Me, You and Us [ Part 5 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

Eunhyuk POV

Sungguh, demi tuhan. Demi apapun. Apa yang baru kukatakan tadi. Aku sudah gila. Ya memang, aku sudah tidak waras. Bagaimana bisa aku mengatakan 3 kata gila itu. Astaga Lee Hyukjae, apa angin malam ini benar-benar membuat otakku sedikit gila, hah?

“ Ne!? ” pekiknya sekali lagi.

“ Aniya! Yak! Aku hanya bercanda, kau tahu? Wajahmu itu sangat memalukakan jika seperti itu. Aish, ternyata aku pembuat lelucon yang hebat. ”

Bodoh. Seharusnya aku cari alasan yang lebih keren. Arghhh, Jooyoung pasti akan mencekik habis-habisan. Ah ani, mungkin lebih dari itu.

“ Mwoya??! Ini tidak lucu sama sekali! ” teriaknya.

“ Ini kan hanya bercanda. Ayolah, Jooyoung kau tidak punya selera humoris sama sekali. ” selaku lagi.

“ Lalu kau mau apa jika aku punya selera humoris yang tinggi? Membuat lelucon yang lebih keren, begitu? ”

“ Sayang sekali. Aku tidak suka cara bercandamu, Hyukjae-ssi. ” tukasnya tajam.

Hey, seharusnya aku tahu. Seharusnya, aku tidak mengatakan jika ini bercandaan. Lihat saja raut wajahnya itu, menyeramkan. Perkataannya barusan, dia memanggilku dengan sebutan ‘ssi’. Aku belum pernah mendengarnya memanggilku dengan nama begitu. Apa dia sedang menunjukan padaku, bahwa dia benar-benar tidak suka dengan sikapku. Dia marah padaku?

“ Yak, kau mau kemana!? ” tanyaku. Dia beranjak pergi, mendorong bangku yang sedang ia duduk-ki dengan kasar. Dia diam, tidak bergeming. Tidak menjawab pertanyaanku. Melihat ke arahku saja, sepertinya tidak akan dia lakukan saat ini.

“ Yak! Kang Jooyoung! ” teriakku lagi. Aku mencekal lengannya, membuatnya berhenti melangkah. Hah, aku tidak menyangka akan jadi begini.

“ Aku mau pulang. Lepaskan! ”  perintahnya. Dia menepis lenganku dengan kasar.

“ Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu. ”

“ Shireo! Aku yang mau pulang, kenapa jadi kau juga yang ikut pulang?!! ” tolaknya mantap.

“ Cepat masuk! ”

Aku kembali pada meja tempat kami makan tadi. Meninggalkan uang untuk membayar jajangmyeon tadi. Ahjumma itu, seharusnya tahu keadaan aku dan Jooyoung sekarang. Karena, kami membuat sedikit keributan disini.

“ Aku tidak peduli kalau kau tidak suka mendengar penolakan dari seseorang. Aku tetap ingin pulang sekarang. Sendiri! Tidak denganmu! ”

“ Jangan bersikap seperti anak kecil, Jooyoung! ” nada bicaraku sedikit tinggi. Aku sudah agak kehabisan kesabaran.

“ Jangan seperti anak kecil kau bilang? Yak! Apa kau juga tidak sadar, hah!? Sikapmu ini jauh lebih seperti anak kecil! ” teriaknya.

“ Kau pikir untuk apa aku rela menunggu untuk mengantarmu pulang? Kau pikir untuk apa aku memperdulikanmu untuk memakai penghangat tubuh di cuaca seperti ini!? Memperdulikanmu jika tidak makan akan sakit? Untuk apa!? ” nada bicaraku sudah benar-benar meninggi sekarang.

Emosiku, benar-benar meluap hanya karena seseorang yang baru kukenal ini. Yang berhasil menarik perhatianku hanya karena melihatnya. Dan dengan bodohnya aku membuat lelucon konyol seperti itu. Membuatnya merasa.. mungkin sedikit dipermainkan. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti banyak soal perasaan wanita. Terutama, gadis didepanku ini.

“ Mungkin ini termasuk dari lelucon-mu itu. Aku tidak tahu pasti. Kau seorang pelucon yang hebat, bukan? ”

***

Chunwa High School

07.15 AM

 

Author POV

“ Masalahmu bagaimana? Sudah selesai? ” tanya Chae Yeon antusias. Ya, sahabatnya itu pikir Jooyoung kemarin benar-benar membicarakan masalahnya dengan Hyukjae. Dia pikir Jooyoung memang benar-benar tidak tahan dengan tuduhan yang menimpanya itu. Tidak tahan dengan sindiran yang menghujamnya terus.

“ Aku tidak tahu. Tolong, jangan bicarakan itu dulu. Aku pusing ” jawab Jooyoung malas. Tentu saja, membicarakan masalah itu. Sama saja, mengingatkannya tentang pertengkarannya dengan Hyukjae samalam. Hanya karena hal sekecil itu. Tidak pikir Jooyoung, tidak sekecil orang-orang pikirkan. Lelucon Hyukjae menyangkut perasaan, apa maksudnya itu.

“ Ada apa lagi? Ayo ceritakan padaku. ” bujuk sahabatnya. Chae Yeon sudah tahu jelas bagaimana raut wajahnya sahabatnya jika ada masalah yang menjanggal padanya.

“ Bukan apa-apa. Sudahlah, aku memang pusing karena kurang tidur. ” dusta Jooyoung.

