Me, You and Us [ Part 5 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

Eunhyuk POV

Sungguh, demi tuhan. Demi apapun. Apa yang baru kukatakan tadi. Aku sudah gila. Ya memang, aku sudah tidak waras. Bagaimana bisa aku mengatakan 3 kata gila itu. Astaga Lee Hyukjae, apa angin malam ini benar-benar membuat otakku sedikit gila, hah?

“ Ne!? ” pekiknya sekali lagi.

“ Aniya! Yak! Aku hanya bercanda, kau tahu? Wajahmu itu sangat memalukakan jika seperti itu. Aish, ternyata aku pembuat lelucon yang hebat. ”

Bodoh. Seharusnya aku cari alasan yang lebih keren. Arghhh, Jooyoung pasti akan mencekik habis-habisan. Ah ani, mungkin lebih dari itu.

“ Mwoya??! Ini tidak lucu sama sekali! ” teriaknya.

“ Ini kan hanya bercanda. Ayolah, Jooyoung kau tidak punya selera humoris sama sekali. ” selaku lagi.

“ Lalu kau mau apa jika aku punya selera humoris yang tinggi? Membuat lelucon yang lebih keren, begitu? ”

“ Sayang sekali. Aku tidak suka cara bercandamu, Hyukjae-ssi. ” tukasnya tajam.

Hey, seharusnya aku tahu. Seharusnya, aku tidak mengatakan jika ini bercandaan. Lihat saja raut wajahnya itu, menyeramkan. Perkataannya barusan, dia memanggilku dengan sebutan ‘ssi’. Aku belum pernah mendengarnya memanggilku dengan nama begitu. Apa dia sedang menunjukan padaku, bahwa dia benar-benar tidak suka dengan sikapku. Dia marah padaku?

“ Yak, kau mau kemana!? ” tanyaku. Dia beranjak pergi, mendorong bangku yang sedang ia duduk-ki dengan kasar. Dia diam, tidak bergeming. Tidak menjawab pertanyaanku. Melihat ke arahku saja, sepertinya tidak akan dia lakukan saat ini.

“ Yak! Kang Jooyoung! ” teriakku lagi. Aku mencekal lengannya, membuatnya berhenti melangkah. Hah, aku tidak menyangka akan jadi begini.

“ Aku mau pulang. Lepaskan! ”  perintahnya. Dia menepis lenganku dengan kasar.

“ Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu. ”

“ Shireo! Aku yang mau pulang, kenapa jadi kau juga yang ikut pulang?!! ” tolaknya mantap.

“ Cepat masuk! ”

Aku kembali pada meja tempat kami makan tadi. Meninggalkan uang untuk membayar jajangmyeon tadi. Ahjumma itu, seharusnya tahu keadaan aku dan Jooyoung sekarang. Karena, kami membuat sedikit keributan disini.

“ Aku tidak peduli kalau kau tidak suka mendengar penolakan dari seseorang. Aku tetap ingin pulang sekarang. Sendiri! Tidak denganmu! ”

“ Jangan bersikap seperti anak kecil, Jooyoung! ” nada bicaraku sedikit tinggi. Aku sudah agak kehabisan kesabaran.

“ Jangan seperti anak kecil kau bilang? Yak! Apa kau juga tidak sadar, hah!? Sikapmu ini jauh lebih seperti anak kecil! ” teriaknya.

“ Kau pikir untuk apa aku rela menunggu untuk mengantarmu pulang? Kau pikir untuk apa aku memperdulikanmu untuk memakai penghangat tubuh di cuaca seperti ini!? Memperdulikanmu jika tidak makan akan sakit? Untuk apa!? ” nada bicaraku sudah benar-benar meninggi sekarang.

Emosiku, benar-benar meluap hanya karena seseorang yang baru kukenal ini. Yang berhasil menarik perhatianku hanya karena melihatnya. Dan dengan bodohnya aku membuat lelucon konyol seperti itu. Membuatnya merasa.. mungkin sedikit dipermainkan. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti banyak soal perasaan wanita. Terutama, gadis didepanku ini.

“ Mungkin ini termasuk dari lelucon-mu itu. Aku tidak tahu pasti. Kau seorang pelucon yang hebat, bukan? ”

***

Chunwa High School

07.15 AM

 

Author POV

“ Masalahmu bagaimana? Sudah selesai? ” tanya Chae Yeon antusias. Ya, sahabatnya itu pikir Jooyoung kemarin benar-benar membicarakan masalahnya dengan Hyukjae. Dia pikir Jooyoung memang benar-benar tidak tahan dengan tuduhan yang menimpanya itu. Tidak tahan dengan sindiran yang menghujamnya terus.

“ Aku tidak tahu. Tolong, jangan bicarakan itu dulu. Aku pusing ” jawab Jooyoung malas. Tentu saja, membicarakan masalah itu. Sama saja, mengingatkannya tentang pertengkarannya dengan Hyukjae samalam. Hanya karena hal sekecil itu. Tidak pikir Jooyoung, tidak sekecil orang-orang pikirkan. Lelucon Hyukjae menyangkut perasaan, apa maksudnya itu.

“ Ada apa lagi? Ayo ceritakan padaku. ” bujuk sahabatnya. Chae Yeon sudah tahu jelas bagaimana raut wajahnya sahabatnya jika ada masalah yang menjanggal padanya.

“ Bukan apa-apa. Sudahlah, aku memang pusing karena kurang tidur. ” dusta Jooyoung.

“ Aku akan tetap memintamu ceritakan masalah yang ini sewaktu-waktu. ”

“ Chae Yeon, ayolah! Aku tidak apa-apa, masalahku hanya itu saja tidak ada yang lain. ”

“ Kalau tidak ada masalah lain, raut wajahmu tidak akan seperti itu. ”

***

Jooyoung POV

Aku merasakan benda yang berada pada saku jasku bergetar. Ponselku. Menandakan ada pesan masuk. Aku meronggoh saku jasku malas. Mengeluarkan ponsel dan melihat layar pada ponselku. Sungguh, rasanya aku ingin membanting ponsel sekarang ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselku. Hyukjae. Aku men-touch tanda ‘open’ dan langsung membaca pesan yang ia kirimkan.

Kita harus bicara dengan Choi Seoseongnim sekarang.

Hey, setelah kejadian semalam. Ternyata dia masih berani mengirimku pesan? Hebat. Kukira, dia pengecut. Aku mengambaikan pesan itu. Apa yang perlu dibicarakan dengan seoseongnim? Tentang pelaku kertas busuk itu? Kukira tidak perlu, 2 orang telah mengatakan hal yang sama tentang tidak mungkin seoseongnim yang melakukannya. Yah, memang 2 dari sekian banyaknya siswa di sekolah ini memang tidak bisa memastikan keputusan yang benar. Tapi setidaknya, untukku bisa. Berapa banyak orang yang berteman denganku? Kurasa semuanya, bisa dihitung oleh jari.

Aku mengitari padanganku ke sekitar kelas. Lagi-lagi, aku sendirian di kelas. Semua siswa pasti berhamburan keluar saat jam istirahat. Termasuk Chae Yeon, akhir-akhir ini dia senang pergi ke luar kelas. Aku tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi yang jelas dia tidak mungkin bergerombol dan membicarakan gossip yang masih ‘hangat’ di sekolah ini.

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan masuk, tapi panggilan masuk. Aku melihat malas pada layar ponselku. Lagi. Si ‘pelucon hebat’ itu yang meneleponku. Aku membanting ponselku asal ke mejaku. Mengabaikan getaran yang sejak tadi terus terjadi pada ponselku. Biarkan saja, aku anggap masalah ini sudah selesai. Masa bodoh, tentang pendapat orang-orang terhadapku. Aku sudah tidak peduli. Masalah ini selesai, aku tidak perlu melihat wajah pria menyebalkan itu lagi di hadapanku.

“ Arghhh, bodoh! Apa kau tidak bisa berhenti menelepon-ku? ” teriakku frustasi. Karena sejak tadi ponselku masih saja bergetar.

“ Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kau menjawab telepone-ku. ”

Aku merasakan suara khas yang bergema di telingaku. Aku menoleh. Tebak siapa? Tuan Lee Hyukjae si ‘Pembuat Lelucon’ itu. Aku segera memalingkan wajahku. Tidak, tidak melihat wajahnya. Tidak melihat wajahnya yang memuakkan itu.

“ Apa yang kau lakukan disini? Ini kelasku! Kau keluar sekarang! ”

“ Yak! Bisakah kau lupakan masalah yang semalam? Jangan pikirkan dirimu sendiri, ini masalah kita! Aku mau masalah ini segera selesai. Tolong jangan egois, Jooyoung. ”

Lupakan masalah semalam? Apa dia bilang? Lupakan? Sialan! Apa dia tidak mengerti bagaimana rasanya? Apa dia tidak berpikir, aku sedikit merasa dipermainkan jika seperti itu. Apa dia tidak berpikir tentang hal itu?

“ Lalu? Apa yang harus kulakukan? ”

“ Jinjja. Neo Mitcheosseyo?! Kau jangan berpura-pura bodoh! Kau jangan berpikir masalah ini sudah selesai. Jangan berpikir masalah ini hanya ada kau saja didalamnya ” bentaknya.

“ Geraeyo? Aku memang menganggap masalah ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Choi Seoseongnim, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya. Siswa sekolah ini, jika hal-hal yang sedang dibicarakannya itu tidak nampak lagi, mungkin hal itu akan dengan sendirinya menghilang. ”

“ Jadi, kalau kau masih menganggap masalah itu belum selesai. Kau bisa selesaikan itu sendiri, tidak usah melibatkanku. ”

Ada nada sedikit menantang saat aku berbicara tadi. Biar saja, aku sudah tidak tahan melihat tampangnya yang seolah-olah tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun.

“ Wae!? Kau marah padaku, kau dendam padaku karena masalah kemarin!? Sifatmu itu seperti anak kecil, kau tahu? Kau marah hanya karena lelucon kecil itu. Kau pikir aku akan terus memintamu untuk tetap terlibat dalam masalal ini? Kau pikir, aku akan tetap mengemis padamu untuk membicarakan masalah ini pada seoseongnim. ”

“ Silahkan saja kau berpikir begitu. Aku setuju denganmu, masalah ini sudah ku anggap selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Biarkan saja masalahnya berlalu, pasti akan hilang dengan sendirinya. Masalah ini selesai, dan kita tidak akan ada urusan lagi satu sama lain. Tidak akan bertemu lagi. Masalah acara akhir tahun nanti, aku akan membujuk panitia untuk men-tiadakan nama kita. Kau tidak perlu repot-repot untuk menuruti keinginanku yang meminta untuk berlatih. ”

“ Kau sudah cukup puas, itu keinginanmu saat ini kan? ”

***

Chae Yeon POV

Astaga, dasar anak itu. Sepertinya moodnya benar-benar sedang buruk hari ini. Lihat, ke kantin saja tidak mau. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dikelas. Menghindar dari tatapan sindirian dari siswa-siswa sekolah ini? Sepertinya tidak. Karena apa? Tch, dia sama sekali tidak mau menceritakannya padaku. Aku tahu ada masalah baru yang menghadapnya, entah apa itu. Aku terpaksa menghabiskan makananku sendirian. Tapi tiba-tiba, pikiranku melayang pada seseorang. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah sembuh? Dia masuk sekolah? Jika dia masuk sekolah, apa ada yang peduli dengannya jika dia masih sakit? Ada yang mengurusi pola makannya saat disekolah? Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan konyol itu melintas dipikiranku. Lee Chae Yeon, kau benar sudah gila.

Aku melanjutkan makanku yang juga hendak untuk segera pergi ke kelas. Bagaimanapun, aku tidak suka sendirian. Ya, walaupun di tengah keramaian. Aku berjalan menyusuri koridor dan dari kejauhan aku melihat ada seorang laki-laki yang baru keluar dari kelasku. Aku menyipitkan mataku. Bukankah itu, Hyukjae? Tanyaku dalam hati. Apa urusannya dia masuk ke kelasku? Ah, Jooyoung. Bocah satu itu, pasti membuat masalah lagi dengan Hyukjae. Lihat saja, wajahnya saat keluar kelas tadi. Mengerikan.

“ Yak! Sebenarnya apa masalahmu dengan Hyukjae, hah? ” tanyaku ketika aku sudah berada di kelas.

“ Masalahku? Masalah tentang kertas busuk itu? Aku dan Hyukjae sudah memutuskan untuk mengabaikannya. Pasti nanti akan hilang dengan sendirinya. ” jawabnya datar

“ Bukan kau yang memutuskan? ”

“ Tentu saja bukan! Tadi dia baru saja keluar, kami baru membicarakannya. ”

“ Dengan kau memarah-marahinya? Kau membicarakan masalah ini dengan emosi? ”

“ Ne? ”

“ Tch, ada suatu masalah yang hanya kalian saja yang tahu. Dan itu, membuat kalian memutuskan untuk mengambaikan masalah ini. Ah, sepertinya bukan kalian yang memutuskan. Tapi kau memaksanya untuk juga mengabaikan masalah ini. ”

“ Kau pikir siswa disini akan dengan santainya mengabaikan suatu masalah? Yak! Ini masalahmu dengan Hyukjae! Seharusnya kau berpikiran jernih untuk menyelesaikannya. Bukan dengan seperti ini. Kau harus berpikir, Jooyoung. Masalahmu sekarang bukan main-main. Seisi sekolah pun sudah tahu semua. ”

“ Aku tahu. Sudah kubilang, caraku dan Hyukjae adalah dengan mengabaikannya. ”

“ Marhaebwa! Katakan apa yang terjadi dengan kau dan Hyukjae. ”

“ Aish, tidak apa-apa. ”

“ Mungkin aku akan percaya dengan kata-katamu. Kalau saja, aku tidak melihat tampang mengerikan Hyukjae saat keluar dari kelas. ”

“ Mwo? ”

“ Jangan bertele. Sudahlah, aku tahu kalian bertengkar tadi. ”

“ Bertengkar? Hey, kata itu seperti menggambarkan aku sudah kenal lama dengannya. ”

“ Terserah apa katamu, dasar keras kepala. Ayo cepat ceritakan. ”

Dia menarik nafas pasrah, setelah itu dia mulai menceritakannya padaku. Aku benar-benar mendengarkannya. Meneliti apa masalahnya sampai dia bisa seperti itu dengan Hyukjae. Dan, betapa terkejutnya aku saat mendengar penjelasan panjang lebar yang dikeluarkan dari mulutnya itu.

“ Mitcheoseo? ” teriakku.

“ Jangan berkomentar. ”

“ Kau gila, hah? Tingkahmu itu benar-benar seperti anak kecil. Yak, usiamu berapa? Jangan bersikap seperti anak kecil bodoh yang sedikit saja bergurau langsung seperti itu. ”

“ Perkataanmu sama persis dengannya. ”

“ Ya, memang. Mungkin pikiranku dengannya memang sama persis. Aku tahu guraun itu memang sedikit keterlaluan. Tapi kau juga jangan bersikap egois. Kau juga harus memikirnya, kau pikirkan bagaimana dia mendapat sindiran dari setiap siswa disini! ”

“ Itu juga terjadi padaku. ”

“ Kau tidak peduli. Tapi Hyukjae peduli. ”

“ Aku tahu. Aku sudah menawarkannya untuk menyelesaikan masalahnya. ”

“ Sendirian begitu?  Tidak denganmu? Kau gila. Masalah ini melibatkan kau dengannya. Hanya kalian saja yang bisa memperbaiki keadaan. Hanya kau dengan Hyukjae yang bisa membuat masalah ini akan hilang. Apa kau tidak berpikir? Aku tahu seberapa kesal kau dengan Hyukjae, aku tahu. Aku bisa merasakannya. Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu. ”

***

Club

20.12 PM

 

Jooyoung POV

Aku sedikit tidak bisa berkonsentrasi bekerja saat ini. “Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu.”

Kata-kata itu tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku egois? Sikapku seperti anak kecil? Apakah aku seburuk itu? Aku terus memikirkan kata-kata yang dilontarkan Chae Yeon terhadapku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan ucapannya. Kalimat itu juga tidak lepas dari bayang-bayang wajah Hyukjae yang terus hinggap di pikiranku. Wajahnya saat marah padaku siang tadi. Hentakkan kaki yang menunjukan bahwa dia sedang emosi saat keluar kelas tadi.  Sungguh, aku perlu mengisirahatkan otakku seceptanya.

Aku kembali berusaha memfokuskan pikiranku untuk bekerja saat ini. Aku mengambil sebotol wine yang ada pada rak minuman untuk menuangkan pada gelas pengunjung di hadapanku ini. Pikirkaranku lelah, juga mengakibatkan tanganku ini tidak punya tenaga sama sekali. PRANG!!!!!

Suara pecahan botol wine ini terdengar sangat jelas. Tapi juga tidak mampu untuk mengalahkan suara kencang musik disko yang diputar di Club ini. Aku langsung tersentak. Tanganmu otomastis langsung terulur untuk segera memunguti pecahan beling itu.

“ Aahhhh! ” aku sedikit berteriak kesakitan karena telunjuk jari kananku tergores beling.

“ Ya, gwechana? ” seorang temanku disini yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“ Ne. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, sebentar juga sembuh. ” kataku.

“ Lukamu kecil tapi kalau dalam seperti itu bagaiman bisa cepat sembuh? ”

“ Aku baik-baik saja, sungguh. Aku akan bereskan semua ini. ”

“ Tch, sudahlah! Biar aku saja, kau obati lukamu saja dulu. Kalau dibiarkan itu bisa infeksi. ”

“ Gomawo ”

 

Aku beranjak pergi dari tempat itu. Menuju toilet untuk mencuci lukaku. Aku menyalakan kerannya dan mulai mencuci lukaku. Aku memejamkan mataku sejenak. Ada apa denganmu, Kang Jooyoung. Kenapa bisa hanya dengan kata-kata seperti itu saja, pikiranku jadi kemana-mana. Tidak konsentrasi saat bekerja, memecahkan sebotol wine, dan sekarang jariku berdarah karena juga tidak kosentrasi saat memungut pecahan belingnya. Aku mematikan air di wastafel, dan menatap bayanganku di cermin. Aku tidak mungkin sedang memikirkan perasaan Hyukjae, kan?

***

Artyyer Boutique, Gwongnam, Seoul.

Kyuhyun POV

Aish, membosankan. Apa ada kegiatan paling konyol lagi selain hanya berdiri dan menunggu seseorang yang sejak tadi berganti-ganti baju. Aku bosan! Kenapa wanita itu ribet sekali jika masalah dalam penampilan. Aku beridiri dengan berbalut jas dan celana putih. Dan dasi bewarna hitam dan ada sedikit hiasan pada saku atas jasnya. Aku sedang menunggu Chae Yeon yang sejak tadi belum juga keluar dari ruang ganti butik ini.

