Me, You and Us [ Part 5 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

Eunhyuk POV

Sungguh, demi tuhan. Demi apapun. Apa yang baru kukatakan tadi. Aku sudah gila. Ya memang, aku sudah tidak waras. Bagaimana bisa aku mengatakan 3 kata gila itu. Astaga Lee Hyukjae, apa angin malam ini benar-benar membuat otakku sedikit gila, hah?

“ Ne!? ” pekiknya sekali lagi.

“ Aniya! Yak! Aku hanya bercanda, kau tahu? Wajahmu itu sangat memalukakan jika seperti itu. Aish, ternyata aku pembuat lelucon yang hebat. ”

Bodoh. Seharusnya aku cari alasan yang lebih keren. Arghhh, Jooyoung pasti akan mencekik habis-habisan. Ah ani, mungkin lebih dari itu.

“ Mwoya??! Ini tidak lucu sama sekali! ” teriaknya.

“ Ini kan hanya bercanda. Ayolah, Jooyoung kau tidak punya selera humoris sama sekali. ” selaku lagi.

“ Lalu kau mau apa jika aku punya selera humoris yang tinggi? Membuat lelucon yang lebih keren, begitu? ”

“ Sayang sekali. Aku tidak suka cara bercandamu, Hyukjae-ssi. ” tukasnya tajam.

Hey, seharusnya aku tahu. Seharusnya, aku tidak mengatakan jika ini bercandaan. Lihat saja raut wajahnya itu, menyeramkan. Perkataannya barusan, dia memanggilku dengan sebutan ‘ssi’. Aku belum pernah mendengarnya memanggilku dengan nama begitu. Apa dia sedang menunjukan padaku, bahwa dia benar-benar tidak suka dengan sikapku. Dia marah padaku?

“ Yak, kau mau kemana!? ” tanyaku. Dia beranjak pergi, mendorong bangku yang sedang ia duduk-ki dengan kasar. Dia diam, tidak bergeming. Tidak menjawab pertanyaanku. Melihat ke arahku saja, sepertinya tidak akan dia lakukan saat ini.

“ Yak! Kang Jooyoung! ” teriakku lagi. Aku mencekal lengannya, membuatnya berhenti melangkah. Hah, aku tidak menyangka akan jadi begini.

“ Aku mau pulang. Lepaskan! ”  perintahnya. Dia menepis lenganku dengan kasar.

“ Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu. ”

“ Shireo! Aku yang mau pulang, kenapa jadi kau juga yang ikut pulang?!! ” tolaknya mantap.

“ Cepat masuk! ”

Aku kembali pada meja tempat kami makan tadi. Meninggalkan uang untuk membayar jajangmyeon tadi. Ahjumma itu, seharusnya tahu keadaan aku dan Jooyoung sekarang. Karena, kami membuat sedikit keributan disini.

“ Aku tidak peduli kalau kau tidak suka mendengar penolakan dari seseorang. Aku tetap ingin pulang sekarang. Sendiri! Tidak denganmu! ”

“ Jangan bersikap seperti anak kecil, Jooyoung! ” nada bicaraku sedikit tinggi. Aku sudah agak kehabisan kesabaran.

“ Jangan seperti anak kecil kau bilang? Yak! Apa kau juga tidak sadar, hah!? Sikapmu ini jauh lebih seperti anak kecil! ” teriaknya.

“ Kau pikir untuk apa aku rela menunggu untuk mengantarmu pulang? Kau pikir untuk apa aku memperdulikanmu untuk memakai penghangat tubuh di cuaca seperti ini!? Memperdulikanmu jika tidak makan akan sakit? Untuk apa!? ” nada bicaraku sudah benar-benar meninggi sekarang.

Emosiku, benar-benar meluap hanya karena seseorang yang baru kukenal ini. Yang berhasil menarik perhatianku hanya karena melihatnya. Dan dengan bodohnya aku membuat lelucon konyol seperti itu. Membuatnya merasa.. mungkin sedikit dipermainkan. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti banyak soal perasaan wanita. Terutama, gadis didepanku ini.

“ Mungkin ini termasuk dari lelucon-mu itu. Aku tidak tahu pasti. Kau seorang pelucon yang hebat, bukan? ”

***

Chunwa High School

07.15 AM

 

Author POV

“ Masalahmu bagaimana? Sudah selesai? ” tanya Chae Yeon antusias. Ya, sahabatnya itu pikir Jooyoung kemarin benar-benar membicarakan masalahnya dengan Hyukjae. Dia pikir Jooyoung memang benar-benar tidak tahan dengan tuduhan yang menimpanya itu. Tidak tahan dengan sindiran yang menghujamnya terus.

“ Aku tidak tahu. Tolong, jangan bicarakan itu dulu. Aku pusing ” jawab Jooyoung malas. Tentu saja, membicarakan masalah itu. Sama saja, mengingatkannya tentang pertengkarannya dengan Hyukjae samalam. Hanya karena hal sekecil itu. Tidak pikir Jooyoung, tidak sekecil orang-orang pikirkan. Lelucon Hyukjae menyangkut perasaan, apa maksudnya itu.

“ Ada apa lagi? Ayo ceritakan padaku. ” bujuk sahabatnya. Chae Yeon sudah tahu jelas bagaimana raut wajahnya sahabatnya jika ada masalah yang menjanggal padanya.

“ Bukan apa-apa. Sudahlah, aku memang pusing karena kurang tidur. ” dusta Jooyoung.

“ Aku akan tetap memintamu ceritakan masalah yang ini sewaktu-waktu. ”

“ Chae Yeon, ayolah! Aku tidak apa-apa, masalahku hanya itu saja tidak ada yang lain. ”

“ Kalau tidak ada masalah lain, raut wajahmu tidak akan seperti itu. ”

***

Jooyoung POV

Aku merasakan benda yang berada pada saku jasku bergetar. Ponselku. Menandakan ada pesan masuk. Aku meronggoh saku jasku malas. Mengeluarkan ponsel dan melihat layar pada ponselku. Sungguh, rasanya aku ingin membanting ponsel sekarang ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselku. Hyukjae. Aku men-touch tanda ‘open’ dan langsung membaca pesan yang ia kirimkan.

Kita harus bicara dengan Choi Seoseongnim sekarang.

Hey, setelah kejadian semalam. Ternyata dia masih berani mengirimku pesan? Hebat. Kukira, dia pengecut. Aku mengambaikan pesan itu. Apa yang perlu dibicarakan dengan seoseongnim? Tentang pelaku kertas busuk itu? Kukira tidak perlu, 2 orang telah mengatakan hal yang sama tentang tidak mungkin seoseongnim yang melakukannya. Yah, memang 2 dari sekian banyaknya siswa di sekolah ini memang tidak bisa memastikan keputusan yang benar. Tapi setidaknya, untukku bisa. Berapa banyak orang yang berteman denganku? Kurasa semuanya, bisa dihitung oleh jari.

Aku mengitari padanganku ke sekitar kelas. Lagi-lagi, aku sendirian di kelas. Semua siswa pasti berhamburan keluar saat jam istirahat. Termasuk Chae Yeon, akhir-akhir ini dia senang pergi ke luar kelas. Aku tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi yang jelas dia tidak mungkin bergerombol dan membicarakan gossip yang masih ‘hangat’ di sekolah ini.

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan masuk, tapi panggilan masuk. Aku melihat malas pada layar ponselku. Lagi. Si ‘pelucon hebat’ itu yang meneleponku. Aku membanting ponselku asal ke mejaku. Mengabaikan getaran yang sejak tadi terus terjadi pada ponselku. Biarkan saja, aku anggap masalah ini sudah selesai. Masa bodoh, tentang pendapat orang-orang terhadapku. Aku sudah tidak peduli. Masalah ini selesai, aku tidak perlu melihat wajah pria menyebalkan itu lagi di hadapanku.

“ Arghhh, bodoh! Apa kau tidak bisa berhenti menelepon-ku? ” teriakku frustasi. Karena sejak tadi ponselku masih saja bergetar.

“ Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kau menjawab telepone-ku. ”

Aku merasakan suara khas yang bergema di telingaku. Aku menoleh. Tebak siapa? Tuan Lee Hyukjae si ‘Pembuat Lelucon’ itu. Aku segera memalingkan wajahku. Tidak, tidak melihat wajahnya. Tidak melihat wajahnya yang memuakkan itu.

“ Apa yang kau lakukan disini? Ini kelasku! Kau keluar sekarang! ”

“ Yak! Bisakah kau lupakan masalah yang semalam? Jangan pikirkan dirimu sendiri, ini masalah kita! Aku mau masalah ini segera selesai. Tolong jangan egois, Jooyoung. ”

Lupakan masalah semalam? Apa dia bilang? Lupakan? Sialan! Apa dia tidak mengerti bagaimana rasanya? Apa dia tidak berpikir, aku sedikit merasa dipermainkan jika seperti itu. Apa dia tidak berpikir tentang hal itu?

“ Lalu? Apa yang harus kulakukan? ”

“ Jinjja. Neo Mitcheosseyo?! Kau jangan berpura-pura bodoh! Kau jangan berpikir masalah ini sudah selesai. Jangan berpikir masalah ini hanya ada kau saja didalamnya ” bentaknya.

“ Geraeyo? Aku memang menganggap masalah ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Choi Seoseongnim, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya. Siswa sekolah ini, jika hal-hal yang sedang dibicarakannya itu tidak nampak lagi, mungkin hal itu akan dengan sendirinya menghilang. ”

“ Jadi, kalau kau masih menganggap masalah itu belum selesai. Kau bisa selesaikan itu sendiri, tidak usah melibatkanku. ”

Ada nada sedikit menantang saat aku berbicara tadi. Biar saja, aku sudah tidak tahan melihat tampangnya yang seolah-olah tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun.

“ Wae!? Kau marah padaku, kau dendam padaku karena masalah kemarin!? Sifatmu itu seperti anak kecil, kau tahu? Kau marah hanya karena lelucon kecil itu. Kau pikir aku akan terus memintamu untuk tetap terlibat dalam masalal ini? Kau pikir, aku akan tetap mengemis padamu untuk membicarakan masalah ini pada seoseongnim. ”

“ Silahkan saja kau berpikir begitu. Aku setuju denganmu, masalah ini sudah ku anggap selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Biarkan saja masalahnya berlalu, pasti akan hilang dengan sendirinya. Masalah ini selesai, dan kita tidak akan ada urusan lagi satu sama lain. Tidak akan bertemu lagi. Masalah acara akhir tahun nanti, aku akan membujuk panitia untuk men-tiadakan nama kita. Kau tidak perlu repot-repot untuk menuruti keinginanku yang meminta untuk berlatih. ”

“ Kau sudah cukup puas, itu keinginanmu saat ini kan? ”

***

Chae Yeon POV

Astaga, dasar anak itu. Sepertinya moodnya benar-benar sedang buruk hari ini. Lihat, ke kantin saja tidak mau. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dikelas. Menghindar dari tatapan sindirian dari siswa-siswa sekolah ini? Sepertinya tidak. Karena apa? Tch, dia sama sekali tidak mau menceritakannya padaku. Aku tahu ada masalah baru yang menghadapnya, entah apa itu. Aku terpaksa menghabiskan makananku sendirian. Tapi tiba-tiba, pikiranku melayang pada seseorang. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah sembuh? Dia masuk sekolah? Jika dia masuk sekolah, apa ada yang peduli dengannya jika dia masih sakit? Ada yang mengurusi pola makannya saat disekolah? Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan konyol itu melintas dipikiranku. Lee Chae Yeon, kau benar sudah gila.

Aku melanjutkan makanku yang juga hendak untuk segera pergi ke kelas. Bagaimanapun, aku tidak suka sendirian. Ya, walaupun di tengah keramaian. Aku berjalan menyusuri koridor dan dari kejauhan aku melihat ada seorang laki-laki yang baru keluar dari kelasku. Aku menyipitkan mataku. Bukankah itu, Hyukjae? Tanyaku dalam hati. Apa urusannya dia masuk ke kelasku? Ah, Jooyoung. Bocah satu itu, pasti membuat masalah lagi dengan Hyukjae. Lihat saja, wajahnya saat keluar kelas tadi. Mengerikan.

“ Yak! Sebenarnya apa masalahmu dengan Hyukjae, hah? ” tanyaku ketika aku sudah berada di kelas.

“ Masalahku? Masalah tentang kertas busuk itu? Aku dan Hyukjae sudah memutuskan untuk mengabaikannya. Pasti nanti akan hilang dengan sendirinya. ” jawabnya datar

“ Bukan kau yang memutuskan? ”

“ Tentu saja bukan! Tadi dia baru saja keluar, kami baru membicarakannya. ”

“ Dengan kau memarah-marahinya? Kau membicarakan masalah ini dengan emosi? ”

“ Ne? ”

“ Tch, ada suatu masalah yang hanya kalian saja yang tahu. Dan itu, membuat kalian memutuskan untuk mengambaikan masalah ini. Ah, sepertinya bukan kalian yang memutuskan. Tapi kau memaksanya untuk juga mengabaikan masalah ini. ”

“ Kau pikir siswa disini akan dengan santainya mengabaikan suatu masalah? Yak! Ini masalahmu dengan Hyukjae! Seharusnya kau berpikiran jernih untuk menyelesaikannya. Bukan dengan seperti ini. Kau harus berpikir, Jooyoung. Masalahmu sekarang bukan main-main. Seisi sekolah pun sudah tahu semua. ”

“ Aku tahu. Sudah kubilang, caraku dan Hyukjae adalah dengan mengabaikannya. ”

“ Marhaebwa! Katakan apa yang terjadi dengan kau dan Hyukjae. ”

“ Aish, tidak apa-apa. ”

“ Mungkin aku akan percaya dengan kata-katamu. Kalau saja, aku tidak melihat tampang mengerikan Hyukjae saat keluar dari kelas. ”

“ Mwo? ”

“ Jangan bertele. Sudahlah, aku tahu kalian bertengkar tadi. ”

“ Bertengkar? Hey, kata itu seperti menggambarkan aku sudah kenal lama dengannya. ”

“ Terserah apa katamu, dasar keras kepala. Ayo cepat ceritakan. ”

Dia menarik nafas pasrah, setelah itu dia mulai menceritakannya padaku. Aku benar-benar mendengarkannya. Meneliti apa masalahnya sampai dia bisa seperti itu dengan Hyukjae. Dan, betapa terkejutnya aku saat mendengar penjelasan panjang lebar yang dikeluarkan dari mulutnya itu.

“ Mitcheoseo? ” teriakku.

“ Jangan berkomentar. ”

“ Kau gila, hah? Tingkahmu itu benar-benar seperti anak kecil. Yak, usiamu berapa? Jangan bersikap seperti anak kecil bodoh yang sedikit saja bergurau langsung seperti itu. ”

“ Perkataanmu sama persis dengannya. ”

“ Ya, memang. Mungkin pikiranku dengannya memang sama persis. Aku tahu guraun itu memang sedikit keterlaluan. Tapi kau juga jangan bersikap egois. Kau juga harus memikirnya, kau pikirkan bagaimana dia mendapat sindiran dari setiap siswa disini! ”

“ Itu juga terjadi padaku. ”

“ Kau tidak peduli. Tapi Hyukjae peduli. ”

“ Aku tahu. Aku sudah menawarkannya untuk menyelesaikan masalahnya. ”

“ Sendirian begitu?  Tidak denganmu? Kau gila. Masalah ini melibatkan kau dengannya. Hanya kalian saja yang bisa memperbaiki keadaan. Hanya kau dengan Hyukjae yang bisa membuat masalah ini akan hilang. Apa kau tidak berpikir? Aku tahu seberapa kesal kau dengan Hyukjae, aku tahu. Aku bisa merasakannya. Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu. ”

***

Club

20.12 PM

 

Jooyoung POV

Aku sedikit tidak bisa berkonsentrasi bekerja saat ini. “Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu.”

Kata-kata itu tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku egois? Sikapku seperti anak kecil? Apakah aku seburuk itu? Aku terus memikirkan kata-kata yang dilontarkan Chae Yeon terhadapku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan ucapannya. Kalimat itu juga tidak lepas dari bayang-bayang wajah Hyukjae yang terus hinggap di pikiranku. Wajahnya saat marah padaku siang tadi. Hentakkan kaki yang menunjukan bahwa dia sedang emosi saat keluar kelas tadi.  Sungguh, aku perlu mengisirahatkan otakku seceptanya.

Aku kembali berusaha memfokuskan pikiranku untuk bekerja saat ini. Aku mengambil sebotol wine yang ada pada rak minuman untuk menuangkan pada gelas pengunjung di hadapanku ini. Pikirkaranku lelah, juga mengakibatkan tanganku ini tidak punya tenaga sama sekali. PRANG!!!!!

Suara pecahan botol wine ini terdengar sangat jelas. Tapi juga tidak mampu untuk mengalahkan suara kencang musik disko yang diputar di Club ini. Aku langsung tersentak. Tanganmu otomastis langsung terulur untuk segera memunguti pecahan beling itu.

“ Aahhhh! ” aku sedikit berteriak kesakitan karena telunjuk jari kananku tergores beling.

“ Ya, gwechana? ” seorang temanku disini yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“ Ne. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, sebentar juga sembuh. ” kataku.

“ Lukamu kecil tapi kalau dalam seperti itu bagaiman bisa cepat sembuh? ”

“ Aku baik-baik saja, sungguh. Aku akan bereskan semua ini. ”

“ Tch, sudahlah! Biar aku saja, kau obati lukamu saja dulu. Kalau dibiarkan itu bisa infeksi. ”

“ Gomawo ”

 

Aku beranjak pergi dari tempat itu. Menuju toilet untuk mencuci lukaku. Aku menyalakan kerannya dan mulai mencuci lukaku. Aku memejamkan mataku sejenak. Ada apa denganmu, Kang Jooyoung. Kenapa bisa hanya dengan kata-kata seperti itu saja, pikiranku jadi kemana-mana. Tidak konsentrasi saat bekerja, memecahkan sebotol wine, dan sekarang jariku berdarah karena juga tidak kosentrasi saat memungut pecahan belingnya. Aku mematikan air di wastafel, dan menatap bayanganku di cermin. Aku tidak mungkin sedang memikirkan perasaan Hyukjae, kan?

***

Artyyer Boutique, Gwongnam, Seoul.

Kyuhyun POV

Aish, membosankan. Apa ada kegiatan paling konyol lagi selain hanya berdiri dan menunggu seseorang yang sejak tadi berganti-ganti baju. Aku bosan! Kenapa wanita itu ribet sekali jika masalah dalam penampilan. Aku beridiri dengan berbalut jas dan celana putih. Dan dasi bewarna hitam dan ada sedikit hiasan pada saku atas jasnya. Aku sedang menunggu Chae Yeon yang sejak tadi belum juga keluar dari ruang ganti butik ini.

Aku menoleh ketika aku merasa ruang ganti itu sudah terbuka. Aku terkesiap. Nafasku sukses tercekat beberapa detik, akibat pemandangan yang ada di depanku ini. Dia terlihat…. cantik sekali. Dengan gaun putih yang sedikit bisa menyapu lantai, lengan yang sedikit pendek tapi tidak sampai seperti gaun tanpa lengan, dan atasan berbentuk ‘V’ tapi tidak seperti model-model di televisi yang dengan lenggangnya mereka mempamerkan tubuh mereka di depan banyak orang. Gaun yang sederhana. Tapi menjadi gaun yang terlihat indah, jika dipakai gadis ini.

Chae Yeon sedikit terkesiap saat ruang gantinya terbuka. Terkesiap karena melihat pemandangan didepannya. Apa dia terpesona….. denganku?

“ A-apa yang kau lihat? ” tanyanya.

“ Aniya. Kau lama sekali hanya mencoba 1 baju saja. ”

“ Ish, sudah aku usahakan cepat begini kau masih protes? ”

“ Aku yang menunggu sejak tadi, bagaimana bisa kau bilang cepat! ”

“ Kau saja yang tidak sabar. ” katanya lagi.

“ Sama sepertimu, kan? ” godaku. Wajah shock-nya itu terlihat jelas sekarang. Sudah berapa kali aku mengatakan tentangnya sewaktu kecil, tapi tetap saja dia terlihat masih kaget begitu. Kalau sudah seperti ini, pasti dia mati kutu. Lihat, sekarang dia malah terlihat salah tingkah dan langung diam. Tch, dasar Lee Chae Yeon babo! Kapan kau akan ingat tentangku saat masih kecil?

“ Kalian terlihat sangat serasi. Sepertinya kalian saling mencintai. ” ucap salah satu penjaga butik ini.

“ Ne!? ” pekikku dan Chae Yeon bersamaan.

“ A-ah, kau ada-ada saja. Jangan berlebihan. ” ucap Chae Yeon.

“ Kalian yang berlebihan, pasangan calon suami istri seharusnya akan senang jika dipuji seperti tadi. Bukan berteriak seperti itu. ”

“ Kami hanya kaget saja. Baru pertama kali, ada seorang yang bilang begitu. ” ralatku.

Chae Yeon langsung menatapku dengan tatapan tajam. Aku mengabaikannya, tidak membalas melihatnya. Biar saja, aku suka sekali jika membuat wajahnya jadi seperti itu.

“ Kalian harus hidup bahagia nantinya. ” kata penjaga itu lagi.

Chae Yeon terlihat tambah kesal dengan perkataan penjaga itu. Mungkin dia pikir, penjaga butik ini makin menjadi-jadi saja karena perkataanku barusan.

“ Ya, kau sudah cocok dengan bajunya? ” tanyaku akhirnya.

“ Setidaknya ini yang lebih baik dari baju-baju yang lain. Aku tidak suka model baju terbuka seperti itu. ”

“ Baguslah. Aku juga lebih suka melihat kau mengenakan gaun ini. Terlihat cantik. ”

***

Chae Yeon POV

Ada sedikit perasaan canggung yang sedang menjalar padaku sekarang. Bagimana tidak? Bayangkan saja, di tempat seperti itu masih saja mengatakan hal-hal yang kurasa tidak mungkin dikatannya di saat seperti itu. Rrghh, sepertinya dia tahu persis apa reaksiku ketika dia mengatakan hal-hal konyol.

Sekarang kami sedang berada dalam perjalan pulang. Aku melirik sekilas ke arahnya. Sampai sekarang pun, aku belum bisa mengingat apapun tentangnya. Namanya terdengar familir saja, tidak. Mungkin benar apa yang dikatakan Kyuhyun. Aku terlalu membencinya saat dia sekeluarga pindah ke Australia.

“ Apa yang kau pikirkan? Pernikahan kita nanti? ” godanya.

“ Mwoya? Jangan bersikap narsis seperti itu. Aku bisa langsung mendadak mual. ”

“  Jangan berlebihan. ”

“ Kau yang belebihan. ” balasku lagi.

Kyuhyun tidak membalas perkataanku lagi. Dia diam, berkonsentrasi pada pada kemudi mobil ini. Baru kali ini, aku melihatnya menyetir mobil. Terlihat sangat keren di mataku, kau tahu? Aku tidak bisa menepis pikiranku saat ini. Ini jelas, sangat jelas. Kenyataan bahwa, aku sedikit terpesona saat melihatnya memakai jas seperti tadi. Terlihat tampan dan gagah dalam balutan pakaian seperti itu. Sepertinya, aku sudah sedikit terperangkap dengan….. pesonanya.

***

Jooyoung’s Home

06.13 AM

 

Jooyoung POV

Aku menyibakan selimut dengan malas. Membiarkannya terjuntai di lantai kamarku. Rasanya  bosan sekali, menjalankan rutinitasku setiap hari. Aku melirik ke arah jarum jam. Tumben sekali, aku bangun sepagi ini. Ini pasti karena penyakit insomnia yang menyerangku secara tiba-tiba. Hasilnya, aku tidak bisa tidur dan memilih bangun lebih awal seperti ini. Dan sekarang aku merasa pusing dan mual, entah karena apa. Aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Rasanya memikirkan bahwa tubuhku akan terkena percikan air saja, aku sudah malas mendekati pintu kamar mandi ini.

***

“ Eomma, apa kau tidak membuatkan sarapan untukku? ” tanyaku. Aku sudah selesai bersiap-siap, dan sekarang aku menuju meja makan.

“ Kau buat saja sendiri. Eomma tidak ada waktu. ” jawabnya ketus.

“ Eomma! Aku bertanya denganmu baik-baik. Kenapa kau jadi ketus begitu!? ”

“ Yak! Nada bicaraku memang seperti ini. Sudahlah kau tidak usah banyak omong! ”

Aku mengepalkan tanganku. Andai saja appa tahu sifat eomma tiriku yang sebenarnya. Sepertinya appa akan menendang jauh-jauh wanita ini.

“ Aku tidak akan bicara denganmu kalau tidak situasi yang membuatku begitu, Nyonya Kang! ”

“ Yak, kau sangat keterlaluan! Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu?! ”

“ Sudah bagus sekali aku memanggil dengan sebutan keluargaku. ”

PLAK!!

Aku mendapat tamparan keras pagi ini. Aku memegangi pipiku yang memerah akibat tamparan eomma. Apa dia tidak melihat wajahku yang sedikit pucat karena menahan pusing? Ah! Wanita ini benar-benar!

“ Apa!? Kau mau marah padaku? Yak! Kau ini sudah keterlaluan! ” teriaknya.

“ Aku bersikap keterlaluan pada eomma? Apa bukan sebaliknya!? ” aku tertawa sinis tanpa bersuara. PLAK!! Tamparan satu lagi yang mendarat sukses di pipiku.

“ Aku yang bersikap keterlaluan karena eomma!! Aku yang tidak pernah menuruti semua kemauan eomma, karena eomma! ” teriakku.

“ Dasar anak kurang ajar! ” teriak eomma lagi.

“ Apa pantas eomma menyebutku sebagai anak? Apa kau pernah merasa melahirkanku? Ya, ingatlah kau bukan eomma kandungku. ” sindirku. Aku masih memgangi pipiku yang memerah ini akibat tamparannya.

“ Kau bisa mengatakan ini didepan appa-mu! ”

“ Terserah saja. Tapi, apa kau tidak takut ketahuan sikap buruk ini dibelakang appa? ”

PLAK!!

Tiga tamparan dalam sehari yang kudapat. Itu bisa dijadikan rekor dalam kamusku. Kepalaku semakin pusing saja. Aku tidak bisa jamin, bisa datang ke sekolah tepat waktu karena keadaanku ini. Aku memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Aku tidak menghiraukan amarah perempuan itu terhadapku. Masa bodoh. Dia bukan siapa-siapaku.

***

Aku memasuki sekolah dengan langkah yang gontai. Jujur saja, berjalan dengan benar saja aku tidak bisa. Kepalaku terasa berat dan ditambah dengan perutku ini yang terasa mual. Aku tidak melihat lagi perkumpulan para murid yang biasa memojokkanku di mading. Tapi, sindiran-sindiran dari beberapa orang yang aku lewati itu tidak sedikit. Aku memasuki kelasku dan kudapasti Chae Yeon sedang duduk dengan ponselnya yang sedang ia mainkan. Aku menuju  tempat dudukku.

