Me, You and Us [ Part 4 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa aku langsung bergegas menuju tempat kerjaku. Aku tidak peduli tatapan orang-orang lain padaku. Jika ku ladeni, mereka pasti makin menjadi-jadi saja. Aku berjalan menuju halte bus dekat sekolah. Tidak jauh, kira-kira hanya berjarak 1,5 km dari sekolahku. Hanya butuh waktu sebentar menunggu bus datang. Aku mengambil tempat paling belakang di bus ini. Aku menyandarkan kepalaku pada kaca bus, mengistirahatkan pikiranku sejenak. Aku lelah. Pikiran ku lelah, jasmani, dan tubuhku juga sangat lelah.  Tega sekali eomma tiriku, menyuruhku bekerja demi membantu appa, tapi dia sendiri hanya diam di rumah saja? Gila. Itu namanya kejam, kenapa tidak dia saja yang bekerja? Aku ini kan, masih harus sekolah. Belum lagi ditambah dengan masalahku sekarang ini? Makin menderita saja hidupku. Appa, dia juga sudah lama sekali belum pulang, dia bilang masih banyak pekerjaan lagi yang akan dia kerjakan, ini semua demi aku dan eomma tiriku. Tch, seharusnya demi aku saja, buat apa perempuan jahat itu di kasihani. Aku menghembuskan nafasku. Membuat sedikit uap yang tertinggal di kaca bus itu. Cuaca di luar sedang tidak bersahabat, hujan turun deras sekali. Pas sekali dengan keadaanku, aku tidak mebawa jaket, payung atau apalah yang bisa melindungiku dari air hujan.

 

Akhirnya bus yang ku tumpangi ini, berhenti di halte berikutnya. Aku sedikit berlari saat turun dari bus itu. Aku mengenakan tasku, sebagai penutup atas kepalaku agar tidak terkena air hujan. Tapi, tas itu kecil, tidak bisa menutupi seluruh tubuhku. Dan lihat saja, tubuhku sebagian basah kuyup. Aku segera memasuki Club. Belum sampai menutup pintu lagi saja, sajangnim sudah menunggu disana. Ada apa? Apa aku terlambat? Aku segera mengecek jam pada ponselku. Tidak.

“ Aku tidak terlambat, kan? ” tanyaku pada sajangnim.

“ Tidak. ” jawabnya.

“ Tapi kenapa sepertinya kau sedang menunggu-ku? ”

“ Tch, bukan aku yang menunggu-mu. Temanmu menunggu-mu. ”

“ Ne!? ” tanyaku tak mengerti.

“ Aku sudah tau masalah kalian, Eunhyuk sudah menceritakan semuanya. Tch, dasar anak muda, ada-ada saja. Sudah sana! Temui dia, sepertinya masalah kalian ribet sekali, sampai kalian tidak bisa membicarakannya di sekolah. ”

Hyuk Jae benar-benar sudah disini!? Tch, dasar bodoh! Dia bisa menungguku dulu, sampai aku sampai di Club baru dia datang. Kenapa jadi dia yang datang duluan?

“ Dimana dia? ”

“ Di lantai atas. Aku suruh menunggunya di kamar saja. Aku tidak mungkin menyuruhnya menuggunya di lantai bawah. Banyak pengunjung, dan seharusnya kau bekerja, kan? Tidak mungkin, aku membiarkan kalian membicarakan masalah kalian di lantai bawah. Yang ada, pasti teman-temanmu akan iri melihatmu karena tidak bekerja. ”

“ Sajangnim, tidak apa-apa kalau aku tid……  ”

“ Gwechana. “ sajangnim memotong perkataanku. Aku langsung berlalu meninggalkan sajangnim. Aku baru menginjakan anak tangga yang pertama, tapi sajangnim memanggilku lagi.

“ Jooyoung. ” panggil sajangnim. Aku berbalik.

“ Ne? ”

“ Sepertinya karena masalah ini, mengharuskan kalian akan sering bertemu. “ katanya. Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksudnya?

“ Lalu? ”

“ Ah, aniyo. “ jawabnya. Dia lalu berbalik pergi. Aku makin mengkerutkan dahiku. Apa maksudnya? Sering bertemu dengan Hyuk Jae? Memang apa salahnya?

***

 

Chae Yeon POV

“ Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a. ”

Aku hampir nyaris kehilangan kata-kata. Apa katanya? ‘Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a.‘ Aku sedang tidak mengingau kan? Apa aku sedang bermimpi?

“ Kau lucu sekali. ” desisku.

“ Sayangnya, aku sedang tidak membuat lelucon. ”

Deg! Saat ini aku benar-benar kehilangan kata-kata. Aku melihat ke arahnya. Kyuhyun juga melihat ke arahku. Dia tersenyum. Astaga, kenapa jadi seperti ini?

“ Kau ingat? ” tanyaku. Bodoh, kenapa pertanyaan bodoh seperti itu yang aku tanyakan.

“ Hmm. ”

“ Jadi dulu benar, kita berteman sejak kecil? ”

“ Mungkin. Memori masa kecilku, tiba-tiba melintas begitu saja. ”

“ Kau tidak yakin? ”

Aku melihat Kyuhyun menggerakan bahunya ke atas.

“ Tapi kenapa aku tidak mengingat sama sekali? ” kataku.

“ Satu alasan. Pertemuan terakhir kita, adalah saat terburuk bagiku. Kau membenciku. Mungkin itu yang membuat-mu benar-benar melupakanku. ”

Aku makin tidak tahu harus berkata apa lagi. Bingung dan rasa campur aduk lainnya, yang benar-benar tidak bisa di jelaskan lagi.