Aku menoleh ketika aku merasa ruang ganti itu sudah terbuka. Aku terkesiap. Nafasku sukses tercekat beberapa detik, akibat pemandangan yang ada di depanku ini. Dia terlihat…. cantik sekali. Dengan gaun putih yang sedikit bisa menyapu lantai, lengan yang sedikit pendek tapi tidak sampai seperti gaun tanpa lengan, dan atasan berbentuk ‘V’ tapi tidak seperti model-model di televisi yang dengan lenggangnya mereka mempamerkan tubuh mereka di depan banyak orang. Gaun yang sederhana. Tapi menjadi gaun yang terlihat indah, jika dipakai gadis ini.

Chae Yeon sedikit terkesiap saat ruang gantinya terbuka. Terkesiap karena melihat pemandangan didepannya. Apa dia terpesona….. denganku?

“ A-apa yang kau lihat? ” tanyanya.

“ Aniya. Kau lama sekali hanya mencoba 1 baju saja. ”

“ Ish, sudah aku usahakan cepat begini kau masih protes? ”

“ Aku yang menunggu sejak tadi, bagaimana bisa kau bilang cepat! ”

“ Kau saja yang tidak sabar. ” katanya lagi.

“ Sama sepertimu, kan? ” godaku. Wajah shock-nya itu terlihat jelas sekarang. Sudah berapa kali aku mengatakan tentangnya sewaktu kecil, tapi tetap saja dia terlihat masih kaget begitu. Kalau sudah seperti ini, pasti dia mati kutu. Lihat, sekarang dia malah terlihat salah tingkah dan langung diam. Tch, dasar Lee Chae Yeon babo! Kapan kau akan ingat tentangku saat masih kecil?

“ Kalian terlihat sangat serasi. Sepertinya kalian saling mencintai. ” ucap salah satu penjaga butik ini.

“ Ne!? ” pekikku dan Chae Yeon bersamaan.

“ A-ah, kau ada-ada saja. Jangan berlebihan. ” ucap Chae Yeon.

“ Kalian yang berlebihan, pasangan calon suami istri seharusnya akan senang jika dipuji seperti tadi. Bukan berteriak seperti itu. ”

“ Kami hanya kaget saja. Baru pertama kali, ada seorang yang bilang begitu. ” ralatku.

Chae Yeon langsung menatapku dengan tatapan tajam. Aku mengabaikannya, tidak membalas melihatnya. Biar saja, aku suka sekali jika membuat wajahnya jadi seperti itu.

“ Kalian harus hidup bahagia nantinya. ” kata penjaga itu lagi.

Chae Yeon terlihat tambah kesal dengan perkataan penjaga itu. Mungkin dia pikir, penjaga butik ini makin menjadi-jadi saja karena perkataanku barusan.

“ Ya, kau sudah cocok dengan bajunya? ” tanyaku akhirnya.

“ Setidaknya ini yang lebih baik dari baju-baju yang lain. Aku tidak suka model baju terbuka seperti itu. ”

“ Baguslah. Aku juga lebih suka melihat kau mengenakan gaun ini. Terlihat cantik. ”

***

Chae Yeon POV

Ada sedikit perasaan canggung yang sedang menjalar padaku sekarang. Bagimana tidak? Bayangkan saja, di tempat seperti itu masih saja mengatakan hal-hal yang kurasa tidak mungkin dikatannya di saat seperti itu. Rrghh, sepertinya dia tahu persis apa reaksiku ketika dia mengatakan hal-hal konyol.

Sekarang kami sedang berada dalam perjalan pulang. Aku melirik sekilas ke arahnya. Sampai sekarang pun, aku belum bisa mengingat apapun tentangnya. Namanya terdengar familir saja, tidak. Mungkin benar apa yang dikatakan Kyuhyun. Aku terlalu membencinya saat dia sekeluarga pindah ke Australia.

“ Apa yang kau pikirkan? Pernikahan kita nanti? ” godanya.

“ Mwoya? Jangan bersikap narsis seperti itu. Aku bisa langsung mendadak mual. ”

“  Jangan berlebihan. ”

“ Kau yang belebihan. ” balasku lagi.

Kyuhyun tidak membalas perkataanku lagi. Dia diam, berkonsentrasi pada pada kemudi mobil ini. Baru kali ini, aku melihatnya menyetir mobil. Terlihat sangat keren di mataku, kau tahu? Aku tidak bisa menepis pikiranku saat ini. Ini jelas, sangat jelas. Kenyataan bahwa, aku sedikit terpesona saat melihatnya memakai jas seperti tadi. Terlihat tampan dan gagah dalam balutan pakaian seperti itu. Sepertinya, aku sudah sedikit terperangkap dengan….. pesonanya.

***

Jooyoung’s Home

06.13 AM

 

Jooyoung POV

Aku menyibakan selimut dengan malas. Membiarkannya terjuntai di lantai kamarku. Rasanya  bosan sekali, menjalankan rutinitasku setiap hari. Aku melirik ke arah jarum jam. Tumben sekali, aku bangun sepagi ini. Ini pasti karena penyakit insomnia yang menyerangku secara tiba-tiba. Hasilnya, aku tidak bisa tidur dan memilih bangun lebih awal seperti ini. Dan sekarang aku merasa pusing dan mual, entah karena apa. Aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Rasanya memikirkan bahwa tubuhku akan terkena percikan air saja, aku sudah malas mendekati pintu kamar mandi ini.

***

“ Eomma, apa kau tidak membuatkan sarapan untukku? ” tanyaku. Aku sudah selesai bersiap-siap, dan sekarang aku menuju meja makan.

“ Kau buat saja sendiri. Eomma tidak ada waktu. ” jawabnya ketus.

“ Eomma! Aku bertanya denganmu baik-baik. Kenapa kau jadi ketus begitu!? ”

“ Yak! Nada bicaraku memang seperti ini. Sudahlah kau tidak usah banyak omong! ”

Aku mengepalkan tanganku. Andai saja appa tahu sifat eomma tiriku yang sebenarnya. Sepertinya appa akan menendang jauh-jauh wanita ini.

“ Aku tidak akan bicara denganmu kalau tidak situasi yang membuatku begitu, Nyonya Kang! ”

“ Yak, kau sangat keterlaluan! Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu?! ”

“ Sudah bagus sekali aku memanggil dengan sebutan keluargaku. ”

PLAK!!

Aku mendapat tamparan keras pagi ini. Aku memegangi pipiku yang memerah akibat tamparan eomma. Apa dia tidak melihat wajahku yang sedikit pucat karena menahan pusing? Ah! Wanita ini benar-benar!

“ Apa!? Kau mau marah padaku? Yak! Kau ini sudah keterlaluan! ” teriaknya.

“ Aku bersikap keterlaluan pada eomma? Apa bukan sebaliknya!? ” aku tertawa sinis tanpa bersuara. PLAK!! Tamparan satu lagi yang mendarat sukses di pipiku.

“ Aku yang bersikap keterlaluan karena eomma!! Aku yang tidak pernah menuruti semua kemauan eomma, karena eomma! ” teriakku.

“ Dasar anak kurang ajar! ” teriak eomma lagi.

“ Apa pantas eomma menyebutku sebagai anak? Apa kau pernah merasa melahirkanku? Ya, ingatlah kau bukan eomma kandungku. ” sindirku. Aku masih memgangi pipiku yang memerah ini akibat tamparannya.

“ Kau bisa mengatakan ini didepan appa-mu! ”

“ Terserah saja. Tapi, apa kau tidak takut ketahuan sikap buruk ini dibelakang appa? ”

PLAK!!

Tiga tamparan dalam sehari yang kudapat. Itu bisa dijadikan rekor dalam kamusku. Kepalaku semakin pusing saja. Aku tidak bisa jamin, bisa datang ke sekolah tepat waktu karena keadaanku ini. Aku memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Aku tidak menghiraukan amarah perempuan itu terhadapku. Masa bodoh. Dia bukan siapa-siapaku.

***

Aku memasuki sekolah dengan langkah yang gontai. Jujur saja, berjalan dengan benar saja aku tidak bisa. Kepalaku terasa berat dan ditambah dengan perutku ini yang terasa mual. Aku tidak melihat lagi perkumpulan para murid yang biasa memojokkanku di mading. Tapi, sindiran-sindiran dari beberapa orang yang aku lewati itu tidak sedikit. Aku memasuki kelasku dan kudapasti Chae Yeon sedang duduk dengan ponselnya yang sedang ia mainkan. Aku menuju  tempat dudukku.

“ Jooyoung-a, kau sakit? ” tanyanya langsung ketika aku sampai pada tempat dudukku.

“ Hanya pusing saja. Tidak apa-apa. ”

“ Tapi, wajahmu pucat seperti itu ”

“ Aku tidak apa-apa. Sebentar juga nanti akan hilang. ”

“ Tidak apa-apa apanya? Suaramu lemas seperti itu, kau bilang tidak apa-apa. Kau belum sarapan? ”

“ Yak, belum sarapan itu adalah hal biasa untukku. Jangan berlebihan. ”

“ Kau terlalu sering bekerja sampai malam. Tidurmu juga sering tidak teratur, kan? Yak, kau cari tempat kerja yang lain saja. ”

“ Sayangnya hanya tempat itu yang mengizinkanku untuk bekerja setelah pulang sekolah. ”

“ Aish, susah sekali berbicara denganmu tentang pekerjaan. ”

“ Aku tidak memintamu untuk membahas masalah pekerjaanku. ”

***

Eunhyuk POV

Shin Soo Ae. Nama itu terus berputar di otakku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan perkataan Jooyoung terhadapku. Bisa saja benar dia yang melakukannya, setelah aku menolak pernyataan cintanya secara kasar. Lalu sekarang balasannya, tapi kenapa Jooyung ikut campur dalam masalah ini? Jooyoung. Nama itu kembali mengingatkanku lagi tentang kata-kata yang kuutarakan siang kemarin padanya. Jujur, aku benar-benar tidak seperti yang kubicarakan dengan Jooyoung.

Kebiasaan burukku ini, selalu bertindak sebelum berpikir. Aku tahu saat itu memang aku dan Jooyoung sama-sama sedang emosi. Jadi, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku tidak mungkin, dengan gampangnya muncul di hadapannya dan berkata bahwa perkataanku kemarin hanya karena emosi? Tidak. Harga diriku itu penting, sangat tidak mungkin dengan gampang aku menjatuhkannya. Tidak akan. Walaupun demi masalah ini, aku bisa menyelesaikannya sendiri sedikit-sedkit.

Aku sedang dalam perjalanan menuju kelas setelah bel berbunyi menandakan pelajaran akan dimulai kembali setelah waktu istirahat. Tapi pemadangan di depanku ini, membuatku menghentikan langkah. Aku memerhatikan yeoja yang sejak tadi hanya diam saja. Tidak membalas perkataan orang didepannya yang sepertinya sedang memarahi orang didepannya.

Aku menyipitkan mataku. Jooyoung. Kenapa gadis itu hanya diam saja? Kenapa dia diam saja menerima cacian-cacian yang di tumpahkan padanya. Tunggu, bukankah itu Soo Ae? Aku lebih berjalan mendekat agar bisa memastikan. Aku menghela nafasku. Akan kupastikan masalah ini akan selesai secepatnya.

 

Jooyoung POV

Sejak tadi aku hanya diam. Biarkan saja orang didepanku ini yang lelah mengajak seseorang untuk berbicara, tapi orang sedang ia ajak bicara hanya diam.

“ Apa kau sudah selesai? ” tanyaku.

“ Aku belum selesai, dan tidak akan pernah selesai. ”

“ Kenapa kau hanya mengangguku saja? Kenapa dengan Hyukjae tidak? ”

“ Aku pikir dia tidak bersalah. Kau yang dengan sengaja masuk ke toilet pria dan sengaja berlama-lama disana kan? ”

“ Mwo? ” tanyaku tak mengerti.

“ Kau jangan besikap sok polos! Yak, perempuan nakal aku tahu semua rencana busukmu itu! ”

“ Jaga mulutmu. ”

“  Apa aku telah membocorkan rahasia busuku-mu itu? Ah, mian. Aku hanya tidak sengaja. ”

Aku baru mau mendaratkan tamparanku padanya. Tapi, dengan sigap ada seseorang yang menahan tanganku. Aku menoleh ke arah orang itu. Sialan, di saat-saat seperti ini kenapa dia selalu saja datang tiba-tiba. Aku menepis tangannya dengan kasar. Membuang wajahku agar tidak perlu lagi melihatnya.

“ Aku perlu bicara denganmu. ”

Awalnya, kupikir kalimat itu bertuju untukku. Tetapi tidak. Aku melihat Hyukjae menarik lengan yeoja yang sejak tadi berbicara denganku. Aku berbalik dan melihat Hyukjae pergi, entah kemana dengan yeoja tadi. Aku mengehala nafasku. Apa dia mencoba untuk mencampuri urusanku? Tch, sikapnya yang menyebalkan itu, apa tidak bisa hilang darinya? Bicara apa dia dengan perempuan tadi. Apa mereka saling kenal? Kenapa sepertinya Hyukjae dekat dengan perempuan tadi? Aku masih memperhatikan mereka yang pergi dan sampai tak terlihat lagi                                                                        denganku.

“ Ah, mian. Aku tidak sengaja ”

Aku merasa setengah bagian atasan seragamku basah karena minuman yang tumpah. Aku melihat ke arah orang yang katanya tidak sengaja menumpahkannya.

“ Kau bersihkan saja nodanya dengan air. Kau bisa sendiri kan? Apa perlu kubantu? ” sindirnya.

Aku hanya bisa menahan emosiku. Aku sedang tidak dalam mood untuk adu mulut.

“ Tidak perlu. Aku bisa sendiri. ” kataku tajam.

 

Eunhyuk POV

Aku membawaya ke halaman belakang sekolah. Tempat ini memang jarang dilewati para siswa, jadi paling tidak tidak terlalu banyak yang mendengar pembcaraanku. Aku melepaskan lengannya dengan kasar. Aku menatapnya tajam.

“ Katakan apa masalahmu? ”

“ Ne!? ”

“ Kau yang menempelkan kertas itu di mading sekolah, kan? Kau juga yang menyebarkan berita tuduhan itu ke semua siswa disini?! ” tanyaku marah.

“ Menurutmu? ”

“ Aku serius, Shin Soo Ae! ” kataku setengah teriak.

“ Kau pikir aku sedang main-main, hah? ”

“ Kau yang melakukannya? ” tanyaku lagi.

“ Ne! Memangnya kenapa? ” tanyanya menantang.

“ Neo mitcheseo!? ”

“ Waeyo? Aku ingin sekali melihatmu di permalukan di depan umum. Aku ingin melihat kau sedang berusaha menutupi wajahmu karena malu. Aku ingin kau merasakan, apa yang aku rasakan satu tahun lalu. ”

Deg! Jadi benar? Jadi benar apa yang dikatakan Jooyoung padaku waktu itu? Aku menatapnya geram.

“ Kenapa kau campuri Jooyoung dalam masalah ini? ”

“ Itu bukan mauku. Itu hanya kebutalan. ”

“ Silahkan saja kau membalas perbuataanku padamu saat ini. Tapi jangan sampai kau melampiaskannya pada Jooyoung! ”

“ Kau mencoba melidunginya? Ah, kisah cinta yang romantis. Apa kalian berpacaran? ”

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

“ Apa hakmu melarangku? Kau bukan siapa-siapanya. Sepasang kekasih, bukan. Teman? Sepertinya dekat saja kalian tidak.  ”

“ Jangan mencari masalah denganku. ”

“ Aku… mencari masalah denganmu? Yak! Apa omonganmu itu tepat untuk kau katakan padaku? Apa kau tidak merasa sudah pernah mencari masalah denganku?! ”

“ Apa kau masih menyukaiku? ”

Soo Ae langsung tersentak ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Dia terlihat salah tingkah. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia lebih memilih untuk diam.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

***

Tidak. Tidak boleh menyesal karena perkataanku tadi. Ah, lagi-lagi aku bertindak sebelum berpikir. Apa aku gila? Dengan seenaknya berbicara seperti itu? Tapi aku tidak egois, aku lebih baik melakukan tindakan gila seperti ini. Dari pada melihat Jooyoung terus di kucilkan oleh-oleh siswa disini. Itu sama saja dia tersiksa karenaku.

***

Chae Yeon POV

Aku sedang berjalan di lorong sekolah ini. Saat seseorang memanggilku. Aku berbalik. Ahh, pria berwajah imut itu rupanya.

“ Chae Yeon-ssi. ”

“ Oh, Sungmin-ssi. Annyeong! ”

“ Kau sendirian? ”

“ Apa kau melihat orang lain lagi di sampingku? ”

“ Tidak. ”

“ Yasudah. Ada apa kau memanggilku? ”

“ Ah, apa kau ada waktu setelah pulang sekolah? ”

“ Tentu saja. Ada apa memang? ”

“ Kita berlatih untuk menampilkan sesuatu pada acara akhir tahu nanti, eo? ”

“  Asal kau tahu, aku tidak punya bakat apapun. ”

“ Menyanyi? ”

“ Suaraku sangat buruk. ”

“ Menari? ”

“ Apalagi itu, aku paling tidak bisa jika disuruh menari. ”

“ Apa suaramu seburuk itu? ”

“ Mungkin tidak juga. Tapi aku tidak akan menyanyi pada acara akhir tahun nanti. ”

“ Ya, wae? ” tanyanya kecewa. Sepertinya, Sungmin kecewa sekali mendengarku tidak bisa melakukan apapun.

“ Aku tidak mau. Aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa karena mendengar suaraku.  ” tolakku.

“ Kau belum mencobanya. ”

“ Aku sudah tahu hasilnya akan jadi bagaimana. Sudahlah pikirkan saja penampilan yang lain.  ” usulku.

“ Kalau kau belum mencobanya, bagimana kau bisa tahu. Jangan suka mengabil kesimpulan sendiri. Ayolah! Setidaknya kau bisa mencoba menyanyi di depanku. ”

“ Kau akan menertawakanku? ”

“ Tidak akan. ”

“ Baiklah. Sepulang sekolah nanti. ”

***

Astaga, bagimana aku bisa lupa tentang Kyuhyun. Aku harus pulang bersamanya, tapi di saat itu aku sudah janji dengan Sungmin untuk berlatih. Ahh, ini kesempatan bagus untuk menghindar darinya. Bilang saja pada eomma jika aku ada belajar kelompok. Pasti eomma akan percaya. Kyuhyun? Bocah satu itu tidak usah terlalu dipikirkan. Bukannya dia juga senang tidak pulang denganku. Aku sedang berjalan di sekitar taman belakang sekolah, berniat mencari Kyuhyun. Untuk memberitahukan hal ini tentunya.