“ Aku akan tetap memintamu ceritakan masalah yang ini sewaktu-waktu. ”

“ Chae Yeon, ayolah! Aku tidak apa-apa, masalahku hanya itu saja tidak ada yang lain. ”

“ Kalau tidak ada masalah lain, raut wajahmu tidak akan seperti itu. ”

***

Jooyoung POV

Aku merasakan benda yang berada pada saku jasku bergetar. Ponselku. Menandakan ada pesan masuk. Aku meronggoh saku jasku malas. Mengeluarkan ponsel dan melihat layar pada ponselku. Sungguh, rasanya aku ingin membanting ponsel sekarang ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselku. Hyukjae. Aku men-touch tanda ‘open’ dan langsung membaca pesan yang ia kirimkan.

Kita harus bicara dengan Choi Seoseongnim sekarang.

Hey, setelah kejadian semalam. Ternyata dia masih berani mengirimku pesan? Hebat. Kukira, dia pengecut. Aku mengambaikan pesan itu. Apa yang perlu dibicarakan dengan seoseongnim? Tentang pelaku kertas busuk itu? Kukira tidak perlu, 2 orang telah mengatakan hal yang sama tentang tidak mungkin seoseongnim yang melakukannya. Yah, memang 2 dari sekian banyaknya siswa di sekolah ini memang tidak bisa memastikan keputusan yang benar. Tapi setidaknya, untukku bisa. Berapa banyak orang yang berteman denganku? Kurasa semuanya, bisa dihitung oleh jari.

Aku mengitari padanganku ke sekitar kelas. Lagi-lagi, aku sendirian di kelas. Semua siswa pasti berhamburan keluar saat jam istirahat. Termasuk Chae Yeon, akhir-akhir ini dia senang pergi ke luar kelas. Aku tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi yang jelas dia tidak mungkin bergerombol dan membicarakan gossip yang masih ‘hangat’ di sekolah ini.

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan masuk, tapi panggilan masuk. Aku melihat malas pada layar ponselku. Lagi. Si ‘pelucon hebat’ itu yang meneleponku. Aku membanting ponselku asal ke mejaku. Mengabaikan getaran yang sejak tadi terus terjadi pada ponselku. Biarkan saja, aku anggap masalah ini sudah selesai. Masa bodoh, tentang pendapat orang-orang terhadapku. Aku sudah tidak peduli. Masalah ini selesai, aku tidak perlu melihat wajah pria menyebalkan itu lagi di hadapanku.

“ Arghhh, bodoh! Apa kau tidak bisa berhenti menelepon-ku? ” teriakku frustasi. Karena sejak tadi ponselku masih saja bergetar.

“ Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kau menjawab telepone-ku. ”

Aku merasakan suara khas yang bergema di telingaku. Aku menoleh. Tebak siapa? Tuan Lee Hyukjae si ‘Pembuat Lelucon’ itu. Aku segera memalingkan wajahku. Tidak, tidak melihat wajahnya. Tidak melihat wajahnya yang memuakkan itu.

“ Apa yang kau lakukan disini? Ini kelasku! Kau keluar sekarang! ”

“ Yak! Bisakah kau lupakan masalah yang semalam? Jangan pikirkan dirimu sendiri, ini masalah kita! Aku mau masalah ini segera selesai. Tolong jangan egois, Jooyoung. ”

Lupakan masalah semalam? Apa dia bilang? Lupakan? Sialan! Apa dia tidak mengerti bagaimana rasanya? Apa dia tidak berpikir, aku sedikit merasa dipermainkan jika seperti itu. Apa dia tidak berpikir tentang hal itu?

“ Lalu? Apa yang harus kulakukan? ”

“ Jinjja. Neo Mitcheosseyo?! Kau jangan berpura-pura bodoh! Kau jangan berpikir masalah ini sudah selesai. Jangan berpikir masalah ini hanya ada kau saja didalamnya ” bentaknya.

“ Geraeyo? Aku memang menganggap masalah ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Choi Seoseongnim, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya. Siswa sekolah ini, jika hal-hal yang sedang dibicarakannya itu tidak nampak lagi, mungkin hal itu akan dengan sendirinya menghilang. ”

“ Jadi, kalau kau masih menganggap masalah itu belum selesai. Kau bisa selesaikan itu sendiri, tidak usah melibatkanku. ”

Ada nada sedikit menantang saat aku berbicara tadi. Biar saja, aku sudah tidak tahan melihat tampangnya yang seolah-olah tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun.

“ Wae!? Kau marah padaku, kau dendam padaku karena masalah kemarin!? Sifatmu itu seperti anak kecil, kau tahu? Kau marah hanya karena lelucon kecil itu. Kau pikir aku akan terus memintamu untuk tetap terlibat dalam masalal ini? Kau pikir, aku akan tetap mengemis padamu untuk membicarakan masalah ini pada seoseongnim. ”

“ Silahkan saja kau berpikir begitu. Aku setuju denganmu, masalah ini sudah ku anggap selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Biarkan saja masalahnya berlalu, pasti akan hilang dengan sendirinya. Masalah ini selesai, dan kita tidak akan ada urusan lagi satu sama lain. Tidak akan bertemu lagi. Masalah acara akhir tahun nanti, aku akan membujuk panitia untuk men-tiadakan nama kita. Kau tidak perlu repot-repot untuk menuruti keinginanku yang meminta untuk berlatih. ”

“ Kau sudah cukup puas, itu keinginanmu saat ini kan? ”

***

Chae Yeon POV

Astaga, dasar anak itu. Sepertinya moodnya benar-benar sedang buruk hari ini. Lihat, ke kantin saja tidak mau. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dikelas. Menghindar dari tatapan sindirian dari siswa-siswa sekolah ini? Sepertinya tidak. Karena apa? Tch, dia sama sekali tidak mau menceritakannya padaku. Aku tahu ada masalah baru yang menghadapnya, entah apa itu. Aku terpaksa menghabiskan makananku sendirian. Tapi tiba-tiba, pikiranku melayang pada seseorang. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah sembuh? Dia masuk sekolah? Jika dia masuk sekolah, apa ada yang peduli dengannya jika dia masih sakit? Ada yang mengurusi pola makannya saat disekolah? Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan konyol itu melintas dipikiranku. Lee Chae Yeon, kau benar sudah gila.

