Only Two Of Us

Image

Author  : chokyu88

Cast       : -Kim Jong Woon

-Han Ri Ra

Genre   : Romance

Length  : OneShot

Rating   : PG+15

It doesn’t matter if you’re think you’re nothing. But, you can give me everything that I need, and it’s more than everything.

Author POV

Layar laptop itu masih saja menampilkan puluhan live update SuperShow4 Tokyo dan gadis di depannya pun tak bosan-bosannya berdecak kagum setiap live update baru muncul di layar laptop kesayangannya.

“Aigooooo  Eunyuk oppa…tampan sekali dia! OMO OMO dia membawakan lagu Sorry Sorry Answer untuk solonya kali ini!” komentar gadis itu antusias.

Gadis itu memang memuji setiap penampilan solo yang dilakukan member Super Junior, tapi hanya ada satu penampilan solo yang sangat Ia tunggu-tunggu. Siapa lagi kalau bukan, Kim Jong Woon itu?

Han Ri Ra POV

Ckckck harus berapa lama lagi aku menunggu hingga penampilan solonya huh? Ayolah cepat. Aku tak sabar ingin melihatnya bernyanyi. Yah walaupun aku sudah sering melihatnya bernyayi di depanku, tapi aku rasa, aura yang dikeluarkannya saat bernyanyi di atas panggung itu berbeda. Dan aku sangat menyukainya.

Aku membulatkan mataku, ketika salah satu fanbase mengupdate sebuah tweet, “Yesung solo now. He is singing one of his song from Immortal Song 2, The More I Love.”  Aigooooooo…..The More I love itu kan…lagu kesukaanku! Jadi dia benar-benar menyanyikannya? Aku menjadi gugup sendiri ketika melihat update-update fanbase di twitter yang terang-terangan menyatakan bahwa, Yesung bernyanyi dengan sangat sempurna. Tiba-tiba penyesalan menyergapku tanpa ampun. Aisshhh aku menyesal kenapa aku tidak terima saja tawarannya waktu itu untuk ikut ke Tokyo?

Setelah penampilan solonya itu usai, aku segera membuka situs kedua favoriteku, youtube. Aku berharap semoga saja fancam penampilan solonya itu sudah di upload. Bukannya memang biasanya begitu?  Tak sampai sehari, fancam-fancam performance mereka selama SS4 pasti sudah di upload ke situs itu. Aku nyaris terjatuh dari kursi karena senang dengan tebakanku yang tepat. Ya! Ini dia! Aku menemukan satu-satunya fancam Yesung saat bernyanyi The More I Love. Tanpa basa-basi aku segera mendownload video itu dan menontonnya berulang kali. Tak peduli dengan kualitas video itu yang bisa dikatakan sangat jauh dari bagus, tapi aku tetap menontonnya seperti orang gila. Aku benar-benar suka dengan penampilan solonya kali ini.

Saking asyiknya aku menonton video itu, aku jadi melupakan kegiatan yang aku lakukan sebelumnya. Dengan tergesa-gesa aku kembali membuka twitter untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di Tokyo sana. Tapi aku mendengus kesal ketika aku mendapati tweet-tweet dari fanbase itu serentak menyatakan bahwa SuperShow4 Tokyo sudah selesai.

“Aish! Aku pasti melewatkan banyak moment!” gerutuku pada diri sendiri.

Aku mematikan laptopku dan menutupnya perlahan. Meletakkannya kembali di tempat yang seharusnya. Kemudian aku merebahkan diriku di kasur dan mengistirahatkan diriku sejenak.

Namja itu…kapan dia tidak terlihat mempesona? Ekspresinya saat bernyayi…benar-benar sempurna. Aisshhh kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi…….merindukannya? Kim Jong Woon…..apa dia juga merindukanku?

***

Yesung POV

“Ayolah hyung aku mohon! Izinkanlah aku pulang duluan ya?” pintaku setengah memelas pada Leeteuk hyung.

“Yesung-a untuk apa kau pulang duluan hah? Kau ingin membuat masalah baru?”