“ Kenapa kau mencampuri Jooyoung dalam masalah ini? ” samar-samar ku dengar seseorang sedang berbicara. Aku mendekati sumber suara itu. Aku mengintip sedikit ke arah orang itu di balik tembok.

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

Jooyoung? Kenapa nama anak itu dibawa-bawa dalam pembicaraan orang itu. Aku sedikit lebih menyipitkan mataku. Melihat siapa orang yang sedang membicarakan Jooyoung. Ah, sayang sekali orang itu sedang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku masih terus berusaha untuk mencari tahu orang itu. Walaupun orang itu membelakangiku tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksud yang dibicarakan orang itu? Kenapa Jooyoung selalu dibicarakan pada setiap perkataannya. Aku jadi tidak mengerti. Sebenarnya siapa orang itu, aku makin penasaran saja. Ayolah, segera berbalik agar aku bisa melihat wajahnya. Aku mengkatup mulutku dengan tangan kananku ketika orang itu berbalik. Jadi….

***

“ Kau yakin akan tetap masuk kerja hari ini? ” tanyaku ketika pelajaran terakhir telah selesai.

“ Hmm. ” gumamnya pelan.

“ Dengan kondisimu seperti ini? ”

“ Tentu saja. ” jawabnya lemah.

Aku memandangnya iba. Jooyoung-a sepertinya kau sedang berada dalam posisi dibawah layaknya ban mobil yang berputa terus. Kau seperti dilimpahkan masalah yang tidak henti-henti. Aku masih ragu untuk membitahukan tentang kejadian tadi siang. Aku tidak tahu pasti siapa yang sedang bicara dengan Hyukjae. Ketika dia berbalik dia langsung berjalan ke arahku, mau tidak mau aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan telah mendengar pembicaraannya. Aku menghela nafasku pelan. Aku akan memberitahunya, nanti. Saat waktu yang tepat.

“ Kau pulang duluan? Aku ada urusan sebentar. ” kataku.

“ Hmm.. Annyeong. ”

“ Yak, kau hati-hati dijalan. ”

Jooyoung hanya mengacungkan jempolnya kebelakang tanpa melihatku. Aku kembali membereskan buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Aku segera menggemblok tasku dan segera keluar dari kelas. Ahh, kemana bocah itu? Kemana sejak tadi aku tidak melihatnya disekolah? Aku belum memberitahunya bahwa aku tidak akan pulang dengannya. Apa dia tidak masuk? Jangan-jangan dia masih sakit. Ah, tidak mungkin. Keadaannya saja tidak meyakinkan sama sekali untuk menunjukan dia masih sakit.

Aku masih mengedarkan pengelihatanku ke arah seluruh sudut sekolah ini. Saat aku menangkap seseorang yang sejak tadi kucari. Aku baru mau menghampirinya. Tapi mataku menangkap sosok orang lain disebelahnya. Aku menyipitkan mataku. Siapa perempuan itu? Kenapa sepertinya dia sedang menangis. Aish, dan bocah satu itu, kenapa sikapnya selalu sok manis begitu jika dihadapan perempuan lain. Sikap menyebalkannya itu pasti tidak akan terlihat jika dia sedang bersama orang lain.

Aku kembali memperhatikan mereka. Aku membelakkan mataku. Kemana mereka? Kenapa mereka pergi? Aku segera mengitarkan pandanganku ke seluruh sudut di sekolah ini. Aku sedikit melihat punggung Kyuhyun yang berbelok ke arah atap sekolah ini. Aku segera mengikuti mereka bukan maksudku untuk ikut campur, maksudnya aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.

Aku menjaga jarak seaman mungkin untuk tidak ketahuan oleh mereka. Sungguh, aku sangat penasaran. Gerak-geriknya, ekspresi wajah yeoja itu saat tadi juga sangat membuatku penasaran. Aku mengikuti mereka, sampai saat aku berada pada atap sekolah. Aku bersembunyi pada belakang tembok disini.

“ Wae geurae? ”

“ Na.. Na… ”

“ Ppaliwa, katakan padaku. Ada apa sebenarnya? ”

“ Bolehkah aku meminjam bahumu untuk menangis. Aku perlu menenangkan diri. ”

Aku membelakkan mataku kaget. Mwoya? Apa-apaan dia!? Kenapa tiba-tiba menangis begitu. Hey! Kenapa dia juga harus memeluk Kyuhyun. Sungguh, perempuan gila! Apa maunya sebenarnya, hah? Kenapa dia manja sekali. Kyuhyun! Sikapnya itu selalu bertolak belakang jika bersamaku. Lihat saja, sekarang dengan gampangnya dia memeluk yeoja itu. Keterlaluan! Aish, Cho Kyuhyun awas kau!

Aku menelan ludahku. Tunggu-tunggu.. kenapa aku harus semarah ini dengannya. Kenapa aku harus…. Aish! Jinjja! Arghhh, otakku pasti sudah terkontaminasi sebagian olehnya. Pasti aku sudah tidak waras stadium akhir. Untuk apa aku harus mengurusi urusannya, kecuali kalau aku….

“ Chae Yeon? ”

Aku segera menolehkan kepalaku ke samping. Ah! Kiamat duniaku dimulai sekarang sepertinya.

“ Ne!? ”

“ Sedang apa kau disini? ”

“ A.. ”

Aku baru mau melanjutkan perkataanku. Tapi yeoja yang sejak tadi bersama Kyuhyun itu, tiba-tiba muncul dibelakangnya. Dengan sisa-sisa isak tangisnya, dia memegang tisu ditangannya dan menyeka air mata yang tersisa. Moodku. Sungguh, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Moodku tiba-tiba turun begitu saja. Mengingat kembali bahwa tadi Kyuhyun sempat memeluknya, aku sedikit… tidak suka melihat itu.

“ Aku kebetulan lewat sini. ” jawabku asal.

“ Aku juga mau pergi. Annyeong. ” kataku lagi. Aku menyinggungkan senyum tipis. Walaupun sedikit memaksa. Aku berbalik dan segera pergi. Tapi dengan sigap Kyuhyun menahan lenganku.

“ Kajja. Kita pulang. ” ajaknya. Aku melepaskan lengaku dari pegangannya.

“ Aku tidak pulang denganmu. Aku harus belajar bersama dengan temanku. ”

Aku kembali melanjutkan langkahku. Bahkan aku saja lupa tentang Sungmin, yang mungkin sudah menungguku sejak tadi. Aku mempercepat langkahku ketika instingku mengatakan bahwa Kyuhyun mengikutiku. Aku tidak tahu kenapa berniat untuk menghindarinya, untuk tidak berhadapan langsung dengannya. Entah kenapa, mungkin setiap aku melihatnya bayang-bayang Kyuhyun memeluk yeoja tadi selalu langsung menempati otakku. Dan, sudah kubilang sejak awal. Aku tidak suka melihat itu.

“ Sungmin-ssi! Menungguku lama? ” tanyaku ketika aku sudah melihatnya di dekat gerbang sekolah.

“ Aniya. Kajja. ”

“ Chae Yeon! ” tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun memanggilku. Aku menghiraukannya, tetap berjalan saja. Tidak menoleh kebelakang.

“ Ya, Lee Chae Yeon! ” panggilan kedua yang diperuntukan untukku. Tapi untuk yang kedua kalinya juga, aku tidak menghiraukannya.

“ Chae Yeon-ssi, ada yang memanggilmu. ” kata Sungmin yang seperti mengingatkanku karena tidak mendengarnya. Aku justru, pura-pura tidak mendengarnya.

“ Biarkan saja. Tidak penting. ”

“ Tapi sepertinya, ada yang ingin dia bicarakan denganmu. ”

“ Hiraukan saja. Aku tidak kenal dengannya. ”

 

TBC

Iklan

Love of Mathematics

Image

Title:                           Love Of Mathematics

Author:                       Stevian             a.k.a     Park Kiyong

Length:                       Oneshot

Genre:                         Frienship, romance

Rated:                         General

Cast:

  • All member of Super Junior
  • Choi Hyunji                                      a.k.a                 Hyunji
  • Park Ki Young (Author)                     a.k.a                 Kiyoung
  • Lee Eun Ji                                       a.k.a                 Eunji
  • Im Yoon Ah                                     a.k.a                 Yoona

 

Author note:

Anyeonghaseyo readers ^^

Senang sekali akhirnya aku bisa menyelesaikan ff-ku untuk ‘pertama kalinya’. Kalau dulu, baru ngetik satu paragraf aja rasanya males banget buat ngelanjutinnya.

Oh ya, ff ini terinspirasi dari seorang penceramah. Waktu itu sih ceramahannya bertema ‘Berdana’, jadi ada satu kalimat yang benar-benar masuk ke otakku. Terus aku urain kalimat itu menjadi seperti ini “Berdana itu bukannya kasih contekan ke teman”. Habis itu author ga dengerin lagi apa yang diceramahkan, author malah sibuk nyusun cerita nih ff *jangan dicontoh*

Pasti readers pada bingung, apa hubungannya menyontek sama nih ff? Dari judul aja ‘jauh’. Oh ya, judul Love Of Matematics ini terinspirasi dari Kyuhyun yang pintar matematika bahkan pernah memenangkan olimpiade matematika. Hebat ya ^^

Anggap aja tokoh utama cewek ini kamu dan Park Kiyoung adalah author ^^

Jangan lupa RCL (read, coment, like) ya! ^^

–Author Pov–

“Mashita. Nasi goreng Beijing ini benar-benar enak.” Seru Eunji setelah menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing penuh ke dalam mulutnya.

“Ne, ini benar-benar enak. Restaurant ini akan masuk ke daftar restaurant favoritku.” Ujar Hyunji menimpali sambil menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing ke dalam mulutnya.

“Dan restaurant ini hanya ada satu di Korea. Aku tidak menyangka Hangeng bisa membuka restaurant dengan nasi goreng selezat ini.” Ujar Kiyoung masih mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Hangeng?” Tanya Hyunji mengernyit dan menghentikan sendok berisi penuh nasi goreng Beijing yang hendak masuk ke mulutnya.

“Sepertinya nama itu tidak asing.” Seru Eunji menimpali sambil mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Ne, Hangeng itu teman sekelas kita dulu. Saat kita duduk di bangku kelas 2 SMA. Kalian masih ingat tidak?” Jelas Kiyoung panjang lebar.

“Aku ingat. Dia adalah murid kesayangan Heechul seonsaengnim.” Ujar Hyunji kesal mengingat kelakuan gurunya yang satu itu.

“Dia itu kan murid pindahan dari China dulu. Pantas saja nama restoran ini aksennya terkesan seperti bahasa China. ‘Meihua Dumplings’.” Ujar Eunji sambil membaca tulisan yang terdapat di dalam ruangan tersebut.

“Ne, restoran ‘Meihua Dumplings’ terdapat 3 cabang di China. Kalau kita ke China nanti, kita harus berkunjung ke Restaurant itu.” Tambah Kiyoung lalu menyeruput softdrink miliknya.

“Hebat sekali dia. Padahal dulu dia tidak bisa berbicara bahasa Korea sama sekali.” Seru Eunji kagum.

“Itu semua berkat Heechul seonsaengnim. Dulu, sehabis pulang sekolah, Heechul seonsaengnim selalu memberikan pelajaran tambahan Bahasa Korea khusus untuk Hangeng. Mengingat Heechul seonsaengnim adalah wali kelas kita, makanya dia tidak ingin ada anak didiknya yang ketinggalan pelajaran, padahal dia guru matematika.” Jelas Hyunji panjang lebar sambil meminum softdrink miliknya, karena nasi goreng Beijing miliknya sudah habis. Hyunji bisa tahu kejadian tersebut karena setiap sehabis piket kelas setelah pulang sekolah, Hyunji melihat Heechul seonsaengnim selalu mengajarkan Hangeng berbahasa Korea yang baik dan benar. Meski terkadang dia memarahi Hangeng, tapi niat Heechul seonsaengnim tetaplah baik.

“Oh begitu rupanya.” Timpal Eunji mengangguk dan menyendokkan suapan terakhir nasi goreng miliknya.

“Tapi, kenapa kau bisa tahu restaurant ini milik Hangeng?” Tanya Hyunji bingung pada Kiyoung. Mengingat Kiyoung tidak dekat dengan Hangeng.

“Srup~”

“Ne, kenapa kau bisa tahu? Aku saja tidak tahu.” Tambah Eunji setelah menghabiskan softdrink miliknya.

“Aku tahu dari Jongsoo.” Ujar Kiyoung singkat lalu mengambil softdrink miliknya dan meminumnya sampai habis, guna menghilangkan rasa malunya tadi saat dia mengucapkan nama ‘Jongsoo’ dihadapan sahabat-sahabatnya itu.

“Jongsoo namja chingumu? Pantas saja kau tahu, Jongsoo kan teman dekatnya Hangeng.” Seru Hyunji mengangguk mengerti.

“Padahal kalian dulu selalu bertengkar karena hal kecil. Tidak disangka sekarang kalian bisa menjadi sepasang kekasih.” Sambung Eunji sambil mengingat-ingat masa SMA mereka dulu. Sudah kuduga, mereka pasti mengungkitnya lagi. Batin Kiyoung kesal dengan sahabat-sahabatnya itu.

“Sudahlah, aku sedang tidak membahas Jongsoo. Oh ya, Hyunji-ah, bukanya kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya Kiyoung pada Hyunji untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang hubungannya dengan Jongsoo.

“Ne, aku sudah melamar ke 12 perusahaan, dan mereka bilang sedang tidak membutuhkan karyawan” jelas Hyunji sambil menghela napas.

“Jongsoo bilang, temannya sedang membutuhkan seorang sekretaris. Tapi sekretaris itu harus bisa mengalahkannya bermain game. Apa kau mau?” Tawar Kiyoung pada Hyunji.

“Memangnya kau bisa bermain game? Rasanya tidak mungkin.” Ejek Eunji sambil tersenyum meremehkan Hyunji.

“Tentu saja aku bisa. Jangan meremehkan seorang Hyunji.” Balas Hyunji sambil tersenyum optimis.

“Ini alamat perusahaannya. Biar aku yang membayar semua ini. Aku pergi dulu, 2 jam lagi SS4 Seoul akan dimulai. Anyeong.” Ujar Kiyoung memberikan secarik kertas kepada Hyunji, lalu meletakan uang di meja kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu menuju pintu restaurant dengan setengah berlari.

“Benar-benar tidak berubah.” Gumam Hyunji melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Hyunji pun melihat secarik kertas yang diberikan Kiyoung yang berisikan alamat dan nama perusahaan itu.

“Masih tetap menyukai Super Junior.” Sambung Eunji tersenyum mengingat masa-masa SMA mereka dulu.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Jadi ini perusahaan ‘GaemGyu’, ini kan perusahaan pembuatan game. Batin Hyunji setibanya ia di depan gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Semoga saja kali ini dia tidak ditolak. Mengingat perkataan Kiyoung bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan seorang sekretaris, sepertinya sedikit kemungkinan dia akan ditolak.

Hyunji pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Lalu menyerahkan map yang berisi lamaran kerjanya pada pihak yang berwenang dalam hal ini. Hyunji sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, dan ini adalah untuk ke-13 kalinya. Tentu saja dia pernah melakukannya, dan dia selalu ditolak. Semoga saja ini adalah terakhir kali aku melakukannya. Batin Hyunji malas dengan ritual untuk melamar kerja macam ini.

Saat ini, Hyunji sedang duduk di ruang tunggu. Hyunji sudah menunggu selama 30 menit di ruang tunggu, karena sang direktur perusahaan ini sedang melakukan meeting dengan klien.

Hyunji sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan ini, sayangnya masih ada satu lagi persyaratan yang belum dia penuhi. Mengalahkan pertarungan game dengan sang direktur perusahaan ini. Hanya itu yang harus Hyunji lakukan agar dia bisa diterima menjadi seorang sekretaris. Hanya itu.

“Nona Choi” Panggil seorang namja yang berdiri di hadapan Hyunji.

“Ne??” Sahut Hyunji yang sedang duduk di ruang tunggu.

“Silahkan masuk ke ruangan direktur Cho. Beliau sudah selesai meeting.” Ujar namja itu lagi.

“Ne” Balas Hyunji singkat lalu bangkit dan tersenyum pada namja itu. Akhirnya, selesai juga meeting-nya. Batin Hyunji bersyukur.

Di sepanjang perjalanan menuju ruang direktur, mereka berdua hanya terdiam.

“Kau bekerja di bagian apa?” Tanya Hyunji membuka pembicaraan.

“Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Lee Donghae imnida, bekerja sebagai asisten tuan Cho di perusahaan ini.” Ujar namja itu menghentikan langkah kakinya untuk memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya.

“Choi Hyunji imnida” Hyunji ikut berhenti berjalan lalu membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

“Tok tok tok” Donghae mengetuk pintu ruang direktur dari luar setiba mereka di depan ruang direktur.

“Masuk” Ujar tuan Cho dari dalam yang merupakan direktur di perusahaan ini.

“Klek” Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan.

Setiba mereka di dalam, Donghae pun langsung membungkuk pada tuan Cho dan diikuti Hyunji. Tuan Cho terlihat sedang sibuk. Bahkan hanya untuk melirik mereka pun tidak. Dia sedang berkutat dengan laptop putih yang terletak di atas meja kerjanya, dan tidak menghiraukan kehadiran Donghae maupun Hyunji.

“Aku sudah membawa calon sekretarismu tuan.” Ujar Donghae yang telah melaksanakan tugas pemberian tuan Cho. Sementara Hyunji sedang sibuk memikirkan game apa yang akan mereka mainkan nanti.

“Ne, kau boleh pergi.” Ujar tuan Cho singkat pada asistennya. Tuan Cho masih berkutat dengan laptopnya yang berwarna putih. Laptopnya tersebut memiliki gambar sebual apel yang memiliki bekas gigitan.

“Silahkan duduk.” Tuan Cho mempersilahkan Hyunji duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya, sedangkan dia masih memusatkan perhatian dan menggerakkan jari-jarinya pada laptop miliknya.

“Aish” Pekik tuan Cho saat melihat tulisan ‘Game Over’ di layar laptopnya. Hyunji yang sedang sibuk memikirkan game jenis apa yang akan dimainkannya pun tampak bingung dengan kelakuan sang direktur. Hyunji pun menolehkan wajahnya sebentar kearah tuan Cho lalu kembali ke dunianya. Aku belum berlatih bermain game, eotteokhae? Batin Hyunji.

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

>>>>Flash back

–Hyunji Pov–

“Buk” Ku tolehkan wajahku kearah seorang namja yang duduk di sebelahku. Apa yang dilakukan namja ini? Kenapa dia tiba-tiba menyenggol tanganku? Kertas ulangan matematika-ku jadi tercoret karenanya. Huh~ aku jadi harus menghapus coretan yang kuperbuat karena ulahnya.

