My First and Only [ Part 4 ]

Image

 

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.” Kataku mantap. Aku sangat lega karena bisa mengatakan hal itu dengan mantap, walaupun pada kenyataan hatiku pecah berkeping-keping saat mengatakan hal itu.

“Ma-makasudmu?” tanya Eunhyuk terbata.

“Ya, lebih baik kita putus saja. Menurutku itu jalan terbaik. Kau pasti akan lebih bahagia dengan Ji Eun.” Jelasku dengan senyum dipaksa.

“Tapi kenapa begitu?”

“Aku sudah tahu semuanya kejadian tadi siang itu. Walaupun aku sedang menjalani hukuman tapi aku tahu jelas apa yang kau dan Ji Eun lakukan.” Jelasku lagi sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan air mataku. Jangan sekarang Jiyeong, kau tidak boleh menangis sekarang.

“Bahkan aku tahu maksudmu mengajakku untuk bicara, kau ingin memutuskanku kan? Karena kau sudah balikan kembali dengan Ji Eun?” tambahku.

“Aniya Jiyeong. Aku mengajakmu ke sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memutuskan hubungan denganmu.”

Aku tersenyum pahit mendengar penjelasan Eunhyuk barusan. Apa harus aku percaya dengan penuturan laki-laki di depanku ini? Menurutku tidak.

“Aku mengerti. Kau pasti hanya merasa tidak enak padaku. Nah sekarang, jalani kembali hubunganmu dengan Ji Eun, tidak usah pedulikan aku lagi.” Aku makin keras menggigit bibir bawahku. Menahan sekuat tenaga air mataku.

“Dan ohya terima kasih selama beberapa hari ini kau telah mengisi hariku. Terima kasih sudah menjadi teman pertamaku. Mulai sekarang tidak usah pedulikan diriku lagi, dan seriuslah dengan Ji Eun.” Lanjutku kemudian.

“Jiyeong-a, ta-tapi…”

“Aku pulang duluan. Annyeong Eunhyuk-ssi.” Setelah mengucap salam dan membungkukan badan, aku bergegas berbalik dan meninggalkan kafe ini secepat mungkin. Air mataku kini sudah jatuh membasahi pipiku. Dengan sigap aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kafe.

Setelah taksi yang aku berhentikan berhenti, aku segera masuk ke dalam dan menghempaskan diriku pada jok taksi. Kepalaku aku senderkan ke jendela dan mataku menatap kosong ke arah jalanan. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam taksi ini. Masa bodoh dengan tatapan aneh supir taksi itu. Yang penting aku bayar kan?

“Nona, aku harus mengantarmu ke mana?” tanya supir taksi itu.

Aku menyebutkan alamat rumahku dan kembali menatap kosong ke arah jalanan. Sontak seluruh kenangan-kenanganku ketika bersama Eunhyuk kembali mengusik pikiranku.

Kenapa akhirnya harus begini? Kenapa aku terlalu bodoh untuk menerimanya waktu itu? Kenapa aku dengan mudahnya jatuh cinta pada seorang Lee Hyuk Jae…

***

“Jiyeong-a, kau baru pulang?” tanya Hyuri ketika aku memasuki rumah. Kulihat ada Donghae juga disitu.

Aku tidak menggubris pertanyaan Hyuri dan langsung menuju kamarku di lantai dua.

“Jiyeong-a, kau kenapa?” tanyanya lagi.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Ya! Jiyeong-a! Sebenarnya kau kenapa? Ceritakan padaku!”

“Sejak kapan aku harus menceritakan padamu apa yang terjadi denganku hah?” sikap dingin kembali menguasai diriku.

“Tumben sekali kau muram begitu. sejak bertemu dengan Eunhyuk, aku tak pernah melihatmu mu…”

“Jangan sebut nama itu lagi di depanku. Dan jangan bertanya apapun mengenai laki-laki itu.”

“Ya kau bertengkar dengannya?”

“Tidak usah banyak tanya! Ikuti saja perintahku!”

Dengan gusar aku kembali melanjutkan langkah menuju kamarku. Dan membanting pintuku sekuat tenaga sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku melempar tasku ke sembarang tempat dan langsung membenamkan wajahku dalan bantal. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi hari ini.

 

Kim Hyuri’s POV

Hah kenapa sikapnya jadi kembali seperti dulu? Padahal aku sudah sangat senang dengan perubahan sikap Jiyeong padaku  akhir-akhir ini.

Aku berjalan lemah dan menghempaskan diriku di sofa tepat di sebelah Donghae oppa.

“Hyuri-ya~ aku yakin adikmu pasti ada masalah.” Ucap Donghae oppa lembut.

“Ne oppa. Aku juga yakin. Tapi aku tidak tahu masalahnya apa, sepertinya ini masalah yang serius.” Jawabku muram.

“Aisssh tidak usah menjadi muram begitu, cepat atau lambat dengan sendirinya kau pasti akan mengetahui masalah adikmu itu. Jadi jangan terlalu kau pikirkan.” Donghae oppa tersenyum dan membuatku kembali bersemangat.

“Aku rasa apa yang kau bilang barusan itu benar. Baiklah ayo kita mulai lagi mengerjakan tugas kita!” ucapku bersemangat.

“Nah ini baru Hyuri yang aku kenal.” Donghae oppa megacak rambutku yang membuat pipiku memerah karena malu.

Aku dan Donghae oppa mulai berkutat pada soal-soal fisika di hadapan kami. Sesekali Donghae oppa mengajariku karena memang aku lemah dalam bidang fisika. Ketika Donghae oppa ingin memulai penjelasannya, terdengar seseorang memencet bel yang mau tidak mau membuatku harus membukakan pintu.

“Oppa, aku bukakan pintu dulu ya?” ucapku pada Donghae oppa dan berjalan ke arah pintu.

“Annyeong noona. Apakah Jiyeong ada?” tanya Eunhyuk ketika aku membukakan pintu. Oh jadi Eunhyuk yang datang.

“Ne. Dia ada di dalam. Kau ingin bertemu dengannya?” tanyaku.

Aku melihat keraguan dari gelagat Eunhyuk ketika aku bertanya padanya.

“Sebenarnya ada masalah apa antara kau dengan Jiyeong? Kau tahu, hari ini dia pulang sambil menangis.” Kataku seraya menebak alasan dari gelagat keraguan Eunhyuk.

“Mianhae noona, tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu saat ini.” Rasa bersalah kentara sekali dalam nada bicara Eunhyuk.

“Ah begitu. Baiklah itu bukan menjadi masalah. Kajja masuk.” Aku mempersilakan Eunhyuk masuk dan langsung menyuruhnya ke lantai 2.

“Kau tahu kan di mana kamar Jiyeong? Apa perlu aku antar?” tawarku karena Eunhyuk terlihat bingung. “Atau kau merasa sungkan? Hhmm baiklah ayo aku antar.” Aku berjalan mendahului Eunhyuk menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a, ada Eunhyuk di sini. Lebih baik kau keluar untuk menemuinya.” Kataku sambil mengetuk pintu kamar Jiyeong.

Tidak ada jawaban. Aku yakin sekali Jiyeong ada di kamarnya dan dia tidak tidur. Makanya aku memperkeras ketukan pintuku.

“Jiyeong-a! Aku tahu kau tidak tidur. Ayo cepat keluar dan temui Eunhyuk. Selesaikan masalah kalian berdua sekarang.”

Lagi-lagi kesunyian yang membalasku. Jiyeong tetap bersikeras tidak mau keluar kamar atau sekedar menjawab.

“Noona kalau Jiyeong tidak mau menemuiku tidak apa-apa, bisa lain kali. Maaf telah merepotkanmu.” Eunhyuk merasa tak enak padaku.

Belum sempat aku membalas ucapan Eunhyuk, suara Jiyeong tiba-tiba terdengar dari dalam kamar.

“Tidak ada lain kali Eunhyuk-ssi. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menemuimu.”

Aku memandang Eunhyuk dengan tatapan kasihan. Pasti masalah mereka bukan masalah main-main ini pasti masalah serius.

“Noona, tidak usah memandangku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Maaf aku telah merepotkanmu. Aku pamit ya.” Kata Eunhyuk tiba-tiba.

“Ah ne mianhae. Kau hati-hati ya.” Ucapku sambil melihat kepergian Eunhyuk dari lantai 2.

Pasti masing-masing dari mereka saat ini merasakan sakit. Hah tapi apa yang bisa aku lakukan? Mungkin dengan tidak mencampuri urusan mereka itu lebih baik. Aku menuruni anak tangga dan kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda tadi.

 

Eunhyuk’s POV

ARGH. Aku mengacak-acak rambutku frustasi dan bebarapa kali menendangi kaleng kosong bekas minuman ke sembarang tempat.

Ini semua gara-gara gadis sialan itu! Andai saja dia tidak berbuat nekat seperti tadi, pasti tidak akan jadi begini.

Jiyeong-a, kenapa kau sampai memutuskanku seperti tadi? Apa kau tidak tahu aku sangat sedih sekarang hah? Dasar gadis bodoh! Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara tadi? Kenapa kau menarik kesimpulan bodoh seperti itu? Bukannya aku sudah bilang bahwa aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap Ji Eun? Jadi mana mungkin aku balikan kembali dengannya.

Tidak bisa aku pungkiri bahwa selama bebarapa hari ini, Jiyeong lah yang mengisi hariku. Walaupun dia suka bersikap jutek dan keras kepala, tapi itu sama sekali bukan masalah bagiku, malah itu menjadi daya tariknya.

Aku kembali terbayang bagaimana ekspresi mukanya yang ketakutan setengah mati ketika aku dipukuli oleh ahjussi-ahjussi tempo hari lalu. Bagaimana ekspresinya ketika dia cemburu karena aku memuji Ha Na. Dan……ketika aku mendengar degup jantungnya yang begitu keras saat aku menciumnya.

Kim Jiyeong, apakah sebegitu mudahnya untuk jatuh cinta padamu?

Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk sendiri. Dan ketika waktunya sudah cukup menurutku, aku akan menjelaskan semua padamu. Semoga saja kau mau mendengarkanku.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan lemas menuju pintu gerbang sekolahku. Setelah menangis semalaman membuat kepalaku sedikit pening. Dari kejauhan aku melihat Eunhyuk sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Sesekali dia mengedarkan padangannya hendak mencari seseorang. Dia pasti mencari Ji Eun.

Kini langkahku semakin dekat dengannya. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin ketika lewat di depannya.

Brug. Seseorang menabrak bahuku dari belakang.

“Aah.” Rintihku.

“Mianhae. Aku tidak sengaja.” Hah, kenapa pagi-pagi begini aku harus bertemu dengan Ji Eun? Menyebalkan sekali!

“Jelas-jelas kau sengaja.” Gerutuku dalam hati.

“Aku duluan Jiyeong-a!” ucap Ji Eun sok akrab denganku. Aku tidak membalasnya. Dan kembali menempatkan diriku dalam posisi awal sebelum Ji Eun menabrakku.

“Oppa, kau pasti menungguku kan? Aah aku bahagia sekali akhirnya kita bisa kembali seperti dulu lagi.”

Hatiku kembali terasa teriris mendengar ucapan Ji Eun barusan. Rupanya aku tidak salah mengambil keputusan, Eunhyuk pasti lebih bahagia sekarang dengan Ji Eun.

Aku berjalan melewati mereka berdua sambil menunduk. Tidak berani mendongak atau sekedar menyapa Eunhyuk dan Ji Eun. Terlalu sakit bagiku untuk melakukan hal itu.

*

Sampai di kelas aku menyadari sesuatu. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini aku duduk di sebelah Eunhyuk. Dengan ragu-ragu aku meminta pada Min Ra, teman sekelasku untuk bertukar posisi denganku.

“Min Ra-ya, bisakah aku duduk di kursimu? Kau bisa duduk di kursiku?” tanyaku ragu-ragu, khawatir Min Ra akan menolak permintaanku.

“Wae?” tanya Min Ra.

“Aku mengalami gangguan penglihatan, jadi kalau duduk di belakang, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dicatat songsaengnim di papan tulis.” Jawabku berbohong.

“Oh begitu. baiklah, kau bisa duduk di sini.” Balas Min Ra sambil merapikan barangnya dan pindah ke kursiku.

“Min Ra-ya, jeongmal gomawoyo.” Kataku.

“Ne.” Jawab Min Ra sambil tersenyum.

Aku duduk di kursi baruku. Tidak ada Eunhyuk di sampingku. Tidak ada lagi yang melindungiku dari songsaengnim ketika aku tidur di kelas. Ya, tidak ada lagi seorang Lee Hyuk Jae yang dulu menjadi teman pertamaku…

***

Hari-hari berikutnya aku jalani tanpa minat. Tidak ada seorang pun yang mampu menghiburku termasuk Hyuri. Hubunganku dan Eunhyuk semakin memburuk. Kami benar-benar sudah tidak saling bicara, tegur sapa pun tidak. Aku kembali menjadi sosokku yang dulu sebelum bertemu dengan Eunhyuk. Kembali menjadi seorang Kim Jiyeong yang dingin dan kasar. Akibat sikapku itu aku dijauhi oleh teman-teman sekelasku. Aku tak mempunyai seorang temanpun. Jika waktu istirahat tiba, aku ke kantin seorang diri, tidak jarang aku menjadi bahan ejekan teman-temanku sendiri. Tapi biarlah, daripada aku menjadi Kim Jiyeong yang lemah, lebih baik begini. Toh aku sudah terbiasa hidup sendiri. Hidup tanpa ada seorang pun yang peduli padaku.