“ Jooyoung-a, kau sakit? ” tanyanya langsung ketika aku sampai pada tempat dudukku.

“ Hanya pusing saja. Tidak apa-apa. ”

“ Tapi, wajahmu pucat seperti itu ”

“ Aku tidak apa-apa. Sebentar juga nanti akan hilang. ”

“ Tidak apa-apa apanya? Suaramu lemas seperti itu, kau bilang tidak apa-apa. Kau belum sarapan? ”

“ Yak, belum sarapan itu adalah hal biasa untukku. Jangan berlebihan. ”

“ Kau terlalu sering bekerja sampai malam. Tidurmu juga sering tidak teratur, kan? Yak, kau cari tempat kerja yang lain saja. ”

“ Sayangnya hanya tempat itu yang mengizinkanku untuk bekerja setelah pulang sekolah. ”

“ Aish, susah sekali berbicara denganmu tentang pekerjaan. ”

“ Aku tidak memintamu untuk membahas masalah pekerjaanku. ”

***

Eunhyuk POV

Shin Soo Ae. Nama itu terus berputar di otakku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan perkataan Jooyoung terhadapku. Bisa saja benar dia yang melakukannya, setelah aku menolak pernyataan cintanya secara kasar. Lalu sekarang balasannya, tapi kenapa Jooyung ikut campur dalam masalah ini? Jooyoung. Nama itu kembali mengingatkanku lagi tentang kata-kata yang kuutarakan siang kemarin padanya. Jujur, aku benar-benar tidak seperti yang kubicarakan dengan Jooyoung.

Kebiasaan burukku ini, selalu bertindak sebelum berpikir. Aku tahu saat itu memang aku dan Jooyoung sama-sama sedang emosi. Jadi, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku tidak mungkin, dengan gampangnya muncul di hadapannya dan berkata bahwa perkataanku kemarin hanya karena emosi? Tidak. Harga diriku itu penting, sangat tidak mungkin dengan gampang aku menjatuhkannya. Tidak akan. Walaupun demi masalah ini, aku bisa menyelesaikannya sendiri sedikit-sedkit.

Aku sedang dalam perjalanan menuju kelas setelah bel berbunyi menandakan pelajaran akan dimulai kembali setelah waktu istirahat. Tapi pemadangan di depanku ini, membuatku menghentikan langkah. Aku memerhatikan yeoja yang sejak tadi hanya diam saja. Tidak membalas perkataan orang didepannya yang sepertinya sedang memarahi orang didepannya.

Aku menyipitkan mataku. Jooyoung. Kenapa gadis itu hanya diam saja? Kenapa dia diam saja menerima cacian-cacian yang di tumpahkan padanya. Tunggu, bukankah itu Soo Ae? Aku lebih berjalan mendekat agar bisa memastikan. Aku menghela nafasku. Akan kupastikan masalah ini akan selesai secepatnya.

 

Jooyoung POV

Sejak tadi aku hanya diam. Biarkan saja orang didepanku ini yang lelah mengajak seseorang untuk berbicara, tapi orang sedang ia ajak bicara hanya diam.

“ Apa kau sudah selesai? ” tanyaku.

“ Aku belum selesai, dan tidak akan pernah selesai. ”

“ Kenapa kau hanya mengangguku saja? Kenapa dengan Hyukjae tidak? ”

“ Aku pikir dia tidak bersalah. Kau yang dengan sengaja masuk ke toilet pria dan sengaja berlama-lama disana kan? ”

“ Mwo? ” tanyaku tak mengerti.

“ Kau jangan besikap sok polos! Yak, perempuan nakal aku tahu semua rencana busukmu itu! ”

“ Jaga mulutmu. ”

“  Apa aku telah membocorkan rahasia busuku-mu itu? Ah, mian. Aku hanya tidak sengaja. ”

Aku baru mau mendaratkan tamparanku padanya. Tapi, dengan sigap ada seseorang yang menahan tanganku. Aku menoleh ke arah orang itu. Sialan, di saat-saat seperti ini kenapa dia selalu saja datang tiba-tiba. Aku menepis tangannya dengan kasar. Membuang wajahku agar tidak perlu lagi melihatnya.

“ Aku perlu bicara denganmu. ”

Awalnya, kupikir kalimat itu bertuju untukku. Tetapi tidak. Aku melihat Hyukjae menarik lengan yeoja yang sejak tadi berbicara denganku. Aku berbalik dan melihat Hyukjae pergi, entah kemana dengan yeoja tadi. Aku mengehala nafasku. Apa dia mencoba untuk mencampuri urusanku? Tch, sikapnya yang menyebalkan itu, apa tidak bisa hilang darinya? Bicara apa dia dengan perempuan tadi. Apa mereka saling kenal? Kenapa sepertinya Hyukjae dekat dengan perempuan tadi? Aku masih memperhatikan mereka yang pergi dan sampai tak terlihat lagi                                                                        denganku.

“ Ah, mian. Aku tidak sengaja ”

Aku merasa setengah bagian atasan seragamku basah karena minuman yang tumpah. Aku melihat ke arah orang yang katanya tidak sengaja menumpahkannya.

“ Kau bersihkan saja nodanya dengan air. Kau bisa sendiri kan? Apa perlu kubantu? ” sindirnya.

Aku hanya bisa menahan emosiku. Aku sedang tidak dalam mood untuk adu mulut.

“ Tidak perlu. Aku bisa sendiri. ” kataku tajam.

 

Eunhyuk POV

Aku membawaya ke halaman belakang sekolah. Tempat ini memang jarang dilewati para siswa, jadi paling tidak tidak terlalu banyak yang mendengar pembcaraanku. Aku melepaskan lengannya dengan kasar. Aku menatapnya tajam.

“ Katakan apa masalahmu? ”

“ Ne!? ”

“ Kau yang menempelkan kertas itu di mading sekolah, kan? Kau juga yang menyebarkan berita tuduhan itu ke semua siswa disini?! ” tanyaku marah.

“ Menurutmu? ”

“ Aku serius, Shin Soo Ae! ” kataku setengah teriak.

“ Kau pikir aku sedang main-main, hah? ”

“ Kau yang melakukannya? ” tanyaku lagi.

“ Ne! Memangnya kenapa? ” tanyanya menantang.

“ Neo mitcheseo!? ”

“ Waeyo? Aku ingin sekali melihatmu di permalukan di depan umum. Aku ingin melihat kau sedang berusaha menutupi wajahmu karena malu. Aku ingin kau merasakan, apa yang aku rasakan satu tahun lalu. ”

Deg! Jadi benar? Jadi benar apa yang dikatakan Jooyoung padaku waktu itu? Aku menatapnya geram.

“ Kenapa kau campuri Jooyoung dalam masalah ini? ”

“ Itu bukan mauku. Itu hanya kebutalan. ”

“ Silahkan saja kau membalas perbuataanku padamu saat ini. Tapi jangan sampai kau melampiaskannya pada Jooyoung! ”

“ Kau mencoba melidunginya? Ah, kisah cinta yang romantis. Apa kalian berpacaran? ”

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

“ Apa hakmu melarangku? Kau bukan siapa-siapanya. Sepasang kekasih, bukan. Teman? Sepertinya dekat saja kalian tidak.  ”

“ Jangan mencari masalah denganku. ”

“ Aku… mencari masalah denganmu? Yak! Apa omonganmu itu tepat untuk kau katakan padaku? Apa kau tidak merasa sudah pernah mencari masalah denganku?! ”

“ Apa kau masih menyukaiku? ”

Soo Ae langsung tersentak ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Dia terlihat salah tingkah. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia lebih memilih untuk diam.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

***

Tidak. Tidak boleh menyesal karena perkataanku tadi. Ah, lagi-lagi aku bertindak sebelum berpikir. Apa aku gila? Dengan seenaknya berbicara seperti itu? Tapi aku tidak egois, aku lebih baik melakukan tindakan gila seperti ini. Dari pada melihat Jooyoung terus di kucilkan oleh-oleh siswa disini. Itu sama saja dia tersiksa karenaku.

***

Chae Yeon POV

Aku sedang berjalan di lorong sekolah ini. Saat seseorang memanggilku. Aku berbalik. Ahh, pria berwajah imut itu rupanya.

“ Chae Yeon-ssi. ”

“ Oh, Sungmin-ssi. Annyeong! ”

“ Kau sendirian? ”

“ Apa kau melihat orang lain lagi di sampingku? ”

“ Tidak. ”

“ Yasudah. Ada apa kau memanggilku? ”

“ Ah, apa kau ada waktu setelah pulang sekolah? ”

“ Tentu saja. Ada apa memang? ”

“ Kita berlatih untuk menampilkan sesuatu pada acara akhir tahu nanti, eo? ”

“  Asal kau tahu, aku tidak punya bakat apapun. ”

“ Menyanyi? ”

“ Suaraku sangat buruk. ”

“ Menari? ”

“ Apalagi itu, aku paling tidak bisa jika disuruh menari. ”

“ Apa suaramu seburuk itu? ”

“ Mungkin tidak juga. Tapi aku tidak akan menyanyi pada acara akhir tahun nanti. ”

“ Ya, wae? ” tanyanya kecewa. Sepertinya, Sungmin kecewa sekali mendengarku tidak bisa melakukan apapun.

“ Aku tidak mau. Aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa karena mendengar suaraku.  ” tolakku.

“ Kau belum mencobanya. ”

“ Aku sudah tahu hasilnya akan jadi bagaimana. Sudahlah pikirkan saja penampilan yang lain.  ” usulku.

“ Kalau kau belum mencobanya, bagimana kau bisa tahu. Jangan suka mengabil kesimpulan sendiri. Ayolah! Setidaknya kau bisa mencoba menyanyi di depanku. ”

“ Kau akan menertawakanku? ”

“ Tidak akan. ”

“ Baiklah. Sepulang sekolah nanti. ”

***

Astaga, bagimana aku bisa lupa tentang Kyuhyun. Aku harus pulang bersamanya, tapi di saat itu aku sudah janji dengan Sungmin untuk berlatih. Ahh, ini kesempatan bagus untuk menghindar darinya. Bilang saja pada eomma jika aku ada belajar kelompok. Pasti eomma akan percaya. Kyuhyun? Bocah satu itu tidak usah terlalu dipikirkan. Bukannya dia juga senang tidak pulang denganku. Aku sedang berjalan di sekitar taman belakang sekolah, berniat mencari Kyuhyun. Untuk memberitahukan hal ini tentunya.

“ Kenapa kau mencampuri Jooyoung dalam masalah ini? ” samar-samar ku dengar seseorang sedang berbicara. Aku mendekati sumber suara itu. Aku mengintip sedikit ke arah orang itu di balik tembok.

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

Jooyoung? Kenapa nama anak itu dibawa-bawa dalam pembicaraan orang itu. Aku sedikit lebih menyipitkan mataku. Melihat siapa orang yang sedang membicarakan Jooyoung. Ah, sayang sekali orang itu sedang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku masih terus berusaha untuk mencari tahu orang itu. Walaupun orang itu membelakangiku tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksud yang dibicarakan orang itu? Kenapa Jooyoung selalu dibicarakan pada setiap perkataannya. Aku jadi tidak mengerti. Sebenarnya siapa orang itu, aku makin penasaran saja. Ayolah, segera berbalik agar aku bisa melihat wajahnya. Aku mengkatup mulutku dengan tangan kananku ketika orang itu berbalik. Jadi….

***

“ Kau yakin akan tetap masuk kerja hari ini? ” tanyaku ketika pelajaran terakhir telah selesai.

“ Hmm. ” gumamnya pelan.

“ Dengan kondisimu seperti ini? ”

“ Tentu saja. ” jawabnya lemah.

Aku memandangnya iba. Jooyoung-a sepertinya kau sedang berada dalam posisi dibawah layaknya ban mobil yang berputa terus. Kau seperti dilimpahkan masalah yang tidak henti-henti. Aku masih ragu untuk membitahukan tentang kejadian tadi siang. Aku tidak tahu pasti siapa yang sedang bicara dengan Hyukjae. Ketika dia berbalik dia langsung berjalan ke arahku, mau tidak mau aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan telah mendengar pembicaraannya. Aku menghela nafasku pelan. Aku akan memberitahunya, nanti. Saat waktu yang tepat.

“ Kau pulang duluan? Aku ada urusan sebentar. ” kataku.

“ Hmm.. Annyeong. ”

“ Yak, kau hati-hati dijalan. ”

Jooyoung hanya mengacungkan jempolnya kebelakang tanpa melihatku. Aku kembali membereskan buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Aku segera menggemblok tasku dan segera keluar dari kelas. Ahh, kemana bocah itu? Kemana sejak tadi aku tidak melihatnya disekolah? Aku belum memberitahunya bahwa aku tidak akan pulang dengannya. Apa dia tidak masuk? Jangan-jangan dia masih sakit. Ah, tidak mungkin. Keadaannya saja tidak meyakinkan sama sekali untuk menunjukan dia masih sakit.

Aku masih mengedarkan pengelihatanku ke arah seluruh sudut sekolah ini. Saat aku menangkap seseorang yang sejak tadi kucari. Aku baru mau menghampirinya. Tapi mataku menangkap sosok orang lain disebelahnya. Aku menyipitkan mataku. Siapa perempuan itu? Kenapa sepertinya dia sedang menangis. Aish, dan bocah satu itu, kenapa sikapnya selalu sok manis begitu jika dihadapan perempuan lain. Sikap menyebalkannya itu pasti tidak akan terlihat jika dia sedang bersama orang lain.

Aku kembali memperhatikan mereka. Aku membelakkan mataku. Kemana mereka? Kenapa mereka pergi? Aku segera mengitarkan pandanganku ke seluruh sudut di sekolah ini. Aku sedikit melihat punggung Kyuhyun yang berbelok ke arah atap sekolah ini. Aku segera mengikuti mereka bukan maksudku untuk ikut campur, maksudnya aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.

Aku menjaga jarak seaman mungkin untuk tidak ketahuan oleh mereka. Sungguh, aku sangat penasaran. Gerak-geriknya, ekspresi wajah yeoja itu saat tadi juga sangat membuatku penasaran. Aku mengikuti mereka, sampai saat aku berada pada atap sekolah. Aku bersembunyi pada belakang tembok disini.

“ Wae geurae? ”

“ Na.. Na… ”

“ Ppaliwa, katakan padaku. Ada apa sebenarnya? ”

“ Bolehkah aku meminjam bahumu untuk menangis. Aku perlu menenangkan diri. ”

Aku membelakkan mataku kaget. Mwoya? Apa-apaan dia!? Kenapa tiba-tiba menangis begitu. Hey! Kenapa dia juga harus memeluk Kyuhyun. Sungguh, perempuan gila! Apa maunya sebenarnya, hah? Kenapa dia manja sekali. Kyuhyun! Sikapnya itu selalu bertolak belakang jika bersamaku. Lihat saja, sekarang dengan gampangnya dia memeluk yeoja itu. Keterlaluan! Aish, Cho Kyuhyun awas kau!

Aku menelan ludahku. Tunggu-tunggu.. kenapa aku harus semarah ini dengannya. Kenapa aku harus…. Aish! Jinjja! Arghhh, otakku pasti sudah terkontaminasi sebagian olehnya. Pasti aku sudah tidak waras stadium akhir. Untuk apa aku harus mengurusi urusannya, kecuali kalau aku….

“ Chae Yeon? ”

Aku segera menolehkan kepalaku ke samping. Ah! Kiamat duniaku dimulai sekarang sepertinya.

“ Ne!? ”

“ Sedang apa kau disini? ”

“ A.. ”

Aku baru mau melanjutkan perkataanku. Tapi yeoja yang sejak tadi bersama Kyuhyun itu, tiba-tiba muncul dibelakangnya. Dengan sisa-sisa isak tangisnya, dia memegang tisu ditangannya dan menyeka air mata yang tersisa. Moodku. Sungguh, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Moodku tiba-tiba turun begitu saja. Mengingat kembali bahwa tadi Kyuhyun sempat memeluknya, aku sedikit… tidak suka melihat itu.

“ Aku kebetulan lewat sini. ” jawabku asal.

“ Aku juga mau pergi. Annyeong. ” kataku lagi. Aku menyinggungkan senyum tipis. Walaupun sedikit memaksa. Aku berbalik dan segera pergi. Tapi dengan sigap Kyuhyun menahan lenganku.

“ Kajja. Kita pulang. ” ajaknya. Aku melepaskan lengaku dari pegangannya.

“ Aku tidak pulang denganmu. Aku harus belajar bersama dengan temanku. ”

Aku kembali melanjutkan langkahku. Bahkan aku saja lupa tentang Sungmin, yang mungkin sudah menungguku sejak tadi. Aku mempercepat langkahku ketika instingku mengatakan bahwa Kyuhyun mengikutiku. Aku tidak tahu kenapa berniat untuk menghindarinya, untuk tidak berhadapan langsung dengannya. Entah kenapa, mungkin setiap aku melihatnya bayang-bayang Kyuhyun memeluk yeoja tadi selalu langsung menempati otakku. Dan, sudah kubilang sejak awal. Aku tidak suka melihat itu.

“ Sungmin-ssi! Menungguku lama? ” tanyaku ketika aku sudah melihatnya di dekat gerbang sekolah.

“ Aniya. Kajja. ”

“ Chae Yeon! ” tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun memanggilku. Aku menghiraukannya, tetap berjalan saja. Tidak menoleh kebelakang.

“ Ya, Lee Chae Yeon! ” panggilan kedua yang diperuntukan untukku. Tapi untuk yang kedua kalinya juga, aku tidak menghiraukannya.

“ Chae Yeon-ssi, ada yang memanggilmu. ” kata Sungmin yang seperti mengingatkanku karena tidak mendengarnya. Aku justru, pura-pura tidak mendengarnya.

“ Biarkan saja. Tidak penting. ”

“ Tapi sepertinya, ada yang ingin dia bicarakan denganmu. ”

“ Hiraukan saja. Aku tidak kenal dengannya. ”

 

TBC

My First and Only [ Part 3 ]

 

Author : chokyu88

 

Cast     : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

 

Genre  : Romance, Family

 

Length : Chaptered

 

Rating : PG+15

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Tapi aku menyukaimu.” Deg. Kata-kata singkat yang keluar dari mulut Eunhyuk itu sukses membuatku mematung di tempat dan membuatku kehilangan akal sehat. Debar jantungku ini berdetak sungguh keras sampai-sampai aku takut bahwa saking kerasnya ia bekerja, jantungku ini akan lelah dan akhirnya berhenti bekerja. Baiklah mungkin aku terlalu berlebihan kali ini.

 

“A-apa yang kau katakan barusan hah?” tanyaku sambil berusaha menemukan kembali suaraku.

 

“Aku menyukaimu Kim Jiyeong, apa masih kurang jelas? Atau aku perlu berteriak di depanmu saat ini, bilang bahwa aku menyukaimu?” jawab Eunhyuk mantap.

 

“Tch rupanya karena terkena angin malam seperti ini membuatmu bicara melantur Eunhyuk-a, jadi sebaiknya aku cepat mengobati luka di sudut bibirmu itu dan kita pulang.” Aku berusaha bersikap setenang mungkin dan kembali menyibukkan diriku dengan menuangkan sedikit alkohol di kapas kemudian berniat melap bekas darah di sudut bibir Eunhyuk.

 

“Aku sedang tidak bercanda, Kim Jiyeong. Aku serius dalam mengatakan bahwa aku menyukaimu.” Balas Eunhyuk. Memang aku yakini dari nadanya bicara saat ini dia memang tidak sedang bercanda.

 

“Memangnya kau pikir aku sedang bercanda hah? Sudah tidak usah banyak bicara lagi, kemari aku akan obati lukamu itu dan segera pulang.” Eunhyuk tidak membalas lagi ucapanku dan aku merasa senang akan hal itu. Setidaknya aku bisa meredakan sedikit debar jantungku yang bekerja di luar biasanya ini.

 

Aku mengusap pelan-pelan darah yang ada di sudut bibirnya. Aisshhh bukannya malah reda debar jantungku ini malah berdetak makin tak karuan. Rupanya aku salah mengambil keputusan. Dasar Kim Jiyeong bodoh!

 

“Ya! Untuk apa kau memandangiku seperti itu hah?” protesku yang merasa risih karena pandangan Eunhyuk padaku.

 

Hening. Eunhyuk tidak merespon protesku itu. Errr apa perlu laki-laki di depanku ini aku lempar dengan sepatu agar dia tak memandangiku seperti itu? Perbuatan bodohnya itu membuatku salah tingkah sendiri! Apa dia tidak menyadarinya? Huh.

 

“Ya! Lee Hyuk Jae! Tidak bisakah kau berhenti memandangiku seper…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Eunhyuk menarikku dan mendaratkan bibirnya tepat dibibirku, dan kini kedua bibir kami saling bertemu. Aku benar-benar terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Ketika aku berusaha melepaskan diri, Eunhyuk malah menarik diriku agar lebih dekat dengannya dan memperdalam ciumannya padaku. Entah sekarang mukaku sudah seperti apa, tapi aku yakin sekali bahwa mukaku sudah berubah sangat merah seperti kepiting rebus atau bahkan seorang badut. Dan debar jantungku ini bekerja 3 kali lipat dari biasanya. Aisshh pasti Eunhyuk mengetahui hal ini dilihat dari posisinya yang sangat dekat denganku .

 

Tak lama kemudian Eunhyuk melepaskan ciumannya dan tersenyum singkat penuh arti. Aku buru-buru menundukkan wajahku karena tidak mau terlihat bodoh di depannya.

 

“Lee Hyuk Jae sialan, apa baru kau lakukan padaku hah?” protesku geram dengan tetap menundukkan wajahku.

 

“Menghukummu.” Balasnya santai.

 

“Ne?!” tanyaku bingung.

 

“Iya itu akibatnya karena kau menolakku.”

 

“Menolakmu? Memangnya kau meminta apa padaku?”

 

“Tadi saat aku bilang bahwa aku menyukaimu, kau tidak merespon apapun, jadi itu aku anggap sebagai penolakan.”

 

Aku makin tidak mengerti apa yang dimaksud Eunhyuk. Menolaknya? Bukannya tadi dia hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku? Dia kan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya atau apalah, tapi kenapa dia bilang aku menolaknya?

 

“Itu sama saja artinya aku menyatakan perasaanku padamu bodoh! Hah aku pikir kau cukup pintar untuk mengerti apa yang aku maksud, tapi aku salah. Kau itu benar-benar bodoh.” Kata Eunhyuk yang seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

 

“Ya! Jangan mengataiku bodoh! Itu salahmu sendiri karena tidak mengatakannya dengan jelas!” balasku membela diri.

 

“Aisshh.” Eunhyuk terlihat frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri. “Hah baiklah jika ini yang kau minta…” Eunhyuk menarik nafasnya dalam dan kemudian membuka suaranya lagi. Bukan main-main kali ini. Aku tahu dia sangat serius. Aku belum pernah melihat Eunhyuk seserius ini sebelumnya.

 

“Kim Jiyeong tolong dengarkan aku baik-baik dan aku mohon kau menyimak apa yang aku katakan, karena aku tidak akan mengulanginya dua kali atau repot-repot menjelaskan apa maksud dari yang ingin aku katakan sekarang.”

 

Aku menarik nafasku dalam-dalam, sekedar untuk mencari oksigen untuk paru-paruku karena jujur aku sudah hampir tidak bisa bernafas sekarang.

 

“Jiyeong-a, aku menyukaimu. Mungkin ini terdengar aneh karena aku baru kenal denganmu 3 hari yang lalu, tapi aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, tapi perlu kau ketahui satu hal, sejak kau masuk ke kelas hingga akhirnya kau duduk disebelahku, aku merasa kau gadis yang menarik dan aku yakin cepat atau lambat aku akan menyukaimu. Dan ternyata hal itu terbukti, semakin aku mengenalmu, aku semakin menyukaimu, dan tadi saat kau dengan nekatnya menolongku dari amukan ahjussi-ahjussi itu, aku memarahimu karena aku takut kau terluka. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku ingin selalu melindungimu. Jadi, apa kau mau membantuku mewujudkan keinginanku itu? Apa kau mau menjadi kekasihku, Kim Jiyeong?” Eunhyuk menggapai tanganku dan menggenggamnya.

 

Aku masih terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa atau bersikap apa. Tidak semua dari kata-kata Eunhyuk barusan bisa aku cerna dengan baik. Tapi hati kecilku ini mengatakan bahwa aku harus berkata iya, karena aku merasakan hal yang sama dengannya.  Aku tahu pasti Eunhyuk sangat menunggu jawabanku, tapi tidak mungkin aku langsung menerimanya. Aku tidak mau dia menganggapku gadis gampangan.

 

“Ohya aku lupa memperingatimu satu hal, aku tidak suka penolakan. Dan kali ini, aku sedang berbaik hati dan memberikanmu dua pilihan jawaban, “Ya” atau “Mau”, jadi bagaimana apa kau mau menjadi kekasihku?” Eunhyuk kembali bertanya padaku.

 

“Tch, kalau begitu apa bedanya bodoh! Kalau seperti itu bagaimana bisa aku menolakmu hah?” kataku menggodanya.

 

“Jadi kau mau menolakku lagi?” tanyanya dengan nada penuh ancaman.

 

“Iya. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menolakmu?” balasku tidak mau kalah.

 

“Aku akan menghukummu lagi kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum nakal dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan hah?” Aku memukul kepalanya karena sikapnya itu.

 

“Hahaha Jiyeong-a kau itu sangat lucu. Aku tahu sebenarnya kau itu juga menyukaiku kan? Sudah tidak usah pura-pura lagi, cepat kau terima saja aku.”

 

“Cih dasar sok tahu.”

 

“Mukamu yang memerah dan kerasnya debar jantungmu saat aku menciummu itu membuktikan padaku bahwa kau juga menyukaiku. Apa kau masih mau mengelak?”

 

Argghhh berarti usahaku tadi sia-sia saja. Eunhyuk tetap saja mengetahui keadaanku yang memalukan itu.

 

“Sudah puas kau membuatku seperti orang bodoh hah?” teriakku frustasi.

 

“Belum sampai kau mau menerimaku.”

 

“Dasar keras kepala! Baik-baik, aku mengalah! Aku menerimamu. Puas?”

 

“Jinjja? Jadi kau sekarang menjadi kekasihku?” Eunhyuk terlihat sangat gembira.

 

“Hhhmm.” Jawabku acuh. Padahal sebenarnya saat ini aku juga sama gembiranya dengannya.

 

Aku tetap dalam posisiku yang menyilangkan tanganku di depan dada sampai Eunhyuk mencium pipiku singkat dan kemudian berlari menjauhiku. Aku tahu, pasti dia takut aku akan mengamuk karena perlakuannya itu.