“Wae?” Tanyaku heran dengannya. Dia hanya melihat kearahku dengan wajah innocent miliknya. Benar-benar aneh namja ini. Huh~ mengganggu konsentrasiku saja.

“buk”

“Ada apa lagi tuan Cho?” Tanyaku sinis dan menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak sengaja.” Jawabnya datar. Kuhapus lagi coretan yang tidak sengaja dia perbuat padaku. Okay, dia tidak sengaja.

“buk”

Kutolehkan wajahku kearahnya dengan tajam. Ini sudah ketiga kalinya, tidak mungkin kali ini juga karena ‘tidak sengaja’.

“Opps, aku tidak sengaja. Penghapusku ada di sebelah tanganmu.” Jawabnya sambil mengeluarkan smirk evilnya. Kuhapus lagi coretan itu. Bukannya dia meminta maaf padaku malah mengeluarka smirk evilnya. Huh~ benar-benar menyebalkan. Awas saja kalau dia menyenggolku sekali lagi, tidak akan ku maafkan!

“Buk”

“Brak” Kupukul meja di hadapanku dan berdiri menghadapnya yang berada di sampingku.

“YA!! CHO KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN??” Teriakku penuh emosi padanya. Aku sangat kesal padanya. Jika saat ini sedang tidak ujian aku tidak akan se-emosi ini. Apalagi saat ini sedang ujian matematika yang merupakan pelajaran kesukanku. Tunggu… bukannya saat ini sedang…

“YA!! CHOI HYUNJI” Teriak seonsaengnim meneriaki namaku sambil berjalan kearah meja kami –mejaku dan Kyuhyun-.

“Omo” Pekikku kaget. Aku lupa, saat ini kan sedang ujian. Mati kau Hyunji. Apalagi Heechul seonsaengnim merupakan guru ter-killer di sekolah ini. Aku tidak tahu nasibku setelah ini.

“Seonsaengnim, ini semua bisa kujelaskan.” Untunglah Kyuhyun membelaku. Mungkin dia merasa bersalah padaku.

“Hyunji terus menyenggol tanganku dan tiba-tia dia meneriaki namaku. Mungkin karena aku tidak memberikannya contekan sehingga dia marah padaku. Aigoo Hyunji-ah, seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu. Itu akan mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika.” Mwo?? Apa yang dia katakan? Kukira dia membelaku. Apa maksudnya aku menyenggol tangannya? Bukanya dia yang dari tadi menyenggol tanganku sehingga aku berteriak padanya. Dan apa maksudnya aku meminta ‘contekan’ padanya, jelas-jelas soal matematika ini sangat mudah. Dan satu hal lagi, ucapannya tadi ‘mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika’ seolah-olah teman-teman sekelas kita ini tidak pintar dan dia yang paling pintar. Aigoo, namja ini benar-benar.

“Aniyo, aku tidak meminta contekan padanya. Tapi dia yang terus menyenggol tanganku sehingga lembar jawabanku tercoret untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya pula aku harus menghapus coretan tersebut hingga dia menyenggolku lagi dan membuat kesabaranku habis.” Elakku cepat sebelum Heechul seosaengnim termakan ucapannya.

“Benar apa yang dikatakan Kyuhyun, aku juga melihatnya terus menyenggol tangan Kyuhyun dan meminta contekan. Kristal-ah, kau juga melahatnya bukan?” Ujar Jessica yang duduk bersama Kristal di belakangku membela namja sialan ini. Kristal pun mengangguk dengan mantap. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kedua yeoja bermarga ‘Jung’ ini.

“Choi Hyunji, cepat berdiri di luar kelas dengan satu kaki diangkat sampai bel istirahat berbunyi.” Perintah Heechul seonsaengnim tegas padaku.

“Tapi, seon…”

“KELUAR!!” Teriak seonsaengnim memotong ucapanku. Jika Heechul seonsaengnim sudah marah, tak ada yang bisa melawannya. Padahal aku belum menyelesaikan soal ujian matematika tadi. Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Dan ini semua berkat ‘Cho Kyuhyun’.

“Benar seonsaengnim, lebih baik dia keluar dari pada mengganggu ketenangan kami dalam mengerjakan soal ujian ini.” Sahut Jessica pada Heechul seosaengnim. Ada apa dengan yeoja satu itu? Benar-benar…

“Sudah, semuanya diam dan kerjakan soal ujian kalian dengan tenang! 30 menit lagi waktu habis.” Terang Heechul seonsaengnim dan berjalan kembali ke meja guru.

Aku pun melangkahkan kakiku menuju keluar kelas. Sebelumnya kulirik mataku dengan sinis ke arah Kyuhyun, dan dia mengeluarkan smirk evil-nya padaku. Cih, aku muak sekali dengan wajahnya. Aku berjanji tidak akan berteman bahkan menikah dengan orang yang bermarga ‘Cho’. Okay, mungkin itu berlebihan. Tapi Dia benar-benar jahat padaku, dan itu tak bisa dimaafkan!

–Author Pov–

“Teng~ teng~” Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa-siswi di sekolah SMA SM pun menuju kantin untuk menhilangkan rasa lapar dan stress mereka setelah mengerjakan soal matematika terkutuk itu.

Hyunji yang mendengar bel tersebut pun merasa lega dan bersyukur karena dia tidak perlu terus berdiri lebih lama lagi dengan satu kaki. 30 menit sudah lebih dari cukup. Benar-benar kelewatan Heechul seonsaengnim itu. Batin Hyunji sambil bejalan menuju ke dalam kelas dengan kaki terpincang-pincang karena berdiri dengan satu kaki terlalu lama.

Di dalam kelas hanya ada beberapa murid. Mungkin yang lainnya pergi ke kantin. Untunglah tak ada namja sialan itu di sini. Kalau ada, Hyunji tidak ingin masuk kelas karena sudah muak dengan wajah setan itu. Pikir Hyunji.

Hyunji pun melangkahkan kakinya ke bangku-nya yang bersebelahan dengan bangku Kyuhyun.

“Hyunji-ah, aku tidak percaya kau meminta contekan pada Kyuhyun.”

Sambut Eunji sambil menghampiri Hyunji setiba Hyunji masuk ke dalam kelas mereka. Eunji pun langsung duduk di bangku Kyuhyun yang bersebelahan dengan Hyunji.

“Ne, kau memang harus percaya padaku. Mana mungkin aku menyontek pada namja sialan itu, lagi pula nilai matematika ku selalu mendapat seratus.” Ujar Hyunji penuh emosi mengingat kejadian tadi.

“Dan nilai matematika-nya juga selalu mendapat seratus ditambah lagi saat SMP dulu dia menjuarai olimpiade matematika.” Sambung Eunji kagum.

“Ya! Kau seharusnya membelaku. Huh~ Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih duduk dengannya. Ini semua gara-gara Heechul seonsaengnim. Kenapa ujian kali ini harus diacak dengan nomor undian. Mentang-mentang dia wali kelas kita dan dia dapat bertindak seenaknya. Dan sialnya lagi aku mendapat nomor yang sama dengan nomor namja sialan itu, sehingga aku harus sebangku dengannya. Nomor 13, aku benci angka itu.” Ujar Hyunji panjang lebar dengan raut wajah yang kesal.

“Tapi itu bagus, sekali-kali merubah suasana baru. Itu kan tidak salah. Lagi pula aku bosan selalu duduk sebangku denganmu. Dari SMP hingga SMA, apa kau tidak bosan? Sudahlah, lagi pula hanya dua minggu kau duduk dengannya. Setelah itu, kita bisa duduk bersama lagi.” Ujar Eunji dengan bijak.

“Apa maksudmu bosan duduk denganku? Bilang saja kau lebih senang duduk dengan Kibum dari pada duduk denganku.” Sahut Hyunji dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

“Aniyo, aku tidak bilang aku lebih senang duduk dengan kibum. Tapi, dia namja yang baik.” Ujar Eunji cepat sambil mengeluarkan seringaiannya.

“Huh~ munafik” Sahut Hyunji. Bilang saja kau menyukainya, aku tahu itu Eunji. Batin Hyunji kesal dengan sahabatnya yang satu itu.

“Hyunji-ah, kau tahu tidak? Hanya kelas 2-1 saja yang diacak posisi duduknya, sedangkan kelas yang lainnya normal-normal saja. Itu keren kan?” Ujar Eunji bangga.

“Apanya yang keren? Itu berarti kelas kita sial tahu. Lebih baik aku duduk dengan Yesung dari pada duduk dengan namja setan itu.” Timpal Hyunji.

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Hyunji.

–Hyunji Pov–

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja ku katakan.

“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya teringat kata-kata Siwon sewaktu aku pertama kali masuk ke dalam kelas 2-1.” Sambung ku cepat sebelum Eunji berpikir yang tidak-tidak tentang diriku.

Eunji adalah sahabatku dari SMP YG. Dia benar-benar tidak berubah, selalu saja mengambil kesimpulan terlalu cepat sebelum mendengar penjelasan orang lain. Kami berdua dulu bersekolah di SMP yang sama, dan sekarang kami pun bersekolah di SMA yang sama. Ya, kami sekarang bersekolah di SMA SM. SM itu bukan singkatan dari Soo Man yang merupakan kepala sekolah kami. Tapi, SM itu singkatan dari ‘Star Musseum’. Dinamakan Star Musseum karena sekolah ini berisi siswa-siswi yang cerdas.

Wajar saja saat Eunji bilang bosan duduk sebangku denganku. Sewaktu kami duduk di bangku kelas 1 SMA, dia sekelas denganku dan kami pun duduk bersama. Kemudian  sekarang, saat kami naik ke kelas 2. Kami pun duduk bersama lagi. Sebenarnya, kelas 2-1 ini adalah kelas yang berisi murid-murid yang pintar sampai dengan kelas 2-4 yang berisi murid-murid terbodoh. Bukan berarti siswa-siswi di kelas 2-4 itu bodoh. Itu semua tergantung ranting nilai kita saat kelas 1 dulu. Jadi, aku dan Eunji bisa masuk ke kelas 2-1 ini karena kami memiliki nilai dengan ranting yang tinggi.

“Memangnya apa yang dikatakan Siwon padamu?” Tanya Eunji ingin tahu.

“Dia bilang ‘lebih baik duduk dengan orang yang kau benci dari pada duduk dengan orang seperti Yesung’. Dia bilang seperti itu karena saat kelas 1-4 dulu dia duduk dengan namja bernama Yesung. Setiap kali dia berada di dekat Yesung selalu ada aura ‘aneh’ yang muncul dan Yesung hobby sekali memegang bagian atas bibirnya Siwon.” Ceritaku panjang lebar pada Eunji sambil mengingat saat aku pertama kali masuk ke kelas 2-1 ini, dan Siwon adalah namja pertama yang menyambutku dengan ‘kalimat’ seperti itu.

Saat ini, Siwon dan Yesung juga sekelas denganku. Di kelas 2-1 ini. Tapi, Siwon sekarang tidak sebangku dengan Yesung lagi, melainkan dengan Kibum. Mereka berdua bersahabat dengan baik. Dan Yesung sekarang sebangku dengan Ryeowook. Ryeowook adalah namja yang baik dan manis. Hanya dia yang betah duduk dengan Yesung di kelas ini. Mereka berdua juga bersahabat dengan baik.

Tapi, kali ini Siwon sedang tidak beruntung. Karena dia mengambil nomor undian yang sama dengan nomor Yesung. Sial sekali dia. Sama sepertiku. Apa boleh buat, ini akan berakhir hingga ujian selesai.

“Apa benar siwon mengatakan hal seperti itu tentangku?” Tanya Yesung tiba-tiba yang entah datang dari mana, dan membuat kami berdua terlonjak kaget dengan keberadaan Yesung.

“Yesung-ah, aku tidak mengatakan hal seperti ‘itu’ tentangmu. Percayalah padaku. Dan ingatlah, bahwa Tuhan itu baik.” Ujar Siwon tiba-tiba dan langsung memeluk Yesung yang berada di samping kami. Siwon memang selalu seperti itu. Selalu ‘memeluk siapa saja’ dan setiap kalimat yang dia ucapkan pasti ada kata-kata seperti ‘Tuhan itu baik’, karena itulah dia disebut sebagai namja ter-religius di kelas ini.

“Ya!! Kenapa kau menghapusnya?” Teriak Kiyoung ketika ada seorang namja yang hendak menghapus tulisan di papan tulis. Kiyoung adalah sahabatku dan sahabat Eunji juga.

“Aku tidak suka melihat papan tulis ini kotor.” Balas namja yang merupakan ketua kelas kami dengan santai sambil menghapus tulisan ‘Super Junior’, ‘Everlasting Friend’, ‘ELF’, ‘SUPER JUNIOR THE LAST MAN STANDING’, ‘PROM15E TO 13ELIEVE SUPER JUNIOR’, ‘13’, ‘I’m Proud To Be ELF’ yang ditulis Kiyoung.

“YA!! BERHENTI MENGHAPUSNYA!! JUNGSOO. Aku tahu kau sedang tidak piket kelas hari ini, jadwal piketmu sama dengan jadwal piketku, yaitu hari jumat. Dan sekarang bukan hari jumat.” Teriak Kiyoung kesal dengan apa yang dilakukan Jungsoo.

“Selesai, ini terlihat lebih indah.” Ujar Jungsoo sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan kedua tangannya yang tidak kotor, kemudian dia tersenyum penuh kemenangan kearah Kiyoung. Dia lalu kembali ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan namja yang berasal dari China bernama Hangeng.

“Dia benar-benar seorang ELF” Sahut Eunji tiba-tiba kepada kami ber-empat –aku, Eunji, Yesung, Siwon- yang melihat pertengkaran singkat antara Kiyoung dan Jungsoo, dan Siwon pun langsung melepaskan pelukannya dari Yesung tadi.

–Author Pov–

“Teng~ teng~” bel pulang pun berbunyi usai ulangan B. Inggris.

“Hyunji-ah, Eunji-ah, ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film Super Junior ‘Attack On The Pin-Up Boys’.” Ujar Kiyoung penuh semangat ketika mereka keluar dari kelas tadi.

“Aigo Kiyoung-ah, saat ujian seperti ini kau masih memikirkan Super Junior? Kau benar-benar seorang ELF.” Sahut Eunji sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sahabatnya satu itu.

“Ne, aku tahu itu. Sudahlah ayo cepat.” Ujar Kiyoung singkat sambil menarik tangan Hyunji dan tangan Eunji agar mereka berjalan lebih cepat.

Setiba mereka di depan gerbang sekolah, mereka bertiga pun berpisah karena arah rumah mereka berbeda.

“Hyunji-ah, anyeong.” Ujar Kiyoung dan Eunji serentak sambil melambaikan tangan mereka. Rumah mereka berdua searah, tapi tidak dengan Hyunji.

“Anyeong, berhati-hatilah di jalan.” Balas Hyunji singkat sambil melambaikan tangannya juga dan membalas senyum kedua sahabatnya itu.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Hyunji pun berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang namja yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hyunji pun memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sudah malas dan muak dengan namja itu. Saat ujian B. Inggris berlangsung pun Hyunji tidak berniat sedikit pun untuk menyapa namja itu, padahal mereka berdua sebangku.

>>>>Flashback End

–Author Pov–

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir tadi.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

“Sruk” Hyunji langsung bangkit dari kursi yang dia duduki.

“Aku tidak jadi melamar kerja sebagai sekretarismu.” Ujar Hyunji bangkit dari duduknya.

“Anyeong” Pamit Hyunji membungkukkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.

“Chakkaman” Seru Kyuhyun menghentikan langkah Hyunji.

“Wae?” Tanya Hyunji malas dan membalikkan badannya ke arah Kyuhyun.

“Aku melakukannya agar kau ingat padaku.” Ujar Kyuhyun dan berjalan ke arah Hyunji.

“Ingat? Ingat apa?” Tanya Hyunji mengernyit bingung.

“Taman kanak-kanak, psp putih milikku, matematika, dan kau meminjam jari-jariku. Kau ingat?” Seru Kyuhyun mencoba mengingatkan Hyunji.

>>>>Flashback

“buk” Seorang yeoja kecil menyenggol seorang namja seusianya yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa Hyunji?” Tanya namja kecil itu tanpa menolehkan matanya pada Hyunji, karena mata namja kecil itu masih tertuju pada PSP berwarna putih di tangannya.

“Ehmm.. Aku..” Jawab Hyunji ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan. Sedangkan namja kecil itu masih sibuk dengan PSP-nya dan tidak peduli dengan Hyunji.

“Kyu~ Kyu~” Panggil Hyunji sambil mengguncang tangan namja kecil yang masih berkutat dengan PSP-nya.

“Hmm” Gumam Kyu sambil mempercepat jari-jari kecilnya di tombol-tombol PSP-nya, karena sebentar lagi dia akan mati dalam pertarungan game yang sedang dimainkan-nya.

“Boleh aku pinjam jari-jarimu?” Tanya Hyunji polos pada Kyu.

“Tunggu sebentar, jari-jariku sedang sibuk Hyunji.” Ujar Kyu cepat dan masih sibuk mengalahkan musuh-musuh di PSP-nya itu.

“Huh~” Dengus Hyunji dan mengalihkan perhatiannya pada anak-anak yang lainnya.

Saat ini kedua anak itu sedang berada di sekolah. Di sekolah taman kanak-kanak. Di taman kanak-kanak ini, anak-anak belajar dan bermain dari usia 4 – 5 tahun.

Di kelas ini hanya terdapat satu buah mejar bundar yang besar dan anak-anak duduk melingkari meja bundar tersebut. Tapi mereka tidak harus selalu duduk di meja tersebut, karena guru di sini memberikan kebebasan pada anak-anak di sini untuk bermain dan belajar. Hyunji duduk bersebelahan dengan namja kecil bernama Kyu. Kyu duduk di sisi kirinya, anak itu selalu sibuk dengan PSP-nya. Sementara di sisi kanannya duduk seorang namja kecil bernama Kangin yang merupakan ketua kelas mereka. Anak yang bernama kangin itu benar-benar nakal dan hiperaktif, dan dia jarang duduk di bangku karena dia tidak bisa diam. Makanya Hyunji tidak meminjam jari-jari Kangin.

Mata Hyunji tertarik pada kedua namja kecil yang berada di pojok ruangan.

“Hyuk-ah, ayo kita bermain ikan di aquarium.” Ajak seorang namja kecil menghampiri Hyuk yang sedang belajar di meja bundar tersebut. Saat ini Hyuk sedang membaca buku atau lebih tepatnya melihat berbagai macam gambar binatang di buku yang sedang dipegangnya.

