My First and Only [ Part 3 ]

 

Author : chokyu88

 

Cast     : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

 

Genre  : Romance, Family

 

Length : Chaptered

 

Rating : PG+15

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Tapi aku menyukaimu.” Deg. Kata-kata singkat yang keluar dari mulut Eunhyuk itu sukses membuatku mematung di tempat dan membuatku kehilangan akal sehat. Debar jantungku ini berdetak sungguh keras sampai-sampai aku takut bahwa saking kerasnya ia bekerja, jantungku ini akan lelah dan akhirnya berhenti bekerja. Baiklah mungkin aku terlalu berlebihan kali ini.

 

“A-apa yang kau katakan barusan hah?” tanyaku sambil berusaha menemukan kembali suaraku.

 

“Aku menyukaimu Kim Jiyeong, apa masih kurang jelas? Atau aku perlu berteriak di depanmu saat ini, bilang bahwa aku menyukaimu?” jawab Eunhyuk mantap.

 

“Tch rupanya karena terkena angin malam seperti ini membuatmu bicara melantur Eunhyuk-a, jadi sebaiknya aku cepat mengobati luka di sudut bibirmu itu dan kita pulang.” Aku berusaha bersikap setenang mungkin dan kembali menyibukkan diriku dengan menuangkan sedikit alkohol di kapas kemudian berniat melap bekas darah di sudut bibir Eunhyuk.

 

“Aku sedang tidak bercanda, Kim Jiyeong. Aku serius dalam mengatakan bahwa aku menyukaimu.” Balas Eunhyuk. Memang aku yakini dari nadanya bicara saat ini dia memang tidak sedang bercanda.

 

“Memangnya kau pikir aku sedang bercanda hah? Sudah tidak usah banyak bicara lagi, kemari aku akan obati lukamu itu dan segera pulang.” Eunhyuk tidak membalas lagi ucapanku dan aku merasa senang akan hal itu. Setidaknya aku bisa meredakan sedikit debar jantungku yang bekerja di luar biasanya ini.

 

Aku mengusap pelan-pelan darah yang ada di sudut bibirnya. Aisshhh bukannya malah reda debar jantungku ini malah berdetak makin tak karuan. Rupanya aku salah mengambil keputusan. Dasar Kim Jiyeong bodoh!

 

“Ya! Untuk apa kau memandangiku seperti itu hah?” protesku yang merasa risih karena pandangan Eunhyuk padaku.

 

Hening. Eunhyuk tidak merespon protesku itu. Errr apa perlu laki-laki di depanku ini aku lempar dengan sepatu agar dia tak memandangiku seperti itu? Perbuatan bodohnya itu membuatku salah tingkah sendiri! Apa dia tidak menyadarinya? Huh.

 

“Ya! Lee Hyuk Jae! Tidak bisakah kau berhenti memandangiku seper…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Eunhyuk menarikku dan mendaratkan bibirnya tepat dibibirku, dan kini kedua bibir kami saling bertemu. Aku benar-benar terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Ketika aku berusaha melepaskan diri, Eunhyuk malah menarik diriku agar lebih dekat dengannya dan memperdalam ciumannya padaku. Entah sekarang mukaku sudah seperti apa, tapi aku yakin sekali bahwa mukaku sudah berubah sangat merah seperti kepiting rebus atau bahkan seorang badut. Dan debar jantungku ini bekerja 3 kali lipat dari biasanya. Aisshh pasti Eunhyuk mengetahui hal ini dilihat dari posisinya yang sangat dekat denganku .

 

Tak lama kemudian Eunhyuk melepaskan ciumannya dan tersenyum singkat penuh arti. Aku buru-buru menundukkan wajahku karena tidak mau terlihat bodoh di depannya.

 

“Lee Hyuk Jae sialan, apa baru kau lakukan padaku hah?” protesku geram dengan tetap menundukkan wajahku.

 

“Menghukummu.” Balasnya santai.

 

“Ne?!” tanyaku bingung.

 

“Iya itu akibatnya karena kau menolakku.”

 

“Menolakmu? Memangnya kau meminta apa padaku?”

 

“Tadi saat aku bilang bahwa aku menyukaimu, kau tidak merespon apapun, jadi itu aku anggap sebagai penolakan.”

 

Aku makin tidak mengerti apa yang dimaksud Eunhyuk. Menolaknya? Bukannya tadi dia hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku? Dia kan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya atau apalah, tapi kenapa dia bilang aku menolaknya?

 

“Itu sama saja artinya aku menyatakan perasaanku padamu bodoh! Hah aku pikir kau cukup pintar untuk mengerti apa yang aku maksud, tapi aku salah. Kau itu benar-benar bodoh.” Kata Eunhyuk yang seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

 

“Ya! Jangan mengataiku bodoh! Itu salahmu sendiri karena tidak mengatakannya dengan jelas!” balasku membela diri.

 

“Aisshh.” Eunhyuk terlihat frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri. “Hah baiklah jika ini yang kau minta…” Eunhyuk menarik nafasnya dalam dan kemudian membuka suaranya lagi. Bukan main-main kali ini. Aku tahu dia sangat serius. Aku belum pernah melihat Eunhyuk seserius ini sebelumnya.

 

“Kim Jiyeong tolong dengarkan aku baik-baik dan aku mohon kau menyimak apa yang aku katakan, karena aku tidak akan mengulanginya dua kali atau repot-repot menjelaskan apa maksud dari yang ingin aku katakan sekarang.”

 

Aku menarik nafasku dalam-dalam, sekedar untuk mencari oksigen untuk paru-paruku karena jujur aku sudah hampir tidak bisa bernafas sekarang.

 

“Jiyeong-a, aku menyukaimu. Mungkin ini terdengar aneh karena aku baru kenal denganmu 3 hari yang lalu, tapi aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, tapi perlu kau ketahui satu hal, sejak kau masuk ke kelas hingga akhirnya kau duduk disebelahku, aku merasa kau gadis yang menarik dan aku yakin cepat atau lambat aku akan menyukaimu. Dan ternyata hal itu terbukti, semakin aku mengenalmu, aku semakin menyukaimu, dan tadi saat kau dengan nekatnya menolongku dari amukan ahjussi-ahjussi itu, aku memarahimu karena aku takut kau terluka. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku ingin selalu melindungimu. Jadi, apa kau mau membantuku mewujudkan keinginanku itu? Apa kau mau menjadi kekasihku, Kim Jiyeong?” Eunhyuk menggapai tanganku dan menggenggamnya.

 

Aku masih terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa atau bersikap apa. Tidak semua dari kata-kata Eunhyuk barusan bisa aku cerna dengan baik. Tapi hati kecilku ini mengatakan bahwa aku harus berkata iya, karena aku merasakan hal yang sama dengannya.  Aku tahu pasti Eunhyuk sangat menunggu jawabanku, tapi tidak mungkin aku langsung menerimanya. Aku tidak mau dia menganggapku gadis gampangan.

 

“Ohya aku lupa memperingatimu satu hal, aku tidak suka penolakan. Dan kali ini, aku sedang berbaik hati dan memberikanmu dua pilihan jawaban, “Ya” atau “Mau”, jadi bagaimana apa kau mau menjadi kekasihku?” Eunhyuk kembali bertanya padaku.