“Aniyo hyung. Aku tidak ingin membuat masalah baru. Aku hanya ingin segera…”

“Segera menemui gadisnya hyung!” sambung Kyuhyun asal.

“Yak Cho Kyuhyun diam kau tidak usah ikut campur!” ancamku pada si maknae menyebalkan itu.

“Ya~ hyung tapi aku memang benar kan? Kau ingin cepat-cepat pulang ke Korea untuk bertemu dengan gadismu.” Balas Kyuhyun tak mau kalah.

“Yesung-a benar apa yang dikatakan Kyuhyun barusan?” tanya Leeteuk hyung kemudian.

Aku mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Leeteuk hyung. Untuk apa aku berbohong? Toh memang itu yang ingin aku lakukan. Keinginan bertemu dengan gadis itu…terlalu kuat. Nyaris membuatku ingin segera pulang ke Korea setelah Supershow tadi berakhir.

“Tuh kan aku benar! Ahahaha ternyata seperti ini jika seorang Kim JongWoon merindukan seseorang!” ujar Kyuhyun bangga.

Ingin sekali rasanya aku memukul kepalanya itu. Mulutnya itu, apa dia tidak bisa menahannya untuk tidak berkomentar? Aku jadi bingung sendiri kenapa si maknae setan itu bisa menarik perhatian wanita dengan sikap dingin dan pendiamnya. Cih, pendiam darimana?

“Baiklah. Kau aku izinkan untuk pulang lebih awal besok. Tapi ingat kau harus tetap berhati-hati agar tidak membuat masalah baru, eo?”

“Ne hyung! Tenang saja!” balasku penuh semangat. Aku tersenyum puas karena usahaku membujuk Leeteuk hyung berhasil.  Dan seketika itu otakku mulai memikirkan bagaimana reaksinya ketika mendapatiku berada di depan pintu apartemennya esok hari.

***

Author POV

Gadis itu menggeliat kecil di atas tempat tidurnya. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang tertekuk ketika tertidur. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya masuk ke matanya. Gadis itu tampak masih mengantuk, tapi dia tidak peduli dengan kenyataan itu dan segera turun dari tempat tidurnya dan menyalakan laptop yang ada di meja belajarnya.

“Berita apa yang akan aku dapatkan pagi ini?” gumam gadis itu tak jelas.

Gadis itu membelalakan matanya tak percaya ketika melihat foto-foto namja yang sangat dikenalinya itu sedang berada di Incheon airport bertebaran di twitter. Ia memicingkan matanya untuk memastikan namja yang ada di foto itu benar Yesung atau bukan. Gadis itu yakin dia tidak punya masalah dalam penglihatannya, jadi bisa dipastikan bahwa namja itu benar-benar Yesung.

Ri Ra yang masih tidak percaya, berulang kali melihat tanggal di uploadnya foto itu. Tidak ada yang berubah. Tanggal yang tertera tetap tanggal hari ini. Untuk apa dia pulang ke Korea sepagi ini? Ani. Bahkan foto ini sudah diupload 1 jam yang lalu. Lalu ke mana member yang lain? Kenapa hanya dia saja yang terlihat. Jangan-jangan……

TING TONG. Bunyi bel yang memekakan telinga itu nyaris membuatnya terkena serangan jantung mendadak.

“Aissshh siapa sih yang datang-datang pagi begini dan mengangguku?” umpat gadis itu kesal. “Tunggu sebentar.” Jawab gadis itu akhirnya.

Dengan malas ia mematikan laptopnya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya itu. Lagi-lagi ia membelalakan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Namja itu….namja yang sangat dirindukan Ri Ra kini tengah berada tepat di depannya.

“Kau tidak mau menyuruhku masuk? Aku rasa kalau kau terus membiarkanku di luar sini, aku akan ketahuan.” Ucap namja itu sambil membenarkan letak topinya.

“Si..si..lakan masuk oppa.” Balas gadis itu terbata.

Namja itupun segera masuk dan mendahului gadisnya. Dia segera melepas topi, kacamata, masker, dan scarf yang dikenakannya untuk menyamar. Ketika kegiatan itu selesai dilakukannya, gadis itu masih saja belum bisa menemukan kesadarannya kembali.

