My First and Only [ Part 4 ]

Image

 

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.” Kataku mantap. Aku sangat lega karena bisa mengatakan hal itu dengan mantap, walaupun pada kenyataan hatiku pecah berkeping-keping saat mengatakan hal itu.

“Ma-makasudmu?” tanya Eunhyuk terbata.

“Ya, lebih baik kita putus saja. Menurutku itu jalan terbaik. Kau pasti akan lebih bahagia dengan Ji Eun.” Jelasku dengan senyum dipaksa.

“Tapi kenapa begitu?”

“Aku sudah tahu semuanya kejadian tadi siang itu. Walaupun aku sedang menjalani hukuman tapi aku tahu jelas apa yang kau dan Ji Eun lakukan.” Jelasku lagi sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan air mataku. Jangan sekarang Jiyeong, kau tidak boleh menangis sekarang.

“Bahkan aku tahu maksudmu mengajakku untuk bicara, kau ingin memutuskanku kan? Karena kau sudah balikan kembali dengan Ji Eun?” tambahku.

“Aniya Jiyeong. Aku mengajakmu ke sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memutuskan hubungan denganmu.”

Aku tersenyum pahit mendengar penjelasan Eunhyuk barusan. Apa harus aku percaya dengan penuturan laki-laki di depanku ini? Menurutku tidak.

“Aku mengerti. Kau pasti hanya merasa tidak enak padaku. Nah sekarang, jalani kembali hubunganmu dengan Ji Eun, tidak usah pedulikan aku lagi.” Aku makin keras menggigit bibir bawahku. Menahan sekuat tenaga air mataku.

“Dan ohya terima kasih selama beberapa hari ini kau telah mengisi hariku. Terima kasih sudah menjadi teman pertamaku. Mulai sekarang tidak usah pedulikan diriku lagi, dan seriuslah dengan Ji Eun.” Lanjutku kemudian.

“Jiyeong-a, ta-tapi…”

“Aku pulang duluan. Annyeong Eunhyuk-ssi.” Setelah mengucap salam dan membungkukan badan, aku bergegas berbalik dan meninggalkan kafe ini secepat mungkin. Air mataku kini sudah jatuh membasahi pipiku. Dengan sigap aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kafe.

Setelah taksi yang aku berhentikan berhenti, aku segera masuk ke dalam dan menghempaskan diriku pada jok taksi. Kepalaku aku senderkan ke jendela dan mataku menatap kosong ke arah jalanan. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam taksi ini. Masa bodoh dengan tatapan aneh supir taksi itu. Yang penting aku bayar kan?

“Nona, aku harus mengantarmu ke mana?” tanya supir taksi itu.

Aku menyebutkan alamat rumahku dan kembali menatap kosong ke arah jalanan. Sontak seluruh kenangan-kenanganku ketika bersama Eunhyuk kembali mengusik pikiranku.

Kenapa akhirnya harus begini? Kenapa aku terlalu bodoh untuk menerimanya waktu itu? Kenapa aku dengan mudahnya jatuh cinta pada seorang Lee Hyuk Jae…

***

“Jiyeong-a, kau baru pulang?” tanya Hyuri ketika aku memasuki rumah. Kulihat ada Donghae juga disitu.

Aku tidak menggubris pertanyaan Hyuri dan langsung menuju kamarku di lantai dua.

“Jiyeong-a, kau kenapa?” tanyanya lagi.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Ya! Jiyeong-a! Sebenarnya kau kenapa? Ceritakan padaku!”

“Sejak kapan aku harus menceritakan padamu apa yang terjadi denganku hah?” sikap dingin kembali menguasai diriku.

“Tumben sekali kau muram begitu. sejak bertemu dengan Eunhyuk, aku tak pernah melihatmu mu…”

“Jangan sebut nama itu lagi di depanku. Dan jangan bertanya apapun mengenai laki-laki itu.”

“Ya kau bertengkar dengannya?”

“Tidak usah banyak tanya! Ikuti saja perintahku!”

Dengan gusar aku kembali melanjutkan langkah menuju kamarku. Dan membanting pintuku sekuat tenaga sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku melempar tasku ke sembarang tempat dan langsung membenamkan wajahku dalan bantal. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi hari ini.

 

Kim Hyuri’s POV

Hah kenapa sikapnya jadi kembali seperti dulu? Padahal aku sudah sangat senang dengan perubahan sikap Jiyeong padaku  akhir-akhir ini.

Aku berjalan lemah dan menghempaskan diriku di sofa tepat di sebelah Donghae oppa.

“Hyuri-ya~ aku yakin adikmu pasti ada masalah.” Ucap Donghae oppa lembut.

“Ne oppa. Aku juga yakin. Tapi aku tidak tahu masalahnya apa, sepertinya ini masalah yang serius.” Jawabku muram.

“Aisssh tidak usah menjadi muram begitu, cepat atau lambat dengan sendirinya kau pasti akan mengetahui masalah adikmu itu. Jadi jangan terlalu kau pikirkan.” Donghae oppa tersenyum dan membuatku kembali bersemangat.

“Aku rasa apa yang kau bilang barusan itu benar. Baiklah ayo kita mulai lagi mengerjakan tugas kita!” ucapku bersemangat.

“Nah ini baru Hyuri yang aku kenal.” Donghae oppa megacak rambutku yang membuat pipiku memerah karena malu.

Aku dan Donghae oppa mulai berkutat pada soal-soal fisika di hadapan kami. Sesekali Donghae oppa mengajariku karena memang aku lemah dalam bidang fisika. Ketika Donghae oppa ingin memulai penjelasannya, terdengar seseorang memencet bel yang mau tidak mau membuatku harus membukakan pintu.

“Oppa, aku bukakan pintu dulu ya?” ucapku pada Donghae oppa dan berjalan ke arah pintu.

“Annyeong noona. Apakah Jiyeong ada?” tanya Eunhyuk ketika aku membukakan pintu. Oh jadi Eunhyuk yang datang.

“Ne. Dia ada di dalam. Kau ingin bertemu dengannya?” tanyaku.

Aku melihat keraguan dari gelagat Eunhyuk ketika aku bertanya padanya.

“Sebenarnya ada masalah apa antara kau dengan Jiyeong? Kau tahu, hari ini dia pulang sambil menangis.” Kataku seraya menebak alasan dari gelagat keraguan Eunhyuk.

“Mianhae noona, tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu saat ini.” Rasa bersalah kentara sekali dalam nada bicara Eunhyuk.

“Ah begitu. Baiklah itu bukan menjadi masalah. Kajja masuk.” Aku mempersilakan Eunhyuk masuk dan langsung menyuruhnya ke lantai 2.

“Kau tahu kan di mana kamar Jiyeong? Apa perlu aku antar?” tawarku karena Eunhyuk terlihat bingung. “Atau kau merasa sungkan? Hhmm baiklah ayo aku antar.” Aku berjalan mendahului Eunhyuk menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a, ada Eunhyuk di sini. Lebih baik kau keluar untuk menemuinya.” Kataku sambil mengetuk pintu kamar Jiyeong.

Tidak ada jawaban. Aku yakin sekali Jiyeong ada di kamarnya dan dia tidak tidur. Makanya aku memperkeras ketukan pintuku.

“Jiyeong-a! Aku tahu kau tidak tidur. Ayo cepat keluar dan temui Eunhyuk. Selesaikan masalah kalian berdua sekarang.”

Lagi-lagi kesunyian yang membalasku. Jiyeong tetap bersikeras tidak mau keluar kamar atau sekedar menjawab.

