My First and Only [ Part 2 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?” suara eomma menghentikan kegiatan kami berdua.

“Eo-eomma.” Kataku terbata. Aish ini pasti akan menjadi buruk.

“Aku pikir kau benar-benar sakit. Tapi ternyata dugaanku benar, dari awal memang kau membohongiku. Kau hanya pura-pura sakitkan untuk mendapatkan perhatianku?”

“Ehm maaf ahjumma, tapi Jiyeong benar-benar sakit. Tadi dia sampai jatuh pingsan di sekolah.” Eunhyuk yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya. Hah ini pasti akan menjadi perang besar.

“Jadi kau dibayar berapa oleh Jiyeong?”

“Ne?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Aku tahu kau pasti berkomplot dengan Jiyeong untuk membohongiku kan?” eomma melipat tangannya di depan dada. “Cepat katakan padaku kau dibayar berapa oleh Jiyeong! Akan aku tambahkan jika bayaranmu kurang, asalkan kau jangan pernah menemui Jiyeong lagi!” tambah eomma.

“Eomma! Jangan bicara seperti itu! Memangnya Eunhyuk orang macam apa yang mau kubayar hah?” teriakku marah.

“Kau mencoba membela lelaki ini, Kim Jiyeong?” eomma benar-benar terlihat murka sekarang.

“Iya aku membelanya karena dia temanku! Lebih baik eomma tidak mencampuri urusanku kali ini! Dan jangan mencoba untuk melarangku berteman dengannya!”

“Sampai kapan kau akan menjadi anak kurang ajar Kim Jiyeong! Bahkan di depan temanmu sendiri kau tidak bisa bersikap hormat dengan eomma!”

“Karena eomma memang tidak pantas untuk aku hormati!” Jujur aku sama tidak senang mengatakan hal ini. Apalagi di depan Eunhyuk.

“Aku benar-benar malu mempunyai anak sepertimu!” Lagi-lagi eomma mengatakan hal itu. Tidak boleh Kim Jiyeong, kau tidak boleh menangis. Tidak untuk di depan laki-laki ini.

“Terus saja kau mengatakan hal itu! Apa eomma masih tidak mengerti apa yang kukatakan kemarin? Kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa eomma tidak titipkan saja aku pada ahjumma dan ahjusii yang tinggal di Busan, atau kalau perlu sekalian saja kau habisi aku sekarang!”

PLAK. Lagi-lagi eomma menamparku. Bahkan tamparannya kali ini lebih keras. Kepalaku yang masih pusing malah makin bertambah pusing dengan tamparan eomma.

“Eomma kenapa kau selalu menamparku?” kali ini air mataku benar-benar sudah bisa ditahan lagi.

“Itu pelajaran untukmu. Kau pantas mendapatkan hal itu.” Jawab eomma. Apa? Aku tidak salah dengar kan? Apakah ada seorang ibu yang mengatakan hal itu di depan anaknya? Terlebih-lebih di depan teman anaknya.

“Ya, aku memang pantas mendapatkan tamparan eomma. Aku memang anak kurang ajar yang tak tahu terima kasih, bukan begitu?”

“Tepat sekali. Itu yang mau kukatakan padamu. Rupanya kau sekarang sudah jauh lebih pintar.” Eomma bertepuk tangan yang maksudnya untuk mengejekku. “Sekarang lebih baik suruh temanmu ini pulang atau eomma yang akan menyeretnya keluar!” perintah eommaku.

“Dia tamuku. Eomma tidak berhak untuk mengusirnya. Lebih baik sekarang eomma yang keluar dari kamarku!”

“Memangnya siapa yang akan terus disini hah? Aku juga sudah muak berada di kamarmu cih.” Kalau memang dia tidak betah di sini kenapa juga dia harus masuk hah? Dasar aneh!

Tak lama setelah itu eomma keluar. Dan tinggalah aku dan Eunhyuk berdua di kamar.

“Eunhyuk-ssi ini sudah malam lebih baik kau pulang. Aku mau istirahat.” Sebelum Eunhyuk bertanya yang aneh-aneh lebih baik aku suruh dia segera pulang.

“Kau tahu kan di mana letak pintu keluar? Atau perlu aku panggilkan Hyuri untuk mengantarkanmu?” tambahku lagi.

“Tidak usah aku bisa sendiri.” Jawab Eunhyuk.

“Bagus kalau begitu aku tak usah repot-repot untuk memanggil Hyuri untuk mengantarmu. Ah iya satu lagi aku lupa, tolong tutup pintunya jika kau keluar.” Perasaanku sekarang ini benar-benar kacau sampai-sampai untuk bicarapun nadaku terdengar bergetar. Hhh semoga Eunhyuk tak menyadarinya.

“Kau tunggu apalagi hah? Aku sudah bilang kan, aku mau istirahat.” Tak peduli bagaimana reaksi Eunhyuk, aku membaringkan tubuhku di kasur dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Tidak. Jangan sekarang Kim Jiyeong, tahan sebentar lagi. Kau tidak mau menangis di hadapan laki-laki ini lagi kan?

“Tidak ada yang kutunggu. Maaf telah menganggumu. Aku pulang sekarang Jiyeong-a.” Cklek. Kudengar suara pintu ditutup. Aku mengintip dari balik selimut hanya untuk memastikan apakah Eunhyuk benar-benar sudah pergi atau belum.

“Hhh baguslah dia sudah pergi. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya tadi aku tak enak harus bersikap begitu terhadap Eunhyuk. Tapi kalau aku tidak begitu, aku akan terlihat lemah di depannya. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun. Aku ini Kim Jiyeong. Seorang gadis yang kuat.” Aku menyemangati diriku sendiri dan mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati ini semua. Kim Jiyeong fighting!

***

“Jiyeong-a bangun. Kau sekolah kan hari ini?” Errrrr Hyuri memang benar-benar menyebalkan, apa dia tidak bisa tidak mengangguku walau hanya sehari saja?

“Hhhhmm ne.” Jawabku dengan malas. Aku bangun dari tempat tidurku dan dengan malas berjalan ke kamar mandi.

“Oke. Aku tunggu kau di bawah, kita akan berangkat bersama.” Sahut Hyuri. Ck, harus berapa kali aku bilang sih, aku tidak mau berangkat bersamanya? Dasar menyebalkan.

“Kau duluan saja berangkat dengan eommamu itu, tidak usah menungguku, aku lebih senang jika berangkat dengan bis. Kau tahu? Itu lebih mengasyikan daripada harus satu mobil denganmu dan eommamu.”

“Eomma sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali. Ia ada tugas selama 1 minggu di Jepang.” Mwo? Hyuri bilang apa tadi? Eomma ada tugas di Jepang selama 1 minggu? Wah ini benar-benar kesempatan langka! Aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

“Jiyeong-a kau masih mendengarku kan?”

“Tentu saja bodoh! Aku tidak tuli! Keputusanku tetap tidak berubah. Hari ini dan hari-hari selanjutnya aku akan berangkat sekolah sendiri. Sendiri. Itu artinya tidak bersamamu. Kau mengerti?”

“Terserah kau saja. Aku tidak mengerti kenapa kau begitu tidak mau berangkat sekolah denganku. Ya! Aku duluan, jangan lupa kunci pintu.”

“Arra-yo Hyuri-ssi.” Aku benar-benar tidak tahu harus mengekspresikan kebahagiaanku ini dengan cara apa. Aaaah 1 minggu tanpa eomma, itu sama saja selama 1 minggu aku tidak melihat wajahnya yang menyebalkan itu dan tentu saja tidak mendengar omelannya yang nyaris membuat kupingku putus. Nasibku hari ini benar-benar sedang beruntung. Hoaaah dan moodku benar-benar baik sekarang. Hhmm baiklah di sekolah nanti, aku akan minta maaf pada Eunhyuk atas sikapku kemarin.