“Ri Ra-ya~ sampai kapan kau akan terus berdiri mematung seperti itu?” ucap Yesung akhirnya. “Kau tidak merindukanku?” tambahnya lagi. Dan sedetik kemudian, ia menarik gadisnya itu ke dalam pelukannya. Merasakan kehangatan yang sangat ingin dia rasakan sejak 3 hari yang lalu.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Bisik Yesung tepat ditelinga gadisnya.

Respon yang diberikan gadis itu tidak buruk. Ia mengalungkan tangannya di pinggang Yesung sehingga mempererat pelukan mereka berdua. Gadis itu memang tidak akan terang-terangan mengatakan bahwa ia merindukan Yesung, tapi dengan membalas pelukannya, itu sudah lebih dari cukup kan?

“Kau tahu? Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung.” Ucap Ri Ra sambil melepaskan pelukannya.

“Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai kau begitu terkejut?”

“Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya sedang melihat-lihat fotomu yang sedang berada di Incheon airport dan ternyata kau sudah ada di sini.”

“Kau senang kan?”

“Tidak juga. Biasa saja.”  Jawab Ri Ra berbohong untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.

“Ani, kau pasti bohong. Kau pasti senang kan bisa melihatku? Karena aku juga senang bisa melihatmu kembali. Melihat gadisku yang selama 3 hari ini aku rindukan.” Tukas Yesung yang berhasil menciptakan rona merah di pipi gadisnya.

“Ka..kau mau minum apa?” tanya Ri Ra yang tiba-tiba menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Terserah kau saja. Aku tidak menolak apapun yang kau berikan padaku.”

“Termasuk jika aku memberimu racun?”

Yesung mengangguk yakin. “Tapi…kau tidak mungkin memberiku racun kan?” tanyanya dengan senyum di bibirnya.

“Kau terlalu percaya diri Tuan Kim. Bisa saja aku tiba-tiba memberikan racun dalam minumanmu kan?”

“Coba saja kalau kau bisa Nona Han.” Balas Yesung sambil menunjukan senyumnya lagi.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia kalah dengan namja itu. Tentu saja. Dia tidak akan bisa mencelakai namjanya itu meskipun diiming-imingi hadiah keliling dunia sekalipun. Tidak kalau itu berarti dia tidak akan bisa melihat namja itu lagi.

***

“Kau pasti menggunakan penerbangan paling pertama dari Tokyo kan?” tanya Ri Ra sambil memberikan secangkir teh pada Yesung.

“Hhhmm.” Jawab Yesung singkat. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu denganmu.” Tambah Yesung.

“Cih kau gombal.” Ejek Ri Ra sambil terkekeh geli.

“Aku serius. Kau tahu aku tidak punya kesabaran sebanyak itu sampai harus pulang ke Korea bersama dengan member lainnya. Makanya aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari member lainnya. Dan kau harus membayarnya karena meminta izin kepada Leeteuk hyung itu tidak mudah. Belum lagi si maknae setan itu yang mengompori Leeteuk hyung agar tidak mengizinkanku.” Ungkap Yesung yang dibalas dengan kekehan geli dari gadisnya.

“Siapa suruh kau pulang lebih awal.” Ujar Ri Ra yang nyaris tak bisa menahan tawanya.

Yesung yang tak tahan melihat kelakuan gadisnya itu, meletakkan cangkir teh yang dipegangnya ke atas meja dan menarik Ri Ra ke dalam pelukannya. Ri Ra sempat tersentak dengan perlakuan Yesung yang tiba-tiba. Cangkir teh yang dipegangnya pun nyaris jatuh kalau ia tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya dengan baik. Yesung mengambil cangkir teh yang dipegang Ri Ra dan meletakannya di atas meja.

“Sudah aku bilang kan kau harus membayar usahaku?” tanya Yesung pelan.

“Jadi kau bermaksud mengekangku seharian dalam pelukanmu seperti ini?”