 

“Tch, kalau begitu apa bedanya bodoh! Kalau seperti itu bagaimana bisa aku menolakmu hah?” kataku menggodanya.

 

“Jadi kau mau menolakku lagi?” tanyanya dengan nada penuh ancaman.

 

“Iya. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menolakmu?” balasku tidak mau kalah.

 

“Aku akan menghukummu lagi kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum nakal dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan hah?” Aku memukul kepalanya karena sikapnya itu.

 

“Hahaha Jiyeong-a kau itu sangat lucu. Aku tahu sebenarnya kau itu juga menyukaiku kan? Sudah tidak usah pura-pura lagi, cepat kau terima saja aku.”

 

“Cih dasar sok tahu.”

 

“Mukamu yang memerah dan kerasnya debar jantungmu saat aku menciummu itu membuktikan padaku bahwa kau juga menyukaiku. Apa kau masih mau mengelak?”

 

Argghhh berarti usahaku tadi sia-sia saja. Eunhyuk tetap saja mengetahui keadaanku yang memalukan itu.

 

“Sudah puas kau membuatku seperti orang bodoh hah?” teriakku frustasi.

 

“Belum sampai kau mau menerimaku.”

 

“Dasar keras kepala! Baik-baik, aku mengalah! Aku menerimamu. Puas?”

 

“Jinjja? Jadi kau sekarang menjadi kekasihku?” Eunhyuk terlihat sangat gembira.

 

“Hhhmm.” Jawabku acuh. Padahal sebenarnya saat ini aku juga sama gembiranya dengannya.

 

Aku tetap dalam posisiku yang menyilangkan tanganku di depan dada sampai Eunhyuk mencium pipiku singkat dan kemudian berlari menjauhiku. Aku tahu, pasti dia takut aku akan mengamuk karena perlakuannya itu.

 

“Lee Hyuk Jae! Apa yang kau lakukan hah?” aku berteriak tidak terima dan berlari mengejarnya. “Kau berhenti atau aku akan kembali menarik ucapanku?!” teriakku lagi. Sebenarnya aku tidak serius dengan apa yang aku katakan barusan, aku hanya tidak ingin berlari-lari untuk mengejarnya, menurutku hal itu sangat menjijikan, sama persis seperti yang ada di drama-drama.

 

Aku lihat Eunhyuk berhenti. Hahaha pasti dia takut dengan ancamanku barusan. Kemudian aku berjalan santai menuju ke arahnya.

 

“Kau tidak serius dengan apa yang kau katakan kan?” tanya Eunhyuk ketakutan.

 

“Karena kau menuruti apa yang aku perintahkan, jadi aku tidak serius dengan apa yang kukatakan barusan.” Jawabku santai.

 

“Ah baguslah. Kajja kita pulang.” Eunhyuk terlihat lega dan menggandeng tanganku yang bebas (?) agar aku mendekat dengannya.

 

“Apa yang kau lakukan hah?”

 

“Menggandeng tangan gadisku, apa tidak boleh?” tanyanya sambil tersenyum.

 

Gadisku? Aku tersenyum mendengar Eunhyuk memanggilku dengan sebutan barunya itu. Ya aku akui itu lumayan keren.

 

“Ne, kajja kita pulang.” Balasku sambil ikut tersenyum ke arahnya.

 

***

 

“Nah sekarang sudah sampai. Kau cepat masuk ke dalam, di luar ini udaranya dingin sekali.” Perintah Eunhyuk ketika kami sudah sampai di depan rumahku.

 

“Hhmm baiklah.” Kataku menurut sambil membalikan badanku berniat untuk masuk ke dalam. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya, tapi Eunhyuk benar, udara di luar saat ini sungguh dingin.

 

“Jiyeong-a, tunggu dulu.”

 

“Apa lagi?”

 

Eunhyuk terlihat menarik nafasnya sesaat dan kemudian menjawab pertanyaanku.

 

“Aku mencintaimu. Terima kasih untuk hari ini.” Eunhyuk tersenyum dan kemudian berbalik untuk pulang. Barusan dia bilang apa? Mencintaiku? Aku tidak salah dengarkan? Bukannya tadi  dia hanya bilang bahwa dia menyukaiku?

 

“Eunhyuk-a! Hati-hati di jalan! Aku juga mencintaimu.” Balasku malu-malu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan rentetan kata menjijikan seperti itu, tapi apa boleh buat.

 

Eunhyuk menghentikan langkahnya kemudian berbalik lagi menghadapku. “Aku tahu. Sudah sana cepat masuk, aku tidak mau kau mati membeku di sana.”

 

“Ne!” balasku dan kemudian Eunhyuk melanjutkan langkahnya.

 

Aku sendiri pun segera masuk ke dalam rumah. Bayangan-bayangan kejadian saat bersama Eunhyuk pun mulai memenuhi pikiranku, dan efek yang ditimbulkannya adalah aku tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila.

 

Cklek. Aku menutup pintu rumahku pelan dan segera menuju kamarku dengan terus tersenyum. Aku tidak tahu bahwa daritadi Hyuri memperhatikanku, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerguku.

 

“Jiyeong-a, kau baru pulang?”

 

“Ne.” Jawabku.

 

“Dengan siapa?”

 

“Eunhyuk.” Jawabku lagi.

 

“Oh.” Hyuri meng-oh-kan jawabanku dan lebih memilih untuk diam.

 

“Kau tidak tidur? Ini sudah malam.” Tidak biasanya aku bertanya seperti itu pada Hyuri, tapi entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

 

“Ne? Ah tadi aku menunggumu, makanya belum tidur.” Jawab Hyuri setengah bingung.

 

“Sekarang aku sudah pulang, lebih baik kau tidur.” Suruhku. Tidak heran kalau Hyuri akan bertambah bingung terhadap sikapku ini.

 

“Jiyeong-a, kau sakit?”

 

“Ya! Kenapa malah tanya begitu? Aku bersikap kasar, kau protes! Sekarang aku bersikap baik begini, kau protes juga! Sebenarnya maumu apa hah?”

 

“Aniya. Aku hanya bingung dengan sikapmu itu. Kau tiba-tiba berubah, apa ini semua karena Eunhyuk?”

 

“Tch, tidak usah sok tahu. Aku begini karena moodku sedang baik saja! Tidak usah bawa-bawa Eunhyuk! Sudah aku mau ke kamar.” Bentakku pada Hyuri.

 

“Aku kan hanya bertanya. Yasudah sana pergi ke kamarmu. Ini sudah malam, lebih baik kau tidur kalau besok tidak mau terlambat ke sekolah.”

 

“Ne.” Jawabku malas sambil melangkahkan kakiku ke kamar.

 

Apa benar Eunhyuk yang merubah sikapku? Aku masih sibuk bertanya-tanya pada diriku sendiri, sampai ponselku bergetar dan otomatis menyadarkanku.

 

Aku mengernyit melihat layar ponselku. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang tak dikenal. “Ini siapa?” gumamku sambil mengklik tombol ‘open’ pada layar ponselku.