“Noona kalau Jiyeong tidak mau menemuiku tidak apa-apa, bisa lain kali. Maaf telah merepotkanmu.” Eunhyuk merasa tak enak padaku.

Belum sempat aku membalas ucapan Eunhyuk, suara Jiyeong tiba-tiba terdengar dari dalam kamar.

“Tidak ada lain kali Eunhyuk-ssi. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menemuimu.”

Aku memandang Eunhyuk dengan tatapan kasihan. Pasti masalah mereka bukan masalah main-main ini pasti masalah serius.

“Noona, tidak usah memandangku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Maaf aku telah merepotkanmu. Aku pamit ya.” Kata Eunhyuk tiba-tiba.

“Ah ne mianhae. Kau hati-hati ya.” Ucapku sambil melihat kepergian Eunhyuk dari lantai 2.

Pasti masing-masing dari mereka saat ini merasakan sakit. Hah tapi apa yang bisa aku lakukan? Mungkin dengan tidak mencampuri urusan mereka itu lebih baik. Aku menuruni anak tangga dan kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda tadi.

 

Eunhyuk’s POV

ARGH. Aku mengacak-acak rambutku frustasi dan bebarapa kali menendangi kaleng kosong bekas minuman ke sembarang tempat.

Ini semua gara-gara gadis sialan itu! Andai saja dia tidak berbuat nekat seperti tadi, pasti tidak akan jadi begini.

Jiyeong-a, kenapa kau sampai memutuskanku seperti tadi? Apa kau tidak tahu aku sangat sedih sekarang hah? Dasar gadis bodoh! Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara tadi? Kenapa kau menarik kesimpulan bodoh seperti itu? Bukannya aku sudah bilang bahwa aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap Ji Eun? Jadi mana mungkin aku balikan kembali dengannya.

Tidak bisa aku pungkiri bahwa selama bebarapa hari ini, Jiyeong lah yang mengisi hariku. Walaupun dia suka bersikap jutek dan keras kepala, tapi itu sama sekali bukan masalah bagiku, malah itu menjadi daya tariknya.

Aku kembali terbayang bagaimana ekspresi mukanya yang ketakutan setengah mati ketika aku dipukuli oleh ahjussi-ahjussi tempo hari lalu. Bagaimana ekspresinya ketika dia cemburu karena aku memuji Ha Na. Dan……ketika aku mendengar degup jantungnya yang begitu keras saat aku menciumnya.

Kim Jiyeong, apakah sebegitu mudahnya untuk jatuh cinta padamu?

Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk sendiri. Dan ketika waktunya sudah cukup menurutku, aku akan menjelaskan semua padamu. Semoga saja kau mau mendengarkanku.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan lemas menuju pintu gerbang sekolahku. Setelah menangis semalaman membuat kepalaku sedikit pening. Dari kejauhan aku melihat Eunhyuk sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Sesekali dia mengedarkan padangannya hendak mencari seseorang. Dia pasti mencari Ji Eun.

Kini langkahku semakin dekat dengannya. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin ketika lewat di depannya.

Brug. Seseorang menabrak bahuku dari belakang.

“Aah.” Rintihku.

“Mianhae. Aku tidak sengaja.” Hah, kenapa pagi-pagi begini aku harus bertemu dengan Ji Eun? Menyebalkan sekali!

“Jelas-jelas kau sengaja.” Gerutuku dalam hati.

“Aku duluan Jiyeong-a!” ucap Ji Eun sok akrab denganku. Aku tidak membalasnya. Dan kembali menempatkan diriku dalam posisi awal sebelum Ji Eun menabrakku.

“Oppa, kau pasti menungguku kan? Aah aku bahagia sekali akhirnya kita bisa kembali seperti dulu lagi.”

Hatiku kembali terasa teriris mendengar ucapan Ji Eun barusan. Rupanya aku tidak salah mengambil keputusan, Eunhyuk pasti lebih bahagia sekarang dengan Ji Eun.

Aku berjalan melewati mereka berdua sambil menunduk. Tidak berani mendongak atau sekedar menyapa Eunhyuk dan Ji Eun. Terlalu sakit bagiku untuk melakukan hal itu.

*

Sampai di kelas aku menyadari sesuatu. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini aku duduk di sebelah Eunhyuk. Dengan ragu-ragu aku meminta pada Min Ra, teman sekelasku untuk bertukar posisi denganku.

“Min Ra-ya, bisakah aku duduk di kursimu? Kau bisa duduk di kursiku?” tanyaku ragu-ragu, khawatir Min Ra akan menolak permintaanku.

“Wae?” tanya Min Ra.

“Aku mengalami gangguan penglihatan, jadi kalau duduk di belakang, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dicatat songsaengnim di papan tulis.” Jawabku berbohong.

“Oh begitu. baiklah, kau bisa duduk di sini.” Balas Min Ra sambil merapikan barangnya dan pindah ke kursiku.

“Min Ra-ya, jeongmal gomawoyo.” Kataku.

“Ne.” Jawab Min Ra sambil tersenyum.

Aku duduk di kursi baruku. Tidak ada Eunhyuk di sampingku. Tidak ada lagi yang melindungiku dari songsaengnim ketika aku tidur di kelas. Ya, tidak ada lagi seorang Lee Hyuk Jae yang dulu menjadi teman pertamaku…

***

Hari-hari berikutnya aku jalani tanpa minat. Tidak ada seorang pun yang mampu menghiburku termasuk Hyuri. Hubunganku dan Eunhyuk semakin memburuk. Kami benar-benar sudah tidak saling bicara, tegur sapa pun tidak. Aku kembali menjadi sosokku yang dulu sebelum bertemu dengan Eunhyuk. Kembali menjadi seorang Kim Jiyeong yang dingin dan kasar. Akibat sikapku itu aku dijauhi oleh teman-teman sekelasku. Aku tak mempunyai seorang temanpun. Jika waktu istirahat tiba, aku ke kantin seorang diri, tidak jarang aku menjadi bahan ejekan teman-temanku sendiri. Tapi biarlah, daripada aku menjadi Kim Jiyeong yang lemah, lebih baik begini. Toh aku sudah terbiasa hidup sendiri. Hidup tanpa ada seorang pun yang peduli padaku.

***

Hari ini aku berjalan gontai menuju kelasku. Sambil tetap menunduk, aku kembali memutar ulang ucapan Hyuri tadi pagi.

Jiyeong-a hari ini eomma pulang. Aku harap kau tidak pulang malam, dan bisa sampai rumah sebelum eomma.

Baiklah, sekarang kehidupanku yang dulu benar-benar kembali. Aku mencelos dalam hati dan merutuki nasibku sendiri. Mengapa aku bisa begitu sial?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Lagi-lagi aku mencelos dalam hati. Benar, sekarang memang tidak ada dan tidak akan ada yang peduli padaku. Dengan lemas, aku duduk di kursiku, dan merebahkan kepalaku di meja. Semalam aku tidur larut lagi, sehingga lagi-lagi aku mengantuk di kelas. Doaku hari ini hanya, semoga aku tidak akan tertidur di kelas.

“Kim Jiyeong, apa sekarang rumahmu sudah pindah hah?” suara berat songsaengnim membangunkanku. Astaga! Ternyata tadi aku tertidur. Tapi kenapa tidak ada yang membangunkanku?

“Ng…ng…maafkan aku songsaengnim. Aku sangat mengantuk tadi.” Jawabku.

“Jadi kalau kau mengantuk, kau boleh tidur seenaknya, begitu?”

“Aniyo, aku tidak bermaksud begitu. Aku…”

“Keluar sekarang. Berdiri di depan kelas sampai pelajaranku selesai. Enak saja kau tidur di saat jam pelajaranku.”