“ Membencimu? Kenapa? ”

“ Dulu, keluargaku akan pindah ke Australia dan saat itu aku tidak pernah memberitahumu sebelumnya. Aku takut jika memberitahumu, kau akan menangis, tidak mau makan, mengurung diri seharian karena itu artinya kita akan sangat jarang bertemu. Dan benar saja, saat hari itu datang, kau benar-benar mencaciku, memarah-marahiku, menangis, kondisimu benar-benar kacau. Dan kau bilang bahwa kau membenciku. Kau tidak akan mau bertemu denganku lagi. Sebenarnya saat itu aku sangat sedih, sakit hati. Tapi kupikir lagi, itu semua salahku. Seharusnya aku tahu, aku harus memberi tahu berita kepindahanku padamu. ”

Aku mendengarkan penjelasan panjang lebarnya itu. Aku menangis? Tidak mau makan? Mengurung diri seharian? Apa itu benar-benar seorang Lee Chae Yeon?

“ Kau pernah tinggal di Australia? ”

“ Ternyata kau benar-benar melupakannya. ” katanya. Raut wajahnya kenapa jadi sedih begitu?

“ Kau ingat dengan noona-ku? ” katanya lagi.

“ Kau punya saudara? Kukira kau anak satu-satunya. Noona-mu tidak pernah kelihatan. ”

“ Dia sedang kuliah di Australia. Noona-ku mengambil jurusan musik. ”

“ Noona-mu kenal denganku? ”

“ Bahkan kalian sering ikut eomma berbelanja. ”

Aku mengangguk sedikit. Setelah itu, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya memegangi kedua lenganku, karena mengigil. Bajuku basah dan saat ini hujan belum juga berhenti. Ditambah lagi, hujan saat ini disertai angin.

“ Kau kedinginan? ” tanyanya.

“ Tidak. ” jawabku bohong.

“ Tapi tubuhmu mengigil. ”

Sedetik kemudian, Kyuhyun sudah meletakan tangannya di pundakku. Merangkulku. Dia sedikit membuatku menjadi lebih dekat dengannya. Jantung berdetak kencang sekali. Kenapa jantung jadi berdetak kencang sekali? Pasti ada yang salah. Aku sudah gila. Aku takut kalau aku terlalu dekat dengannya, Kyuhyun bisa mendengar detak jantungku.

“ Setidakya ini bisa membuatmu sedikit hangat. ”

Aku melihat ke arahnya. Kali ini dia tidak melihat ke arahku, padangannya tetap lurus kedepan. Seolah-olah dia sedang menikmati hujan yang sedang turun. Tapi, kenapa justru tampangnya sedikit, eh? Mempesona….

***

 

Jooyoung POV

“ Kau menunggu lama, tuan Lee? ” tanyaku. Aku membuka pintu kamar tamu ini.

“ Tidak. ”

“ Kenapa jadi kau yang datang duluan? ”

“ Apa ada masalah? ”

“ Bodoh. Seharusnya, kau menelepone-ku dulu, memastikan apa aku sudah ada disini atau belum. ”

“ Pada akhirnya, aku akan tetap bertemu denganmu disini. “

“ Keras kepala. ” kataku pelan sehingga tidak dapat didengarnya. Aku menutup pintu kamar ini.

“ Di luar sedang hujan, kau tidak kehujanan? ” tanyanya.

“ Kau bisa lihat sendiri. Bajuku sedikit basah. ”

“ Kalau begitu, kau ganti saja baju-mu dulu. ”

“ Tidak usah. Bicarakan saja langsung masalahnya, aku tidak mau buang-buang waktu. ”

“ Aku ingin tanya sesuatu padamu. ” lanjutku lagi.

“ Apa? ”

“ Apa saat kau keluar dari ruang Choi seoseongnim, kau melihat ada murid di dalam sekolah? ”

“ Di dalam sekolah sudah sepi, tapi saat aku keluar denganmu, kau lihat juga kan? Di luar sekolah, masih ada beberapa murid. ”

“ Kau yakin? ”

“ Ne. Waeyo? ”

“ Aku sudah menceritakan semua masalah ini pada sahabatku. ”

“ Lalu, sahabat-mu percaya denganmu? ”

“ Tentu saja. ”

“ Ku kira, tak ada satupun murid di sekolah itu yang percaya. ”

“ Ya, Hyukjae! Kau tidak berpikir masalah kertas di mading itu bukan seoseongnim kan yang melakakukan? ”

“ Tch, sebenci-benci aku dengannya, aku tidak pernah berpikir dia yang melakukannya. Tidak mungkin, seoseongnim rela menghabiskan waktu hanya karena itu. ”

“ Semuanya mungkin. ”

“ Tapi aku yakin, bukan seoseongnim. ”

“ Setelah kemarin dia benar-benar memjokkan kita, menuduh kita melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Kau yakin? ” tanyaku sekali lagi. Hyukjae mengangguk.

“ Jangan menuduh seseorang kalau tidak ada kebenarannya. ” tambahnya lagi.

“ Hhh, kau pikir seoseongnim menuduh kita ada kebenarannya? Tidak! ”

“ Lalu siapa!? ”

“ Molla!!!! Tujuan-mu kesini adalah untuk mencari pelaku dari kejadian kertas busuk itu kan?! ”

Hyukjae tidak menjawab. Diam.

“ Murid di sekolah juga bisa dipertimbangkan. ” kataku.

“ Apa maksudmu? ”

“ Kau pernah punya masalah di sekolah ini? ”

“ Tidak. Dan ini kali pertamanya aku mendapat masalah. ”

“ Masalah dengan murid-murid disekolah, juga tidak pernah? ” tanyaku lagi. Hyukjae tidak menjawab. Lagi. Tapi kali ini dia terlihat sedang berpikir, mencerna pertanyaanku barusan.