 

Jiyeong-a! Simpanlah nomorku! –Eunhyuk

 

Ha? Eunhyuk? Darimana dia tahu nomor ponselku? Setahuku aku belum memberi tahunya.

 

Darimana kau tahu nomor ponselku hah?

 

Aku sibuk berpikir sendiri darimana Eunhyuk mengetahui nomor ponselku, hingga untuk kedua kalinya ponselku kembali bergetar.

 

Rahasia. Kau tidak perlu tahu aku dapat darimana. Sudah ya, sekarang kau tidur. Selamat malam Jiyeong-a~

 

Aku tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang dikirim oleh Eunhyuk tersebut dan segera saja aku membalasnya.

 

Aisshh baiklah. Ne, kau juga tidur. Selamat malam~

 

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, aku meletakkan ponselku di meja belajarku dan segera membersihkan diriku. Haaah mungkin malam ini aku akan mimpi indah, batinku sendiri.

 

***

 

“Kau baru sampai? Ke mana saja hah?” tanya Eunhyuk ketika aku baru sampai di gerbang sekolah.

 

“Kau menunggu di sini?” bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya.

 

“Kau tidak lihat?”

 

“Aishh iya aku lihat. Tapi buat apa kau menungguku di sini? Kan kau bisa menungguku di kelas?”

 

“Tidak mau. Kalau aku menunggu di kelas, itu sama saja aku akan lebih lama untuk melihatmu.”

 

“Cih, dasar gombal.” Ledekku pada Eunhyuk dan berjalan duluan menuju kelas.

 

“Jiyeong-a! Aku tidak gombal, aku serius!” teriak Eunhyuk sambil mengejarku.

 

“Aku ingatkan padamu, jangan sering-sering memakai kata-kata gombal seperti itu kalau kau mau aku tetap menjadi pacarmu.”

 

“Mwo?! Kenapa begitu? bukankah itu wajar untuk sepasang kekasih?

 

“Bagiku tidak. Itu sangat menjijikan.”

 

“Ah kau tidak asik Jiyeong-a~ Lalu bagaimana aku menyalurkan bakat gombalku ini kalau kau tidak suka?” tanya Eunhyuk sambil memamerkan gummy smile-nya itu.

 

“Putuskan saja aku dan cari gadis lain hhmm atau bisa juga kau kembali pada man…”

 

“Ya! Aku hanya bercanda! Baik-baik aku mengerti. Tapi jangan pernah kau suruh aku untuk memutuskanmu!” gerutu Eunhyuk.

 

“Hahaha aku juga hanya bercanda, sudah jangan cemberut seperti itu. Ayo cepat ke kelas.” Kataku sambil tertawa.

 

Baru saja kami ingin masuk kelas, seorang gadis yang sebenarnya kehadirannya tidak kuharapkan ini muncul di hadapan kami berdua dan langsung mengalungkan lengannya di lengan Eunhyuk.

 

“Oppa, kau ke mana saja? Aku menunggumu tadi di gerbang sekolah.” Ucap gadis itu manja sambil tetap menggandeng tangan Eunhyuk.

 

Ya! Apa dia tidak melihat di sini ada aku? Dasar gadis menyebalkan!

 

“Ji Eun-ssi lepaskan aku.” Ucap Eunhyuk risih dan mencoba melepas paksa tangan Ji Eun.

 

“Oppa, apa kau lupa? Dulu sewaktu kita pacaran, kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan kau mengantarkanku kelas. Aku ingat waktu orang-orang sangat iri melihat kita.” Rajuk gadis itu lagi.

 

Errrrr kupingku panas mendengar rajukan manja gadis itu pada Eunhyuk. Rasanya aku sudah ingin mencakar mukanya saja!

 

“Jangan ungkit-ungkit hal itu lagi, Ji Eun-ssi. Sekarang aku sudah menemukan penggantimu, dan dia sekarang sedang berdiri dihadapanmu.”

 

Mendengar Eunhyuk mengucapkan hal itu, aku jadi tidak enak sendiri. Dengan canggung aku membungkukkan tubuhku sekedar untuk memberi salam padanya.

 

“Annyeong Ji Eun-ssi.” Ucapku pura-pura ramah, karena sebenarnya aku ingin melempar mukanya itu dengan sepatuku ini.

 

“Ah jadi ini gadis pengganntiku.” Balasnya dengan tampang meremehkan.

 

“Jadi, aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan untuk mendekatimu?” tanya gadis itu lagi pada Eunhyuk.

 

Mwo?! Sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Eunhyuk sudah mempunyai aku, kenapa dia masih bertanya seperti itu?

 

“Tidak sama sekali. Aku sangat mencintainya, dan lebih baik kau mencari lelaki lain saja.” Jawab Eunhyuk sinis.

 

Aku menyikut lengan Eunhyuk karena menganggapnya bicara terlalu kasar pada Ji Eun. Meskipun aku kesal padanya, tapi tetap saja aku kasihan padanya. Aku tahu dia itu juga wanita, pasti perasaannya sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang dicintainya.

 

“Eunhyuk-a, jangan terlalu kasar seperti itu.” Bisikku pada Eunhyuk, tapi aku yakin Ji Eun juga bisa mendengarnya,

 

“Baiklah, ternyata aku sudah tidak punya kesempatan ya? Hhmm kalau begitu, boleh kah aku bicara sebentar denganmu oppa?” Ji Eun memasang muka penuh harapan pada Eunhyuk. Eunhyuk sendiri pun bingung antara mengiyakan permintaan Ji Eun atau tidak. Karena melihat hal itu, aku segera mengambil keputusan.

 

“Sudah sana biacaralah dengan Ji Eun, aku akan menunggumu di kelas.” Kataku pada Eunhyuk.

 

“Benarkah? Kau tidak apa-apa jika kutinggal?”

 

“Ya! Tentu saja tidak apa-apa! Kau pikir aku anak kecil hah?” balasku kesal.

 

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk. “Ji Eun-ssi, ayo cepat. Kita bicara sambil aku antarkan kau ke kelasmu.” Kata Eunhyuk lagi pada Ji Eun.

 

Aku sendiri lebih memilih untuk diam dan berjalan menuju kelasku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena mendengar ucapan Ji Eun yang sebenarnya lebih ditujukan pada Eunhyuk itu.

 

“Dia tidak memanggilmu oppa? Tch bagaimana bisa? Bukannya kau dulu memaksaku hingga mengancam untuk memutuskanku agar aku memanggilmu oppa?” tanya Ji Eun.

 

“Jangan banyak bicara atau aku tidak jadi bicara denganmu.”  Jawab Eunhyuk.

 

Aku tidak mendengar suara Ji Eun lagi setelah itu. Aku tahu dia pasti lebih memilih menuruti perintah Eunhyuk daripada kehilangan kesempatan emasnya untuk bicara dengan Eunhyuk. Hah benar-benar gadis menyebalkan!