“Ayo Hae, tapi tunggu sebentar.” Ujar Hyuk riang sambil meletakan pembatas buku tepat di halaman buku yang bergambar binatang jenis ‘monyet’.

Kedua namja kecil itu memainkan ikan-ikan yang berada di dalam aquarium. Aqurium tersebut pendek, tujuannya agar anak-anak ini bisa melihatnya dan letaknya terletak di pojok ruangan tersebut. Tidak heran anak-anak ini bisa menjangkau aquarium tersebut.

“Bok bok bok bok”

“Hahahahahahaha”

Mereka berdua mengobok-obok air di aqurium tersebut sambil tertawa dengan riang.

“Hae-ah, ikannya pasti pusing. Hahahaha…” Ujar Hyuk pada Hae dengan tangan yang masih mengobok-obok air di aquarium sambil tertawa.

“Ne Hyuk-ah. Hahahaha…” Balas Hae masih mengobok-obok air di aquarium itu dengan tawa yang tak kalah riang dari Hyuk. Bagi mereka berdua, ‘permainan’ itu sangat menyenangkan.

“Lee Donghae? Lee Hyukjae? Apa yang sedang kalian lakukan pada ikan-ikan hias itu?” Tanya Guru taman kanak-kanak mereka.

“Aku dan Hyuk sedang bermain dengan ikan Yoona seonsongnim.” Ujar Hae polos. Mereka berdua sudah tidak mengobok-obok air lagi.

“Yoona seonsongnim, kenapa ikan-ikan itu diam?” Tanya seorang namja kecil berpipi chubi yang tiba-tiba datang karena tertarik dengan ‘permainan’ yang dimainkan oleh Hae dan Hyuk.

“Omo!! Ikan-ikannya mati” Pekik Yoona kaget saat melihat ikan-ikan hias  tersebut hanya diam terbawa ‘arus’ yang dibuat oleh Hae dan Hyuk. Yoona benar-benar tidak habis pikir dengan kedua namja kecil bermarga ‘Lee’ itu. Padahal di sekolah taman kanak-kanak ini disediakan banyak sekali permainan, tapi kenapa mereka malah bermain dengan ikan-ikan hias itu?

“Huh~ Sudahlah, kalian bertiga pergi bermain bola bersama Sungmin saja.” Yoona menghela napas sambil menunjuk bola sepak berwarna pink yang sedang dimainkan seorang namja kecil. Sepertinya meletakan aquarium di kelas bukan hal yang bagus. Batin Yoona.

“Hae-ah, Dong-ah, ayo kita ke sana.” Ajak Hyuk riang pada Hae dan Shindong atau biasa dipanggil Dong.

“Min-ah, apa kami boleh ikut bermain?” Tanya Hae pada namja kecil yang sedari tadi bermain dengan bola sepak berwarna pink itu.

“Ne, tentu saja.” Balas Sungmin yang dipanggil ‘Min’ itu sambil tersenyum pada ketiga anak itu.

“Kyu-ah, ayo pinjamkan jari-jarimu pada ku.” Ujar Hyunji yang perhatiannya sempat teralihkan pada ke-empat namja kecil yang sekarang sedang bermain bola sepak berwarna pink -Hyuk, Hae, Dong, Min-.

“Ya!! Aku jadi kalah. Ini semua gara-gara kau Hyunji.” Ujar Kyu kesal pada Hyunji sambil meratapi layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hiks hiks” Hyunji kaget dan tangisnya pun pecah karena Kyu yang tiba-tiba berteriak kearahnya.

“Yoona seonsongnim, cepat ke sini.” Teriak Kyu pada guru mereka karena tidak mengerti cara menghentikan tangis Hyunji.

“Ada apa Kyu?” Tanya Yoona setiba di hadapan Kyu. Anak ini benar-benar tidak sopan, memanggil orang seperti memanggil pembantu. Batin Yoona.

“Tiba-tiba Hyunji menangis tepat saat aku kalah bermain game.” Ujar Kyu polos mengingat layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hyunji-ah, sudah, jangan menangis lagi ya. Anak baik tidak boleh menangis ya.” Bujuk Yoona pada Hyunji yang tangisnya sudah mulai reda.

“Hiks, aku hiks ingin meminjam jari-jarinya Kyu.” Ujar Hyunji yang masih sesenggukkan.

“Hyunji-ah, untuk apa kau meminjam jari-jarinya Kyu?” Tanya Yoona bingung dengan permintaan Hyunji.

“Jari tanganku tak cukup untuk menghitung sampai 13. Aku hanya mempunyai 10 jari, sedangkan soal di buku itu ’10 + 3 = …’

Aku tahu jawabannya adalah 13. Tapi aku ingin memastikannya.” Ujar yeoja bernama Hyunji itu polos.

“Oh, begitu rupanya. Kyu-ah, pinjamkan 3 jarimu untuk Hyunji.” Pinta Yoona pada Kyu yang sedang berpikir ‘apakah benar 10 + 3 = 13?’

“Ne, seonsongnim” Kyu mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan 3 jarinya            -jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis- ke pada Hyunji.

“Satu, dua, tiga… Tiga belas.” Hyunji menghitung dengan melipat jari-jarinya kedalam dan menghitung 3 jari milik Kyu.

“Wah.. Hyunji pintar” Seru Yoona setelah Hyunji menyelesaikan hitungannya sampai pada angka 13. Yoona merasa lucu dengan anak ini. Meminjam jari? Untuk memastikan 10 + 3 = 13? Lucu sekali. Batin Yoona geli.

“Gomawo Kyu-ah, gomawo seonsongnim.” Ucap Hyunji sambil membungkuk kepada Kyu dan Yoona.

Yoona pun meninggalkan Hyunji dan Kyu. Yoona pergi ke pojok ruangan tersebut, karena dia melihat ke-empat namja kecil -Hyuk, Hae, Dong, Min- itu sedang mengobok-obok air di aquarium itu lagi. Ada apa dengan anak-anak itu? Malah mengajak teman lebih banyak. Sepertinya memang benar-benar tidak baik meletakan aquarium di kelas. Batin Yoona frustasi dengan ke-empat namja kecil itu.

“Hyunji-ah, kenapa kau bisa tahu 10 + 3 = 13?” Tanya Kyu masih bingung.

“Aku menghitungnya menggunakan ini.” Jawab Hyunji dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah dada kecil milik Kyu

“Apa ini?” Tanya Kyu yang juga menunjukan jari telunjuknya ke arah dadanya.

“Hati. Aku menghitungnya di dalam hati. Dan kau juga bisa menghitungnya menggunakan hatimu Kyu.” Jawab Hyunji polos dan membuka buku matematikanya.

“Bagaimana caranya? Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu penuh semangat.

“Belajar” Ujar Hyunji singkat, sambil melanjutkan hitungan di jarinya yang tertunda karena pertanyaan dari Kyu.

“Oh, jadi begitu.” Sahut Kyu riang dan mengeluarkan buku matematika dari tas kecilnya yang berwarna sapphire blue dan bergambar robot transformers. Kyu pun mengerjakan soal-soal matematika itu dengan sesekali bertanya pada Hyunji karena dia tidak mengerti.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Seorang anak laki-laki yang merupakan ketua kelas di taman kanak-kanak ini berlari-lari mengelilingi kelas ini, menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Anak ini benar-benar hiperaktif. Itulah dia, Kangin. Nama Kangin itu sendiri mempunyai arti: Jalan penghidupan yang tentram, rakus/kuat, kegembiraan, merdeka, bahagia dan sempurna. Wajar saja sikapnya seperti itu, namanya saja mengandung arti seperti itu.

Kangin pun lelah dan akhirnya berhenti berlari-lari di dalam kelas. Sekujur tubuhnya penuh dengan keringat karena sehabis berlari-larian, ditambah lagi saat ini sedang musim panas. Padahal AC di kelas ini sudah dinyalakan, tapi tetap saja keringatnya tidak berhenti mengalir.

“Wah ada kipas angin.” Seru Kangin saat melihat sebuah kipas angin berkaki di pojok ruangan kelas.

“Trek” Kangin pun menekan tombol dengan kecepatan paling tinggi pada kipas angin berkaki tersebut.

“Aaaahh” Kangin membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar. Kangin merasa ini adalah permainan yang sangat menarik dan bisa membuat rasa gerahnya sedikit berkurang.

Di lain sisi, tepatnya di meja bundar tersebut. Duduklah Kyu yang sedang memegang PSP putih miliknya tanpa ada minat sedikit pun untuk memainkannya.

Selama dua minggu ini, Kyu selalu murung meratapi PSP miliknya tanpa memainkannya. Ini semua karena seseorang. Ya, ini semua karena Hyunji. Dua minggu yang lalu, Hyunji pindah sekolah ke daerah namsan karena rumahnya juga pindah ke sana. Kyu merasa kesepian, biasanya saat Kyu sedang bermain PSP selalu ada Hyunji yang menemani di sebelahnya, dan sekarang tak ada yang menemaninya bermain. Sebenarnya Hyunji tidak pernah menemani Kyu bermain PSP, Hyunji hanya selalu belajar matematika di samping Kyu dan Kyu beranggapan bahwa Hyunji selalu menemaninya bermain PSP. Itu semua hanya pikiran Kyu.

Kyu yang sedang bosan pun mengedarkan perhatiannya pada teman-temannya. Mata Kyu tertarik pada Kangin yang sedang bermain dengan kipas angin di ujung ruangan sana.

Kyu pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Kangin. Dia meninggalkan PSP miliknya di atas meja bundar tersebut, dan itu merupakan pertama kalinya Kyu meninggalkan benda kesayangannya di sembarang tempat.

Saat ini Kyu sedang berdiri di samping Kangin. Melihati Kangin yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin tersebut. Kangin yang menyadari kehadiran Kyu pun menutup mulutnya dan menoleh ke arah Kyu.

“Wae?” Tanya Kangin merasa terganggu dengan kehadiran Kyu.

“Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu tertarik lalu membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

Kangin pun melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

“Aaaahh…” Suara mereka berdua menggema di dalam ruangan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Itu berbahaya.” Seru Yoona yang mendengar suara ‘Aaaahh’ dan berlari ke arah mereka berusaha menghentikan permainan mereka.

“Akh” Pekik Kangin kaget mendengar suara guru mereka.

“Hua~ Hua~” Jerit Kangin menangis. Lidah Kangin berdarah terkena baling-baling kipas yang sedang berputar tersebut.

“Tek” Yoona langsung menekan tombol berwarna merah untuk mematikan kipas angin tersebut. Sedangkan Kyu berdiri di samping Kangin dan melihati Kangin yang sedang menangis.

“Lain kali jangan bermain kipas angin lagi.” Ujar Yoona menasehati Kangin dan membawanya untuk diobati. Menjadi guru TK benar-benar repot. Batin Yoona lelah dengan tingkah laku anak-anak ini.

Kyu sendirian lagi. Padahal dia sangat senang saat bermain dengan Kangin tadi.

Yoona seonsongnim mengganggu saja. Batin Kyu kesal dengan gurunya itu.

Kyu berjalan kembali ke tempat duduknya, dan mengambil PSP yang ditinggalkannya di atas meja bundar tersebut.

Kyu hanya memegang PSP itu tanpa memainkannya. Pikirannya melayang. Apa saat ini Hyunji sedang belajar matematika?

Matematika? Benar, aku harus belajar matematika. Suatu saat nanti saat aku bertemu dengan Hyunji, dia pasti kaget kalau aku bisa mengerjakan soal matematika. Aku akan mengalahkannya agar dia kaget sampai mati. Hahahaha. Batin Kyu mengandai-andai.

>>>>Flashback End

 

–Author Pov–

“Apa benar kau itu Kyu si maniak game?” Tanya Hyunji meyakinkan.

“Ne, akhirnya kau ingat juga.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum ke arah Hyunji.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu?” Tanya Hyunji kesal.

“Itu salahmu. Kenapa dulu kau selalu menghindariku? Bahkan untuk melihat wajahku pun tidak.” Ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Itu semua salahmu. Kenapa kau menyenggol tanganku dan bilang pada Heechul seonsongnim bahwa aku menyenggol tanganmu dan meminta contekan padamu?” Seru Hyunji kesal mengingat kejadian dulu.

“Kau masih ingat kejadian itu rupanya.” Seru Kyuhyun ke arah Hyunji.

“Ne tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya semudah itu. Berkat seorang namja bernama ‘Cho Kyuhyun’ aku bisa mendapatkan nilai 35 di ujian matematikaku, dan itu adalah nilai terburuk dalam hidupku.” Sahut Hyunji masih kesal lalu melipat kedua tangan di dadanya.

“Aku menyenggol tanganmu agar kau mengingatku. Saat TK dulu kau juga menyenggol tanganku berulang kali hingga aku gagal mengalahkan musuh di PSP-ku” Ujar Kyuhyun memberi alasan.

“Tapi kenapa kau bilang pada Heechul seonsaengnim aku meminta contekan padamu?” Balas Hyunji tidak puas dengan alasan Kyuhyun.

“Aku hanya ingin sedikit bermain.” Ujar Kyuhyun polos.

“Sedikit bermain? Dan membuatku mendapat nilai 35?” Sindir Hyunji.

“35 cukup bagus.” Sahut Kyuhyun tersenyum dengan wajah innocent-nya.

“Huh~ Itu tidak terdengar seperti pujian” sindir Hyunji.

“Baiklah, aku akan minta maaf. Mianhae Hyunji-ah” Ujar Kyuhyun tulus.

Hyunji menyipitkan matanya menatap Kyuhyun sinis.

“Sulit sekali menerima maaf darimu. Kalau begitu aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” Bujuk Kyuhyun.

“Jinjayo?” Tanya Hyunji tertarik.

“Ne, setelah kau memenangkan pertarungan game denganku. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu ditambah kau bekerja menjadi sekretarisku. Tapi jika aku yang menang kau harus mengabulkan satu permintaanku juga ditambah kau tetap menjadi sekretarisku. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kyuhyun.

“Baiklah, aku mau. Bersiaplah untuk kalah tuan Cho.”  Ledek Hyunji.

“Percaya diri sekali kau.” Sahut Kyuhyun.

Mereka berdua pun bertanding game dengan laptop milik Kyuhyun.

“YA!!” Pekik Hyunji saat dia kalah melawan Kyuhyun di perterungan game tadi.

“Hahahaha. Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku semudah itu. sekarang kau harus mengabulkan permintaanku.” Pinta Kyuhyun.

“Kau ingin apa?” Tanya Hyunji malas.

“Aku ingin kau menjadi yeoja chinguku!”

^0^ The End ^0^

 

Kamus:

– Ne= ya, benar

– Anyeong= sapaan saat bertemu seseoorang, pamit, halo, selamat pagi/siang/sore/malam

– Mwo= apa

– Aniyo= tidak, bukan

– Namja= laki-laki

– Yeoja= perempuan

– Seonsaengnim= guru

– Gomawo= terimakasih

– Aigo= ya ampun, ya tuhan

– Omo= ekspresi kaget

– Chakkaman= tunggu

– Wae= kenapa

– Yeoja chingu/Namja chingu= pacar

– Eotteokhae= aku harus bagaimana?

– Jinjayo= benarkah?

Sebagian besar ff ini berisi fakta aneh member Super Junior. Itu semua karena author rindu banget sama Super Junior yang membernya masih 13 dan akan tetap selamanya 13 :’)

Oh ya, faktanya Hangeng emang punya tiga cabang restaurant ‘Meihua Dumplings’ di China, dan itu adalah usaha keluarganya. Dan faktanya SM itu emang bukan singkatan dari Soo Man, melainkan Star Museum.

^^ I’m Proud To Be ELF ^^

Facebook: Ni SanElf KangBum

Twitter: @ni_san47

Me, You, and Us [ Part 3 ]

 

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

“ Lepaskan! “ bentakku.

“ Tidak! “

“ Kubilang lepaskan!!! “

“ Aku tahu hari ini kau kerja. Aku antar kau sampai Club. Ini sudah sangat lewat dari jam kerjamu, aku benarkan? Jadi tidak usah menolak. “  dia langsung menarikku pergi

“ Tidak usah sok peduli padaku! Kau kira aku anak kecil! Aku bisa sendiri! “  Hyuk Jae tidak menggubrisku. Dia tetap menarikku sampai tetap berada di mobilnya.

“ Cepat masuk! “ perintahnya.

“ Aku bilang aku bisa sendiri! “ tolakku.

“ Nona Kang! Kubilang masuk! “ Sial!! Dia memakai kata-kataku barusan. Dia sedikit mendorongku masuk ke dalam mobilnya, dia berjalan berbalik mengambil tempat di kursi kemudi. Dia menstarter mobilnya dan langsung mengemudikannya. Aku memandang Hyuk Jae dendam! Aku sangat membecinya! Suka sekali memaksa orang! Dan..satu lagi, apa yang kupikirkan sampai aku dengan mudahnya mengikuti kemaunnya. Tiba-tiba dia melihatku sekilas. Aku langsung memalingkan wajahku.

“ Mwo? “

“ Ani. Kau percepat saja kecepatan mobilmu, aku sudah benar-benar terlambat saat ini. “  Aku mengambil ponselku yang berada di saku jasku. 18.45 PM. Aku sudah terlambat 20 menit. Hhh…habislah aku. Tiba-tiba kulihat Hyuk Jae menyodorkan ponselnya ke arahku.

“ Mwo!? “

“ Masukan nomer ponselmu! “  Aku menatapnya bingung.

“ Aku tak mau! “

“ Masukan cepat! “

“ Kau memaksaku? “  Aku langsung meraih ponselnya. Bukan memasukan nomer ponselku. Tapi, aku menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku jasnya.

“ Konsentrasi dalam mengemudi! Aku tidak mau mati muda! “   Kulihat dia mengeluarkan ponselnya lagi. Hhh..keras kepala sekali!!

“ Masukan cepat! “

“ Untuk apa, ha…!? “  Aku belum sempat menyelesaikan perkataanku saat sebuah tangan (?) menyekap mulutku. Aku tersentak. Bingung. Karena sentuhan tangannya itu, tapi aku langsung menyingkirkan tangan itu dari mulutku. Lee yuk Jae!! Awas kau!

“ MWOYA!!? “ kataku setelah melepaskan tangannya dari mulutku.

“ Kau berisik sekali! Aku pusing mendengarnya! “

“ Kalau begitu kau tidak perlu repot-repot untuk meminta nomer ponselku! “ teriakku.

“ Ya, kau yang membuat repot sendiri, apa susahnya hanya memasukan nomer ponsel saja. “

Aku melihatnya malas, sungguh susah sekali berdebat dengan namja satu ini. Sangat sangat terpaksa, aku kembali meronggoh saku jasnya, mengambil ponselnya dan memasukkan nomorku pada ponselnya. Aku kembali menaruh ponsel pada saku jasnya.