“Tidak. Yang aku inginkan adalah bersama denganmu seharian. Tapi kalau kau memang ingin dipeluk seperti ini terus, aku tidak keberatan.”

Ri Ra merasa pipinya memanas. Tak perlu kaca untuk mengetahui bagaimana keadaan wajahnya sekarang. Pasti wajahnya seperti kepiting rebus. Belum lagi degupan jantungnya yang berkerja di luar batas normal. Namja itu selalu saja membuatnya seperti itu.

“Yak kau mau main truth or dare tidak?” tawar Yesung kemudian.

“Mana seru jika hanya berdua bodoh!” tolak Ri Ra.

“Ah iya kau benar juga. Aku tahu! Karena kita hanya berdua bagaimana jika kita hanya memainkan ‘truth’nya saja? Maksudku kita saling jujur.”

Ri Ra tampak mengerutkan keningnya untuk berpikir. Tidak ada salahnya untuk bermain, batinnya.

“Baiklah.” Ucap Ri Ra pada akhirnya sambil bangkit dan duduk pada posisinya awal.

“Tapi sebuah permainan pasti ada peraturannya kan? Begini saja, kita boleh menanyakan pertanyaan apapun. Dan kau ataupun aku harus menjawabnya, sekalipun pertanyaan itu sudah sering ditanyakan.”

“Kalau aku tidak mau menjawabnya bagaimana?”

“Tentu saja akan ada hukumannya.” Jawab Yesung sambil tersenyum jahil.

“Aku rasa ini bukan hal yang baik.” Balas Ri Ra curiga.

“Tenang saja. Hukuman yang mudah. Kalau kau tidak menjawab pertanyaanku, itu berarti aku harus menciummu. Begitu juga sebaliknya, kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu, kau harus menciumku. Mudah kan?”

“Yak! Peraturan macam apa itu hah?!”

“Kalau tidak ada peraturan seperti itu bisa saja, kau tidak akan menjawab pertanyaanku kan? Lagipula permainan tanpa ada peraturan di mana letak keseruannya?”

Lagi-lagi Ri Ra mengerucutkan bibirnya kesal.

“Baiklah.” Jawab Ri Ra akhirnya menyetujui ide Yesung.  “Kau yang bertanya duluan padaku.” Pinta Ri Ra.

Kening Yesung tampak berkerut sesaat. Memikirkan apa pertanyaan yang akan ditanyakan pada gadisnya. Tak lama kemudian, Yesung membuka mulutnya dan mengucap pertanyaan pertama.

“Nona Han, sekarang katakan padaku, jika aku sedang tak berada disisimu, misalnya saat aku harus pergi ke luar negeri selama berhari-hari, apa kau merasa bosan dan berpikir untuk meninggalkanku?” tanya Yesung dengan raut wajah serius.

Ri Ra terlihat berpikir sejenak. Terlintas ide jahil untuk menggoda Yesung di otaknya.

“Kau ingin tahu jawabanku?”  Yesung mengangguk yakin. “Hmm aku ingin tahu apa jawabanmu.”

“Kau yakin benar-benar ingin tahu?” Ri Ra sengaja mengulangi pertanyaannya untuk menggoda Yesung. Ri Ra selalu selalu senang melihat ekspresi namjanya yang cemberut karena kesal dengan perbuatannya.

“Nona Han aku peringatkan kau untuk tidak bermain-main denganku. Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku menciummu.”

“YAK! Sejak kapan kau jadi mesum hah?! Apa sekarang kau sering bergaul dengan Eunhyuk oppa?!”

“Memangnya aku semesum itu? Sudah jawab saja pertanyaanku.”