 

***

 

Eunhyuk’s POV

 

Kalau bukan Jiyeong yang menyuruhku untuk mengikuti kemauan gadis ini, mungkin sekarang aku sudah di kelas dan berbincang dengan Jiyeong. Haaaah sebenarnya mau gadis ini apa sih? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak mengangguku lagi? Dan katanya tadi dia ingin bicara denganku? Tapi kenapa sampai saat ini dia belum juga membuka suaranya? Apa dia ingin mempermainkanku?

 

“Ya! Ji Eun-ssi, kita sekarang sudah sampai di depan kelasmu, tapi kenapa kau belum bicara juga? Sebenarnya apa maumu hah?” tanyaku tak sabar.

 

“Tidak ada. Aku hanya ingin berdua saja denganmu.” Jawab Ji Eun santai.

 

“Yak!” teriakku kesal karena merasa dipermainkan.

 

“Kau kesal padaku?” tanya Ji Eun.

 

“Tentu saja! Kau bilang padaku tadi kau mau bicara padaku, dan sekarang kau seenaknya mengatakan bahwa tidak ada yang mau kau bicarakan dan hanya ingin berdua padaku! Bagaimana aku tidak kesal hah?” bentakku pada Ji Eun.

 

“Itu salahmu sendiri karena lebih memilih gadis itu daripada aku. Dan rupanya aku perlu memberi tahumu satu hal, selain aku tidak ada yang boleh memilikimu. Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menjadi milikku.”

 

“Kau kira aku ini barang yang bisa seenaknya kau dapatkan hah? Sudah aku menyesal sudah menuruti permintaanmu, lebih baik aku aku kembali ke kelas saja.” Balasku sambil berbalik meninggalkan Ji Eun.

 

“Aku serius, tuan Lee.” Ucap Ji Eun kemudian tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan seakan-akan tidak mendengar ucapannya.

 

Memangnya apa yang akan dia lakukan? Lihat saja, sekeras apapun dia berusaha, aku tidak akan menjadi miliknya lagi.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Kira-kira apa yang dibicarakan oleh mereka berdua? Apa mungkin Ji Eun tetap meminta Eunhyuk kembali menjadi kekasihnya? Kalau benar begitu, apa mungkin Eunhyuk menerima permintaan Ji Eun, dan memilih menyembunyikan hubungan mereka di belakangku? Andwae! Itu tidak boleh terjadi! Ya! Lee Hyuk Jae, kalau kau berani melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkanmu! Aku meracau sendiri dan tak sadar sudah memukul-mukulkan tanganku sendiri ke atas meja.

 

“Kau kenapa? Kenapa menyebut namaku seperti itu?” tanya Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berada di hadapanku. Tentu saja aku kaget bukan main dan pasti wajahku berubah menjadi sangat konyol saat ini.

 

“Ani tidak apa-apa.” Jawabku sambil menyembunyikan rasa maluku.

 

“Oh, kupikir kau tadi merindukanku sampai-sampai menyebut namaku seperti itu.”

 

“Tidak! Kau jangan terlalu percaya diri! Tadi aku tidak menyebut namamu, kau mungkin salah dengar.” Elakku.

 

“Aah jadi aku salah dengar ya? Baiklah kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum singkat lalu kembali ke tempat duduknya. Dan bertepatan dengan hal itu, bel berbunyi dan songsaengnim memasuki kelas.

 

Entah kenapa tapi tumben sekali Eunhyuk sedari tadi diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Rasanya aku ingin sekali bertanya apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku mengurungkan niatku. Mungkin dia akan bercerita padaku jika dia mau, batinku dalam hati dan kembali fokus kepada pelajaran.

 

***

 

“Eunhyuk-a, aku mau ke kantin. Kau mau ikut?” tanyaku pada Eunhyuk.

 

“Kau tidak pa-pa kan jika harus ke kantin sendirian? Aku ingin menyelesaikan catatan yang diberikan oleh songsaengnim dulu.” Jawab Eunhyuk.

 

“Kau tidak sakit kan?” tanyaku lagi karena merasa cemas dengan sikap Eunhyuk yang tiba-tiba aneh ini.

 

“Tidak. Kau tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Jawab Eunyuk menenangkanku.

 

“Hhmm baiklah, aku ke katin dulu ya.” Ucapku akhirnya sambil meninggalkan Eunhyuk.

 

Apa yang sedang dipikirkannya sampai dia menjadi aneh begitu? hah sudahlah lebih baik aku tidak mencampuri urusannya.

 

***

 

Menurutku ini lucu. Aku sudah bersekolah di sini selama 4 hari, tapi baru hari ini aku bisa ke kantin. Hahaha aku tersenyum kecil karena mengetahui fakta tersebut. Aku memilih soup ayam dan jus jeruk untuk menu makananku hari ini. Yah sekolah ini lumayan juga, makanan yang disediakan di kantin cukup lengkap.

 

BRUK. PRANG. Nampan yang berisi soup ayam dan jus jeruk ini tumpah semua ke bajuku.

 

“Aawww! Aisshhh jinjja panas sekali!” rintihku karena terkena kuah panas soup ayam yang kupesan. Setahuku tadi di depanku tidak ada orang, kenapa aku bisa terjatuh?

 

“Ups. Rupanya kakiku menyelengkat seseorang ya?” suara Ji Eun terdengar kemudian.

 

Ah jadi dia rupanya yang menyelengkatku sampai jatuh begini? Dasar menyebalkan! Lihat saja kali ini aku tidak akan tinggal diam padanya!

 

“Kau memang tidak lihat ada orang berjalan hah?” kataku marah sambil mencoba untuk bangun. “Ini lihat seragamku jadi kotor kerena ulahmu!” kataku lagi.

 

“Itu salahmu kenapa tidak memperhatikan jalan! Kau jangan menyalahkanku!”

 

“Nona Ji Eun tapi aku sudah sangat berhati-hati saat berjalan tadi, kau yang memang sengaja untuk menyelengkatku!”

 

“Aku? Sengaja menyelengkatmu? Yang benar saja!”

 

“Tch.” Umpatku kesal sambil mencoba membersihkan seragamku.

 

“Mana Eunhyuk oppa? Kau tidak bersamanya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Buat apa kau menanyakannya hah? Sudah tak penting berdebat denganmu di sini, aku lebih baik kembali ke kelas.” Ucapku jengkel. Cih bisa-bisanya dia mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau tidak akan mengadu pada Eunhyuk kan kalau aku menyelengkatmu? Oh atau kau akan mengadu pada kakakmu?” tanya Ji Eun dengan nada mengejek.

 

“Siapa yang kau maksud kakakku hah?”

 

“Kim Hyuri eonnie, memangnya siapa lagi?”

 

Aish dia tau darimana Hyuri itu kakakku?

 

“Kau tahu darimana Hyuri itu kakakku hah?”

 

“Kau tidak memanggilnya eonnie? Ah ternyata aku tak salah dengar waktu itu.”

 

“Mworago?! Tidak salah dengar apa maksudmu?!” aku panik. Jangan-jangan dia mendengar pembicaraanku dan Eunhyuk tempo hari yang lalu.

 

“Ya, aku mendengar semuanya, dan ternyata semua yang kudengar itu ternyata tidak salah.”