***

Hari ini aku berjalan gontai menuju kelasku. Sambil tetap menunduk, aku kembali memutar ulang ucapan Hyuri tadi pagi.

Jiyeong-a hari ini eomma pulang. Aku harap kau tidak pulang malam, dan bisa sampai rumah sebelum eomma.

Baiklah, sekarang kehidupanku yang dulu benar-benar kembali. Aku mencelos dalam hati dan merutuki nasibku sendiri. Mengapa aku bisa begitu sial?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Lagi-lagi aku mencelos dalam hati. Benar, sekarang memang tidak ada dan tidak akan ada yang peduli padaku. Dengan lemas, aku duduk di kursiku, dan merebahkan kepalaku di meja. Semalam aku tidur larut lagi, sehingga lagi-lagi aku mengantuk di kelas. Doaku hari ini hanya, semoga aku tidak akan tertidur di kelas.

“Kim Jiyeong, apa sekarang rumahmu sudah pindah hah?” suara berat songsaengnim membangunkanku. Astaga! Ternyata tadi aku tertidur. Tapi kenapa tidak ada yang membangunkanku?

“Ng…ng…maafkan aku songsaengnim. Aku sangat mengantuk tadi.” Jawabku.

“Jadi kalau kau mengantuk, kau boleh tidur seenaknya, begitu?”

“Aniyo, aku tidak bermaksud begitu. Aku…”

“Keluar sekarang. Berdiri di depan kelas sampai pelajaranku selesai. Enak saja kau tidur di saat jam pelajaranku.”

“Songsaengnim…tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian! Cepat keluar! Aku tidak suka pada siswa yang menyepelekan pelajaranku!”

Hah, rupanya doaku tidak terkabul. Aissshhhh dasar menyebalkan! Aku kan hanya tidur sebentar, kenapa malah dibilang menyepelekan pelajarannya? Tidak masuk akal.

Aku berdiri di depan kelas dengan tampang kesal, masih setengah tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan songsaengnim padaku.

“Ini peringatan juga bagi kalian. Tidak ada yang boleh tidur atau tertidur lagi pada jam pelajaranku! Dan sekarang, jika di antara kalian, ada yang mengantuk cepat keluar temani Jiyeong!” perintah songsaengnim yang terdengar samar-samar dari luar.

Errrrr dasar seenaknya saja! Cih, apa semua guru zaman sekarang itu seperti itu?

Cklek. Terdengar pintu suara ditutup. Mwoya? Jadi ada yang tertidur juga di kelas selain aku? Atau dia mengantuk? Hah terserahlah, aku tidak peduli.

“Kau tidur larut lagi semalam?” suara khas milik seseorang yang sudah sangat kukenali itu tiba-tiba memenuhi ruang pendengaranku. Aku hanya mematung dan tidak berani menoleh, karena aku tahu siapa si pemilik suara itu.

“Apa jangan-jangan kau juga tidak sarapan lagi pagi ini?” tambahnya.

Aku memicingkan mataku. Darimana dia tahu semua kebiasaanku itu?

“Kenapa kau ada di sini?” aku melontarkan pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan. Tetap kesan dingin yang masih menguasai diriku.

“Dihukum, sama sepertimu.” Jawabnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Jiyeong-a.” Lanjutnya.

“Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu.”

“Jadi, aku harus memanggilmu bagaimana?”

“Seperti saat kau pertama kali bertemu denganku. Mengerti?”

“Kau pasti bercanda. Shireo! Aku tidak mau.”

“Kalau begitu ini terakhir kali, kau bicara denganku. Kau tahu? Aku sangat ingin muntah jika mendengarmu memanggilku seperti itu.”

Keadaan hening sesaat. Aku tahu omonganku barusan memang sangat kasar, tapi untuk kali ini aku tidak akan minta maaf. Aku rasa aku tidak salah jika mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan.

“Ternyata, Hyuri noona benar. Kau kembali seperti dulu.” Tukasnya kemudian.

“Lalu? Pedulimu apa?”

“Jiyeong-a, tak bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu? Kau itu salah paham.”

“Apa yang harus dijelaskan lagi? Kau pikir, aku ini anak kecil yang bisa mudah salah paham hah?”

“Jiyeong-a…”

“Jiyeong-ssi.” Tukasku tajam.

“Jiyeong-ssi, apa kau tahu? Setiap hari Hyuri noona selalu bercerita padaku mengenai keadaanmu. Kau selalu pulang malam dan tidur larut kemudian keesokan paginya kau selalu tidak sarapan karena bangun kesiangan. Kau juga kembali menjadi sosok yang dingin…”

“Lalu? Apa itu masalah buatmu?”

“Tentu saja. Hyuri noona selalu mendesakku untuk segera menyelesaikan salah paham di antara kau dan aku. Dia bilang, dia sedih melihat adiknya menjadi sosok yang dingin dan keras kepala.”

“Jadi kau terganggu? Baiklah aku akan bilang pada Hyuri, bahwa mulai sekarang, dia tidak usah untuk mendesakmu lagi dan bercerita hal yang tidak penting padamu. Ohiya, tapi apa kau bisa tolong katakan padanya, bahwa aku memang seperti ini dari dulu. Dingin dan keras kepala, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkanku.”

“Jiyeong-a!” teriak Eunhyuk frustasi.

Aku menahan tangisku yang sudah ingin pecah dari tadi. Alih-alih untuk mencegah tangisku, aku mengiggit bibir bawahku dan mencoba bertahan sampai setidaknya pelajaran songsaengnim menyebalkan itu selesai.

“Jiyeong-a, aku mengerti keadaanmu saat ini, makanya aku membiarkanmu untuk sendiri. Tapi, jika aku rasa waktunya sudah cukup, giliran kau yang membiarkanku untuk menjelaskan semuanya padamu.”

Tidak ada jawaban iya atau sekedar anggukan kepala dariku. Aku hanya menganggap ucapan Eunhyuk barusan hanyalah angin lalu.

“TENG!!!”

Bel berbunyi satu kali. Akhirnya hukuman bodoh ini berakhir juga. Cepat-cepat aku masuk ke kelas dan meninggalkan Eunhyuk. Ini yang aku tunggu-tunggu dari tadi, bel tanda pelajaran pertama usai berbunyi.

“Ya! Eunhyuk-a! Kenapa kau tadi berbohong pada songsaengnim? Aku tahu kau tadi tidak mengantuk kan? Aku saja melihat wajahmu segar begitu.” aku mendengar Min Ra yang sekarang duduk di kursiku dulu, bertanya pada Eunhyuk.

“Aissshh bukan urusanmu. Sudah diam saja.” Jawab Eunhyuk.

Mwo? Jadi dia tadi hanya berpura-pura? Cih, apa maksudnya?

***

Hari ini eomma pulang. Apa aku harus menuruti permintaan Hyuri dengan pulang lebih awal? Hah aku rasa tidak, lebih baik aku menghabiskan waktuku di toko kaset langgananku.

Krieet. Aku membuka pintu toko kaset itu perlahan dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Baguslah hari ini tidak terlalu ramai. Aku segera menuju rak musik pop barat dan mencari-cari siapa tahu ada kaset yang bagus.

Drrt…drrt…

Ponselku bergetar. Aku berani jamin bahwa yang menghubungiku adalah Hyuri. Pasti dia ingin mennyuruhku untuk segera pulang.

Drrt…drrt…

Aissshh bisa tidak sih dia membiarkanku melakukan apa yang aku mau?

Drrt…drrt…

Kim Hyuri menyebalkan! Apa dia tidak tahu apa maksudku? Kenapa dia malah terus menelfonku?!

Tak lama setelah itu, ponselku berhenti bergetar. Tapi sebuah pesan baru masuk. Si pengirim sama dengan yang menelfonku itu. Kim Hyuri.

Jiyeong-a! Kau di mana? Kenapa tidak menjawab ponselku? Cepat segera menyusulku di Rumah Sakit Internasional Seoul! Eomma kecelakaan.

Deg. Tubuhku membeku membaca pesan dari Hyuri. Eomma….kecelakaan? Aku kalang kabut. Bagaimana bisa eomma kecelakaan? Aku berlari keluar toko kaset dan segera memanggil taksi. Ya Tuhan kenapa bisa jadi begini? Kenapa eomma bisa kecelakaan?

***

“Hyuri! Di mana eomma? Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?” tanyaku panik saat tiba di rumah sakit.

“Eomma…ada di ruang Unit Gawat Darurat sekarang.” Jawab Hyuri lemah.

“Ya! Aku tanya apa dia baik-baik saja?!”

“Aku tidak tahu. Begitu aku tiba di sini, eomma sudah berada di dalam sana.” Tangis Hyuri mulai terdengar.

“Tapi…….bagaimana bisa?”

“Mobil yang eomma tumpangi menabrak sebuah truk. Supir yang saat itu bersama eomma, tewas di tempat.”

Aku lemas mendengar jawaban Hyuri. Kalau sang supir saja bisa sampai tewas seketika, berarti kecelakaan itu parah. Berarti…….eomma?

Bruk. Aku terduduk lemas di lantai. Pandanganku mulai kabur. Butiran-butiran bening mulai menghiasi mataku. Aku takut sesuatu terjadi pada eomma. Aku tidak mau dia sampai kenapa-kenapa.

“Jiyeong-a, jangan duduk di situ, ayo bangun.”

“Hyuri tolong katakan padaku, apakah separah itu kecelakaan yang dialami eomma?”

“Mungkin. Karena…….aku melihat mobil yang eomma tumpangi ringsek.”

“Hyuri! Kau pasti berbohong kan?!”

“Aniya, aku tidak berbohong! Aku serius. Aku tahu, kau juga pasti khawatir dengan eomma kan, makanya lebih baik sekarang kita berdoa bersama untuknya.”

Hyuri membantuku untuk berdiri dan mendudukkanku di salah satu bangku di ruang tunggu.

“Aku tidak apa-apa.” Ucapku karena melihat kekhawatiran di muka Hyuri. “Kau kembali ke tempatmu saja, biar aku di sini.” Tambahku lagi.

Hyuri menuruti perintahku. Ia segera kembali ke tempatnya, dan aku lihat dia menangis sesegukan di pelukan  Donghae.

Hah miris sekali. Di saat Hyuri mempunyai sandaran ketika ia sedang bersedih seperti ini, aku malah tidak punya siapa- siapa di sampingku. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke ruang tepat di mana eomma berada sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dokter tak kunjung keluar untuk memberi tahu keadaan eomma?

“Tidak usah menangis lagi. Eomma mu pasti tidak apa-apa. Ini pakailah sapu tanganku untuk menghapus air matamu itu.” Ucap seseorang sambil menyodorkan sapu tangannya ke arahku.

Aku mendongak dan mendapati Eunhyuk di depanku. Aku bingung, kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku?

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku dingin bercampur dengan isak tangis.

“Kurasa itu bukan pertanyaan yang penting untuk aku jawab sekarang kan?”

“Lalu, mau apa kau di sini?”

“Aku ingin menemanimu. Aku tidak bisa melihatmu begitu rapuh Jiyeong-a.” Jawab Eunhyuk terang-terangan.

“Tapi aku tidak butuh dirimu. Aku bisa menghadapi ini seorang diri. Jadi lebih baik kau pulang saja.” Tolakku.

“Tch, kau memang keras kepala Jiyeong-a. Tapi apa kau tahu? Aku lebih keras kepala darimu, jadi aku akan tetap di sini, bersamamu.”

Eunhyuk segera mengambil posisi tepat di sebelahku. Aku tidak tahu mengatakan apa pada laki-laki di sebelahku ini. Dia memang benar-benar keras kepala.

“Terserah. Asal kau tidak mengangguku, itu tidak menjadi masalah.”

Hening kemudian. Aku dan Eunhyuk sama-sama tidak mengatakan sepatah kata pun. Ya aku memaklumi hal ini, mungkin saja dia merasa canggung bicara denganku, karena akupun juga merasa canggung berbicara dengannya.

“Apa kalian keluarga dari Nyonya Kim?” tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang Unit Gawat Darurat.

Aku nyaris berlari menghampiri dokter itu. Begitupun dengan Hyuri.

“Ya, benar, kami anaknya.” Jawab Hyuri.

“Kondisi ibu kalian kritis. Beliau mengalami benturan cukup keras di kepalanya. Jadi untuk malam ini dia akan berada di ruang ICU sampai masa kritisnya usai. Kalian berdoalah untuk keselamatan ibu kalian.” Jelas dokter itu.

Aku hanya terperangah mendengar penjelasan sang dokter. Tanpa sadar, tubuhku setengah limbung, tapi Eunhyuk dengan sigap menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

“Tapi dokter, apa boleh kami melihat ibu kami?” tanya Hyuri.