***

Eunhyuk’s POV

Aissssh apa yang harus aku lakukan nanti jika bertemu dengan Jiyeong? Minta maaf? Mwo? Tapi buat apa aku minta maaf? Seharusnya juga dia yang meminta maaf padaku atas sikapnya itu. Hhhmm tapi kalau dia tidak menegurku bagaimana? Apa aku juga ikut-ikutan tidak menegurnya? Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, saat tiba-tiba aku merasa dipeluk seseorang dari belakang.

“Oppa, kau ke mana saja? Neomu bogoshipo~” Hah lagi-lagi gadis ini. Ya, tunggu! Bukankah dia bilang sudah berjanji untuk tidak mengangguku? Kenapa sekarang begini?

“Lepaskan aku Ji Eun-ssi. Tidak enak dilihat orang.” Kataku dingin sambil mencoba melepaskan pelukannya.

“Oppa, memang kenapa? Kita sudah lama kan tidak seperti ini?”

“Kau jangan bermimpi! Aku sudah bukan kekasihmu lagi, apa kau lupa? Dan bukannya kau sudah berjanji untuk tidak menganggu lagi?”

“Iya memang, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu oppa. Aku yakin kau juga masih belum melupakanku kan?” Ji Eun kembali mengeratkan pelukannya.

“Ya ya lebih baik kau sekarang ke kamar mandi dan cuci mukamu, sepertinya kau belum sepenuhnya sadar dari mimpimu. Dan tolong lepaskan aku sekarang juga.”

“Tidak oppa, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menerimaku lagi menjadi kekasihmu. Aku mencintaimu oppa~” Ji Eun berkata dengan nada manja dan suara yang dibuat-buat. Aku benar-benar muak padanya sekarang. Memintaku menjadi kekasihnya kembali? Cih apa itu tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita?

“Oppa, bagaimana kau mau kan menjadi kekasihku lagi?” ulang Ji Eun.

“Ji Eun-ssi lebih baik kau lepaskan pelukanmu sekarang juga atau aku akan…” Ucapanku terhenti ketika mataku menangkap sosok Jiyeong. Astaga! Pasti dia akan berpikir macam-macam jika melihatku seperti ini dengan Ji Eun. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Jiyeong. Dan kulihat ekspresinya benar-benar datar.

“Atau apa oppa?” Tanya Ji Eun lagi.

“Jang Ji Eun lepaskan aku!” Aku berteriak pada Ji Eun agar dia melepaskan pelukannya. Aku tak mau jika Jiyeong salah sangka terhadapku dan Ji Eun. Dan benar saja, berkat teriakanku itu Ji Eun melepaskan pelukannya.

“Oppa, kenapa kau berteriak seperti itu padaku?” tanya Ji Eun takut-takut.

“Karena kau tak mendengar perintahku tadi. Ya! Dengarkan aku baik-baik. Kau dan aku, itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan untuk jawaban dari pertanyaanmu tadi itu adalah tidak. Aku tidak mau kembali menjadi kekasihmu. Aku sudah tidak mencintaimu. Kau mengerti?” aku sengaja mengeraskan volume suaraku agar Jiyeong bisa mendengarnya.

“Oppa-oppa…” isak tangis Ji Eun mulai terdengar.

“Kalau kau pikir dengan kau menangis seperti itu akan merubah keputusanku, kau salah besar. Justru itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku. Ya, Ji Eun-ssi, hubungan kita sudah berakhir dan aku mohon denganmu, jangan ganggu kehidupanku lagi. Masih banyak lelaki di luar sana yang menunggumu. Lebih baik kau lupakan aku dan cari lelaki yang lebih pantas dariku.” Kali ini aku menurunkan sedikit nada suaraku.

“Oppa, tapi aku hanya mencintaimu…dan kau adalah satu-satunya lelaki yang pantas untukku.”

“Aku yakin bukan aku orangnya. Dan kau mulai sekarang jalani kehidupanmu sendiri dan bukalah hati untuk pria lain. Karena aku sudah membuka hatiku untuk wanita lain. Sudah ya Ji Eun, aku duluan! Ingat kata-kataku! Cobalah untuk membuka hatimu untuk pria lain! Arra?” Hah ini benar-benar sudah terlambat. Seharusnya aku mengejarnya saat itu juga. Aissssh Lee Hyuk Jae bodoh! Aku pun segera berlari meninggalkan Ji Eun dan menyusul Jiyeong. Semoga Jiyeong tak salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi.

***

Kau bahkan berani meninggalkanku seperti itu Lee Hyuk Jae? Baiklah jika itu maumu. Asal kau tahu hanya aku yang boleh memilikimu dan jika aku pun tak bisa memilikimu tak ada seorang pun yang bisa memilikimu.

***

Kim Jiyeong’s POV

Moodku sedang baik hari ini bahkan sangat baik sampai aku melihat si Hyukjae bodoh itu berpelukan dengan seorang gadis dan moodku langsung benar-benar jelek. Aisssshh apa yang kau pikirkan Kim Jiyeong! Biarkan saja kalau dia berpelukan dengan gadis lain, memangnya aku siapa? Apa aku punya hak untuk melarangnya untuk berpelukan? Siapa tahu gadis itu memang pacarnya. Ya! Tapi, bukankah tadi Eunhyuk bilang bahwa dia tak mencintai gadis itu lagi? Itu berarti tak mungkin gadis itu pacarnya. Hhmm kalau bukan pacarnya, mungkin dia mantan pacarnya. Pletak! Aku memukul kepalaku sendiri karena pikiranku yang melantur ini. Memangnya urusanku apa? Buat apa aku pikirkan siapa gadis itu? Mau dia pacarnya Eunhyuk atau bukan juga tidak ada pengaruhnya untukku kan? Aishhh dasar Lee Hyuk Jae sialan! Bisa-bisanya dia merusak moodku!

“Jiyeong-a, bisa bicara sebentar? Ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu.” Baru saja aku mau memasuki kelas ketika ada suara yang menghentikan langkahku. Hah mau apa sih dia? Apa dia kurang puas sudah merusak moodku hah?

“Mau bicara apa? Cepat katakan saja di sini. Aku tidak punya banyak waktu.” Ujarku dingin.

“Tidak bisa di sini Jiyeong-a, aku tak mau ada orang lain yang mendengar.”

“Yasudah kalau begitu kau tidak usah bicara saja padaku. Lagipula ini sudah mau bel, aku tidak mau membuang waktuku dan akhirnya aku terlambat masuk kelas hanya karena bicara denganmu.”

“Baik. Karena aku tetap harus bicara denganmu jadi aku akan menunggu sampai waktu istirahat dan saat itu kau harus ikut denganku.”

“Jadi sekarang kau memerintahku hah? Aku tidak mau. Memangnya apa yang kau mau biacarakan sampai kau berani memerintahku seperti itu, Lee Hyuk Jae?” aku menaikan sebelah alisku yang sengaja untuk menantangnya.

“Mengenai masalah tadi.” Jawabnya santai.

“Masalah apa hah? Aku rasa aku tidak mempunyai masalah denganmu.” Jawabku pura-pura tidak tahu.

“Jangan pura-pura tidak tahu Jiyeong-a, aku tahu kau pasti melihatnya kan?” Sial! Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sekarang aku harus menjawab apa? Memang tadi aku melihatnya, jadi aku tak mungkin berbohong padanya.

