Sejak kapan kau jadi temanku?”

“Sejak tadi kau memperkenalkan dirimu di depan kelas.” Jawabnya santai.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai teman. Bagimana?” balasku enteng.

“Kalau begitu perkenalkan, aku Lee Hyuk Jae. Senang berkenalan denganmu. Kita sudah menjadi temankan sekarang?” ucapnya sambil mengulurkan tangannya, berniat untuk bersalaman denganku.

“Hah lucu sekali sikapmu itu. Baiklah aku Kim Jiyeong. Senang berkenalan denganmu tuan Lee.” Aku membalas uluran tangannya. Entah apa yang ada dipikiranku sekarang sampai-sampai aku bisa bersikap seperti ini. Ya mungkin ini efek dari sakit kepala yang kuderita.

“Yak! Katanya kita berteman kok memanggilku seperti itu?” protesnya .

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Itu terserah padamu mau memanggilku apa, asal jangan kau panggil aku dengan embel-embel –ssi atau panggilan formal lainnya.”

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Kataku akhirnya mengalah.

Eunhyuk’s POV

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Katanya mengalah.

He? Aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman? Apa sebelumnya dia tidak pernah menganggap orang lain sebagai temannya? Ah bukan urusanku. Tidak tahu kenapa tapi aku senang dengan kenyataan bahwa aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman. Keren kan?

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum begitu hah? Memangnya ada yang lucu?”

“Aniya Jiyeong-a, tidak ada yang lucu. Kau sensitif sekali sih.” Jawabku sambil terus menahan senyum ini.

“Tch dasar aneh, tidak ada yang lucu tapi tersenyum tidak jelas begitu. Sudahlah aku pulang duluan ya.”

“Kau yakin tidak mau kuantar?”

“Perlu kujelaskan lagi kalau aku tak suka dipaksa hah?”

“Aissshhh yasudah sana pulang. Ya! Jiyeong-a hati-hati dijalan!” aku melambaikan tanganku padanya dan kembali merapikan barangku yang tadi sempat tertunda.

“Ne.” Jawabnya singkat.

Kim Jiyeong’s POV

Aku berbalik meninggalkannya dan tersenyum sendiri. Setidaknya di hari pertamaku sekolah ini tidak terlalu buruk, aku mendapatkan seorang teman. Baru saja aku mau keluar kelas, tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing sekali. Astaga kali ini aku benar-benar tidak bisa menahannya.

BRUK. Aku terjatuh tepat di depan kelasku. Kepalaku benar-benar pusing. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar Eunhyuk meneriaki namaku.

Eunhyuk’s POV

BRUK. Aku mendengar seseorang jatuh di depan kelas. Aku refleks melihat siapa orang itu. Astaga! Itu Jiyeong! Dia pingsan!

“Kim Jiyeong! Kau tidak apa-apa?” aku berlari menghampirinya.

“Jiyeong-a! Bangun, kau tidak apa-apa?” ulangku lagi.

Aku panik. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi sekarang sudah waktunya pulang sekolah pasti di ruang kesehatan juga sudah tidak ada penjaganya lagi. Ah apa sebaiknya aku membawanya ke rumahnya? Aishhh tapi kan aku tidak tahu di mana rumahnya. Aku berpikir sebentar dan akhirnya menemukan sesuatu yang harusnya sudah kuketahui dari awal. Ah dasar Lee Hyuk Jae bodoh! Setiap murid di sini pasti kan mempunyai buku identitas diri kan? Kenapa aku tak melihat alamat rumah Jiyeong di buku itu saja?

Aku segera mencari buku itu dan melihat di mana alamat rumah Jiyeong. Yes, aku sudah mendapatkannya!

“Ya Jiyeong-a, bertahanlah, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku bergegas menggendong Jiyeong dan mengantarkannya pulang. Untunglah hari ini aku membawa kendaraan, jadi tak perlu berdesak-desakan di bis.

***

Ternyata tak susah mencari di mana rumahnya. Kini aku sudah berada di depan rumah Jiyeong. Astaga pintu ini terkunci? Bagaimana caranya masuk kalau begitu?

“Tentu saja dengan membuka kuncinya bodoh! Kuncinya ada di dalam tasku.” Kata Jiyeong pelan.

“Kau sudah sadar rupannya. Tch dasar dalam kondisi begitu kau masih bisa mengatai orang bodoh.”

Aku segera mencari kunci rumah yang dimaksud dalam tasnya. Yap ini dia! Kataku sambil mengeluarkan kunci tersebut dan membuka pintu rumahnya.