“Maaf, tapi selama ibu kalian berada di ruang ICU, kalian tidak boleh melihatnya.” Jawab sang dokter.

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak.” Ucap Hyuri pasrah.

Sedetik kemudian, pemandangan yang aku lihat adalah, tubuh eomma yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu, dibawa keluar dari UGD menuju ruang ICU. Hyuri yang daritadi tampak tenang, kali ini tampak tidak bisa menahan tangisnya.

“Hyuri-ya, tenanglah. Lebih baik sekarang kita berdoa saja, aku yakin eomma mu pasti bisa lewat dari masa kritisnya.” Ucap Donghae menenagkan sambil menghapus air mata Hyuri.

“Oppa, tapi aku sangat cemas dengan kondisinya sekarang ini.”

“Kau percaya dengan kekuatan doa kan? Apalagi doa seorang anak, pasti akan didengar oleh Tuhan. Sudah ya kau jangan menangis lagi.”

Aku melihat sepasang kekasih itu dengan tatapan tak bisa dibaca. Jujur dari dalam hatiku, aku merasa iri pada Hyuri. Ia mempunyai seseorang yang bisa membuatnya tenang dalam kondisi seperti ini. Tapi segera kutepis perasaanku. Di saat seperti ini, bukan saatnya untuk mempunyai perasaan seperti itu kan?

“Hhm, maaf aku ingin ke toilet sebentar.” Kataku tiba-tiba.

“Ne, Jiyeong-a. Tapi cepat kembali, jangan lama-lama.” Ucap Hyuri yang kini sudah terlihat lebih tenang.

“Biar aku antar.” Ucap Eunhyuk.

“Tidak usah.” Jawabku kemudian dan aku segera pergi ke toilet.

*

Sebenarnya aku ke toliet bukan karena ingin buang air kecil ataupun buang air besar, entah kenapa rasanya aku ingin ke toilet dan menumpahkan tangisku di sini. Dan mungkin keberuntungan sedang berpihak padaku kali ini. Toilet ini benar-benar kosong dan hanya ada aku seorang.

Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin besar yang ada di toilet itu. Betapa menyedihkannya diriku ini. Sudah kehilangan seseorang yang berarti penting, sekarang eomma mengalami kecelakaan. Apakah tidak bisa keadilan berpihak padaku? Kenapa ini semua terjadi hanya dalam jentikan jari saja? Aku menutup mataku dan bulir-bulir bening, aku rasakan mulai membasahi pipiku. Tuhan, aku mohon selamatkan eomma, tolong jangan biarkan dia pergi, karena kalau itu sampai terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku, aku akan selamanya menjadi anak yang durhaka. Air mataku semakin deras mengalir, memikirkan semua sikap dan perilaku burukku pada eomma selama ini, hingga ada sebuah suara yang menginterupsiku.

“Mau sampai kapan kau terus di dalam? Cepat keluar. Jadi yang kau bilang sebentar itu 15 menit hah?”

Tidak usah dicari tahu siapa pemilik suara itu, sudah pasti itu Eunhyuk. Dan lagi-lagi dia muncul di saat yang menurutku tidak tepat.

“Mau apa kau? Ini toilet wanita.” Tukasku.

“Aku tahu. Tapi aku tidak akan segan-segan masuk ke dalam, jika dalam hitungan ke-3 kau tidak juga keluar.” Ancamnya.

Aku mendengus kesal karenanya. Kalau aku keluar sekarang, keadaanku sangat menyedihkan untuk dilihat, tapi kalau tidak, sepertinya dia benar-benar nekat untuk masuk.

“1…2…” Eunhyuk memulai hitungannya. “Ini sudah hitungan kedua Jiyeong-a, aku benar-benar serius dengan ucapanku.” Tambahnya.

Sebelum dia menyelesaikan hitungannya dan bersiap-siap masuk ke dalam toilet, aku keluar dan mendapatinya tepat di depan pintu toilet.

“Aku sudah keluar. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal bodoh dan memalukan itu.”

“Aissshh aku akan melakukan hal itu, kalau kau tidak keluar Jiyeong-a.”

“Terserah kau saja.” Ucapku acuh tak acuh dan mulai berjalan meninggalkannya.

“Jiyeong-a tunggu sebentar!” cegah Eunhyuk sambil mengahampiriku. “Ikut aku.” Katanya lagi sambil menarik tanganku.

Aku tidak berontak ataupun mencoba melepaskan diri, seperti yang biasa aku lakukan kalau Eunhyuk tiba-tiba menarik tanganku. Aku hanya pasrah dan mengikuti ke mana laki-laki ini pergi membawaku.

*

“Sudah sampai.” Kata Eunhyuk dan segera duduk di kursi yang tepat berada di depanku dan Eunhyuk.

Aku mengikutinya dan duduk di sebelah Eunhyuk. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Ini taman yang terletak di belakang rumah sakit yang biasa digunakan pasien untuk berjalan-jalan atau sekedar menghirup udara segar.

“Kemarilah, mendekat padaku. Kau seperti orang lain saja.” Katanya sambil menarikku mendekat.

“Untuk apa?” tanyaku menggantung.

“Ne?” tanyanya bingung.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?”

“Kau lihat kan pasien yang ada di bawah pohon itu? Menurutmu sedang apa dia di sini?”

“Entahlah.” Sambil menatap kosong ke arah yang ditunjuk Eunhyuk.

“Meskipun kondisi kalian berbeda, dia sakit dan kau sehat, tapi aku yakin perasaan kalian sama. Kau dan pasien itu sama-sama sedang sedih dan membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur.”

“Kau tahu darimana dia sedang sedih?” tanyaku yang seolah ingin mengatakan bahwa ia sok tahu.

“Kau tidak lihat? Raut wajahnya itu yang memberi tahuku.”

“Nah itu lihat lagi, ada seseorang yang mengahmpirinya! Pasti orang itu yang akan menghiburnya!” ucap Eunyuk antusias.

“Ya! Tidak usah mengurusi orang lain! Dasar sok tahu! Bisa saja itu salah seorang suster yang ingin membawanya kembali ke dalam.”

“Aniyo Jiyeong-a, apa kau tidak lihat, wajah pasien itu berubah menjadi ceria ketika orang itu datang. Pasti dia orang yang penting bagi pasien itu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Jiyeong-a, apa aku tidak penting bagimu? Mengapa saat aku datang, kau malah menyuruhku untuk pulang?” Eunhyuk bertanya sambil tetap menatap kedua manusia yang tiba-tiba menjadi objek perbincangan aku dan Eunhyuk.

Mungkin memang kau sangat penting bagiku, tapi akulah yang terlalu bodoh untuk tidak bisa menyadari betapa pentingnya dirimu.

“Aku tahu, kau di toilet tadi itu menangis kan? Kenapa kau bahkan tidak mau menangis di depanku? Padahal aku ingin seperti Donghae yang menghapus air mata Hyuri noona ketika dia menangis.”

“Aku…aku…” Aku hanya tidak ingin melihatmu ikut bersedih karena aku menangis.

Sedetik kemudian, Eunhyuk sudah merangkulku dan kini aku sudah berada dalam pelukannya. Hangat tubuh ini….ah sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakannya.

“Sekarang kalau kau ingin menangis, menangislah sesuka hatimu. Dulu aku sudah berjanji kan bahwa akan bersedia meminjamkan bahuku untuk kau menangis?” ucapnya lembut.

Mungkin jika aku dalam keadaan normal, aku akan mendorong tubuhnya dan menjauh darinya saat ini juga. Tapi yang aku lakukan malah sebaliknya. Aku malah memperat pelukannya dan menangis sekencang-kencangnya.

Hanya menangis, itu saja yang aku lakukan. Aku tidak berkata sepatah kata apapun, karena aku yakin, Eunhyuk juga pasti mengerti perasaanku. Eunhyuk mengelus punggungku pelan untuk memberi ketenangan padaku. Setelah aku rasa cukup, aku menjauhkan diriku darinya, tapi masih dalam keadaan sesegukan.

“Kau sudah merasa baikan sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Baguslah. Setidaknya aku bisa sedikit menghiburmu.” Ucap Eunhyuk sambil tersenyum. Senyum yang selalu aku suka itu.

“Gomawo.”

“Tidak usah berterima kasih begitu padaku Jiyeong-a, aku senang bisa membantumu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Andai peristiwa itu tidak pernah terjadi, pasti senyumku akan lebih lebar daripada ini.

“Ya! Kau kedinginan! Ini pakai jasku.” Ucap Eunhyuk sambil melepaskan jaketnya dan memasangkannya di tubuhku.

Ah memang angin bertiup kencang malam ini, tapi entah kenapa aku tidak merasakan apapun.

“Kau tidak sadar kau menggigil daritadi?”

“Tidak. Karena aku tidak merasakan apapun.” Jawabku jujur.

“Aissssh dasar kau ini.” Ucapnya sambil mengacak rambutku dan pandangannya mulai menjelajahi sekitar.

Aku melirik ke arah Eunhyuk. Dia bodoh atau apa sih? Dia sendiri menggigil seperti itu, tapi malah memberikan jasnya padaku.

“Ya! Kau mau akting sok kuat di depanku hah?”

Eunhyuk menyipitkan matanya, tanda tak mengerti dengan maksudku.

“Hah, ternyata belum berubah juga. Ini jasmu. Kau juga kan kedinginan, kenapa malah memberikannya padaku?” kataku sambil melepas jasnya.

“Aniyo, kau saja yang pakai itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Cih, dasar sok kuat.” Dengan nada mengejek aku mengatakan hal itu dan kemudian mengembalikan jas miliknya.

“Ya!” teriak Eunhyuk tak terima.

“Aku tidak akan mau tanggung jawab kalau nanti kau mati kedinginan di sini.”

“Aissshh, sudahlah sini mendekatlah padaku, biar kita berdua sama-sama merasa hangat.” Eunhyuk menarikku agar lebih mendekat padanya.

Aku tersenyum simpul karena sikapnya. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke atas bahunya.

“Jiyeong-a?” tanya Eunhyuk yang agak sedikit terkejut karena sikapku ini.

“Aku pinjam bahumu lagi untuk malam ini. Sudah jangan cerewet.”

Bisa aku rasakan ia tersenyum mendengar jawabanku. Terima kasih Tuhan, setidaknya Kau telah memberiku sedikit kenyamanan dan ketenangan melalui orang di sampingku ini.

Aku masih dalam posisiku sekarang, ketika tiba-tiba ponselku bergetar. Aishhhh siapa sih yang berani mengangguku di saat seperti ini? Hyuri? Aku bangkit dari posisiku yang menyandar pada Eunhyuk dan menjawab ponselku tanpa melihat siapa yang menelfon.

“Yoboseyo? Nuguseyo?”

“…”

“Ji-ji eun-ssi?” kataku terbata karena terkejut.

“…”

“Ya. Ada apa?” Aku berhasil mengatasi keterkejutanku dengan kembali bersikap dingin.

“…”

“Tenang saja, aku tidak akan lupa. Baik akan kuberi ponselku padanya.”

Aku memandang Eunhyuk sesaat yang daritadi hanya menatapku bingung.

“Dia ingin bicara padamu. Lain kali angkat telfonnya, jadi dia tidak harus menelfonku.” Kataku sambil menyerahkan ponselku pada Eunhyuk dan beranjak pergi.

“Ini ponselmu. Aku tidak mau bicara dengannya.” Piip terdengar Eunhyuk memutuskan sambungan telfon dan mengembalikan ponselku.

“Kita ke dalam sama-sama.” Lanjutnya lagi sambil menggandeng tanganku untuk kembali masuk ke dalam.

Aku hanya melongo melihat sikapnya itu. Dia memutuskan sambungan telfon begitu saja? Hhhm ani, bahkan dia tidak mau mengangkat telfon dari Ji Eun? Kenapa? Apa jangan-jangan selama ini apa yang aku pikirkan tentang mereka salah? Aissshh itu tidak mungkin! Ya! Kim Jiyeong kau berpikir apa? Kau tidak ingat apa yang tadi Ji Eun katakan? Tiba-tiba saja ucapan Ji Eun di telfon tadi, terulang dengan lancarnya di otakku.

Jiyeong-a meskipun sekarang kau bersamanya, tapi kau tidak boleh lupa, bahwa selamanya Eunhyuk adalah milikku…”

“Jiyeong-a, kau darimana saja? Tadi katanya hanya ke toilet sebentar.” Suara Hyuri tiba-tiba mengembalikan kesadaranku.

“Tadi aku jalan-jalan sekitar rumah sakit ini, mencari udara segar.” Jawabku.

“Aaah begitu. Yasudah aku dan Donghae oppa ingin membeli makanan dulu ya, kalian berdua pasti sudah lapar kan?”

“Hhhmm.” Jawabku singkat.

“Baiklah. Ah Eunhyuk-a, titip adikku sebentar ya!” tambah Hyuri.

“Ya! Kau pikir aku anak kecil?!” teriakku tak terima.

“Aisshh jangan berteriak-teriak seperti itu, nanti pasien lain bisa terganggu. Baik-baik, aku minta maaf.”

“Tch, sudah sana pergi. Aku sudah lapar.”