“Hah benar dugaanku kau pasti salah paham. Ya tenang saja, aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Jika mencekik orang itu tidak berdosa, mungkin aku sudah mencekik laki-laki menyebalkan di depanku ini daritadi.

“Lalu apa urusannya denganku? Mau kau masih mempunyai hubungan dengan gadis itu atau bahkan sedang menjalani hubungan dengan gadis itu memangnya itu urusanku?!” hampir saja aku melempar buku yang aku pegang ke wajahnya jika bel tidak berbunyi.

“Ya Eunhyuk-ssi, kau beruntung. Andai saja bel ini tidak berbunyi mungkin buku ini sudah melayang ke arahmu.” Aku segera berbalik dan meninggalkan Eunhyuk yang masih berdiri di depan pintu. Lihat saja nanti! Kau, Lee Hyuk Jae, akan aku acuhkan kau hari ini!

***

“Aissshh perutku lapar sekali, tapi aku juga sedang malas ke kantin. Dan tak mungkin aku meminta tolong pada makhluk di sebelahku ini kan?” Hah kali ini rasa laparku mengalahkan rasa malasku. Dengan malas aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas menuju kantin.

“Jiyeong-a, kau mau ke mana?” Aku diam tidak menanggapi pertanyaannya dan dengan santai aku melanjutkan perjalananku ke kantin.

“Jiyeong-a! Kau mau ke mana?” Kali ini Eunhyuk mengeraskan volume suaranya. Ya! Memangnya aku tuli apa? Haha rasakan kau! Hari ini aku akan mengacuhkanmu. Cih dasar Hyukjae menyebalkan!

Sret. Tiba-tiba Eunhyuk menarik tanganku, memang tidak terlalu kasar tapi tetap saja untuk seorang wanita cengkramannya ini terlalu keras.

“Yak! Lepaskan tanganmu ini! Kau pikir ini tidak sakit hah? Aaah.” Aku meringis kesakitan.

“Aku sudah bertanya padamu baik-baik tapi kau malah mengacuhkanku. Kau yang memaksaku untuk melakukan ini Kim Jiyeong.” Eunhyuk membalasku dengan ucapan tajam.

“Kau sebenarnya mau melakukan apa hah?! Jangan bertele-tele! Cepat katakan apa maumu di sini!”

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menarikku keluar kelas. Aisssshhh dia ini maunya apa sih?

“YA! LEE HYUK JAE! LEPASKAN AKU! KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA HAH?!” aku berteriak padanya karena kesal dengan sikapnya yang seenaknya itu. Cih, memangnya siapa dia, menarikku dengan seenaknya?

“Jangan berteriak bodoh! Aku tidak tuli!”

“KALAU BEGITU CEPAT KATAKAN KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA?!” aku masih juga belum mengurangi volume suaraku.

“Lihat saja nanti. Jangan cerewet!”

Errrgghhh rasanya aku sudah sangat ingin melemparkan sepatuku ini ke wajahnya! Dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae sialan! Seenaknya saja dia bersikap begini padaku! Ya! Lihat kan sekarang? Aku menjadi tontonan murid-murid lain! Awas saja kau nanti! Kau tidak akan lolos dariku!

“Yap. Sekarang kita sampai!” kata Eunhyuk yang sontak menyadarkanku.

“Ini kan taman belakang sekolah. Mau apa kau mengajakku ke sini?”

“Untuk bicara denganmu.”

“Bisa tidak kau kurangi sifat bodohmu itu? Kalau hanya bicara kenapa harus mengajakku ke sini?”

“Aku sudah bilang aku tidak mau ada orang lain yang mendengarnya.”

“Memangnya sepenting apa yang mau kau bicarakan sampai-sampai kau ingin tidak ada orang lain yang mendengarnya?”

“Memang menurutmu mungkin tidak penting, tapi ini menurutku penting.”

“Jangan membuatku penasaran! Cepat bicara sekarang!”

“Hhhmm baik sebenarnya aku ingin menjelaskan…”

“Yak! Tunggu! Sebelum bicara panjang lebar, lepaskan tanganku dulu. Cengkramanmu itu menyakitkan sekali Eunhyuk-a.”

“Oh maaf. Aku lupa.” Eunhyuk melepaskan tanganku. Dia terlihat salah tingkah. Dan wajahnya itu…hahaha sangat menggelikan.

“Ya, wajahmu kenapa begitu?  hahaha jadi seoarang seorang Lee Hyuk Jae sedang salah tingkah?” Aku menggodanya. Dan benar saja wajahnya itu semakin lucu.

“Jiyeong-a bukan saatnya untuk bercanda, sekarang itu waktunya serius. Aku ingin menjelaskan padamu kejadian tadi pagi. Kau tahu? Semua yang kau lihat itu tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kau jangan salah paham. Aku dan Ji Eun, gadis yang tidak sengaja kau lihat sedang berpelukan tadi pagi sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Ya, aku akui dia mantan kekasihku. Kami sudah putus enam bulan yang lalu. Aku yang  memutuskannya karena dia mengkhianatiku. Dia mempunyai seorang kekasih lagi di belakangku. Awalnya memang aku kecewa, tapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa memang dari awal aku tak pernah mencintainya. Dan tadi pagi itu, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali. Jelas saja aku menolaknya karena memang aku tak mempunyai perasaan apapun lagi terhadapnya. Nah, jadi kau tidak salah paham lagi kan kepadaku?” Eunhyuk menyudahi penjelasannya itu. Aku hanya melongo mendengarnya. Tidak tahu harus merespon apa. Tap yah aku akui aku merasa sedikit lega dengan penjelasannya barusan.

“Ya! Apa kau masih salah paham juga? Kenapa kau diam saja?” ulang Eunhyuk.

“Jadi, kau jauh-jauh membawaku ke sini dan membuat tanganku merah begini, hanya karena ingin menjelaskan hal itu? Aissshhhh kau benar-benar bodoh! Memangnya aku meminta penjelasanmu itu hah? Memangnya urusanku dengan kalian berdua apa? Bagiku tidak ada masalah jika kau masih mempunyai perasaan dengan mantan kekasihmu itu.”

“Tapi bagiku itu masalah Jiyeong-a, aku tidak mau membuatmu salah paham.”

“Tuan Lee yang sok tahu, makanya lain kali kau bertanya dulu sebelum mengambil keputusan atau berbuat sesuatu. Perlu kau ketahui, aku sama sekali tidak salah paham. Aku sudah mendengarnya tadi pagi saat kau menolaknya. Bukankah kau sengaja tadi mengeraskan suaramu agar aku mendengarmu?”

“A-a-aku kira kau tidak mendengarnya makanya aku menjelaskannya padamu.”

“Aissshhh sudahlah kau sudah selesai bicara kan? Baiklah aku pergi sekarang. Aku lapar ingin ke kantin.” Aku berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Eunhyuk.

“Tunggu dulu. Sekarang giliran kau yang menjelaskan semuanya padaku.” Eunhyuk kembali menarik tanganku.

“Mwo? Giliran aku? Memangnya apa yang harus aku jelaskan padamu? Ayolah Eunhyuk-a, jangan bercanda, aku ini sudah tidak makan 2 hari, perutku lapar sekali.”

“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk tidak makan hah? Itu salahmu sendiri! Sekarang jelaskan padaku, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Hyuri noona dan eommamu.” Perintah Eunhyuk. Hhhh. Aku menarik nafasku dalam. Jadi ini yang dia minta jelaskan dariku? Bagaimana hubunganku sebenarnya dengan Hyuri dan eomma? Ani. Aku tidak bisa menjelaskan padanya. Aku paling tidak bisa menahan air mataku jika sudah menyangkut mereka berdua. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya. Bagaimana jika nanti aku menangis saat menceritakannya? Tidak bisa. Aku sudah pernah sekali, ehm bukan maksudku dua kali menangis di depannya, jadi tidak mungkin kali ini aku menangis di depannya lagi.