“Yak Jiyeong-a kamarmu di mana?” Aku terkagum-kagum dengan rumahnya yang bisa dibilang sangat besar ini.

“Di lantai 2.” Jawabnya singkat.

“Rumahmu besar sekali Jiyeong-a~”

“Kau jangan berlebihan.”

“Aishh aku kan hanya mengatakan apa yang aku lihat. Kau pasti betah tinggal di sini.” Aku tak henti-hentinya mengagumi interior rumah Jiyeong yang sangat mewah.

“Tidak sama sekali. Kau tahu? Justru aku merasa seperti dipenjara.”

“Hah? Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.

“Tidak usah banyak bertanya. Itu kamarku tepat di samping tangga.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk Jiyeong.

Aku merebahkan tubuh Jiyeong di tempat tidurnya. Dia pun segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

“Orang rumah yang lain di mana? Kau tinggal sendiri di sini?” tanyaku akhirnya.

“Mereka belum pulang. Ah kau bisa pulang sekarang Eunhyuk-a~”

“Kau pikir aku teman macam apa yang akan membiarkan temannya sendiri dalam kesusahan hah? Kau sudah pingsan seperti tadi, apa kau mengira bahwa aku akan meninggalkanmu sendirian begitu? Tidak. Aku akan di sini sampai setidaknya eomma mu pulang.”

“Dia akan pulang larut. Sudah pulang sana. Aku mau istirahat.”

“Sudah kubilang aku akan menunggumu sampai salah satu orang rumahmu pulang. Biarlah aku menunggu sampai larut jika perlu.”

“Terserah.”

“Ya, kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Bohong.”

“Aku bilang sudah ya sudah! Kau cerewet sekali sih!”

“Baiklah aku akan mengambil makanan untukmu. Sekarang katakan padaku di mana letak dapurnya.”

“Cari saja sendiri.” Katanya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Tch dasar kau! Baik aku akan mencari sendiri di mana dapurnya. Tapi kau harus makan setelah aku kembali.”

“Tidak mau.”

“Aku tidak suka penolakan. Kau harus makan.”

“Aku tidak suka dipaksa, apa kau lupa?”

“Tapi ini untuk kebaikanmu. Sudah sudah aku akan segera kembali.”

“Ya Eunhyuk-a~ hati-hati tersesat.” Katanya. Aku bisa mendengar dia tertawa kecil.

“Tidak akan kau tenang saja.” Balasku.

Mwo? Memangnya rumah ini sebesar apa sampai dia memperingati agar aku tidak tersesat? Hah pasti itu bisa-bisanya saja agar aku tak mengambilkan makanan untuknya. Aku menutup pintu kamar Jiyeong dan segera mencari dapur. Yah semoga saja aku benar-benar tidak tersesat.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku mendengar suara pintu kamarku ditutup. Ya! Bahkan dia lebih cerewet dari seorang ibu sekalipun. Ani, aku lupa. Aku tak mempunyai seorang ibu. Aku kembali memegangi kepalaku yang kembali terasa sakit. Untung tadi Eunhyuk menolongku, coba kalau tidak ada dia, pasti aku akan menginap di sekolah malam ini.

Cklek. Seseorang membuka pintu kamarku. Apa itu Eunhyuk? Kenapa dia cepat sekali?

“Ah ternyata benar kau sudah pulang.” Ternyata tebakanku salah. Yang datang bukan Eunhyuk melainkan Hyuri sialan itu.

“Mau apa kau ke sini? Sudah sana pergi!” usirku padanya. Aku tak mau Eunhyuk melihat Hyuri di sini dan mengetahui bahwa dia kakakku.

“Aku mendengar dari teman sekelasmu bahwa kau sakit. Makanya aku segera pulang. Aku sudah sengaja membatalkan janjiku dengan Donghae oppa.”

“Salahmu sendiri. Sudah kubilang sana pergi!” usirku lagi karena Hyuri belum beranjak juga dari kamarku.

“Di mana temanmu? Kau diantar pulang dengan temanmu kan?”

“Kim Hyuri sialan, sudah kubilang jangan banyak tanya, keluar saja dari kamarku!” umpatku kesal. “Dia ada di dapur. Sedang mengambilkan makanan untukku.” Jawabku akhirnya.

“Seorang pria?” Kenapa dia jadi cerewet begini sih.

“Ne.” Jawabku singkat.

“Oh jadi benar dugaanku. Ya, kau tunggu disini aku akan mengambilkan kompres untukmu. Oya Jiyeong-a, tadi eomma menelfonku, dia bilang dia tidak jadi pulang larut hari ini.”

“Lalu apa urusannya denganku?”

“Ya setidaknya kau bisa diurusi oleh eomma.”