Hyuri tak membalas ucapanku dan langsung melesat pergi bersama pacaranya itu. Dalam sekejap, mereka sudah tak tampak lagi oleh indera penglihatanku. Tinggalah aku berdua dengan Eunhyuk di ruang tunggu rumah sakit ini. Rasanya aku ingin sekali bertanya padanya, kenapa dia tadi memutuskan sambungan telfon begitu saja. Tapi aku mengurungkan niatku. Lebih baik aku diam saja, pikirku saat itu.

“Kau tidak mau bertanya kenapa tadi aku tidak mau bicara dengan Ji Eun?” tanya Eunhyuk yang memecah keheningan selama sesaat.

“Tidak. Itu bukan urusanku.” Jawabku ketus.

“Padahal jika kau bertanya, aku akan menjelaskannya dengan senang hati. Bahkan tanpa di tanya pun aku akan menjelaskannya padamu.”

“Tidak perlu, aku tidak mau tahu alasannya kenapa.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika Ji Eun menelfonmu lagi dan ingin bicara padaku, langsung saja kau matikan ponselmu, arra?”

Entah kenapa tapi ada perasaan senang yang menggelitik hatiku. Benarkah yang aku dengar barusan? Ah aku tidak peduli apapun alasannya.

“Arra.” Jawabku singkat.

Keheningan lagi-lagi yang menguasai suasana. Aku bingung memilih topik pembicaraan yang pas untuk saat ini, dan pada akhirnya aku menyerah dan hanya bisa berharap semoga Hyuri cepat kembali.

5 menit…10 menit berlalu, dan Hyuri masih belum kembali juga. Aku hampir putus asa dengan suasana seperti ini. Kecanggungan yang aku rasakan begitu besar. Errrghhh ayolah Kim Hyuri cepat kembali, pintaku putus asa.

5 menit lagi berlalu dan akhirnya permintaanku terkabul. Hyuri sudah kembali.

“Ya, mianhae membuat kalian menunggu lama. Tadi antriannya sangat panjang.”

“Lain kali, cari saja kedai makanan yang sepi, jadi aku tak harus menunggumu seperti tadi. Kau tahu? Aku nyaris mati kelaparan.” Kataku sedikit berbohong.

“Bukannya aku tidak mencari tempat lain, ini sudah malam Jiyeong-a, kebetulan kedai makanan yang masih buka hanya ini saja.”

“Aisshh yasudahlah terserah. Mana makananku?”

“Ini.” Jawab Hyuri sambil menyerahkan bungkusan ke arahku. “Ohya, dan ini untukmu Eunhyuk-a.” Tambah Hyuri.

“Gomawo noona.” Balas Eunhyuk dan menghampiriku yang sudah duduk duluan tanpa mengucapkan apa-apa pada Hyuri.

Aku membuka bungkusan itu dengan tidak sabar. Kalau aku bilang tadi aku nyaris mati kelaparan, sebenarnya itu tidak sepenuhnya bohong, karena aku benar-benar lapar. Aku tergelak mendapati apa isi bungkusan itu. Mie ramen. Makanan yang selalu aku hindari karena selalu mengingatkanku dengan Eunhyuk. Dan sekarang, aku memakan makanan ini tepat di sebelahnya?

Aku yang awalnya sangat tidak sabar untuk menyantap makanan, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Tapi aku tetap saja menyuapkan ramen itu ke mulutku. Belum selesai kerongkonganku berhasil memasukan ramen itu ke dalam lambungku, aku sudah menyuapkan lagi ramen itu ke dalam mulutku.

“Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.”

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?”

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!”

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~”

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?”

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kenangan itu muncul lagi dipikiranku hah? Alih-alih untuk mengilangkan pikiran itu, aku kembali dengan nafsunya menyuapkan ramen ke dalam mulutku.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” kata Eunhyuk memperingatiku.

Kata-kata itu…sama persis dengan apa yang dikatakannya waktu itu. Aku tidak menggubris peringatannya dan tetap pada kegiatanku.

“Kim Jiyeong! Aku bilang jangan seperti itu! Nanti kau bisa tersedak!”

“Berisik!” jawabku dengan mulut penuh.

“Mulutmu itu sudah penuh, jangan kau masukkan ramen itu lagi ke dalam mulutmu, sebaiknya kau telan dulu.” Kata Eunhyuk sambil mengambil sumpit yang aku pegang agar aku tidak menyuapkan ramen lagi ke dalam mulutku.

“Kembalikan! Aku mau makan!”

“Tidak sebelum kau telan dulu ramen yang ada di mulutmu itu!”

Aku bingung harus melakukan apa, tapi tiba-tiba, aku melihat sumpit milik Eunhyuk yang sedang tidak terpakai. Segera saja aku mengambilnya, dan kembali memakan ramenku.

“Ya! Kim Jiyeong! Sebenarnya kau kenapa hah?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap pada kegiatanku. Kalau orang lain melihat apa yang aku lakukan saat ini, mungkin orang itu akan menyangka, bahwa aku ini monster yang sudah tidak diberi makan selama berhari-hari.

“Uhuk…uhuk…uhuk…” Aku nyaris kehabisan nafas karena tersedak. Argghh aku sekarang malah tampak seperti orang bodoh. Lihat kan? Sampai Hyuri dan Donghae pun melihat ke arahku.

“Kau tidak apa-apa? Ini minumlah.” Kata Eunhyuk sambil menyodorkan sebotol minuman padaku.

Aku mengambil botol itu dan segera meneguk air itu secepat mungkin. Rasanya tersedak itu benar-benar tidak enak.

“Aku sudah memperingatimu dari awal kan? Kau sendiri yang tidak mendengarnya. Sekarang rasakan akibat ulahmu sendiri.”

“Tch, kalau kau tidak tulus, tidak usah memberiku minum!” bentakku yang sudah berhasil menelan seluruh ramen yang tadinya memenuhi rongga mulutku.

“Kau sudah aku bantu, malah membentakku.”

“Siapa yang suruh kau membantuku hah?”

“Memang tidak ada! Tapi apa aku akan diam saja melihatmu seperti itu?!” Eunhyuk sedikit menaikan nada suaranya sehingga terkesan dia membentakku.

Aku menunduk karena merasa menyesal. Baiklah aku akui aku salah kali ini. Harusnya aku berterima kasih padanya, bukan malah membentaknya seperti tadi.

“Maaf.” Ucapku pelan.

“Bukan maaf, tapi terima kasih.” Ralatnya.

Aku menarik nafasku sesaat dan mencoba mengatakan kalimat singkat itu. “Terima kasih.” Kataku akhirnya sambil tetap menunduk.

Eunhyuk mengangkat daguku dengan lembut sehingga kepalaku terangkat dan kini aku bisa memandang wajahnya.

“Itu baru benar.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku salah tingkah dibuatnya. Harusnya tadi aku tetap menunduk. Arrgghh tidak adakah hal di dunia ini yang bisa aku lakukan dengan benar?

“Ya! Ini makan punyaku saja.” Kata Eunhyuk.

Ah iya aku lupa ramenku tadi tidak sengaja terjatuh, karena saat tersedak tadi, aku kelimpungan mencari air minum.

“Tidak usah. Aku sudah kenyang.”

“Kau yakin sudah kenyang?” tanya Eunhyuk sangsi.

“Ne. Nikmati saja ramenmu itu.” Jawabku yakin.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk. Dan Eunhyuk pun mulai melanjutkan makannya lagi.

***

Jam 02.00 dini hari. Haaaah kapan malam yang panjang ini akan berakhir? Sudah berulang kali aku mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku terus-terusan memikirkan eomma yang sekarang terbaring sendirian di ruang ICU. Aku melirik ke arah Hyuri. Ah rupanya dia sudah tidur. Ya! Apa-apaan dia itu? Kenapa membuat orang iri saja? Bayangkan saja, dia tidur dipangkuan Donghae. Aisshhh dasar.

“Kau belum tidur?”

“A-aku membangunkanmu ya? Maaf.” Ujarku tak enak.

“Tidak juga. Sebenarnya aku juga tidak benar-benar tertidur.”

“Kalau begitu, lanjutkan lagi saja tidurmu, siapa tahu kau benar-benar akan tertidur sekarang. Aku janji tidak akan membangunkanmu lagi.”

“Kau sendiri kenapa sampai sekarang belum tidur? Itu lihat kakakmu sudah tertidur pulas daritadi.”

“Aku tidak bisa tidur. Aku…….selalu memikirkan eomma ketika aku mencoba untuk memejamkan mataku.” Jawabku lemah.

“Jadi karena itu kau tidak bisa tidur? Jiyeong-a dengarkan aku. Seorang ibu adalah sosok yang kuat, jadi eomma mu pasti akan berhasil melewati masa kritisnya. Apalagi kau dan Hyuri noona sudah berdoa untuknya kan? Tenang saja pasti Tuhan akan mendengar doamu dan Hyuri noona.”

Aku menatapnya sangsi. Apakah benar apa yang dikatakannya?

“Kau meragukanku? Baiklah, akan aku beri bukti. Begini, kau pasti tahu kan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya?”

Aku mengangguk,”Ya aku tahu.”

“Nah, kau juga pasti tahu bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan dan taruhannya adalah nyawa? Ibumu sudah berhasil melalui masa yang menyakitkan dan mempertaruhkan nyawanya itu demi melahirkan kau dan Hyuri noona, jadi dia pasti bisa melewati masa kritisnya malam ini. Lagipula aku yakin, ibumu tidak akan mau pertaruhan nyawanya menjadi sia-sia waktu itu, jadi dia pasti akan kembali sadar.”

Aku benar-benar terharu mendengar apa yang Eunhyuk katakan. Tidak aku sangka laki-laki dihadapanku ini bisa mengatakan hal mengharukan seperti itu.

“Kau benar Eunhyuk-a. Eomma pasti akan sadar.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa kau tidak tersenyum begitu daritadi hah? Baguslah kalau kau sudah yakin. Ya! Sekarang lebih baik kau tidur. Kau tidak mau kan ketika besok eommamu sadar tapi kau malah tertidur?”

“Aisssshh iya baiklah. Aku akan mencoba untuk tidur.”

“Baiklah kalau begitu kemari.” Eunhyuk membimbing kepalaku agar bersandar di bahunya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak akan mau kan jika aku suruh tidur seperti Hyuri noona?” katanya sambil tertawa.

“Tentu saja tidak!”

“Yasudah, makanya kau menurut saja denganku.”

Aku merengut kesal, tapi tetap saja bersandar padanya. Dan tak lama kemudian, aku pun tertidur. Semoga malam yang seperti ini hanya akan terjadi satu kali seumur hidupku.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena mendengar sedikit kebisingan. Saat aku benar-benar berhasil membuka mataku secara sempurna, aku mendapati Hyuri sedang mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku bangkit dari posisi bersandarku dan mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku melirik ke arah Eunhyuk yang masih terlelap. Aku berusaha bangun dari kursi ini dengan sangat pelan-pelan agar tidak membangunkan Eunhyuk yang tampaknya baru tidur 2 jam yang lalu.

“Hyuri-ya, ada apa? Kenapa kau mondar-mandir seperti itu? Eomma sudah sadar?” tanyaku ketika berhasil menghampiri Hyuri.

“Aku tidak tahu, kita tunggu saja kabar dari dokter yang menangani eomma. Dia baru saja masuk.”

“Ya! Kalau begitu kenapa kau tidak membangunkanku hah?”

“Kau pikir aku akan membangunkanmu yang baru tidur 3 jam lalu? Aku tidak setega itu!”

“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada eomma? Apa kau akan tetap membiarkanku tertidur?”

“Aisssh baik-baik aku salah, maafkan aku.” Kata Hyuri akhirnya mengalah.

“Ya! Tapi darimana kau tahu aku baru tidur 3 jam yang lalu?”

“Eunhyuk-mu.”

“Dia bukan Eunhyuk ku!”

“Bukan “bukan” tapi belum.”

“Ya! Kim Hyuri kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?”

“Hei sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?” lerai Donghae dan entah dari kapan tapi tiba-tiba Eunhyuk sudah berada di sampingku.

“Ka-kau sudah bangun?” tanyaku pada Eunhyuk.

“Ne.” Jawabnya singkat. Terlihat jelas dari raut mukanya bahwa ia masih sangat mengantuk. Aisshh ini semua gara-gara Hyuri!

Cklek. Terdengar suara pintu terbuka dan munculah seorang dokter muda dengan stetoskop dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jubahnya.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanyaku tak sabar.

Dokter itu tersenyum. Aah ini pasti pertanda baik!

“Aku ucapkan selamat buat kalian berdua. Eomma kalian berhasil melewati masa kritisnya dengan baik. Dan kalian tahu? Bahkan seorang eomma kalian sudah sadar.” Kata dokter itu sumringah.

“Jinjjayo?” kataku dan Hyuri nyaris bersamaan.

“Tentu saja. Ohya, boleh aku tanya sesuatu? Di antara kalian siapa yang bernama…hhmm…Kim…Hyuri?” dokter itu terlihat bingung sesaat tapi kemudian dia bisa menyelesaikan ucapannya.

Aku yang tadinya sangat antusias mendadak tak bersemangat. Kenapa dokter itu menanyakan Hyuri?