 

“Lee Hyuk Jae! Apa yang kau lakukan hah?” aku berteriak tidak terima dan berlari mengejarnya. “Kau berhenti atau aku akan kembali menarik ucapanku?!” teriakku lagi. Sebenarnya aku tidak serius dengan apa yang aku katakan barusan, aku hanya tidak ingin berlari-lari untuk mengejarnya, menurutku hal itu sangat menjijikan, sama persis seperti yang ada di drama-drama.

 

Aku lihat Eunhyuk berhenti. Hahaha pasti dia takut dengan ancamanku barusan. Kemudian aku berjalan santai menuju ke arahnya.

 

“Kau tidak serius dengan apa yang kau katakan kan?” tanya Eunhyuk ketakutan.

 

“Karena kau menuruti apa yang aku perintahkan, jadi aku tidak serius dengan apa yang kukatakan barusan.” Jawabku santai.

 

“Ah baguslah. Kajja kita pulang.” Eunhyuk terlihat lega dan menggandeng tanganku yang bebas (?) agar aku mendekat dengannya.

 

“Apa yang kau lakukan hah?”

 

“Menggandeng tangan gadisku, apa tidak boleh?” tanyanya sambil tersenyum.

 

Gadisku? Aku tersenyum mendengar Eunhyuk memanggilku dengan sebutan barunya itu. Ya aku akui itu lumayan keren.

 

“Ne, kajja kita pulang.” Balasku sambil ikut tersenyum ke arahnya.

 

***

 

“Nah sekarang sudah sampai. Kau cepat masuk ke dalam, di luar ini udaranya dingin sekali.” Perintah Eunhyuk ketika kami sudah sampai di depan rumahku.

 

“Hhmm baiklah.” Kataku menurut sambil membalikan badanku berniat untuk masuk ke dalam. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya, tapi Eunhyuk benar, udara di luar saat ini sungguh dingin.

 

“Jiyeong-a, tunggu dulu.”

 

“Apa lagi?”

 

Eunhyuk terlihat menarik nafasnya sesaat dan kemudian menjawab pertanyaanku.

 

“Aku mencintaimu. Terima kasih untuk hari ini.” Eunhyuk tersenyum dan kemudian berbalik untuk pulang. Barusan dia bilang apa? Mencintaiku? Aku tidak salah dengarkan? Bukannya tadi  dia hanya bilang bahwa dia menyukaiku?

 

“Eunhyuk-a! Hati-hati di jalan! Aku juga mencintaimu.” Balasku malu-malu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan rentetan kata menjijikan seperti itu, tapi apa boleh buat.

 

Eunhyuk menghentikan langkahnya kemudian berbalik lagi menghadapku. “Aku tahu. Sudah sana cepat masuk, aku tidak mau kau mati membeku di sana.”

 

“Ne!” balasku dan kemudian Eunhyuk melanjutkan langkahnya.

 

Aku sendiri pun segera masuk ke dalam rumah. Bayangan-bayangan kejadian saat bersama Eunhyuk pun mulai memenuhi pikiranku, dan efek yang ditimbulkannya adalah aku tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila.

 

Cklek. Aku menutup pintu rumahku pelan dan segera menuju kamarku dengan terus tersenyum. Aku tidak tahu bahwa daritadi Hyuri memperhatikanku, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerguku.

 

“Jiyeong-a, kau baru pulang?”

 

“Ne.” Jawabku.

 

“Dengan siapa?”

 

“Eunhyuk.” Jawabku lagi.

 

“Oh.” Hyuri meng-oh-kan jawabanku dan lebih memilih untuk diam.

 

“Kau tidak tidur? Ini sudah malam.” Tidak biasanya aku bertanya seperti itu pada Hyuri, tapi entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

 

“Ne? Ah tadi aku menunggumu, makanya belum tidur.” Jawab Hyuri setengah bingung.

 

“Sekarang aku sudah pulang, lebih baik kau tidur.” Suruhku. Tidak heran kalau Hyuri akan bertambah bingung terhadap sikapku ini.

 

“Jiyeong-a, kau sakit?”

 

“Ya! Kenapa malah tanya begitu? Aku bersikap kasar, kau protes! Sekarang aku bersikap baik begini, kau protes juga! Sebenarnya maumu apa hah?”

 

“Aniya. Aku hanya bingung dengan sikapmu itu. Kau tiba-tiba berubah, apa ini semua karena Eunhyuk?”

 

“Tch, tidak usah sok tahu. Aku begini karena moodku sedang baik saja! Tidak usah bawa-bawa Eunhyuk! Sudah aku mau ke kamar.” Bentakku pada Hyuri.

 

“Aku kan hanya bertanya. Yasudah sana pergi ke kamarmu. Ini sudah malam, lebih baik kau tidur kalau besok tidak mau terlambat ke sekolah.”

 

“Ne.” Jawabku malas sambil melangkahkan kakiku ke kamar.

 

Apa benar Eunhyuk yang merubah sikapku? Aku masih sibuk bertanya-tanya pada diriku sendiri, sampai ponselku bergetar dan otomatis menyadarkanku.

 

Aku mengernyit melihat layar ponselku. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang tak dikenal. “Ini siapa?” gumamku sambil mengklik tombol ‘open’ pada layar ponselku.

 

Jiyeong-a! Simpanlah nomorku! –Eunhyuk

 

Ha? Eunhyuk? Darimana dia tahu nomor ponselku? Setahuku aku belum memberi tahunya.

 

Darimana kau tahu nomor ponselku hah?

 

Aku sibuk berpikir sendiri darimana Eunhyuk mengetahui nomor ponselku, hingga untuk kedua kalinya ponselku kembali bergetar.

 

Rahasia. Kau tidak perlu tahu aku dapat darimana. Sudah ya, sekarang kau tidur. Selamat malam Jiyeong-a~

 

Aku tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang dikirim oleh Eunhyuk tersebut dan segera saja aku membalasnya.

 

Aisshh baiklah. Ne, kau juga tidur. Selamat malam~

 

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, aku meletakkan ponselku di meja belajarku dan segera membersihkan diriku. Haaah mungkin malam ini aku akan mimpi indah, batinku sendiri.

 

***

 

“Kau baru sampai? Ke mana saja hah?” tanya Eunhyuk ketika aku baru sampai di gerbang sekolah.

 

“Kau menunggu di sini?” bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya.

 

“Kau tidak lihat?”

 

“Aishh iya aku lihat. Tapi buat apa kau menungguku di sini? Kan kau bisa menungguku di kelas?”

 

“Tidak mau. Kalau aku menunggu di kelas, itu sama saja aku akan lebih lama untuk melihatmu.”

 

“Cih, dasar gombal.” Ledekku pada Eunhyuk dan berjalan duluan menuju kelas.

 

“Jiyeong-a! Aku tidak gombal, aku serius!” teriak Eunhyuk sambil mengejarku.

 

“Aku ingatkan padamu, jangan sering-sering memakai kata-kata gombal seperti itu kalau kau mau aku tetap menjadi pacarmu.”

 

“Mwo?! Kenapa begitu? bukankah itu wajar untuk sepasang kekasih?

 

“Bagiku tidak. Itu sangat menjijikan.”

 

“Ah kau tidak asik Jiyeong-a~ Lalu bagaimana aku menyalurkan bakat gombalku ini kalau kau tidak suka?” tanya Eunhyuk sambil memamerkan gummy smile-nya itu.

 

“Putuskan saja aku dan cari gadis lain hhmm atau bisa juga kau kembali pada man…”

 

“Ya! Aku hanya bercanda! Baik-baik aku mengerti. Tapi jangan pernah kau suruh aku untuk memutuskanmu!” gerutu Eunhyuk.

 

“Hahaha aku juga hanya bercanda, sudah jangan cemberut seperti itu. Ayo cepat ke kelas.” Kataku sambil tertawa.

 

Baru saja kami ingin masuk kelas, seorang gadis yang sebenarnya kehadirannya tidak kuharapkan ini muncul di hadapan kami berdua dan langsung mengalungkan lengannya di lengan Eunhyuk.

 

“Oppa, kau ke mana saja? Aku menunggumu tadi di gerbang sekolah.” Ucap gadis itu manja sambil tetap menggandeng tangan Eunhyuk.

 

Ya! Apa dia tidak melihat di sini ada aku? Dasar gadis menyebalkan!

 

“Ji Eun-ssi lepaskan aku.” Ucap Eunhyuk risih dan mencoba melepas paksa tangan Ji Eun.

 

“Oppa, apa kau lupa? Dulu sewaktu kita pacaran, kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan kau mengantarkanku kelas. Aku ingat waktu orang-orang sangat iri melihat kita.” Rajuk gadis itu lagi.

 

Errrrr kupingku panas mendengar rajukan manja gadis itu pada Eunhyuk. Rasanya aku sudah ingin mencakar mukanya saja!

 

“Jangan ungkit-ungkit hal itu lagi, Ji Eun-ssi. Sekarang aku sudah menemukan penggantimu, dan dia sekarang sedang berdiri dihadapanmu.”

 

Mendengar Eunhyuk mengucapkan hal itu, aku jadi tidak enak sendiri. Dengan canggung aku membungkukkan tubuhku sekedar untuk memberi salam padanya.

 

“Annyeong Ji Eun-ssi.” Ucapku pura-pura ramah, karena sebenarnya aku ingin melempar mukanya itu dengan sepatuku ini.

 

“Ah jadi ini gadis pengganntiku.” Balasnya dengan tampang meremehkan.

 

“Jadi, aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan untuk mendekatimu?” tanya gadis itu lagi pada Eunhyuk.

 

Mwo?! Sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Eunhyuk sudah mempunyai aku, kenapa dia masih bertanya seperti itu?

 

“Tidak sama sekali. Aku sangat mencintainya, dan lebih baik kau mencari lelaki lain saja.” Jawab Eunhyuk sinis.

 

Aku menyikut lengan Eunhyuk karena menganggapnya bicara terlalu kasar pada Ji Eun. Meskipun aku kesal padanya, tapi tetap saja aku kasihan padanya. Aku tahu dia itu juga wanita, pasti perasaannya sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang dicintainya.

 

“Eunhyuk-a, jangan terlalu kasar seperti itu.” Bisikku pada Eunhyuk, tapi aku yakin Ji Eun juga bisa mendengarnya,

 

“Baiklah, ternyata aku sudah tidak punya kesempatan ya? Hhmm kalau begitu, boleh kah aku bicara sebentar denganmu oppa?” Ji Eun memasang muka penuh harapan pada Eunhyuk. Eunhyuk sendiri pun bingung antara mengiyakan permintaan Ji Eun atau tidak. Karena melihat hal itu, aku segera mengambil keputusan.

 

“Sudah sana biacaralah dengan Ji Eun, aku akan menunggumu di kelas.” Kataku pada Eunhyuk.

 

“Benarkah? Kau tidak apa-apa jika kutinggal?”

 

“Ya! Tentu saja tidak apa-apa! Kau pikir aku anak kecil hah?” balasku kesal.

 

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk. “Ji Eun-ssi, ayo cepat. Kita bicara sambil aku antarkan kau ke kelasmu.” Kata Eunhyuk lagi pada Ji Eun.

 

Aku sendiri lebih memilih untuk diam dan berjalan menuju kelasku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena mendengar ucapan Ji Eun yang sebenarnya lebih ditujukan pada Eunhyuk itu.

 

“Dia tidak memanggilmu oppa? Tch bagaimana bisa? Bukannya kau dulu memaksaku hingga mengancam untuk memutuskanku agar aku memanggilmu oppa?” tanya Ji Eun.

 

“Jangan banyak bicara atau aku tidak jadi bicara denganmu.”  Jawab Eunhyuk.

 

Aku tidak mendengar suara Ji Eun lagi setelah itu. Aku tahu dia pasti lebih memilih menuruti perintah Eunhyuk daripada kehilangan kesempatan emasnya untuk bicara dengan Eunhyuk. Hah benar-benar gadis menyebalkan!

 

***

 

Eunhyuk’s POV

 

Kalau bukan Jiyeong yang menyuruhku untuk mengikuti kemauan gadis ini, mungkin sekarang aku sudah di kelas dan berbincang dengan Jiyeong. Haaaah sebenarnya mau gadis ini apa sih? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak mengangguku lagi? Dan katanya tadi dia ingin bicara denganku? Tapi kenapa sampai saat ini dia belum juga membuka suaranya? Apa dia ingin mempermainkanku?

 

“Ya! Ji Eun-ssi, kita sekarang sudah sampai di depan kelasmu, tapi kenapa kau belum bicara juga? Sebenarnya apa maumu hah?” tanyaku tak sabar.

 

“Tidak ada. Aku hanya ingin berdua saja denganmu.” Jawab Ji Eun santai.

 

“Yak!” teriakku kesal karena merasa dipermainkan.

 

“Kau kesal padaku?” tanya Ji Eun.

 

“Tentu saja! Kau bilang padaku tadi kau mau bicara padaku, dan sekarang kau seenaknya mengatakan bahwa tidak ada yang mau kau bicarakan dan hanya ingin berdua padaku! Bagaimana aku tidak kesal hah?” bentakku pada Ji Eun.

 

“Itu salahmu sendiri karena lebih memilih gadis itu daripada aku. Dan rupanya aku perlu memberi tahumu satu hal, selain aku tidak ada yang boleh memilikimu. Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menjadi milikku.”

 

“Kau kira aku ini barang yang bisa seenaknya kau dapatkan hah? Sudah aku menyesal sudah menuruti permintaanmu, lebih baik aku aku kembali ke kelas saja.” Balasku sambil berbalik meninggalkan Ji Eun.

 

“Aku serius, tuan Lee.” Ucap Ji Eun kemudian tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan seakan-akan tidak mendengar ucapannya.

 

Memangnya apa yang akan dia lakukan? Lihat saja, sekeras apapun dia berusaha, aku tidak akan menjadi miliknya lagi.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Kira-kira apa yang dibicarakan oleh mereka berdua? Apa mungkin Ji Eun tetap meminta Eunhyuk kembali menjadi kekasihnya? Kalau benar begitu, apa mungkin Eunhyuk menerima permintaan Ji Eun, dan memilih menyembunyikan hubungan mereka di belakangku? Andwae! Itu tidak boleh terjadi! Ya! Lee Hyuk Jae, kalau kau berani melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkanmu! Aku meracau sendiri dan tak sadar sudah memukul-mukulkan tanganku sendiri ke atas meja.

 

“Kau kenapa? Kenapa menyebut namaku seperti itu?” tanya Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berada di hadapanku. Tentu saja aku kaget bukan main dan pasti wajahku berubah menjadi sangat konyol saat ini.

 

“Ani tidak apa-apa.” Jawabku sambil menyembunyikan rasa maluku.

 

“Oh, kupikir kau tadi merindukanku sampai-sampai menyebut namaku seperti itu.”

 

“Tidak! Kau jangan terlalu percaya diri! Tadi aku tidak menyebut namamu, kau mungkin salah dengar.” Elakku.

 

“Aah jadi aku salah dengar ya? Baiklah kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum singkat lalu kembali ke tempat duduknya. Dan bertepatan dengan hal itu, bel berbunyi dan songsaengnim memasuki kelas.

 

Entah kenapa tapi tumben sekali Eunhyuk sedari tadi diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Rasanya aku ingin sekali bertanya apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku mengurungkan niatku. Mungkin dia akan bercerita padaku jika dia mau, batinku dalam hati dan kembali fokus kepada pelajaran.

 

***

 

“Eunhyuk-a, aku mau ke kantin. Kau mau ikut?” tanyaku pada Eunhyuk.

 

“Kau tidak pa-pa kan jika harus ke kantin sendirian? Aku ingin menyelesaikan catatan yang diberikan oleh songsaengnim dulu.” Jawab Eunhyuk.

 

“Kau tidak sakit kan?” tanyaku lagi karena merasa cemas dengan sikap Eunhyuk yang tiba-tiba aneh ini.

 

“Tidak. Kau tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Jawab Eunyuk menenangkanku.

 

“Hhmm baiklah, aku ke katin dulu ya.” Ucapku akhirnya sambil meninggalkan Eunhyuk.

 

Apa yang sedang dipikirkannya sampai dia menjadi aneh begitu? hah sudahlah lebih baik aku tidak mencampuri urusannya.

 

***

 

Menurutku ini lucu. Aku sudah bersekolah di sini selama 4 hari, tapi baru hari ini aku bisa ke kantin. Hahaha aku tersenyum kecil karena mengetahui fakta tersebut. Aku memilih soup ayam dan jus jeruk untuk menu makananku hari ini. Yah sekolah ini lumayan juga, makanan yang disediakan di kantin cukup lengkap.

 

BRUK. PRANG. Nampan yang berisi soup ayam dan jus jeruk ini tumpah semua ke bajuku.

 

“Aawww! Aisshhh jinjja panas sekali!” rintihku karena terkena kuah panas soup ayam yang kupesan. Setahuku tadi di depanku tidak ada orang, kenapa aku bisa terjatuh?

 

“Ups. Rupanya kakiku menyelengkat seseorang ya?” suara Ji Eun terdengar kemudian.

 

Ah jadi dia rupanya yang menyelengkatku sampai jatuh begini? Dasar menyebalkan! Lihat saja kali ini aku tidak akan tinggal diam padanya!

 

“Kau memang tidak lihat ada orang berjalan hah?” kataku marah sambil mencoba untuk bangun. “Ini lihat seragamku jadi kotor kerena ulahmu!” kataku lagi.

 

“Itu salahmu kenapa tidak memperhatikan jalan! Kau jangan menyalahkanku!”

 

“Nona Ji Eun tapi aku sudah sangat berhati-hati saat berjalan tadi, kau yang memang sengaja untuk menyelengkatku!”

 

“Aku? Sengaja menyelengkatmu? Yang benar saja!”

 

“Tch.” Umpatku kesal sambil mencoba membersihkan seragamku.

 

“Mana Eunhyuk oppa? Kau tidak bersamanya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Buat apa kau menanyakannya hah? Sudah tak penting berdebat denganmu di sini, aku lebih baik kembali ke kelas.” Ucapku jengkel. Cih bisa-bisanya dia mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau tidak akan mengadu pada Eunhyuk kan kalau aku menyelengkatmu? Oh atau kau akan mengadu pada kakakmu?” tanya Ji Eun dengan nada mengejek.

 

“Siapa yang kau maksud kakakku hah?”

 

“Kim Hyuri eonnie, memangnya siapa lagi?”

 

Aish dia tau darimana Hyuri itu kakakku?

 

“Kau tahu darimana Hyuri itu kakakku hah?”

 

“Kau tidak memanggilnya eonnie? Ah ternyata aku tak salah dengar waktu itu.”

 

“Mworago?! Tidak salah dengar apa maksudmu?!” aku panik. Jangan-jangan dia mendengar pembicaraanku dan Eunhyuk tempo hari yang lalu.

 

“Ya, aku mendengar semuanya, dan ternyata semua yang kudengar itu ternyata tidak salah.”

 

Aku hanya terdiam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Ji Eun kali ini. Masalahnya sekarang semua rahasiaku telah diketahui olehnya.

 

“Dan, hhmm kalau boleh aku mengutarakan pendapatku mengenai masalahmu itu, menurutku kau itu…..anak haram.” Ji Eun mengatakan hal tersebut tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

 

“Ne? Apa maksudmu?”

 

“Kau tidak mengerti apa maksudku? Baik, akan kujelaskan.” Kata Ji Eun sembari mendekat ke arahku dan memasang tatapan intimidasinya kepadaku. “Apakah ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun hanya karena alasan harta?” tanyanya.

 

Hening. Aku tidak menjawab pertanyaan Ji Eun barusan. Pikiran-pikiran aneh yang seketika menyelubungiku ini menganggu kerja otaku saat ini.

 

“Aku masih tidak mengeti Ji Eun-ssi, tolong kau langsung saja, jangan berbelit-belit seperti ini.”

 

“Aisshh ternyata kau memang gadis bodoh, aku heran kenapa Eunhyuk oppa mau menjadi kekasihmu.”

 

“Tidak usah membawa-bawa Eunhyuk dalam urusan ini.” Ucapku tajam.

 

“Aigoo kau galak sekali, aku jadi enggan menjelaskannya padamu kalau begitu.” balas Ji Eun dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

 

“Ji Eun-ssi tolong kau jangan main-main, cepat jelaskan apa maksudmu!” perintahku. Kini darah sudah mulai mengalir ke ubun-ubunku hingga aku menjadi sedikit emosi, tapi sebisa mungkin aku tahan.

 

“Kau dan Hyuri eonnie berasal dari rahim ibu yang berbeda, itu maksudku! Makanya selama ini sikap ibumu terhadap Hyuri eonnie dan dirimu itu jauh berbeda. Perbuatanmu waktu itu yang menyebabkan kerugian pada perusahaan ibumu itu sebenarnya hanya dijadikan alasan, karena tidak mungkin ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun! Apa sekarang kau sudah mengerti maksudku hah?”

 

“Aku dan Hyuri dari rahim ibu yang berbeda? Maksudmu…..”

 

“Benar sekali! Ayahmu berselingkuh dengan wanita lain dan kau adalah hasil dari hubungan mereka itu!”

 

Hatiku sakit. Mataku terasa panas. Ingin rasanya aku teriak bahwa tidak mungkin seperti itu kenyataannya, tapi kenapa hati kecilku ini mengatakan bahwa apa yang dibicarakan oleh Ji Eun itu benar.

 

“Kenapa kau diam? Kau pasti sekarang sedang membenarkan ucapanku kan? Hah dasar gadis bodoh! Kenapa hal begitu saja bisa tidak terpikirkan olehmu?”

 

“Kalau memang benar diriku seperti apa yang kau bicarakan barusan, lalu apa yang mau kau lakukan?” akhirnya aku membuka suaraku.

 

“Menyuruhmu putus dengan Eunhyuk oppa.” Jawabnya santai.

 

“Pu-putus dengannya?” aku terkejut dengan jawaban yang diutarakan oleh Ji Eun.

 

“Ne. Karena menurutku anak haram sepertimu tidak pantas mendapatkan Eunhyuk oppa.”

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, Ji Eun-ssi?”

 

“Memangnya kenapa kau memang anak haram kan?”

 

Emosiku sudah benar-benar tak bisa dikendalikan saat ini. Tanpa sadar aku menaikkan tanganku hendak ingin menampar gadis di depanku ini, tapi gerakan tanganku ini terhenti oleh seseorang…

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

Jiyeong pasti bingung dengan sikapku yang tiba-tiba aneh ini. Semoga saja dia tidak salah paham denganku, aku begini karena aku memikirkan apa yang akan Ji Eun lakukan setelah kejadian tadi pagi saat aku mengantarnya ke kelas. Aku tahu dia bukan gadis yang ucapannya main-main, jika dia berkata sesuatu, pasti itu akan menjadi kenyataan. Tapi apa yang akan dilakukannya kali ini? Tidak mungkin kan kalau dia sampai mencelakakan Jiyeong?

 

“Ya! Teman-teman! Ayo kita ke kantin! Kalian tahu? Ji Eun sedang bertengkar dengan anak baru itu!” seorang siswa laki-laki berteriak di depan kelas layaknya mengumumkan sayembara kerajaan. Sontak seluruh murid di kelasku ini berbondong-bondong menuju ke kantin.

 

Ji Eun dan anak baru? Apa mungkin itu Jiyeong?

 

Seakan-akan tidak mau kalah dengan muridn lainnya, aku ikut berlari juga menuju kantin, aku berharap kalau mereka salah orang. Aku harap bukan Jiyeong, gumamku dalam hati.

 

Sampai di kantin kulihat murid-murid sudah bergerombol membentuk lingkaran seperti anak-anak yang siap menonton sebuah pertunjukkan sulap. Aku menerobos gerombolan murid-murid itu dan mendapati Ji Eun dan Jiyeong sedang beradu mulut. Aku sengaja membiarkan mereka karena ingin tahu apa yang mereka permasalahkan tapi hasilnya nihil aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan, hingga aku melihat Jiyeong mengangkat tangan kanannya hendak menampar  Ji Eun, dan saat itu juga aku mengambil tindakan untuk mencegah Jiyeong.

 

Jiyeong tampak terkesiap ketika aku menahan tangannya.

 

“Kenapa kau menahanku” tanyanya dingin.

 

“Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah.”

 

“Lepaskan.” Ujarnya lagi sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.

 

“Tidak. Lebih baik kita ke ke…”

 

“Oppa, tolong aku. Lihat dia! Dia jahat! Dia ingin menamparku, padahal kan aku hanya memberi saran padanya.” Belum sempat tadi aku menyelesaikan ucapanku, Ji Eun tiba-tiba memelukku dan karena terkejut aku melepaskan tangan Jiyeong.

 

“Oppa! Jangan diam saja! Apa kau terima melihatku diperlakukan seperti itu olehnya?” kata Ji Eun setengah merengek.

 

Aku melirik ke arah Jiyeong, tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang sangat mengerikan. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu, seakan-akan ingin membunuh seseorang.

 

Aku merutuki diriku sendiri yang malah di saat seperti ini tidak bisa segera mengambil tindakan dan kepuutusan yang tepat.

 

Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Perasaanku makin kacau dan mataku semakin panas ketika melihat Ji Eun merengek seperti itu pada Eunhyuk, terlebih-lebih Eunhyuk diam saja, tidak melakukan penolakan atau apapun terhadap sikap Ji Eun tersebut. Tanpa sadar, tanganku sudah mengepal keras dan nafasku memburu. Ingin rasanya aku segera menghabisi gadis di depanku saat ini. Alih-alih untuk mencoba meredam emosiku ini, aku mengambil keputusan untuk kembali ke kelas.

 

“Jiyeong-a kau mau ke mana? Bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Eunhyuk ketika aku berhasil melewati posisi di mana Eunhyuk dan Ji Eun.

 

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Eunhyuk. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan berbalik dan menjelaskan semuanya saat ini juga.

 

“Jiyeong-a!” panggil Eunhyuk lagi. Aku membalikan tubuhku sesaat, tapi bukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Tanyakan saja pada mantan pacarmu itu.” Jawabku dingin dengan menekankan nada bicaraku pada kata ‘mantan pacar’. Aku melihat Eunhyuk dan Ji Eun sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku segera berbalik dan kembali menuju kelasku. Tapi  sepertinya nasibku sedang sial hari ini…

 

“Kim Jiyeong, Jang Ji Eun, kalian berdua ikut saya ke ruang kepala sekolah! Sekarang!” perintah seorang songsaengnim yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku.

 

“Ne.” Jawabku lemah sambil mengikuti songsaengnim itu. Aku merasa Ji Eun berjalan mengikutiku. Ah pasti aku akan terkena masalah!

 

 

 

Author’s POV

 

Jiyeong dan Ji Eun memasuki ruang kepala sekolah.