“ Jangan bicara padaku lagi! Jalankan saja terus mobilnya. “

***

Saat sampai di Club, aku langsung turun dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Hyuk Jae. Ck, aku tidak sopan sekali. Biarkanlah, toh dia yang menawarkan diri untuk mengantarkanku, bukan aku. Aku berlari kecil memasuki tempat kerjaku dan pasti sajangnim telah menuggu dengan tanduk ganasnya itu. Mengerikan.

“ KAU DARI MANA SAJA, HAH!!!? “ geram sajangnim.

“ seo-seohamnida, sajangnim. “ kataku sambil menunduk.

“ Ini sudah sekian kalinya kau terlambat!! Kau pikir kali ini aku akan memaafkanmu, begitu? “

“ Maaf hyung, tadi kami belajar bersama, aku lupa melihat waktu. Jooyoung sudah beberapa kali mengingatkanku, tapi itu ku abaikan. Tugas kami terlalu banyak. “  Aku menoleh pada sumber suara. Hyuk Jae. Dia pikir apa yang dia lakukan?

***

 

Kyuhyun POV

“ Ya, menurutmu apa dulu kita berteman dekat? “ tanyanya. Aku tidak menoleh ke arahnya, masih tetap lurus pada pandanganku.

“ Mollaseo. “ jawabku singkat.

“ Jangan-jangan ini hanya akal-akalan eomma, supaya kita menerima perjodohan ini. “  Perjodohan? Hh, aku mendengar istilah itu lagi.

“ Kita? Aku tidak menerima perjodohan ini. “

“ Yak! Aku hanya berandai-andai saja. Aku juga sangat tidak mau menikah denganmu! Kau jelek! Tidak menarik mintaku sama sekali. “

“ Kau juga jelek! Dari atas sampai bawah, semuanya rata! Tidak menarik! “

“ Yak!! Apa kau bilang!? “

“ Dari atas sampai bawah, semuanya rata! Kau tidak menarik sama sekali. “ ulangku. Detik kemudian dia sudah memukul kepalaku dengan buku yang dia bawa.

“ YAK!!! “  Aku memukul kepalanya balik.

“ Hey!  Anak muda, sepasang kekasih tidak baik jika bertengkar di jalanan, lebih baik kalian membicarakan masalah kalian secara damai “ tiba-tiba ada seorang ahjumma yang berbicara pada kami.

Apa!!? Sepasang kekasih!? Apa aku dan Chae Yeon benar-benar terlihat seperti itu? Mata ahjumma itu perlu di periksa lagi, sepertinya.

“ Ah-ahjumma…kami bukan sepasang kekasih.” elak Chae Yeon.

“ Aigoo, kalian bukan sepasang kekasih, tapi tingkah kalian seperti sepasang kekasih. Ahh, sudahlah, selesaikan masalah kalian. Jangan bertengkar lagi, eo? “  Ahjumma itu pergi berlalu, meninggalkan kami.

“ Aish, mata ahjumma itu buta apa dia lupa memakai kacamata? Benar-benar. “ kataku.

“ Yak! Tidak boleh bicara seperti itu pada orang yang lebih tua! “

“ Aku tidak terima ucapannya! “

“ Bicara yang baik dengannya, tidak perlu mengumpat seperti itu. “

“ Kau sudah bilang padanya kan, bahwa kita bukan sepasang kekasih? Tapi tetap saja, dia abaikan. “

“ Biarkanlah, ahjumma itu juga sudah pergi. Tidak usah dibahas lagi. “

“ Kau ingin sekali ya? Dikira orang-orang bahwa kau kekasih ku? “ godaku.

“ Yak!! Naega eonje!!? “

“ Kau bilang perkataan ahjumma itu sudah tidak usah dibahas lagi, berarti sekian persen kau menyetejuinya. “

“ CHO KYUHYUN!!!!! “

***

 

Chae Yeon POV

Akhirnya kami sampai rumah. Ah, ternyata rumahku dan Kyuhyun benar-benar bersebelah. Aku tidak menyangka punya tetangga sepertinya. Hmm? Itu ahjumma? Kenapa dia ada diluar?

“ Ya~~eomma tahu kalian akan pulang bersama. “  Aku tersenyum miris. Jadi alasan itu kenapa ahjumma berada diluar. Tidak penting sekali.

“ Eomma! Kembalikan semua kaset gameku. Aku sudah pulang bersamanya kan? “ kata Kyuhyun tiba-tiba. Ahh, aku lupa, kami pulang bersama hanya demi menyelematkan kaset game-nya kan. Tch, berarti disini aku yang dirugikan.

“ Kau pulang dengan Chae Yeon setiap hari, setelah itu baru akan eomma kembalikan. “

“ Eomma! Mana bisa begitu!? Pulang dengannya? Lebih baik aku tidak memainkan psp-ku selama 1 bulan! “

“ Yak! Kau kira akan aku akan mau pulang denganmu lagi!? Jadikan itu sebagai mimpi indahmu! “

“ Ya..ya..ya, mana bisa bertengkar seperti itu, sudahlah. “ kata ahjumma. Padanganku beralih pada ahjumma. Aku menghela nafas pasrah. Untuk kali ini saja, biarlah ahjumma berhasil melerai aku dan Kyuhyun. Aku sedang lelah.

“ Aku masuk dulu. “

***

 

Club

10.15 PM

Jooyoung POV

Sungguh aku masih memkirkan sikap Hyuk Jae tadi. Dia membelaku? Setelah kejadian aku memarah-marahinya? Dia tetap membelaku? Hyuk Jae tak seburuk yang kupikirkan.

“ Kang Jooyoung. “

“ Ah? Ne, sajangnim? “ jawabku. Aku sedikit takut mengahadapinya, setelah sajangnim memarahiku.

“  Kau benar mengerjakan tugas sekolah, sampai bisa kau terlambat? “

“ Ne. “  Kuusahakan nada raguku tidak terdengar supaya tidak ketahuan berbohong.

“ Kau temannya Hyuk Jae? Kenapa tak bilang sejak dulu, apalagi kau teman sekelasnya kan? “

“Aku baru mengenalnya, kami baru sekelas tahun ini. “  Hyuk Jae! Gara-gara kau, aku jadi harus mencari-cari alasan.

“ Kau baru mengenalnya? Yang benar saja, Eunhyuk sepertinya akrab sekali denganmu. “

“ Dia yang sok akrab denganku. “

“ Sok akrab? Kalau begitu kenapa kau bisa kesini dengannya? Ah..kau juga mengerjakan tugas dengannya, kan? “

“ Ya! Kenapa jadi membicarakan soal ini?! “

“ Ck, yasudahlah! Kau kuijinkan pulang lebih awal hari ini. Tadi Eunyuk bilang kalian banyak tugas, kan? Aku jadi tak enak tadi memarahimu. Pulanglah. “

“ Ne!? Sajangnim, kau serius? “

“ Aish! Cepat pulanglah! Sebelum aku berubah pikiran! “  Aku melihatnya bingung. Astaga, sajangnim mengijinkanku pulang lebih awal. Tumben sekali, biasanya jika aku terlambat 15 menit saja, pasti langsung kena amukannya. Sekarang? Yang benar saja, jam kerjaku masih 2 jam lagi dan sekarang dia menyuruhku pulang. Ck, benar-benar.

 

Aku bergegas mengganti seragamku. Akhirnya! Aku mendapat tambahan waktu tidur. Menyedihkan sekali, orang-orang senang jika mereka dapat tambahan gaji. Tapi aku? Tambahan waktu tidur saja, senangnya bukan main. Ponselku berdering. Aku segera mengambilnya. Aku mengernyit. Nuguya? Nomor tidak dikenal. Biasanya, aku tidak akan menjawab jika nomornya tidak kukenal. Mungkin, suasana hatiku sedang sangat baik saat ini, jadi…aku menjawabnya.

 

“ Yoboseyo? “

“ Nona Kang! “  Tunggu..tunggu, suara ini…aku kenal sekali.

“ Hyuk Jae!? “

“ Kau mengenaliku? “

“ Tentu saja! Suaramu pasaran sekali, sangat gampang untuk diingat. Cepat katakan! Apa yang mau kau sampaikan, aku tidak punya waktu banyak. “

“ Yak! Kau jangan pulang terlalu malam, aku hanya ingin menyampaikan itu. “

“ Kau jangan sok peduli padaku! “

“ Sebagai teman, aku hanya mengingatkanmu. “

“ Aku tidak merasa punya teman sepertimu. “

“ Ya, jangan seperti itulah, aku kenal denganmu dan kau kenal denganku. Itu sudah kuanggap berteman. “

“ Tuan Lee Hyuk Jae! Kau jangan sok tahu makanya! Saat ini, aku disuruh pulang lebih awal oleh sajangnim. Kau tahu? Dia benar-benar mengira aku mempunyai tugas banyak. “

“ Jinjja? Kalau begitu, kau harus berterima kasih padaku. “

“ Aish! Aku tidak memintamu mencarikan alasanku datang terlambat. “

“ Ya! Tapi tetap saja karenaku, kau pulang lebih awal kan? “

“ Apa kau sudah selesai bicara? Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. “

“  Ya, kau galak sekali. “

“ Memang! Kau baru tahu? Tadi kau bilang hanya ingin menyampaikan itu saja kan? “

“ Kau benar-benar tidak mengerti istilah basa-basi, ya? “

“ Kututup teleponnya! “

“ Ya! Ya! Ya! Tunggu dulu. “

“ Apa lagi?! “

“ Hati-hati dijalan. “

***

 

Chae Yeon POV

“ Eomma, hanya sebentar setelah itu langsung pulang, eo? Aku besok ada ujian matematika. “  Ck, yang benar saja, besok aku ujian matematika dan malam ini aku harus ke rumah namja dingin itu, makan malam bersama dan membicarakan soal pernikahan. Hey! Ada yang bisa membunuhku sekarang?

“ Besok kau ujian matematika? Kalau begitu itu bagus! Kau tidak ingat? Kyuhyun pernah menjuarai olimpiade matematika. “

“ Lalu? “

“ Setelah makan malam, kau bisa belajar dengannya. “

“ Eomma, jinjjayo! Aku belajar sendiri saja. “

“ Belajar dengan Kyuhyun! Nilai matematika-mu itu kan tidak jauh dari angka 6-7. “ paksa eomma. Sepertinya aku sangat salah mengatakan besok ujian matematika. Lebih baik nilaiku 0 sekalipun daripada harus belajar dengannya. Juara olimpiade?  Mukanya tidak mendukung sama sekali.

***

“ Makan yang banyak! Ahh..sayur ini juga, Kyuhyun pasti tidak akan menyentuhnya sama sekali. “ kata ahjumma. Aku melirik ke arah Kyuhyun. Eh? Dia tidak suka sayuran? Sebenarnya dia orang korea asli apa bukan sih?

“ Ah-ahjumma, itu cukup sekali. Tidak usah ditambah lagi. “

“ Aish, tidak usah malu-malu. Dulu porsi makanmu itu banyak sekali. Sekarang?  Kau sudah megurangi porsi makanmu, ahh..atau diet? Ck, dasar anak muda. “  What? Diet? No way, di kamusku kata itu benar-benar tidak ada. Apa enaknnya diet? Menahan untuk tidak memakan makanan yang menurut tips-tips di majalah bisa membuat gemuk. Memang apa salahnya gemuk?

“ Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Semua persiapan untuk pernikahan kalian sudah appa siapkan, kalian tidak bisa menolak. “

“ Uhuk! “ aku hampir tersedak makananku saat ahjussi mengatakan itu. Menikah? Dengannya? Minggu depan!!?

“ Appa! Minggu depan itu terlalu cepat! “ kata Kyuhyun. Apa? Dia bilang terlalu cepat? Dia tidak menolaknya? Bodoh.

“ Appa sudah bilang kalian tidak bisa menolak. “

“ Ahjussi, Kyuhyun benar. Minggu depan itu terlalu cepat. “ kataku. Astaga!! Dan sekarang aku juga bilang itu terlalu cepat? Chae Yeon bodoh, Chae Yeon bodoh.

“ Kalian tenang saja, semua sudah diurus. Hanya tinggal pakaian yang akan kalian pakai saat pernikahan nanti. Appa tidak mau mencampuri soal itu, biar kalian saja yang memilih. Lusa sabtu kan? Datanglah ke butik langganan eomma. “

“ Lusa aku tidak bisa. “ jawab Kyuhyun dingin.

“ Kalau begitu besok saja. “

“ Kami masih harus sekolah, appa. “

“ Sepulang sekolah. “

“ Kami masih pakai seragam sekolah. “

“ Apa salahnya jika masih memakai seragam sekolah? “

“ Kalau ada yang melihat kami, bagaimana? “ kini aku yang berbicara.

“ Supir appa akan mejemput kalian ia bisa membawa pakaian ganti untuk kalian, selesai kan?  “ kini ahjumma yang berbicara. Aku menghela nafas pasrah. Benar-benar, mereka memaksa aku dan Kyuhyun untuk menikah dan mereka juga yang mengurus segala sesuatunya. Kalau begitu, kenapa tidak mereka saja yang menikah?

“ Kyuhyun-a! Setelah ini kau belajar bersama Chae Yeon, ya? Chae Yeon bilang besok dia ujian matematika. “

“ Eomma! Tidak usah, aku belajar sendiri saja. “

“ Aish, kau malu belajar dengan Kyuhyun? “

“ Eomma!!…….. “

“ Tidak protes! Kau harus belajar dengan Kyuhyun! “ paksa eomma. Aku melirik ke arah Kyuhyun. SIALAN! Apa yang dia tertawakan? Apa ini lucu? Hhh, ku bunuh kau!!!

***

 

Kyuhyun POV

“ Seharusnya itu dikurang bukan di tambah! Kau mengerti tidak, sih!? “ kataku. Ck, Chae Yeon benar-benar bodoh sekali dalam matematika. Lihat! Begitu saja tidak bisa.

“ Diam kau! “

“ Kau tidak mau mendapat nilai sempurna? “

“ Kau peduli apa denganku? Lagipula aku sama sekali tidak berniat mendapat nilai sempurna, 8 saja aku sudah bersyukur sekali. “

“ Ish, terserah kau! “  Aku kembali memainkan psp-ku. Sesekali aku melirik ke arah Chae Yeon. Astaga, wajahnya itu…aku akui, saat seperti itu, justru wajahnya terlihat sangat polos. Sepertinya, wajah ini tidak terlalu asing bagiku. Ish! Cho Kyuhyun! Apa yang kau pikirkan, pasti aku sudah gila. Padanganku beralih pada soal yang sedang di kerjakannya. Benar-benar, semua yang dikerjakan itu sebagian besar, salah semua.

“ Ya, kalau x berhadapan dengan RW, berartu itu sama saja besarnya, kau tidak ingat pelajaran sewaktu tingkat pertama? Itu kan sudah dipelajari, kenapa soal itu jadi kau kurang-kurangkan. “

“ Tingkat pertama?! Itu sudah lama, aku tak ingat sama sekali. “

“ Sama sekali? Ck, bodoh! Bagaimana bisa mengerjakan, kalau tidak mengerti sama sekali. Buka catatan-mu, lihat caranya! “

“ Aku tidak pernah menyatatnya. “ jawabnya santai.

“ Mwo? Yak! Ujian bab ini susah sekali jika tidak belajar benar-benar. “

“ Susah? Dari mana kau tahu? Kau sudah ujian bab ini ya? “ tanyanya menyelidik.

“ Sekalipun kujawab iya, aku tidak akan memberi tahu soal ujian ini. “

“ Aish, jangan begitulah. Chingu-ya, Kyuhyun Cho, yang paling baik dan tampan, beritahu aku, eo? “

“ Kalau saat seperti ini kau baru bilang bahwa aku tampan, apa mata-mu itu terbuka di saat seperti ini? Aku memang tampan. “

“ Ish, terserah kau sajalah. Ayo! Beri tahu soalnya. “

“ Tidak akan! Aku pasti dirugikan! “

“ Ya, kau pikir pulang bersamamu itu tadi aku merasa tidak dirugikan? Itu sama saja merugikan bodoh! Menyelamatkan kaset game-mu? Hmm? “

“ Kaset game-ku tidak ada di tanganku sekarang! Kau tidak dirugikan berarti. “

“ Yak! Lupakan masalah itu! Aku ingin soal untuk ujian besok,eo? Aku benar-benar butuh. “

“ Itu curang namanya. Kau tidak usaha sendiri. Tidak! Tidak, akan ku beri. “

“ Ya, kalaupun aku usaha sendiri aku juga tidak akan mendapat nilai bagus. Pasti eomma akan memarahiku lagi. “

“ Itu salahmu sendiri, kau tidak mencatat setiap pelajaran yang diberikan, pasti kau juga malas-malasan saat sedang dijelaskan. Seharusnya, kalau kau mau bisa catat setiap pelajaran yang diberikan, konsentrasi saat sedang dijelaskan.“

“ Aish, kenapa kau jadi seperti menasihatiku? Aku tidak butuh nasihat-mu. Aku butuh soal ujian besok, ayolah Kyuhyun. “

“ Tidak! “  Aku memalingkan wajahku, kembali pada psp-ku. Tiba-tiba Chae Yeon mencondongkan tubuhnya mendekatiku. Aku mendongak. Astaga, wajahnya benar-benar dekat sekali dengan wajahku. Dia menempelkan kedua telapak tangannya dan memasang tampak memelasnya itu. Bagaimana pun, aku pria normal juga, jika sedekat ini, hanya berdua dalam satu ruangan. Hhh, aku tidak habis pikir.

“ Yak! Apa yang kau lakukan!? “ teriakku. Tubuhku otomatis langsung mundur ke belakang.

“ Ish, kau tidak perlu berteriak! Kau pikir apa, hah!? Soalnya! Beri tahu soal itu! “

“ Aish! Dasar licik! Ku beri tahu tapi ada satu syarat! “  Hah, bagaimana pun, aku tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Sekalipun dia melakukan tindakan aneh seperti tadi.

“ Ish! Hanya tinggal memberikan soal saja, harus ada syaratnya. Kau pikir ini perlombaan? “

“ Kau mau apa tidak!? “ pekikku.

“ Yayaya, baiklah. “ jawabnya pasrah.

“ Belikan aku kaset game pengeluaran terbaru tahun ini. “

“ MWOYA!? “

***

 

Chae Yeon POV

“ Yak! Kau gila!? Kau pikir harga kaset game itu murah? “ pekikku.

“ Karena itu tidak murah, makanya kau yang belikan itu untukku. “

“ Berapa harganya? “

“ Kalau tidak salah itu 50000 won. “ jawabnya santai.