“Aku. Aku Kim Hyuri. Wae?” jawab Hyuri dan langsung balik bertanya pada dokter itu.

“Ah ibumu, saat dia sadar tadi, dia langsung menyebut-nyebut namamu. Bahkan dia langsung memintaku untuk segera memanggilmu, katanya begini, “Dokter, apakah bisa kau panggilkan Kim Hyuri anakku? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”

Hyuri? Hanya Hyuri saja yang eomma cari? Hanya Hyuri yang ingin ditemuinya? Lantas aku? Apa aku benar-benar tidak berarti untuk eomma?

“Ya, hari ini juga ibu kalian akan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, jadi kalian bisa menemuinya.” Tambah dokter itu.

“Ah baiklah. Terima kasih banyak dokter.” Kata Hyuri sambil tersenyum.

“Ne. Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian.” Balas dokter itu sambil kemudian berlalu pergi.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah tahu akan begini. Sudah sana cepat temui eomma.” Kataku pada Hyuri sambil mencoba menahan rasa kecewaku.

“Tapi….kau…”

“Dokter itu bilang kan, eomma sudah tidak sabar bertemu denganmu? Jadi kau tunggu apalagi? Cepat sana temui eomma.”

“Kau tidak ikut bersamaku?”

“Aku bisa lain kali menemui eomma. Sangat tidak lucu jika aku dan eomma bertengkar, padahal eomma baru saja sadar kan?”

“Baiklah kalau itu maumu. Aku masuk sekarang ya.”

Hyuri dan Donghae segera memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Dan aku di sini hanya bisa melihat dari celah kaca yang ada di pintu. Biarlah asalkan aku bisa melihat eomma membuka matanya itu sudah lebih dari cukup.

 

Author POV

Eunhyuk menatap nanar gadis di sebelahnya. “Bagaimana bisa dia bersikap tegar padahal aku tahu dia sangat ingin menangis sekarang. Kalau aku bisa, aku akan menyeretnya saat ini juga masuk ke dalam, tapi apa boleh buat, dia sendiri yang melarangku untuk melakukan hal itu.” Batin Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, aku sangat senang sekarang.” Kata Jiyeong sambil terus menatap ke arah Hyuri dan ibunya.

“Kalau kau sangat senang, harusnya kau tersenyum, bukan malah murung seperti itu.” Balas Eunhyuk.

“Siapa bilang aku murung? Aku hanya iri dengan Hyuri…dia bisa langsung menemui eomma, sementara aku? Harus menunggu lain waktu.”

“Kan kau sendiri yang menginginkan hal itu.”

“Ah iya kau benar. Aku lupa.”

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Eunhyuk dan Jiyeong kembali disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hyuri yang mungkin daritadi memperhatikan Jiyeong dari dalam akhirnya tak tahan dan meminta ibunya agar mau bertemu dengan adiknya itu.

“Eomma sebenarnya yang datang ke sini bukan hanya aku saja, tetapi Jiyeong juga datang.”

“Hyuri kau bercanda? Mana mungkin adikmu itu datang.”

“Eomma aku serius. Aku panggilkan dia ya.”

“Tidak usah. Kepalaku bisa kembali pusing jika bertemu adikmu itu.”

“Eomma aku mohon….” Hyuri memelas pada eommanya.

“Hhhm baiklah, tapi tolong kau suruh adikmu jangan membuat ribut di sini.”

“Tidak akan eomma. Dia tidak akan membuat ribut, aku yakin.”

Hyuri pun segera keluar dan menemui Jiyeong. Jiyeong agak sedikit terkejut karena Hyuri tiba-tiba keluar.

“Jiyeong-a! Ayo masuk!” ajak Hyuri antusias.

“Mworago? Aku? Masuk ke dalam?”

“Ne! Ayolah bukannya kau ingin masuk?”

“Memang aku ingin, tapi….”

“Aku tahu. Tenang saja, aku sudah bilang pada eomma kok.”

Jiyeong tersenyum mendengar pernyataan kakaknya. Ia pun segera masuk ke dalam bersama Hyuri.

“Eunhyuk-a kau tidak ikut masuk?” tanya Hyuri yang melihat Eunhyuk tidak bergerak dari tempatnya.

“Aniyo noona, biar aku menunggu di luar saja.” Tolak Eunhyuk halus.

“Baiklah, kalau begitu kami masuk dulu ya.”  Balas Hyuri sambil menggandeng Jiyeong masuk.

Kim Jiyeong POV

Jantungku makin berdetak tidak karuan begitu aku memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Astaga! Memang awalnya aku sangat ingin masuk, tapi begitu sekarang aku masuk, aku malah gugup dan malah ingin keluar. Aku bingung harus mengatakan apa pada eomma nanti.

“Eomma, aku tidak bohong kan? Lihat ini Jiyeong!” seru Hyuri pada eomma.

Aku tersenyum kikuk. Bukan karena kegugupanku tapi lebih kepada raut muka eomma yang sepertinya tidak suka dengan kehadiranku.

“Eomma…” kataku tersendat.

“Ada apa?” tanya eomma dingin.

“Aku…senang kau sudah sadar.” Aku berusaha untuk tersenyum, walaupun akhirnya senyum yang aku keluarkan adalah senyum yang dibuat-buat.

“Kau yakin?”

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Bukannya kau berharap supaya aku tidak akan pernah sadar lagi?”

Bahuku mulai bergetar. Mataku mulai terasa panas. Tidak sekarang Kim Jiyeong, kau pasti bisa tahan.

“Tentu saja aku tidak berharap seperti itu. Sungguh, aku sangat senang eomma sudah sadar.”

“Terserahlah aku tak peduli. Kau sudah selesai kan? Kalau sudah kau bisa keluar sekarang. Biar Hyuri saja yang menemaniku di sini. Kepalaku sakit jika melihatmu lebih lama lagi.”

“Eomma, jangan terlalu kasar seperti itu. Ingat kau baru sadar.” Kata Hyuri mengingatkan eomma.

“Maaf kalau kehadiranku membuat eomma sakit. Aku akan keluar sekarang.” Aku berbalik dan segera menuju pintu keluar. Harusnya tadi aku tidak usah menerima tawaran Hyuri untuk masuk.

“Hyuri! Jangan menahan adikmu! Biarkan saja dia keluar. Kau tetap di sini bersama eomma.” Kata eomma yang mencegah Hyuri untuk menahanku.

Aku mempercepat langkahku dengan tujuan agar aku bisa segera keluar. Ternyata terlalu menyakitkan untuk berada di kamar ini. Dengan susah payah aku menahan tangisku agar tidak pecah, tapi sia-sialah semua usahaku itu. Dengan lancangnya air mataku turun membasahi pipiku.

Karena aku menangis, aku tidak menyadari bahwa Eunhyuk sudah menungguku tepat di depan pintu dan aku pun menabrak tubuhnya.

“Aku tidak tahu apa yang dikatakan eommamu barusan. Tapi kalau kau sampai menangis, berarti itu pasti kata-kata yang sangat menyakitkan.”

“Bisa bawa aku pergi dari sini? Aku janji tidak akan memberontak atau apapun. Ke manapun kau membawaku aku akan mengikutimu.”

“Aku mengerti perasaanmu. Baik kalau itu yang kau mau. Sekarang ikut aku.”

 

 

-TBC-

Me, You and Us [ Part 4 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa aku langsung bergegas menuju tempat kerjaku. Aku tidak peduli tatapan orang-orang lain padaku. Jika ku ladeni, mereka pasti makin menjadi-jadi saja. Aku berjalan menuju halte bus dekat sekolah. Tidak jauh, kira-kira hanya berjarak 1,5 km dari sekolahku. Hanya butuh waktu sebentar menunggu bus datang. Aku mengambil tempat paling belakang di bus ini. Aku menyandarkan kepalaku pada kaca bus, mengistirahatkan pikiranku sejenak. Aku lelah. Pikiran ku lelah, jasmani, dan tubuhku juga sangat lelah.  Tega sekali eomma tiriku, menyuruhku bekerja demi membantu appa, tapi dia sendiri hanya diam di rumah saja? Gila. Itu namanya kejam, kenapa tidak dia saja yang bekerja? Aku ini kan, masih harus sekolah. Belum lagi ditambah dengan masalahku sekarang ini? Makin menderita saja hidupku. Appa, dia juga sudah lama sekali belum pulang, dia bilang masih banyak pekerjaan lagi yang akan dia kerjakan, ini semua demi aku dan eomma tiriku. Tch, seharusnya demi aku saja, buat apa perempuan jahat itu di kasihani. Aku menghembuskan nafasku. Membuat sedikit uap yang tertinggal di kaca bus itu. Cuaca di luar sedang tidak bersahabat, hujan turun deras sekali. Pas sekali dengan keadaanku, aku tidak mebawa jaket, payung atau apalah yang bisa melindungiku dari air hujan.

 

Akhirnya bus yang ku tumpangi ini, berhenti di halte berikutnya. Aku sedikit berlari saat turun dari bus itu. Aku mengenakan tasku, sebagai penutup atas kepalaku agar tidak terkena air hujan. Tapi, tas itu kecil, tidak bisa menutupi seluruh tubuhku. Dan lihat saja, tubuhku sebagian basah kuyup. Aku segera memasuki Club. Belum sampai menutup pintu lagi saja, sajangnim sudah menunggu disana. Ada apa? Apa aku terlambat? Aku segera mengecek jam pada ponselku. Tidak.

“ Aku tidak terlambat, kan? ” tanyaku pada sajangnim.

“ Tidak. ” jawabnya.

“ Tapi kenapa sepertinya kau sedang menunggu-ku? ”

“ Tch, bukan aku yang menunggu-mu. Temanmu menunggu-mu. ”

“ Ne!? ” tanyaku tak mengerti.

“ Aku sudah tau masalah kalian, Eunhyuk sudah menceritakan semuanya. Tch, dasar anak muda, ada-ada saja. Sudah sana! Temui dia, sepertinya masalah kalian ribet sekali, sampai kalian tidak bisa membicarakannya di sekolah. ”

Hyuk Jae benar-benar sudah disini!? Tch, dasar bodoh! Dia bisa menungguku dulu, sampai aku sampai di Club baru dia datang. Kenapa jadi dia yang datang duluan?

“ Dimana dia? ”

“ Di lantai atas. Aku suruh menunggunya di kamar saja. Aku tidak mungkin menyuruhnya menuggunya di lantai bawah. Banyak pengunjung, dan seharusnya kau bekerja, kan? Tidak mungkin, aku membiarkan kalian membicarakan masalah kalian di lantai bawah. Yang ada, pasti teman-temanmu akan iri melihatmu karena tidak bekerja. ”

“ Sajangnim, tidak apa-apa kalau aku tid……  ”

“ Gwechana. “ sajangnim memotong perkataanku. Aku langsung berlalu meninggalkan sajangnim. Aku baru menginjakan anak tangga yang pertama, tapi sajangnim memanggilku lagi.

“ Jooyoung. ” panggil sajangnim. Aku berbalik.

“ Ne? ”

“ Sepertinya karena masalah ini, mengharuskan kalian akan sering bertemu. “ katanya. Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksudnya?

“ Lalu? ”

“ Ah, aniyo. “ jawabnya. Dia lalu berbalik pergi. Aku makin mengkerutkan dahiku. Apa maksudnya? Sering bertemu dengan Hyuk Jae? Memang apa salahnya?

***

 

Chae Yeon POV

“ Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a. ”

Aku hampir nyaris kehilangan kata-kata. Apa katanya? ‘Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a.‘ Aku sedang tidak mengingau kan? Apa aku sedang bermimpi?

“ Kau lucu sekali. ” desisku.

“ Sayangnya, aku sedang tidak membuat lelucon. ”

Deg! Saat ini aku benar-benar kehilangan kata-kata. Aku melihat ke arahnya. Kyuhyun juga melihat ke arahku. Dia tersenyum. Astaga, kenapa jadi seperti ini?

“ Kau ingat? ” tanyaku. Bodoh, kenapa pertanyaan bodoh seperti itu yang aku tanyakan.

“ Hmm. ”

“ Jadi dulu benar, kita berteman sejak kecil? ”

“ Mungkin. Memori masa kecilku, tiba-tiba melintas begitu saja. ”

“ Kau tidak yakin? ”

Aku melihat Kyuhyun menggerakan bahunya ke atas.

“ Tapi kenapa aku tidak mengingat sama sekali? ” kataku.

“ Satu alasan. Pertemuan terakhir kita, adalah saat terburuk bagiku. Kau membenciku. Mungkin itu yang membuat-mu benar-benar melupakanku. ”

Aku makin tidak tahu harus berkata apa lagi. Bingung dan rasa campur aduk lainnya, yang benar-benar tidak bisa di jelaskan lagi.