 

“Kalian tunggu di sini. Bapak kepala sekolah akan menemui kalian segera.” Perintah songsaengnim yang tadi menyuruh Jiyeong dan Ji Eun untuk ke ruang kepala sekolah.

 

Tak lama kemudian Bapak kepala sekolah yang ditunggu itupun datang dan segera mengintrogasi Jiyeong dan Ji Eun.

 

Di lain sisi, Eunhyuk yang penasaran dengan apa yang terjadi di ruang kepala sekolah itupun menguping dari luar.

 

“Kalian berdua, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Seorang pria dengan perwawakan tegas itu mulai membuka suaranya.

 

“Tadi aku hanya bercanda dengan Jiyeong di kantin, tapi entah kenapa Jiyeong tidak terima dan hampir menamparku. Untung ada seorang siswa yang menahannya, mungkin kalau tidak ada, sekarang aku sudah babak belur.” Ji Eun memulai penjelasan yang terkesan lebih memojokkan Jiyeong.

 

“Apa benar begitu Kim Jiyeong?” tanya Kepala Sekolah itu lagi.

 

“Apa kalau aku memberi penjelasan, bapak akan percaya padaku?” Jiyeong malah balik bertanya.

 

“Kau aku suruh untuk menjelaskan! Bukan malah balik bertanya seperti itu!” suara yang daritadi terdengar rendah berat, kini mulai terdengar tinggi.

 

Jiyeong tidak gentar. Ia malah semakin bersikap berani pada sang Kepala Sekolah.

 

“Bukannya penjelasan dari satu orang sudah cukup?”

 

“Jadi apa yang dikatakan Ji Eun itu benar? Kau hampir menamparnya?”

 

Jiyeong terdiam mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Kepala Sekolah. Memang benar dia hampir menamparnya, tapi ada alasan di balik itu, dan Jiyeong memlih untuk tidak menceritakannya saat ini. Di depan Ji Eun dan Kepala Sekolah.

 

“Kau diam. Aku anggap kau membenarkan ucapan saudari Ji Eun. Jadi sudah jelas di sini kau yang salah, Kim Jiyeong. Sebagai hukumannya, kau aku perintahkan untuk membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Kau tidak boleh pulang sebelum hukumanmu itu selesai, apa kau mengerti?” nada memerintah sangat kentara sekali terdengar dari ucapan Kepala Sekolah.

 

Jiyeong mengangguk lemah. Di lain sisi Ji Eun tersenyum puas, karena dia berhasil membuat Jiyeong terkena hukuman.

 

“Kalian boleh keluar sekarang. Dan untuk kau, Jiyeong, segera lakukan hukumanmu.”

 

“Ne.” Jawab Jiyeong lemas dan mereka berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah tersebut.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Jang Ji Eun, apa sekarang kau puas hah? Sudah membuatku menerima hukuman seperti ini?!” Umpatku kesal.

 

Aku berjalan lemas keluar ruangan Kepala Sekolah dan mendapati Eunhyuk sudah berdiri di hadapanku. Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk bicara dengannya, makanya aku lebih memilih berjalan cepat sambil menundukkan wajahku.

 

“Kenapa kau tadi diam saja?” tanya Eunhyuk sambil menarik lenganku. Aku tetap tidak berbalik ke arahnya.

 

“Aku diam atau tidak hasilnya akan sama saja.” Jawabku dan aku menghentakkan tanganku keras agar terlepas dari pegangan Eunhyuk.

 

Dengan kasar aku melangkahkan kakiku untuk menjalani hukumanku. Sebenarnya saat ini, aku mengharap bahwa Eunhyuk akan mengejarku dan menawarkan bantuan untukku, tapi nihil. Eunhyuk sama sekali tidak mengejarku dan…kenapa dia malah menarik Ji Eun?! Mereka mau ke mana?! Aishhh jangan-jangan dugaanku benar…mereka berdua kembali berpacaran dan sengaja menyembunyikannya dariku. Dan mungkin karena hal itu juga, Eunhyuk tadi menahan tanganku dan tidak membelaku sama sekali? Ya! Tidak mungkin Eunhyuk seperti itu! Aku menepis pikiran burukku itu dan dengan malas mulai memasuki toilet pertama yang akan aku bersihkan.

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

“Ji Eun-ssi sekarang kau ikut aku!” perintahku sambil menarik paksa tangan Ji Eun untuk mengikutiku.

 

“Kita mau ke mana oppa?” tanyanya.

 

“Jangan cerewet! Ikut saja denganku!”

 

Aku menarik tangan Ji Eun dengan kasar, dan ketika sampai di tempat yang kutuju aku menghempaskan tangannya dengan kasar pula.

 

“Oppa, jangan kasar seperti itu.” Rintihnya kesakitan.

 

“Aku tidak akan bersikap lembut padamu sekarang! Kenapa kau tega memfitnah Jiyeong dan membiarkannya menerima hukuman seperti itu hah?” tanyaku geram.

 

“Aku tidak memfitnahnya, apa yang aku jelaskan tadi sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya.”

 

“Aku tidak percaya padamu! Tidak mungkin Jiyeong akan menamparmu, jika kau tidak berbuat yang memancing emosinya seperti itu!”

 

“Kau memang tahu apa tentangnya?!”

 

“Aku kekasihnya! Jadi aku tahu sifat Jiyeong!”

 

“Kalian baru menjadi sepasang kekasih tidak lebih dari satu hari! Jadi tidak mungkin kau mengetahui sifatnya! Siapa tahu Jiyeong memang orang yang mudah emosi dan tidak bisa diajak bercanda!”

 

“Tapi dia tidak akan marah seperti itu kalau tidak ada penyebabnya! Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau katakan tadi sehingga membuat Jiyeong marah seperti itu!”

 

“Kenapa kau terus membelanya hah? Tidak bisakah kau sedikit berpikir positif terhadapku?”

 

“Tidak bisa, karena memang kenyatanyaannya, semenjak Jiyeong menjadi kekasihku, kau selalu berusaha untuk menjatuhkannya!”

 

“Memang itu yang ku mau! Aku ingin dia menyerah dan akhirnya aku bia mendapatkanmu lagi! Bahkan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuat Jiyeong menyesal dan akhirnya memutuskanmu.” Ji Eun tersenyum licik.

 

Aku menjadi gugup. Terlebih-lebih mungkin karena aku berteriak-teriak sedari tadi mengundang murid-murid lain untuk mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi di antara aku dan Ji Eun.

 

“Apa yang kau mau lakukan hah?” tanyaku sedikit gugup.

 

“Jadi sekarang kau takut?”

 

“Tidak. Coba saja kau lakukan rencanamu itu! Aku yakin Jiyeong tidak akan menyerah dan tetap akan menjadi kekasihku.” Tantangku.

 

“Baiklah kalau begitu.” Untuk kedua kalinya Ji Eun tersenyum licik dan dengan sigap mengambil ponselku yang ada di kantong celanaku yang kebetulan tidak terlalu dalam.

 

“Rupanya kau ceroboh juga.” Gumamnya dan segera melemparkan ponselku pada seorang siswi yang posisinya dekat dengan Ji Eun.

 

“Ya! Jika aku menjentikkan jariku, segera kau potret apa yang kau lihat di depanmu! Apa kau mengerti?” tanya Ji Eun pada gadis tersebut. Awalnya gadis itu terlihat bingung tapi tak lama kemudia dia mengangguk tanda mengerti.

 

“Yak! Apa yang mau kau lakukan hah?”

 

“Membuktikan ucapanku barusan.” Dengan santainya dia menjawab dan menarik kerah bajuku sehingga posisiku dan Ji Eun kini sangat dekat, bahkan hidung kami nyaris beradu.

 

“Ya, kau siap-siap.” Perintah Ji eun pada gadis itu lagi.

 

Aku mencoba berontak dan sebisa mungkin menjauhakn diriku dari Ji Eun. Tapi terlambat. Sedetik kemudian Ji Eun kembali menarikku mencium paksa diriku. Kemudian terdengar suara jentikan jari Ji Eun dan…Cklik… terlihat blitz dari kamera ponselku dan gemuruh tepuk tangan mulai terdengar.

 

Merasa ini suatu hal yang tidak beres, aku segera dengan kasar mendorong tubuh Ji Eun ke dinding dan melap bibirku.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN JANG JI EUN?” teriakku geram.

 

“Aku sudah bilang padamu dari awal kan bahwa aku akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu kembali? Ini salah satu caraku.” Jawab Ji Eun sambil membenarkan seragamnya. “Ya, kau sekarang segera kirim gambar itu kepada Jiyeong, cari saja nomornya di daftar nomor telfon, pasti ada.” Perintah Ji Eun pada gadi yang sekarang sedang memegan ponselku.

 

“Jangan!” cegahku sambil berusaha untuk merebut ponselku, tapi Ji Eun menghalangiku dan memberi isyarat pada gadis itu untuk terus melakukan apa yang disuruhnya.

 

“Dasar licik! Minggir kau!” kudorong tubuh Ji Eun dengan kasar hingga tubuhnya terhempas ke lantai. Segera saja aku merebut ponselku kembali dan mengecek apakah gambar itu sudah terkirim atau belum. Tubuhku melemas ketika mengetahui gambar itu sudah berhasil terkirim.

 

“Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Lee Hyuk Jae.” Ji Eun berkata licik dan dan bangun dari posisinya yang tersungkur itu dan pergi meninggalkanku.

 

ARRGGH. Aku mengacak rambutku frustasi karena ulah Ji Eun. Apa yang harus aku katakan pada Jiyeong?

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Ini sudah hampir toilet yang ke-3 yang aku bersihkan. Tanganku masih saja bergerak menyikat lantai toilet dengan jijik. Yaisshh kotor sekali toliet ini, ujarku sambil sesekali menutup hidungku karena bau tidak sedap. Tiba-tiba ada segerombol siswi memasuki toilet yang sedang aku bersihkan. Dengan seenaknya mereka menginjak lantai yang baru saja aku bersihkan. Errr ingin sekali aku rasanya membentak mereka, tapi aku mengurungkan niatku dan tetap terus menyikat lantai.

 

“Ya, apa kau tahu bahwa Ji Eun dan Eunhyuk kembali berpacaran?” seorang siswi bertanya pada temannya. Mwo? Apa yang barusan dia katakan? Aku lebih memilih menguping pembicaraan mereka ketimbang menanyakan langsung pada mereka.

 

“Ne? Bukannya mereka sudah putus?”

 

“Memang mereka sudah putus. Tapi apa kau tidak lihat tadi?”

 

“Melihat apa hah? Ya! Kau jangan membuatku penasaran!”

 

“Itu tadi Ji Eun dan Eunhyuk berciuman di depan murid-murid tingkat 2, bukannya itu sangat romantis?”

 

“Jinjja? Aigooo romantis sekali mereka, aku jadi iri dengan Ji Eun, andaikan aju mempunyai kekasih seperti Eunhyuk.”

 

Deg. Benarkah apa yang mereka bicarakan? Benarkah Eunhyuk kembali berpacaran dengan Ji Eun? Hatiku kembali merasa sakit dan tiba-tiba saja air mata sudah menggenangi pelupuk mataku. Tapi aku berusaha menahan tangisku dan memberanikan diri bertanya pada siswi-siswi itu. Mungkin aku salah dengar, batinku.

 

“Hhmm maaf, tapi apa benar kau melihat mereka, ehm maksudku Eunhyuk dan Ji Eun tadi berciuman?” tanyaku hati-hati.

 

“Ne. Aku melihatnya. Dan kalau tidak salah tadi, ada seorang siswi yang memotret kejadian itu, jadi kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan padanya.” Jawabnya.

 

Nafasku tercekat. Jadi benar dugaanku tadi…

 

“Oh bisa juga kau bertanya dengan gadis yang bernama Jiyeong, setahuku tadi Ji Eun menyuruh gadis yang memotret kejadian tadi, mengirim gambar itu pada gadis yang bernama Jiyeong itu, mungkin dia mempunyai gambarnya.” Tambahya kemudian.

 

Air mataku makin mendesak untuk keluar. Jiyeong? Gadis itu kan aku? Apa maksudnya ini? Apa mungkin dia sengaja untuk memberi tahuku tanpa harus bicara langsung padaku?

 

“Ah ne, jeongmal gomawoyo.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

 

“Cheonmaneyo.” Balas siswi itu dan kemudian dia keluar toilet bersama temannya.

 

Aku tinggal sendiri sekarang. Tubuhku tiba-tiba melemas dan akhirnya aku terjatuh. Pandanganku menjadi kabur karena air mata yang jatuh. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Kenapa Eunhyuk tega melakukan ini padaku? Air mataku jatuh makin deras. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambil ponselku yang aku letakkan di kantung seragamku dan benar saja, satu pesan baru masuk ke ponselku. Dari Eunhyuk? Aku mengernyitkan dahiku dan dengan tangan bergetar membuka pesan tersebut.

 

Mataku membelalak ketika melihat isi pesan tersebut. Bukan sebuah tulisan, tapi sebuah gambar. Gambar yang sukses membuatku mengeluarkan air mata lebih banyak lagi. Ya, gambar yang dimaksud siswi tadi. Ponselku terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku tidak peduli bahwa ponselku akan rusak atau tidak, yang aku tahu sekarang hatiku sangat sakit karena Eunhyuk tega berbuat begini padaku.

 

*

 

Entah sudah berapa lama aku menangis di toilet ini, hingga aku tak sadar jika sudah waktunya pulang sekolah. Aku tahu pasti sekarang mataku sangat bengkak. Aku mencoba untuk berdiri dan keluar dari toilet ini, tapi dari jauh aku mendengar suara Ji Eun dan aku mengurungkan niatku ini, alih-alih aku malah masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Aku tidak mau keberadaanku diketahui oleh Ji Eun.

 

“Sekarang bagaimana? Kau menyesalkan menerima Eunhyuk menjadi pacarmu?” tanya Ji Eun. Dia bertanya pada siapa? Apa dia bertanya padaku? Tapi darimana dia tahu ada aku di sini?

 

“Ya, aku sedang bertanya padamu Kim Jiyeong. Kau pasti menyesalkan menerima Eunhyuk sebagai pacarmu? Hah dasar gadis bodoh, coba kau pikir sekarang, mana ada pria yang akan tulus menyukaimu dalam jangka waktu yang sangat singkat? Tidak ada kan? Pasti dia itu hanya mempermainkanmu! Dan lihat kan sekarang apa yang terjadi? Hahaha kasian sekali dirimu itu, Jiyeong-ssi.” Kata Ji Eun kemudian.

 

Ucapan Ji Eun ada benarnya. Mana ada pria yang akan tulus menyukai seorang wanita dalam jangka waktu yang sangat singkat? Argh aku memang bodoh!

 

“Baru sekarang kau sadar bahwa kau bodoh? Tch dasar.” Aku dengar Ji Eun berjalan keluar toilet dan untuk memastikannya aku mengintip dari lubang kunci. Yakin bahwa Ji Eun sudah benar-benar pergi, aku keluar dari bilik toilet.

 

Di depan cermin besar yang ada di toilet ini, aku merapikan diriku. Melap bekas air mataku dan mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku tahu jika aku kembali ke kelas sekarang, pasti ada Eunhyuk di sana dan dia akan menerorku dengan sejuta alasan yang ingin dijelaskan padaku. Ya! Kim Jiyeong, kau harus tunjukkan padanya kalau kau bisa! Kim Jiyeong, hwaiting!

 

***

 

Saat ini aku sudah sampai di kelas. Dan dugaanku tadi salah. Eunhyuk tidak ada di sini. Aisshh aku lupa, mungkin Eunhyuk sudah pulang duluan dengan Ji Eun tadi. Aku merapikan barang-barangku sambil berpikir sendiri.

 

“Hhhmm mungkin tidak lama lagi Eunhyuk akan datang padaku dan meminta putus dariku karena dia sudah kembali lagi dengan Ji Eun. Ya aku yakin itu pasti akan terjadi. Tapi lebih baik aku yang memutuskannya daripada harga diriku dijatuhkan dengan diputuskan oleh seorang pria.”

 

“Tapi aku perlu menyiapkan diriku terlebih dahulu agar saat aku memutuskannya, aku tidak menangis. Memang mungkin aku baru satu hari menjadi pacarnya, tapi aku merasa aku sudah sangat nyaman dengannya. Aku bisa menceritakan semua rahasiaku yang belum pernah aku ceritakan dengan orang lain. Dia bisa menghiburku ketika benar-benar tidak ada orang lain yang bisa menghiburku…”

 

Tes. Air mataku kembali jatuh. Aku sengaja tidak melapnya, lagipula buat apa? Toh tidak ada yang melihatku kan saat ini?

 

Aku berjalan gontai keluar kelasku. Makin lama pandanganku semakin kabur. Aku menangis lagi. Ya! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa bertahan untuk tidak menangis jika di depan Eunhyuk nanti?!

 

Aku berjalan  terus sambil menunduk. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku dan membuatku sedikit terkejut. Tak perlu mendongakan wajah untuk tahu siapa orang yang ada di depanku itu. Dari caranya dia berdiri, aku sudah tahu bahwa orang itu adalah Eunhyuk.

 

Mau apa dia di sini hah? Dengan tetap menunduk aku berbelok ke arah kanan agar bisa menghindarinya, tapi dia malah mengikutiku. Hal yang sama pun terjadi ketika aku berbelok ke arah kiri, dia pun juga mengikutiku. Sebenarnya maunya apa sih?!

 

“Minggir. Aku mau lewat.” Perintahku dingin.

 

“Tidak sebelum kau mau aku ajak bicara.”

 

Yap. Tepat dugaanku pasti dia ingin mengajakku bicara, ehm bukan maksudku memutuskanku. Tapi kenapa secepat ini? Aku belum siap.

 

“Aku bilang minggir.” Perintahku lagi sambil berusaha mencari jalan untuk melarikan diri.

 

“Aku bilang aku tidak akan minggir sebelum kau mau ku ajak bicara!” Eunhyuk tidak mau kalah denganku.

 

Hhm mungkin ini sudah saatnya. Dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Eunhyuk.

 

“Jangan di sini. Cari tempat lain.” Jawabku sambil terus mencoba menahan air mataku yang entah sejak kapan sudah mendesak ingin keluar.

 

“Baik kita ke kafe dekat sekolah ini saja.” Balas Eunhyuk dan menggandeng tanganku.

 

“Lepas. Aku bisa jalan sendiri.”

 

Kebetulan aku sudah tahu kafe yang dimaksud oleh Eunhyuk, jadi aku berjalan mendahuluinya dan sambil terus menguatkan diriku sendiri.

 

*

 

Aku mengambil tempat duduk persis di ujung kafe. Tak lama kemudian Eunhyuk menyusulku dan langsung mengambil tempat tepat di depanku. Perasaanku makin kacau dan gugup, makanya aku daritadi tidak berani memandang Eunhyuk dan menundukan wajahku.

 

“Mau bicara apa? Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu.” Aku tetap tidak menghilangkan kesan dingin dalam nada bicaraku.

 

“Kau tidak mau pesan minum dulu?” tanya Eunhyuk basa-basi.

 

“Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk memesan minum, lebih baik aku pulang sekarang.” Jawabku sambil beranjak dari kursiku.

 

“Baiklah. Aku akan langsung bicara sesuai dengan keinginanmu.”

 

Aku mengurungkan niatku untuk pergi dan kembali duduk.

 

Inilah saatnya…sebentar lagi Eunhyuk pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Kim Jiyeong lakukan sesuatu! Jangan mau harga dirimu dilecehkan karena diputuskan oleh seorang pria. Ayo Kim Jiyeong kau pasti bisa!

 

“Jiyeong-a sebenarnya aku ingin menjelaskan padamu bahwa…”

 

Tidak-tidak aku tidak bisa Eunhyuk mengatakannya duluan padaku. Tidak bisa. Aku menarik nafasku dalam dan meremas rokku dengan kuat seraya memberanikan diri untuk membuka suara.

 

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.”

 

 

 

 

 

-TBC-

 

My First and Only [ Part 2 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?” suara eomma menghentikan kegiatan kami berdua.

“Eo-eomma.” Kataku terbata. Aish ini pasti akan menjadi buruk.

“Aku pikir kau benar-benar sakit. Tapi ternyata dugaanku benar, dari awal memang kau membohongiku. Kau hanya pura-pura sakitkan untuk mendapatkan perhatianku?”

“Ehm maaf ahjumma, tapi Jiyeong benar-benar sakit. Tadi dia sampai jatuh pingsan di sekolah.” Eunhyuk yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya. Hah ini pasti akan menjadi perang besar.

“Jadi kau dibayar berapa oleh Jiyeong?”

“Ne?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Aku tahu kau pasti berkomplot dengan Jiyeong untuk membohongiku kan?” eomma melipat tangannya di depan dada. “Cepat katakan padaku kau dibayar berapa oleh Jiyeong! Akan aku tambahkan jika bayaranmu kurang, asalkan kau jangan pernah menemui Jiyeong lagi!” tambah eomma.

“Eomma! Jangan bicara seperti itu! Memangnya Eunhyuk orang macam apa yang mau kubayar hah?” teriakku marah.

“Kau mencoba membela lelaki ini, Kim Jiyeong?” eomma benar-benar terlihat murka sekarang.

“Iya aku membelanya karena dia temanku! Lebih baik eomma tidak mencampuri urusanku kali ini! Dan jangan mencoba untuk melarangku berteman dengannya!”

“Sampai kapan kau akan menjadi anak kurang ajar Kim Jiyeong! Bahkan di depan temanmu sendiri kau tidak bisa bersikap hormat dengan eomma!”

“Karena eomma memang tidak pantas untuk aku hormati!” Jujur aku sama tidak senang mengatakan hal ini. Apalagi di depan Eunhyuk.

“Aku benar-benar malu mempunyai anak sepertimu!” Lagi-lagi eomma mengatakan hal itu. Tidak boleh Kim Jiyeong, kau tidak boleh menangis. Tidak untuk di depan laki-laki ini.

“Terus saja kau mengatakan hal itu! Apa eomma masih tidak mengerti apa yang kukatakan kemarin? Kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa eomma tidak titipkan saja aku pada ahjumma dan ahjusii yang tinggal di Busan, atau kalau perlu sekalian saja kau habisi aku sekarang!”

PLAK. Lagi-lagi eomma menamparku. Bahkan tamparannya kali ini lebih keras. Kepalaku yang masih pusing malah makin bertambah pusing dengan tamparan eomma.

“Eomma kenapa kau selalu menamparku?” kali ini air mataku benar-benar sudah bisa ditahan lagi.

“Itu pelajaran untukmu. Kau pantas mendapatkan hal itu.” Jawab eomma. Apa? Aku tidak salah dengar kan? Apakah ada seorang ibu yang mengatakan hal itu di depan anaknya? Terlebih-lebih di depan teman anaknya.

“Ya, aku memang pantas mendapatkan tamparan eomma. Aku memang anak kurang ajar yang tak tahu terima kasih, bukan begitu?”

“Tepat sekali. Itu yang mau kukatakan padamu. Rupanya kau sekarang sudah jauh lebih pintar.” Eomma bertepuk tangan yang maksudnya untuk mengejekku. “Sekarang lebih baik suruh temanmu ini pulang atau eomma yang akan menyeretnya keluar!” perintah eommaku.

“Dia tamuku. Eomma tidak berhak untuk mengusirnya. Lebih baik sekarang eomma yang keluar dari kamarku!”

“Memangnya siapa yang akan terus disini hah? Aku juga sudah muak berada di kamarmu cih.” Kalau memang dia tidak betah di sini kenapa juga dia harus masuk hah? Dasar aneh!

Tak lama setelah itu eomma keluar. Dan tinggalah aku dan Eunhyuk berdua di kamar.

“Eunhyuk-ssi ini sudah malam lebih baik kau pulang. Aku mau istirahat.” Sebelum Eunhyuk bertanya yang aneh-aneh lebih baik aku suruh dia segera pulang.

“Kau tahu kan di mana letak pintu keluar? Atau perlu aku panggilkan Hyuri untuk mengantarkanmu?” tambahku lagi.

“Tidak usah aku bisa sendiri.” Jawab Eunhyuk.

“Bagus kalau begitu aku tak usah repot-repot untuk memanggil Hyuri untuk mengantarmu. Ah iya satu lagi aku lupa, tolong tutup pintunya jika kau keluar.” Perasaanku sekarang ini benar-benar kacau sampai-sampai untuk bicarapun nadaku terdengar bergetar. Hhh semoga Eunhyuk tak menyadarinya.

“Kau tunggu apalagi hah? Aku sudah bilang kan, aku mau istirahat.” Tak peduli bagaimana reaksi Eunhyuk, aku membaringkan tubuhku di kasur dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Tidak. Jangan sekarang Kim Jiyeong, tahan sebentar lagi. Kau tidak mau menangis di hadapan laki-laki ini lagi kan?

“Tidak ada yang kutunggu. Maaf telah menganggumu. Aku pulang sekarang Jiyeong-a.” Cklek. Kudengar suara pintu ditutup. Aku mengintip dari balik selimut hanya untuk memastikan apakah Eunhyuk benar-benar sudah pergi atau belum.

“Hhh baguslah dia sudah pergi. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya tadi aku tak enak harus bersikap begitu terhadap Eunhyuk. Tapi kalau aku tidak begitu, aku akan terlihat lemah di depannya. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun. Aku ini Kim Jiyeong. Seorang gadis yang kuat.” Aku menyemangati diriku sendiri dan mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati ini semua. Kim Jiyeong fighting!

***

“Jiyeong-a bangun. Kau sekolah kan hari ini?” Errrrr Hyuri memang benar-benar menyebalkan, apa dia tidak bisa tidak mengangguku walau hanya sehari saja?

“Hhhhmm ne.” Jawabku dengan malas. Aku bangun dari tempat tidurku dan dengan malas berjalan ke kamar mandi.

“Oke. Aku tunggu kau di bawah, kita akan berangkat bersama.” Sahut Hyuri. Ck, harus berapa kali aku bilang sih, aku tidak mau berangkat bersamanya? Dasar menyebalkan.

“Kau duluan saja berangkat dengan eommamu itu, tidak usah menungguku, aku lebih senang jika berangkat dengan bis. Kau tahu? Itu lebih mengasyikan daripada harus satu mobil denganmu dan eommamu.”

“Eomma sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali. Ia ada tugas selama 1 minggu di Jepang.” Mwo? Hyuri bilang apa tadi? Eomma ada tugas di Jepang selama 1 minggu? Wah ini benar-benar kesempatan langka! Aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

“Jiyeong-a kau masih mendengarku kan?”

“Tentu saja bodoh! Aku tidak tuli! Keputusanku tetap tidak berubah. Hari ini dan hari-hari selanjutnya aku akan berangkat sekolah sendiri. Sendiri. Itu artinya tidak bersamamu. Kau mengerti?”

“Terserah kau saja. Aku tidak mengerti kenapa kau begitu tidak mau berangkat sekolah denganku. Ya! Aku duluan, jangan lupa kunci pintu.”