“Jiyeong-a, ayo cepat jelaskan padaku.” Pinta Eunhyuk lagi.

“Apa yang harus kujelaskan hah?! Tentu saja hubunganku dengan mereka baik! Kau ada-ada saja menanyakan hal bodoh seperti itu. Sudah ya, aku mau ke kantin. Perutku sudah berkali-kali berbunyi minta diisi. Sampai nanti…”

“Bohong. Kau pasti bohong. Jika memang hubunganmu baik dengan mereka, lalu kenapa kau memanggil Hyuri noona tanpa embel-embel eonni? Lalu kenapa eommamu bisa menamparmu seperti kemarin malam? Setahuku seorang ibu tidak akan tega menampar anaknya sendiri. Dan lagi pula…”

“Hentikan Lee Hyuk Jae.” Aku nyaris kehilangan kesabaranku karena mendengar ucapan Eunhyuk.

“Aku belum selesai, Jiyeong-a. Dan lagi pula jika memang hubunganmu baik eommamu, ia pasti akan tergesa-gesa pulang dari kantornya begitu mendengarmu sakit. Tapi yang kulihat malah sebaliknya. Eommamu malah memarahimu dan…”

“AKU BILANG HENTIKAN LEE HYUK JAE!” aku kembali memotong ucapannya. Kali ini benar-benar kesabaranku sudah habis. Hatiku kembali merasa sakit.

“Memangnya kenapa hah? Jadi benarkan apa yang aku kira? Hubunganmu dengan mereka memang tidak baik! Sekarang cepat jelaskan padaku yang sebenarnya!”

“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu.” Jawabku sinis. Aku sudah sekuat tenaga menahan emosiku agar tidak meledak-ledak dan yang paling penting agar aku tidak menangis.

“Kenapa tidak bisa? Kau membuatku merasa menjadi seorang teman yang gagal kau tahu? Lalu apa gunaku di sini jika tidak bisa mendengarkan semua keluh kesahmu? Apa kau takut akan menangis di depanku? Ya! Jiyeong-a, meski kau mencoba berusaha tegar, aku tahu kau tetaplah seorang gadis yang rapuh. Kau mungkin bisa saja menutupi perasaan sedihmu itu di depan eommamu dan Hyuri noona dengan bersikap kasar, tapi tidak denganku. Aku mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Jadi jika memang kau ingin menangis, menangislah sepuasnya sekarang, di depanku. Aku tidak akan keberatan dengan hal itu.” Untuk yang kedua kalinya aku melongo mendengar ucapannya. Bahkan seorang Lee Hyuk Jae yang baru aku kenal 2 hari yang lalu lebih mengerti perasaanku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku belasan tahun. Ini benar-benar aneh.

“Hah, jadi aku harus memulai darimana?” tanyaku pasrah.

“Kau bisa mulai dari alasan eommamu bersikap kasar terhadapmu.” Jawabnya. Aisshh benarkah aku harus menjelaskan hal ini padanya? Menjelaskan kejadian yang terjadi belasan tahun yang lalu, yang membuat eomma begitu membenciku? Aku yakin Eunhyuk pasti tidak akan mempercayainya, karena aku pun juga begitu. Alasan bodoh yang tidak masuk akal. Aku membuka mulutku dan memulai penjelasanku.

“Aku sebenarnya juga tidak yakin dengan alasan ini. Karena menurutku ini alasan bodoh dan tidak masuk akal. Dulu sekitar umurku masih 6 tahun dan Hyuri 8 tahun, eomma mengajak kami ke pesta pernikahan relasi bisnisnya. Tapi sebelum itu eomma sudah memberi tahuku dan Hyuri, jika nanti ditanya oleh teman eomma di mana keberadaan appa, eomma menyuruh kami untuk mengatakan bahwa appa sudah meninggal. Aku juga tidak tahu mengapa eomma menggunakan alasan itu. Padahal yang aku tahu, appa masih hidup, tapi aku tidak tahu di mana keberadaannya. Memang aku sering mendengar eomma bertengkar dengan appa di telfon, eomma mengatakan bahwa, appa itu suka main wanita, tukang mabuk, dan kerjaannya hanya memoroti uang eomma, makanya eomma dan appa berpisah. Aku yang waktu itu belum terlalu mengerti, mengiyakan permintaan eommaku. Dan akhirnya ketika aku ditanya oleh relasi bisnis eomma, tentang keberadaan appaku, aku menjawab tidak sesuai dengan apa yang eomma minta. Aku menjawab dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang aku tahu. Waktu itu eomma bilang pada temannya jangan mempercayai omongan seorang anak kecil. Tapi sepertinya teman eomma tidak mau mendengarnya, dan ia pun kecewa dengan eomma yang sudah membohonginya dan akhirnya memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan eomma. Memang perusahaan eomma tidak bangkrut, tapi eomma mengalami kerugian besar. Dan saat itu juga, eomma menyeretku pulang ke rumah dan memakiku di rumah. Eomma mengurungku di kamar selama 3 hari tanpa memberiku makanan atau minuman dan sampai pada akhirnya aku sakit. Tapi kau tahu? Saat itu eomma tidak memperdulikanku sama sekali. Dia bilang bahwa, kerugian yang diderita eomma itu salahku, jadi aku pantas mendapatkan hukuman itu, dan bahkan katanya hukuman yang aku dapatkan belum sebanding dengan kerugian yang eomma derita…” Butir-butir bening mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku mulai kesusahan untuk mengucapkan kata-kata berikutnya.

“Tenanglah Jiyeong, jika kau memang ingin menangis, menangislah. Tidak apa-apa.” Eunhyuk menenangkanku sambil menepuk bahuku. Aku merasa sedikit mendapat kekuatan darinya dan aku pun mulai melanjutkan ceritaku.

“Dan mulai saat itu, eomma terus mengacuhkanku, tapi tidak dengan Hyuri. Apa yang didapatkan Hyuri berbanding terbalik dengan yang aku dapatkan. Hyuri selalu mendapat pujian dari eomma dan aku selalu mendapat cacian darinya. Eomma selalu menuntutku untuk bisa seperti Hyuri. Tapi aku tidak suka itu. Makanya aku sering berbuat onar di mana-mana, itu semua aku lakukan semata-mata untuk menunjukkan bahwa aku tidak suka dan aku butuh perhatian dari eomma. Dan jika kau mau tahu, eomma sudah menamparku puluhan kali, jadi jangan kaget jika kau melihatnya menamparku semalam hehehe.” Aku tertawa getir saat mengatakan hal itu. “Jadi bagaimana? Sudah puaskan kau sekarang? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu.” Tambahku lagi.

“Jiyeong-a, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih begitu. Aku tidak tahu jika eomma mu seperti itu.”

“Hahaha sudahlah tidak apa-apa. Ya Eunhyuk-a, kau adalah orang pertama yang aku ceritakan masalah ini. Kau beruntung, Eunhyuk-a~ kau selalu jadi yang pertama hahaha.” Aku tertawa lagi. Tapi tidak untuk hatiku. Justru hatiku ini rasanya sakit sekali.

“Kau tidak usah menyembunyikan air matamu dengan tawamu itu. Aku tahu walau kau tertawa tapi hatimu tidak kan?” Yap. Tepat sekali. Aku memang berusaha tertawa untuk menyembunyikan air mata yang sebenarnya sudah mendesak ingin keluar.