“Baiklah jika kau benar-benar ingin tahu jawabanku.  Kau bertanya apakah aku merasa bosan jika kau tidak berada disisiku, maka jawabanku adalah iya. Kau tahu aku selalu diserang rasa bosan yang parah saat kau tak ada. Saking parahnya, aku nyaris tak bisa melakukan segala sesuatu dengan benar. Maksudku, semua yang kukerjakan terasa salah. Tapi menurutku, itu wajar kan? Di saat orang yang selalu ada menemanimu mengobrol setiap waktu, tapi ketika orang itu pergi, kau pasti merasa kebosanan setengah mati. Tapi berpikir untuk meninggalkanmu, aku rasa mempunyai niat untuk melakukan hal itu saja tidak. Memikirkan kenyataan bahwa aku harus hidup tanpamu itu sangat mengerikan kau tahu? Makanya kalau kau berpikir aku akan meninggalkanmu itu salah besar, Tuan Kim. Kecuali jika kau yang berpikir akan meninggalkanku.” Jawab Ri Ra panjang lebar. Ri Ra tidak menyangka bahwa ia bisa menyampaikan perasaannya dengan begitu jelas, padahal sebelumnya ia tidak pernah bisa melakukan hal itu.

Yesung pun tak berkedip mendengarkan jawaban Ri Ra. Ia pun juga tidak menyangkan bahwa gadisnya itu akan mengatakan perasaannya secara jelas, mengingat selama ini Yesunglah yang selalu mengutarakan perasaannya secara terang-terangan pada gadis itu.

“Sudah puas belum dengan jawabanku?” tanya Ri Ra yang menyadarkan Yesung dari keterkesimaannya.

“Puas. Sangat puas malah. Aku sebenarnya tak menyangka kau akan mengatakan hal itu…tapi aku suka dengan jawabanmu. Dan Nona Han, aku tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Memikirkannya saja sudah membuatku mual. Jadi jangan harap kau bisa lepas dariku.” Jawab Yesung yang menciptakan senyum di wajah mungil Ri Ra.

“Sekarang giliranku bertanya kan?” Ri Ra tampak antusias tapi kemudian air wajahnya berubah menjadi muram.

“Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Yesung menyadari perubahan pada raut wajah Ri Ra.

“Kenapa kau lebih memilih bersamaku padahal kau bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dariku? Yang lebih baik dariku?  Di luar sana, ah ani maksudku, kau sering bertemu dengan yeoja-yeoja sesama artis yang lebih pintar dan lebih cantik dariku tentunya. Tapi kenapa kau lebih memilih gadis biasa dan bodoh sepertiku?”

Yesung mendengus kesal mendengar pertanyaan Ri Ra. Sudah berapa kali gadis itu bertanya hal yang sama padanya. Dan berkali-kali itu pula Yesung menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi kenapa gadis itu tidak pernah mengerti? Kenapa gadis itu selalu merasa ia tidak pantas untuk bersanding dengannya?

“Kapan kau akan bosan menanyakan pertanyaan seperti itu padaku?” tanya Yesung datar. Ia paling tidak suka kalau Ri Ra bertanya seperti itu. Ini masih lebih baik dari kemarin-kemarin. Beruntung kali ini ia tidak menyebut-nyebut nama yeoja yang dikabarkan dekat dengan Yesung. Karena kalau hal itu terjadi, mereka pasti akan berakhir dengan pertengkaran.

“Kau lupa aku boleh bertanya apapun? Termasuk yang sudah sering ditanyakan sekalipun?” tanya Ri Ra retoris.

“Aku tidak lupa. Hanya bingung denganmu. Aku rasa aku sudah menjawab pertanyaanmu itu berulang kali dengan jawaban yang sama, tapi kenapa kau tidak pernah bosan bertanya lagi padaku?”

“Jawab saja pertanyaanku.” Tukas Ri Ra tajam.

“Jadi kali ini jawaban seperti apa yang kau inginkan? Setidaknya yang bisa membuatmu berhenti bertanya padaku tentang hal ini.”

“Aku kan yang bertanya padamu, kenapa malah membalikannya padaku?”

Yesung mengacak rambutnya gusar. Sebenarnya ia tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Ri Ra. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan akhirnya membuka suaranya, “Kalau aku bilang aku memilihmu karena yang aku cintai adalah kau, apa kau puas dengan jawabanku?”