“ Saat akan kenaikan kelas tahun lalu, ada seorang yeoja yang menyatakan cinta padaku. Dia cantik, pintar, dan sangat modis. Dia mengatakan secara terang-terangan bahwa dia menyukaiku.”

“ Jangan bilang padaku, kalau kau menolaknya saat itu juga. ”

“ Aku menolaknya. Saat itu juga. Aku tidak suka dengannya, kelakuannya. Dia terlalu agresif, dia seorang yeoja dan bukan seharusnya dia yang menyatakan cinta pada namja yang dia sukai. Itu, sama aja menjatuhkan harga dirinya. ”

“ Kau salah besar, memang apa salahnya jika seorang wanita yang menyatakan cintanya duluan? Kau pikir dalam dunia percintaan itu, harus selalu pria yang menyatakan cintanya duluan? ”

“ Kupikir begitu. ”

“ Bodoh. ” desisku.

“ Jadi kau benar-benar menolaknya saat itu juga? ” lanjutku lagi.

“ Aku sudah bilang padanya, bahwa aku tidak suka dengannya. Tapi, dia tetap bersikeras memaksaku. Aku tidak tahu harus apa lagi. Jadi, aku sedikit kasar kepadanya. ”

“ Kasar padanya? Ya, hati wanita itu tidak sekuat dengan hati pria. Jika, dia benar-benar sudah tidak kuat, pasti dia akan menangis. Tapi menangis disini bukan berarti dia lemah, tapi karena dia benar-benar sudah tidak tahan dengan apa yang dia rasakan saat itu. Dan terakhir, saat semua itu sudah berlalu baginya, dia akan merasa dendam pada orang yang sudah membuatnya menangis. Rasa dendam wanita itu, biasanya akan lebih besar daripada seorang pria. Dan alasan ini, bisa masuk daftar pelaku kertas busuk itu, selain seoseongnim tentunya. ”

“ Jadi kau berpikiran dia yang melakukannya? ”

“ Apa yeoja itu populer? ”  aku mengambaikan pertanyaan Hyukjae.

“ Sangat. ”

“ Siapa namanya? ”

“ Shin Soo Ae . Murid kelas 3B ”

“ Masalah ini, pasti akan lebih besar lagi. ”

“ Kita masih bisa membicarakannya pada  Choi seoseongnim. ”

“ Bicarakan apa? ”

“ Kertas yang kau sebut busuk itu. ”

“ Tentu saja. ”

Setelah perkataan terakhirku itu. Tidak ada yang berbicara lagi. Aku maupun Hyukjae. Sunyi, suasana yang bisa digambarkan pada ruangan ini. Aku menelan ludahku. Kenapa keadaannya jadi canggung seperti ini? Untuk kali ini, aku menyesesal dengan perbuatanku. Seharusnya aku tidak menutup pintu kamar ini. Aku memegangi seragamku yang masih sedikit basah. Dengan keadaan seperti ini, aku pasti akan terkena flu. Seragamku yang lembab, ditambah dengan ruangan ber-AC seperti ini. Aku melihat ke arah Hyukjae. Dia juga sama denganku, hanya diam saja ditempatnya. Aku masih tetap memperhatikan Hyukjae, sampai dia akhirnya sedikit mendongak dan menatap lurus ke arahku. Aku segera, memalingkan wajahku.

“ A-aku harus kebawah. Kau pulang saja. ” kataku akhirnya memecah keheningan. Aku segera berbalik pergi, menyambar kenop pintu itu.

“ Tidak. Aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja. ”

Aku berbalik.

“ Untuk apa? Pembicaraan ini sudah selesaikan? Kenapa masih menungguku? ”

“ Aku akan mengantarmu pulang. ”

“ Ne!? Tch, kau gila!!? Aku sudah biasa pulang sendiri. ”

“ Tapi aku ingin mengantarmu pulang! ”

“ Tidak usah! Kau pulang saja duluan! ”

“ Tidak. ”

“ Hyukjae! ” kataku dengan penekanan. Yang benar saja, kenapa dia tiba-tiba ingin mengantarku pulang? Aneh.

“ Sudah berapa kali aku katakan, hah!? Aku tidak pernah mau menerima penolakan. ”

***

 

Author POV

Kyuhyun mengadahkan kepalanya keatas, sedikit keluar pada naungan atap yang menjuntai dari toko itu. Memastikan bahwa, apakah hujannya sudah mereda. Mereka masih berada di pinggiran toko itu. Sejak tadi, hujannya belum juga reda. Sampai saat ini, walaupun hujannya masih turun, tapi tidak sederas sejak tadi.

“ Ayo pulang! ” ajak Chae Yeon.

“ Tidak. Hujannya masih deras. ”

“ Ya, ini sudah tidak terlalu deras. Ayolah! ”

“ Kau mau sakit? ”

“ Ish, percayalah! Kita tidak akan sakit. ”

Kyuhyun akhirnya menuruti ajakan Chae Yeon. Mereka berjalan di sepanjang pinggir jalan kota itu. Jalan kemarin yang mereka lalui tanpa sengaja. Sesekali percikan air mengenai mereka, karena mobil yang yang mengenai genangan air di tengah jalan. Orang normal, pasti akan mengatakan bahwa hujan ini masih deras. Tapi tidak dengan Chae Yeon, dia bilang hujan ini sudah tidak deras. Ya.. karena dia suka hujan. Mereka menelusuri jalan pulang itu dengan basah kuyup, alias mereka tidak menggunakan payung, jas hujan atau semacamnya untuk melindungi diri dari hujan. Diam. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Tidak seperti kemarin. Mungkin, ini karena perkataan Kyuhyun yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia sudah ingat tentang masa kecilnya. Dan satu lagi, sikap Kyuhyun yang tiba-tiba merangkul Chae Yeon, memberi kehangatan di sela hujan yang turun dengan deras.