“Songsaengnim…tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian! Cepat keluar! Aku tidak suka pada siswa yang menyepelekan pelajaranku!”

Hah, rupanya doaku tidak terkabul. Aissshhhh dasar menyebalkan! Aku kan hanya tidur sebentar, kenapa malah dibilang menyepelekan pelajarannya? Tidak masuk akal.

Aku berdiri di depan kelas dengan tampang kesal, masih setengah tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan songsaengnim padaku.

“Ini peringatan juga bagi kalian. Tidak ada yang boleh tidur atau tertidur lagi pada jam pelajaranku! Dan sekarang, jika di antara kalian, ada yang mengantuk cepat keluar temani Jiyeong!” perintah songsaengnim yang terdengar samar-samar dari luar.

Errrrr dasar seenaknya saja! Cih, apa semua guru zaman sekarang itu seperti itu?

Cklek. Terdengar pintu suara ditutup. Mwoya? Jadi ada yang tertidur juga di kelas selain aku? Atau dia mengantuk? Hah terserahlah, aku tidak peduli.

“Kau tidur larut lagi semalam?” suara khas milik seseorang yang sudah sangat kukenali itu tiba-tiba memenuhi ruang pendengaranku. Aku hanya mematung dan tidak berani menoleh, karena aku tahu siapa si pemilik suara itu.

“Apa jangan-jangan kau juga tidak sarapan lagi pagi ini?” tambahnya.

Aku memicingkan mataku. Darimana dia tahu semua kebiasaanku itu?

“Kenapa kau ada di sini?” aku melontarkan pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan. Tetap kesan dingin yang masih menguasai diriku.

“Dihukum, sama sepertimu.” Jawabnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Jiyeong-a.” Lanjutnya.

“Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu.”

“Jadi, aku harus memanggilmu bagaimana?”

“Seperti saat kau pertama kali bertemu denganku. Mengerti?”

“Kau pasti bercanda. Shireo! Aku tidak mau.”

“Kalau begitu ini terakhir kali, kau bicara denganku. Kau tahu? Aku sangat ingin muntah jika mendengarmu memanggilku seperti itu.”

Keadaan hening sesaat. Aku tahu omonganku barusan memang sangat kasar, tapi untuk kali ini aku tidak akan minta maaf. Aku rasa aku tidak salah jika mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan.

“Ternyata, Hyuri noona benar. Kau kembali seperti dulu.” Tukasnya kemudian.

“Lalu? Pedulimu apa?”

“Jiyeong-a, tak bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu? Kau itu salah paham.”

“Apa yang harus dijelaskan lagi? Kau pikir, aku ini anak kecil yang bisa mudah salah paham hah?”

“Jiyeong-a…”

“Jiyeong-ssi.” Tukasku tajam.

“Jiyeong-ssi, apa kau tahu? Setiap hari Hyuri noona selalu bercerita padaku mengenai keadaanmu. Kau selalu pulang malam dan tidur larut kemudian keesokan paginya kau selalu tidak sarapan karena bangun kesiangan. Kau juga kembali menjadi sosok yang dingin…”

“Lalu? Apa itu masalah buatmu?”

“Tentu saja. Hyuri noona selalu mendesakku untuk segera menyelesaikan salah paham di antara kau dan aku. Dia bilang, dia sedih melihat adiknya menjadi sosok yang dingin dan keras kepala.”

“Jadi kau terganggu? Baiklah aku akan bilang pada Hyuri, bahwa mulai sekarang, dia tidak usah untuk mendesakmu lagi dan bercerita hal yang tidak penting padamu. Ohiya, tapi apa kau bisa tolong katakan padanya, bahwa aku memang seperti ini dari dulu. Dingin dan keras kepala, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkanku.”

“Jiyeong-a!” teriak Eunhyuk frustasi.

Aku menahan tangisku yang sudah ingin pecah dari tadi. Alih-alih untuk mencegah tangisku, aku mengiggit bibir bawahku dan mencoba bertahan sampai setidaknya pelajaran songsaengnim menyebalkan itu selesai.

“Jiyeong-a, aku mengerti keadaanmu saat ini, makanya aku membiarkanmu untuk sendiri. Tapi, jika aku rasa waktunya sudah cukup, giliran kau yang membiarkanku untuk menjelaskan semuanya padamu.”

Tidak ada jawaban iya atau sekedar anggukan kepala dariku. Aku hanya menganggap ucapan Eunhyuk barusan hanyalah angin lalu.

“TENG!!!”

Bel berbunyi satu kali. Akhirnya hukuman bodoh ini berakhir juga. Cepat-cepat aku masuk ke kelas dan meninggalkan Eunhyuk. Ini yang aku tunggu-tunggu dari tadi, bel tanda pelajaran pertama usai berbunyi.

“Ya! Eunhyuk-a! Kenapa kau tadi berbohong pada songsaengnim? Aku tahu kau tadi tidak mengantuk kan? Aku saja melihat wajahmu segar begitu.” aku mendengar Min Ra yang sekarang duduk di kursiku dulu, bertanya pada Eunhyuk.

“Aissshh bukan urusanmu. Sudah diam saja.” Jawab Eunhyuk.

Mwo? Jadi dia tadi hanya berpura-pura? Cih, apa maksudnya?

***

Hari ini eomma pulang. Apa aku harus menuruti permintaan Hyuri dengan pulang lebih awal? Hah aku rasa tidak, lebih baik aku menghabiskan waktuku di toko kaset langgananku.

Krieet. Aku membuka pintu toko kaset itu perlahan dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Baguslah hari ini tidak terlalu ramai. Aku segera menuju rak musik pop barat dan mencari-cari siapa tahu ada kaset yang bagus.

Drrt…drrt…

Ponselku bergetar. Aku berani jamin bahwa yang menghubungiku adalah Hyuri. Pasti dia ingin mennyuruhku untuk segera pulang.

Drrt…drrt…

Aissshh bisa tidak sih dia membiarkanku melakukan apa yang aku mau?

Drrt…drrt…

Kim Hyuri menyebalkan! Apa dia tidak tahu apa maksudku? Kenapa dia malah terus menelfonku?!

Tak lama setelah itu, ponselku berhenti bergetar. Tapi sebuah pesan baru masuk. Si pengirim sama dengan yang menelfonku itu. Kim Hyuri.

Jiyeong-a! Kau di mana? Kenapa tidak menjawab ponselku? Cepat segera menyusulku di Rumah Sakit Internasional Seoul! Eomma kecelakaan.

Deg. Tubuhku membeku membaca pesan dari Hyuri. Eomma….kecelakaan? Aku kalang kabut. Bagaimana bisa eomma kecelakaan? Aku berlari keluar toko kaset dan segera memanggil taksi. Ya Tuhan kenapa bisa jadi begini? Kenapa eomma bisa kecelakaan?

***

“Hyuri! Di mana eomma? Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?” tanyaku panik saat tiba di rumah sakit.

“Eomma…ada di ruang Unit Gawat Darurat sekarang.” Jawab Hyuri lemah.

“Ya! Aku tanya apa dia baik-baik saja?!”

“Aku tidak tahu. Begitu aku tiba di sini, eomma sudah berada di dalam sana.” Tangis Hyuri mulai terdengar.

“Tapi…….bagaimana bisa?”

“Mobil yang eomma tumpangi menabrak sebuah truk. Supir yang saat itu bersama eomma, tewas di tempat.”

Aku lemas mendengar jawaban Hyuri. Kalau sang supir saja bisa sampai tewas seketika, berarti kecelakaan itu parah. Berarti…….eomma?