“Lalu aku harus bagaimana Eunhyuk-a? Aku sudah berusaha untuk mengatakan pada eomma, bahwa aku juga butuh perhatian seperti Hyuri, tapi eomma malah balik memarahiku dan selalu mengungkit kebodohan yang aku lakukan di masa lalu. Aku tahu aku memang bodoh, tapi apakah eomma tidak bisa memaafkanku? Apakah harta lebih penting dariku? Ani. Maksudku apakah harta lebih penting dari nyawaku? Aku sering ragu dan bertanya pada diriku sendiri, apakah dia ibuku atau bukan? Sakit sekali rasanya. Melihat saudaramu di puji di depanmu dan kau hanya dijadikan barang rongsokan yang hanya pantas untuk dibuang. Aku merasa kesepian, aku merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti aku. Aku sudah lelah Eunhyuk-a, aku lelah merasakan sakit ini, aku lelah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” kali ini air mataku benar-benar tak bisa dibendung lagi. Dengan derasnya air mataku jatuh membanjiri pipiku. Sekarang aku tak berusaha untuk menahan tangisku, karena aku pikir dengan menangis semua beban yang selama ini aku rasakan bisa hilang.

Author’s POV

Tangisan Jiyeong semakin menjadi-jadi saja. Eunhyuk yang tidak tega melihat Jiyeong menangis seperti itu, akhirnya menarik Jiyeong ke dalam pelukannya. Awalnya Jiyeong agak terkejut dengan perlakuan Eunhyuk tersebut dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi Eunhyuk malah mempererat pelukannya itu dan mengusap punggung belakang Jiyeong.

“Ya, sekarang kau menangislah sepuasnya dan tolong dengarkan aku. Jiyeong-a, mianhae aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagimu, aku tak bisa memberimu saran atas apa yang harus kau lakukan dengan Hyuri noona dan eommamu karena jujur aku tak mengalaminya. Tapi kau punya aku di sampingmu yang akan terus mendukungmu. Kau bisa ceritakan semua keluh kesahmu agar kau menjadi lega, atau kau bisa pinjam bahuku untuk menangis. Jadi kau mau memaafkanku kan?” kata Eunhyuk sambil melepaskan pelukannya terhadap jiyeong.

“Kau bodoh! Untuk apa kau minta maaf padaku hah? ” jawab Jiyeong yang masih terisak. “Dengan kau mau mendengarkan ceritaku saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, dan ketika aku menceritakannya padamu aku merasa sedikit lega. Aku tidak tahu kenapa, kau yang baru kukenal 2 hari yang bahkan bisa jauh lebih mengerti aku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku selama belasan tahun.” Lanjut Hyuri lagi, tapi kini dengan tangisan yang sudah mereda.

Eunhyuk hanya diam mendengar ucapan Jiyeong dan kemudian tersenyum.

“Kalau benar begitu, aku siap menjadi teman setia curhatmu. Kau boleh datang ke rumahku atau kau hubungi aku kapan saja saat kau ingin mengeluarkan semua keluh kesahmu.” Ucap Eunhyuk sambil mengusap air mata Jiyeong.

“Ya! Bagaimana jika aku nanti ke rumahmu larut malam? Apa kau akan tetap menerimaku?” tanya jiyeong tak percaya.

“Tentu saja. Bukankah itu gunanya teman? Sudah ya, kau jangan menangis lagi, wajahmu itu jelek sekali saat menangis hahaha.” Eunhyuk tertawa saat mengatakan hal itu dan menunjukkan gummy smile-nya.

Jiyeong mematung di tempat saat melihat Eunhyuk tertawa seperti itu. “Senyumannya terlalu menawan, sampai-sampai aku tak bisa mengontrol detak jantungku yang makin tak karuan ini.” Batin Jiyeong.

“Ya! Sekarang kau malah diam begitu. Kau menyeramkan sekali Jiyeong-a~” Eunhyuk bergidik ngeri.

“Eh? Kau pikir aku ini kesurupan begitu?” tanya Joyeong tak terima.

“Ani bukan maksudku begitu, hanya saja kau habis menangis tiba-tiba berdiri mematung seperti itu, makanya aku kira kau kesurupan.” Jawab Eunhyuk santai. “Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.” tawar Eunhyuk pada Jiyeong.

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?” kini Jiyeong sudah berhasil untuk menghentikan tangisnya sepenuhnya.

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!” ancam Eunyuk.

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~” jawab Jiyeong.

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?” goda Eunhyuk.

“Te-tentu saja makan ramen gratis bodoh! Percaya diri sekali kau ini.” Jiyeong terlihat salah tingkah.

“Tidak usah malu-malu begitu Jiyeong-a~ Kalau kau memang senang makan denganku, ada yang salah?” Eunhyuk malah makin menggoda Jiyeong. Dan Jiyeong pun makin terlihat salah tingkah.

“Dasar menyebalkan! Sudahlah kalau begitu aku tak jadi mau ditraktir denganmu.” Balas Jiyeong pura-pura marah.

“Aisssh kau pemarah sekali Jiyeong-a~ aku kan hanya bercanda. Yasudah ayo kembali ke kelas! Pasti sebentar lagi bel akan berbunyi.” Eunhyuk mengacak rambut Jiyeong pelan sambil tersenyum.

Dasar Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sudah berapa kali dia membuatku tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri hah?

“Ya! Kenapa masih di situ? Ayo cepat ke kelas!” kata Eunhyuk lagi. Dan kali ini Eunhyuk menarik tangan Jiyeong. Kali ini tarikan Eunhyuk lebih lembut, tidak seperti tadi yang menarik Jiyeong dengan kasar.

Mereka berdua berjalan ke kelas dengan sedikit terburu-buru karena memang bel sudah berbunyi. Tapi meskipun begitu, sesekali terlihat Eunhyuk sedang meledek Jiyeong dan Jiyeong pun yang tak terima atas ledekan Eunhyuk membalasnya. Terdengar sesekali teriakan Jiyeong yang mengatakan. “Lee Hyuk Jae bodoh!” atau “Lee Hyuk Jae menyebalkan! Awas kau ya!” Eunhyuk dan Jiyeong terlalu asik dengan aktivitas mereka sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka daritadi.

“Jadi karena gadis itu kau menolakku, Lee Hyuk Jae?” Ji Eun yang sedari tadi memperhatikan Jiyeong dan Eunhyuk di taman belakang sekolah itu pun geram. “Baiklah kita tunggu siapa yang akhirnya jadi pemenangnya, aku atau gadis sialan itu.” Nada bicara Ji Eun benar-benar terdengar mengerikan dan memberi isyarat bahwa sudah pasti pemenangnya adalah Ji Eun.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a~ kau mau pesan apa?” tanya Eunhyuk. Ya kami sekarang sudah berada di kedai ramen.

“Aku tidak pernah makan di sini. Jadi aku ikut saja denganmu.” Jawabku.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk sambil mengangkat tangannya untuk memanggil ahjumma penjaga kedai ini. “Aku minta 2 mangkuk ramen ya!” pinta Eunhyuk. “Ne.” Jawab Ahjumma itu ramah.

“Kau sering makan di sini?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Hhhm tidak juga. Biasanya aku makan di sini bersama noonaku, tapi karena sekarang dia sedang sibuk, aku jadi jarang ke sini. Memangnya kenapa?”

“Ooh begitu. Tidak pa-pa, hanya saja aku melihatmu sudah sering makan di sini.”