Mereka sekarang sudah sampai di rumah. Tanpa ada kata perpisahan, mereka langsung masuk ke rumah masing-masing.

 

Chae Yeon POV

Aku memasuki rumahku, tanpa ada kata perpisahan sedikitpun dengan Kyuhyun. Jujur, aku masih shock sekali dengan perlakuannya tadi. Dia merangkulku, memberi sedikit kehangatan. Dan.. rangkulan itu, nyaman sekali. Aku langsung menggelengkan kepalaku sedikit, terkejut dengan apa yang aku pikirkan barusan. Lee Chae Yeon, kau pasti sudah gila.

“ Chae Yeon-a! Astaga! Kenapa kau basah kuyup begini?! ” pekik eomma.

“ Di luar hujan, eomma. ” jawabku singkat.

“ Aish, eomma tahu! Tapi, apa kau tidak bertemu dengan supir appa? ”

“ Supir appa menjemputku? ”

“ Jadi kau benar-benar tidak bertemu dengannya? Aish, bukankah ini sudah dibicarakan tadi malam? Supir appa menjemput kalian, lalu kalian pergi ke butik langganan eomma. Seharusnya sekarang kalian ada disana untuk fitting baju pernikahan. ”

“ Eomma tidak memberitahuku dengan jelas. ”

“ Kyuhyun mana!? ” tanya eomma lagi. Sepertinya, eommaku perhatian sekali pada Kyuhyun.

“ Tentu saja dirumahnya. ”

“ Kau pulang dengannya? ”

“ Hmm. ” jawabku malas.

“ Dengan keadaan sama sepertimu ini? ”

“ Aish, eomma! Tentu saja! Wae? Ada yang salah memang? ”

“ Pergi mandi, ganti baju-mu, eomma akan buatkan coklat panas untukmu. Kau minum, setelah itu kau pergi ke rumah Kyuhyun. ”

“ Ne!? Kenapa aku harus kerumahnhya? ”

“ Orang tuanya sedang tidak dirumah. Kau harus menjaganya, selama ahjumma dan ahjussi tidak ada. ”

“ Memang Kyuhyun tidak bisa jaga diri sendiri? ”

“ Dia sedang sakit, Chae Yeon. Dia pasti sakit karena hujan-hujanan begitu. Kau jangan berpikir diri sendiri, Kyuhyun tidak sepertimu yang senang dengan hujan. Pasti dia terkena deman jika habis hujan-hujanan. ”

***

Aku baru keluar dari kamar mandi, sedang mengeringkan rambutku. Aku menuju lemari pakaianku, memlih celana panjang yang sedikit pas pada kakiku berwarna pink soft dan atasan lengan panjang putih polos dan sweater rajutan abu-abu. Rrghh, ada-ada saja. Bagaimana bisa, hanya kehujanan saja langsung demam begitu. Pasti ini hanya akal-akalan eomma agar aku mau kerumah Kyuhyun. Aku mengenakan bajuku dan langsung keluar dari kamarku. Meneguk coklat panas yang ada di meja ruang makan. Menuju pintu keluar rumahku, mengambil payung dan berjalan ke arah rumah Kyuhyun. Sampai saat ini saja, hujannya masih tidak berhenti juga, batinku. Aku memasuki pagar rumah Kyuhyun dan sampai sekarang ini, aku berada tepat di depan pintu masuknya. Aku mengetuk pintu rumahnya dengan keras. Sepertinya, lebih pada menggedor agar si pemilik rumah itu mendengar ada tamu yang datang. Aku terkesiap, saat wajah pucat dan lesu, rambut yang sedikit acak-acakkan berdiri di hadapanku dan membukakan pintu masuk untukku.

“ Ada apa? ” tanyanya. Aura dinginnya, mulai muncul kembali.

“ Aku tidak tahu apa ini kesepakatan kedua orangtua-mu dan eommaku, eomma menyuruhku kesini untuk melihat keadaanmu yang sedang sakit karena kehujanan. Dan aku disuruh untuk menjagamu, karena orang tuamu tidak ada dirumah. ”

“ Masuklah. ”

Aku terkesiap. Lagi. Responnya hanya itu. Tumben sekali, biasanya pasti dia akan mengomel-omel tidak jelas kepadaku. Apa… Kyuhyun benar-benar sakit?

Aku masuk kerumahnya. Mengamati punggung Kyuhyun yang sedang berjalan ke arah kamarnya. Aku mengekor di belakangnya. Tapi, hanya berdiri di ambang pintu kamarnya. Aku melihat dia sedang merebahkan diri pada tempat tidurnya, menarik selimut yang ada pada ujung tempat tidurnya hingga setengah bagian tubuhnya tertutup. Dan tangan kirinya, memegangi kepalanya dan sering kali memijatnya perlahan.

“ Kau sakit? ” kataku akhirnya memulai perbincangan.

“ Kau bisa lihat sendiri. ” katanya, tetap pada nada dinginnya itu. Akhirnya, aku memasuki kamarnya itu. Mendekati Kyuhyun, berniat melihat keadaannya dari dekat. Wajahnya pucat, tidak ada energi sama sekali yang terpancar dari tubuhnya.

“ Demam. ” kataku.

“ Sok tahu. Aku hanya terkena flu. ”

“ Kalau hanya terkena flu, wajahmu pasti tidak akan sepucat ini. “

Aku duduk pada pinggiran kasur ini. Menghadap ke arahnya.