“ Mworago!? Yak! Itu mahal sekali~ “

“ Aish, itu kan sebanding jika kau mendapat nilai bagus. “

“ Kau tidak punya otak!? Tapi, itu mahal sekali. “

“ Kalau kau tidak mau…baiklah. Soalnya tidak jadi ke beri tahu. “

“ Aish! Terserah kau saja! Lagipula, aku sudah tidak tertarik dengan soal itu. “ kataku. 50000 won? Apa itu tidak terlalu mahal untuk ukuran kaset game? Yang benar saja, lebih baik aku menghabiskan uang itu dengan membeli makanan kesukaanku.

“ Orang paling pintar di kelasku saja, tidak mendapat nilai sempurna. “

“ Kau mencoba menggodaku, hah? “

“ Tidak. Aku hanya memberi tahu kejadian yang terjadi. “

Aku diam. Bagaimana jika nanti aku benar-benar mendapat nilai jelek? Aish! Pasti eomma, akan memarahiku habis-habisan.

“ Aku masih menerima jika kau berubah pikiran. “ lanjutnya lagi.

“ Baiklah. Aku terima syarat-mu! Tapi aku hanya punya setengahnya saja, aku pinjam uang-mu dulu. Kapan-kapan aku ganti. “

“ Hey, mana bisa begitu? Soal ujian itu berarti juga akan kuberi tahu setengah saja. “

“ Arghhhh!!!! “ teriakku frustasi.

“ Baiklah! Akan kubelikan game itu! SEPENUHNYA! DENGAN UANGKU. “ kataku akhirnya.

 

Kyuhyun tertawa. Sial! Aku kalah lagi dengannya.

 

 

Chunhwa High School

06.30 AM

 

Jooyoung POV

Aku berjalan memasuki gedung sekolah itu. Rasanya agak sedikit segar hari ini, mendapat tambahan waktu tidur 1 jam. Paling tidak aku tidak akan tertidur di kelas sepanjang kelas berlangsung. Aku melewati mading sekolah yang memang berada dekat pintu gedung sekolah-ku. Tunggu, pasti ada yang salah disini. Tumben sekali, kenapa semua orang berkumpul di depan mading? Kulihat, salah satu dari mereka menoleh ke arahku.

“ Yak! Teman-teman! Lihat siapa yang datang!? “  Aku mengernyit. Apa maksudnya? Sekarang, semua anak sudah melihat ke arahku. Ada masalah. Pasti.

“ Tampangnya sangat biasa, tapi kelakuannya benar-benar mengejutkan. Aku tidak pernah menyangka. “

“ Zaman sekarang, jangan percayakan seseorang hanya dari tampangnya saja. Tampang polos, baik, siapa tahu saja sifat aslinya, tidak seperti itu. “

Benar-benar! Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan. Mereka bicara, seolah-olah memang sedang memojokkan-ku. Aku memandang sekeliling-ku dengan ekspresi datar. Mataku tertuju pada selembar kertas yang di tempel di mading. Aku segera berjalan mendekati kertas itu.

 

Kang Jooyoung murid 3B

Dan

Lee Hyuk Jae murid 3E

 

Tertangkap basah oleh seorang guru, sedang berdua-an di toilet pria.

 

 

 

 

 

 

Aku menggigit bibir bawahku. IGE MWOYA!! Siapa yang melakukan ini?! Aku segera menarik kasar kertas itu. Sialan.

“ Kau mengambil kertasnya? “ tiba-tiba ada seorang murid yang berbicara padaku. Aku melihat ke arahnya.

“ Kami sudah punya semua. “ murid itu mengeluarkan ponselnya. Menunjukan bahwa, berita ini sudah disebar ke seluruh murid di sekolah ini. Jadi, itu berarti semuanya sudah tahu? Demi tuhan, siapa yang melakukan ini!? Brengsek. Aku segera berbalik dan pergi dari situ. Bermaksud segera menghindari mereka, tapi sepertinya percuma. Kulihat Hyuk Jae sudah berdiri tidak jauh dariku. Ada lagi masalah lain yang akan datang padaku? Kukira masalah ini tidak akan dibahas lagi.

“ Ya, sekarang Hyuk Jae juga ada disini! Apa mereka tidak tahu malu ya? Lihat saja, mereka masih berani berdiri disini. “  Kudengar suara tertawa yang benar-benar sangat meledek. Tidak bisakah? Satu hari saja, tidak ada yang merusak mood-ku. Jangan..jangan sekarang, jangan menangis hanya karena di remehkan. Aku berjalan melewati Hyuk Jae tanpa melihatnya. Langkahku terhenti. Lagi-lagi Hyuk Jae menarik lenganku. Bodoh. Dengan seperti ini akan memperbesar masalah. Aku melihatnya gusar. Well, dia memang tidak mengatakan apa-apa. Tapi perlakuannya saat ini, sama saja memperbesar masalah. Bukan sama saja, sepertinya ini lebih. Aku tidak tahu dia menarikku kemana. Aku berusaha melepaskan cengkramannya. Jujur, cengkramannya sakit sekali. Cengkraman seseorang yang sedang emosi.

“ Yak! Lepaskan! Ini sakit! “  Aku masih berusaha melepaskan lenganku. Sampai Hyuk Jae, akhirnya melepaskan lenganku. Dia melihat ke arahku. Aku tidak membalas melihatnya, aku lebih memilih melihat lenganku yang saat ini sudah merah karena cengkramannya itu. Aku melihat dengan ujung mataku. Hyuk Jae melihat ke arah lenganku. Aku segera menutupi bekas merah yang yang ada di lenganku.

“ Mianhae. Aku tidak bermak… “

“ Kalau kau otak-mu masih berfungsi, kau tidak akan menarikku kesini. Kau tahu? Dengan seperi ini, masalahnya akan lebih besar lagi. “

“ Aku tidak tahu masalahnya. Itu masalahku. “   Mwoya!? Dia bilang masalahnya hanya itu?! Apa tidak ada kata lebih dari bodoh untuknya?

“ Kau pura-pura bodoh, atau memang bodoh!? “ aku merendahkannya. Tidak lama, aku melemparkan kertas yang tadi ku ambil ke arahnya. Hhh, ternyata masih ada di tanganku. Kukira tadi terbuang. Tapi ini lebih baik, aku tidak perlu memelukan energi untuk menjelaskan masalah ini. Aku melihat wajahnya. Saat sedang emosi seperti ini, Hyuk Jae kelihatan sangat mengerikan.

“ Sekarang kau tahu masalahnya? Apa otak-mu sudah berfungsi? Menarik-ku kesini akan memperbesar masalah, bukan? “ tanyaku sinis.

Hyuk Jae meremas kertas yang ada ditangannya.

“ Aku tahu. “ jawabnya dingin. Baru saat ini, aku mendengar nada bicaranya seperti itu. Aku jadi ngeri  jika harus berbicara lagi dengannya.

“ Nanti kau ke Club? “ tanyanya. Eh? Kenapa jadi tempat kerjaku yang dibicarakan?

“ Apa hubungannya dengan tem….. “

“ Kang Jooyoung cepat jawab! “ katanya, sedikit berteriak. Aku belum menyelesaikan perkataan-ku tapi dia sudah menyela? Ish! Keterlaluan.

“ Tentu saja. “

“ Bicarakan masalah ini, di sana. “

“ Kenapa harus disana? “

“ Kau bilang aku menarik-mu kesini itu malah membuat masalah lebih besar kan? Membicarakan masalah ini, jauh lebih dari itu. Bisa saja, murid lain mendengarnya. “

“ Tapi itu… “

“ Aku tidak terima penolakan! “

“ Yak! Bukan itu…. “

“ Tae Hwan hyung? Aku akan bicarakan ini sebelumnya. Kau tenang saja. “

Catatan untuk seorang Lee Hyuk jae, dia itu tipe orang yang suka memaksa.

***

 

Aku memasuki ruang kelasku setelah bel berbunyi tadi. Semua orang di kelasku menatapku tak percaya. Tatapan mengejek, itu juga tidak jarang kutemui. Aku bergegas melalui tatapan rang-orang itu, menuju tempat dudukku yang berada paling pojok. Aku melihat Chae Yeon sudah duduk di tempatnya. Chae Yeon? Pasti dia sudah tahu soal ini.

“ Hey! Jelaskan padaku! “

“ Aku tahu! Tapi kau bisa berpikir kan? Tidak mungkin aku menceritakan semuanya sekarang. Seoseongnim sudah masuk. “

“ Aku tagih janjimu saat istirahat. “

“ Masalah ini aku tidak kan lupa, kau tidak usah menagihku. Aku pasti ingat. “

“ Arraseo. “

Pandanganku beralih pada seoseongnim. Pelajaran pertama hari ini matematika. Hhh, pasti 1 jam 20 menit berikutnya akan sangat membosankan.

“ Masukan semua buku! Tidak ada buku diatas meja, atau di kolong meja! “

MWORAGO!!? HARI INI UJIAN!? Astaga, bagaimana bisa aku lupa soal ini. Ish! Sial! Hari ini benar-benar sial.

“ Chae Yeon-a, kau tidak menelepon-ku semalam? Mengingatkan ku begitu? “

“ Aku menelepon-mu? Besok paginya aku tidak akan selamat, kau akan mencekik-ku karena aku menggangu jam kerjammu. Bukannya kau yang bilang sendirin padaku, jangan menelepon-ku saat aku sedang bekerja. “

“ Aish! Aku tahu, tapi setidaknya kau bisa mengirim pesan padaku! “

“ Kau bilang mengirim pesan juga tidak boleh! “

“ Arggghh! Bagaimana ini? Kau tahu kemampuanku tidak terlalu pintar dalam pelajaran ini. “

“ Setidaknya kemampuamu lebih keren daripada ku. “

“ Tidak untuk materi kali ini! “

“ Kerjakan saja semampu-mu! “

“ Semampu-ku? Aku akan menyerah sebelum melihat soalnya. “

“ Hey! Optimis, saja! Paling tidak kau bisa mengerjakan beberapa soal, 5 mungkin “

“ 5 dari 25 soal. Hhh, itu sama saja bohong! “

“ Hey, kalian! Mengobrol saja! Kerjakan ujiannya! “ bentak seoseongnim tiba-tiba. Aku dan Chae Yeon tersentak. Aku langsung membetulkan posisi duduku. Dan, sekarang aku menghadap ke arah soal ujian ini. Habislah aku.

***

“ Berapa banyak soal yang bisa kau kerjakan? “ tanya Chae Yeon saat istirahat.

“ Tidak ada. “

“ Aku serius. “

“ Aku juga serius. “

“ Tidak mungkin. “

“ Semuanya bisa saja terjadi. Aku benar-benar tidak bisa mengerjakan soal itu. Otak-ku buntu. Andai saja ujian tadi adalah pelajaran Biologi, pasti aku bisa mengerjakannya. Paling tidak aku tidak akan mendapat nilai 7. “

“ Jangan ber-andai. Ujian sudah terjadi. “

“Aku tahu itu. “

“ Hey! Jelaskan padaku apa masalahmu! Aku tidak tahan melihat tatapan mengejek semua orang padamu. “

“ Kau baru sadar sekarang? Sejak pagi, mereka sudah seperti itu. “

“ Aish! Ayo ceritakan. “

Aku menceritakan semuanya pada Chae Yeon. Sejak awal, bagaimana aku bisa bertemu Hyuk Jae, ekspresinya sedikit terkejut saat ku bilang dia adalah couple untuk acara akhir tahun nanti. Mungkin dia tidak menyangka, perkenalan ku dengan Hyuk Jae akan jadi masalah. Dan, saat ku ceritakan bagaimana aku bisa salah masuk toilet. Chae Yeon mengernyit.

“ Tunggu, bukannya saat itu aku sedang ke perpustakaan? “

“ Hmm. “

“ Dan, kau datang terlambat saat pelajaran mulai. Kau bilang kau dari ruang kesehatan? Kau bohong. “

“ Memang. Dan, aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Hwang seoseongnim. “

“ Kenapa kau tidak menceritakan ini sebelumnya padaku!? “ tanyanya mendelik.

“ Waktunya sangat tidak tepat. “

“ Jadi kau menyelesaikan masalah ini dengannya saja? “

“ Terpaksa. “

“ Itu salahmu sendiri. “

“ Chae Yeon, menurutmu ini bukan Choi seoseongnim kan yang melakukannya? “

“ Ya, jadi kau pikir dia yang melakukan semuanya? Aku yakin, sekejam-kejam-nya seoseongnim, aku tidak pernah berpikir bahwa dia yang melakukan. Guru tidak akan rela menghabiskan waktunya hanya demi itu. “

“ Lalu siapa!? “

“ Aku pikir, pikiranmu denganku akan sama, ternyata tidak. Apa setelah kau keluar dari ruangannya, sekolah masih ramai? “

“ Di dalam sekolah tidak, tapi di luar ada beberapa murid. “

“ Kau mengatakan tidak apa kau melihat sekeliling saat keluar? “ tanya Chae Yeon lagi. Aku menggeleng.

“ Kalau begitu kau tidak bisa menyimpulkannya langsung. Bicarakan masalah ini dengan Hyuk Jae-mu! “

“ Yak! Apa katamu? Hyuk Jae-ku? “

“ Hyuk Jae teman-mu. Aish, kau pasti berpikiran yang aneh-aneh. “ goda Chae Yeon.

“ Aniyo! Aku memang akan bicarakan masalah ini dengannya. “

“ Jooyoung-a. “

“ Apa? “

“ Masalah ini pasti akan selesai, kau tenang saja. “

“ Aku tahu. Gomawo. “

***

05.55 P.M

Chae Yeon POV

“ Yak! Kenapa kau lama sekali? Seharusnya, tadi lebih baik aku meninggalkanmu. “

“ Kau hanya menunggu 10 menit. Manja sekali. “ jawabnya dingin.

“ Aku ingin cepat sampai rumah, bodoh! Ayo, pulang! “ kataku. Dia berjalan mendahuluiku. Dasar tidak tahu terima kasih, sudah untung aku rela menunggunya. Ini juga demi kaset game-nya. Aku berusaha, menyamai langkahnya.

“ Hey, Kyuhyun! Kecilkan langkahmu! “ teriakku. Langkahnya, sedikit kecil sekarang.

“ Kau saja yang pendek, langkah-mu jadi kecil begitu! “ ledeknya.

“ Jangan berpikir kau orang paling tinggi sedunia! “

“ Aku tidak merasa tinggi, aku hanya bilang kau pendek. “

“ Jangan menghina-ku! “

“ Aku tidak mengina-mu, tapi aku mengatakan fakta. “

“ Terserah kau! “

“ Chae Yeon, kau tidak lupa dengan janji-mu kan? “  Hah..pasti tentang kaset game.

“ Janji apa? “ tanyaku pura-pura tidak tahu.

“ Jangan pura-pura tidak tahu. “

“ Aku rasa aku tidak punya janji apapun padamu. “

“ Tentang kaset game, bodoh! “ dia menjitak kepalaku.

“ Tidak perlu menjitakku! “

“ Dengan menjitakmu, pasti kau ingat kan? “

“ Tidak juga. “

“ Yak! Aku sudah mengatakannya, babo! “

“ Aish! Arraseo, arraseo. Akan aku belikan, tapi kapan-kapan. “

“ Yak! Mana bisa seperti itu, pasti kaset game-nya sudah terjual habis! “

“ Sudah kubilang tabunganku belum mencapai segitu. Kau saja yang memaksa! “

“ Kau bisa pinjam uang teman-mu dulu. “

“ Kau pikir meminjam uang segampang itu!? “ teriakku.

“ Mungkin. Aku tidak tahu. “

“ Bodoh! Kau tidak pernah meminjam uang pada teman-mu memang? “

“ Aku tidak pernah kekurangan uangku. “

“ Jangan menyombongkan diri, jadi kau pikir aku kekurangan uangku, begitu? “

“ Kau bilang tabunganmu belum cukup untuk membeli kaset game kan? “

“  Aku bilang tabunganku bukan uangku, berarti itu hanya sebagian. “

“ Tabunganmu dengan uangmu sama saja, sebagian uangmu yang bukan tabunganmu itu pasti uang eomma-mu kan? “

“ Kalau kau merasa punya uang banyak, kenapa tidak kau saja yang mebelinya?! “

“ Janji adalah hutang. “

“ Diam kau!! “

 

Setelah pertengkaran singkat tadi, aku dan Kyuhyun berjalan menuju halte bus dekat sekolah. Hhh, pasti akan lama menunggu bus-nya. Lihat saja, bus biasanya akan datang 20 menit lagi. Aku dan Kyuhyun duduk pada salah bangku disana.

“ Sebentar lagi hujan, tapi bus-nya belum datang-datang. Lebih baik kita jalan saja, bagaimana?”

“ Tunggu sebentar lagi. “

“ 5 menit saja, setelah itu kalau tidak datang-datang juga, lebih baik kita jalan kaki saja. “

“ Iya! Bawel! “

Aku mengerucutkan bibirku. Kerjaannya hanya menghina saja, seperti tidak ada kekurangannya saja.

“ Kyuhyun, ini sudah lebih dari 5 menit. Cuacanya juga semakin buruk saja. “

“ Kau mau kita jalan kaki saja? “ tanyanya. Aku mengangguk.

“ Ayo! “

Akhirnya kami meninggalkan halte bus itu. Aku dan Kyuhyun lebih memelilih berjalana saja. Cuacanya juga sedang buruk, sebentar lagi pasti hujan. Kalau tetap menunggu disana, pasti pada akhirnya aku tidak bisa pulang dan terjebak disana. Yang paling penting, dengan orang di sebelahku ini. Aku merasakan, tetesan air mengenai kepalaku. Jangan bilang ini sudah hujan. Aku mengadah melihat ke atas. Aish, ini bahkan lebih buruk daripada terjebak disana dengan Kyuhyun. Hujannya makin deras saja. Sebagian bajuku juga sudah basah.

“ Lebih baik berteduh dulu, hujannya pasti akan lebih deras lagi. “ teriak Kyuhyun. Suaranya sedikit keras, karena takut aku tidak mendengarnya karena suara hujan yang makin menjadi-jadi.

“ Terserah kau, saja! “ teriakku juga. Aku dan Kyuhyun sedikit berlari kecil mencari tempat berteduh.

“ Kalau saja tadi menunggu sebentar lagi pasti kita tidak akan kehujanan! Bodoh. “

“ Kau juga bodoh, kenapa menyetujuiku? Kalau kau tidak setuju, aku bisa berjalan sendiri. “

“ Kalau begitu aku yang bodoh. Membiarkanmu pulang sendiri? Pasti sampai rumah aku akan dicekik eomma. Apalagi kau pulang dengan keadaan basah kuyup. Aku yakin kalau kau pulang sendiri, kau tidak akan berhenti dulu. Tetap saja, berjalan sampai rumah tidak peduli kalau sedang hujan. “

Aku melongo. Bagaima bisa Kyuhyun tahu tentang aku yang suka bermain hujan? Dulu, sewaktu kecil jika hujan turun saat pulang sekolah. Aku senang sekali menerobos hujannya, semakin hujan bertambah deras. Pasti aku akan senang sekali.