Bruk. Aku terduduk lemas di lantai. Pandanganku mulai kabur. Butiran-butiran bening mulai menghiasi mataku. Aku takut sesuatu terjadi pada eomma. Aku tidak mau dia sampai kenapa-kenapa.

“Jiyeong-a, jangan duduk di situ, ayo bangun.”

“Hyuri tolong katakan padaku, apakah separah itu kecelakaan yang dialami eomma?”

“Mungkin. Karena…….aku melihat mobil yang eomma tumpangi ringsek.”

“Hyuri! Kau pasti berbohong kan?!”

“Aniya, aku tidak berbohong! Aku serius. Aku tahu, kau juga pasti khawatir dengan eomma kan, makanya lebih baik sekarang kita berdoa bersama untuknya.”

Hyuri membantuku untuk berdiri dan mendudukkanku di salah satu bangku di ruang tunggu.

“Aku tidak apa-apa.” Ucapku karena melihat kekhawatiran di muka Hyuri. “Kau kembali ke tempatmu saja, biar aku di sini.” Tambahku lagi.

Hyuri menuruti perintahku. Ia segera kembali ke tempatnya, dan aku lihat dia menangis sesegukan di pelukan  Donghae.

Hah miris sekali. Di saat Hyuri mempunyai sandaran ketika ia sedang bersedih seperti ini, aku malah tidak punya siapa- siapa di sampingku. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke ruang tepat di mana eomma berada sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dokter tak kunjung keluar untuk memberi tahu keadaan eomma?

“Tidak usah menangis lagi. Eomma mu pasti tidak apa-apa. Ini pakailah sapu tanganku untuk menghapus air matamu itu.” Ucap seseorang sambil menyodorkan sapu tangannya ke arahku.

Aku mendongak dan mendapati Eunhyuk di depanku. Aku bingung, kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku?

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku dingin bercampur dengan isak tangis.

“Kurasa itu bukan pertanyaan yang penting untuk aku jawab sekarang kan?”

“Lalu, mau apa kau di sini?”

“Aku ingin menemanimu. Aku tidak bisa melihatmu begitu rapuh Jiyeong-a.” Jawab Eunhyuk terang-terangan.

“Tapi aku tidak butuh dirimu. Aku bisa menghadapi ini seorang diri. Jadi lebih baik kau pulang saja.” Tolakku.

“Tch, kau memang keras kepala Jiyeong-a. Tapi apa kau tahu? Aku lebih keras kepala darimu, jadi aku akan tetap di sini, bersamamu.”

Eunhyuk segera mengambil posisi tepat di sebelahku. Aku tidak tahu mengatakan apa pada laki-laki di sebelahku ini. Dia memang benar-benar keras kepala.

“Terserah. Asal kau tidak mengangguku, itu tidak menjadi masalah.”

Hening kemudian. Aku dan Eunhyuk sama-sama tidak mengatakan sepatah kata pun. Ya aku memaklumi hal ini, mungkin saja dia merasa canggung bicara denganku, karena akupun juga merasa canggung berbicara dengannya.

“Apa kalian keluarga dari Nyonya Kim?” tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang Unit Gawat Darurat.

Aku nyaris berlari menghampiri dokter itu. Begitupun dengan Hyuri.

“Ya, benar, kami anaknya.” Jawab Hyuri.

“Kondisi ibu kalian kritis. Beliau mengalami benturan cukup keras di kepalanya. Jadi untuk malam ini dia akan berada di ruang ICU sampai masa kritisnya usai. Kalian berdoalah untuk keselamatan ibu kalian.” Jelas dokter itu.

Aku hanya terperangah mendengar penjelasan sang dokter. Tanpa sadar, tubuhku setengah limbung, tapi Eunhyuk dengan sigap menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

“Tapi dokter, apa boleh kami melihat ibu kami?” tanya Hyuri.

“Maaf, tapi selama ibu kalian berada di ruang ICU, kalian tidak boleh melihatnya.” Jawab sang dokter.

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak.” Ucap Hyuri pasrah.

Sedetik kemudian, pemandangan yang aku lihat adalah, tubuh eomma yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu, dibawa keluar dari UGD menuju ruang ICU. Hyuri yang daritadi tampak tenang, kali ini tampak tidak bisa menahan tangisnya.

“Hyuri-ya, tenanglah. Lebih baik sekarang kita berdoa saja, aku yakin eomma mu pasti bisa lewat dari masa kritisnya.” Ucap Donghae menenagkan sambil menghapus air mata Hyuri.

“Oppa, tapi aku sangat cemas dengan kondisinya sekarang ini.”

“Kau percaya dengan kekuatan doa kan? Apalagi doa seorang anak, pasti akan didengar oleh Tuhan. Sudah ya kau jangan menangis lagi.”

Aku melihat sepasang kekasih itu dengan tatapan tak bisa dibaca. Jujur dari dalam hatiku, aku merasa iri pada Hyuri. Ia mempunyai seseorang yang bisa membuatnya tenang dalam kondisi seperti ini. Tapi segera kutepis perasaanku. Di saat seperti ini, bukan saatnya untuk mempunyai perasaan seperti itu kan?

“Hhm, maaf aku ingin ke toilet sebentar.” Kataku tiba-tiba.

“Ne, Jiyeong-a. Tapi cepat kembali, jangan lama-lama.” Ucap Hyuri yang kini sudah terlihat lebih tenang.

“Biar aku antar.” Ucap Eunhyuk.

“Tidak usah.” Jawabku kemudian dan aku segera pergi ke toilet.

*

Sebenarnya aku ke toliet bukan karena ingin buang air kecil ataupun buang air besar, entah kenapa rasanya aku ingin ke toilet dan menumpahkan tangisku di sini. Dan mungkin keberuntungan sedang berpihak padaku kali ini. Toilet ini benar-benar kosong dan hanya ada aku seorang.

Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin besar yang ada di toilet itu. Betapa menyedihkannya diriku ini. Sudah kehilangan seseorang yang berarti penting, sekarang eomma mengalami kecelakaan. Apakah tidak bisa keadilan berpihak padaku? Kenapa ini semua terjadi hanya dalam jentikan jari saja? Aku menutup mataku dan bulir-bulir bening, aku rasakan mulai membasahi pipiku. Tuhan, aku mohon selamatkan eomma, tolong jangan biarkan dia pergi, karena kalau itu sampai terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku, aku akan selamanya menjadi anak yang durhaka. Air mataku semakin deras mengalir, memikirkan semua sikap dan perilaku burukku pada eomma selama ini, hingga ada sebuah suara yang menginterupsiku.

“Mau sampai kapan kau terus di dalam? Cepat keluar. Jadi yang kau bilang sebentar itu 15 menit hah?”

Tidak usah dicari tahu siapa pemilik suara itu, sudah pasti itu Eunhyuk. Dan lagi-lagi dia muncul di saat yang menurutku tidak tepat.

“Mau apa kau? Ini toilet wanita.” Tukasku.

“Aku tahu. Tapi aku tidak akan segan-segan masuk ke dalam, jika dalam hitungan ke-3 kau tidak juga keluar.” Ancamnya.

Aku mendengus kesal karenanya. Kalau aku keluar sekarang, keadaanku sangat menyedihkan untuk dilihat, tapi kalau tidak, sepertinya dia benar-benar nekat untuk masuk.

“1…2…” Eunhyuk memulai hitungannya. “Ini sudah hitungan kedua Jiyeong-a, aku benar-benar serius dengan ucapanku.” Tambahnya.