“ Karena hujan-hujanan? ”

“ Tidak juga. ”

“ Jangan bohong, eomma bilang kau pasti akan sakit setelah hujan-hujanan. ”

“ Aku tidak sakit, hanya flu. ”

“ Flu dengan sakit apa bedanya, bodoh. ”

“ Yak! Aku sedang seperti ini, masih kau katai bodoh? ”

“  Biar saja ini kesempatan, bukan? Aku mengatai-mu bodoh, kau tidak bisa apa-apa karena kau sedang sakit. ”

“ Kau pikir jika aku sedang sakit, aku akan mengalah denganmu, begitu? ”

“ Ku pikir, begitu. ”

“ Aish, sudahlah. Tujuanmu kesini untuk megurusi-ku kan? ”

“ Aku tidak tahu. ”

“ Buatkan sesuatu yang bisa kumakan, aku lapar. ”

“ Aku tidak bisa memasak. ”

“ Sama sekali? ”

“ Kimchi, kau mau? ”

“ Itu sayuran semua, aku tidak suka. “

“ Kau tidak suka sayuran? ”

“ Tidak. Sayuran itu tidak enak, rasanya pahit. ”

“ Itu karena kau tidak sering memakannya. Kau jadi tidak terbiasa dengan rasanya. ”

“ Tidak. Aku tetap tidak mau. ”

“ Tidak usah menolak. Akan kubuatkan. ” kataku memaksa. Aku beranjak pergi dari kamarnya, berjalan ke arah dapur. Mencari barang-barang yang kubutuhkan untuk masak. Tentu saja, ini bukan rumahku. Jadi aku sedkit susah mempersiapkan bahan-bahannya.

“ Kyuhyun! Dimana kau menyipan mangkuknya? ” tanyaku setengah berteriak.

“ Aku tidak tahu, kau cari saja sendiri! ” jawabnya setengah teriak juga.

“ Tch, jinjja. ” dumalku.

Aku masih tetap mencari tempat mangkuk diletakan, sampai akhirnya ketemu. Aku memasukan semua sayuran yang ada di kulkas rumah Kyuhyun. Mencampurnya dengan bumbu yang biasa dipakai untuk membuat kimchi, mengaduknya dan akhirnya selesai. Aku membawa kimchi buatanku ini, ke kamarnya.

“ Yak! Ayo mak…. ” aku belum sempat menyelesaikan perkataanku, tapi pemandangan didepanku ini, membuatku menghentikan kata-kataku. Dia tertidur. Kyuhyun tertidur. Sebentar saja kutinggal, langsung tertidur. Ternyata, dia benar-benar sakit. Aku berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Meletakkan kimchi di meja samping tempat tidurnya. Aku menarik bangku, agar bisa duduk di samping tempat tidurnya. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang, aku meletakan sikut pada lututku, menopang dagu dengan kedua tanganku. Aku tidak sadar bahwa sekarang, aku sedang memperhatikan wajahnya yang sedang teridur. Terlihat damai, beda sekali jika dia sedang sadar. Seperti setan yang berwujud nyata yang diturukan ke bumi.

“ Hey, kau sudah puas memperhatikan wajahku? Aku sudah berusaha keras, agar tidak melakukan apapun sejak tadi. ”

Aku tersentak. Astaga, jadi sejak tadi dia tidak tidur? Keadaan sakit seperti ini dia masih saja mengerjai orang. Aku jadi ragu, jangan-jangan muka pucat seperti itu, hanya akal-akalannya saja.

“ Yak!!! ” teriakku. Aku melemparkan bantal yang ada pada bangku ini ke arahnya.

“ Yak!!! ” dia balas meneriakku. Tapi tidak dengan lemparan bantal tadi.

“ Jadi sejak tadi kau tidak tidur!? ” pekikku.

“ Tidak. Aku hanya mengistirahatkan mataku sebentar. ”

“ Kalau begitu, saat aku datang kau seharusnya bangun! ”

“ Kau tidak membangunkanku. ” ucapnya santai.

“ Aku pikir kau benar-benar sedang tidur! Jadi aku tidak tega membangunkanmu, karena kau lagi sakit. Tapi aku lupa, kau sedang tidak sakit kan? Hanya terkena flu saja. Cepat, makan kimchi-nya aku sudah membuang waktuku untuk membuat kimchi itu. ”

“ Aku bilang, aku tidak suka makan sayuran. Aku juga tidak memintamu untuk membuatkannya. Lagipula, kenapa aku harus aku memakan kimchi. ”

“ Tidak ada alasan! Cepat makan! ” aku menyodorkan mangkuk berukuran sedang berisi kimchi ke arahnya.

“ Aku bilang tidak. Tetap tidak. ”

Ish! Dasar keras kepala! Aku mengambil kimchi itu dengan sumpit, yang tadi ku gunakan untuk mengaduk. Menyodorkan secara paksa ke arah mulutnya itu.

“ Yak! Buka mulutmu! ” paksaku. Dia tidak menjawab. Benar-benar mengunci mulutnya itu agar tidak ada kesempatan untukku memasukan makanan ini ke dalam mulutnya. Tingkahnya seperti anak kecil, saja. Padahal wajahnya itu, sama sekali tidak mirip dengan sikapnya saat ini.

“ Ayolah, sedikit saja. Aku jamin, rasanya enak. Kau mau sembuh dari flu-mu itu tidak? ” bujukku lagi.

“ Kau membujukku seperti itu, seperti kau benar-benar peduli denganku. ” akhirnya dia membuka mulutnya juga. Aku baru mau memasukan kimchi ini ke dalam mulutnya, tapi kata-katanya benar-benar membuatku menjadi patung.