“ Membencimu? Kenapa? ”

“ Dulu, keluargaku akan pindah ke Australia dan saat itu aku tidak pernah memberitahumu sebelumnya. Aku takut jika memberitahumu, kau akan menangis, tidak mau makan, mengurung diri seharian karena itu artinya kita akan sangat jarang bertemu. Dan benar saja, saat hari itu datang, kau benar-benar mencaciku, memarah-marahiku, menangis, kondisimu benar-benar kacau. Dan kau bilang bahwa kau membenciku. Kau tidak akan mau bertemu denganku lagi. Sebenarnya saat itu aku sangat sedih, sakit hati. Tapi kupikir lagi, itu semua salahku. Seharusnya aku tahu, aku harus memberi tahu berita kepindahanku padamu. ”

Aku mendengarkan penjelasan panjang lebarnya itu. Aku menangis? Tidak mau makan? Mengurung diri seharian? Apa itu benar-benar seorang Lee Chae Yeon?

“ Kau pernah tinggal di Australia? ”

“ Ternyata kau benar-benar melupakannya. ” katanya. Raut wajahnya kenapa jadi sedih begitu?

“ Kau ingat dengan noona-ku? ” katanya lagi.

“ Kau punya saudara? Kukira kau anak satu-satunya. Noona-mu tidak pernah kelihatan. ”

“ Dia sedang kuliah di Australia. Noona-ku mengambil jurusan musik. ”

“ Noona-mu kenal denganku? ”

“ Bahkan kalian sering ikut eomma berbelanja. ”

Aku mengangguk sedikit. Setelah itu, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya memegangi kedua lenganku, karena mengigil. Bajuku basah dan saat ini hujan belum juga berhenti. Ditambah lagi, hujan saat ini disertai angin.

“ Kau kedinginan? ” tanyanya.

“ Tidak. ” jawabku bohong.

“ Tapi tubuhmu mengigil. ”

Sedetik kemudian, Kyuhyun sudah meletakan tangannya di pundakku. Merangkulku. Dia sedikit membuatku menjadi lebih dekat dengannya. Jantung berdetak kencang sekali. Kenapa jantung jadi berdetak kencang sekali? Pasti ada yang salah. Aku sudah gila. Aku takut kalau aku terlalu dekat dengannya, Kyuhyun bisa mendengar detak jantungku.

“ Setidakya ini bisa membuatmu sedikit hangat. ”

Aku melihat ke arahnya. Kali ini dia tidak melihat ke arahku, padangannya tetap lurus kedepan. Seolah-olah dia sedang menikmati hujan yang sedang turun. Tapi, kenapa justru tampangnya sedikit, eh? Mempesona….

***

 

Jooyoung POV

“ Kau menunggu lama, tuan Lee? ” tanyaku. Aku membuka pintu kamar tamu ini.

“ Tidak. ”

“ Kenapa jadi kau yang datang duluan? ”

“ Apa ada masalah? ”

“ Bodoh. Seharusnya, kau menelepone-ku dulu, memastikan apa aku sudah ada disini atau belum. ”

“ Pada akhirnya, aku akan tetap bertemu denganmu disini. “

“ Keras kepala. ” kataku pelan sehingga tidak dapat didengarnya. Aku menutup pintu kamar ini.

“ Di luar sedang hujan, kau tidak kehujanan? ” tanyanya.

“ Kau bisa lihat sendiri. Bajuku sedikit basah. ”

“ Kalau begitu, kau ganti saja baju-mu dulu. ”

“ Tidak usah. Bicarakan saja langsung masalahnya, aku tidak mau buang-buang waktu. ”

“ Aku ingin tanya sesuatu padamu. ” lanjutku lagi.

“ Apa? ”

“ Apa saat kau keluar dari ruang Choi seoseongnim, kau melihat ada murid di dalam sekolah? ”

“ Di dalam sekolah sudah sepi, tapi saat aku keluar denganmu, kau lihat juga kan? Di luar sekolah, masih ada beberapa murid. ”

“ Kau yakin? ”

“ Ne. Waeyo? ”

“ Aku sudah menceritakan semua masalah ini pada sahabatku. ”

“ Lalu, sahabat-mu percaya denganmu? ”

“ Tentu saja. ”

“ Ku kira, tak ada satupun murid di sekolah itu yang percaya. ”

“ Ya, Hyukjae! Kau tidak berpikir masalah kertas di mading itu bukan seoseongnim kan yang melakakukan? ”

“ Tch, sebenci-benci aku dengannya, aku tidak pernah berpikir dia yang melakukannya. Tidak mungkin, seoseongnim rela menghabiskan waktu hanya karena itu. ”

“ Semuanya mungkin. ”

“ Tapi aku yakin, bukan seoseongnim. ”

“ Setelah kemarin dia benar-benar memjokkan kita, menuduh kita melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Kau yakin? ” tanyaku sekali lagi. Hyukjae mengangguk.

“ Jangan menuduh seseorang kalau tidak ada kebenarannya. ” tambahnya lagi.

“ Hhh, kau pikir seoseongnim menuduh kita ada kebenarannya? Tidak! ”

“ Lalu siapa!? ”

“ Molla!!!! Tujuan-mu kesini adalah untuk mencari pelaku dari kejadian kertas busuk itu kan?! ”

Hyukjae tidak menjawab. Diam.

“ Murid di sekolah juga bisa dipertimbangkan. ” kataku.

“ Apa maksudmu? ”

“ Kau pernah punya masalah di sekolah ini? ”

“ Tidak. Dan ini kali pertamanya aku mendapat masalah. ”

“ Masalah dengan murid-murid disekolah, juga tidak pernah? ” tanyaku lagi. Hyukjae tidak menjawab. Lagi. Tapi kali ini dia terlihat sedang berpikir, mencerna pertanyaanku barusan.

“ Saat akan kenaikan kelas tahun lalu, ada seorang yeoja yang menyatakan cinta padaku. Dia cantik, pintar, dan sangat modis. Dia mengatakan secara terang-terangan bahwa dia menyukaiku.”

“ Jangan bilang padaku, kalau kau menolaknya saat itu juga. ”

“ Aku menolaknya. Saat itu juga. Aku tidak suka dengannya, kelakuannya. Dia terlalu agresif, dia seorang yeoja dan bukan seharusnya dia yang menyatakan cinta pada namja yang dia sukai. Itu, sama aja menjatuhkan harga dirinya. ”

“ Kau salah besar, memang apa salahnya jika seorang wanita yang menyatakan cintanya duluan? Kau pikir dalam dunia percintaan itu, harus selalu pria yang menyatakan cintanya duluan? ”

“ Kupikir begitu. ”

“ Bodoh. ” desisku.

“ Jadi kau benar-benar menolaknya saat itu juga? ” lanjutku lagi.

“ Aku sudah bilang padanya, bahwa aku tidak suka dengannya. Tapi, dia tetap bersikeras memaksaku. Aku tidak tahu harus apa lagi. Jadi, aku sedikit kasar kepadanya. ”

“ Kasar padanya? Ya, hati wanita itu tidak sekuat dengan hati pria. Jika, dia benar-benar sudah tidak kuat, pasti dia akan menangis. Tapi menangis disini bukan berarti dia lemah, tapi karena dia benar-benar sudah tidak tahan dengan apa yang dia rasakan saat itu. Dan terakhir, saat semua itu sudah berlalu baginya, dia akan merasa dendam pada orang yang sudah membuatnya menangis. Rasa dendam wanita itu, biasanya akan lebih besar daripada seorang pria. Dan alasan ini, bisa masuk daftar pelaku kertas busuk itu, selain seoseongnim tentunya. ”

“ Jadi kau berpikiran dia yang melakukannya? ”

“ Apa yeoja itu populer? ”  aku mengambaikan pertanyaan Hyukjae.

“ Sangat. ”

“ Siapa namanya? ”

“ Shin Soo Ae . Murid kelas 3B ”

“ Masalah ini, pasti akan lebih besar lagi. ”

“ Kita masih bisa membicarakannya pada  Choi seoseongnim. ”

“ Bicarakan apa? ”

“ Kertas yang kau sebut busuk itu. ”

“ Tentu saja. ”

Setelah perkataan terakhirku itu. Tidak ada yang berbicara lagi. Aku maupun Hyukjae. Sunyi, suasana yang bisa digambarkan pada ruangan ini. Aku menelan ludahku. Kenapa keadaannya jadi canggung seperti ini? Untuk kali ini, aku menyesesal dengan perbuatanku. Seharusnya aku tidak menutup pintu kamar ini. Aku memegangi seragamku yang masih sedikit basah. Dengan keadaan seperti ini, aku pasti akan terkena flu. Seragamku yang lembab, ditambah dengan ruangan ber-AC seperti ini. Aku melihat ke arah Hyukjae. Dia juga sama denganku, hanya diam saja ditempatnya. Aku masih tetap memperhatikan Hyukjae, sampai dia akhirnya sedikit mendongak dan menatap lurus ke arahku. Aku segera, memalingkan wajahku.

“ A-aku harus kebawah. Kau pulang saja. ” kataku akhirnya memecah keheningan. Aku segera berbalik pergi, menyambar kenop pintu itu.

“ Tidak. Aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja. ”

Aku berbalik.

“ Untuk apa? Pembicaraan ini sudah selesaikan? Kenapa masih menungguku? ”

“ Aku akan mengantarmu pulang. ”

“ Ne!? Tch, kau gila!!? Aku sudah biasa pulang sendiri. ”

“ Tapi aku ingin mengantarmu pulang! ”

“ Tidak usah! Kau pulang saja duluan! ”

“ Tidak. ”

“ Hyukjae! ” kataku dengan penekanan. Yang benar saja, kenapa dia tiba-tiba ingin mengantarku pulang? Aneh.

“ Sudah berapa kali aku katakan, hah!? Aku tidak pernah mau menerima penolakan. ”

***

 

Author POV

Kyuhyun mengadahkan kepalanya keatas, sedikit keluar pada naungan atap yang menjuntai dari toko itu. Memastikan bahwa, apakah hujannya sudah mereda. Mereka masih berada di pinggiran toko itu. Sejak tadi, hujannya belum juga reda. Sampai saat ini, walaupun hujannya masih turun, tapi tidak sederas sejak tadi.

“ Ayo pulang! ” ajak Chae Yeon.

“ Tidak. Hujannya masih deras. ”

“ Ya, ini sudah tidak terlalu deras. Ayolah! ”

“ Kau mau sakit? ”

“ Ish, percayalah! Kita tidak akan sakit. ”

Kyuhyun akhirnya menuruti ajakan Chae Yeon. Mereka berjalan di sepanjang pinggir jalan kota itu. Jalan kemarin yang mereka lalui tanpa sengaja. Sesekali percikan air mengenai mereka, karena mobil yang yang mengenai genangan air di tengah jalan. Orang normal, pasti akan mengatakan bahwa hujan ini masih deras. Tapi tidak dengan Chae Yeon, dia bilang hujan ini sudah tidak deras. Ya.. karena dia suka hujan. Mereka menelusuri jalan pulang itu dengan basah kuyup, alias mereka tidak menggunakan payung, jas hujan atau semacamnya untuk melindungi diri dari hujan. Diam. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Tidak seperti kemarin. Mungkin, ini karena perkataan Kyuhyun yang tiba-tiba mengatakan bahwa dia sudah ingat tentang masa kecilnya. Dan satu lagi, sikap Kyuhyun yang tiba-tiba merangkul Chae Yeon, memberi kehangatan di sela hujan yang turun dengan deras.

Mereka sekarang sudah sampai di rumah. Tanpa ada kata perpisahan, mereka langsung masuk ke rumah masing-masing.

 

Chae Yeon POV

Aku memasuki rumahku, tanpa ada kata perpisahan sedikitpun dengan Kyuhyun. Jujur, aku masih shock sekali dengan perlakuannya tadi. Dia merangkulku, memberi sedikit kehangatan. Dan.. rangkulan itu, nyaman sekali. Aku langsung menggelengkan kepalaku sedikit, terkejut dengan apa yang aku pikirkan barusan. Lee Chae Yeon, kau pasti sudah gila.

“ Chae Yeon-a! Astaga! Kenapa kau basah kuyup begini?! ” pekik eomma.

“ Di luar hujan, eomma. ” jawabku singkat.

“ Aish, eomma tahu! Tapi, apa kau tidak bertemu dengan supir appa? ”

“ Supir appa menjemputku? ”

“ Jadi kau benar-benar tidak bertemu dengannya? Aish, bukankah ini sudah dibicarakan tadi malam? Supir appa menjemput kalian, lalu kalian pergi ke butik langganan eomma. Seharusnya sekarang kalian ada disana untuk fitting baju pernikahan. ”

“ Eomma tidak memberitahuku dengan jelas. ”

“ Kyuhyun mana!? ” tanya eomma lagi. Sepertinya, eommaku perhatian sekali pada Kyuhyun.

“ Tentu saja dirumahnya. ”

“ Kau pulang dengannya? ”

“ Hmm. ” jawabku malas.