“Tenang saja, ramen di sini rasanya tidak ada duanya, mungkin kau akan meminta tambah nanti jika kau sudah memakannya.”

“Ya! Kau pikir aku serakus apa hah? Memang aku sudah tidak makan 2 hari, tapi untuk memesan ramen sampai 2 mangkuk rasanya itu terlalu berlebihan.”

“Aku kan hanya menebak. Kau benar, ramen di sini itu sungguh porsinya sangat besar, jadi tidak mungkin seseorang bisa makan sampai 2 mangkuk. Ya kecuali jika orang itu memiliki perut karet.” Eunhyuk berkata dengan wajah polosnya itu.

“Ternyata kau bisa membuat lelucon juga ya hahaha.” Aku tertawa karena mendengar leluconnya itu. “Eunhyuk-a~ sehabis makan ramen ini bagaimana jika kita jalan-jalan? Aku malas pulang ke rumah.” Tanyaku pada Eunhyuk.

“Aku sih tidak keberatan. Tapi bagaimana nanti jika kau dimarahi eommamu karena pulang malam?”

“Tidak akan. Kau tenang saja, eomma sedang bertugas di Jepang selama satu minggu, jadi aku bebas.” Jawabku senang. “Jadi bagaimana, kau mau tidak?” ulangku.

“Hhhmm jika aku mau, apa imbalan yang akan kau berikan untukku?”

“Ya! Katanya kau temanku! Kenapa malah meminta imbalan?”

“Aissshhh kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda Jiyeong-a~ baiklah aku mau menemanimu jalan-jalan.”

“Jinjja? Ah jeongmal gomawo Eunhyuk-a~” ucapku sambil tersenyum.

Tak lama kemudian ramen yang kami pesan datang. Aku pun langsung melahap ramenku itu karena memang perutku sudah sangat lapar. Terserah Eunhyuk mau mengatakan bahwa aku ini ini gadis rakus atau apa yang penting sekarang adalah perutku segera diisi.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” Eunhyuk memperingatiku.

“Biarlah, aku sangat lapar. Kau jangan urus aku, kau nikmati saja ramenmu itu!” balasku.

“Tch terserah sajalah. Tapi kalau kau tersedak jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatimu.”

Baru saja Eunhyuk menyudahi ucapannya itu, benar saja aku tersedak ramen yang hendak mau kutelan.

“Uhuk uhuk uhuk.” Aku kelimpungan mencari air minum.

“Sudah kubilang kalau makan pelan-pelan, kau tidak percaya padaku sih. Ini minum.” Eunhyuk menyodorkan sebuah gelas berisi air putih ke arahku. Aku mengambilnya dan segera meminum air putih itu.

“Aaah, gomawo.” Kataku yang sudah merasa sedikit lega.

“Hhhm. Lanjutkan makanmu sekarang, tapi ingat jangan sampai tersedak lagi. Dan sehabis ini kita jalan-jalan.”

“Arra-yo, Eunhyuk-a~”

Aku kembali melanjutkan menyantap ramenku. Kali ini lebih pelan, karena aku takut tersedak lagi. Aku baru menyadari sekarang bahwa ramen ini benar-benar enak. Eunhyuk pintar sekali memilih kedai makan yang tepat.

***

“Jiyeong-a, sekarang kau mau ke mana lagi hah? Ini sudah malam, apa kau tidak lelah?” tanya Eunhyuk padaku. Ya, sehabis makan tadi, aku dan Eunhyuk berjalan-jalan di sekitar Seoul, dan mungkin sepertinya aku lupa waktu jadi tidak menyadari kalau ini sudah malam.

“Hhhm aku mau berjalan-jalan di sekitar Sungai Han dulu. Pemandangan di sana sangat indah pada malam hari seperti ini.” Jawabku sambil melayangkan pandanganku ke sekitar.

“Apa kau tidak bosan? Bukannya setiap hari kau melewati Sungai Han saat mau ke sekolah?”

“Iya memang. Tapi pemandangan di pagi dan malam hari itu jauh berbeda Eunhyuk-a~ Coba itu lihat! Bagus sekali kan?” tunjukku pada air mancur yang berwarna-warni yang memang hanya indah jika dilihat malam hari.

“Aku sudah sering melihatnya. Kau ini seperti bukan penduduk Seoul saja, yang norak jika melihat air mancur itu. Air mancur itu kan memang selalu begitu setiap malam.”

“Ya! Kau! Kalau tidak mau melihat yasudah sana pulang! Lagipula berjalan-jalan dengan orang cerewet sepertimu tidak asik! Lebih baik aku jalan-jalan sendiri.”

“Aku kan hanya bilang yang sebenarnya. Kau memang norak, melihat seperti itu saja seperti anak kecil yang kegirangan saat mendapat permen dari ibunya.”

“Cih terserah kau sajalah.” Aku mengekerucutkan bibirku karena sedikit kesal dengan Eunhyuk. Seenaknya saja dia mengataiku norak dan seperti anak kecil! Huh.

Aku masih saja memandangi indahnya pemandangan Sungai Han di malam hari ketika aku melihat seorang gadis yang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang…hhhmm sepertinya mereka mabuk. Tunggu sebentar, seragam yang dikenakan gadis itu, sama seperti seragam yang aku kenakan! Berarti gadis itu satu sekolah denganku dan Eunhyuk. Aku harus menolongnya, kasihan gadis itu jika sampai di apa-apakan oleh ahjussi pemabuk itu.

“Eunhyuk-a! Coba lihat gadis itu! Dia satu sekolah dengan kita kan?” aku menunjuk ke arah gadis itu dan Eunhyuk pun melihat ke arah yang aku tunjuk.

“Iya benar. Jiyeong-a, dia sedang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang sedang mabuk. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Eunhyuk panik. Di saat seperti ini saja sifat bodohnya itu belum hilang juga.

“Tentu saja menolongnya bodoh! Kau ini laki-laki kan? Pasti bisa melawan ahjussi-ahjussi itu, apalagi mereka sedang mabuk, jadi pasti mudah untuk melawannya.”

“Ah iya kau benar. Ayo kita ke sana.” Eunhyuk menarik tanganku dan mendekat ke arah gadis itu.

Sampai di sana, Eunhyuk melepaskan tangannya dan membisikan sesuatu pelan di telingaku.

“Ya, kau jangan dekat-dekat dengan mereka. Meskipun mereka itu seorang ahjussi tapi mereka sedang mabuk, dan aku tidak tahu apakah mereka membawa senjata tajam atau tidak. Kau mengerti?”

“Aku mengerti.” Eunhyuk segera mendorongku ke belakang tubuhnya. Di saat seperti ini Eunhyuk benar-benar terlihat seperti lelaki sejati yang ada di drama-drama. Aku pun tak henti-hentinya berdecak kagum dengan sikapnya itu.

“Ya! Ahjussi! Mau apa kalian menganggu gadis itu hah?” tanya Eunhyuk tajam.

“Kau ini siapa anak muda? Jangan coba-coba menganggu kami. Kami hanya ingin bermain-main sebentar dengan gadis ini.” Jawab salah seorang ahjussi itu.

“Aku ini temannya! Kau tidak lihat seragam yang kami pakai sama hah?” balas Eunhyuk lagi. “Ya, sudah jangan ganggu gadis ini lagi, lebih baik ahjussi seperti kalian pulang ke rumah saja!” ejek Eunhyuk.

“Dasar anak kurang ajar! Kau meledek kami hah? Apa kau belum pernah dihajar?!” seorang dari mereka mulai merasa geram dengan Eunhyuk. Eunhyuk yang tidak takut dengan gertakan ahjussi itu malah melangkah maju dan menantang mereka.