 

Aku hanya terdiam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Ji Eun kali ini. Masalahnya sekarang semua rahasiaku telah diketahui olehnya.

 

“Dan, hhmm kalau boleh aku mengutarakan pendapatku mengenai masalahmu itu, menurutku kau itu…..anak haram.” Ji Eun mengatakan hal tersebut tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

 

“Ne? Apa maksudmu?”

 

“Kau tidak mengerti apa maksudku? Baik, akan kujelaskan.” Kata Ji Eun sembari mendekat ke arahku dan memasang tatapan intimidasinya kepadaku. “Apakah ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun hanya karena alasan harta?” tanyanya.

 

Hening. Aku tidak menjawab pertanyaan Ji Eun barusan. Pikiran-pikiran aneh yang seketika menyelubungiku ini menganggu kerja otaku saat ini.

 

“Aku masih tidak mengeti Ji Eun-ssi, tolong kau langsung saja, jangan berbelit-belit seperti ini.”

 

“Aisshh ternyata kau memang gadis bodoh, aku heran kenapa Eunhyuk oppa mau menjadi kekasihmu.”

 

“Tidak usah membawa-bawa Eunhyuk dalam urusan ini.” Ucapku tajam.

 

“Aigoo kau galak sekali, aku jadi enggan menjelaskannya padamu kalau begitu.” balas Ji Eun dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

 

“Ji Eun-ssi tolong kau jangan main-main, cepat jelaskan apa maksudmu!” perintahku. Kini darah sudah mulai mengalir ke ubun-ubunku hingga aku menjadi sedikit emosi, tapi sebisa mungkin aku tahan.

 

“Kau dan Hyuri eonnie berasal dari rahim ibu yang berbeda, itu maksudku! Makanya selama ini sikap ibumu terhadap Hyuri eonnie dan dirimu itu jauh berbeda. Perbuatanmu waktu itu yang menyebabkan kerugian pada perusahaan ibumu itu sebenarnya hanya dijadikan alasan, karena tidak mungkin ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun! Apa sekarang kau sudah mengerti maksudku hah?”

 

“Aku dan Hyuri dari rahim ibu yang berbeda? Maksudmu…..”

 

“Benar sekali! Ayahmu berselingkuh dengan wanita lain dan kau adalah hasil dari hubungan mereka itu!”

 

Hatiku sakit. Mataku terasa panas. Ingin rasanya aku teriak bahwa tidak mungkin seperti itu kenyataannya, tapi kenapa hati kecilku ini mengatakan bahwa apa yang dibicarakan oleh Ji Eun itu benar.

 

“Kenapa kau diam? Kau pasti sekarang sedang membenarkan ucapanku kan? Hah dasar gadis bodoh! Kenapa hal begitu saja bisa tidak terpikirkan olehmu?”

 

“Kalau memang benar diriku seperti apa yang kau bicarakan barusan, lalu apa yang mau kau lakukan?” akhirnya aku membuka suaraku.

 

“Menyuruhmu putus dengan Eunhyuk oppa.” Jawabnya santai.

 

“Pu-putus dengannya?” aku terkejut dengan jawaban yang diutarakan oleh Ji Eun.

 

“Ne. Karena menurutku anak haram sepertimu tidak pantas mendapatkan Eunhyuk oppa.”

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, Ji Eun-ssi?”

 

“Memangnya kenapa kau memang anak haram kan?”

 

Emosiku sudah benar-benar tak bisa dikendalikan saat ini. Tanpa sadar aku menaikkan tanganku hendak ingin menampar gadis di depanku ini, tapi gerakan tanganku ini terhenti oleh seseorang…

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

Jiyeong pasti bingung dengan sikapku yang tiba-tiba aneh ini. Semoga saja dia tidak salah paham denganku, aku begini karena aku memikirkan apa yang akan Ji Eun lakukan setelah kejadian tadi pagi saat aku mengantarnya ke kelas. Aku tahu dia bukan gadis yang ucapannya main-main, jika dia berkata sesuatu, pasti itu akan menjadi kenyataan. Tapi apa yang akan dilakukannya kali ini? Tidak mungkin kan kalau dia sampai mencelakakan Jiyeong?

 

“Ya! Teman-teman! Ayo kita ke kantin! Kalian tahu? Ji Eun sedang bertengkar dengan anak baru itu!” seorang siswa laki-laki berteriak di depan kelas layaknya mengumumkan sayembara kerajaan. Sontak seluruh murid di kelasku ini berbondong-bondong menuju ke kantin.

 

Ji Eun dan anak baru? Apa mungkin itu Jiyeong?

 

Seakan-akan tidak mau kalah dengan muridn lainnya, aku ikut berlari juga menuju kantin, aku berharap kalau mereka salah orang. Aku harap bukan Jiyeong, gumamku dalam hati.

 

Sampai di kantin kulihat murid-murid sudah bergerombol membentuk lingkaran seperti anak-anak yang siap menonton sebuah pertunjukkan sulap. Aku menerobos gerombolan murid-murid itu dan mendapati Ji Eun dan Jiyeong sedang beradu mulut. Aku sengaja membiarkan mereka karena ingin tahu apa yang mereka permasalahkan tapi hasilnya nihil aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan, hingga aku melihat Jiyeong mengangkat tangan kanannya hendak menampar  Ji Eun, dan saat itu juga aku mengambil tindakan untuk mencegah Jiyeong.

 

Jiyeong tampak terkesiap ketika aku menahan tangannya.

 

“Kenapa kau menahanku” tanyanya dingin.

 

“Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah.”

 

“Lepaskan.” Ujarnya lagi sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.

 

“Tidak. Lebih baik kita ke ke…”

 

“Oppa, tolong aku. Lihat dia! Dia jahat! Dia ingin menamparku, padahal kan aku hanya memberi saran padanya.” Belum sempat tadi aku menyelesaikan ucapanku, Ji Eun tiba-tiba memelukku dan karena terkejut aku melepaskan tangan Jiyeong.

 

“Oppa! Jangan diam saja! Apa kau terima melihatku diperlakukan seperti itu olehnya?” kata Ji Eun setengah merengek.

 

Aku melirik ke arah Jiyeong, tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang sangat mengerikan. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu, seakan-akan ingin membunuh seseorang.

 

Aku merutuki diriku sendiri yang malah di saat seperti ini tidak bisa segera mengambil tindakan dan kepuutusan yang tepat.

 

Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Perasaanku makin kacau dan mataku semakin panas ketika melihat Ji Eun merengek seperti itu pada Eunhyuk, terlebih-lebih Eunhyuk diam saja, tidak melakukan penolakan atau apapun terhadap sikap Ji Eun tersebut. Tanpa sadar, tanganku sudah mengepal keras dan nafasku memburu. Ingin rasanya aku segera menghabisi gadis di depanku saat ini. Alih-alih untuk mencoba meredam emosiku ini, aku mengambil keputusan untuk kembali ke kelas.

 

“Jiyeong-a kau mau ke mana? Bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Eunhyuk ketika aku berhasil melewati posisi di mana Eunhyuk dan Ji Eun.

 

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Eunhyuk. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan berbalik dan menjelaskan semuanya saat ini juga.