“ Dengan keadaan sama sepertimu ini? ”

“ Aish, eomma! Tentu saja! Wae? Ada yang salah memang? ”

“ Pergi mandi, ganti baju-mu, eomma akan buatkan coklat panas untukmu. Kau minum, setelah itu kau pergi ke rumah Kyuhyun. ”

“ Ne!? Kenapa aku harus kerumahnhya? ”

“ Orang tuanya sedang tidak dirumah. Kau harus menjaganya, selama ahjumma dan ahjussi tidak ada. ”

“ Memang Kyuhyun tidak bisa jaga diri sendiri? ”

“ Dia sedang sakit, Chae Yeon. Dia pasti sakit karena hujan-hujanan begitu. Kau jangan berpikir diri sendiri, Kyuhyun tidak sepertimu yang senang dengan hujan. Pasti dia terkena deman jika habis hujan-hujanan. ”

***

Aku baru keluar dari kamar mandi, sedang mengeringkan rambutku. Aku menuju lemari pakaianku, memlih celana panjang yang sedikit pas pada kakiku berwarna pink soft dan atasan lengan panjang putih polos dan sweater rajutan abu-abu. Rrghh, ada-ada saja. Bagaimana bisa, hanya kehujanan saja langsung demam begitu. Pasti ini hanya akal-akalan eomma agar aku mau kerumah Kyuhyun. Aku mengenakan bajuku dan langsung keluar dari kamarku. Meneguk coklat panas yang ada di meja ruang makan. Menuju pintu keluar rumahku, mengambil payung dan berjalan ke arah rumah Kyuhyun. Sampai saat ini saja, hujannya masih tidak berhenti juga, batinku. Aku memasuki pagar rumah Kyuhyun dan sampai sekarang ini, aku berada tepat di depan pintu masuknya. Aku mengetuk pintu rumahnya dengan keras. Sepertinya, lebih pada menggedor agar si pemilik rumah itu mendengar ada tamu yang datang. Aku terkesiap, saat wajah pucat dan lesu, rambut yang sedikit acak-acakkan berdiri di hadapanku dan membukakan pintu masuk untukku.

“ Ada apa? ” tanyanya. Aura dinginnya, mulai muncul kembali.

“ Aku tidak tahu apa ini kesepakatan kedua orangtua-mu dan eommaku, eomma menyuruhku kesini untuk melihat keadaanmu yang sedang sakit karena kehujanan. Dan aku disuruh untuk menjagamu, karena orang tuamu tidak ada dirumah. ”

“ Masuklah. ”

Aku terkesiap. Lagi. Responnya hanya itu. Tumben sekali, biasanya pasti dia akan mengomel-omel tidak jelas kepadaku. Apa… Kyuhyun benar-benar sakit?

Aku masuk kerumahnya. Mengamati punggung Kyuhyun yang sedang berjalan ke arah kamarnya. Aku mengekor di belakangnya. Tapi, hanya berdiri di ambang pintu kamarnya. Aku melihat dia sedang merebahkan diri pada tempat tidurnya, menarik selimut yang ada pada ujung tempat tidurnya hingga setengah bagian tubuhnya tertutup. Dan tangan kirinya, memegangi kepalanya dan sering kali memijatnya perlahan.

“ Kau sakit? ” kataku akhirnya memulai perbincangan.

“ Kau bisa lihat sendiri. ” katanya, tetap pada nada dinginnya itu. Akhirnya, aku memasuki kamarnya itu. Mendekati Kyuhyun, berniat melihat keadaannya dari dekat. Wajahnya pucat, tidak ada energi sama sekali yang terpancar dari tubuhnya.

“ Demam. ” kataku.

“ Sok tahu. Aku hanya terkena flu. ”

“ Kalau hanya terkena flu, wajahmu pasti tidak akan sepucat ini. “

Aku duduk pada pinggiran kasur ini. Menghadap ke arahnya.

“ Karena hujan-hujanan? ”

“ Tidak juga. ”

“ Jangan bohong, eomma bilang kau pasti akan sakit setelah hujan-hujanan. ”

“ Aku tidak sakit, hanya flu. ”

“ Flu dengan sakit apa bedanya, bodoh. ”

“ Yak! Aku sedang seperti ini, masih kau katai bodoh? ”

“  Biar saja ini kesempatan, bukan? Aku mengatai-mu bodoh, kau tidak bisa apa-apa karena kau sedang sakit. ”

“ Kau pikir jika aku sedang sakit, aku akan mengalah denganmu, begitu? ”

“ Ku pikir, begitu. ”

“ Aish, sudahlah. Tujuanmu kesini untuk megurusi-ku kan? ”

“ Aku tidak tahu. ”

“ Buatkan sesuatu yang bisa kumakan, aku lapar. ”

“ Aku tidak bisa memasak. ”

“ Sama sekali? ”

“ Kimchi, kau mau? ”

“ Itu sayuran semua, aku tidak suka. “

“ Kau tidak suka sayuran? ”

“ Tidak. Sayuran itu tidak enak, rasanya pahit. ”

“ Itu karena kau tidak sering memakannya. Kau jadi tidak terbiasa dengan rasanya. ”

“ Tidak. Aku tetap tidak mau. ”

“ Tidak usah menolak. Akan kubuatkan. ” kataku memaksa. Aku beranjak pergi dari kamarnya, berjalan ke arah dapur. Mencari barang-barang yang kubutuhkan untuk masak. Tentu saja, ini bukan rumahku. Jadi aku sedkit susah mempersiapkan bahan-bahannya.

“ Kyuhyun! Dimana kau menyipan mangkuknya? ” tanyaku setengah berteriak.

“ Aku tidak tahu, kau cari saja sendiri! ” jawabnya setengah teriak juga.

“ Tch, jinjja. ” dumalku.

Aku masih tetap mencari tempat mangkuk diletakan, sampai akhirnya ketemu. Aku memasukan semua sayuran yang ada di kulkas rumah Kyuhyun. Mencampurnya dengan bumbu yang biasa dipakai untuk membuat kimchi, mengaduknya dan akhirnya selesai. Aku membawa kimchi buatanku ini, ke kamarnya.

“ Yak! Ayo mak…. ” aku belum sempat menyelesaikan perkataanku, tapi pemandangan didepanku ini, membuatku menghentikan kata-kataku. Dia tertidur. Kyuhyun tertidur. Sebentar saja kutinggal, langsung tertidur. Ternyata, dia benar-benar sakit. Aku berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Meletakkan kimchi di meja samping tempat tidurnya. Aku menarik bangku, agar bisa duduk di samping tempat tidurnya. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang, aku meletakan sikut pada lututku, menopang dagu dengan kedua tanganku. Aku tidak sadar bahwa sekarang, aku sedang memperhatikan wajahnya yang sedang teridur. Terlihat damai, beda sekali jika dia sedang sadar. Seperti setan yang berwujud nyata yang diturukan ke bumi.

“ Hey, kau sudah puas memperhatikan wajahku? Aku sudah berusaha keras, agar tidak melakukan apapun sejak tadi. ”

Aku tersentak. Astaga, jadi sejak tadi dia tidak tidur? Keadaan sakit seperti ini dia masih saja mengerjai orang. Aku jadi ragu, jangan-jangan muka pucat seperti itu, hanya akal-akalannya saja.

“ Yak!!! ” teriakku. Aku melemparkan bantal yang ada pada bangku ini ke arahnya.

“ Yak!!! ” dia balas meneriakku. Tapi tidak dengan lemparan bantal tadi.

“ Jadi sejak tadi kau tidak tidur!? ” pekikku.

“ Tidak. Aku hanya mengistirahatkan mataku sebentar. ”

“ Kalau begitu, saat aku datang kau seharusnya bangun! ”

“ Kau tidak membangunkanku. ” ucapnya santai.

“ Aku pikir kau benar-benar sedang tidur! Jadi aku tidak tega membangunkanmu, karena kau lagi sakit. Tapi aku lupa, kau sedang tidak sakit kan? Hanya terkena flu saja. Cepat, makan kimchi-nya aku sudah membuang waktuku untuk membuat kimchi itu. ”

“ Aku bilang, aku tidak suka makan sayuran. Aku juga tidak memintamu untuk membuatkannya. Lagipula, kenapa aku harus aku memakan kimchi. ”

“ Tidak ada alasan! Cepat makan! ” aku menyodorkan mangkuk berukuran sedang berisi kimchi ke arahnya.

“ Aku bilang tidak. Tetap tidak. ”

Ish! Dasar keras kepala! Aku mengambil kimchi itu dengan sumpit, yang tadi ku gunakan untuk mengaduk. Menyodorkan secara paksa ke arah mulutnya itu.

“ Yak! Buka mulutmu! ” paksaku. Dia tidak menjawab. Benar-benar mengunci mulutnya itu agar tidak ada kesempatan untukku memasukan makanan ini ke dalam mulutnya. Tingkahnya seperti anak kecil, saja. Padahal wajahnya itu, sama sekali tidak mirip dengan sikapnya saat ini.

“ Ayolah, sedikit saja. Aku jamin, rasanya enak. Kau mau sembuh dari flu-mu itu tidak? ” bujukku lagi.

“ Kau membujukku seperti itu, seperti kau benar-benar peduli denganku. ” akhirnya dia membuka mulutnya juga. Aku baru mau memasukan kimchi ini ke dalam mulutnya, tapi kata-katanya benar-benar membuatku menjadi patung.

“ Kau seperti istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya. ”

Skak mat. Berapa kali hari ini Kyuhyun membuatku kehabisan kata-kata. Perkatannya tadi saat pulang sekolah, perlakuannya yang tiba-tiba merangkulku, dan sekarang perkatannya lagi yang membuatku menjadi patung. Aku menjauhkan sumpit yang sedang kupegang dari mulutnya. Meletakan kembali, pada mangkuk berukuran sedang yang ada di meja samping tempat tidurnya.

“ Te-terserah kau saja, mau memakan kimchinya apa tidak. ” kataku gugup.

“ Tadi kau memaksaku, sekarang kau bilang terserah saja. Jadi bagaimana? ”

Aish, nada bicaraku sudah gugup seperti ini. Dia menanggapinya dengan santai saja, apa dia tidak merasa bersalah? Membuat seseorang terkena serangan jantung sementara.

“ Kalau kau tidak mau memakannya, juga tidak apa-apa. ”

“ Tidak. Aku mau memakannya. ”

Eh? Dia mau memakannya? Ada angin apa sampai dia mau memakan sayuran? Bedasarkan cerita ahjumma waktu makan malam itu, sepertinya Kyuhyun benar-benar benci dengan sayuran. Tapi, sekarang….

“ Kalau begitu, cepat habiskan makanannya. ”

“ Kau tidak mau menyuapiku? ”

“ Kau bisa makan sendiri kan? Apa tanganmu itu juga sedang sakit? ”

“ Kalau begitu, aku tidak mau memakannya. ”

“ Aish! Jangan bersikap seperti anak kecil! ”

Astaga, kenapa tingkahnya jadi seperti ini? Benar-benar, tingkahnya itu susah sekali untuk ditebak. Menyebalkan.

“ Biar saja. ”

Arghh, menyebalkan sekali tingkahnya saat ini. Kalau bukan pikiranku yang tiba-tiba membayangkan eomma akan mencekikku kalau tidak menjaga Kyuhyun dengan benar. Aku tidak akan mengambil mangkuk itu, menyumpit makannya, dan menyuapkan ke dalam mulutnya.

“ Habiskan kimchinya, aku tidak mau tahu. ” paksaku.

“ Yak! Bagaimana aku menghabiskannya, kalau satu suap saja rasanya sudah tidak enak sekali. Lagipula, tadi kau bilang hanya sedikit saja kan? “ katanya sedikit tidak jelas. Dia berbicara saat mulutnya itu penuh dengan makanan. Pipinya sedikit mengebung, dan tampangnya itu lucu sekali.

“ Itu kan kalau aku tetap memaksamu untuk memakannya, beda dengan sekarang. Kau sendiri yang mau memakannya. Jadi kau harus habiskan. ”

“ Rasanya tidak enak. Aku tidak kuat, jika harus menghabiskannya. ”

“ Jangan banyak bicara. Cepat telan makannya! ”

Kyuhyun akhirnya diam. Tidak berbicara apa-apa lagi. Tapi, beberapa menit kemudian dia mengambil sumpit dari tanganku, menyumpit kimchinya dan menyodorkannya ke arahku.

“ Kau juga harus makan. Ayo, buka mulutmu! ”

“ Tidak mau. Aku tidak lapar. “ kataku bohong. Sebenarnya, perutku sudah benar-benar minta diisi. Yang benar saja, sejak pulang sekolah tadi aku belum memakan apapun. Eomma langsung menyuruhku untuk kesini.

“ Tidak lapar apanya? Setelah kau mengganti baju, kau langsung kesini kan? Kau tidak mengisi perutmu dulu, aku tahu pasti kau sudah mulai merasa lapar sekarang. Dulu, setelah pulang sekolah pasti kau akan langsung memakan makanan apa saja yang ada di meja makan. Apalagi, kau habis hujan-hujanan. ”

Apa dia punya alat untuk menerawang isi pikiran seseorang? Atau, memang isi otakku yang trasnparan? Tiba-tiba, aku teringat kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Tunggu-tunggu, tadi dia bilang apa, dulu!? Dulu!? Astaga, bagaimana bisa aku lupa soal itu. Kyuhyun, sudah mengingat masa kecilnya itu. Jadi, seharusnya aku tidak heran jika dia mengucapkan kata ‘Dulu’

Kyuhyun lebih mendekatkan sumpit itu kepadaku. Mengisyaratkan agar aku segera membuka mulutmu. Tidak usah dia menyodorkan sumpitnya, sepertinya aku akan tetap membuka mulutku. Seperti sekarang yang sedang kulakukan.