“Sejak kapan eomma mau mengurusiku hah? Dan kau, sudahlah lebih baik kau kembali ke kamarmu dan kerjakan saja tugasmu! Jangan pedulikan aku!”

“Mana bisa aku tidak peduli dengan adikku sendiri hah?” Bertepatan dengan Hyuri mengatakan hal itu, Eunhyuk sudah kembali ke kamarku. Aku melihat ekspresi terkejut dari Eunhyuk.

“Su-sunbae?” kata Eunhyuk terbata.

“Ah jadi kau yang mengantar adikku pulang.” Balas Hyuri. Cih apa-apaan dia, bukannya sudah kubilang, jangan katakan pada orang lain jika aku ini adiknya? Kim Hyuri itu memang benar-benar menyebalkan.

“Ah ne sunbae. Jadi kau kakaknya Jiyeong?” tanya Eunhyuk sambil melirik ke arahku. Lee Hyuk Jae awas saja kau.

“Ye. Terima kasih sudah mengantar adikku pulang…”

“Lee Hyuk Jae, atau sunbae bisa memanggilku Eunhyuk.”

“Baiklah, terima kasih sudah mengantar adikku pulang Eunhyuk-ssi.” Kata Hyuri. “Ohya jangan memanggilku dengan sebutan sunbae, panggil saja aku noona.” Tambah Hyuri.

Eunhyuk tak membalas ucapan Hyuri tapi dia hanya mengangguk dan tersenyum. Cih noona, menggelikan sekali mendengar Eunhyuk memannggilnya noona.

“Eunhyuk-a, kau tunggu di sini sebentar ya, aku ingin mengambil kompres untuk Jiyeong.”

“Baik noona.” Jawab Eunhyuk menurut. Hyuri pun keluar dari kamarku dan meninggalkan aku dan Eunhyuk berdua di kamarku.

“Kau sudah bisa pulang sekarang. Hyuri sudah pulang. Jadi ada yang menemaniku di sini.”

“Kau tidak memanggilnya eonni?” tanya Eunhyuk bingung.

“Tidak. Dan tidak akan pernah.” Jawabku.

“Aish terserahlah, ini makananmu. Cepat kau makan.”

“Tidak mau. Aku sedang tidak nafsu makan. Sudah sana kau pulang saja.” Suruhku lagi padanya. Aku tidak mau Eunhyuk melihat aku bertengkar dengan eomma makanya aku suruh dia pulang.

“Kenapa kau ingin sekali aku pulang sih?”

“Ini sudah sore, apa ibumu tidak akan mencarimu?”

“Ya aku ini bukan anak kecil lagi. Lagipula ibuku mempercayaiku sepenuhnya, jadi kau tidak usah khawatir.”

“Beruntung sekali kau mempunyai ibu seperti itu.” Kataku padanya. Jelas sekali ada rasa iri dalam nada bicaraku.

“Memangnya ibumu tidak seperti itu?”

“Tidak usah membahas ibuku.” Jawabku ketus. Bahkan aku ragu, sebenarnya dia ibuku atau bukan.

Kami terdiam sesaat dan akhirnya Eunhyuk membuka suaranya lagi.

“Yak makan ini.” Katanya. “Atau jika kau tetap tidak mau makan, aku akan menyuapimu.” Ancam Eunhyuk kali ini.

“Yak! Aku bilang aku tidak mau makan! Awas kalau kau berani menyuapiku!” kini giliran aku yang mengancamnya.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu! Kau harus makan! Sini buka mulutmu!” Eunhyuk menyodorkan sesendok nasi padaku. Aku tetap tidak membuka mulutku. Sudah kubilang aku tidak suka dipaksa.

“Yak buka mulutmu, atau aku akan…”

“Akan apa hah? Memangnya kau berani padaku?” tantangku padanya.

“Akan menciummu. Dengan begitu kau akan membuka mulutmu kan? Dan saat itu aku akan memasukkan makanan ke mulutmu.” Dia menjawabku enteng.

Aku menganga mendengar ucapannya. Apa dia gila hah?

“Dasar otak mesum! Kau kira aku takut dengan ancamanmu hah?”

“Aku tidak main-main dengan ucapanku Jiyeong-a~” Eunhyuk mendekatkan wajahnya ke wajahku dan…

“YAK! APPO!” teriaknya sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Haha rasakan itu! Sudah kubilang kau jangan main-main denganku.” Eunhyuk terlihat sangat jengkel dan berencana membalasku tapi kegiatannya terhenti oleh sebuah suara. Suara yang saat ini tidak ingin kudengar.

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?”

-TBC-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s