 

“Jiyeong-a!” panggil Eunhyuk lagi. Aku membalikan tubuhku sesaat, tapi bukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Tanyakan saja pada mantan pacarmu itu.” Jawabku dingin dengan menekankan nada bicaraku pada kata ‘mantan pacar’. Aku melihat Eunhyuk dan Ji Eun sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku segera berbalik dan kembali menuju kelasku. Tapi  sepertinya nasibku sedang sial hari ini…

 

“Kim Jiyeong, Jang Ji Eun, kalian berdua ikut saya ke ruang kepala sekolah! Sekarang!” perintah seorang songsaengnim yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku.

 

“Ne.” Jawabku lemah sambil mengikuti songsaengnim itu. Aku merasa Ji Eun berjalan mengikutiku. Ah pasti aku akan terkena masalah!

 

 

 

Author’s POV

 

Jiyeong dan Ji Eun memasuki ruang kepala sekolah.

 

“Kalian tunggu di sini. Bapak kepala sekolah akan menemui kalian segera.” Perintah songsaengnim yang tadi menyuruh Jiyeong dan Ji Eun untuk ke ruang kepala sekolah.

 

Tak lama kemudian Bapak kepala sekolah yang ditunggu itupun datang dan segera mengintrogasi Jiyeong dan Ji Eun.

 

Di lain sisi, Eunhyuk yang penasaran dengan apa yang terjadi di ruang kepala sekolah itupun menguping dari luar.

 

“Kalian berdua, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Seorang pria dengan perwawakan tegas itu mulai membuka suaranya.

 

“Tadi aku hanya bercanda dengan Jiyeong di kantin, tapi entah kenapa Jiyeong tidak terima dan hampir menamparku. Untung ada seorang siswa yang menahannya, mungkin kalau tidak ada, sekarang aku sudah babak belur.” Ji Eun memulai penjelasan yang terkesan lebih memojokkan Jiyeong.

 

“Apa benar begitu Kim Jiyeong?” tanya Kepala Sekolah itu lagi.

 

“Apa kalau aku memberi penjelasan, bapak akan percaya padaku?” Jiyeong malah balik bertanya.

 

“Kau aku suruh untuk menjelaskan! Bukan malah balik bertanya seperti itu!” suara yang daritadi terdengar rendah berat, kini mulai terdengar tinggi.

 

Jiyeong tidak gentar. Ia malah semakin bersikap berani pada sang Kepala Sekolah.

 

“Bukannya penjelasan dari satu orang sudah cukup?”

 

“Jadi apa yang dikatakan Ji Eun itu benar? Kau hampir menamparnya?”

 

Jiyeong terdiam mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Kepala Sekolah. Memang benar dia hampir menamparnya, tapi ada alasan di balik itu, dan Jiyeong memlih untuk tidak menceritakannya saat ini. Di depan Ji Eun dan Kepala Sekolah.

 

“Kau diam. Aku anggap kau membenarkan ucapan saudari Ji Eun. Jadi sudah jelas di sini kau yang salah, Kim Jiyeong. Sebagai hukumannya, kau aku perintahkan untuk membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Kau tidak boleh pulang sebelum hukumanmu itu selesai, apa kau mengerti?” nada memerintah sangat kentara sekali terdengar dari ucapan Kepala Sekolah.

 

Jiyeong mengangguk lemah. Di lain sisi Ji Eun tersenyum puas, karena dia berhasil membuat Jiyeong terkena hukuman.

 

“Kalian boleh keluar sekarang. Dan untuk kau, Jiyeong, segera lakukan hukumanmu.”

 

“Ne.” Jawab Jiyeong lemas dan mereka berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah tersebut.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Jang Ji Eun, apa sekarang kau puas hah? Sudah membuatku menerima hukuman seperti ini?!” Umpatku kesal.

 

Aku berjalan lemas keluar ruangan Kepala Sekolah dan mendapati Eunhyuk sudah berdiri di hadapanku. Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk bicara dengannya, makanya aku lebih memilih berjalan cepat sambil menundukkan wajahku.

 

“Kenapa kau tadi diam saja?” tanya Eunhyuk sambil menarik lenganku. Aku tetap tidak berbalik ke arahnya.

 

“Aku diam atau tidak hasilnya akan sama saja.” Jawabku dan aku menghentakkan tanganku keras agar terlepas dari pegangan Eunhyuk.

 

Dengan kasar aku melangkahkan kakiku untuk menjalani hukumanku. Sebenarnya saat ini, aku mengharap bahwa Eunhyuk akan mengejarku dan menawarkan bantuan untukku, tapi nihil. Eunhyuk sama sekali tidak mengejarku dan…kenapa dia malah menarik Ji Eun?! Mereka mau ke mana?! Aishhh jangan-jangan dugaanku benar…mereka berdua kembali berpacaran dan sengaja menyembunyikannya dariku. Dan mungkin karena hal itu juga, Eunhyuk tadi menahan tanganku dan tidak membelaku sama sekali? Ya! Tidak mungkin Eunhyuk seperti itu! Aku menepis pikiran burukku itu dan dengan malas mulai memasuki toilet pertama yang akan aku bersihkan.

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

“Ji Eun-ssi sekarang kau ikut aku!” perintahku sambil menarik paksa tangan Ji Eun untuk mengikutiku.

 

“Kita mau ke mana oppa?” tanyanya.

 

“Jangan cerewet! Ikut saja denganku!”

 

Aku menarik tangan Ji Eun dengan kasar, dan ketika sampai di tempat yang kutuju aku menghempaskan tangannya dengan kasar pula.

 

“Oppa, jangan kasar seperti itu.” Rintihnya kesakitan.

 

“Aku tidak akan bersikap lembut padamu sekarang! Kenapa kau tega memfitnah Jiyeong dan membiarkannya menerima hukuman seperti itu hah?” tanyaku geram.

 

“Aku tidak memfitnahnya, apa yang aku jelaskan tadi sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya.”

 

“Aku tidak percaya padamu! Tidak mungkin Jiyeong akan menamparmu, jika kau tidak berbuat yang memancing emosinya seperti itu!”

 

“Kau memang tahu apa tentangnya?!”

 

“Aku kekasihnya! Jadi aku tahu sifat Jiyeong!”

 

“Kalian baru menjadi sepasang kekasih tidak lebih dari satu hari! Jadi tidak mungkin kau mengetahui sifatnya! Siapa tahu Jiyeong memang orang yang mudah emosi dan tidak bisa diajak bercanda!”

 

“Tapi dia tidak akan marah seperti itu kalau tidak ada penyebabnya! Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau katakan tadi sehingga membuat Jiyeong marah seperti itu!”

 

“Kenapa kau terus membelanya hah? Tidak bisakah kau sedikit berpikir positif terhadapku?”

 

“Tidak bisa, karena memang kenyatanyaannya, semenjak Jiyeong menjadi kekasihku, kau selalu berusaha untuk menjatuhkannya!”

 

“Memang itu yang ku mau! Aku ingin dia menyerah dan akhirnya aku bia mendapatkanmu lagi! Bahkan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuat Jiyeong menyesal dan akhirnya memutuskanmu.” Ji Eun tersenyum licik.