Aku melanjutkan makanku yang juga hendak untuk segera pergi ke kelas. Bagaimanapun, aku tidak suka sendirian. Ya, walaupun di tengah keramaian. Aku berjalan menyusuri koridor dan dari kejauhan aku melihat ada seorang laki-laki yang baru keluar dari kelasku. Aku menyipitkan mataku. Bukankah itu, Hyukjae? Tanyaku dalam hati. Apa urusannya dia masuk ke kelasku? Ah, Jooyoung. Bocah satu itu, pasti membuat masalah lagi dengan Hyukjae. Lihat saja, wajahnya saat keluar kelas tadi. Mengerikan.

“ Yak! Sebenarnya apa masalahmu dengan Hyukjae, hah? ” tanyaku ketika aku sudah berada di kelas.

“ Masalahku? Masalah tentang kertas busuk itu? Aku dan Hyukjae sudah memutuskan untuk mengabaikannya. Pasti nanti akan hilang dengan sendirinya. ” jawabnya datar

“ Bukan kau yang memutuskan? ”

“ Tentu saja bukan! Tadi dia baru saja keluar, kami baru membicarakannya. ”

“ Dengan kau memarah-marahinya? Kau membicarakan masalah ini dengan emosi? ”

“ Ne? ”

“ Tch, ada suatu masalah yang hanya kalian saja yang tahu. Dan itu, membuat kalian memutuskan untuk mengambaikan masalah ini. Ah, sepertinya bukan kalian yang memutuskan. Tapi kau memaksanya untuk juga mengabaikan masalah ini. ”

“ Kau pikir siswa disini akan dengan santainya mengabaikan suatu masalah? Yak! Ini masalahmu dengan Hyukjae! Seharusnya kau berpikiran jernih untuk menyelesaikannya. Bukan dengan seperti ini. Kau harus berpikir, Jooyoung. Masalahmu sekarang bukan main-main. Seisi sekolah pun sudah tahu semua. ”

“ Aku tahu. Sudah kubilang, caraku dan Hyukjae adalah dengan mengabaikannya. ”

“ Marhaebwa! Katakan apa yang terjadi dengan kau dan Hyukjae. ”

“ Aish, tidak apa-apa. ”

“ Mungkin aku akan percaya dengan kata-katamu. Kalau saja, aku tidak melihat tampang mengerikan Hyukjae saat keluar dari kelas. ”

“ Mwo? ”

“ Jangan bertele. Sudahlah, aku tahu kalian bertengkar tadi. ”

“ Bertengkar? Hey, kata itu seperti menggambarkan aku sudah kenal lama dengannya. ”

“ Terserah apa katamu, dasar keras kepala. Ayo cepat ceritakan. ”

Dia menarik nafas pasrah, setelah itu dia mulai menceritakannya padaku. Aku benar-benar mendengarkannya. Meneliti apa masalahnya sampai dia bisa seperti itu dengan Hyukjae. Dan, betapa terkejutnya aku saat mendengar penjelasan panjang lebar yang dikeluarkan dari mulutnya itu.

“ Mitcheoseo? ” teriakku.

“ Jangan berkomentar. ”

“ Kau gila, hah? Tingkahmu itu benar-benar seperti anak kecil. Yak, usiamu berapa? Jangan bersikap seperti anak kecil bodoh yang sedikit saja bergurau langsung seperti itu. ”

“ Perkataanmu sama persis dengannya. ”

“ Ya, memang. Mungkin pikiranku dengannya memang sama persis. Aku tahu guraun itu memang sedikit keterlaluan. Tapi kau juga jangan bersikap egois. Kau juga harus memikirnya, kau pikirkan bagaimana dia mendapat sindiran dari setiap siswa disini! ”

“ Itu juga terjadi padaku. ”

“ Kau tidak peduli. Tapi Hyukjae peduli. ”

“ Aku tahu. Aku sudah menawarkannya untuk menyelesaikan masalahnya. ”

“ Sendirian begitu?  Tidak denganmu? Kau gila. Masalah ini melibatkan kau dengannya. Hanya kalian saja yang bisa memperbaiki keadaan. Hanya kau dengan Hyukjae yang bisa membuat masalah ini akan hilang. Apa kau tidak berpikir? Aku tahu seberapa kesal kau dengan Hyukjae, aku tahu. Aku bisa merasakannya. Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu. ”

***

Club

20.12 PM

 

Jooyoung POV

Aku sedikit tidak bisa berkonsentrasi bekerja saat ini. “Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu.”

Kata-kata itu tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku egois? Sikapku seperti anak kecil? Apakah aku seburuk itu? Aku terus memikirkan kata-kata yang dilontarkan Chae Yeon terhadapku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan ucapannya. Kalimat itu juga tidak lepas dari bayang-bayang wajah Hyukjae yang terus hinggap di pikiranku. Wajahnya saat marah padaku siang tadi. Hentakkan kaki yang menunjukan bahwa dia sedang emosi saat keluar kelas tadi.  Sungguh, aku perlu mengisirahatkan otakku seceptanya.

Aku kembali berusaha memfokuskan pikiranku untuk bekerja saat ini. Aku mengambil sebotol wine yang ada pada rak minuman untuk menuangkan pada gelas pengunjung di hadapanku ini. Pikirkaranku lelah, juga mengakibatkan tanganku ini tidak punya tenaga sama sekali. PRANG!!!!!

Suara pecahan botol wine ini terdengar sangat jelas. Tapi juga tidak mampu untuk mengalahkan suara kencang musik disko yang diputar di Club ini. Aku langsung tersentak. Tanganmu otomastis langsung terulur untuk segera memunguti pecahan beling itu.