“Arra-yo Hyuri-ssi.” Aku benar-benar tidak tahu harus mengekspresikan kebahagiaanku ini dengan cara apa. Aaaah 1 minggu tanpa eomma, itu sama saja selama 1 minggu aku tidak melihat wajahnya yang menyebalkan itu dan tentu saja tidak mendengar omelannya yang nyaris membuat kupingku putus. Nasibku hari ini benar-benar sedang beruntung. Hoaaah dan moodku benar-benar baik sekarang. Hhmm baiklah di sekolah nanti, aku akan minta maaf pada Eunhyuk atas sikapku kemarin.

***

Eunhyuk’s POV

Aissssh apa yang harus aku lakukan nanti jika bertemu dengan Jiyeong? Minta maaf? Mwo? Tapi buat apa aku minta maaf? Seharusnya juga dia yang meminta maaf padaku atas sikapnya itu. Hhhmm tapi kalau dia tidak menegurku bagaimana? Apa aku juga ikut-ikutan tidak menegurnya? Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, saat tiba-tiba aku merasa dipeluk seseorang dari belakang.

“Oppa, kau ke mana saja? Neomu bogoshipo~” Hah lagi-lagi gadis ini. Ya, tunggu! Bukankah dia bilang sudah berjanji untuk tidak mengangguku? Kenapa sekarang begini?

“Lepaskan aku Ji Eun-ssi. Tidak enak dilihat orang.” Kataku dingin sambil mencoba melepaskan pelukannya.

“Oppa, memang kenapa? Kita sudah lama kan tidak seperti ini?”

“Kau jangan bermimpi! Aku sudah bukan kekasihmu lagi, apa kau lupa? Dan bukannya kau sudah berjanji untuk tidak menganggu lagi?”

“Iya memang, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu oppa. Aku yakin kau juga masih belum melupakanku kan?” Ji Eun kembali mengeratkan pelukannya.

“Ya ya lebih baik kau sekarang ke kamar mandi dan cuci mukamu, sepertinya kau belum sepenuhnya sadar dari mimpimu. Dan tolong lepaskan aku sekarang juga.”

“Tidak oppa, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menerimaku lagi menjadi kekasihmu. Aku mencintaimu oppa~” Ji Eun berkata dengan nada manja dan suara yang dibuat-buat. Aku benar-benar muak padanya sekarang. Memintaku menjadi kekasihnya kembali? Cih apa itu tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita?

“Oppa, bagaimana kau mau kan menjadi kekasihku lagi?” ulang Ji Eun.

“Ji Eun-ssi lebih baik kau lepaskan pelukanmu sekarang juga atau aku akan…” Ucapanku terhenti ketika mataku menangkap sosok Jiyeong. Astaga! Pasti dia akan berpikir macam-macam jika melihatku seperti ini dengan Ji Eun. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Jiyeong. Dan kulihat ekspresinya benar-benar datar.

“Atau apa oppa?” Tanya Ji Eun lagi.

“Jang Ji Eun lepaskan aku!” Aku berteriak pada Ji Eun agar dia melepaskan pelukannya. Aku tak mau jika Jiyeong salah sangka terhadapku dan Ji Eun. Dan benar saja, berkat teriakanku itu Ji Eun melepaskan pelukannya.

“Oppa, kenapa kau berteriak seperti itu padaku?” tanya Ji Eun takut-takut.

“Karena kau tak mendengar perintahku tadi. Ya! Dengarkan aku baik-baik. Kau dan aku, itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan untuk jawaban dari pertanyaanmu tadi itu adalah tidak. Aku tidak mau kembali menjadi kekasihmu. Aku sudah tidak mencintaimu. Kau mengerti?” aku sengaja mengeraskan volume suaraku agar Jiyeong bisa mendengarnya.

“Oppa-oppa…” isak tangis Ji Eun mulai terdengar.

“Kalau kau pikir dengan kau menangis seperti itu akan merubah keputusanku, kau salah besar. Justru itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku. Ya, Ji Eun-ssi, hubungan kita sudah berakhir dan aku mohon denganmu, jangan ganggu kehidupanku lagi. Masih banyak lelaki di luar sana yang menunggumu. Lebih baik kau lupakan aku dan cari lelaki yang lebih pantas dariku.” Kali ini aku menurunkan sedikit nada suaraku.

“Oppa, tapi aku hanya mencintaimu…dan kau adalah satu-satunya lelaki yang pantas untukku.”

“Aku yakin bukan aku orangnya. Dan kau mulai sekarang jalani kehidupanmu sendiri dan bukalah hati untuk pria lain. Karena aku sudah membuka hatiku untuk wanita lain. Sudah ya Ji Eun, aku duluan! Ingat kata-kataku! Cobalah untuk membuka hatimu untuk pria lain! Arra?” Hah ini benar-benar sudah terlambat. Seharusnya aku mengejarnya saat itu juga. Aissssh Lee Hyuk Jae bodoh! Aku pun segera berlari meninggalkan Ji Eun dan menyusul Jiyeong. Semoga Jiyeong tak salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi.

***

Kau bahkan berani meninggalkanku seperti itu Lee Hyuk Jae? Baiklah jika itu maumu. Asal kau tahu hanya aku yang boleh memilikimu dan jika aku pun tak bisa memilikimu tak ada seorang pun yang bisa memilikimu.

***

Kim Jiyeong’s POV

Moodku sedang baik hari ini bahkan sangat baik sampai aku melihat si Hyukjae bodoh itu berpelukan dengan seorang gadis dan moodku langsung benar-benar jelek. Aisssshh apa yang kau pikirkan Kim Jiyeong! Biarkan saja kalau dia berpelukan dengan gadis lain, memangnya aku siapa? Apa aku punya hak untuk melarangnya untuk berpelukan? Siapa tahu gadis itu memang pacarnya. Ya! Tapi, bukankah tadi Eunhyuk bilang bahwa dia tak mencintai gadis itu lagi? Itu berarti tak mungkin gadis itu pacarnya. Hhmm kalau bukan pacarnya, mungkin dia mantan pacarnya. Pletak! Aku memukul kepalaku sendiri karena pikiranku yang melantur ini. Memangnya urusanku apa? Buat apa aku pikirkan siapa gadis itu? Mau dia pacarnya Eunhyuk atau bukan juga tidak ada pengaruhnya untukku kan? Aishhh dasar Lee Hyuk Jae sialan! Bisa-bisanya dia merusak moodku!

“Jiyeong-a, bisa bicara sebentar? Ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu.” Baru saja aku mau memasuki kelas ketika ada suara yang menghentikan langkahku. Hah mau apa sih dia? Apa dia kurang puas sudah merusak moodku hah?

“Mau bicara apa? Cepat katakan saja di sini. Aku tidak punya banyak waktu.” Ujarku dingin.

“Tidak bisa di sini Jiyeong-a, aku tak mau ada orang lain yang mendengar.”

“Yasudah kalau begitu kau tidak usah bicara saja padaku. Lagipula ini sudah mau bel, aku tidak mau membuang waktuku dan akhirnya aku terlambat masuk kelas hanya karena bicara denganmu.”

“Baik. Karena aku tetap harus bicara denganmu jadi aku akan menunggu sampai waktu istirahat dan saat itu kau harus ikut denganku.”

“Jadi sekarang kau memerintahku hah? Aku tidak mau. Memangnya apa yang kau mau biacarakan sampai kau berani memerintahku seperti itu, Lee Hyuk Jae?” aku menaikan sebelah alisku yang sengaja untuk menantangnya.

“Mengenai masalah tadi.” Jawabnya santai.

“Masalah apa hah? Aku rasa aku tidak mempunyai masalah denganmu.” Jawabku pura-pura tidak tahu.

“Jangan pura-pura tidak tahu Jiyeong-a, aku tahu kau pasti melihatnya kan?” Sial! Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sekarang aku harus menjawab apa? Memang tadi aku melihatnya, jadi aku tak mungkin berbohong padanya.

“Hah benar dugaanku kau pasti salah paham. Ya tenang saja, aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Jika mencekik orang itu tidak berdosa, mungkin aku sudah mencekik laki-laki menyebalkan di depanku ini daritadi.

“Lalu apa urusannya denganku? Mau kau masih mempunyai hubungan dengan gadis itu atau bahkan sedang menjalani hubungan dengan gadis itu memangnya itu urusanku?!” hampir saja aku melempar buku yang aku pegang ke wajahnya jika bel tidak berbunyi.

“Ya Eunhyuk-ssi, kau beruntung. Andai saja bel ini tidak berbunyi mungkin buku ini sudah melayang ke arahmu.” Aku segera berbalik dan meninggalkan Eunhyuk yang masih berdiri di depan pintu. Lihat saja nanti! Kau, Lee Hyuk Jae, akan aku acuhkan kau hari ini!

***

“Aissshh perutku lapar sekali, tapi aku juga sedang malas ke kantin. Dan tak mungkin aku meminta tolong pada makhluk di sebelahku ini kan?” Hah kali ini rasa laparku mengalahkan rasa malasku. Dengan malas aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas menuju kantin.

“Jiyeong-a, kau mau ke mana?” Aku diam tidak menanggapi pertanyaannya dan dengan santai aku melanjutkan perjalananku ke kantin.

“Jiyeong-a! Kau mau ke mana?” Kali ini Eunhyuk mengeraskan volume suaranya. Ya! Memangnya aku tuli apa? Haha rasakan kau! Hari ini aku akan mengacuhkanmu. Cih dasar Hyukjae menyebalkan!

Sret. Tiba-tiba Eunhyuk menarik tanganku, memang tidak terlalu kasar tapi tetap saja untuk seorang wanita cengkramannya ini terlalu keras.

“Yak! Lepaskan tanganmu ini! Kau pikir ini tidak sakit hah? Aaah.” Aku meringis kesakitan.

“Aku sudah bertanya padamu baik-baik tapi kau malah mengacuhkanku. Kau yang memaksaku untuk melakukan ini Kim Jiyeong.” Eunhyuk membalasku dengan ucapan tajam.

“Kau sebenarnya mau melakukan apa hah?! Jangan bertele-tele! Cepat katakan apa maumu di sini!”

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menarikku keluar kelas. Aisssshhh dia ini maunya apa sih?

“YA! LEE HYUK JAE! LEPASKAN AKU! KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA HAH?!” aku berteriak padanya karena kesal dengan sikapnya yang seenaknya itu. Cih, memangnya siapa dia, menarikku dengan seenaknya?

“Jangan berteriak bodoh! Aku tidak tuli!”

“KALAU BEGITU CEPAT KATAKAN KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA?!” aku masih juga belum mengurangi volume suaraku.

“Lihat saja nanti. Jangan cerewet!”

Errrgghhh rasanya aku sudah sangat ingin melemparkan sepatuku ini ke wajahnya! Dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae sialan! Seenaknya saja dia bersikap begini padaku! Ya! Lihat kan sekarang? Aku menjadi tontonan murid-murid lain! Awas saja kau nanti! Kau tidak akan lolos dariku!

“Yap. Sekarang kita sampai!” kata Eunhyuk yang sontak menyadarkanku.

“Ini kan taman belakang sekolah. Mau apa kau mengajakku ke sini?”

“Untuk bicara denganmu.”

“Bisa tidak kau kurangi sifat bodohmu itu? Kalau hanya bicara kenapa harus mengajakku ke sini?”

“Aku sudah bilang aku tidak mau ada orang lain yang mendengarnya.”

“Memangnya sepenting apa yang mau kau bicarakan sampai-sampai kau ingin tidak ada orang lain yang mendengarnya?”

“Memang menurutmu mungkin tidak penting, tapi ini menurutku penting.”

“Jangan membuatku penasaran! Cepat bicara sekarang!”

“Hhhmm baik sebenarnya aku ingin menjelaskan…”

“Yak! Tunggu! Sebelum bicara panjang lebar, lepaskan tanganku dulu. Cengkramanmu itu menyakitkan sekali Eunhyuk-a.”

“Oh maaf. Aku lupa.” Eunhyuk melepaskan tanganku. Dia terlihat salah tingkah. Dan wajahnya itu…hahaha sangat menggelikan.

“Ya, wajahmu kenapa begitu?  hahaha jadi seoarang seorang Lee Hyuk Jae sedang salah tingkah?” Aku menggodanya. Dan benar saja wajahnya itu semakin lucu.

“Jiyeong-a bukan saatnya untuk bercanda, sekarang itu waktunya serius. Aku ingin menjelaskan padamu kejadian tadi pagi. Kau tahu? Semua yang kau lihat itu tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kau jangan salah paham. Aku dan Ji Eun, gadis yang tidak sengaja kau lihat sedang berpelukan tadi pagi sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Ya, aku akui dia mantan kekasihku. Kami sudah putus enam bulan yang lalu. Aku yang  memutuskannya karena dia mengkhianatiku. Dia mempunyai seorang kekasih lagi di belakangku. Awalnya memang aku kecewa, tapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa memang dari awal aku tak pernah mencintainya. Dan tadi pagi itu, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali. Jelas saja aku menolaknya karena memang aku tak mempunyai perasaan apapun lagi terhadapnya. Nah, jadi kau tidak salah paham lagi kan kepadaku?” Eunhyuk menyudahi penjelasannya itu. Aku hanya melongo mendengarnya. Tidak tahu harus merespon apa. Tap yah aku akui aku merasa sedikit lega dengan penjelasannya barusan.

“Ya! Apa kau masih salah paham juga? Kenapa kau diam saja?” ulang Eunhyuk.

“Jadi, kau jauh-jauh membawaku ke sini dan membuat tanganku merah begini, hanya karena ingin menjelaskan hal itu? Aissshhhh kau benar-benar bodoh! Memangnya aku meminta penjelasanmu itu hah? Memangnya urusanku dengan kalian berdua apa? Bagiku tidak ada masalah jika kau masih mempunyai perasaan dengan mantan kekasihmu itu.”

“Tapi bagiku itu masalah Jiyeong-a, aku tidak mau membuatmu salah paham.”

“Tuan Lee yang sok tahu, makanya lain kali kau bertanya dulu sebelum mengambil keputusan atau berbuat sesuatu. Perlu kau ketahui, aku sama sekali tidak salah paham. Aku sudah mendengarnya tadi pagi saat kau menolaknya. Bukankah kau sengaja tadi mengeraskan suaramu agar aku mendengarmu?”

“A-a-aku kira kau tidak mendengarnya makanya aku menjelaskannya padamu.”

“Aissshhh sudahlah kau sudah selesai bicara kan? Baiklah aku pergi sekarang. Aku lapar ingin ke kantin.” Aku berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Eunhyuk.

“Tunggu dulu. Sekarang giliran kau yang menjelaskan semuanya padaku.” Eunhyuk kembali menarik tanganku.

“Mwo? Giliran aku? Memangnya apa yang harus aku jelaskan padamu? Ayolah Eunhyuk-a, jangan bercanda, aku ini sudah tidak makan 2 hari, perutku lapar sekali.”

“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk tidak makan hah? Itu salahmu sendiri! Sekarang jelaskan padaku, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Hyuri noona dan eommamu.” Perintah Eunhyuk. Hhhh. Aku menarik nafasku dalam. Jadi ini yang dia minta jelaskan dariku? Bagaimana hubunganku sebenarnya dengan Hyuri dan eomma? Ani. Aku tidak bisa menjelaskan padanya. Aku paling tidak bisa menahan air mataku jika sudah menyangkut mereka berdua. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya. Bagaimana jika nanti aku menangis saat menceritakannya? Tidak bisa. Aku sudah pernah sekali, ehm bukan maksudku dua kali menangis di depannya, jadi tidak mungkin kali ini aku menangis di depannya lagi.

“Jiyeong-a, ayo cepat jelaskan padaku.” Pinta Eunhyuk lagi.

“Apa yang harus kujelaskan hah?! Tentu saja hubunganku dengan mereka baik! Kau ada-ada saja menanyakan hal bodoh seperti itu. Sudah ya, aku mau ke kantin. Perutku sudah berkali-kali berbunyi minta diisi. Sampai nanti…”

“Bohong. Kau pasti bohong. Jika memang hubunganmu baik dengan mereka, lalu kenapa kau memanggil Hyuri noona tanpa embel-embel eonni? Lalu kenapa eommamu bisa menamparmu seperti kemarin malam? Setahuku seorang ibu tidak akan tega menampar anaknya sendiri. Dan lagi pula…”

“Hentikan Lee Hyuk Jae.” Aku nyaris kehilangan kesabaranku karena mendengar ucapan Eunhyuk.

“Aku belum selesai, Jiyeong-a. Dan lagi pula jika memang hubunganmu baik eommamu, ia pasti akan tergesa-gesa pulang dari kantornya begitu mendengarmu sakit. Tapi yang kulihat malah sebaliknya. Eommamu malah memarahimu dan…”

“AKU BILANG HENTIKAN LEE HYUK JAE!” aku kembali memotong ucapannya. Kali ini benar-benar kesabaranku sudah habis. Hatiku kembali merasa sakit.

“Memangnya kenapa hah? Jadi benarkan apa yang aku kira? Hubunganmu dengan mereka memang tidak baik! Sekarang cepat jelaskan padaku yang sebenarnya!”

“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu.” Jawabku sinis. Aku sudah sekuat tenaga menahan emosiku agar tidak meledak-ledak dan yang paling penting agar aku tidak menangis.

“Kenapa tidak bisa? Kau membuatku merasa menjadi seorang teman yang gagal kau tahu? Lalu apa gunaku di sini jika tidak bisa mendengarkan semua keluh kesahmu? Apa kau takut akan menangis di depanku? Ya! Jiyeong-a, meski kau mencoba berusaha tegar, aku tahu kau tetaplah seorang gadis yang rapuh. Kau mungkin bisa saja menutupi perasaan sedihmu itu di depan eommamu dan Hyuri noona dengan bersikap kasar, tapi tidak denganku. Aku mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Jadi jika memang kau ingin menangis, menangislah sepuasnya sekarang, di depanku. Aku tidak akan keberatan dengan hal itu.” Untuk yang kedua kalinya aku melongo mendengar ucapannya. Bahkan seorang Lee Hyuk Jae yang baru aku kenal 2 hari yang lalu lebih mengerti perasaanku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku belasan tahun. Ini benar-benar aneh.

“Hah, jadi aku harus memulai darimana?” tanyaku pasrah.

“Kau bisa mulai dari alasan eommamu bersikap kasar terhadapmu.” Jawabnya. Aisshh benarkah aku harus menjelaskan hal ini padanya? Menjelaskan kejadian yang terjadi belasan tahun yang lalu, yang membuat eomma begitu membenciku? Aku yakin Eunhyuk pasti tidak akan mempercayainya, karena aku pun juga begitu. Alasan bodoh yang tidak masuk akal. Aku membuka mulutku dan memulai penjelasanku.

“Aku sebenarnya juga tidak yakin dengan alasan ini. Karena menurutku ini alasan bodoh dan tidak masuk akal. Dulu sekitar umurku masih 6 tahun dan Hyuri 8 tahun, eomma mengajak kami ke pesta pernikahan relasi bisnisnya. Tapi sebelum itu eomma sudah memberi tahuku dan Hyuri, jika nanti ditanya oleh teman eomma di mana keberadaan appa, eomma menyuruh kami untuk mengatakan bahwa appa sudah meninggal. Aku juga tidak tahu mengapa eomma menggunakan alasan itu. Padahal yang aku tahu, appa masih hidup, tapi aku tidak tahu di mana keberadaannya. Memang aku sering mendengar eomma bertengkar dengan appa di telfon, eomma mengatakan bahwa, appa itu suka main wanita, tukang mabuk, dan kerjaannya hanya memoroti uang eomma, makanya eomma dan appa berpisah. Aku yang waktu itu belum terlalu mengerti, mengiyakan permintaan eommaku. Dan akhirnya ketika aku ditanya oleh relasi bisnis eomma, tentang keberadaan appaku, aku menjawab tidak sesuai dengan apa yang eomma minta. Aku menjawab dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang aku tahu. Waktu itu eomma bilang pada temannya jangan mempercayai omongan seorang anak kecil. Tapi sepertinya teman eomma tidak mau mendengarnya, dan ia pun kecewa dengan eomma yang sudah membohonginya dan akhirnya memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan eomma. Memang perusahaan eomma tidak bangkrut, tapi eomma mengalami kerugian besar. Dan saat itu juga, eomma menyeretku pulang ke rumah dan memakiku di rumah. Eomma mengurungku di kamar selama 3 hari tanpa memberiku makanan atau minuman dan sampai pada akhirnya aku sakit. Tapi kau tahu? Saat itu eomma tidak memperdulikanku sama sekali. Dia bilang bahwa, kerugian yang diderita eomma itu salahku, jadi aku pantas mendapatkan hukuman itu, dan bahkan katanya hukuman yang aku dapatkan belum sebanding dengan kerugian yang eomma derita…” Butir-butir bening mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku mulai kesusahan untuk mengucapkan kata-kata berikutnya.

“Tenanglah Jiyeong, jika kau memang ingin menangis, menangislah. Tidak apa-apa.” Eunhyuk menenangkanku sambil menepuk bahuku. Aku merasa sedikit mendapat kekuatan darinya dan aku pun mulai melanjutkan ceritaku.

“Dan mulai saat itu, eomma terus mengacuhkanku, tapi tidak dengan Hyuri. Apa yang didapatkan Hyuri berbanding terbalik dengan yang aku dapatkan. Hyuri selalu mendapat pujian dari eomma dan aku selalu mendapat cacian darinya. Eomma selalu menuntutku untuk bisa seperti Hyuri. Tapi aku tidak suka itu. Makanya aku sering berbuat onar di mana-mana, itu semua aku lakukan semata-mata untuk menunjukkan bahwa aku tidak suka dan aku butuh perhatian dari eomma. Dan jika kau mau tahu, eomma sudah menamparku puluhan kali, jadi jangan kaget jika kau melihatnya menamparku semalam hehehe.” Aku tertawa getir saat mengatakan hal itu. “Jadi bagaimana? Sudah puaskan kau sekarang? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu.” Tambahku lagi.

“Jiyeong-a, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih begitu. Aku tidak tahu jika eomma mu seperti itu.”

“Hahaha sudahlah tidak apa-apa. Ya Eunhyuk-a, kau adalah orang pertama yang aku ceritakan masalah ini. Kau beruntung, Eunhyuk-a~ kau selalu jadi yang pertama hahaha.” Aku tertawa lagi. Tapi tidak untuk hatiku. Justru hatiku ini rasanya sakit sekali.

“Kau tidak usah menyembunyikan air matamu dengan tawamu itu. Aku tahu walau kau tertawa tapi hatimu tidak kan?” Yap. Tepat sekali. Aku memang berusaha tertawa untuk menyembunyikan air mata yang sebenarnya sudah mendesak ingin keluar.

“Lalu aku harus bagaimana Eunhyuk-a? Aku sudah berusaha untuk mengatakan pada eomma, bahwa aku juga butuh perhatian seperti Hyuri, tapi eomma malah balik memarahiku dan selalu mengungkit kebodohan yang aku lakukan di masa lalu. Aku tahu aku memang bodoh, tapi apakah eomma tidak bisa memaafkanku? Apakah harta lebih penting dariku? Ani. Maksudku apakah harta lebih penting dari nyawaku? Aku sering ragu dan bertanya pada diriku sendiri, apakah dia ibuku atau bukan? Sakit sekali rasanya. Melihat saudaramu di puji di depanmu dan kau hanya dijadikan barang rongsokan yang hanya pantas untuk dibuang. Aku merasa kesepian, aku merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti aku. Aku sudah lelah Eunhyuk-a, aku lelah merasakan sakit ini, aku lelah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” kali ini air mataku benar-benar tak bisa dibendung lagi. Dengan derasnya air mataku jatuh membanjiri pipiku. Sekarang aku tak berusaha untuk menahan tangisku, karena aku pikir dengan menangis semua beban yang selama ini aku rasakan bisa hilang.

Author’s POV

Tangisan Jiyeong semakin menjadi-jadi saja. Eunhyuk yang tidak tega melihat Jiyeong menangis seperti itu, akhirnya menarik Jiyeong ke dalam pelukannya. Awalnya Jiyeong agak terkejut dengan perlakuan Eunhyuk tersebut dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi Eunhyuk malah mempererat pelukannya itu dan mengusap punggung belakang Jiyeong.

“Ya, sekarang kau menangislah sepuasnya dan tolong dengarkan aku. Jiyeong-a, mianhae aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagimu, aku tak bisa memberimu saran atas apa yang harus kau lakukan dengan Hyuri noona dan eommamu karena jujur aku tak mengalaminya. Tapi kau punya aku di sampingmu yang akan terus mendukungmu. Kau bisa ceritakan semua keluh kesahmu agar kau menjadi lega, atau kau bisa pinjam bahuku untuk menangis. Jadi kau mau memaafkanku kan?” kata Eunhyuk sambil melepaskan pelukannya terhadap jiyeong.

“Kau bodoh! Untuk apa kau minta maaf padaku hah? ” jawab Jiyeong yang masih terisak. “Dengan kau mau mendengarkan ceritaku saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, dan ketika aku menceritakannya padamu aku merasa sedikit lega. Aku tidak tahu kenapa, kau yang baru kukenal 2 hari yang bahkan bisa jauh lebih mengerti aku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku selama belasan tahun.” Lanjut Hyuri lagi, tapi kini dengan tangisan yang sudah mereda.

Eunhyuk hanya diam mendengar ucapan Jiyeong dan kemudian tersenyum.

“Kalau benar begitu, aku siap menjadi teman setia curhatmu. Kau boleh datang ke rumahku atau kau hubungi aku kapan saja saat kau ingin mengeluarkan semua keluh kesahmu.” Ucap Eunhyuk sambil mengusap air mata Jiyeong.

“Ya! Bagaimana jika aku nanti ke rumahmu larut malam? Apa kau akan tetap menerimaku?” tanya jiyeong tak percaya.

“Tentu saja. Bukankah itu gunanya teman? Sudah ya, kau jangan menangis lagi, wajahmu itu jelek sekali saat menangis hahaha.” Eunhyuk tertawa saat mengatakan hal itu dan menunjukkan gummy smile-nya.

Jiyeong mematung di tempat saat melihat Eunhyuk tertawa seperti itu. “Senyumannya terlalu menawan, sampai-sampai aku tak bisa mengontrol detak jantungku yang makin tak karuan ini.” Batin Jiyeong.

“Ya! Sekarang kau malah diam begitu. Kau menyeramkan sekali Jiyeong-a~” Eunhyuk bergidik ngeri.

“Eh? Kau pikir aku ini kesurupan begitu?” tanya Joyeong tak terima.

“Ani bukan maksudku begitu, hanya saja kau habis menangis tiba-tiba berdiri mematung seperti itu, makanya aku kira kau kesurupan.” Jawab Eunhyuk santai. “Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.” tawar Eunhyuk pada Jiyeong.