 

Aku menjadi gugup. Terlebih-lebih mungkin karena aku berteriak-teriak sedari tadi mengundang murid-murid lain untuk mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi di antara aku dan Ji Eun.

 

“Apa yang kau mau lakukan hah?” tanyaku sedikit gugup.

 

“Jadi sekarang kau takut?”

 

“Tidak. Coba saja kau lakukan rencanamu itu! Aku yakin Jiyeong tidak akan menyerah dan tetap akan menjadi kekasihku.” Tantangku.

 

“Baiklah kalau begitu.” Untuk kedua kalinya Ji Eun tersenyum licik dan dengan sigap mengambil ponselku yang ada di kantong celanaku yang kebetulan tidak terlalu dalam.

 

“Rupanya kau ceroboh juga.” Gumamnya dan segera melemparkan ponselku pada seorang siswi yang posisinya dekat dengan Ji Eun.

 

“Ya! Jika aku menjentikkan jariku, segera kau potret apa yang kau lihat di depanmu! Apa kau mengerti?” tanya Ji Eun pada gadis tersebut. Awalnya gadis itu terlihat bingung tapi tak lama kemudia dia mengangguk tanda mengerti.

 

“Yak! Apa yang mau kau lakukan hah?”

 

“Membuktikan ucapanku barusan.” Dengan santainya dia menjawab dan menarik kerah bajuku sehingga posisiku dan Ji Eun kini sangat dekat, bahkan hidung kami nyaris beradu.

 

“Ya, kau siap-siap.” Perintah Ji eun pada gadis itu lagi.

 

Aku mencoba berontak dan sebisa mungkin menjauhakn diriku dari Ji Eun. Tapi terlambat. Sedetik kemudian Ji Eun kembali menarikku mencium paksa diriku. Kemudian terdengar suara jentikan jari Ji Eun dan…Cklik… terlihat blitz dari kamera ponselku dan gemuruh tepuk tangan mulai terdengar.

 

Merasa ini suatu hal yang tidak beres, aku segera dengan kasar mendorong tubuh Ji Eun ke dinding dan melap bibirku.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN JANG JI EUN?” teriakku geram.

 

“Aku sudah bilang padamu dari awal kan bahwa aku akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu kembali? Ini salah satu caraku.” Jawab Ji Eun sambil membenarkan seragamnya. “Ya, kau sekarang segera kirim gambar itu kepada Jiyeong, cari saja nomornya di daftar nomor telfon, pasti ada.” Perintah Ji Eun pada gadi yang sekarang sedang memegan ponselku.

 

“Jangan!” cegahku sambil berusaha untuk merebut ponselku, tapi Ji Eun menghalangiku dan memberi isyarat pada gadis itu untuk terus melakukan apa yang disuruhnya.

 

“Dasar licik! Minggir kau!” kudorong tubuh Ji Eun dengan kasar hingga tubuhnya terhempas ke lantai. Segera saja aku merebut ponselku kembali dan mengecek apakah gambar itu sudah terkirim atau belum. Tubuhku melemas ketika mengetahui gambar itu sudah berhasil terkirim.

 

“Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Lee Hyuk Jae.” Ji Eun berkata licik dan dan bangun dari posisinya yang tersungkur itu dan pergi meninggalkanku.

 

ARRGGH. Aku mengacak rambutku frustasi karena ulah Ji Eun. Apa yang harus aku katakan pada Jiyeong?

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Ini sudah hampir toilet yang ke-3 yang aku bersihkan. Tanganku masih saja bergerak menyikat lantai toilet dengan jijik. Yaisshh kotor sekali toliet ini, ujarku sambil sesekali menutup hidungku karena bau tidak sedap. Tiba-tiba ada segerombol siswi memasuki toilet yang sedang aku bersihkan. Dengan seenaknya mereka menginjak lantai yang baru saja aku bersihkan. Errr ingin sekali aku rasanya membentak mereka, tapi aku mengurungkan niatku dan tetap terus menyikat lantai.

 

“Ya, apa kau tahu bahwa Ji Eun dan Eunhyuk kembali berpacaran?” seorang siswi bertanya pada temannya. Mwo? Apa yang barusan dia katakan? Aku lebih memilih menguping pembicaraan mereka ketimbang menanyakan langsung pada mereka.

 

“Ne? Bukannya mereka sudah putus?”

 

“Memang mereka sudah putus. Tapi apa kau tidak lihat tadi?”

 

“Melihat apa hah? Ya! Kau jangan membuatku penasaran!”

 

“Itu tadi Ji Eun dan Eunhyuk berciuman di depan murid-murid tingkat 2, bukannya itu sangat romantis?”

 

“Jinjja? Aigooo romantis sekali mereka, aku jadi iri dengan Ji Eun, andaikan aju mempunyai kekasih seperti Eunhyuk.”

 

Deg. Benarkah apa yang mereka bicarakan? Benarkah Eunhyuk kembali berpacaran dengan Ji Eun? Hatiku kembali merasa sakit dan tiba-tiba saja air mata sudah menggenangi pelupuk mataku. Tapi aku berusaha menahan tangisku dan memberanikan diri bertanya pada siswi-siswi itu. Mungkin aku salah dengar, batinku.

 

“Hhmm maaf, tapi apa benar kau melihat mereka, ehm maksudku Eunhyuk dan Ji Eun tadi berciuman?” tanyaku hati-hati.

 

“Ne. Aku melihatnya. Dan kalau tidak salah tadi, ada seorang siswi yang memotret kejadian itu, jadi kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan padanya.” Jawabnya.

 

Nafasku tercekat. Jadi benar dugaanku tadi…

 

“Oh bisa juga kau bertanya dengan gadis yang bernama Jiyeong, setahuku tadi Ji Eun menyuruh gadis yang memotret kejadian tadi, mengirim gambar itu pada gadis yang bernama Jiyeong itu, mungkin dia mempunyai gambarnya.” Tambahya kemudian.

 

Air mataku makin mendesak untuk keluar. Jiyeong? Gadis itu kan aku? Apa maksudnya ini? Apa mungkin dia sengaja untuk memberi tahuku tanpa harus bicara langsung padaku?

 

“Ah ne, jeongmal gomawoyo.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

 

“Cheonmaneyo.” Balas siswi itu dan kemudian dia keluar toilet bersama temannya.

 

Aku tinggal sendiri sekarang. Tubuhku tiba-tiba melemas dan akhirnya aku terjatuh. Pandanganku menjadi kabur karena air mata yang jatuh. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Kenapa Eunhyuk tega melakukan ini padaku? Air mataku jatuh makin deras. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambil ponselku yang aku letakkan di kantung seragamku dan benar saja, satu pesan baru masuk ke ponselku. Dari Eunhyuk? Aku mengernyitkan dahiku dan dengan tangan bergetar membuka pesan tersebut.