“ Kau seperti istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya. ”

Skak mat. Berapa kali hari ini Kyuhyun membuatku kehabisan kata-kata. Perkatannya tadi saat pulang sekolah, perlakuannya yang tiba-tiba merangkulku, dan sekarang perkatannya lagi yang membuatku menjadi patung. Aku menjauhkan sumpit yang sedang kupegang dari mulutnya. Meletakan kembali, pada mangkuk berukuran sedang yang ada di meja samping tempat tidurnya.

“ Te-terserah kau saja, mau memakan kimchinya apa tidak. ” kataku gugup.

“ Tadi kau memaksaku, sekarang kau bilang terserah saja. Jadi bagaimana? ”

Aish, nada bicaraku sudah gugup seperti ini. Dia menanggapinya dengan santai saja, apa dia tidak merasa bersalah? Membuat seseorang terkena serangan jantung sementara.

“ Kalau kau tidak mau memakannya, juga tidak apa-apa. ”

“ Tidak. Aku mau memakannya. ”

Eh? Dia mau memakannya? Ada angin apa sampai dia mau memakan sayuran? Bedasarkan cerita ahjumma waktu makan malam itu, sepertinya Kyuhyun benar-benar benci dengan sayuran. Tapi, sekarang….

“ Kalau begitu, cepat habiskan makanannya. ”

“ Kau tidak mau menyuapiku? ”

“ Kau bisa makan sendiri kan? Apa tanganmu itu juga sedang sakit? ”

“ Kalau begitu, aku tidak mau memakannya. ”

“ Aish! Jangan bersikap seperti anak kecil! ”

Astaga, kenapa tingkahnya jadi seperti ini? Benar-benar, tingkahnya itu susah sekali untuk ditebak. Menyebalkan.

“ Biar saja. ”

Arghh, menyebalkan sekali tingkahnya saat ini. Kalau bukan pikiranku yang tiba-tiba membayangkan eomma akan mencekikku kalau tidak menjaga Kyuhyun dengan benar. Aku tidak akan mengambil mangkuk itu, menyumpit makannya, dan menyuapkan ke dalam mulutnya.

“ Habiskan kimchinya, aku tidak mau tahu. ” paksaku.

“ Yak! Bagaimana aku menghabiskannya, kalau satu suap saja rasanya sudah tidak enak sekali. Lagipula, tadi kau bilang hanya sedikit saja kan? “ katanya sedikit tidak jelas. Dia berbicara saat mulutnya itu penuh dengan makanan. Pipinya sedikit mengebung, dan tampangnya itu lucu sekali.

“ Itu kan kalau aku tetap memaksamu untuk memakannya, beda dengan sekarang. Kau sendiri yang mau memakannya. Jadi kau harus habiskan. ”

“ Rasanya tidak enak. Aku tidak kuat, jika harus menghabiskannya. ”

“ Jangan banyak bicara. Cepat telan makannya! ”

Kyuhyun akhirnya diam. Tidak berbicara apa-apa lagi. Tapi, beberapa menit kemudian dia mengambil sumpit dari tanganku, menyumpit kimchinya dan menyodorkannya ke arahku.

“ Kau juga harus makan. Ayo, buka mulutmu! ”

“ Tidak mau. Aku tidak lapar. “ kataku bohong. Sebenarnya, perutku sudah benar-benar minta diisi. Yang benar saja, sejak pulang sekolah tadi aku belum memakan apapun. Eomma langsung menyuruhku untuk kesini.

“ Tidak lapar apanya? Setelah kau mengganti baju, kau langsung kesini kan? Kau tidak mengisi perutmu dulu, aku tahu pasti kau sudah mulai merasa lapar sekarang. Dulu, setelah pulang sekolah pasti kau akan langsung memakan makanan apa saja yang ada di meja makan. Apalagi, kau habis hujan-hujanan. ”

Apa dia punya alat untuk menerawang isi pikiran seseorang? Atau, memang isi otakku yang trasnparan? Tiba-tiba, aku teringat kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Tunggu-tunggu, tadi dia bilang apa, dulu!? Dulu!? Astaga, bagaimana bisa aku lupa soal itu. Kyuhyun, sudah mengingat masa kecilnya itu. Jadi, seharusnya aku tidak heran jika dia mengucapkan kata ‘Dulu’

Kyuhyun lebih mendekatkan sumpit itu kepadaku. Mengisyaratkan agar aku segera membuka mulutmu. Tidak usah dia menyodorkan sumpitnya, sepertinya aku akan tetap membuka mulutku. Seperti sekarang yang sedang kulakukan.

“ Kenapa aku jadi ikut memakannya? Kau saja yang makan, habiskan agar energimu terisi lagi. Tidak lesu seperti ini, aku bisa pulang untuk makan setelah ini. ”

“ Kau pulang setelah ini? Siapa yang bilang kalau kau akan pulang setelah ini? ”

“ Mwo? ”

“ Kau tetap harus disini. ” perintahnya.