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?” kini Jiyeong sudah berhasil untuk menghentikan tangisnya sepenuhnya.

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!” ancam Eunyuk.

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~” jawab Jiyeong.

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?” goda Eunhyuk.

“Te-tentu saja makan ramen gratis bodoh! Percaya diri sekali kau ini.” Jiyeong terlihat salah tingkah.

“Tidak usah malu-malu begitu Jiyeong-a~ Kalau kau memang senang makan denganku, ada yang salah?” Eunhyuk malah makin menggoda Jiyeong. Dan Jiyeong pun makin terlihat salah tingkah.

“Dasar menyebalkan! Sudahlah kalau begitu aku tak jadi mau ditraktir denganmu.” Balas Jiyeong pura-pura marah.

“Aisssh kau pemarah sekali Jiyeong-a~ aku kan hanya bercanda. Yasudah ayo kembali ke kelas! Pasti sebentar lagi bel akan berbunyi.” Eunhyuk mengacak rambut Jiyeong pelan sambil tersenyum.

Dasar Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sudah berapa kali dia membuatku tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri hah?

“Ya! Kenapa masih di situ? Ayo cepat ke kelas!” kata Eunhyuk lagi. Dan kali ini Eunhyuk menarik tangan Jiyeong. Kali ini tarikan Eunhyuk lebih lembut, tidak seperti tadi yang menarik Jiyeong dengan kasar.

Mereka berdua berjalan ke kelas dengan sedikit terburu-buru karena memang bel sudah berbunyi. Tapi meskipun begitu, sesekali terlihat Eunhyuk sedang meledek Jiyeong dan Jiyeong pun yang tak terima atas ledekan Eunhyuk membalasnya. Terdengar sesekali teriakan Jiyeong yang mengatakan. “Lee Hyuk Jae bodoh!” atau “Lee Hyuk Jae menyebalkan! Awas kau ya!” Eunhyuk dan Jiyeong terlalu asik dengan aktivitas mereka sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka daritadi.

“Jadi karena gadis itu kau menolakku, Lee Hyuk Jae?” Ji Eun yang sedari tadi memperhatikan Jiyeong dan Eunhyuk di taman belakang sekolah itu pun geram. “Baiklah kita tunggu siapa yang akhirnya jadi pemenangnya, aku atau gadis sialan itu.” Nada bicara Ji Eun benar-benar terdengar mengerikan dan memberi isyarat bahwa sudah pasti pemenangnya adalah Ji Eun.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a~ kau mau pesan apa?” tanya Eunhyuk. Ya kami sekarang sudah berada di kedai ramen.

“Aku tidak pernah makan di sini. Jadi aku ikut saja denganmu.” Jawabku.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk sambil mengangkat tangannya untuk memanggil ahjumma penjaga kedai ini. “Aku minta 2 mangkuk ramen ya!” pinta Eunhyuk. “Ne.” Jawab Ahjumma itu ramah.

“Kau sering makan di sini?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Hhhm tidak juga. Biasanya aku makan di sini bersama noonaku, tapi karena sekarang dia sedang sibuk, aku jadi jarang ke sini. Memangnya kenapa?”

“Ooh begitu. Tidak pa-pa, hanya saja aku melihatmu sudah sering makan di sini.”

“Tenang saja, ramen di sini rasanya tidak ada duanya, mungkin kau akan meminta tambah nanti jika kau sudah memakannya.”

“Ya! Kau pikir aku serakus apa hah? Memang aku sudah tidak makan 2 hari, tapi untuk memesan ramen sampai 2 mangkuk rasanya itu terlalu berlebihan.”

“Aku kan hanya menebak. Kau benar, ramen di sini itu sungguh porsinya sangat besar, jadi tidak mungkin seseorang bisa makan sampai 2 mangkuk. Ya kecuali jika orang itu memiliki perut karet.” Eunhyuk berkata dengan wajah polosnya itu.

“Ternyata kau bisa membuat lelucon juga ya hahaha.” Aku tertawa karena mendengar leluconnya itu. “Eunhyuk-a~ sehabis makan ramen ini bagaimana jika kita jalan-jalan? Aku malas pulang ke rumah.” Tanyaku pada Eunhyuk.

“Aku sih tidak keberatan. Tapi bagaimana nanti jika kau dimarahi eommamu karena pulang malam?”

“Tidak akan. Kau tenang saja, eomma sedang bertugas di Jepang selama satu minggu, jadi aku bebas.” Jawabku senang. “Jadi bagaimana, kau mau tidak?” ulangku.

“Hhhmm jika aku mau, apa imbalan yang akan kau berikan untukku?”

“Ya! Katanya kau temanku! Kenapa malah meminta imbalan?”

“Aissshhh kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda Jiyeong-a~ baiklah aku mau menemanimu jalan-jalan.”

“Jinjja? Ah jeongmal gomawo Eunhyuk-a~” ucapku sambil tersenyum.

Tak lama kemudian ramen yang kami pesan datang. Aku pun langsung melahap ramenku itu karena memang perutku sudah sangat lapar. Terserah Eunhyuk mau mengatakan bahwa aku ini ini gadis rakus atau apa yang penting sekarang adalah perutku segera diisi.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” Eunhyuk memperingatiku.

“Biarlah, aku sangat lapar. Kau jangan urus aku, kau nikmati saja ramenmu itu!” balasku.

“Tch terserah sajalah. Tapi kalau kau tersedak jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatimu.”

Baru saja Eunhyuk menyudahi ucapannya itu, benar saja aku tersedak ramen yang hendak mau kutelan.

“Uhuk uhuk uhuk.” Aku kelimpungan mencari air minum.

“Sudah kubilang kalau makan pelan-pelan, kau tidak percaya padaku sih. Ini minum.” Eunhyuk menyodorkan sebuah gelas berisi air putih ke arahku. Aku mengambilnya dan segera meminum air putih itu.

“Aaah, gomawo.” Kataku yang sudah merasa sedikit lega.

“Hhhm. Lanjutkan makanmu sekarang, tapi ingat jangan sampai tersedak lagi. Dan sehabis ini kita jalan-jalan.”

“Arra-yo, Eunhyuk-a~”

Aku kembali melanjutkan menyantap ramenku. Kali ini lebih pelan, karena aku takut tersedak lagi. Aku baru menyadari sekarang bahwa ramen ini benar-benar enak. Eunhyuk pintar sekali memilih kedai makan yang tepat.

***

“Jiyeong-a, sekarang kau mau ke mana lagi hah? Ini sudah malam, apa kau tidak lelah?” tanya Eunhyuk padaku. Ya, sehabis makan tadi, aku dan Eunhyuk berjalan-jalan di sekitar Seoul, dan mungkin sepertinya aku lupa waktu jadi tidak menyadari kalau ini sudah malam.

“Hhhm aku mau berjalan-jalan di sekitar Sungai Han dulu. Pemandangan di sana sangat indah pada malam hari seperti ini.” Jawabku sambil melayangkan pandanganku ke sekitar.

“Apa kau tidak bosan? Bukannya setiap hari kau melewati Sungai Han saat mau ke sekolah?”

“Iya memang. Tapi pemandangan di pagi dan malam hari itu jauh berbeda Eunhyuk-a~ Coba itu lihat! Bagus sekali kan?” tunjukku pada air mancur yang berwarna-warni yang memang hanya indah jika dilihat malam hari.

“Aku sudah sering melihatnya. Kau ini seperti bukan penduduk Seoul saja, yang norak jika melihat air mancur itu. Air mancur itu kan memang selalu begitu setiap malam.”

“Ya! Kau! Kalau tidak mau melihat yasudah sana pulang! Lagipula berjalan-jalan dengan orang cerewet sepertimu tidak asik! Lebih baik aku jalan-jalan sendiri.”

“Aku kan hanya bilang yang sebenarnya. Kau memang norak, melihat seperti itu saja seperti anak kecil yang kegirangan saat mendapat permen dari ibunya.”

“Cih terserah kau sajalah.” Aku mengekerucutkan bibirku karena sedikit kesal dengan Eunhyuk. Seenaknya saja dia mengataiku norak dan seperti anak kecil! Huh.

Aku masih saja memandangi indahnya pemandangan Sungai Han di malam hari ketika aku melihat seorang gadis yang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang…hhhmm sepertinya mereka mabuk. Tunggu sebentar, seragam yang dikenakan gadis itu, sama seperti seragam yang aku kenakan! Berarti gadis itu satu sekolah denganku dan Eunhyuk. Aku harus menolongnya, kasihan gadis itu jika sampai di apa-apakan oleh ahjussi pemabuk itu.

“Eunhyuk-a! Coba lihat gadis itu! Dia satu sekolah dengan kita kan?” aku menunjuk ke arah gadis itu dan Eunhyuk pun melihat ke arah yang aku tunjuk.

“Iya benar. Jiyeong-a, dia sedang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang sedang mabuk. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Eunhyuk panik. Di saat seperti ini saja sifat bodohnya itu belum hilang juga.

“Tentu saja menolongnya bodoh! Kau ini laki-laki kan? Pasti bisa melawan ahjussi-ahjussi itu, apalagi mereka sedang mabuk, jadi pasti mudah untuk melawannya.”

“Ah iya kau benar. Ayo kita ke sana.” Eunhyuk menarik tanganku dan mendekat ke arah gadis itu.

Sampai di sana, Eunhyuk melepaskan tangannya dan membisikan sesuatu pelan di telingaku.

“Ya, kau jangan dekat-dekat dengan mereka. Meskipun mereka itu seorang ahjussi tapi mereka sedang mabuk, dan aku tidak tahu apakah mereka membawa senjata tajam atau tidak. Kau mengerti?”

“Aku mengerti.” Eunhyuk segera mendorongku ke belakang tubuhnya. Di saat seperti ini Eunhyuk benar-benar terlihat seperti lelaki sejati yang ada di drama-drama. Aku pun tak henti-hentinya berdecak kagum dengan sikapnya itu.

“Ya! Ahjussi! Mau apa kalian menganggu gadis itu hah?” tanya Eunhyuk tajam.

“Kau ini siapa anak muda? Jangan coba-coba menganggu kami. Kami hanya ingin bermain-main sebentar dengan gadis ini.” Jawab salah seorang ahjussi itu.

“Aku ini temannya! Kau tidak lihat seragam yang kami pakai sama hah?” balas Eunhyuk lagi. “Ya, sudah jangan ganggu gadis ini lagi, lebih baik ahjussi seperti kalian pulang ke rumah saja!” ejek Eunhyuk.

“Dasar anak kurang ajar! Kau meledek kami hah? Apa kau belum pernah dihajar?!” seorang dari mereka mulai merasa geram dengan Eunhyuk. Eunhyuk yang tidak takut dengan gertakan ahjussi itu malah melangkah maju dan menantang mereka.

“Aku tidak takut dengan kalian! Kalian itu kan hanya ahjussi-ahjussi, jadi tidak mungkin menang melawanku meskipun kalian berdua dan aku sendiri!” tantang Eunhyuk. “Ssst kau nona, untuk apa masih disitu? Cepat lari ke sini. Kau tidak mau kena pukulanku kan?” tambah Eunhyuk pada gadis itu. Aku lihat gadis itu tak banyak bicara dan menuruti perintah Eunhyuk. Ia segera pergi dari tempatnya dan berlari ke arahku. Aku melihat wajahnya pucat. Ya, dia pasti ketakutan setengah mati.

“Jiyeong-a, kau jaga gadis itu. Dan ingat jangan sekali-sekali mencoba mendekat. Sepertinya mereka itu berbahaya.” Kata Eunhyuk pelan. Aku hanya mengangguk. Dan aku melihat Eunhyuk melangkah sedikit demi sedikit ke arah mereka.

“Ya! Sini lawan aku jika kalian berani!” tantang Eunhyuk. Aissshh dasar bodoh! Kenapa dia malah menantang begitu? bagaimana nanti jika dia kalah hah?

BAK. BUK. BAK. Pukulan demi pukulan Eunhyuk berikan pada ahjussi-ahjussi itu. Awalnya memang Eunhyuk yang menguasai perkelahian itu, tapi lama kelamaan, karena Eunhyuk sendiri dan mereka berdua, Eunhyuk kelelahan dan jatuh setelah diselengkat oleh seorang dari mereka.

“Ya, kau anak muda ini balasannya jika kau bersikap kurang ajar terhadap orang tua.” Seorang dari mereka membangunkan Eunhyuk secara kasar dengan menarik kerah bajunya dan memojokkan Eunhyuk ke pohon. Eunhyuk berusaha melawan tapi mungkin tenaganya yang sudah terkuras itu tidak mampu melawan dua orang sekaligus. Aku dan gadis di sebelahku ini hanya bisa menonton perkelahian itu. Aku dan dia tidak ada yang berani mendekat.

“Nona-nona manis, apakah salah seorang dari kalian tidak berniat untuk menolong teman kalian yang kurang ajar ini hah?” tanya seorang ahjussi itu dengan sinis. Aku dan dia sedikit mundur karena ahjussi itu berjalan mendekati kami.

“Ahjussi sialan! Jangan coba mendekati mereka!” teriak Eunhyuk.

BUK. Seorang Ahjussi yang memegangi Eunhyuk itu menendang perut Eunhyuk. Darah muncrat dari mulutnya.

“Kau belum puas hah? Mau kami pukul lagi?” tanyanya pada Eunhyuk.

“Pukul saja aku asalkan jangan ganggu kedua gadis itu!” tantang Eunhyuk.

Dan benar benar saja kedua ahjussi itu memukuli Eunhyuk lagi dengan tanpa ampun. Darah sudah keluar baik dari hidung maupun mulutnya. Aku yang melihat kejadian itu benar-benar geram. Aku tidak bisa melihat Eunhyuk diperlakukan seperti itu sementara aku diam saja seperti ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar untuk mencari sesuatu yang setidaknya cukup keras dan bisa digunakan untuk memukul. Dan yap, akhirnya aku mendapatkan sebalok kayu. Aku mundur perlahan-lahan agar tidak diketahui. Setelah aku dapatkan balok kayu itu, aku segera maju dan memukul kedua ahjussi itu dengan sekuat tenaga. Mereka berdua yang tadinya berniat untuk memukuli Eunhyuk lagi, terpental karena pukulan yang aku berikan. Aku melempar balok kayu itu ke sembarang tempat. Dan segera menghampiri Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, kau tidak apa-apa?” tanyaku panik.

“Untuk apa kau ke sini hah? Sudah kubilang kau jangan mendekat!” teriak Eunhyuk marah. Aku hanya menunduk karena mendengar teriakan Eunhyuk. Jujur aku sekarang lebih takut dengan teriakan Eunhyuk daripada kedua ahjussi menyebalkan itu.

“Ta-tapi aku ingin…”

Bruk. Eunhyuk mendorongku sehingga aku jatuh ke tanah bersamanya. Aku yang kaget hanya memejamkan mataku. Tapi setelah beberapa lama, tidak ada yang terjadi. Akhirnya aku membuka mataku perlahan.

“Eunhyuk-a. Apa yang terjadi?” tanyaku pelan.

“Salah seorang dari mereka ingin memukulmu dengan balok kayu dan kau tidak melihatnya, makanya aku mendorong kau ke tanah. Aku pikir, aku yang akan terkena pukulan itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa.” Jawab Eunhyuk.

“Lalu…apa yang terjadi dengn ahjussi itu?” tanyaku lagi. Jujur aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Posisi Eunhyuk yang berada di atas tubuhku ini menyebabkan kerja otakku tidak beres. Dari dekat aku bisa melihat wajahnya yang babak belur dan darah di mana-mana.

“Rasakan itu! Dasar ahjussi menyebalkan! Awas kalau kau berani menganggu kami lagi!” bukan Eunhyuk yang berkata seperti itu, tapi gadis yang sedari tadi diam di sampingku itu.

“Mereka sudah kuberi pelajaran dengan memukulnya dengan balok kayu berkali-kali. Dan mereka sekarag sudah pergi. Kalian tidak apa-apa?” tanya gadis itu. Ia membantu Eunhyuk berdiri dan kemudian Eunhyuk membatuku untuk berdiri. Aissshh tanganku sakit sekali karena terbentur tanah tadi saat didorong Eunhyuk.

“Ya tidak apa-apa.” Jawab aku dan Eunhyuk nyaris bersamaan.

“Hei bodoh! Mana bisa kau bilang dirimu tidak apa-apa hah? Itu lihat mukamu babak belur begitu!” kataku kesal pada Eunhyuk.

“Aku tidak mungkin kan bilang bahwa aku sakit? Cih mau taruh di mana martabatku sebagai laki-laki?”

“Sudah babak belur begitu masih memikirkan masalah martabat.” Jawabku sinis. Gadis itu hanya tertawa melihat aku dan Eunhyuk. Tunggu tunggu, bukannya gadis itu yang aku temui di rumah sakit waktu itu ya? Yang kekasihnya aku tolong karena kecelakaan itu! Ah iya ini pasti dia.

“Hhmm maaf nona, bukankah kau gadis yang waktu itu bertemu denganku di rumah sakit?” tanyaku pelan-pelan takut salah orang. Gadis itu terlihat mengamati wajahku sebentar lalu membuka suaranya.

“Ah, Jiyeong-ssi. Kim Jiyeong, benar kan?” tebaknya. Ah syukurlah rupanya dia masih ingat, jadi aku tak perlu repot-repot membantunya mengingat.

“Ne. Syukurlah kau masih ingat denganku. Jadi siapa namamu? Kalau tidak salah waktu itu kau belum menyebutkan namamu.” Kataku mengingat-ingat.

“Ha Na. Cho Ha Na.” Jawabnya.

“Ah, jadi namamu Ha Na? Hhmm nama yang bagus.” Timbrung Eunhyuk. “Orangnya juga cantik.” Tambah Eunhyuk lagi. Tch dasar pria, meski sudah babak belur masih saja bisa menggoda wanita.

“Ah terima kasih Eunhyuk-ssi.” Jawab Ha Na malu-malu. Aku kesal melihat pemandangan di depanku ini. Kenapa malah jadi aku yang tak dianggap?

“Eunhyuk-ssi, Jiyeong-ssi, terima kasih banyak telah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kalian.” Kata Ha Na sambil membungkukan badannya.

“Tidak usah berterima kasih begitu Ha Na-ssi, itu kan sudah menjadi tugas seorang pria untuk menolong seorang wanita.” Jawab Eunhyuk. Errrrr sudah babak belur begitu masih saja menggoda Ha Na, dasar menyebalkan. Lihat saja nanti akan aku tambah babak belur di wajahnya.

“Ah ne, cheonmaneyo Ha Na-ssi. Jangan memanggilku formal seperti itu, panggil saja aku Jiyeong.” Balasku.

“Baiklah Jiyeong-a. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Aku pamit duluan ya, ini sudah malam.” Ha Na berpamitan dan sekali lagi membungkukan badannya.

“Ne, Ha Na-ssi! Hati-hati di jalan!” jawab Eunhyuk sambil melambaikan tangannya.

Sepeninggal Ha Na, aku pun ikut-ikutan berjalan meninggalkan Eunhyuk yang masih sibuk melambaikan tangannya. Hhhhh dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae menyebalkan!

“Ya, Jiyeong-a, tunggu aku!” panggil Eunhyuk. “Mukamu kenapa cemberut begitu?” tanya Eunhyuk ketika sudah berhasil menyamakan posisinya denganku.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau cemburu ya ketika aku tadi memuji Ha Na?” tebaknya.

“Tch untuk apa aku cemburu memang?”

“Buktinya wajahmu cemberut begitu.”

“Jangan terlalu percaya diri tuan Lee. Itu kan hakmu untuk memuji seseorang, jadi apa yang harus aku cemburui?”

“Kau mau aku bilang cantik juga?”

“Tidak perlu. Cukup Ha Na saja yang kau bilang cantik.”

“Tuh kan, kau pasti cemburu pada Ha Na.”

“Sudah aku bilang aku tidak cemburu!” teriakku mulai kesal.

“Kau galak sekali sih! Kalau kau memang cemburu katakan saja, Jiyeong-a~”

“Kau mau aku lempar dengan sepatu atau aku pukul dengan balok kayu hah?”

“Aigooo baik-baik aku kalah. Iya aku tidak akan membahas hal ini lagi.”

“Bagus. Awas kalau kau membahas hal ini lagi. Jangan kaget kalau tiba-tiba sepatuku melayang ke arah wajahmu!” ancamku.

“Hhhmm.” Jawab Eunhyuk. “Jadi kau tega membiarkanku pulang dengan keadaan seperti ini? Kau tidak mau mengobatiku?” tanya Eunhyuk tiba-tiba. Ah iya benar juga, aku tidak mungkin tega membiarkannya pulang dengan keadaan seperti itu.

“Kau duduk dulu saja di sini. Aku akan kembali setelah membeli alkohol, obat merah, dan kapas yang setidaknya bisa mengobati lukamu itu.” Kataku sambil menyuruh Eunhyuk duduk di kursi yang kebetulan ada di pinggir jalan.

“Kau mau membelinya di mana? Ini kan sudah malam?” tanya Eunhyuk.

“Apotik tidak mungkin tutup walau sudah jam 12 malam kan?”

“Ah iya kau benar. Yasudah jangan lama-lama cepat kembali.” Kata Eunhyuk.

Aku segera berlari dan mencari apotik terdekat. Semoga benar perkiraanku. Apotik tidak akan tutup walau sudah jam 12 malam.

***

“Eunhyuk-a, maaf membuatmu menunggu lama. Kukira apotik di sekitar sini masih buka, tapi ternyata sudah tutup, jadi aku membelinya di mini market yang buka 24 jam di ujung jalan sana.” Kataku sambil mencoba mengatur nafas karena habis berlari.

“Ne, gwenchanayo. Sini kau duduk dulu, nafasmu jadi terengah-engah begitu karena berlari.” Eunhyuk menggeser duduknya ke ujung kursi agar aku bisa duduk di sampingnya. Aku menurut dan langsung mengambil tempat tepat di sampingnya.

“Sini mana wajahmu biar kuobati. Makanya jadi orang jangan sok pahlawan, dengan beraninya menantang kedua ahjussi tadi. Kau itu benar-benar bodoh! Walaupun mereka itu setengah mabuk, tetap saja mereka berdua dan kau sendiri, sudah bisa dipastikan kau akan kalah. Untung saja aku cepat tanggap, coba kalau tidak, kau pasti sudah habis dihajar mereka!” omelku pada Eunhyuk. Tapi meskipun begitu tanganku tetap bergerak melap bekas darah di hidungnya dan mengobati memar di wajahnya.

“Yak! Appo! Pelan-pelan sedikit!” ringis Eunhyuk. “Kenapa kau mengomeliku sekarang? Bukannya kau tadi menyuruhku untuk menolong gadis itu?” tanya Eunhyuk bingung.

“Iya memang, tapi caranya bukan begitu! Bisa saja kan kau bicara baik-baik dengan ahjussi itu, tidak harus dengan kekerasan. Bagaimana kalau tadi aku tak segera memukul ahjussi itu dengan balok kayu hah? Apa yang akan terjadi padamu? Kau bisa mati tahu dihajar oleh mereka!” aku makin tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Unek-unek yang sedari tadi aku pendam, akhirnya aku keluarkan juga.

“Jadi….kau takut aku mati?” tanya Eunhyuk hati-hati.

Aku terkesiap mendengar pertanyaan Eunhyuk barusan. Aku menyadari memang bahwa ucapanku barusan itu tersirat makna, bahwa aku benar-benar takut kalau Eunhyuk mati karena dihajar oleh kedua ahjussi itu dan alasan itu pula yang mendorongku untuk nekat memukul ahjussi itu dengan balok kayu.

“Ng..ng..ng.. tentu saja aku takut kau mati! Kau itu kan temanku, mana ada teman yang menginginkan kematian temannya sendiri kan? Lagipula kalau kau mati, nanti tidak ada yang mengantarku pulang! Dasar bodoh!” jawabku kesal. Aissshh jinjja kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku? Hah biar sajalah, yang penting Eunhyuk tidak mengetahui perasaanku sebenarnya.

“Kau yang bodoh tapi malah meneriaki orang bodoh.”

“Mwo? Apa maksudmu hah?”

“Jadi, kau takut aku akan mati hanya karena khawatir tidak ada yang mengantarmu pulang, begitu?” Pandangan Eunhyuk yang tadinya melihat bebas, kini malah fokus melihatku, dan sukses membuatku semakin salah tingkah.

“I-iya.” Jawabku terbata. Oh ayolah Kim Jiyeong, mana keberanian dirimu itu hah? Kenapa di saat begini kau malah terlihat seperti orang bodoh?

“Kau pikir itu alasan yang masuk akal? Tidak mungkin alasannya hanya itu. Aku yakin kau takut aku mati, karena kau menyukaiku kan? Dan kau takut akan kehilanganku?” tanya Eunhyuk tepat sasaran.

Glek. Aku hanya bisa menelan ludahku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang aku akui itu alasan bodoh yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Tapi mau bagaimana lagi, hanya alasan itu yang terlintas diotakku saat ini.

“Ti-tidak, aku tidak menyukaimu. Sudah aku bilang kan tadi bahwa kau itu temanku, dan tidak ada seorang teman pun yang menginkan kematian temannya sendiri…apa itu kurang jelas?” aku menjawab sebisa mungkin dan nada bicara sedatar mungkin agar Eunhyuk tak salah tangkap dengan apa yang aku ucap.

“Tapi aku menyukaimu.”

-TBC-

My First and Only [ Part 1 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan tanpa minat di sepanjang jalan Dongdaemun. Sehabis menolong  sepasang kekasih itu malah membuat moodku semakin memburuk. Kasihan sekali si gadis tadi, tepat di hari natal, kekasihnya malah mengalami kecelakaan. Benar-benar tragis.

Berkali-kali aku menendang kaleng minuman kosong yang ada di depanku. Tidak adakah hal menarik yang bisa kukerjakan saat ini? Aku mendengus kesal. Andai aku mempunyai saudara atau teman yang bisa kuajak bertukar pikiran, kuajak adu panco, atau hal-hal menantang lainnya. Aishhhhh Kim Hyuri itu memang tidak berguna. Kerjaannya hanya belajar, belajar, dan belajar. Ani, kalau tidak belajar ia akan pergi kencan dengan kekasihnya, Lee Donghae. Yak aku muak dengan kehidupanku. Aku ingin bebas melakukan sesuatu yang aku suka, tidak selalu dibawah bayang-bayang Hyuri. Iya aku tahu dia memang gadis yang sempurna, cantik, baik hati, lembut, dan tidak suka membuat onar sepertiku, tapi seharusnya eomma tidak membanding-bandingkan diriku dengannya!

Jiyeong, kenapa kau masih tidur jam segini hah?! Lihat kakakmu! Dia sudah membantu eomma di dapur!”