 

Mataku membelalak ketika melihat isi pesan tersebut. Bukan sebuah tulisan, tapi sebuah gambar. Gambar yang sukses membuatku mengeluarkan air mata lebih banyak lagi. Ya, gambar yang dimaksud siswi tadi. Ponselku terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku tidak peduli bahwa ponselku akan rusak atau tidak, yang aku tahu sekarang hatiku sangat sakit karena Eunhyuk tega berbuat begini padaku.

 

*

 

Entah sudah berapa lama aku menangis di toilet ini, hingga aku tak sadar jika sudah waktunya pulang sekolah. Aku tahu pasti sekarang mataku sangat bengkak. Aku mencoba untuk berdiri dan keluar dari toilet ini, tapi dari jauh aku mendengar suara Ji Eun dan aku mengurungkan niatku ini, alih-alih aku malah masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Aku tidak mau keberadaanku diketahui oleh Ji Eun.

 

“Sekarang bagaimana? Kau menyesalkan menerima Eunhyuk menjadi pacarmu?” tanya Ji Eun. Dia bertanya pada siapa? Apa dia bertanya padaku? Tapi darimana dia tahu ada aku di sini?

 

“Ya, aku sedang bertanya padamu Kim Jiyeong. Kau pasti menyesalkan menerima Eunhyuk sebagai pacarmu? Hah dasar gadis bodoh, coba kau pikir sekarang, mana ada pria yang akan tulus menyukaimu dalam jangka waktu yang sangat singkat? Tidak ada kan? Pasti dia itu hanya mempermainkanmu! Dan lihat kan sekarang apa yang terjadi? Hahaha kasian sekali dirimu itu, Jiyeong-ssi.” Kata Ji Eun kemudian.

 

Ucapan Ji Eun ada benarnya. Mana ada pria yang akan tulus menyukai seorang wanita dalam jangka waktu yang sangat singkat? Argh aku memang bodoh!

 

“Baru sekarang kau sadar bahwa kau bodoh? Tch dasar.” Aku dengar Ji Eun berjalan keluar toilet dan untuk memastikannya aku mengintip dari lubang kunci. Yakin bahwa Ji Eun sudah benar-benar pergi, aku keluar dari bilik toilet.

 

Di depan cermin besar yang ada di toilet ini, aku merapikan diriku. Melap bekas air mataku dan mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku tahu jika aku kembali ke kelas sekarang, pasti ada Eunhyuk di sana dan dia akan menerorku dengan sejuta alasan yang ingin dijelaskan padaku. Ya! Kim Jiyeong, kau harus tunjukkan padanya kalau kau bisa! Kim Jiyeong, hwaiting!

 

***

 

Saat ini aku sudah sampai di kelas. Dan dugaanku tadi salah. Eunhyuk tidak ada di sini. Aisshh aku lupa, mungkin Eunhyuk sudah pulang duluan dengan Ji Eun tadi. Aku merapikan barang-barangku sambil berpikir sendiri.

 

“Hhhmm mungkin tidak lama lagi Eunhyuk akan datang padaku dan meminta putus dariku karena dia sudah kembali lagi dengan Ji Eun. Ya aku yakin itu pasti akan terjadi. Tapi lebih baik aku yang memutuskannya daripada harga diriku dijatuhkan dengan diputuskan oleh seorang pria.”

 

“Tapi aku perlu menyiapkan diriku terlebih dahulu agar saat aku memutuskannya, aku tidak menangis. Memang mungkin aku baru satu hari menjadi pacarnya, tapi aku merasa aku sudah sangat nyaman dengannya. Aku bisa menceritakan semua rahasiaku yang belum pernah aku ceritakan dengan orang lain. Dia bisa menghiburku ketika benar-benar tidak ada orang lain yang bisa menghiburku…”

 

Tes. Air mataku kembali jatuh. Aku sengaja tidak melapnya, lagipula buat apa? Toh tidak ada yang melihatku kan saat ini?

 

Aku berjalan gontai keluar kelasku. Makin lama pandanganku semakin kabur. Aku menangis lagi. Ya! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa bertahan untuk tidak menangis jika di depan Eunhyuk nanti?!

 

Aku berjalan  terus sambil menunduk. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku dan membuatku sedikit terkejut. Tak perlu mendongakan wajah untuk tahu siapa orang yang ada di depanku itu. Dari caranya dia berdiri, aku sudah tahu bahwa orang itu adalah Eunhyuk.

 

Mau apa dia di sini hah? Dengan tetap menunduk aku berbelok ke arah kanan agar bisa menghindarinya, tapi dia malah mengikutiku. Hal yang sama pun terjadi ketika aku berbelok ke arah kiri, dia pun juga mengikutiku. Sebenarnya maunya apa sih?!

 

“Minggir. Aku mau lewat.” Perintahku dingin.

 

“Tidak sebelum kau mau aku ajak bicara.”

 

Yap. Tepat dugaanku pasti dia ingin mengajakku bicara, ehm bukan maksudku memutuskanku. Tapi kenapa secepat ini? Aku belum siap.

 

“Aku bilang minggir.” Perintahku lagi sambil berusaha mencari jalan untuk melarikan diri.

 

“Aku bilang aku tidak akan minggir sebelum kau mau ku ajak bicara!” Eunhyuk tidak mau kalah denganku.

 

Hhm mungkin ini sudah saatnya. Dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Eunhyuk.

 

“Jangan di sini. Cari tempat lain.” Jawabku sambil terus mencoba menahan air mataku yang entah sejak kapan sudah mendesak ingin keluar.

 

“Baik kita ke kafe dekat sekolah ini saja.” Balas Eunhyuk dan menggandeng tanganku.

 

“Lepas. Aku bisa jalan sendiri.”

 

Kebetulan aku sudah tahu kafe yang dimaksud oleh Eunhyuk, jadi aku berjalan mendahuluinya dan sambil terus menguatkan diriku sendiri.

 

*

 

Aku mengambil tempat duduk persis di ujung kafe. Tak lama kemudian Eunhyuk menyusulku dan langsung mengambil tempat tepat di depanku. Perasaanku makin kacau dan gugup, makanya aku daritadi tidak berani memandang Eunhyuk dan menundukan wajahku.

 

“Mau bicara apa? Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu.” Aku tetap tidak menghilangkan kesan dingin dalam nada bicaraku.

 

“Kau tidak mau pesan minum dulu?” tanya Eunhyuk basa-basi.

 

“Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk memesan minum, lebih baik aku pulang sekarang.” Jawabku sambil beranjak dari kursiku.

 

“Baiklah. Aku akan langsung bicara sesuai dengan keinginanmu.”

 

Aku mengurungkan niatku untuk pergi dan kembali duduk.

 

Inilah saatnya…sebentar lagi Eunhyuk pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Kim Jiyeong lakukan sesuatu! Jangan mau harga dirimu dilecehkan karena diputuskan oleh seorang pria. Ayo Kim Jiyeong kau pasti bisa!

 

“Jiyeong-a sebenarnya aku ingin menjelaskan padamu bahwa…”

 

Tidak-tidak aku tidak bisa Eunhyuk mengatakannya duluan padaku. Tidak bisa. Aku menarik nafasku dalam dan meremas rokku dengan kuat seraya memberanikan diri untuk membuka suara.

 

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.”

 

 

 

 

 

-TBC-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s