“ Yak! Kau pikir aku tidak ada kegiatan apa-apapun, sehingga aku harus tetap disini, menjaga mu disini, hanya diam melihatmu saja. Aku masih punya kegiatan yang lebih menyenangkan daripada harus berdiam disini. ”

“ Aku tidak menyuruh kau untuk menjagaku, aku hanya minta kau untuk tetap disini. ”

“ Untuk apa, Cho Kyuhyun? Aku tetap disini, sama saja aku harus diam kan? Tidak melakukan apapun, aku bosan. ”

“ Kalau kau bosan, lebih baik kau bertanding game denganku. ”

***

 Jooyoun POV

Aku melirik jam pada ponselku. Jam kerjaku sudah selesai, ini waktunya pulang. Aku sedikit menggeliat setelah berganti pakaian. Merenggakan otot-otoku yang bekerja paruh waktu setiap hari. Ini, sudah sangat malam dan Hyukjae tetap menunggu sampai sekarang. Apa dia tidak dicari oleh orang rumahnya? Mungkin, bagiku ini sudah sangat biasa, pulang larut malam begini dan sendirian. Aku berjalan keluar dari ruang ini. Club ini, memang sudah sepi. Hari ini, memang jadwalku untuk memastikan semuanya sudah dalam keadaan benar, sebelum tutup. Tapi tumben sekali, sajangnim juga belum pulang sampai sekarang.

“ Sajangnim, tumben kau belum pulang? ”

“ Mungkin beberapa menit lagi, ada sedikit urusan jadi aku lembur. ”

“ Ahh.. Semuanya sudah rapi, aku pulang duluan. ” pamitku.

“ Kau pulang dengan Eunhyuk kan? ”

“ Kau tahu? ” tanyaku kaget.

“ Kau pikir aku tidak tahu apa-apa, begitu? Eunyuk yang mengatakan padaku agar aku membiarkannya menunggu sampai kau pulang. Karena biasanya, pasti aku tidak akan membiarkannya pulang malam seperti ini. Kau tahu, ini baru pertama kalinya dia rela menunggu seseorang sampai larut malam begini. ” jelas sajangnim.

“ Tidak usah hiperbolis. ”

“ Kau tidak percaya? Aku sudah lama mengenal Eunhyuk, Jooyoung. ”

“ Aku pamit pulang. Annyeong. ”

Memang susah, jika harus adu mulut dengan sajangnim. Dia tidak pernah kehabisan kata-kata. Lebih baik aku menghiraukannya saja. Dengan begitu, emosiku tidak akan naik sampai ke ubun-ubun karena rasanya ingin sekali mencekik orang di hadapanku ini.

“ Baiklah. Hati-hati dijalan. ”

“ Seharusnya kau katakan itu pada dongsaeng-mu. ”

“ Kau saja yang sampaikan padanya, agar menjagamu selamat sampai kau dirumah. ”

“ Aku malas. Lagipula, itu juga tidak ada gunanya. ”

“ Aish! Sudahlah, kau pulang sekarang! Aku tidak mau melihat Eunhyuk menunggu lama lagi. Dia sepertinya sudah agak bosan. ”

“ Siapa suruh menungguku pulang. ”

Aku langsung melesat pergi dari hadapan sajangnim. Bisa-bisa aku dicekik habis-habisan kalau tidak segera pergi. Aku berjalan, menuju Hyukjae. Lihat, tampang lelah seperti itu saja, masih bisa memaksaku untuk mengantar pulang. Apa aku harus membelikan cermin untuknya? Agar dia bisa melihat bagaimana tampangnya saat ini.

“ Ya, ayo pulang. ”

“ Apa kau ganti pakaian memerlukan waktu lebih dari 5 menit? ”

“ Ne? ” tanyaku tidak mengerti.

“ Ani, kajja! ”

Dia berjalan mendahuluiku. Aku mengekor dibelakangnya. Menuju mobilnya dan langsung melesat pergi dari Club ini.

“ Kau sudah makan? ” tanyannya ketika sudah mulai menjalankan mobil.

“ Belum, tapi aku tak lapar. ”

“ Kau mau berbohong padaku, hah? Kau pikir aku akan percaya jika kau bilang kau tidak lapar. Aku sudah hafal  akal-akalanmu, Jooyoung. Ayo pergi makan, setelah itu aku akan mengantar pulang. ”

“ Restaurant sekitar sini, sudah tutup kalau jam segini. ”

“ Kau baru jadi warga Seoul beberapa bulan? Kedai makan di pinggir jalan, tidak jarang jika sudah larut. Kau jangan mencari-cari alasan lagi. ”

Lee Hyukjae. Kalau bukan itu namanya, pasti dia tidak suka memaksa. Hyukjae mengarahkan stirnya ke kanan. Tidak jauh dari sini, ada beberapa kedai di pinggir jalan yang masih buka. Hyukjae, mengentikan mobilnya di salah satu pinggir kedai ini.

“ Kau tidak bawa jaket? ”

“ Untuk apa? ”

“  Di luar cuacanya sedang dingin. Pakai jaketku saja, seharusnya kau selalu membawa jaket jika ke sekolah. “ katanya. Dia menyodorkan jaketnya, yang ada pada bangku penumpang di belakang.

“ Tidak usah. Kau kira aku anak kecil. ” tolakku.

“ Pakai jaketnya. Aku tidak mau kau sakit. ”

Entah kenapa. Entah apa. Perkataanya tadi, membuatku sedikit kehilangan kata-kata. Speechless. Kenapa, tiba-tiba dia jadi peduli padaku. Mengantarku pulang, mengajakku makan, dan sekarang, aku tidak memakai penghangat tubuh di cuaca sedikit dingin seperti ini. Dia juga peduli padaku. Aneh. Aku harus bertanya pada dokter, penyakit apa yang menyerang Hyukjae sampai dia bisa seperti ini. Aku turun dari mobilnya, sambil memasangkan jaket pada tubuhku.

“ Ahjumma. ” Hyukjae memanggil penjaga kedai disini.

“ Aku pesan 2 jajangmyeon. ”

“ Algeusemnida. ”  kata ahjumma itu, lalu dia berbalik pergi.