Sebelum dia menyelesaikan hitungannya dan bersiap-siap masuk ke dalam toilet, aku keluar dan mendapatinya tepat di depan pintu toilet.

“Aku sudah keluar. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal bodoh dan memalukan itu.”

“Aissshh aku akan melakukan hal itu, kalau kau tidak keluar Jiyeong-a.”

“Terserah kau saja.” Ucapku acuh tak acuh dan mulai berjalan meninggalkannya.

“Jiyeong-a tunggu sebentar!” cegah Eunhyuk sambil mengahampiriku. “Ikut aku.” Katanya lagi sambil menarik tanganku.

Aku tidak berontak ataupun mencoba melepaskan diri, seperti yang biasa aku lakukan kalau Eunhyuk tiba-tiba menarik tanganku. Aku hanya pasrah dan mengikuti ke mana laki-laki ini pergi membawaku.

*

“Sudah sampai.” Kata Eunhyuk dan segera duduk di kursi yang tepat berada di depanku dan Eunhyuk.

Aku mengikutinya dan duduk di sebelah Eunhyuk. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Ini taman yang terletak di belakang rumah sakit yang biasa digunakan pasien untuk berjalan-jalan atau sekedar menghirup udara segar.

“Kemarilah, mendekat padaku. Kau seperti orang lain saja.” Katanya sambil menarikku mendekat.

“Untuk apa?” tanyaku menggantung.

“Ne?” tanyanya bingung.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?”

“Kau lihat kan pasien yang ada di bawah pohon itu? Menurutmu sedang apa dia di sini?”

“Entahlah.” Sambil menatap kosong ke arah yang ditunjuk Eunhyuk.

“Meskipun kondisi kalian berbeda, dia sakit dan kau sehat, tapi aku yakin perasaan kalian sama. Kau dan pasien itu sama-sama sedang sedih dan membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur.”

“Kau tahu darimana dia sedang sedih?” tanyaku yang seolah ingin mengatakan bahwa ia sok tahu.

“Kau tidak lihat? Raut wajahnya itu yang memberi tahuku.”

“Nah itu lihat lagi, ada seseorang yang mengahmpirinya! Pasti orang itu yang akan menghiburnya!” ucap Eunyuk antusias.

“Ya! Tidak usah mengurusi orang lain! Dasar sok tahu! Bisa saja itu salah seorang suster yang ingin membawanya kembali ke dalam.”

“Aniyo Jiyeong-a, apa kau tidak lihat, wajah pasien itu berubah menjadi ceria ketika orang itu datang. Pasti dia orang yang penting bagi pasien itu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Jiyeong-a, apa aku tidak penting bagimu? Mengapa saat aku datang, kau malah menyuruhku untuk pulang?” Eunhyuk bertanya sambil tetap menatap kedua manusia yang tiba-tiba menjadi objek perbincangan aku dan Eunhyuk.

Mungkin memang kau sangat penting bagiku, tapi akulah yang terlalu bodoh untuk tidak bisa menyadari betapa pentingnya dirimu.

“Aku tahu, kau di toilet tadi itu menangis kan? Kenapa kau bahkan tidak mau menangis di depanku? Padahal aku ingin seperti Donghae yang menghapus air mata Hyuri noona ketika dia menangis.”

“Aku…aku…” Aku hanya tidak ingin melihatmu ikut bersedih karena aku menangis.

Sedetik kemudian, Eunhyuk sudah merangkulku dan kini aku sudah berada dalam pelukannya. Hangat tubuh ini….ah sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakannya.

“Sekarang kalau kau ingin menangis, menangislah sesuka hatimu. Dulu aku sudah berjanji kan bahwa akan bersedia meminjamkan bahuku untuk kau menangis?” ucapnya lembut.

Mungkin jika aku dalam keadaan normal, aku akan mendorong tubuhnya dan menjauh darinya saat ini juga. Tapi yang aku lakukan malah sebaliknya. Aku malah memperat pelukannya dan menangis sekencang-kencangnya.

Hanya menangis, itu saja yang aku lakukan. Aku tidak berkata sepatah kata apapun, karena aku yakin, Eunhyuk juga pasti mengerti perasaanku. Eunhyuk mengelus punggungku pelan untuk memberi ketenangan padaku. Setelah aku rasa cukup, aku menjauhkan diriku darinya, tapi masih dalam keadaan sesegukan.

“Kau sudah merasa baikan sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Baguslah. Setidaknya aku bisa sedikit menghiburmu.” Ucap Eunhyuk sambil tersenyum. Senyum yang selalu aku suka itu.

“Gomawo.”

“Tidak usah berterima kasih begitu padaku Jiyeong-a, aku senang bisa membantumu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Andai peristiwa itu tidak pernah terjadi, pasti senyumku akan lebih lebar daripada ini.

“Ya! Kau kedinginan! Ini pakai jasku.” Ucap Eunhyuk sambil melepaskan jaketnya dan memasangkannya di tubuhku.

Ah memang angin bertiup kencang malam ini, tapi entah kenapa aku tidak merasakan apapun.

“Kau tidak sadar kau menggigil daritadi?”

“Tidak. Karena aku tidak merasakan apapun.” Jawabku jujur.

“Aissssh dasar kau ini.” Ucapnya sambil mengacak rambutku dan pandangannya mulai menjelajahi sekitar.

Aku melirik ke arah Eunhyuk. Dia bodoh atau apa sih? Dia sendiri menggigil seperti itu, tapi malah memberikan jasnya padaku.

“Ya! Kau mau akting sok kuat di depanku hah?”

Eunhyuk menyipitkan matanya, tanda tak mengerti dengan maksudku.

“Hah, ternyata belum berubah juga. Ini jasmu. Kau juga kan kedinginan, kenapa malah memberikannya padaku?” kataku sambil melepas jasnya.

“Aniyo, kau saja yang pakai itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Cih, dasar sok kuat.” Dengan nada mengejek aku mengatakan hal itu dan kemudian mengembalikan jas miliknya.

“Ya!” teriak Eunhyuk tak terima.

“Aku tidak akan mau tanggung jawab kalau nanti kau mati kedinginan di sini.”

“Aissshh, sudahlah sini mendekatlah padaku, biar kita berdua sama-sama merasa hangat.” Eunhyuk menarikku agar lebih mendekat padanya.

Aku tersenyum simpul karena sikapnya. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke atas bahunya.

“Jiyeong-a?” tanya Eunhyuk yang agak sedikit terkejut karena sikapku ini.

“Aku pinjam bahumu lagi untuk malam ini. Sudah jangan cerewet.”

Bisa aku rasakan ia tersenyum mendengar jawabanku. Terima kasih Tuhan, setidaknya Kau telah memberiku sedikit kenyamanan dan ketenangan melalui orang di sampingku ini.

Aku masih dalam posisiku sekarang, ketika tiba-tiba ponselku bergetar. Aishhhh siapa sih yang berani mengangguku di saat seperti ini? Hyuri? Aku bangkit dari posisiku yang menyandar pada Eunhyuk dan menjawab ponselku tanpa melihat siapa yang menelfon.

“Yoboseyo? Nuguseyo?”

“…”

“Ji-ji eun-ssi?” kataku terbata karena terkejut.

“…”

“Ya. Ada apa?” Aku berhasil mengatasi keterkejutanku dengan kembali bersikap dingin.

“…”

“Tenang saja, aku tidak akan lupa. Baik akan kuberi ponselku padanya.”

Aku memandang Eunhyuk sesaat yang daritadi hanya menatapku bingung.