“ Aahhhh! ” aku sedikit berteriak kesakitan karena telunjuk jari kananku tergores beling.

“ Ya, gwechana? ” seorang temanku disini yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“ Ne. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, sebentar juga sembuh. ” kataku.

“ Lukamu kecil tapi kalau dalam seperti itu bagaiman bisa cepat sembuh? ”

“ Aku baik-baik saja, sungguh. Aku akan bereskan semua ini. ”

“ Tch, sudahlah! Biar aku saja, kau obati lukamu saja dulu. Kalau dibiarkan itu bisa infeksi. ”

“ Gomawo ”

 

Aku beranjak pergi dari tempat itu. Menuju toilet untuk mencuci lukaku. Aku menyalakan kerannya dan mulai mencuci lukaku. Aku memejamkan mataku sejenak. Ada apa denganmu, Kang Jooyoung. Kenapa bisa hanya dengan kata-kata seperti itu saja, pikiranku jadi kemana-mana. Tidak konsentrasi saat bekerja, memecahkan sebotol wine, dan sekarang jariku berdarah karena juga tidak kosentrasi saat memungut pecahan belingnya. Aku mematikan air di wastafel, dan menatap bayanganku di cermin. Aku tidak mungkin sedang memikirkan perasaan Hyukjae, kan?

***

Artyyer Boutique, Gwongnam, Seoul.

Kyuhyun POV

Aish, membosankan. Apa ada kegiatan paling konyol lagi selain hanya berdiri dan menunggu seseorang yang sejak tadi berganti-ganti baju. Aku bosan! Kenapa wanita itu ribet sekali jika masalah dalam penampilan. Aku beridiri dengan berbalut jas dan celana putih. Dan dasi bewarna hitam dan ada sedikit hiasan pada saku atas jasnya. Aku sedang menunggu Chae Yeon yang sejak tadi belum juga keluar dari ruang ganti butik ini.

Aku menoleh ketika aku merasa ruang ganti itu sudah terbuka. Aku terkesiap. Nafasku sukses tercekat beberapa detik, akibat pemandangan yang ada di depanku ini. Dia terlihat…. cantik sekali. Dengan gaun putih yang sedikit bisa menyapu lantai, lengan yang sedikit pendek tapi tidak sampai seperti gaun tanpa lengan, dan atasan berbentuk ‘V’ tapi tidak seperti model-model di televisi yang dengan lenggangnya mereka mempamerkan tubuh mereka di depan banyak orang. Gaun yang sederhana. Tapi menjadi gaun yang terlihat indah, jika dipakai gadis ini.

Chae Yeon sedikit terkesiap saat ruang gantinya terbuka. Terkesiap karena melihat pemandangan didepannya. Apa dia terpesona….. denganku?

“ A-apa yang kau lihat? ” tanyanya.

“ Aniya. Kau lama sekali hanya mencoba 1 baju saja. ”

“ Ish, sudah aku usahakan cepat begini kau masih protes? ”

“ Aku yang menunggu sejak tadi, bagaimana bisa kau bilang cepat! ”

“ Kau saja yang tidak sabar. ” katanya lagi.

“ Sama sepertimu, kan? ” godaku. Wajah shock-nya itu terlihat jelas sekarang. Sudah berapa kali aku mengatakan tentangnya sewaktu kecil, tapi tetap saja dia terlihat masih kaget begitu. Kalau sudah seperti ini, pasti dia mati kutu. Lihat, sekarang dia malah terlihat salah tingkah dan langung diam. Tch, dasar Lee Chae Yeon babo! Kapan kau akan ingat tentangku saat masih kecil?

“ Kalian terlihat sangat serasi. Sepertinya kalian saling mencintai. ” ucap salah satu penjaga butik ini.

“ Ne!? ” pekikku dan Chae Yeon bersamaan.

“ A-ah, kau ada-ada saja. Jangan berlebihan. ” ucap Chae Yeon.

“ Kalian yang berlebihan, pasangan calon suami istri seharusnya akan senang jika dipuji seperti tadi. Bukan berteriak seperti itu. ”

“ Kami hanya kaget saja. Baru pertama kali, ada seorang yang bilang begitu. ” ralatku.

Chae Yeon langsung menatapku dengan tatapan tajam. Aku mengabaikannya, tidak membalas melihatnya. Biar saja, aku suka sekali jika membuat wajahnya jadi seperti itu.

“ Kalian harus hidup bahagia nantinya. ” kata penjaga itu lagi.

Chae Yeon terlihat tambah kesal dengan perkataan penjaga itu. Mungkin dia pikir, penjaga butik ini makin menjadi-jadi saja karena perkataanku barusan.

“ Ya, kau sudah cocok dengan bajunya? ” tanyaku akhirnya.

“ Setidaknya ini yang lebih baik dari baju-baju yang lain. Aku tidak suka model baju terbuka seperti itu. ”

“ Baguslah. Aku juga lebih suka melihat kau mengenakan gaun ini. Terlihat cantik. ”

***

Chae Yeon POV

Ada sedikit perasaan canggung yang sedang menjalar padaku sekarang. Bagimana tidak? Bayangkan saja, di tempat seperti itu masih saja mengatakan hal-hal yang kurasa tidak mungkin dikatannya di saat seperti itu. Rrghh, sepertinya dia tahu persis apa reaksiku ketika dia mengatakan hal-hal konyol.

Sekarang kami sedang berada dalam perjalan pulang. Aku melirik sekilas ke arahnya. Sampai sekarang pun, aku belum bisa mengingat apapun tentangnya. Namanya terdengar familir saja, tidak. Mungkin benar apa yang dikatakan Kyuhyun. Aku terlalu membencinya saat dia sekeluarga pindah ke Australia.