“Ah tidak kau pasti tidak puas dengan jawabanku.” Sekali lagi Yesung menarik nafasnya perlahan dan mulai meluncurkan kata demi kata untuk menjawab pertanyaan Ri Ra. “Kau benar jika di luar sana banyak gadis yang lebih pintar darimu, lebih cantik darimu, dan bahkan lebih dari segalanya darimu. Tapi menurutmu, apa gadis-gadis itu akan sukarela mengantarkan makan siang saat aku tak punya waktu bahkan untuk menyentuh makanan? Apa gadis-gadis itu akan dengan sukarela mendengarkan ocehanku yang kadang tidak bisa dihentikan ini? Dan yang paling penting, gadis-gadis itu tidak akan mampu mencintaiku seperti kau mencintaiku. Mereka memang mempunyai banyak kelebihan daripada dirimu, tapi satu hal yang bisa kau lakukan tapi mereka tak bisa lakukan. Kau bisa membuatku ingin terus bertemu denganmu, ingin terus bersamamu. Sedangkan mereka? Yang aku pikirkan saat sedang bersama mereka hanyalah cara untuk segera melarikan diri.”

Yesung menelan ludahnya dan kemudian melanjutkan ucapannya, “Jika kau masih belum puas dengan jawabanku, aku tak tahu harus mencari jawaban seperti apa lagi yang akan membuatmu puas. Dan kau harus ingat, aku bukan Donghae yang bisa meluluhkan hati wanita dengan kata-kata manisnya. Aku ini Kim Jong Woon yang akan berterus terang dengan segala yang aku rasakan dan cendrung blak-blakan. Jadi terserah kau akan menyukainya atau tidak. Karena selamanya aku akan selalu menjadi Kim Jong Woon yang seperti itu. Dan aku minta maaf padamu karena harus mempunyai namja seperti diriku, Nona Han.” Yesung mengakhiri ucapannya sambil tersenyum menatap Ri Ra.

“Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bicara.” Desis Ri Ra tanpa bisa menahan senyumnya.

Jawaban dari Yesung kali ini, sudah sangat membuatnya puas.

“Memiliki namja sepertimu aku rasa bukan hal yang buruk.” Ucap Ri Ra dengan senyum terkulum.

“Nah sekarang giliranku bertanya! Ng….Ri Ra ya, aku ingin bertanya…sebesar apa rasa cintamu padaku?”  tanya Yesung sedikit malu.

“Kalau bertanya seperti itu saja kenapa harus malu? Hahaha kau ini lucu sekali!” “Baiklah kalau kau bertanya sebesar apa cintaku padamu…nggg mungkin ini akan terdengar menjijikan dan kau Kim Jong Woon awas kalau kau sampai mentertawakanku!” Ancam Ri Ra pada Yesung.

“Aniya aku tidak akan mentertawakanmu. Memangnya kau sedang melawak? Kecuali kalau memang kau sedang melawak, baru aku akan mentertawakanmu habis-habisan.”

“Sebenarnya aku sendiri juga bingung harus merefleksikan sebesar apa rasa cintaku ini padamu. Kalau aku katakan sebesar samudera, itu terlalu biasa, lagipula kau tahu? Samudera itu bisa saja mengecil sewaktu-waktu kan? Jadi aku rasa itu tidak tepat, karena cintaku padamu itu tidak akan mengecil ataupun berkurang. Lalu kalau aku katakan sebesar alam semesta ini, aku rasa itu juga tidak tepat, sebesar-sebesarnya alam semesta itu pasti ada batasnya juga kan? Walaupun tidak ada ilmuwan mana pun yang tahu batas alam semesta itu. Nah, jadi maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu seseuatu yang tepat untuk merefleksikan sebesar apa rasa cintaku padamu. Kau tahu maksudku kan? Cintaku padamu itu begitu besar. Kecuali jika suatu saat nanti aku sudah menemukan seseuatu yang tepat, pasti aku akan memberitahukannya padamu.” Ri Ra mengakhiri ucapannya sambil tersenyum puas. Setidaknya hari ini dia sudah 2 kali membuat namjanya itu terkesima.

“Sebesar itukah kau mencintaiku?” tanya Yesung yang sukses membuat mulut Ri Ra menganga lebar. Tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu.