“Jiyeong! Lihat kakakmu ini! Dia selalu mendapat peringkat 1 di kelasnya! Harusnya kau mencontoh kakakmu!”

“Jiyeong, tak bisakah kau bersikap sopan pada eomma mu hah? Contoh kakakmu! Dia selalu sopan dengan eomma!”

“Kali ini kau membuat onar di mana hah?! Bisa tidak kau tidak membuat malu eomma?!”

Ya begitulah setiap hari teriakan eomma padaku. Eomma selalu membela dan memperhatikan Hyuri. Dan aku? Cih bahkan eomma tidak peduli padaku. Mau aku sakit atau tidak, eomma tidak pernah memperdulikanku. Mungkin jika aku mati sekalipun, aku yakin eomma tidak akan menangisi kepergianku. Ya itu semua karena Hyuri sialan itu. Aku benar-benar muak dengannya. Selalu saja dia bersikap baik padaku, tapi aku yakin itu pasti semua dia lakukan untuk mencari perhatian eomma saja. Itu alasan mengapa aku tak betah di rumah. Dan kalau aku suka membuat onar, itu hanya caraku untuk mendapat perhatian dari eomma, karena tidak ada cara lain selain itu.

***

            Sudah seharian aku jalan-jalan tanpa tujuan. Aku tak peduli jika hari ini hari natal sekalipun. Memangnya apa yang spesial? Bagiku tidak ada. Tapi mungkin bagi Hyuri sialan itu ada. Ya, apalagi selain kencan dengan kekasihnya itu?

Aku menatap pakaianku yang penuh bekas darah ini. Aishhhhh aku yakin sekali, pasti eomma akan memarahiku lagi.

***

“Kim Jiyeong! Dari mana saja kau?” teriak eomma ketika aku baru tiba di rumah.

“Cih tumben sekali eomma peduli padaku? Sejak kapan eomma peduli dengan apa yang aku lakukan hah?”

“Dasar anak kurang ajar! Cepat katakan kau darimana!”

“Jalan-jalan.” Jawabku singkat.

“Kau membuat onar di mana lagi hah? Siapa lagi yang kau ajak berkelahi? Ck bahkan bekas darahnya masih menempel seperti itu dibajumu.”

“Apa peduli eomma padaku?! Ah ya asal eomma tahu, aku sehabis menolong orang yang kecelakaan.”

“Jadi, sejak kapang seorang Kim Jiyeong suka menolong orang?”

“Terserah apa kata eomma, aku tak peduli.” Aku berjalan meninggalkan eomma dan segera menuju kamarku.

“KIM JIYEONG! EOMMA BELUM SELESAI BICARA!” Lagi-lagi eomma berteriak padaku.

“Hhhmm…” jawabku malas sambil tetap tidak menoleh.

“Lusa, kau akan satu sekolah dengan kakakmu.”

“MWORAGO? Apa yang barusan eomma katakan hah? Aku satu sekolah dengan Hyuri? Yak! Yang benar saja!” balasku tak terima.

“Dia kakakmu! Panggil dia eonni!”

“Eomma, tapi kenapa? Aku betah dengan sekolahku sekarang. Lagipula aku tidak mau satu sekolah dengan Hyuri!” protesku.

“Kali ini aku tidak mau kau bantah. Kau akan terus membuat onar jika tidak ada yang mengawasimu kan?”

“Eomma! Jangan bilang bahwa kau menyuruh Hyuri untuk mengawasiku?”

“Sudah kubilang panggil dia eonni! Ya, eomma memang menyuruhnya mengawasimu! Kau tahu eomma sangat malu mempunyai anak sepertimu! Selalu membuat onar di mana-mana! Kau pikir mau taruh dimana nanti wajah eomma, ketika bertemu dengan relasi bisnis eomma hah?”

“Ah jadi alasannya itu? Baiklah kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa tidak dari dulu saja eomma membuangku? Oh atau sekalian kenapa eomma tidak menggugurkanku saja ketika aku masih dalam kandungan…”

PLAK. Eomma menamparku. Pipiku terasa panas. Bukan hanya pipiku tapi hatiku juga.

“Berhentilah jadi anak yang kurang ajar! Kali ini eomma benar-benar marah padamu. Eomma tidak mau tahu, lusa kau sudah harus pindah sekolah!”

“Aku tetap tidak mau. Tapi jika eomma memaksa, aku akan mengurung diriku di kamar, dan tidak akan keluar sampai eomma membiarkanku tetap sekolah di sekolahku yang sekarang!” Aku berbalik dan meninggalkan eomma di ruang tamu. Aku tidak main-main dengan kata-kataku barusan. Biarlah kalau perlu aku mati kelaparan saja di dalam kamar.

“Terserah apa yang mau kau lakukan. Keputusan eomma sudah tidak bisa diganggu gugat.”

BLAM. Aku membanting pintu kamarku. Aku menenggelamkan wajahku di bantal dan menangis sekuat-kuatnya. Mengapa eomma tidak pernah mengerti perasaanku? Kau tahu? Rasanya sangat menyakitkan saat orangtua kita sendiri mengatakan malu mempunyai anak seperti kita. Jika eomma tetap memaksaku untuk satu sekolah dengan Hyuri, aku benar-benar tidak akan keluar dari kamar ini!

            Cukup lama aku menangis. Mungkin karena aku lelah setelah menangis, aku pun tertidur.

***

Kim Hyuri’s POV

“Ya, oppa, kau tidak mau masuk dulu?” tawarku pada Donghae oppa.

“Anio, tidak usah chagi, aku langsung pulang saja, lagipula ini sudah malam aku takut akan menganggu eommamu.” Tolaknya lembut.

“Ah baiklah oppa. Kau hati-hati di jalan ya!”

“Ne Hyuri-ah~ Aku pulang dulu ya. Ah semoga kau mimpi indah.” Donghae oppa mengecup pipiku singkat.

“Ya! Oppa apa-apaan kau?”

“Wae? Kau malu? Aku ini kan pacarmu, kenapa kau malu?”

“Tidak aku tidak malu. Hanya saja kau terlalu tiba-tiba!”

“Aishhh jangan begitu Hyuri-ah~ bukannya kau suka kejutan dariku?”

“Oppa! Kau bilang tadi katanya mau pulang! Sudah sana pulang!”

“Jadi sekarang kau mengusirku?”

“Bukan begitu oppa, habis kau menyebalkan sekali sih.”

“Arra Hyuri-ah~ aku hanya bercanda, tidak usah cemberut begitu dong.”

“Hhhmm.”

“Nah begitu baru cantik. Sudah aku pulang ya, sampaikan salamku untuk eomma dan dongsaengmu.”

“Ne, akan kusampaikan nanti pada mereka. Hati-hati di jalan oppa.”

“Ne, annyeong Hyuri-ah~”

Aku menatap mobil Donghae oppa yang menjauhi rumahku. Aaah benar-benar natal yang berkesan, ucapku dalam hati. Aku segera masuk ke dalam rumah, karena cuaca di luar benar-benar dingin.

“Hyuri-ya~ kau sudah pulang?” tanya eomma dari meja makan.

“Sudah eomma.” Jawabku.

“Sudah makan?” tanya eomma lagi.

“Ah kebetulan sudah tadi. Ohya, di mana Jiyeong? Dia belum pulang? Kok tumben dia tidak ikut makan bersama eomma?”

“Biarkan saja adikmu. Mungkin dia sudah tidur. Sudah lebih baik kau lekas mandi dan istirahat.”

“Ne eomma.” Aku mengiyakan eommaku dan segera menuju kamarku. Aissshh pasti Jiyeong dan eomma bertengkar lagi.

Aku berhenti tepat di depan kamar Jiyeong. Aku yakin sekali pasti dia belum makan malam. Lebih baik aku bangunkan dia.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a ayo bangun. Kau pasti belum makan malam kan?” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar suara Hyuri dari luar. Mau apa dia ke sini? Ah pasti mau sok peduli lagi padaku.

“Pergi kau! Jangan ganggu aku! Aku tidak mau makan malam!” usirku dari dalam kamar.

“Ya, kalau kau tidak makan malam, kau bisa sakit nanti. Ayolah Jiyeong-a~ Kau mau aku ambilkan makananmu ke sini?”

“Sudah kubilang aku tidak mau! Lalu kenapa kalau aku sakit hah? Memangnya ada yang peduli? Bukannya justru bagus kalau aku sakit?”

“Tentu tidak Jiyeong-a~ Aish kau kenapa sih? Baiklah aku akan mengambilkan makan malammu sekarang.”

“KIM HYURI BERHENTILAH SOK PERHATIAN DAN PEDULI PADAKU! AKU TAK BUTUH ITU! LEBIH BAIK KAU TAK USAH GANGGU AKU DAN KEMBALI SAJA KE KAMARMU!” teriakku geram.

“Jiyeong-a~ asal kau tahu, aku tak pernah sekalipun sok perhatian atau sok peduli padamu, aku ini kakakmu, aku sangat menyayangimu, jadi tentu saja jika aku perhatian dan peduli padamu. Kalau kau tak mau makan malam yasudah itu terserah padamu, tapi kalau kau sampai jatuh sakit, aku tak akan membiarkanmu.”

Aku tak membalas ucapannya. Aku sudah terlalu muak dengan semua kata-kata manis darinya. Cih, apa katanya? Dia menyayangiku? Wajar jika dia perhatian dan peduli padaku? Pasti lagi-lagi itu caranya untuk menarik perhatian eomma.

“Selamat malam, Jiyeong-a~” katanya lagi.

Ah akhirnya dia pergi juga. Sakit telingaku mendengar setiap uacapannya. Ah, aku memegangi perutku yang tiba-tiba sakit. Aishhh, aku lapar sekali. Aku segera bangkit dan membuka lemari tempatku biasa menyimpan makanan. Sial! Persediaan makananku habis! Aigooo aku lapar sekali. Apa aku lebih baik keluar sebentar ya untuk mengambil makanan dan segera kembali lagi ke kamar? Yak! Apa yang kau pikirkan! Tidak boleh! Bagaimana nanti jika eomma atau Hyuri memergokiku sedang mengambil makanan? Ani itu tidak boleh terjadi. Kim Jiyeong fighting! Yaa, setidaknya aku harus bertahan sampai lusa nanti, kataku lemah.

Aku bolak-balik mengganti channel tv. Aisshhh kenapa acara tv tidak ada yang bagus sih? Piiip. Aku mematikan tv dan kembali membaringkan tubuhku di kasur. Mungkin tidur bisa menghilangkan rasa laparku ini.

Sudah berkali-kali aku berusaha mencoba tidur, tapi mataku tidak mau terpejam juga. Arrrggghhh! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Akupun tidak bisa tidur karena perutku terus berbunyi minta diisi. Ah iya! Kata orang minum air putih bisa membantu untuk mengurangi rasa lapar. Aigooo kenapa baru teringat sekarang sih? Aku melirik ke arah galon air yang berada tepat di sebelah meja belajarku. Huh syukurlah airnya masih terisi penuh. Tak perlu menunggu waktu lama, aku segera mengambil gelas yang kebetulan sudah ada di sana dan meminum air sebanyak-banyaknya, ya setidaknya sampai rasa laparku berkurang.

“Hah sudah sudah aku tak kuat minum lagi, perutku sudah hampir mau meledak rasanya.” Aku menghentikan kegiatanku itu dan kembali merebahkan tubuhku dikasur. Lagi-lagi mencoba untuk tidur.

***

“…eomma kau keterlaluan!” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar teriakan Hyuri dari bawah.

“Masa aku tidak boleh membawakan sarapan untuk Jiyeong? Dia sudah tidak makan dari kemarin eomma!” terdengar suara Hyuri lagi. Bisa tidak sih perempuan itu tidak mengangguku? Aku memegang kepalaku yang sedikit sakit. Apa dia tidak tahu? Aku ini baru bisa tidur 3 jam yang lalu! Aishhh ini juga sebenarnya juga salahku. Aku tak bisa tidur karena bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil karena minum terlalu banyak.

“Biarkan saja adikmu itu! Itu salahnya sendiri kenapa tidak mau makan! Dan kau, sejak kapan kau berani berteriak pada eomma seperti itu? Apa kau sudah ketularan adikmu hah?” balas eomma pada Hyuri.

Hah, benarkan apa kataku. Eomma memang tidak peduli padaku, dan tidak akan pernah peduli padaku. Lihat? Bahkan dia tega membiarkanku kelaparan dan melarang Hyuri untuk membawakan sarapanku. Yah meskipun aku akan menolak sarapan yang nanti akan dibawakan Hyuri padaku.

“Aniyo eomma, tidak maksudku begitu. Aku hanya takut Jiyeong sakit.” Kata Hyuri lagi.

“Aku bilang tidak usah ya tidak usah! Kau itu terlalu baik padanya! Dia itu tidak pernah menghormatimu sebagai kakak, memanggilmu saja tanpa embel-embel eonni. Sudah biarkan saja, aku ingin memberikan pelajaran padanya. Awas kalau kau sampai berani memberinya sarapan pagi ini!” ancam eomma.

“Ne eomma.” Jawab Hyuri akhirnya. Aku tahu tidak akan ada yang bisa membantah eomma, termasuk Hyuri sekalipun.

“Yasudah, eomma berangkat kerja dulu. Mungkin eomma akan pulang larut. Kau jaga dirimu dan rumah ini baik-baik ya.” Ucap eomma.

Aku tersenyum miris di kamarku. Mana ada eomma seperti itu? Harusnya dia itu mengatakan, “Kau jaga dirimu dan adikmu baik-baik ya.” Aku jadi ragu sebenarnya aku ini anaknya apa bukan sih? Ah biarkanlah, lagipula dari awal aku memang sudah tak dianggapnya sebagai anak. Lebih baik aku lanjutkan tidurku, kepalaku ini pusing sekali rasanya.

***

Kim Hyuri’s POV

Eomma keterlaluan. Aku tahu memang Jiyeong itu suka membantah pada eomma, tapi kenapa beliau sampai tega membiarkan Jiyeong kelaparan? Maafkan aku eomma, sekali ini saja aku melanggar perintahmu. Aku segera menyiapkan sarapan untuk Jiyeong dan mengantarkannya ke kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a~ kau sudah bangun belum? Ini aku bawakan sarapan untukmu.” Kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.

Tidak terdengar jawaban dari dalam. Apa dia masih tidur?

“Jiyeong-a~” panggilku lagi.

“Hmmm.” Ucapnya dari dalam kamar.

“Oh ternyata benar kau sudah bangun. Ini aku bawakan sarapan untukmu. Kau pasti lapar kan? Perutmu belum diisi apapun sejak semalam.”

“Ya. Taruh saja di depan kamarku. Nanti akan kuambil.”

“Ne. Kau jangan sampai tidak makan ya.” Aku meletakkan nampan berisi sarapan itu di depan kamar Jiyeong. Ada apa dengannya? Mengapa reaksinya seperti itu? Aku kira dia akan memakiku seperti semalam. Sudahlah itu tidak penting, yang penting dia mau makan.

“Ya, Jiyeong-a~ kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku.” Kataku lagi. Jujur aku cemas dengan kondisi Jiyeong sekarang. Aku takut dia sakit.

“Tidak usah repot-repot. Aku tidak akan apa-apa.” Jawab Jiyeong.

Aku menarik nafasku. Sepertinya aku tidak usah cemas padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

            Aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Baguslah dia sudah pergi. Andai saja kepalaku tak pusing begini, mungkin aku akan kembali memakinya seperti semalam. Cih, memangnya siapa yang akan memakannya? Aku bahkan tidak berniat untuk menyentuhnya. Biarlah makanan itu menjadi basi dengan sendirinya. Malah sekarang aku tak mempunyai selera makan. Yang aku rasakan sekarang itu perutku mual dan kepalaku pusing. Lebih baik aku melanjutkan tidurku saja. Siapa tahu ketika bangun nanti aku merasa lebih baik.

***

Aku melirik ke arah jam wekerku. Ah sudah jam 6 pagi. Mwo?! Jadi aku tidur selama itu? Hahaha aku seperti mayat hidup saja. Tidak ada kan manusia normal yang mampu tidur selama itu selain aku? Ya tapi kenapa kepalaku makin bertambah sakit? Lebih-lebih sekarang aku menggiggil kedinginan. Tidak. Jangan katakan kalau aku sakit! Aishhh aku tidak mungkin sakit. Tapi sungguh badanku tidak enak. Untuk mengangkat kepala saja rasanya sakit sekali. Aigooo, mana hari ini aku harus masuk sekolah. Masuk ke penjara maksudku. Aishh pasti sebentar lagi eomma akan masuk ke kamarku dan meneriakiku agar segera bangun dan berangkat sekolah bersama Hyuri.

“KIM JIYEONG CEPAT BUKA PINTU KAMARMU!” Yap. Tepat sekali duganku. Itu suara eomma yang memaksaku untuk membuka pintu kamarku.

“Tidak dikunci.” Jawabku lemah. Jujur untuk bicarapun tenggorokanku terasa sakit.

Setelah membuka kasar pintu kamarku, eomma dan lagi-lagi Hyuri masuk ke kamarku. Eomma memarahi aku kenapa belum bangun dan bersiap-siap untuk sekolah.

“Kau mau begitu sampai kapan hah?”

Aku tidak menjawab. Aku malah meringkuk lagi ke dalam selimutku.

“Jawab aku, Kim Jiyeong!”

“Aku sakit eomma.” Jawabku pasrah. Aku tidak mau bertengkar dengan eomma dalam kondisiku yang seperti ini.

“Apa kau bilang kau sakit? Seorang anak seperti kau bisa jatuh sakit? Hah aku tidak percaya! Bilang saja kau tidak mau pergi ke sekolah bersama kakakmu kan, jadi kau pura-pura sakit?”

“Tidak, eomma, tapi aku benar-benar sakit.” Jawabku serak. Mungkin perasaan seseorang akan jauh lebih sensitif jika sedang sakit. Ya inilah yang aku rasakan. Entah kenapa air mataku sudah mendesak ingin keluar mendengar perkataan eomma barusan, padahal biasanya aku tak gentar dengan perkataan eomma seperti apapun. Aku kembali merapatkan selimutku, agar eomma tidak bisa melihat aku menangis.

BRAK. Tiba-tiba eomma menarik selimutku.

“Aku tidak percaya padamu! Cepat bangun dan mandi. Aku tidak mau Hyuri terlambat karena harus menunggumu terlalu lama.”

“Ya eomma. Jangan terlalu kasar seperti itu. Itu lihat wajah Jiyeong pucat sekali, dia pasti benar-benar sakit.” Hyuri akhirnya membuka suara.

“Jangan coba-coba kau membelanya di depanku! Aku tahu persis wataknya. Itu pasti hanya akal-akalannya saja supaya aku kasihan padanya.” Kali ini air mataku benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Aku menangis.

“Wah wah sekarang kemampuan aktingmu sudah meningkat Jiyeong-a.” Kata eomma lagi. Aku tak suka mendengar nada saat dia mengatakan itu. “Tak usah repot-repot kau keluarkan air matamu itu, aku tak akan tertipu olehmu. Ah ya dan caramu untuk menarik perhatianku salah besar. Sekarang cepat turun dari kasurmu dan segera mandi!” perintah eomma sambil menyeretku turun dari tempat tidur.

Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Hatiku benar-benar sakit.

“Eomma…aku tahu sekeras apapun aku berusaha, aku tak akan pernah mendapatkan perhatianmu. Sekeras apapun aku mencoba, kau tak akan pernah menganggapku sebagai anak. Aku tahu aku hanya beban bagimu dan Hyuri. Aku hanya akan mempermalukan keluarga ini. Aku tahu aku selalu membantah perintah eomma dan maafkan aku karena aku tidak bisa seperti Hyuri. Baik untuk kali ini aku akan menuruti kemauan eomma dengan satu sekolah dengan Hyuri. Ya untuk kali ini saja. Setidaknya dengan begitu kau akan memandangku sedikit kan, eomma?” kata-kataku barusan meluncur dari mulutku diiringi dengan isak tangisku. Bodohnya aku! Kenapa aku malah bersikap lemah seperti ini sih?

“Darimana kau belajar kata-kata seperti itu? Jangan harap aku tersentuh dengan perkataanmu barusan. Kau benar, selama kau tidak seperti Hyuri, kau tidak akan mendapat perhatianku.” Aku bingung apa ada seorang ibu yang berkata seperti ini di depan anaknya sendiri? Ani aku lupa, aku ini kan bukan anaknya.

“Eomma, sudahlah, kenapa malah jadi bertengkar seperti ini? Katanya kau tidak mau aku terlambat, tapi jika eomma terus memarahi Jiyeong, dia kan jadi tidak bisa bersiap-siap. Ayo keluar eomma. Aku sudah siapkan sarapan, lebih baik kita menunggu Jiyeong di bawah.” Lerai Hyuri.

“Jiyeong-ah, sudah lebih baik kau cepat bersiap-siap. Aku dan eomma akan menunggu kau dibawah.” Kata Hyuri lagi.

“Aniyo, Hyuri-ssi, tidak usah repot-repot. Kau berangkat duluan saja. Eommamu ini kan takut kau terlambat. Aku biar naik bis saja nanti.”

“Tidak bisa. Aku akan menunggumu. Bagaimana jika kalau nanti kau tiba-tiba pingsan di jalan? Lihat wajahmu pucat sekali.”

“Hyuri! Sudah kalau dia tidak mau biarkan saja! Benar apa katanya, eomma tidak mau kau terlambat. Kajja, kita sarapan dan segera berangkat.” Kata eomma lagi.

Eomma segera menarik Hyuri keluar dari kamarku. Aku hanya menatap kepergian mereka dengan hati terluka. Aku lupa menanyakan sesuatu pada eomma. “Apakah jika aku mati sekalipun, dia tetap tidak akan memperhatikanku?”

***

Aku keluar dari kamarku setelah selesai bersiap-siap dan segera menuju ruang tamu. Aku penasaran, apakah Hyuri benar menungguku apa tidak. Begitu aku tiba di ruang tamu, tak kudapati eomma ataupun Hyuri. Ya, mereka benar-benar meninggalkanku.

            Aku berjalan lemas keluar rumah dan menuju halte bis. Jujur saja, kepalaku pusing sekali, dan lagi-lagi aku tidak sarapan. Ah masa bodoh, lagipula tidak akan ada yang peduli denganku. Aku melirik jam tanganku. Aish setidaknya, jika bis datang tepat waktu aku tidak akan terlambat. Ah pasti hari-hariku disekolah nanti akan menjadi lebih suram. Ya, satu sekolah dengan Hyuri adalah satu-satunya hal yang tidak aku inginkan. Tak sampai 10 menit kemudian, akhirnya bis yang kutunggu datang. Segera saja aku masuk ke dalam bis dan syukurlah untung aku masih mendapat tempat duduk kosong.

***

Kim Hyuri’s POV

“Hyuri-ya~ katanya mulai hari ini adikmu akan pindah ke sini? Di mana dia? Aku tidak melihatnya sedari tadi. Kau tidak berangkat bersamanya?” tanya Donghae oppa.

“Tidak oppa. Tadi dia memaksa untuk berangkat sendiri.” Jawabku.

“Ah jadi itu yang membuatmu berdiri terus dipintu masuk ini? Kau menunggu adikmu benar? Lalu apa yang kau cemaskan? Aku lihat kau gelisah daritadi.”

“Dia sedang sakit oppa. Tapi eomma memaksanya untuk tetap sekolah.”

“Jadi hubungan eomma dan adikmu belum membaik juga?”

“Malah justru lebih buruk dari sebelumnya.” Jawabku lemas.

“Jangan sedih begitu Hyuri-ya~ aku yakin nanti suatu saat mereka pasti bisa berbaikan.”

“Ya aku harap begitu oppa.”

“Ya! Lihat itu adikmu datang!” kata Donghae oppa yang membuatku langsung mencari-cari keberadaan Jiyeong.

“Benar katamu, Hyuri-ya~ dia pucat sekali.” “Ya ya itu lihat dia berjalan ke arah kita.” Kata Donghae oppa lagi.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aish aku baru sampai tapi sudah disambut oleh makhluk yang paling tidak aku harapkan kehadirannya.

“Jiyeong-ah~ kau sudah sampai. Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya sok perhatian padaku.

“Tidak usah sok perhatian padaku Hyuri-ssi. Memangnya kalau aku kenapa-kenapa, kau peduli hah?”

“Ya aku tidak sok perhatian padamu. Sudah kubilang aku ini kakakmu! Jadi wajar jika aku memperhatikanmu.”

“Tapi aku tak butuh perhatian darimu. Ah iya, aku mohon dengan sangat padamu, tolong kau jangan bilang kepada siapapun bahwa aku ini adikmu. Aku tidak mau mendapat perhatian yang berlebihan dari orang-orang karena tahu aku ini adikmu. Kau mengerti, Hyuri-ssi?”

“Tapi kenapa begitu? Apakah hubungan kita seburuk itu, sampai-sampai kau tidak mau mengakuiku sebagai kakakmu?”

“Bukankah hubungan kita memang tidak pernah baik dari awal? Apa alasanku masih kurang jelas? Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak mau mendapat perhatian berlebih dari orang-orang hanya karena tahu bahwa aku adikmu. Aku ingin menjadi diriku sendiri!”

“Baiklah jika itu maumu. Sekarang katakan padaku di mana kelasmu? Biar aku antar.”

“Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil yang ke mana-mana harus diantar.” “Ah Donghae-ssi maaf jika aku berkata tidak sopan pada kekasihmu. Jangan tanya alasannya, karena kau pasti sudah tahu. Aku duluan.” Kataku pada mereka berdua.

***

Errghhh ternyata sekolah ini lumayan besar. Aku sudah berkeliling untuk mencari di mana kelasku tapi tetap tidak kutemukan. “TEEEEENGG!!! TEEEENGG!!!” Aish jinjja! Bel sudah berbunyi dan aku belum menemukan kelasku! Aduh bagaimana ini? Aku panik dan terus mencari di mana kelasku. 5 menit setelah bel berbunyi, akhirnya aku menemukan kelasku. Dengan takut-takut aku mengetuk pintu dan melangkah masuk.

“Annyeong songsaengnim, maaf aku terlambat.” Kataku ketika memasuki kelas.

“Ah jadi kau murid baru itu ya? Gwenchana, ayo sini lekas masuk.” Ah syukurlah ternyata songsaengnim ini tidak galak seperti yang kubayangkan.

“Anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Nah sekarang perkenalkan dirimu.” Kata songsaengnim itu lagi. Ini sebenarnya sekolah menengah atas atau taman kana-kanak sih? Masa aku harus memperkenalkan diriku segala? Aish ini memalukan.

“Ah ye songsaengim.” Jawabku akhirnya dan aku pun mulai memperkenalkan diriku.

“Annyeong. Joneun Kim Jiyeong imnida. Bangapseubnida.” Ujarku sambil membungkukkan badan.