“ Apa yang kau pikirkan? Pernikahan kita nanti? ” godanya.

“ Mwoya? Jangan bersikap narsis seperti itu. Aku bisa langsung mendadak mual. ”

“  Jangan berlebihan. ”

“ Kau yang belebihan. ” balasku lagi.

Kyuhyun tidak membalas perkataanku lagi. Dia diam, berkonsentrasi pada pada kemudi mobil ini. Baru kali ini, aku melihatnya menyetir mobil. Terlihat sangat keren di mataku, kau tahu? Aku tidak bisa menepis pikiranku saat ini. Ini jelas, sangat jelas. Kenyataan bahwa, aku sedikit terpesona saat melihatnya memakai jas seperti tadi. Terlihat tampan dan gagah dalam balutan pakaian seperti itu. Sepertinya, aku sudah sedikit terperangkap dengan….. pesonanya.

***

Jooyoung’s Home

06.13 AM

 

Jooyoung POV

Aku menyibakan selimut dengan malas. Membiarkannya terjuntai di lantai kamarku. Rasanya  bosan sekali, menjalankan rutinitasku setiap hari. Aku melirik ke arah jarum jam. Tumben sekali, aku bangun sepagi ini. Ini pasti karena penyakit insomnia yang menyerangku secara tiba-tiba. Hasilnya, aku tidak bisa tidur dan memilih bangun lebih awal seperti ini. Dan sekarang aku merasa pusing dan mual, entah karena apa. Aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Rasanya memikirkan bahwa tubuhku akan terkena percikan air saja, aku sudah malas mendekati pintu kamar mandi ini.

***

“ Eomma, apa kau tidak membuatkan sarapan untukku? ” tanyaku. Aku sudah selesai bersiap-siap, dan sekarang aku menuju meja makan.

“ Kau buat saja sendiri. Eomma tidak ada waktu. ” jawabnya ketus.

“ Eomma! Aku bertanya denganmu baik-baik. Kenapa kau jadi ketus begitu!? ”

“ Yak! Nada bicaraku memang seperti ini. Sudahlah kau tidak usah banyak omong! ”

Aku mengepalkan tanganku. Andai saja appa tahu sifat eomma tiriku yang sebenarnya. Sepertinya appa akan menendang jauh-jauh wanita ini.

“ Aku tidak akan bicara denganmu kalau tidak situasi yang membuatku begitu, Nyonya Kang! ”

“ Yak, kau sangat keterlaluan! Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu?! ”

“ Sudah bagus sekali aku memanggil dengan sebutan keluargaku. ”

PLAK!!

Aku mendapat tamparan keras pagi ini. Aku memegangi pipiku yang memerah akibat tamparan eomma. Apa dia tidak melihat wajahku yang sedikit pucat karena menahan pusing? Ah! Wanita ini benar-benar!

“ Apa!? Kau mau marah padaku? Yak! Kau ini sudah keterlaluan! ” teriaknya.

“ Aku bersikap keterlaluan pada eomma? Apa bukan sebaliknya!? ” aku tertawa sinis tanpa bersuara. PLAK!! Tamparan satu lagi yang mendarat sukses di pipiku.

“ Aku yang bersikap keterlaluan karena eomma!! Aku yang tidak pernah menuruti semua kemauan eomma, karena eomma! ” teriakku.

“ Dasar anak kurang ajar! ” teriak eomma lagi.

“ Apa pantas eomma menyebutku sebagai anak? Apa kau pernah merasa melahirkanku? Ya, ingatlah kau bukan eomma kandungku. ” sindirku. Aku masih memgangi pipiku yang memerah ini akibat tamparannya.

“ Kau bisa mengatakan ini didepan appa-mu! ”

“ Terserah saja. Tapi, apa kau tidak takut ketahuan sikap buruk ini dibelakang appa? ”

PLAK!!

Tiga tamparan dalam sehari yang kudapat. Itu bisa dijadikan rekor dalam kamusku. Kepalaku semakin pusing saja. Aku tidak bisa jamin, bisa datang ke sekolah tepat waktu karena keadaanku ini. Aku memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Aku tidak menghiraukan amarah perempuan itu terhadapku. Masa bodoh. Dia bukan siapa-siapaku.

***

Aku memasuki sekolah dengan langkah yang gontai. Jujur saja, berjalan dengan benar saja aku tidak bisa. Kepalaku terasa berat dan ditambah dengan perutku ini yang terasa mual. Aku tidak melihat lagi perkumpulan para murid yang biasa memojokkanku di mading. Tapi, sindiran-sindiran dari beberapa orang yang aku lewati itu tidak sedikit. Aku memasuki kelasku dan kudapasti Chae Yeon sedang duduk dengan ponselnya yang sedang ia mainkan. Aku menuju  tempat dudukku.

“ Jooyoung-a, kau sakit? ” tanyanya langsung ketika aku sampai pada tempat dudukku.

“ Hanya pusing saja. Tidak apa-apa. ”

“ Tapi, wajahmu pucat seperti itu ”

“ Aku tidak apa-apa. Sebentar juga nanti akan hilang. ”

“ Tidak apa-apa apanya? Suaramu lemas seperti itu, kau bilang tidak apa-apa. Kau belum sarapan? ”

“ Yak, belum sarapan itu adalah hal biasa untukku. Jangan berlebihan. ”

“ Kau terlalu sering bekerja sampai malam. Tidurmu juga sering tidak teratur, kan? Yak, kau cari tempat kerja yang lain saja. ”

“ Sayangnya hanya tempat itu yang mengizinkanku untuk bekerja setelah pulang sekolah. ”

“ Aish, susah sekali berbicara denganmu tentang pekerjaan. ”

“ Aku tidak memintamu untuk membahas masalah pekerjaanku. ”

***

Eunhyuk POV

Shin Soo Ae. Nama itu terus berputar di otakku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan perkataan Jooyoung terhadapku. Bisa saja benar dia yang melakukannya, setelah aku menolak pernyataan cintanya secara kasar. Lalu sekarang balasannya, tapi kenapa Jooyung ikut campur dalam masalah ini? Jooyoung. Nama itu kembali mengingatkanku lagi tentang kata-kata yang kuutarakan siang kemarin padanya. Jujur, aku benar-benar tidak seperti yang kubicarakan dengan Jooyoung.