Ri Ra tampak salah tingkah sekaligus malu. Memang sebesar itu dia mencintai Yesung, tapi bisa kan dia tidak usah memperjelasnya?

“Tidak usah di jawab lagi, aku sudah tahu jawabanmu, hahaha. Nah sekarang giliran kau untuk bertanya.”

“Aku ingin bertanya pertanyaan yang sama denganmu. Seberapa besar kau mencintaiku?”

“Seberapa besar aku mencintaimu?” tanya Yesung mengulangi pertanyaan Ri Ra. “Kau yakin ingin mendengarnya? Kau yakin tidak akan lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutmu karena bisa saja jawabanku ini terlalu menjijikan.”

“Ya! Aku tidak setega itu! Aku tidak akan lari ke kamar mandi, paling-paling aku akan menutup rapat mulutku agar tawaku tidak pecah saat mendengar jawabanmu.”

“Itu sama saja! Terserahlah apa responmu nanti, aku tidak peduli. Kau tahu sebesar apa aku mencintaimu? Sebesar kau mencintaiku, bahkan lebih. Dan kau bahkan tidak akan bisa menebak seberapa besarnya cintaku padamu. Ngg…Donghae selalu bilang pada gadisnya, bahwa gadis itu adalah segalanya bagi Donghae. Tapi aku rasa, kau lebih dari segalanya.”

“Kau berlebihan oppa. Tidak. Aku bukan segalanya untukmu.” Tukas Ri Ra cepat.

“Kau mungkin memang bukan segalanya, tapi kau memberiku segala yang aku butuhkan.” Balas Yesung tenang.

“Memangnya apa yang sudah aku berikan padamu? Setahuku aku tak pernah memberikan apa-apa padamu. Malah kau lah yang memberi banyak padaku.”

“Saat aku berada dalam posisi terendah, pada titik jenuh maksudku, kau selalu bisa menyemangatiku dengan senyummu itu. Suaramu itu merupakan ketenangan tersendiri bagiku saat aku mendengarnya. Dan kasih sayangmu itu, yang paling utama. Aku hanya butuh kau untuk tetap hidup dengan benar. Jadi aku tak keberatan jika harus kehilangan uangku, atau pekerjaanku sekalipun, asalkan kau tetap bersamaku, aku rasa itu bukan masalah.”

“Oppa…….aku rasa kau terlalu banyak bergaul dengan Donghae oppa. Sejak kapan kau menjadi romantis seperti ini? Ah jangan-jangan kata-kata itu kau menyalinnya dari Donghae oppa? Benarkan?”

“Kau ini tidak bisa diajak romantis sedikit sih! Kau tahu, aku memikirkan kata-kata itu semalaman sampai-sampai aku tidak bisa tidur dengan benar! Tapi kau malah menuduhku menyalinnya dari Donghae. Kau jahat Ri Ra-ya~”

“Dan sejak kapan kau menjadi manja seperti ini? Astaga! Jadi selain harus mempunyai namja cerewet sepertimu…aku juga harus memiliki namja yang manja? Ya Tuhan apa dosaku sebesar itu?”

“Jadi kau tidak suka? Aku kan sudah bilang tadi, terserah kau mau menyukai sikapku ini atau tidak, kau tetap tidak akan bisa lepas dariku.”

“Memangnya siapa yang mau pergi darimu bodoh! Gunakan otakmu dulu sebelum bicara.” Ujar Ri Ra diplomatis. “Nah kita sudah selesai kan? Aku ingin membuat makanan dulu, aku yakin kau pasti tidak sempat makan kan?” sambung Ri Ra sambil hendak beranjak dari posisinya.

Tapi dengan cepat Yesung menarik tangan gadis itu hingga ia terduduk lagi.

“Ada apa lagi?” tanya Ri Ra tak sabar.

“Aku belum menanyakan pertanyaan terakhirku padamu.” Jawab Yesung pelan. Entah hanya perasaan Ri Ra atau memang Yesung yang menariknya mendekat. Membuat gadis itu nyaris kehilangan kendalinya. Membuatnya nyaris tidak bisa mengontrol degup jantungnya yang sudah meronta-ronta daritadi.