“Aku tidak takut dengan kalian! Kalian itu kan hanya ahjussi-ahjussi, jadi tidak mungkin menang melawanku meskipun kalian berdua dan aku sendiri!” tantang Eunhyuk. “Ssst kau nona, untuk apa masih disitu? Cepat lari ke sini. Kau tidak mau kena pukulanku kan?” tambah Eunhyuk pada gadis itu. Aku lihat gadis itu tak banyak bicara dan menuruti perintah Eunhyuk. Ia segera pergi dari tempatnya dan berlari ke arahku. Aku melihat wajahnya pucat. Ya, dia pasti ketakutan setengah mati.

“Jiyeong-a, kau jaga gadis itu. Dan ingat jangan sekali-sekali mencoba mendekat. Sepertinya mereka itu berbahaya.” Kata Eunhyuk pelan. Aku hanya mengangguk. Dan aku melihat Eunhyuk melangkah sedikit demi sedikit ke arah mereka.

“Ya! Sini lawan aku jika kalian berani!” tantang Eunhyuk. Aissshh dasar bodoh! Kenapa dia malah menantang begitu? bagaimana nanti jika dia kalah hah?

BAK. BUK. BAK. Pukulan demi pukulan Eunhyuk berikan pada ahjussi-ahjussi itu. Awalnya memang Eunhyuk yang menguasai perkelahian itu, tapi lama kelamaan, karena Eunhyuk sendiri dan mereka berdua, Eunhyuk kelelahan dan jatuh setelah diselengkat oleh seorang dari mereka.

“Ya, kau anak muda ini balasannya jika kau bersikap kurang ajar terhadap orang tua.” Seorang dari mereka membangunkan Eunhyuk secara kasar dengan menarik kerah bajunya dan memojokkan Eunhyuk ke pohon. Eunhyuk berusaha melawan tapi mungkin tenaganya yang sudah terkuras itu tidak mampu melawan dua orang sekaligus. Aku dan gadis di sebelahku ini hanya bisa menonton perkelahian itu. Aku dan dia tidak ada yang berani mendekat.

“Nona-nona manis, apakah salah seorang dari kalian tidak berniat untuk menolong teman kalian yang kurang ajar ini hah?” tanya seorang ahjussi itu dengan sinis. Aku dan dia sedikit mundur karena ahjussi itu berjalan mendekati kami.

“Ahjussi sialan! Jangan coba mendekati mereka!” teriak Eunhyuk.

BUK. Seorang Ahjussi yang memegangi Eunhyuk itu menendang perut Eunhyuk. Darah muncrat dari mulutnya.

“Kau belum puas hah? Mau kami pukul lagi?” tanyanya pada Eunhyuk.

“Pukul saja aku asalkan jangan ganggu kedua gadis itu!” tantang Eunhyuk.

Dan benar benar saja kedua ahjussi itu memukuli Eunhyuk lagi dengan tanpa ampun. Darah sudah keluar baik dari hidung maupun mulutnya. Aku yang melihat kejadian itu benar-benar geram. Aku tidak bisa melihat Eunhyuk diperlakukan seperti itu sementara aku diam saja seperti ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar untuk mencari sesuatu yang setidaknya cukup keras dan bisa digunakan untuk memukul. Dan yap, akhirnya aku mendapatkan sebalok kayu. Aku mundur perlahan-lahan agar tidak diketahui. Setelah aku dapatkan balok kayu itu, aku segera maju dan memukul kedua ahjussi itu dengan sekuat tenaga. Mereka berdua yang tadinya berniat untuk memukuli Eunhyuk lagi, terpental karena pukulan yang aku berikan. Aku melempar balok kayu itu ke sembarang tempat. Dan segera menghampiri Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, kau tidak apa-apa?” tanyaku panik.

“Untuk apa kau ke sini hah? Sudah kubilang kau jangan mendekat!” teriak Eunhyuk marah. Aku hanya menunduk karena mendengar teriakan Eunhyuk. Jujur aku sekarang lebih takut dengan teriakan Eunhyuk daripada kedua ahjussi menyebalkan itu.

“Ta-tapi aku ingin…”

Bruk. Eunhyuk mendorongku sehingga aku jatuh ke tanah bersamanya. Aku yang kaget hanya memejamkan mataku. Tapi setelah beberapa lama, tidak ada yang terjadi. Akhirnya aku membuka mataku perlahan.

“Eunhyuk-a. Apa yang terjadi?” tanyaku pelan.

“Salah seorang dari mereka ingin memukulmu dengan balok kayu dan kau tidak melihatnya, makanya aku mendorong kau ke tanah. Aku pikir, aku yang akan terkena pukulan itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa.” Jawab Eunhyuk.

“Lalu…apa yang terjadi dengn ahjussi itu?” tanyaku lagi. Jujur aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Posisi Eunhyuk yang berada di atas tubuhku ini menyebabkan kerja otakku tidak beres. Dari dekat aku bisa melihat wajahnya yang babak belur dan darah di mana-mana.

“Rasakan itu! Dasar ahjussi menyebalkan! Awas kalau kau berani menganggu kami lagi!” bukan Eunhyuk yang berkata seperti itu, tapi gadis yang sedari tadi diam di sampingku itu.

“Mereka sudah kuberi pelajaran dengan memukulnya dengan balok kayu berkali-kali. Dan mereka sekarag sudah pergi. Kalian tidak apa-apa?” tanya gadis itu. Ia membantu Eunhyuk berdiri dan kemudian Eunhyuk membatuku untuk berdiri. Aissshh tanganku sakit sekali karena terbentur tanah tadi saat didorong Eunhyuk.

“Ya tidak apa-apa.” Jawab aku dan Eunhyuk nyaris bersamaan.

“Hei bodoh! Mana bisa kau bilang dirimu tidak apa-apa hah? Itu lihat mukamu babak belur begitu!” kataku kesal pada Eunhyuk.

“Aku tidak mungkin kan bilang bahwa aku sakit? Cih mau taruh di mana martabatku sebagai laki-laki?”

“Sudah babak belur begitu masih memikirkan masalah martabat.” Jawabku sinis. Gadis itu hanya tertawa melihat aku dan Eunhyuk. Tunggu tunggu, bukannya gadis itu yang aku temui di rumah sakit waktu itu ya? Yang kekasihnya aku tolong karena kecelakaan itu! Ah iya ini pasti dia.

“Hhmm maaf nona, bukankah kau gadis yang waktu itu bertemu denganku di rumah sakit?” tanyaku pelan-pelan takut salah orang. Gadis itu terlihat mengamati wajahku sebentar lalu membuka suaranya.

“Ah, Jiyeong-ssi. Kim Jiyeong, benar kan?” tebaknya. Ah syukurlah rupanya dia masih ingat, jadi aku tak perlu repot-repot membantunya mengingat.

“Ne. Syukurlah kau masih ingat denganku. Jadi siapa namamu? Kalau tidak salah waktu itu kau belum menyebutkan namamu.” Kataku mengingat-ingat.

“Ha Na. Cho Ha Na.” Jawabnya.

“Ah, jadi namamu Ha Na? Hhmm nama yang bagus.” Timbrung Eunhyuk. “Orangnya juga cantik.” Tambah Eunhyuk lagi. Tch dasar pria, meski sudah babak belur masih saja bisa menggoda wanita.

“Ah terima kasih Eunhyuk-ssi.” Jawab Ha Na malu-malu. Aku kesal melihat pemandangan di depanku ini. Kenapa malah jadi aku yang tak dianggap?