Kebiasaan burukku ini, selalu bertindak sebelum berpikir. Aku tahu saat itu memang aku dan Jooyoung sama-sama sedang emosi. Jadi, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku tidak mungkin, dengan gampangnya muncul di hadapannya dan berkata bahwa perkataanku kemarin hanya karena emosi? Tidak. Harga diriku itu penting, sangat tidak mungkin dengan gampang aku menjatuhkannya. Tidak akan. Walaupun demi masalah ini, aku bisa menyelesaikannya sendiri sedikit-sedkit.

Aku sedang dalam perjalanan menuju kelas setelah bel berbunyi menandakan pelajaran akan dimulai kembali setelah waktu istirahat. Tapi pemadangan di depanku ini, membuatku menghentikan langkah. Aku memerhatikan yeoja yang sejak tadi hanya diam saja. Tidak membalas perkataan orang didepannya yang sepertinya sedang memarahi orang didepannya.

Aku menyipitkan mataku. Jooyoung. Kenapa gadis itu hanya diam saja? Kenapa dia diam saja menerima cacian-cacian yang di tumpahkan padanya. Tunggu, bukankah itu Soo Ae? Aku lebih berjalan mendekat agar bisa memastikan. Aku menghela nafasku. Akan kupastikan masalah ini akan selesai secepatnya.

 

Jooyoung POV

Sejak tadi aku hanya diam. Biarkan saja orang didepanku ini yang lelah mengajak seseorang untuk berbicara, tapi orang sedang ia ajak bicara hanya diam.

“ Apa kau sudah selesai? ” tanyaku.

“ Aku belum selesai, dan tidak akan pernah selesai. ”

“ Kenapa kau hanya mengangguku saja? Kenapa dengan Hyukjae tidak? ”

“ Aku pikir dia tidak bersalah. Kau yang dengan sengaja masuk ke toilet pria dan sengaja berlama-lama disana kan? ”

“ Mwo? ” tanyaku tak mengerti.

“ Kau jangan besikap sok polos! Yak, perempuan nakal aku tahu semua rencana busukmu itu! ”

“ Jaga mulutmu. ”

“  Apa aku telah membocorkan rahasia busuku-mu itu? Ah, mian. Aku hanya tidak sengaja. ”

Aku baru mau mendaratkan tamparanku padanya. Tapi, dengan sigap ada seseorang yang menahan tanganku. Aku menoleh ke arah orang itu. Sialan, di saat-saat seperti ini kenapa dia selalu saja datang tiba-tiba. Aku menepis tangannya dengan kasar. Membuang wajahku agar tidak perlu lagi melihatnya.

“ Aku perlu bicara denganmu. ”

Awalnya, kupikir kalimat itu bertuju untukku. Tetapi tidak. Aku melihat Hyukjae menarik lengan yeoja yang sejak tadi berbicara denganku. Aku berbalik dan melihat Hyukjae pergi, entah kemana dengan yeoja tadi. Aku mengehala nafasku. Apa dia mencoba untuk mencampuri urusanku? Tch, sikapnya yang menyebalkan itu, apa tidak bisa hilang darinya? Bicara apa dia dengan perempuan tadi. Apa mereka saling kenal? Kenapa sepertinya Hyukjae dekat dengan perempuan tadi? Aku masih memperhatikan mereka yang pergi dan sampai tak terlihat lagi                                                                        denganku.

“ Ah, mian. Aku tidak sengaja ”

Aku merasa setengah bagian atasan seragamku basah karena minuman yang tumpah. Aku melihat ke arah orang yang katanya tidak sengaja menumpahkannya.

“ Kau bersihkan saja nodanya dengan air. Kau bisa sendiri kan? Apa perlu kubantu? ” sindirnya.

Aku hanya bisa menahan emosiku. Aku sedang tidak dalam mood untuk adu mulut.

“ Tidak perlu. Aku bisa sendiri. ” kataku tajam.

 

Eunhyuk POV

Aku membawaya ke halaman belakang sekolah. Tempat ini memang jarang dilewati para siswa, jadi paling tidak tidak terlalu banyak yang mendengar pembcaraanku. Aku melepaskan lengannya dengan kasar. Aku menatapnya tajam.

“ Katakan apa masalahmu? ”

“ Ne!? ”

“ Kau yang menempelkan kertas itu di mading sekolah, kan? Kau juga yang menyebarkan berita tuduhan itu ke semua siswa disini?! ” tanyaku marah.

“ Menurutmu? ”

“ Aku serius, Shin Soo Ae! ” kataku setengah teriak.

“ Kau pikir aku sedang main-main, hah? ”

“ Kau yang melakukannya? ” tanyaku lagi.

“ Ne! Memangnya kenapa? ” tanyanya menantang.

“ Neo mitcheseo!? ”

“ Waeyo? Aku ingin sekali melihatmu di permalukan di depan umum. Aku ingin melihat kau sedang berusaha menutupi wajahmu karena malu. Aku ingin kau merasakan, apa yang aku rasakan satu tahun lalu. ”

Deg! Jadi benar? Jadi benar apa yang dikatakan Jooyoung padaku waktu itu? Aku menatapnya geram.