“A..ap..apa?” tanya gadis itu gugup.

“Apa yang ingin kau katakan padaku saat ini?” tanya Yesung tepat di depan wajah gadis itu.

Ri Ra tidak mengerti apa maksud Yesung bertanya seperti itu. Apa Yesung dendam karena tadi Ri Ra tidak mengatakan langsung pada Yesung kalau ia merindukannya? Kalau ditilik dari sifat namja ini, bukan tidak mungkin hal itu menjadi alasanya.

“Kau punya waktu 5 detik untuk menjawabnya Nona Han.” Ucap Yesung lagi.

Ri Ra bisa merasakan hembusan nafas namja itu. Terlalu dekat sampai ia tidak bisa berpikir jernih. “5 detik katanya? Bahkan waktu itu tidak cukup untuk merangkai kata-kata dengan otak bodohku ini!” umpat Ri Ra dalam hati.

“Satu…..dua…..ti…ga…” Yesung memulai hitungannya sampai detik ketiga. Sementara Ri Ra belum menemukan hal apa yang ingin dikatakannya pada Yesung.

“Waktumu hampir habis Nona…” Yesung memberi peringatan pada Ri Ra dan semakin meminimalkan jarak di antara mereka.

“Aku…..” Baru saja Ri Ra mengucapkan kata pertama ketika dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

“Waktumu habis Nona Han.” Dan sedetik kemudian Yesung kembali melumat bibir gadisnya pelan. Tidak ada tuntutan ataupun paksaan dari ciuman itu. Ri Ra menutup matanya karena tidak sanggup menatap Yesung dalam keadaan mereka seperti ini. Tak lama Yesung melepaskan ciumannya. Dan menatap Ri Ra intens.

“Saranghae.” Ucapnya kemudian.

Satu kata tapi sukses membuat degupan jantung Ri Ra yang belum bekerja normal itupun harus bekerja lebih keras lagi.

“Aku tahu.” Jawab gadis itu pelan dan bangkit dari posisinya sambil tetap menunduk. Dia bergegas ke dapur, melaksanakan niatnya yang sempat tertunda tadi.

“Ri Ra-ya~ bagaimana rasanya dicium oleh Yesung Super Junior hah?” tanya Yesung jahil.

“Biasa saja.” Jawab Ri Ra singkat sambil terus berusaha menutupi wajahnya yang memerah.

“Ah berarti tadi aku kurang lama menciummu. Baiklah aku akan melakukannya lagi. Lebih lama tentunya.”

“YAK! Awas kalau kau berani melakukannya!” teriak Ri Ra geram bercampur malu.

“Wae? Padahal tadi kau terlihat sangat menikmati ciumanku.” Balas Yesung makin menjadi-jadi.

“KIM JONGWOON KAU MATI HAH?!?!” teriak Ri Ra yang kali ini benar-benar tidak bisa menahan perasaannya.

“Aniyo aku tidak mau mati muda. Kasihan dengan ELF nanti, pasti mereka akan menangis karena kehilangan pangeran mereka, dan belum lagi pasti mereka akan mengejarmu, kau tidak takut? Dan pasti kau akan sangat kehilanganku…jadi tidak mung…”

“Kim Jongwoon kau diam atau penggorengan ini akan benar-benar melayang ke arahmu?!” potong Ri Ra cepat sebelum Yesung bicara yang semakin aneh.

“Baiklah aku diam.” Kata Yesung akhirnya. Ri Ra bernafas lega karena akhirnya dia berhasil membuat namja itu diam.

“Ri Ra-ya~”

“Apalagi sekarang?” tanya Ri Ra acuh.

“Saranghae.” Kata Yesung pelan untuk kedua kalinya.

Ri Ra menarik nafasnya dan menhembuskannya kembali, mencoba menemukan kesadarannya kembali.

“Nado saranghae oppa.” Jawab Ri Ra pelan. Nyaris tidak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Ri Ra yakin tanpa perlu diucapakannya pun Yesung sudah mengetahui perasaannya.

 

THE END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s