“Dia ingin bicara padamu. Lain kali angkat telfonnya, jadi dia tidak harus menelfonku.” Kataku sambil menyerahkan ponselku pada Eunhyuk dan beranjak pergi.

“Ini ponselmu. Aku tidak mau bicara dengannya.” Piip terdengar Eunhyuk memutuskan sambungan telfon dan mengembalikan ponselku.

“Kita ke dalam sama-sama.” Lanjutnya lagi sambil menggandeng tanganku untuk kembali masuk ke dalam.

Aku hanya melongo melihat sikapnya itu. Dia memutuskan sambungan telfon begitu saja? Hhhm ani, bahkan dia tidak mau mengangkat telfon dari Ji Eun? Kenapa? Apa jangan-jangan selama ini apa yang aku pikirkan tentang mereka salah? Aissshh itu tidak mungkin! Ya! Kim Jiyeong kau berpikir apa? Kau tidak ingat apa yang tadi Ji Eun katakan? Tiba-tiba saja ucapan Ji Eun di telfon tadi, terulang dengan lancarnya di otakku.

Jiyeong-a meskipun sekarang kau bersamanya, tapi kau tidak boleh lupa, bahwa selamanya Eunhyuk adalah milikku…”

“Jiyeong-a, kau darimana saja? Tadi katanya hanya ke toilet sebentar.” Suara Hyuri tiba-tiba mengembalikan kesadaranku.

“Tadi aku jalan-jalan sekitar rumah sakit ini, mencari udara segar.” Jawabku.

“Aaah begitu. Yasudah aku dan Donghae oppa ingin membeli makanan dulu ya, kalian berdua pasti sudah lapar kan?”

“Hhhmm.” Jawabku singkat.

“Baiklah. Ah Eunhyuk-a, titip adikku sebentar ya!” tambah Hyuri.

“Ya! Kau pikir aku anak kecil?!” teriakku tak terima.

“Aisshh jangan berteriak-teriak seperti itu, nanti pasien lain bisa terganggu. Baik-baik, aku minta maaf.”

“Tch, sudah sana pergi. Aku sudah lapar.”

Hyuri tak membalas ucapanku dan langsung melesat pergi bersama pacaranya itu. Dalam sekejap, mereka sudah tak tampak lagi oleh indera penglihatanku. Tinggalah aku berdua dengan Eunhyuk di ruang tunggu rumah sakit ini. Rasanya aku ingin sekali bertanya padanya, kenapa dia tadi memutuskan sambungan telfon begitu saja. Tapi aku mengurungkan niatku. Lebih baik aku diam saja, pikirku saat itu.

“Kau tidak mau bertanya kenapa tadi aku tidak mau bicara dengan Ji Eun?” tanya Eunhyuk yang memecah keheningan selama sesaat.

“Tidak. Itu bukan urusanku.” Jawabku ketus.

“Padahal jika kau bertanya, aku akan menjelaskannya dengan senang hati. Bahkan tanpa di tanya pun aku akan menjelaskannya padamu.”

“Tidak perlu, aku tidak mau tahu alasannya kenapa.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika Ji Eun menelfonmu lagi dan ingin bicara padaku, langsung saja kau matikan ponselmu, arra?”

Entah kenapa tapi ada perasaan senang yang menggelitik hatiku. Benarkah yang aku dengar barusan? Ah aku tidak peduli apapun alasannya.

“Arra.” Jawabku singkat.

Keheningan lagi-lagi yang menguasai suasana. Aku bingung memilih topik pembicaraan yang pas untuk saat ini, dan pada akhirnya aku menyerah dan hanya bisa berharap semoga Hyuri cepat kembali.

5 menit…10 menit berlalu, dan Hyuri masih belum kembali juga. Aku hampir putus asa dengan suasana seperti ini. Kecanggungan yang aku rasakan begitu besar. Errrghhh ayolah Kim Hyuri cepat kembali, pintaku putus asa.

5 menit lagi berlalu dan akhirnya permintaanku terkabul. Hyuri sudah kembali.

“Ya, mianhae membuat kalian menunggu lama. Tadi antriannya sangat panjang.”

“Lain kali, cari saja kedai makanan yang sepi, jadi aku tak harus menunggumu seperti tadi. Kau tahu? Aku nyaris mati kelaparan.” Kataku sedikit berbohong.

“Bukannya aku tidak mencari tempat lain, ini sudah malam Jiyeong-a, kebetulan kedai makanan yang masih buka hanya ini saja.”

“Aisshh yasudahlah terserah. Mana makananku?”

“Ini.” Jawab Hyuri sambil menyerahkan bungkusan ke arahku. “Ohya, dan ini untukmu Eunhyuk-a.” Tambah Hyuri.

“Gomawo noona.” Balas Eunhyuk dan menghampiriku yang sudah duduk duluan tanpa mengucapkan apa-apa pada Hyuri.

Aku membuka bungkusan itu dengan tidak sabar. Kalau aku bilang tadi aku nyaris mati kelaparan, sebenarnya itu tidak sepenuhnya bohong, karena aku benar-benar lapar. Aku tergelak mendapati apa isi bungkusan itu. Mie ramen. Makanan yang selalu aku hindari karena selalu mengingatkanku dengan Eunhyuk. Dan sekarang, aku memakan makanan ini tepat di sebelahnya?

Aku yang awalnya sangat tidak sabar untuk menyantap makanan, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Tapi aku tetap saja menyuapkan ramen itu ke mulutku. Belum selesai kerongkonganku berhasil memasukan ramen itu ke dalam lambungku, aku sudah menyuapkan lagi ramen itu ke dalam mulutku.

“Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.”

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?”

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!”

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~”

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?”

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kenangan itu muncul lagi dipikiranku hah? Alih-alih untuk mengilangkan pikiran itu, aku kembali dengan nafsunya menyuapkan ramen ke dalam mulutku.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” kata Eunhyuk memperingatiku.

Kata-kata itu…sama persis dengan apa yang dikatakannya waktu itu. Aku tidak menggubris peringatannya dan tetap pada kegiatanku.

“Kim Jiyeong! Aku bilang jangan seperti itu! Nanti kau bisa tersedak!”

“Berisik!” jawabku dengan mulut penuh.

“Mulutmu itu sudah penuh, jangan kau masukkan ramen itu lagi ke dalam mulutmu, sebaiknya kau telan dulu.” Kata Eunhyuk sambil mengambil sumpit yang aku pegang agar aku tidak menyuapkan ramen lagi ke dalam mulutku.

“Kembalikan! Aku mau makan!”

“Tidak sebelum kau telan dulu ramen yang ada di mulutmu itu!”

Aku bingung harus melakukan apa, tapi tiba-tiba, aku melihat sumpit milik Eunhyuk yang sedang tidak terpakai. Segera saja aku mengambilnya, dan kembali memakan ramenku.

“Ya! Kim Jiyeong! Sebenarnya kau kenapa hah?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap pada kegiatanku. Kalau orang lain melihat apa yang aku lakukan saat ini, mungkin orang itu akan menyangka, bahwa aku ini monster yang sudah tidak diberi makan selama berhari-hari.

“Uhuk…uhuk…uhuk…” Aku nyaris kehabisan nafas karena tersedak. Argghh aku sekarang malah tampak seperti orang bodoh. Lihat kan? Sampai Hyuri dan Donghae pun melihat ke arahku.

“Kau tidak apa-apa? Ini minumlah.” Kata Eunhyuk sambil menyodorkan sebotol minuman padaku.

Aku mengambil botol itu dan segera meneguk air itu secepat mungkin. Rasanya tersedak itu benar-benar tidak enak.