“ Yak, kenapa kau langsung memasankan jajangmyeon untukku? ”

“ Kalau aku bertanya padamu kau makan apa, pasti kau akan menjawab kalau kau tidak lapar. ”

“ Sok tahu. ”

“ Aku memang tahu. ”

“ Hyukjae, kalau memang besok ingin bertemu seoseongnim. Aku tidak bisa jika pulang sekolah. Aku belum mengatakannya pada sajangnim. ”

“  Apakah aku mengatakan pulang sekolah? Hah, ternyata kau juga sok tahu. ”

“ Hey, aku tidak bercanda. ”

“ Aku tidak sedang bercanda, Nona Kang. Aku memang tidak mengatakan jika pulang sekolah, kau saja yang menyimpulkan sendiri. ”

“ Jadi kau berpikir akan membicarakan masalahnya saat jam pelajaran sekolah? ”

“ Apa ada waktu yang tepat lagi? ”

“ Bodoh! Apa yang murid-murid lain pikirkan, jika mereka melihat kita berdua masuk ke ruang Choi Seoseongnim! ”

“ Aku sudah mempersiapkan caranya, Jooyoung. Kau pikir aku sebodoh itu? ”

“ Kau bodoh. Masalah yang melibatkan kau saja, kau tidak tahu. ”

“ Kondisinya berbeda. ”

“ Berbeda apanya? Kau bodoh tetap saja bodoh, mungkin angin malam ini yang membuatmu, jadi… sedikit lebih pintar ”

“ Kau tidak mengerti? Sebenarnya kau mengataiku bodoh, apa kau sendiri tidak bodoh?  ”

“ Jangan mulai. ”

“ Wae? Aku tidak bermasud untuk memulai berdebat denganmu. ”

“ Terserah kau saja. ”

Aku sedang malas berdebat dengannya. Aku lelah. Lelah sekali, malah. Aku ingin cepat sampai rumah, dan tidur. Tapi, makhluk di depanku ini malah membawaku kesini. Beberapa menit kemudian, ahjumma tadi datang menghampiri meja kami. Membawa senampan berisi 2 mangkuk jajangmyeon.

“ Jal mogessemnida. ” kata ahjumma penjaga kedai ini.

“ Ne, gamsahamnida. ”

Aku segera mengambil sumpit yang juga dibawakan penjaga kedai ini. Dan langsung memakan jajangmyeon yang ada di hadapanku ini.

“ Begitu kau bilang tidak lapar? ”

“ Aku hanya ingin cepat-cepat sampai rumah. ” kataku singkat. Aku kembali melanjutkan makannku. Begitu juga dengan Hyukjae, dia mulai menyuap jajangmyeon miliknya.

“ Yak, pelan-pelan saja makannya. ”

“ Aku sudah bilang aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Aku ingin cepat-cepat berpisah denganmu. Aku sudah bosan, melihatmu sepanjang hari. ” kataku. Aku berbicara dengannya tanpa melihat wajahnya. Masih tetap sambil, memakan jajangmyeonku.

“ Kau tidak memakan jajangmyeonmu? ” tanyaku, sekarang aku melihat ke arahnya. Bukannya dia menjawab, tapi dia malah mengambil tisu yang ada di meja kedai ini. Tangannya mengulur ke arahku, lebih tepatnya pada ujung bibirku. Yak, Lee Hyukjae? Apa yang kau lakukan? Aku segera, memundurkan kepalaku sedikit. Tapi tetap saja, tangannya masih bisa menggapai wajahku. Ternyata dia mengelap makanan yang ada pada ujung bibirku dengan tisunya. Jantungku…. benar-benar berdetak tidak keruan. Aku segera mengambil tisu yang sedang dia pegang. Sesegera mungkin, sebelum jantungku ini benar-benar berdetak dan tidak bisa di kendalikan.

“ A-aku bisa sendiri. ” kataku gugup.

“ Jangan seperti anak kecil. Makan begitu saja, masih berantakan. ”

“ Biasanya aku tidak seperti ini. ” elakku.

“ Wae? Kau gugup makan denganku? ” godanya. Sialan, apa dia mencoba mempermalukanku?

“ Personal disorder. Tingkat ke PD-an mu itu tinggi sekali. Aku jadi ngeri. ” gurauku.

“ Yeoja-yeoja lain yang pernah makan denganku, juga pasti selalu gugup. Ternyata, kau sama saja seperti mereka. ”

“ Jangan samakan aku dengan yeoja-yeoja yang sering kau temui. Mereka itu gugup, karena menyukaiku. Mereka tergila-gila denganmu. ”

“ Jadi kau tidak sama dengan mereka? ”

“ Tentu saja! Mereka yang menyukaimu, dengan begitu mungkin mereka yang mengajakmu makan bersama, lalu kau terima ajakannya. Lalu kalian pergi makan bersama, dan akhirnya si yeoja itu akan gugup karena namja yang dia sukai, berada dihadapnnya dan sedang makan bersama dengannya. Sekarang itu, kondisinya sangat berbeda. Kau yang memaksaku untuk makan denganmu, jadi aku tidak seperti yeoja-yeoja yang sering kau temui. Aku tidak mungkin menyukaimu atau tergila-gila denganmu. ”

“ Kondisinya memang berbeda. Cerita singkat yang tadi kau ceritakan padaku itu, dimana si yeoja yang menyukai namja-nya kan? Tapi sekarang, namja itu yang menyukai yeoja yang sedang makan dengannya sekarang. ”

“ Ne!? ” tanyaku tidak mengerti. Aku salah dengar atau memang aku benar-benar lelah, jadi aku seperti mengingau. Hyukjae bilang apa? Namja- itu-menyukai-yeoja-yang-sedang-makan-dengannya-sekarang? Makan dengannya sekarang……

“ Aku menyukaimu, Jooyoung. ”

 

TBC

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s