“Eunhyuk-ssi, Jiyeong-ssi, terima kasih banyak telah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kalian.” Kata Ha Na sambil membungkukan badannya.

“Tidak usah berterima kasih begitu Ha Na-ssi, itu kan sudah menjadi tugas seorang pria untuk menolong seorang wanita.” Jawab Eunhyuk. Errrrr sudah babak belur begitu masih saja menggoda Ha Na, dasar menyebalkan. Lihat saja nanti akan aku tambah babak belur di wajahnya.

“Ah ne, cheonmaneyo Ha Na-ssi. Jangan memanggilku formal seperti itu, panggil saja aku Jiyeong.” Balasku.

“Baiklah Jiyeong-a. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Aku pamit duluan ya, ini sudah malam.” Ha Na berpamitan dan sekali lagi membungkukan badannya.

“Ne, Ha Na-ssi! Hati-hati di jalan!” jawab Eunhyuk sambil melambaikan tangannya.

Sepeninggal Ha Na, aku pun ikut-ikutan berjalan meninggalkan Eunhyuk yang masih sibuk melambaikan tangannya. Hhhhh dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae menyebalkan!

“Ya, Jiyeong-a, tunggu aku!” panggil Eunhyuk. “Mukamu kenapa cemberut begitu?” tanya Eunhyuk ketika sudah berhasil menyamakan posisinya denganku.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau cemburu ya ketika aku tadi memuji Ha Na?” tebaknya.

“Tch untuk apa aku cemburu memang?”

“Buktinya wajahmu cemberut begitu.”

“Jangan terlalu percaya diri tuan Lee. Itu kan hakmu untuk memuji seseorang, jadi apa yang harus aku cemburui?”

“Kau mau aku bilang cantik juga?”

“Tidak perlu. Cukup Ha Na saja yang kau bilang cantik.”

“Tuh kan, kau pasti cemburu pada Ha Na.”

“Sudah aku bilang aku tidak cemburu!” teriakku mulai kesal.

“Kau galak sekali sih! Kalau kau memang cemburu katakan saja, Jiyeong-a~”

“Kau mau aku lempar dengan sepatu atau aku pukul dengan balok kayu hah?”

“Aigooo baik-baik aku kalah. Iya aku tidak akan membahas hal ini lagi.”

“Bagus. Awas kalau kau membahas hal ini lagi. Jangan kaget kalau tiba-tiba sepatuku melayang ke arah wajahmu!” ancamku.

“Hhhmm.” Jawab Eunhyuk. “Jadi kau tega membiarkanku pulang dengan keadaan seperti ini? Kau tidak mau mengobatiku?” tanya Eunhyuk tiba-tiba. Ah iya benar juga, aku tidak mungkin tega membiarkannya pulang dengan keadaan seperti itu.

“Kau duduk dulu saja di sini. Aku akan kembali setelah membeli alkohol, obat merah, dan kapas yang setidaknya bisa mengobati lukamu itu.” Kataku sambil menyuruh Eunhyuk duduk di kursi yang kebetulan ada di pinggir jalan.

“Kau mau membelinya di mana? Ini kan sudah malam?” tanya Eunhyuk.

“Apotik tidak mungkin tutup walau sudah jam 12 malam kan?”

“Ah iya kau benar. Yasudah jangan lama-lama cepat kembali.” Kata Eunhyuk.

Aku segera berlari dan mencari apotik terdekat. Semoga benar perkiraanku. Apotik tidak akan tutup walau sudah jam 12 malam.

***

“Eunhyuk-a, maaf membuatmu menunggu lama. Kukira apotik di sekitar sini masih buka, tapi ternyata sudah tutup, jadi aku membelinya di mini market yang buka 24 jam di ujung jalan sana.” Kataku sambil mencoba mengatur nafas karena habis berlari.

“Ne, gwenchanayo. Sini kau duduk dulu, nafasmu jadi terengah-engah begitu karena berlari.” Eunhyuk menggeser duduknya ke ujung kursi agar aku bisa duduk di sampingnya. Aku menurut dan langsung mengambil tempat tepat di sampingnya.

“Sini mana wajahmu biar kuobati. Makanya jadi orang jangan sok pahlawan, dengan beraninya menantang kedua ahjussi tadi. Kau itu benar-benar bodoh! Walaupun mereka itu setengah mabuk, tetap saja mereka berdua dan kau sendiri, sudah bisa dipastikan kau akan kalah. Untung saja aku cepat tanggap, coba kalau tidak, kau pasti sudah habis dihajar mereka!” omelku pada Eunhyuk. Tapi meskipun begitu tanganku tetap bergerak melap bekas darah di hidungnya dan mengobati memar di wajahnya.

“Yak! Appo! Pelan-pelan sedikit!” ringis Eunhyuk. “Kenapa kau mengomeliku sekarang? Bukannya kau tadi menyuruhku untuk menolong gadis itu?” tanya Eunhyuk bingung.

“Iya memang, tapi caranya bukan begitu! Bisa saja kan kau bicara baik-baik dengan ahjussi itu, tidak harus dengan kekerasan. Bagaimana kalau tadi aku tak segera memukul ahjussi itu dengan balok kayu hah? Apa yang akan terjadi padamu? Kau bisa mati tahu dihajar oleh mereka!” aku makin tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Unek-unek yang sedari tadi aku pendam, akhirnya aku keluarkan juga.

“Jadi….kau takut aku mati?” tanya Eunhyuk hati-hati.

Aku terkesiap mendengar pertanyaan Eunhyuk barusan. Aku menyadari memang bahwa ucapanku barusan itu tersirat makna, bahwa aku benar-benar takut kalau Eunhyuk mati karena dihajar oleh kedua ahjussi itu dan alasan itu pula yang mendorongku untuk nekat memukul ahjussi itu dengan balok kayu.

“Ng..ng..ng.. tentu saja aku takut kau mati! Kau itu kan temanku, mana ada teman yang menginginkan kematian temannya sendiri kan? Lagipula kalau kau mati, nanti tidak ada yang mengantarku pulang! Dasar bodoh!” jawabku kesal. Aissshh jinjja kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku? Hah biar sajalah, yang penting Eunhyuk tidak mengetahui perasaanku sebenarnya.

“Kau yang bodoh tapi malah meneriaki orang bodoh.”

“Mwo? Apa maksudmu hah?”

“Jadi, kau takut aku akan mati hanya karena khawatir tidak ada yang mengantarmu pulang, begitu?” Pandangan Eunhyuk yang tadinya melihat bebas, kini malah fokus melihatku, dan sukses membuatku semakin salah tingkah.

“I-iya.” Jawabku terbata. Oh ayolah Kim Jiyeong, mana keberanian dirimu itu hah? Kenapa di saat begini kau malah terlihat seperti orang bodoh?

“Kau pikir itu alasan yang masuk akal? Tidak mungkin alasannya hanya itu. Aku yakin kau takut aku mati, karena kau menyukaiku kan? Dan kau takut akan kehilanganku?” tanya Eunhyuk tepat sasaran.

Glek. Aku hanya bisa menelan ludahku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang aku akui itu alasan bodoh yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Tapi mau bagaimana lagi, hanya alasan itu yang terlintas diotakku saat ini.

“Ti-tidak, aku tidak menyukaimu. Sudah aku bilang kan tadi bahwa kau itu temanku, dan tidak ada seorang teman pun yang menginkan kematian temannya sendiri…apa itu kurang jelas?” aku menjawab sebisa mungkin dan nada bicara sedatar mungkin agar Eunhyuk tak salah tangkap dengan apa yang aku ucap.

“Tapi aku menyukaimu.”

-TBC-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s