“Nah sekarang kau pilih di mana kau mau duduk.” Ujar Songsaengnim itu lagi. Ya, songsaengnim itu bodoh atau apa sih? Jelas-jelas bangku kosong yang tersisa hanya satu! Kenapa menyuruhku untuk memilih tempat duduk?

“Ne songsaengnim.” Jawabku. Aku segera mengambil tempat duduk yang tersisa di belakang. Aku suka posisi di belakang. Setidaknya aku tidak langsung kelihatan jika nanti aku tertidur di kelas.

“Baiklah anak-anak mari kita lanjutkan pelajaran kita.” Kata songsaengnim yang kembali meminta para siswa untuk kembali fokus pada pelajaran.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kata seorang pria di sebelahku yang memperkenalkan dirinya sebagai Eunhyuk.

Aku hanya tersenyum dalam menanggapi ucapannya. Aku tidak ingin terlalu banyak bicara. Jujur saja, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah sekarang.

***

Eunhyuk’s POV

Aku melihat gadis itu mendekat ke arahku. Ya pasti dia akan duduk di sebelahku. Tapi kenapa sedari tadi dia menunduk terus?  Ah itu bukan urusanku. Begitu dia duduk di bangkunya aku segera menyapanya dan memperkenalkan diriku.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kataku padanya.

Dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Astaga wajahnya pucat sekali. Apa karena itu dia menunduk sedari tadi? Aku tidak berani menganggunya lagi. Lagipula sorot wajah gadis itu menunjukkan bahwa perasaannya sedang tidak baik. Apa yang terjadi dengannya ya? Yak! Apa urusanmu Lee Hyuk Jae! Sudah, sudah lebih baik aku kembali fokus pada pelajaran yang disampaikan songsaengnim.

Selama pelajaran berlangsung, sesekali aku melirik ke arahnya. Dia terlihat benar-benar sedang tidak enak badan. Sedari tadi dia merebahkan kepalanya ke meja. Dan aku tidak bohong jika wajahnya pucat sekali. Persis seperti mayat hidup. Aku ingin bertanya padanya, tapi aku segera mengurungkan niatku. Lebih baik aku tak usah ikut campur urusannya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aissshhh kapan sih pelajaran yang membosankan ini berakhir. Aku sama sekali tak berminat untuk memperhatikan apa yang dijelaskan songsaengnim di depan, apalagi mencatatnya. Kepalaku benar-benar terasa pusing, jadi selama pelajaran berlangsung, aku merebahkan kepalaku di atas meja.

“Yak anak-anak apa kalian mengerti tentang materi ini?” tanya songsaenim.

“Ye songsaengnim.” Jawab murid-murid serempak.

“Baguslah, kalau kalian mengerti aku akan memberi tugas pada kalian. Buka buku kalian halaman 123, dan lihat disitu ada latihan soal yang berjumlah 100 soal kan? Nah kalian kerjakan itu dan jangan lupa besok dikumpulkan!” perintah songsaengnim lagi.

“Ye, songsaengninm.” Jawab murid-murid yang lagi-lagi serempak.

Mwo? Apa-apaan mereka? Mengapa mereka tidak menolak diberi tugas sebanyak itu hah? Aku sih tidak mau. Ya ya andai saja ini bukan hari pertamaku bersekolah disini, aku pasti akan langsung protes pada songsaengnim itu! Enak saja dia memberi tugas sebanyak itu, dia pikir aku ini robot apa? Gerutuku dalam hati.

“Ya, Kim Jiyeong, apa kau sudah mengerti tugasmu?” tanya songsaengnim tiba-tiba.

“Ah ne, aku mengerti songsaengnim.” Tch, kenapa dia menanyaiku seperti itu hah? Lihat kan sekarang aku jadi pusat perhatian siswa lain. Seakan-akan aku ini siswi pindahan baru yang sangat bodoh.

“Anak-anak kita cukupkan pelajaran kita hari ini. Jangan lupa kalian kerjakan tugas kalian di rumah.” Songsaengnim itu berkata sambil merapikan barang bawaannya.

“Gamsahamnida songsaengnim.”

TEEEEENGGG!!! TEEEEENGGG!!!” Baguslah akhirnya bel tanda istirahat berbunyi juga. Setidaknya sekarang aku bisa tidur di kelas. Baru saja aku ingin melaksanakan niatku, lelaki yang bernama Eunhyuk itu menanyaiku dengan pertanyaan yang tidak penting, menurutku.

“Jiyeong-ssi, kau tidak ke kantin?”

“Tidak.”

“Kau kenapa? Sakit?”

“Tidak.”

“Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

“Aku bilang aku tidak sakit! Sudah jangan mengangguku!”

“Ah mianhae, tapi aku hanya khawatir padamu, aku lihat wajahmu sangat pucat, makanya aku pikir kau sakit.”

“Tidak usah minta maaf dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Eunhyuk-ssi. Lebih baik sekarang kau urusi saja urusanmu, jangan ganggu aku, aku ingin tidur!” usirku padanya.

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk akhirnya.

Eunhyuk’s POV

“Baiklah.” Jawabku akhirnya. Aku segera meninggalkan kelas dan bergegas ke kantin.

Aigooo gadis itu benar-benar galak. Bisa-bisanya dia mengusirku seperti tadi! Awas saja lain kali akan kubalas perbuatannya! Aku melonggarkan ikatan dasiku yang terasa sangat mencekik leherku ini. Ah begini lebih baik. Aku tidak suka berpenampilan rapi seperti murid-murid lain, toh justru dengan penampilanku seperti ini, banyak yeoja-yeoja yang menyukaiku kan? Hahaha.

“Ya Hyukkie oppa! Kau mau ke mana?” Aisshh suara yeoja menyebalkan itu lagi. “Oppa tunggu aku!” katanya lagi.

Aku tetap tak menghentikan langkahku, malah makin mempercepat langkahku. Aku malas berurusan dengan yeoja satu itu. Ya aku akui dia mantanku, tapi tidak bisakah dia berhenti merecokiku?

“Oppa, kenapa terburu-buru begitu sih?” ucapnya yang kini sudah ada di sampingku.

“Aku lapar, ingin segera membeli makanan ke kantin.”

“Ya, jadi kau sudah merubah sikapmu menjadi dingin seperti ini terhadapku oppa? Kau jahat! Kau bilang meskipun sudah putus, kau tetap akan bersikap baik padaku.”

“Memangnya sekarang aku tak bersikap baik padamu, Ji Eun-ssi?

“Kau bahkan memanggilku dengan embel-embel –ssi! Kau benar-benar keterlaluan oppa! Kau jahat!”

“Lalu aku harus memanggilmu dengan embel-embel apa hah? Chagiya? Iya begitu maumu?”

“Aku ingin kita seperti dulu oppa.” Ucap Ji Eun yang kini sudah mulai menangis.

“Hah, jangan mimpi Ji Eun-ssi, kita tak akan bisa seperti dulu. Kau yang mengkhianatiku waktu itu.”

“Tapi aku kan sudah minta maaf.”

“Apa kau pikir minta maaf saja sudah cukup hah? Sudahlah minggir kau! Aku jadi membuang-buang waktu istirahatku yang berharga ini dengan bicara denganmu.”

“Jadi sekarang waktu istrirahatmu lebih berharga dariku?”

“Tepat sekali! Sudah sana minggir, dan aku mohon padamu jangan mengangguku lagi.”

“Baik jika itu maumu, aku tak akan menganggumu, tapi aku pastikan kau akan kembali bertekuk lutut padaku, tuan Lee.” Kini nada bicaranya berubah menjadi ancaman.

“Kau mengancamku? Tch, coba saja kalau kau bisa.” Tantangku balik padanya. Aku pun tak perlu berpikir lama, aku segera meninggalkannya dan melanjutkan niat awalku, pergi ke kantin.

“Sialan! Tunggu saja tanggal mainnya dan aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku!” geram Ji Eun.

Aku tak memperdulikannya. Dasar gadis agresif, harusnya kan lelaki yang mengejar wanita, kenapa malah sebaliknya?

“TEEEEENGG!!! TEEEEENGG!!!”

Aissshh dasar! Gara-gara Ji Eun, aku jadi tak sempat ke kantin! Dasar wanita menyebalkan! Aku mengurungkan niatku ke kantin dan kembali menuju kelasku. Ah syukurlah aku tiba lebih dulu sebelum songsaengnim. Aku segera menuu tempat dudukku dan mendapati Jiyeong masih tertidur.

“Ya, apa dia tidak mendengar bunyi bel berbunyi? Atau bunyi bel itu masih kurang kencang untuk membangunkannya?” tanyaku dalam hati. Dengan hati-hati aku membangunkan Jiyeong.

“Jiyeong-ssi, bangunlah. Bel sudah berbunyi. Kau mau kena marah songsaengnim karena melihatmu tertidur di kelas?” aku membangunkannya pelan-pelan sekali, takut dia akan marah. Tapi, dia tak segera menanggapiku. Ah baiklah mungkin dia benar-benar tak mau kuganggu. Lebih baik aku kembali ke tempat dudukku.

“Eunhyuk-ssi…bisakah aku minta tolong padamu?” dia menarik tanganku tiba-tiba. Astaga tangannya dingin sekali! Dan kenapa suaranya serak begitu?

“Ya, kau kenapa? Kau sakit?” refleks aku menempelkan telapak tanganku di dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya. “Yak! Badanmu panas sekali! Ayo aku antarkan kau ke ruang kesehatan!” kataku lagi.

“Bukan itu yang aku minta padamu. Tolong kau halangi aku dari songsaengim, aku ingin tidur di kelas, kepalaku pusing sekali, bisa kan?”

“Tapi badanmu itu panas sekali! Lebih baik kau istirahat di ruang kesehatan.”

“Jangan berteriak seperti itu. Aku hanya pusing! Tidak usah berlebihan. Kalau kau tidak bisa menolongku, yasudah tidak apa-apa. Biarkan sekalian songsaengnim melihatku, dan mengeluarkanku dari kelas.”

“Aish bukan begitu maksudku. Baik-baik aku akan menolongmu.”

“Gomawo Eunhyuk-ssi.” Aku masih bisa melihatnya tersenyum ditengah-tengah wajah pucatnya itu.

Belum sempat aku menjawabnya, songsaengnim sudah memasuki kelas. Aku segera duduk di bangkuku dan membantu gadis itu. Entah bagaimana caranya aku sendiri juga bingung, tapi aku sudah berjanji padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Baguslah laki-laki itu mau menolongku. Satu-satunya alasan mengapa aku tak mau di ruang kesehatan adalah karena aku takut bertemu dengan Hyuri. Kalau tidak salahkan dia itu petugas kesehatan di sekolah ini, makanya aku tidak mau dibawa Eunhyuk ke ruang kesehatan meskipun kepalaku ini benar-benar pusing.

“Ya! Kau jangan menengok ke arahku terus! Nanti bisa ketahuan! Katanya kau mau menolongku, tapi jika kau begitu sama saja! Pada akhirnya aku akan ketahuan juga!” protesku pelan pada Eunhyuk yang sedari tadi menengok ke arahku.

“Aku hanya memastikan keadaanmu.” Bisiknya pelan. Entah kenapa tapi aku mendengar nada khawatir dari suaranya.

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasku. Eunhyuk menuruti perintahku. Dia tidak menganggu lagi. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidurku lagi.

Eunhyuk’s POV

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasnya. Aku menuruti perintahnya dan tidak menganggunya lagi. Aku membiarkannya untuk istirahat.

Selama pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi. Aku sebenarnya ingin sekali menengok ke arahnya lagi dan melihat apa yang dilakukannya. Tapi tidak jadi. Benar apa katanya, kalau aku bersikap begitu terus, bisa-bisa songsaengnim mencurigai kami dan akhirnya Jiyeong akan dikeluarkan dari kelas. Hah aku hanya berharap bahwa bel pulang sekolah segera berbunyi dan songsaengnim pergi meninggalkan kelas.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku sudah cukup sabar menunggu sampai akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-teman yang lain mulai berlalu meninggalkan kelas. Mungkin langsung pulang atau mungkin mereka mempunyai acara lain. Kini tinggal aku dan Eunhyuk berdua di dalam kelas. Aku segera merapikan barangku dan Eunhyuk pun melakukan hal yang sama denganku.

“Jiyeong-ssi, rumahmu di mana?” tanyanya yang memecah keheningan di antara kami.

“Kenapa kau menanyakan rumahku?” Eunhyuk tampak berpikir sebentar kemudian berkata lagi.

“Aku ingin mengantarmu pulang. Dengan melihat kondisimu sekarang, aku takut kau pingsan di jalan.”

“Ya apa pedulimu memang? Aku bisa pulang sendiri! Memangnya aku gadis lemah yang akan pingsan begitu saja? Jangan mentang-mentang tadi aku meminta tolong padamu jadi kau bersikap begini padaku!”

-Hening-

Mungkin aku terlalu kasar padanya. Baik kali ini aku akan melunakkan sikapku.

“Ya, Eunhyuk-ssi, aku hanya tidak mau kau repot-repot mengantarku pulang.” Kataku akhirnya.

“Tapi aku tidak merasa direpotkan jika harus mengantarmu pulang.” Aissshhh laki-laki ini ngeyel sekali sih.

“Kau memaksaku sekarang? Hhmm sepertinya aku perlu memberi tahumu satu hal penting Eunhyuk-ssi, aku tidak suka dipaksa. Jika diawal aku berkata tidak, itu berarti tidak akan ada yang berubah. Kau mengerti?” tanyaku tajam padanya.

“Aish iya iya terserah kau sajalah. Sebagai temanmu aku hanya merasa khawatir.” Mwo? Apa dia bilang barusan? Aku tidak salah dengar kan?

“Sejak kapan kau jadi temanku?”

“Sejak tadi kau memperkenalkan dirimu di depan kelas.” Jawabnya santai.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai teman. Bagimana?” balasku enteng.

“Kalau begitu perkenalkan, aku Lee Hyuk Jae. Senang berkenalan denganmu. Kita sudah menjadi temankan sekarang?” ucapnya sambil mengulurkan tangannya, berniat untuk bersalaman denganku.

“Hah lucu sekali sikapmu itu. Baiklah aku Kim Jiyeong. Senang berkenalan denganmu tuan Lee.” Aku membalas uluran tangannya. Entah apa yang ada dipikiranku sekarang sampai-sampai aku bisa bersikap seperti ini. Ya mungkin ini efek dari sakit kepala yang kuderita.

“Yak! Katanya kita berteman kok memanggilku seperti itu?” protesnya .

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Itu terserah padamu mau memanggilku apa, asal jangan kau panggil aku dengan embel-embel –ssi atau panggilan formal lainnya.”

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Kataku akhirnya mengalah.

Eunhyuk’s POV

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Katanya mengalah.

He? Aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman? Apa sebelumnya dia tidak pernah menganggap orang lain sebagai temannya? Ah bukan urusanku. Tidak tahu kenapa tapi aku senang dengan kenyataan bahwa aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman. Keren kan?

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum begitu hah? Memangnya ada yang lucu?”

“Aniya Jiyeong-a, tidak ada yang lucu. Kau sensitif sekali sih.” Jawabku sambil terus menahan senyum ini.

“Tch dasar aneh, tidak ada yang lucu tapi tersenyum tidak jelas begitu. Sudahlah aku pulang duluan ya.”

“Kau yakin tidak mau kuantar?”

“Perlu kujelaskan lagi kalau aku tak suka dipaksa hah?”

“Aissshhh yasudah sana pulang. Ya! Jiyeong-a hati-hati dijalan!” aku melambaikan tanganku padanya dan kembali merapikan barangku yang tadi sempat tertunda.

“Ne.” Jawabnya singkat.

Kim Jiyeong’s POV

Aku berbalik meninggalkannya dan tersenyum sendiri. Setidaknya di hari pertamaku sekolah ini tidak terlalu buruk, aku mendapatkan seorang teman. Baru saja aku mau keluar kelas, tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing sekali. Astaga kali ini aku benar-benar tidak bisa menahannya.

BRUK. Aku terjatuh tepat di depan kelasku. Kepalaku benar-benar pusing. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar Eunhyuk meneriaki namaku.

Eunhyuk’s POV

BRUK. Aku mendengar seseorang jatuh di depan kelas. Aku refleks melihat siapa orang itu. Astaga! Itu Jiyeong! Dia pingsan!

“Kim Jiyeong! Kau tidak apa-apa?” aku berlari menghampirinya.

“Jiyeong-a! Bangun, kau tidak apa-apa?” ulangku lagi.

Aku panik. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi sekarang sudah waktunya pulang sekolah pasti di ruang kesehatan juga sudah tidak ada penjaganya lagi. Ah apa sebaiknya aku membawanya ke rumahnya? Aishhh tapi kan aku tidak tahu di mana rumahnya. Aku berpikir sebentar dan akhirnya menemukan sesuatu yang harusnya sudah kuketahui dari awal. Ah dasar Lee Hyuk Jae bodoh! Setiap murid di sini pasti kan mempunyai buku identitas diri kan? Kenapa aku tak melihat alamat rumah Jiyeong di buku itu saja?

Aku segera mencari buku itu dan melihat di mana alamat rumah Jiyeong. Yes, aku sudah mendapatkannya!

“Ya Jiyeong-a, bertahanlah, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku bergegas menggendong Jiyeong dan mengantarkannya pulang. Untunglah hari ini aku membawa kendaraan, jadi tak perlu berdesak-desakan di bis.

***

Ternyata tak susah mencari di mana rumahnya. Kini aku sudah berada di depan rumah Jiyeong. Astaga pintu ini terkunci? Bagaimana caranya masuk kalau begitu?

“Tentu saja dengan membuka kuncinya bodoh! Kuncinya ada di dalam tasku.” Kata Jiyeong pelan.

“Kau sudah sadar rupannya. Tch dasar dalam kondisi begitu kau masih bisa mengatai orang bodoh.”

Aku segera mencari kunci rumah yang dimaksud dalam tasnya. Yap ini dia! Kataku sambil mengeluarkan kunci tersebut dan membuka pintu rumahnya.

“Yak Jiyeong-a kamarmu di mana?” Aku terkagum-kagum dengan rumahnya yang bisa dibilang sangat besar ini.

“Di lantai 2.” Jawabnya singkat.

“Rumahmu besar sekali Jiyeong-a~”

“Kau jangan berlebihan.”

“Aishh aku kan hanya mengatakan apa yang aku lihat. Kau pasti betah tinggal di sini.” Aku tak henti-hentinya mengagumi interior rumah Jiyeong yang sangat mewah.

“Tidak sama sekali. Kau tahu? Justru aku merasa seperti dipenjara.”

“Hah? Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.

“Tidak usah banyak bertanya. Itu kamarku tepat di samping tangga.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk Jiyeong.

Aku merebahkan tubuh Jiyeong di tempat tidurnya. Dia pun segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

“Orang rumah yang lain di mana? Kau tinggal sendiri di sini?” tanyaku akhirnya.

“Mereka belum pulang. Ah kau bisa pulang sekarang Eunhyuk-a~”

“Kau pikir aku teman macam apa yang akan membiarkan temannya sendiri dalam kesusahan hah? Kau sudah pingsan seperti tadi, apa kau mengira bahwa aku akan meninggalkanmu sendirian begitu? Tidak. Aku akan di sini sampai setidaknya eomma mu pulang.”

“Dia akan pulang larut. Sudah pulang sana. Aku mau istirahat.”

“Sudah kubilang aku akan menunggumu sampai salah satu orang rumahmu pulang. Biarlah aku menunggu sampai larut jika perlu.”

“Terserah.”

“Ya, kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Bohong.”

“Aku bilang sudah ya sudah! Kau cerewet sekali sih!”

“Baiklah aku akan mengambil makanan untukmu. Sekarang katakan padaku di mana letak dapurnya.”

“Cari saja sendiri.” Katanya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Tch dasar kau! Baik aku akan mencari sendiri di mana dapurnya. Tapi kau harus makan setelah aku kembali.”

“Tidak mau.”

“Aku tidak suka penolakan. Kau harus makan.”

“Aku tidak suka dipaksa, apa kau lupa?”

“Tapi ini untuk kebaikanmu. Sudah sudah aku akan segera kembali.”

“Ya Eunhyuk-a~ hati-hati tersesat.” Katanya. Aku bisa mendengar dia tertawa kecil.

“Tidak akan kau tenang saja.” Balasku.

Mwo? Memangnya rumah ini sebesar apa sampai dia memperingati agar aku tidak tersesat? Hah pasti itu bisa-bisanya saja agar aku tak mengambilkan makanan untuknya. Aku menutup pintu kamar Jiyeong dan segera mencari dapur. Yah semoga saja aku benar-benar tidak tersesat.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku mendengar suara pintu kamarku ditutup. Ya! Bahkan dia lebih cerewet dari seorang ibu sekalipun. Ani, aku lupa. Aku tak mempunyai seorang ibu. Aku kembali memegangi kepalaku yang kembali terasa sakit. Untung tadi Eunhyuk menolongku, coba kalau tidak ada dia, pasti aku akan menginap di sekolah malam ini.

Cklek. Seseorang membuka pintu kamarku. Apa itu Eunhyuk? Kenapa dia cepat sekali?

“Ah ternyata benar kau sudah pulang.” Ternyata tebakanku salah. Yang datang bukan Eunhyuk melainkan Hyuri sialan itu.

“Mau apa kau ke sini? Sudah sana pergi!” usirku padanya. Aku tak mau Eunhyuk melihat Hyuri di sini dan mengetahui bahwa dia kakakku.

“Aku mendengar dari teman sekelasmu bahwa kau sakit. Makanya aku segera pulang. Aku sudah sengaja membatalkan janjiku dengan Donghae oppa.”

“Salahmu sendiri. Sudah kubilang sana pergi!” usirku lagi karena Hyuri belum beranjak juga dari kamarku.

“Di mana temanmu? Kau diantar pulang dengan temanmu kan?”

“Kim Hyuri sialan, sudah kubilang jangan banyak tanya, keluar saja dari kamarku!” umpatku kesal. “Dia ada di dapur. Sedang mengambilkan makanan untukku.” Jawabku akhirnya.

“Seorang pria?” Kenapa dia jadi cerewet begini sih.

“Ne.” Jawabku singkat.

“Oh jadi benar dugaanku. Ya, kau tunggu disini aku akan mengambilkan kompres untukmu. Oya Jiyeong-a, tadi eomma menelfonku, dia bilang dia tidak jadi pulang larut hari ini.”

“Lalu apa urusannya denganku?”

“Ya setidaknya kau bisa diurusi oleh eomma.”

“Sejak kapan eomma mau mengurusiku hah? Dan kau, sudahlah lebih baik kau kembali ke kamarmu dan kerjakan saja tugasmu! Jangan pedulikan aku!”

“Mana bisa aku tidak peduli dengan adikku sendiri hah?” Bertepatan dengan Hyuri mengatakan hal itu, Eunhyuk sudah kembali ke kamarku. Aku melihat ekspresi terkejut dari Eunhyuk.

“Su-sunbae?” kata Eunhyuk terbata.

“Ah jadi kau yang mengantar adikku pulang.” Balas Hyuri. Cih apa-apaan dia, bukannya sudah kubilang, jangan katakan pada orang lain jika aku ini adiknya? Kim Hyuri itu memang benar-benar menyebalkan.

“Ah ne sunbae. Jadi kau kakaknya Jiyeong?” tanya Eunhyuk sambil melirik ke arahku. Lee Hyuk Jae awas saja kau.

“Ye. Terima kasih sudah mengantar adikku pulang…”

“Lee Hyuk Jae, atau sunbae bisa memanggilku Eunhyuk.”

“Baiklah, terima kasih sudah mengantar adikku pulang Eunhyuk-ssi.” Kata Hyuri. “Ohya jangan memanggilku dengan sebutan sunbae, panggil saja aku noona.” Tambah Hyuri.

Eunhyuk tak membalas ucapan Hyuri tapi dia hanya mengangguk dan tersenyum. Cih noona, menggelikan sekali mendengar Eunhyuk memannggilnya noona.

“Eunhyuk-a, kau tunggu di sini sebentar ya, aku ingin mengambil kompres untuk Jiyeong.”

“Baik noona.” Jawab Eunhyuk menurut. Hyuri pun keluar dari kamarku dan meninggalkan aku dan Eunhyuk berdua di kamarku.

“Kau sudah bisa pulang sekarang. Hyuri sudah pulang. Jadi ada yang menemaniku di sini.”

“Kau tidak memanggilnya eonni?” tanya Eunhyuk bingung.

“Tidak. Dan tidak akan pernah.” Jawabku.

“Aish terserahlah, ini makananmu. Cepat kau makan.”

“Tidak mau. Aku sedang tidak nafsu makan. Sudah sana kau pulang saja.” Suruhku lagi padanya. Aku tidak mau Eunhyuk melihat aku bertengkar dengan eomma makanya aku suruh dia pulang.

“Kenapa kau ingin sekali aku pulang sih?”

“Ini sudah sore, apa ibumu tidak akan mencarimu?”

“Ya aku ini bukan anak kecil lagi. Lagipula ibuku mempercayaiku sepenuhnya, jadi kau tidak usah khawatir.”

“Beruntung sekali kau mempunyai ibu seperti itu.” Kataku padanya. Jelas sekali ada rasa iri dalam nada bicaraku.

“Memangnya ibumu tidak seperti itu?”

“Tidak usah membahas ibuku.” Jawabku ketus. Bahkan aku ragu, sebenarnya dia ibuku atau bukan.

Kami terdiam sesaat dan akhirnya Eunhyuk membuka suaranya lagi.

“Yak makan ini.” Katanya. “Atau jika kau tetap tidak mau makan, aku akan menyuapimu.” Ancam Eunhyuk kali ini.

“Yak! Aku bilang aku tidak mau makan! Awas kalau kau berani menyuapiku!” kini giliran aku yang mengancamnya.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu! Kau harus makan! Sini buka mulutmu!” Eunhyuk menyodorkan sesendok nasi padaku. Aku tetap tidak membuka mulutku. Sudah kubilang aku tidak suka dipaksa.

“Yak buka mulutmu, atau aku akan…”

“Akan apa hah? Memangnya kau berani padaku?” tantangku padanya.

“Akan menciummu. Dengan begitu kau akan membuka mulutmu kan? Dan saat itu aku akan memasukkan makanan ke mulutmu.” Dia menjawabku enteng.

Aku menganga mendengar ucapannya. Apa dia gila hah?

“Dasar otak mesum! Kau kira aku takut dengan ancamanmu hah?”

“Aku tidak main-main dengan ucapanku Jiyeong-a~” Eunhyuk mendekatkan wajahnya ke wajahku dan…

“YAK! APPO!” teriaknya sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Haha rasakan itu! Sudah kubilang kau jangan main-main denganku.” Eunhyuk terlihat sangat jengkel dan berencana membalasku tapi kegiatannya terhenti oleh sebuah suara. Suara yang saat ini tidak ingin kudengar.

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?”

-TBC-