“ Kenapa aku jadi ikut memakannya? Kau saja yang makan, habiskan agar energimu terisi lagi. Tidak lesu seperti ini, aku bisa pulang untuk makan setelah ini. ”

“ Kau pulang setelah ini? Siapa yang bilang kalau kau akan pulang setelah ini? ”

“ Mwo? ”

“ Kau tetap harus disini. ” perintahnya.

“ Yak! Kau pikir aku tidak ada kegiatan apa-apapun, sehingga aku harus tetap disini, menjaga mu disini, hanya diam melihatmu saja. Aku masih punya kegiatan yang lebih menyenangkan daripada harus berdiam disini. ”

“ Aku tidak menyuruh kau untuk menjagaku, aku hanya minta kau untuk tetap disini. ”

“ Untuk apa, Cho Kyuhyun? Aku tetap disini, sama saja aku harus diam kan? Tidak melakukan apapun, aku bosan. ”

“ Kalau kau bosan, lebih baik kau bertanding game denganku. ”

***

 Jooyoun POV

Aku melirik jam pada ponselku. Jam kerjaku sudah selesai, ini waktunya pulang. Aku sedikit menggeliat setelah berganti pakaian. Merenggakan otot-otoku yang bekerja paruh waktu setiap hari. Ini, sudah sangat malam dan Hyukjae tetap menunggu sampai sekarang. Apa dia tidak dicari oleh orang rumahnya? Mungkin, bagiku ini sudah sangat biasa, pulang larut malam begini dan sendirian. Aku berjalan keluar dari ruang ini. Club ini, memang sudah sepi. Hari ini, memang jadwalku untuk memastikan semuanya sudah dalam keadaan benar, sebelum tutup. Tapi tumben sekali, sajangnim juga belum pulang sampai sekarang.

“ Sajangnim, tumben kau belum pulang? ”

“ Mungkin beberapa menit lagi, ada sedikit urusan jadi aku lembur. ”

“ Ahh.. Semuanya sudah rapi, aku pulang duluan. ” pamitku.

“ Kau pulang dengan Eunhyuk kan? ”

“ Kau tahu? ” tanyaku kaget.

“ Kau pikir aku tidak tahu apa-apa, begitu? Eunyuk yang mengatakan padaku agar aku membiarkannya menunggu sampai kau pulang. Karena biasanya, pasti aku tidak akan membiarkannya pulang malam seperti ini. Kau tahu, ini baru pertama kalinya dia rela menunggu seseorang sampai larut malam begini. ” jelas sajangnim.

“ Tidak usah hiperbolis. ”

“ Kau tidak percaya? Aku sudah lama mengenal Eunhyuk, Jooyoung. ”

“ Aku pamit pulang. Annyeong. ”

Memang susah, jika harus adu mulut dengan sajangnim. Dia tidak pernah kehabisan kata-kata. Lebih baik aku menghiraukannya saja. Dengan begitu, emosiku tidak akan naik sampai ke ubun-ubun karena rasanya ingin sekali mencekik orang di hadapanku ini.

“ Baiklah. Hati-hati dijalan. ”

“ Seharusnya kau katakan itu pada dongsaeng-mu. ”

“ Kau saja yang sampaikan padanya, agar menjagamu selamat sampai kau dirumah. ”

“ Aku malas. Lagipula, itu juga tidak ada gunanya. ”

“ Aish! Sudahlah, kau pulang sekarang! Aku tidak mau melihat Eunhyuk menunggu lama lagi. Dia sepertinya sudah agak bosan. ”

“ Siapa suruh menungguku pulang. ”

Aku langsung melesat pergi dari hadapan sajangnim. Bisa-bisa aku dicekik habis-habisan kalau tidak segera pergi. Aku berjalan, menuju Hyukjae. Lihat, tampang lelah seperti itu saja, masih bisa memaksaku untuk mengantar pulang. Apa aku harus membelikan cermin untuknya? Agar dia bisa melihat bagaimana tampangnya saat ini.

“ Ya, ayo pulang. ”

“ Apa kau ganti pakaian memerlukan waktu lebih dari 5 menit? ”

“ Ne? ” tanyaku tidak mengerti.

“ Ani, kajja! ”

Dia berjalan mendahuluiku. Aku mengekor dibelakangnya. Menuju mobilnya dan langsung melesat pergi dari Club ini.

“ Kau sudah makan? ” tanyannya ketika sudah mulai menjalankan mobil.

“ Belum, tapi aku tak lapar. ”

“ Kau mau berbohong padaku, hah? Kau pikir aku akan percaya jika kau bilang kau tidak lapar. Aku sudah hafal  akal-akalanmu, Jooyoung. Ayo pergi makan, setelah itu aku akan mengantar pulang. ”

“ Restaurant sekitar sini, sudah tutup kalau jam segini. ”

“ Kau baru jadi warga Seoul beberapa bulan? Kedai makan di pinggir jalan, tidak jarang jika sudah larut. Kau jangan mencari-cari alasan lagi. ”

Lee Hyukjae. Kalau bukan itu namanya, pasti dia tidak suka memaksa. Hyukjae mengarahkan stirnya ke kanan. Tidak jauh dari sini, ada beberapa kedai di pinggir jalan yang masih buka. Hyukjae, mengentikan mobilnya di salah satu pinggir kedai ini.

“ Kau tidak bawa jaket? ”

“ Untuk apa? ”

“  Di luar cuacanya sedang dingin. Pakai jaketku saja, seharusnya kau selalu membawa jaket jika ke sekolah. “ katanya. Dia menyodorkan jaketnya, yang ada pada bangku penumpang di belakang.

“ Tidak usah. Kau kira aku anak kecil. ” tolakku.

“ Pakai jaketnya. Aku tidak mau kau sakit. ”

Entah kenapa. Entah apa. Perkataanya tadi, membuatku sedikit kehilangan kata-kata. Speechless. Kenapa, tiba-tiba dia jadi peduli padaku. Mengantarku pulang, mengajakku makan, dan sekarang, aku tidak memakai penghangat tubuh di cuaca sedikit dingin seperti ini. Dia juga peduli padaku. Aneh. Aku harus bertanya pada dokter, penyakit apa yang menyerang Hyukjae sampai dia bisa seperti ini. Aku turun dari mobilnya, sambil memasangkan jaket pada tubuhku.

“ Ahjumma. ” Hyukjae memanggil penjaga kedai disini.

“ Aku pesan 2 jajangmyeon. ”

“ Algeusemnida. ”  kata ahjumma itu, lalu dia berbalik pergi.

“ Yak, kenapa kau langsung memasankan jajangmyeon untukku? ”

“ Kalau aku bertanya padamu kau makan apa, pasti kau akan menjawab kalau kau tidak lapar. ”

“ Sok tahu. ”

“ Aku memang tahu. ”

“ Hyukjae, kalau memang besok ingin bertemu seoseongnim. Aku tidak bisa jika pulang sekolah. Aku belum mengatakannya pada sajangnim. ”

“  Apakah aku mengatakan pulang sekolah? Hah, ternyata kau juga sok tahu. ”

“ Hey, aku tidak bercanda. ”

“ Aku tidak sedang bercanda, Nona Kang. Aku memang tidak mengatakan jika pulang sekolah, kau saja yang menyimpulkan sendiri. ”

“ Jadi kau berpikir akan membicarakan masalahnya saat jam pelajaran sekolah? ”

“ Apa ada waktu yang tepat lagi? ”

“ Bodoh! Apa yang murid-murid lain pikirkan, jika mereka melihat kita berdua masuk ke ruang Choi Seoseongnim! ”

“ Aku sudah mempersiapkan caranya, Jooyoung. Kau pikir aku sebodoh itu? ”

“ Kau bodoh. Masalah yang melibatkan kau saja, kau tidak tahu. ”

“ Kondisinya berbeda. ”

“ Berbeda apanya? Kau bodoh tetap saja bodoh, mungkin angin malam ini yang membuatmu, jadi… sedikit lebih pintar ”

“ Kau tidak mengerti? Sebenarnya kau mengataiku bodoh, apa kau sendiri tidak bodoh?  ”

“ Jangan mulai. ”

“ Wae? Aku tidak bermasud untuk memulai berdebat denganmu. ”

“ Terserah kau saja. ”

Aku sedang malas berdebat dengannya. Aku lelah. Lelah sekali, malah. Aku ingin cepat sampai rumah, dan tidur. Tapi, makhluk di depanku ini malah membawaku kesini. Beberapa menit kemudian, ahjumma tadi datang menghampiri meja kami. Membawa senampan berisi 2 mangkuk jajangmyeon.

“ Jal mogessemnida. ” kata ahjumma penjaga kedai ini.

“ Ne, gamsahamnida. ”

Aku segera mengambil sumpit yang juga dibawakan penjaga kedai ini. Dan langsung memakan jajangmyeon yang ada di hadapanku ini.

“ Begitu kau bilang tidak lapar? ”

“ Aku hanya ingin cepat-cepat sampai rumah. ” kataku singkat. Aku kembali melanjutkan makannku. Begitu juga dengan Hyukjae, dia mulai menyuap jajangmyeon miliknya.

“ Yak, pelan-pelan saja makannya. ”

“ Aku sudah bilang aku ingin cepat-cepat sampai rumah. Aku ingin cepat-cepat berpisah denganmu. Aku sudah bosan, melihatmu sepanjang hari. ” kataku. Aku berbicara dengannya tanpa melihat wajahnya. Masih tetap sambil, memakan jajangmyeonku.

“ Kau tidak memakan jajangmyeonmu? ” tanyaku, sekarang aku melihat ke arahnya. Bukannya dia menjawab, tapi dia malah mengambil tisu yang ada di meja kedai ini. Tangannya mengulur ke arahku, lebih tepatnya pada ujung bibirku. Yak, Lee Hyukjae? Apa yang kau lakukan? Aku segera, memundurkan kepalaku sedikit. Tapi tetap saja, tangannya masih bisa menggapai wajahku. Ternyata dia mengelap makanan yang ada pada ujung bibirku dengan tisunya. Jantungku…. benar-benar berdetak tidak keruan. Aku segera mengambil tisu yang sedang dia pegang. Sesegera mungkin, sebelum jantungku ini benar-benar berdetak dan tidak bisa di kendalikan.

“ A-aku bisa sendiri. ” kataku gugup.

“ Jangan seperti anak kecil. Makan begitu saja, masih berantakan. ”

“ Biasanya aku tidak seperti ini. ” elakku.

“ Wae? Kau gugup makan denganku? ” godanya. Sialan, apa dia mencoba mempermalukanku?

“ Personal disorder. Tingkat ke PD-an mu itu tinggi sekali. Aku jadi ngeri. ” gurauku.

“ Yeoja-yeoja lain yang pernah makan denganku, juga pasti selalu gugup. Ternyata, kau sama saja seperti mereka. ”

“ Jangan samakan aku dengan yeoja-yeoja yang sering kau temui. Mereka itu gugup, karena menyukaiku. Mereka tergila-gila denganmu. ”

“ Jadi kau tidak sama dengan mereka? ”

“ Tentu saja! Mereka yang menyukaimu, dengan begitu mungkin mereka yang mengajakmu makan bersama, lalu kau terima ajakannya. Lalu kalian pergi makan bersama, dan akhirnya si yeoja itu akan gugup karena namja yang dia sukai, berada dihadapnnya dan sedang makan bersama dengannya. Sekarang itu, kondisinya sangat berbeda. Kau yang memaksaku untuk makan denganmu, jadi aku tidak seperti yeoja-yeoja yang sering kau temui. Aku tidak mungkin menyukaimu atau tergila-gila denganmu. ”

“ Kondisinya memang berbeda. Cerita singkat yang tadi kau ceritakan padaku itu, dimana si yeoja yang menyukai namja-nya kan? Tapi sekarang, namja itu yang menyukai yeoja yang sedang makan dengannya sekarang. ”

“ Ne!? ” tanyaku tidak mengerti. Aku salah dengar atau memang aku benar-benar lelah, jadi aku seperti mengingau. Hyukjae bilang apa? Namja- itu-menyukai-yeoja-yang-sedang-makan-dengannya-sekarang? Makan dengannya sekarang……

“ Aku menyukaimu, Jooyoung. ”

 

TBC

 

Cuap cuap tentang pembuat blog

Yaaaa!!!! Halo halo semua!  Gue dira 95lines ELF. Gak lama-lama deh ya, sebenernya ini gue udah lama banget pengen bikin wordpress tapi masih bingung sama apa yang bakal di post di wordpress itu hehe._. nah berhubung gue sekarang lagi mood banget buat nulis ff, jadi gue berani buka wordpress ini. Tapi harap maklum ya jika wordpress ini all about Super Junior. Ohya wordpress ini juga rencanya juga bakal banyak FF deh, ya tapi maklum aja kalo FFnya gaje. Dan satu lagi, mungkin FF yang di post di wordpress ini, gak semua karya gue, bakalan ada dongsaeng-dongsaeng tersayang gue yang bakal ikutan ngepost FF di sini. Okedeh gak mau lama-lama, itu aja perkenalan dari gue.

Enjoying this blog guys! 🙂

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.