“Aku sudah memperingatimu dari awal kan? Kau sendiri yang tidak mendengarnya. Sekarang rasakan akibat ulahmu sendiri.”

“Tch, kalau kau tidak tulus, tidak usah memberiku minum!” bentakku yang sudah berhasil menelan seluruh ramen yang tadinya memenuhi rongga mulutku.

“Kau sudah aku bantu, malah membentakku.”

“Siapa yang suruh kau membantuku hah?”

“Memang tidak ada! Tapi apa aku akan diam saja melihatmu seperti itu?!” Eunhyuk sedikit menaikan nada suaranya sehingga terkesan dia membentakku.

Aku menunduk karena merasa menyesal. Baiklah aku akui aku salah kali ini. Harusnya aku berterima kasih padanya, bukan malah membentaknya seperti tadi.

“Maaf.” Ucapku pelan.

“Bukan maaf, tapi terima kasih.” Ralatnya.

Aku menarik nafasku sesaat dan mencoba mengatakan kalimat singkat itu. “Terima kasih.” Kataku akhirnya sambil tetap menunduk.

Eunhyuk mengangkat daguku dengan lembut sehingga kepalaku terangkat dan kini aku bisa memandang wajahnya.

“Itu baru benar.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku salah tingkah dibuatnya. Harusnya tadi aku tetap menunduk. Arrgghh tidak adakah hal di dunia ini yang bisa aku lakukan dengan benar?

“Ya! Ini makan punyaku saja.” Kata Eunhyuk.

Ah iya aku lupa ramenku tadi tidak sengaja terjatuh, karena saat tersedak tadi, aku kelimpungan mencari air minum.

“Tidak usah. Aku sudah kenyang.”

“Kau yakin sudah kenyang?” tanya Eunhyuk sangsi.

“Ne. Nikmati saja ramenmu itu.” Jawabku yakin.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk. Dan Eunhyuk pun mulai melanjutkan makannya lagi.

***

Jam 02.00 dini hari. Haaaah kapan malam yang panjang ini akan berakhir? Sudah berulang kali aku mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku terus-terusan memikirkan eomma yang sekarang terbaring sendirian di ruang ICU. Aku melirik ke arah Hyuri. Ah rupanya dia sudah tidur. Ya! Apa-apaan dia itu? Kenapa membuat orang iri saja? Bayangkan saja, dia tidur dipangkuan Donghae. Aisshhh dasar.

“Kau belum tidur?”

“A-aku membangunkanmu ya? Maaf.” Ujarku tak enak.

“Tidak juga. Sebenarnya aku juga tidak benar-benar tertidur.”

“Kalau begitu, lanjutkan lagi saja tidurmu, siapa tahu kau benar-benar akan tertidur sekarang. Aku janji tidak akan membangunkanmu lagi.”

“Kau sendiri kenapa sampai sekarang belum tidur? Itu lihat kakakmu sudah tertidur pulas daritadi.”

“Aku tidak bisa tidur. Aku…….selalu memikirkan eomma ketika aku mencoba untuk memejamkan mataku.” Jawabku lemah.

“Jadi karena itu kau tidak bisa tidur? Jiyeong-a dengarkan aku. Seorang ibu adalah sosok yang kuat, jadi eomma mu pasti akan berhasil melewati masa kritisnya. Apalagi kau dan Hyuri noona sudah berdoa untuknya kan? Tenang saja pasti Tuhan akan mendengar doamu dan Hyuri noona.”

Aku menatapnya sangsi. Apakah benar apa yang dikatakannya?

“Kau meragukanku? Baiklah, akan aku beri bukti. Begini, kau pasti tahu kan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya?”

Aku mengangguk,”Ya aku tahu.”

“Nah, kau juga pasti tahu bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan dan taruhannya adalah nyawa? Ibumu sudah berhasil melalui masa yang menyakitkan dan mempertaruhkan nyawanya itu demi melahirkan kau dan Hyuri noona, jadi dia pasti bisa melewati masa kritisnya malam ini. Lagipula aku yakin, ibumu tidak akan mau pertaruhan nyawanya menjadi sia-sia waktu itu, jadi dia pasti akan kembali sadar.”

Aku benar-benar terharu mendengar apa yang Eunhyuk katakan. Tidak aku sangka laki-laki dihadapanku ini bisa mengatakan hal mengharukan seperti itu.

“Kau benar Eunhyuk-a. Eomma pasti akan sadar.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa kau tidak tersenyum begitu daritadi hah? Baguslah kalau kau sudah yakin. Ya! Sekarang lebih baik kau tidur. Kau tidak mau kan ketika besok eommamu sadar tapi kau malah tertidur?”

“Aisssshh iya baiklah. Aku akan mencoba untuk tidur.”

“Baiklah kalau begitu kemari.” Eunhyuk membimbing kepalaku agar bersandar di bahunya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak akan mau kan jika aku suruh tidur seperti Hyuri noona?” katanya sambil tertawa.

“Tentu saja tidak!”

“Yasudah, makanya kau menurut saja denganku.”

Aku merengut kesal, tapi tetap saja bersandar padanya. Dan tak lama kemudian, aku pun tertidur. Semoga malam yang seperti ini hanya akan terjadi satu kali seumur hidupku.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena mendengar sedikit kebisingan. Saat aku benar-benar berhasil membuka mataku secara sempurna, aku mendapati Hyuri sedang mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku bangkit dari posisi bersandarku dan mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku melirik ke arah Eunhyuk yang masih terlelap. Aku berusaha bangun dari kursi ini dengan sangat pelan-pelan agar tidak membangunkan Eunhyuk yang tampaknya baru tidur 2 jam yang lalu.

“Hyuri-ya, ada apa? Kenapa kau mondar-mandir seperti itu? Eomma sudah sadar?” tanyaku ketika berhasil menghampiri Hyuri.

“Aku tidak tahu, kita tunggu saja kabar dari dokter yang menangani eomma. Dia baru saja masuk.”

“Ya! Kalau begitu kenapa kau tidak membangunkanku hah?”

“Kau pikir aku akan membangunkanmu yang baru tidur 3 jam lalu? Aku tidak setega itu!”

“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada eomma? Apa kau akan tetap membiarkanku tertidur?”

“Aisssh baik-baik aku salah, maafkan aku.” Kata Hyuri akhirnya mengalah.

“Ya! Tapi darimana kau tahu aku baru tidur 3 jam yang lalu?”

“Eunhyuk-mu.”

“Dia bukan Eunhyuk ku!”

“Bukan “bukan” tapi belum.”

“Ya! Kim Hyuri kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?”

“Hei sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?” lerai Donghae dan entah dari kapan tapi tiba-tiba Eunhyuk sudah berada di sampingku.

“Ka-kau sudah bangun?” tanyaku pada Eunhyuk.

“Ne.” Jawabnya singkat. Terlihat jelas dari raut mukanya bahwa ia masih sangat mengantuk. Aisshh ini semua gara-gara Hyuri!

Cklek. Terdengar suara pintu terbuka dan munculah seorang dokter muda dengan stetoskop dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jubahnya.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanyaku tak sabar.

Dokter itu tersenyum. Aah ini pasti pertanda baik!

“Aku ucapkan selamat buat kalian berdua. Eomma kalian berhasil melewati masa kritisnya dengan baik. Dan kalian tahu? Bahkan seorang eomma kalian sudah sadar.” Kata dokter itu sumringah.

“Jinjjayo?” kataku dan Hyuri nyaris bersamaan.