“ Kenapa kau campuri Jooyoung dalam masalah ini? ”

“ Itu bukan mauku. Itu hanya kebutalan. ”

“ Silahkan saja kau membalas perbuataanku padamu saat ini. Tapi jangan sampai kau melampiaskannya pada Jooyoung! ”

“ Kau mencoba melidunginya? Ah, kisah cinta yang romantis. Apa kalian berpacaran? ”

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

“ Apa hakmu melarangku? Kau bukan siapa-siapanya. Sepasang kekasih, bukan. Teman? Sepertinya dekat saja kalian tidak.  ”

“ Jangan mencari masalah denganku. ”

“ Aku… mencari masalah denganmu? Yak! Apa omonganmu itu tepat untuk kau katakan padaku? Apa kau tidak merasa sudah pernah mencari masalah denganku?! ”

“ Apa kau masih menyukaiku? ”

Soo Ae langsung tersentak ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Dia terlihat salah tingkah. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia lebih memilih untuk diam.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

***

Tidak. Tidak boleh menyesal karena perkataanku tadi. Ah, lagi-lagi aku bertindak sebelum berpikir. Apa aku gila? Dengan seenaknya berbicara seperti itu? Tapi aku tidak egois, aku lebih baik melakukan tindakan gila seperti ini. Dari pada melihat Jooyoung terus di kucilkan oleh-oleh siswa disini. Itu sama saja dia tersiksa karenaku.

***

Chae Yeon POV

Aku sedang berjalan di lorong sekolah ini. Saat seseorang memanggilku. Aku berbalik. Ahh, pria berwajah imut itu rupanya.

“ Chae Yeon-ssi. ”

“ Oh, Sungmin-ssi. Annyeong! ”

“ Kau sendirian? ”

“ Apa kau melihat orang lain lagi di sampingku? ”

“ Tidak. ”

“ Yasudah. Ada apa kau memanggilku? ”

“ Ah, apa kau ada waktu setelah pulang sekolah? ”

“ Tentu saja. Ada apa memang? ”

“ Kita berlatih untuk menampilkan sesuatu pada acara akhir tahu nanti, eo? ”

“  Asal kau tahu, aku tidak punya bakat apapun. ”

“ Menyanyi? ”

“ Suaraku sangat buruk. ”

“ Menari? ”

“ Apalagi itu, aku paling tidak bisa jika disuruh menari. ”

“ Apa suaramu seburuk itu? ”

“ Mungkin tidak juga. Tapi aku tidak akan menyanyi pada acara akhir tahun nanti. ”

“ Ya, wae? ” tanyanya kecewa. Sepertinya, Sungmin kecewa sekali mendengarku tidak bisa melakukan apapun.

“ Aku tidak mau. Aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa karena mendengar suaraku.  ” tolakku.

“ Kau belum mencobanya. ”

“ Aku sudah tahu hasilnya akan jadi bagaimana. Sudahlah pikirkan saja penampilan yang lain.  ” usulku.

“ Kalau kau belum mencobanya, bagimana kau bisa tahu. Jangan suka mengabil kesimpulan sendiri. Ayolah! Setidaknya kau bisa mencoba menyanyi di depanku. ”

“ Kau akan menertawakanku? ”

“ Tidak akan. ”

“ Baiklah. Sepulang sekolah nanti. ”

***

Astaga, bagimana aku bisa lupa tentang Kyuhyun. Aku harus pulang bersamanya, tapi di saat itu aku sudah janji dengan Sungmin untuk berlatih. Ahh, ini kesempatan bagus untuk menghindar darinya. Bilang saja pada eomma jika aku ada belajar kelompok. Pasti eomma akan percaya. Kyuhyun? Bocah satu itu tidak usah terlalu dipikirkan. Bukannya dia juga senang tidak pulang denganku. Aku sedang berjalan di sekitar taman belakang sekolah, berniat mencari Kyuhyun. Untuk memberitahukan hal ini tentunya.

“ Kenapa kau mencampuri Jooyoung dalam masalah ini? ” samar-samar ku dengar seseorang sedang berbicara. Aku mendekati sumber suara itu. Aku mengintip sedikit ke arah orang itu di balik tembok.

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

Jooyoung? Kenapa nama anak itu dibawa-bawa dalam pembicaraan orang itu. Aku sedikit lebih menyipitkan mataku. Melihat siapa orang yang sedang membicarakan Jooyoung. Ah, sayang sekali orang itu sedang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku masih terus berusaha untuk mencari tahu orang itu. Walaupun orang itu membelakangiku tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksud yang dibicarakan orang itu? Kenapa Jooyoung selalu dibicarakan pada setiap perkataannya. Aku jadi tidak mengerti. Sebenarnya siapa orang itu, aku makin penasaran saja. Ayolah, segera berbalik agar aku bisa melihat wajahnya. Aku mengkatup mulutku dengan tangan kananku ketika orang itu berbalik. Jadi….

***

“ Kau yakin akan tetap masuk kerja hari ini? ” tanyaku ketika pelajaran terakhir telah selesai.

“ Hmm. ” gumamnya pelan.

“ Dengan kondisimu seperti ini? ”

“ Tentu saja. ” jawabnya lemah.

Aku memandangnya iba. Jooyoung-a sepertinya kau sedang berada dalam posisi dibawah layaknya ban mobil yang berputa terus. Kau seperti dilimpahkan masalah yang tidak henti-henti. Aku masih ragu untuk membitahukan tentang kejadian tadi siang. Aku tidak tahu pasti siapa yang sedang bicara dengan Hyukjae. Ketika dia berbalik dia langsung berjalan ke arahku, mau tidak mau aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan telah mendengar pembicaraannya. Aku menghela nafasku pelan. Aku akan memberitahunya, nanti. Saat waktu yang tepat.

“ Kau pulang duluan? Aku ada urusan sebentar. ” kataku.