“Tentu saja. Ohya, boleh aku tanya sesuatu? Di antara kalian siapa yang bernama…hhmm…Kim…Hyuri?” dokter itu terlihat bingung sesaat tapi kemudian dia bisa menyelesaikan ucapannya.

Aku yang tadinya sangat antusias mendadak tak bersemangat. Kenapa dokter itu menanyakan Hyuri?

“Aku. Aku Kim Hyuri. Wae?” jawab Hyuri dan langsung balik bertanya pada dokter itu.

“Ah ibumu, saat dia sadar tadi, dia langsung menyebut-nyebut namamu. Bahkan dia langsung memintaku untuk segera memanggilmu, katanya begini, “Dokter, apakah bisa kau panggilkan Kim Hyuri anakku? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”

Hyuri? Hanya Hyuri saja yang eomma cari? Hanya Hyuri yang ingin ditemuinya? Lantas aku? Apa aku benar-benar tidak berarti untuk eomma?

“Ya, hari ini juga ibu kalian akan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, jadi kalian bisa menemuinya.” Tambah dokter itu.

“Ah baiklah. Terima kasih banyak dokter.” Kata Hyuri sambil tersenyum.

“Ne. Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian.” Balas dokter itu sambil kemudian berlalu pergi.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah tahu akan begini. Sudah sana cepat temui eomma.” Kataku pada Hyuri sambil mencoba menahan rasa kecewaku.

“Tapi….kau…”

“Dokter itu bilang kan, eomma sudah tidak sabar bertemu denganmu? Jadi kau tunggu apalagi? Cepat sana temui eomma.”

“Kau tidak ikut bersamaku?”

“Aku bisa lain kali menemui eomma. Sangat tidak lucu jika aku dan eomma bertengkar, padahal eomma baru saja sadar kan?”

“Baiklah kalau itu maumu. Aku masuk sekarang ya.”

Hyuri dan Donghae segera memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Dan aku di sini hanya bisa melihat dari celah kaca yang ada di pintu. Biarlah asalkan aku bisa melihat eomma membuka matanya itu sudah lebih dari cukup.

 

Author POV

Eunhyuk menatap nanar gadis di sebelahnya. “Bagaimana bisa dia bersikap tegar padahal aku tahu dia sangat ingin menangis sekarang. Kalau aku bisa, aku akan menyeretnya saat ini juga masuk ke dalam, tapi apa boleh buat, dia sendiri yang melarangku untuk melakukan hal itu.” Batin Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, aku sangat senang sekarang.” Kata Jiyeong sambil terus menatap ke arah Hyuri dan ibunya.

“Kalau kau sangat senang, harusnya kau tersenyum, bukan malah murung seperti itu.” Balas Eunhyuk.

“Siapa bilang aku murung? Aku hanya iri dengan Hyuri…dia bisa langsung menemui eomma, sementara aku? Harus menunggu lain waktu.”

“Kan kau sendiri yang menginginkan hal itu.”

“Ah iya kau benar. Aku lupa.”

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Eunhyuk dan Jiyeong kembali disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hyuri yang mungkin daritadi memperhatikan Jiyeong dari dalam akhirnya tak tahan dan meminta ibunya agar mau bertemu dengan adiknya itu.

“Eomma sebenarnya yang datang ke sini bukan hanya aku saja, tetapi Jiyeong juga datang.”

“Hyuri kau bercanda? Mana mungkin adikmu itu datang.”

“Eomma aku serius. Aku panggilkan dia ya.”

“Tidak usah. Kepalaku bisa kembali pusing jika bertemu adikmu itu.”

“Eomma aku mohon….” Hyuri memelas pada eommanya.

“Hhhm baiklah, tapi tolong kau suruh adikmu jangan membuat ribut di sini.”

“Tidak akan eomma. Dia tidak akan membuat ribut, aku yakin.”

Hyuri pun segera keluar dan menemui Jiyeong. Jiyeong agak sedikit terkejut karena Hyuri tiba-tiba keluar.

“Jiyeong-a! Ayo masuk!” ajak Hyuri antusias.

“Mworago? Aku? Masuk ke dalam?”

“Ne! Ayolah bukannya kau ingin masuk?”

“Memang aku ingin, tapi….”

“Aku tahu. Tenang saja, aku sudah bilang pada eomma kok.”

Jiyeong tersenyum mendengar pernyataan kakaknya. Ia pun segera masuk ke dalam bersama Hyuri.

“Eunhyuk-a kau tidak ikut masuk?” tanya Hyuri yang melihat Eunhyuk tidak bergerak dari tempatnya.

“Aniyo noona, biar aku menunggu di luar saja.” Tolak Eunhyuk halus.

“Baiklah, kalau begitu kami masuk dulu ya.”  Balas Hyuri sambil menggandeng Jiyeong masuk.

Kim Jiyeong POV

Jantungku makin berdetak tidak karuan begitu aku memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Astaga! Memang awalnya aku sangat ingin masuk, tapi begitu sekarang aku masuk, aku malah gugup dan malah ingin keluar. Aku bingung harus mengatakan apa pada eomma nanti.

“Eomma, aku tidak bohong kan? Lihat ini Jiyeong!” seru Hyuri pada eomma.

Aku tersenyum kikuk. Bukan karena kegugupanku tapi lebih kepada raut muka eomma yang sepertinya tidak suka dengan kehadiranku.

“Eomma…” kataku tersendat.

“Ada apa?” tanya eomma dingin.

“Aku…senang kau sudah sadar.” Aku berusaha untuk tersenyum, walaupun akhirnya senyum yang aku keluarkan adalah senyum yang dibuat-buat.

“Kau yakin?”

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Bukannya kau berharap supaya aku tidak akan pernah sadar lagi?”

Bahuku mulai bergetar. Mataku mulai terasa panas. Tidak sekarang Kim Jiyeong, kau pasti bisa tahan.

“Tentu saja aku tidak berharap seperti itu. Sungguh, aku sangat senang eomma sudah sadar.”

“Terserahlah aku tak peduli. Kau sudah selesai kan? Kalau sudah kau bisa keluar sekarang. Biar Hyuri saja yang menemaniku di sini. Kepalaku sakit jika melihatmu lebih lama lagi.”

“Eomma, jangan terlalu kasar seperti itu. Ingat kau baru sadar.” Kata Hyuri mengingatkan eomma.

“Maaf kalau kehadiranku membuat eomma sakit. Aku akan keluar sekarang.” Aku berbalik dan segera menuju pintu keluar. Harusnya tadi aku tidak usah menerima tawaran Hyuri untuk masuk.

“Hyuri! Jangan menahan adikmu! Biarkan saja dia keluar. Kau tetap di sini bersama eomma.” Kata eomma yang mencegah Hyuri untuk menahanku.

Aku mempercepat langkahku dengan tujuan agar aku bisa segera keluar. Ternyata terlalu menyakitkan untuk berada di kamar ini. Dengan susah payah aku menahan tangisku agar tidak pecah, tapi sia-sialah semua usahaku itu. Dengan lancangnya air mataku turun membasahi pipiku.

Karena aku menangis, aku tidak menyadari bahwa Eunhyuk sudah menungguku tepat di depan pintu dan aku pun menabrak tubuhnya.

“Aku tidak tahu apa yang dikatakan eommamu barusan. Tapi kalau kau sampai menangis, berarti itu pasti kata-kata yang sangat menyakitkan.”

“Bisa bawa aku pergi dari sini? Aku janji tidak akan memberontak atau apapun. Ke manapun kau membawaku aku akan mengikutimu.”

“Aku mengerti perasaanmu. Baik kalau itu yang kau mau. Sekarang ikut aku.”

 

 

-TBC-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s