“ Hmm.. Annyeong. ”

“ Yak, kau hati-hati dijalan. ”

Jooyoung hanya mengacungkan jempolnya kebelakang tanpa melihatku. Aku kembali membereskan buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Aku segera menggemblok tasku dan segera keluar dari kelas. Ahh, kemana bocah itu? Kemana sejak tadi aku tidak melihatnya disekolah? Aku belum memberitahunya bahwa aku tidak akan pulang dengannya. Apa dia tidak masuk? Jangan-jangan dia masih sakit. Ah, tidak mungkin. Keadaannya saja tidak meyakinkan sama sekali untuk menunjukan dia masih sakit.

Aku masih mengedarkan pengelihatanku ke arah seluruh sudut sekolah ini. Saat aku menangkap seseorang yang sejak tadi kucari. Aku baru mau menghampirinya. Tapi mataku menangkap sosok orang lain disebelahnya. Aku menyipitkan mataku. Siapa perempuan itu? Kenapa sepertinya dia sedang menangis. Aish, dan bocah satu itu, kenapa sikapnya selalu sok manis begitu jika dihadapan perempuan lain. Sikap menyebalkannya itu pasti tidak akan terlihat jika dia sedang bersama orang lain.

Aku kembali memperhatikan mereka. Aku membelakkan mataku. Kemana mereka? Kenapa mereka pergi? Aku segera mengitarkan pandanganku ke seluruh sudut di sekolah ini. Aku sedikit melihat punggung Kyuhyun yang berbelok ke arah atap sekolah ini. Aku segera mengikuti mereka bukan maksudku untuk ikut campur, maksudnya aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.

Aku menjaga jarak seaman mungkin untuk tidak ketahuan oleh mereka. Sungguh, aku sangat penasaran. Gerak-geriknya, ekspresi wajah yeoja itu saat tadi juga sangat membuatku penasaran. Aku mengikuti mereka, sampai saat aku berada pada atap sekolah. Aku bersembunyi pada belakang tembok disini.

“ Wae geurae? ”

“ Na.. Na… ”

“ Ppaliwa, katakan padaku. Ada apa sebenarnya? ”

“ Bolehkah aku meminjam bahumu untuk menangis. Aku perlu menenangkan diri. ”

Aku membelakkan mataku kaget. Mwoya? Apa-apaan dia!? Kenapa tiba-tiba menangis begitu. Hey! Kenapa dia juga harus memeluk Kyuhyun. Sungguh, perempuan gila! Apa maunya sebenarnya, hah? Kenapa dia manja sekali. Kyuhyun! Sikapnya itu selalu bertolak belakang jika bersamaku. Lihat saja, sekarang dengan gampangnya dia memeluk yeoja itu. Keterlaluan! Aish, Cho Kyuhyun awas kau!

Aku menelan ludahku. Tunggu-tunggu.. kenapa aku harus semarah ini dengannya. Kenapa aku harus…. Aish! Jinjja! Arghhh, otakku pasti sudah terkontaminasi sebagian olehnya. Pasti aku sudah tidak waras stadium akhir. Untuk apa aku harus mengurusi urusannya, kecuali kalau aku….

“ Chae Yeon? ”

Aku segera menolehkan kepalaku ke samping. Ah! Kiamat duniaku dimulai sekarang sepertinya.

“ Ne!? ”

“ Sedang apa kau disini? ”

“ A.. ”

Aku baru mau melanjutkan perkataanku. Tapi yeoja yang sejak tadi bersama Kyuhyun itu, tiba-tiba muncul dibelakangnya. Dengan sisa-sisa isak tangisnya, dia memegang tisu ditangannya dan menyeka air mata yang tersisa. Moodku. Sungguh, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Moodku tiba-tiba turun begitu saja. Mengingat kembali bahwa tadi Kyuhyun sempat memeluknya, aku sedikit… tidak suka melihat itu.

“ Aku kebetulan lewat sini. ” jawabku asal.

“ Aku juga mau pergi. Annyeong. ” kataku lagi. Aku menyinggungkan senyum tipis. Walaupun sedikit memaksa. Aku berbalik dan segera pergi. Tapi dengan sigap Kyuhyun menahan lenganku.

“ Kajja. Kita pulang. ” ajaknya. Aku melepaskan lengaku dari pegangannya.

“ Aku tidak pulang denganmu. Aku harus belajar bersama dengan temanku. ”

Aku kembali melanjutkan langkahku. Bahkan aku saja lupa tentang Sungmin, yang mungkin sudah menungguku sejak tadi. Aku mempercepat langkahku ketika instingku mengatakan bahwa Kyuhyun mengikutiku. Aku tidak tahu kenapa berniat untuk menghindarinya, untuk tidak berhadapan langsung dengannya. Entah kenapa, mungkin setiap aku melihatnya bayang-bayang Kyuhyun memeluk yeoja tadi selalu langsung menempati otakku. Dan, sudah kubilang sejak awal. Aku tidak suka melihat itu.

“ Sungmin-ssi! Menungguku lama? ” tanyaku ketika aku sudah melihatnya di dekat gerbang sekolah.

“ Aniya. Kajja. ”

“ Chae Yeon! ” tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun memanggilku. Aku menghiraukannya, tetap berjalan saja. Tidak menoleh kebelakang.

“ Ya, Lee Chae Yeon! ” panggilan kedua yang diperuntukan untukku. Tapi untuk yang kedua kalinya juga, aku tidak menghiraukannya.

“ Chae Yeon-ssi, ada yang memanggilmu. ” kata Sungmin yang seperti mengingatkanku karena tidak mendengarnya. Aku justru, pura-pura tidak mendengarnya.

“ Biarkan saja. Tidak penting. ”

“ Tapi sepertinya, ada yang ingin dia bicarakan denganmu. ”

“ Hiraukan saja. Aku tidak kenal dengannya. ”

 

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s