“ Jangan sok tahu! “

“  Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a. “

 

TBC

 

Me, You, and Us [ Part 2 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

“ Bersikaplah yang ramah, sebentar lagi dia akan datang. “

“ Hmm..yayaya, baiklah. “ mungkin aku tak sopan sekali pada sanjangnim, di antara para stuff disini, akulah yang paling tak sopan dengannya, biarkan saja..dia juga tak terlalu menanggapinya.

“ Hyung!!~ “ aku menoleh ke arah sumber suara itu. Aku mengernyit, LEE HYUK JAE!!? Aku langsung memalingkan kepalaku. Astaga, kenapa dunia ini begitu sempit. Kenapa tuhan mempetukanku dengan orang-orang yang itu saja.

“ Hyung! Lama tak bertemu! “ kudengar sapaan darinya. Apa? Hyung? Hyung siapa? Aku menoleh sedikit ke arahnya. Keurae..ternyata sanjangnim. Hyuk Jae..tamu special?

“ Jooyoung!! “

“ Ah..n..ne, sanjangnim. “ Astaga! Habislah aku sekarang.

“ Tamuku. “ Aku sedikit menoleh kearahnya. Ingat SEDIKIT! Lalu langsung menunduk, memberi kesan agar si ‘tamu’ itu tidak bisa melihat wajahku.  “ An..nyeong..hase..yo. “

 

Eunhyuk POV

“ Hyung! Lama tak bertemu! “ sapaku pada Tae Hwan hyung.

“ Hyuk Jae-a, jaljinaessoyo? “

“ Tentu hyung. Kau juga? “ tanyaku balik.

“ Hmm, aku baik-baik saja. “ Kulihat Tae Hwan hyung seperti memanggil stuff-nya.

“ Jooyoung!! “ Mataku seketika membesar (?) Mwo!!? Jooyoung!!? Joo..Jooyoung..Kang Jooyoung? Astaga, apa benar itu dia?

“ Tamuku “ sambung Tae Hwan hyung lagi. Aku lihat yeoja itu tidak terlalu menoleh ke arah ku dan langsung menunduk. Sial!  Aku tak bisa melihat wajahnya.

“ An..nyeong..hase..yo. “ sapanya sedikit ragu. Kurasa. Kalau benar itu bukan dia, seharusnya sikapnya tak perlu segugup itu. Kang Jooyoung..aku yakin itu kau. Sangat yakin.

 

Kyuhyun POV

Aku mengerjapkan mataku sekali, dua kali. Benar yeoja cerewet itu.

“ Chae Yeon-a..kemari^-^ “ kata eommaku. Aku mengernyit, eomma mengenal yeoja ini. Dan..siapa namanya tadi? Sepertinya tidak terlalu asing di telingaku.

“ A..ah..ne, ahjumma. “ Aku kembali menoleh ke arahnya. Wajahnya shock sekali sepertinya. Aku akui, saat seperti itu..wajahnya justru terlihat lebih cantik. Astaga! Apa yang sedang kau pikirkan Cho Kyuhyun!

“ Ya~ini orang yang ahjumma bilang padamu tadi. Cho Kyuhyun. Apa kau masih ingat? “

“ Ingat!!? “ kataku dan Chae Yeon serempak. Aku melihat ke arahnya lagi. “ Bertemu dengannya saja aku belum pernah. “ katanya

“ Yak! Sekarang kau sedang bertemu denganku. “ Bodoh..Dia melirikku sinis.

“ Eomma, apa sebelumnya kita pernah dekat dengan keluarga ahjumma ini. “ sambarku.

“ Dekat? Istilah apa yang harus eomma katakan kalau kita ini jauh lebih dari dekat? Terutama kau…. “eomma menunjuk ke arahku. “ Dan kau juga kau Lee Chae Yeon. “  tambahnya lagi.

 

Chae Yeon POV

“Dekat? Istilah apa yang harus eomma katakana kalau kita ini jau lebih dari dekat? Terutama kau…. “kulihat ahjumma menunjuk ke arah namja itu. “ Dan kau juga kau Lee Chae Yeon. “  tambahnya lagi.

“ Ne? “ kataku bingung. Apalagi ini? Kenapa aku tidak mengerti sama sekali.

“ Eomma, ahjumma, ahjussi..sebenarnya apa ini? “

“ Bagaimana kita akan melakukan pernikahan ini? Kau dan Kyuhyun saja tak ingat sama sekali “

“ MWORAGO!!? “ teriaku dan kyuhyun. Lagi-lagi kami berbicara bersamaan.

“ Aigoo..apa kalian tidak ingat sama sekali? Bahkan, sifat kalian yang dulu, masih ada sampai sekarang. “ Kini ahjussi, yang berbicara.

“ Eomma! Sunggu, aku tak main-main! Jelaskan apa yang eomma bicarakan, kenal..dekat..pernikahan dan..apalah yang lain. “ desakku.

“ Yeon-a. Dulu kau sering sekali dipanggil dengan sebutan itu. Kau tau? Sebutan itu bukan berasal dari eomma. Yeon-a…sebutan hanya boleh digunakan oleh namja yang ber-usia sepantar denganmu. Cho Kyuhyun. Kyunnie oppa, dulu kau juga sering memanggilnya dengan sebutan itu. Eomma tak tahu, kenapa kau bisa memanggilnya ‘oppa’, saat itu usia kalian sama, hanya jarak beberapa bulan. Kau 3 Oktober dan Kyuhyun 3 Februari. Eomma benar kan? Hanya beberapa bulan, Karena tangal ulang tahun kalian sama, tanggal 3. Appa-mu…sangat senang melihat kalian bermain bersama, kau tau Chae Yeon-a? Terkadang, appa-mu suka berpikir untuk menikahkan kalian saat itu juga. Kalian bisa pikirkan sendiri, seberapa dekat kalian pada waktu itu. “ jelas eomma.

Aku mencoba mengingat kembali masa itu. Hhh..hasilnya tetap sama, nihil. Aku belum ingat apa-apa sampai sekarang. Cihh..terdengar seperti orang lupa ingatan, kan?

“ Sampai pada waktu appa-mu koma…. “ tambah ahjussi tiba-tiba. “ Beliau sempat berkata bahwa dia akan sangat senang jika nantinya kalian akan menikah. Appa-mu bukan berarti memaksa, tapi dia yakin itu takdir. Chae Yeon, kau pasti tahu betul soal ini, setelah ahjussi dan appa-mu berbicara tidak sampai 1 jam, appa-mu sudah tidak berada di dunia yang sama dengan kita. “

“ Ahjussi..aku tahu betul saat itu, tolonglah..jangan di bahas lagi. “ kataku sopan.

“ Ah..satu lagi, dulu selang waktu 1 minggu, kami semua pindah ke Australia. Ahjumma masih ingat wajahmu saat itu, sangat marah. Karena Yeon-a itu harus ditinggalkan oleh Kyunnie oppa-nya. Saat itu, kau sangat marah pada Kyuhyun, karena dia tidak memberitahu sebelumnya padamu. Kyuhyun, sangat mengerti perasaanmu saat itu. Jadi dia, sangat menerima, jika kau sangat membencinya saat itu.”

“Ahjumma..sudahlah, kau jadi seperti mendongeng. “

“ Itu lebih baik di lakukan supaya kalian mengingatnya, kau seperti terkena amnesia sesaat. “

Aku memkasakan untuk senyum. Astaga, semua orang menjelaskan panjang lebar padaku dan kyuhyun..eh? ternyata namanya Kyuhyun? Namanya bagus sekali, tidak seperti orangnya.

 

Kyuhyun POV

Rasanya kepalaku ingin pecah. Apa-apaan itu? Yeon-a…Kyunnie Oppa. Apa benar, aku yang menciptakan sebutan itu? Astaga, apa masa kecil-ku terlalu menjijikan?

“ Ya~sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sudah hampir malam. “ kata appa. “ Pembicaraan akan kita lanjutkna besok. “ tambahnya lagi.

“ Apa permasalahan ini belum bisa dikatakan selesai? “

“ Masalah pernikahan kalian. Itu belum dibicarakana sama sekali. “

“ MWORAGO!!? “ lagi-lagi kami berbicara bersamaan.

“ Aigoo..kalian ini membuat eomma gemas saja. “ Gemas? Adanya aku yang gemas pada eomma. Pernikahan? Bahkan, aku sama sekali tidak berniat mendengar istilah itu, tch..

“ Ny. Lee..kami semua pamit, senang bisa bertemu kembali. “

“ Ah..ne^^, kami juga senang bisa bertemu kembali. “

“ Chae Yeon-a, kau satu sekolah dengan Kyuhyun bukan? “ kata eomma.

“ Ne~_~ “ jawabnya malas.

“ Kalau begitu, sering-seringlah pulang dengan Kyuhyun, ahh..bahkan kalian juga bisa berangkat bersama, itu akan lebih baik. “

“ Lebih baik? “ sambarku.

“ Yak!! Siapa kau? Ikut campur saja. “ omelnya.

“ YAK!! Yang sedang berbicara itu eommaku, urusanku mau ikut campur apa tidak. “

“ Bodoh! Tidak usah diperjelas, aku sudah tau ini eomma-mu. “

“ Yayaya…sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. Kalian sudah kenal lama, memang? “  Sekarang kulihat appa melihat kea rah Chae Yeon.

“ Aku tidak merasa pernah bertemu dengannya. “

“ Kau yakin akan tetap mengatakan itu, jika kau sudah ingat masa kecilmu? “

“ Appa! Sudahlah.. “ kataku tiba-tiba.

“ Hah! Baiklah-baiklah. Chae Yeon-a, kau besok datang ke rumah kami, arra? Kita akan membicarakan masalah pernikahan kalian dan makan malam bersama. Ah…ahjussi sudah lama tak makan malam dengan keluargamu. “

“ Ne!!? “

“ Yeobo..dia masih belum mengerti tentang itu. “

“ Ah..dasar anak muda, ingatannya mudah sekali hilang. “

“ Ahjussi……. “  Cihh, nada bicaranya manja sekali.

***

Eunhyuk POV

“ Bagaimana sekolahmu? “ Tanya Tae Hwan hyung.

“ Hmm..baik-baik saja. Hyung, ngomong-ngomong tempatmu sudah banyak perubahan. “

“ Ya~ kau tahu? Sekarang, kusiapkan kamar tidur di lantai dua. “

“ Kamar tidur? “ tanyaku bingung.

“ Yak! Sejak kapan kau jadi polos begini, hah? “

“ Hyung! Apa maksudmu? Sungguh aku tak mengerti. “

“ Kau akan tau sendiri, saat otakmu sudah kembali normal lagi. “

“ Kau pikir otak-ku sedang tidak normal, hah?! “

“ Mungkin. “  Apa maksudnya? Kamar tidur di Club? Apa gunanya, hah!? Aku melihat-lihat sekeliling Club ini. Astaga, yeoja-yeoja itu sangat mengganggu pemandanganku. Yeoja? Tiba-tiba aku berpikir tentang Jooyoung. Dimana dia? Aku melihat ke arah bar. Bodoh sekali, tadi kau menutup-nutupi wajahmu, sekarang? Kau pikir? Aku tidak bisa mengenali seseorang, begitu? Sayang sekali, ingatanku ini sangat kuat, nona Kang!

“ Hyung! Aku kesana dulu ya… “

“ Hmm? Ah..baiklah, bersenang-senang saja. “  Aku bangkit dari tempatku dudukku. Lalu berjalan ke arah bar itu.

“ One bir, please. “

 

Joooyung POV

Apakah Hyuk Jae mengenaliku? Ya tuhan..semoga saja tidak.

“ One bir, please. “  Aishh..tamu luar lagi,hah?

“ Sure, sir. “  Aku mengambil bir di rak minuman, lalu berbalik dan kudapati……HYUK JAE…ASTAGA! Habislah aku. Aku langsung sedikit mengalihkan wajahku.

“ Tidak perlu kau tutupi. Aku sudah tau itu kau. “

“ Kau bekerja disini? “ tanyanya .

“ Kau bisa lihat sendiri. “ kataku sambil menuangkan bir kedalam gelasnya.

“ Kau tak ada waktu karena ini? “

“ Hmm.. “ Astaga, dia masih membahas soal ini.

“ Kau dekat dengan sanjangnim? “  Kenapa pembicaraan ini jadi lebih terlihat seperti basa-basi.

“ Ne? “

“ Hyung-mu “

“ Ahh..hmm, aku sangat dekat, wae? “  Lihat? Benar kataku, basa-basi sekali.

“ Ani. “  Aku kembali melayani pelanggan-pelanggan yang lain. Yah..wajah mereka sudah tak asing lagi bagiku, yang benar saja, hampir setiap kali mereka kesini.

“ Ya! Aku tambah lagi. “ teriaknya. Aku kembali menuangkan bir kedalam gelasnya.

“ Kau suka minum? “

“ Tidak terlalu. “  Aku melihat dia meneguk bir itu dengan cepat. “ Lagi. “

“ Tak terlalu kau bilang? Cih… “ Kali ini aku masih menuangkan bir ke dalam gelasnya.

“ Lagi! “

“ Yak! Kadar alchohol dalam bir ini sangat tinggi, kau bisa mabuk. “

“ Yak!! Kau jangan omong! Cepat tuangkan lagi! Ppali! “  Astaga, bagaimana pun juga dia teman sekolahku.

“ Eunhyuk-a! Aku keluar sebentar, ada urusan mendadak. Kau jangan terlalu banyak minum, nanti kau bisa mabuk. “ Ku lihat sanjangnim berbicara pada Hyuk Jae. Tunggu..tunggu..apa katanya tadi? Eunhyuk?

“ Ah..tenang saja hyung, tidak akan. “

“ Jooyoung-a! Kau kerja yang baik, arraseo? “

“Ah..ne, sanjangnim. “ Aku menunggu sampai sanjangnim benar-benar keluar.

“ YAK!!! Namamu Eunhyuk!!!!? “ tanyaku kesal. Dia seperti tersedak karena tertawa saat minum.

“ Bisa kau ulang? “  Pasti setelah ini aku akan jadi bahan lelucon untuknya.

“ YAK! APA NAMAMU EUNHYUK? APA MASIH KURANG JELAS!!? “ teriakku.

“ Tak perlu beteriak nona Kang!! Aku ini ada di depanmu. “

“ Kau yang memintaku untuk mengulang, tuan Lee! “ kataku tak mau kalah.

“ Tapi apa aku meminta-mu untuk berteriak? “ kali ini dia yang berteriak. “ Itu hanya sekedar basa-basi, kau tahu?  Yang benar saja, Eunhyuk atau Hyuk Jae itu sama saja. Kau payah sekali, kau tidak mengenalku memang, hah!? “

“ Mengenalmu? Melihat wajahmu saja, sudah tak ada niat sama sekali. “

“ Oh..begitu.. “ hhh..meremehkanku ternyata.

“ Ish..Kau menyebalkan!! “

“ Menyebalkan? Sebutan baru untuk-ku? Terima kasih, itu keren. “ SIALAN!! BENAR-BENAR MEREMEHKANKU, HAH!?

***

Chae Yeon POV

Math Class

08.12 AM

“ Woah..ngantuk sekali aku hari ini. “ Aku menguap. Aku melihat ke sebelah Jooyoung. Ish..dia bisa-bisanya tidur pada jam pelajaran. Aku kembali melihat ke arah seoseongnim. Astaga, apa yang dijelaskannya itu, aku tak mengerti sama sekali. Matematika apalagi. Mood-ku sedang turun drastis hari ini, mengingat kejadian sore kemarin. Cho Kyuhyun, sekarang aku tahu namanya.

***

“ Jooyoung-a! Ireona!! Ppali!! Kau pikir kau sedang tidur nyenyak di kasurmu, hah? “ aku menggoncang-goncangkan tubuhnya.

“ Yak! Ppali..ini sudah jam istirahat. “ Dia mulai membuka matanya. “ Jinjjayo? “

“ Aish..aku mati kebosanan saat pelajaran tadi. “ Cih..dia masih setengah sadar rupanya.

“ Tidurmu nyenyak? “ sindirku.

“ Hm? Tidak terlalu.”

“ Tidak terlalu? Kau lihat..buku tulismu basah karena air liur yang kau keluarkan tadi, saat kau tidur. “ Kulihat Jooyoung langsung memeriksa buku tulisanya itu.

“ Ya~aku hanya bercanda! “ kataku sambil menyenggol lengannya. Yah…memberi kesan bahwa itu benar-benar bercanda.

“ Tidak lucu sama sekali. “ katanya sinis. Tch..Kang Jooyoung! Kau mengingau, hah!? Aku bilang bercanda, bukan lucu.ckck.

“ Aku ingin ke perpustakaan, kau mau ikut? “ kataku mengalihkan pembicaraan. Dia hanya menggeleng tanpa melihatku, sepertinya dia bersiap untuk melanjutkan tidurnya. Kebo sekali. Aku meronggoh tasku, mengambil buku dan kartu perpustakaan. Jam istirahat adalah jam yang paling menyenangkan. Tapi, untuk sekarang sepertinya tidak. Sudah kubilang, mood-ku sedang sangat buruk saat ini. Perpustakaan, mungkin tujuan yang tepat. Sunyi, tak ada orang-orang yang berisik.

“ Mengembalikan buku. “ kataku datar saat sudah sampai di perpustakaan. Aku melirik pada orang yang berada disebelahku, benarkah ini siswa Chunwa High School? Namja ini, imut sekali. Pasti dia kelas 10. Aku tidak pernah bertemu sebelumnya.

“ Kartumu? “ Tanya penjaga perpus itu.

“ Ah..” aku meronggoh saku jasku, lalu memberikan kartuku pada penjaga itu. Aku kembali melirik namja disebelahku. Sepertinya dia sedang memperhatikan kartuku.

“ Kau Lee Chae Yeon? “ tanyanya tiba-tiba. Astaga, tak sopan sekali dia, kenapa tidak memanggilku dengan embel-embel sunbaenim?

“ Ne? “ tanyaku bingung. Dia mengeulurkan tangan padaku. Jangan bilang dia ingin berkenalan denganku. Jangan sekarang! Tolong jangan sekarang! Mood-ku sedang tak terlalu bagus hari ini. Maksudku..aku malas basa-basi saat ini.

“ Lee Sungmin. “ katanya. Omona! Senyumnya! Kalau seperti ini, bisa-bisa moodku meningkat menjadi paling tinggi. Aku tidak membalasnya, hanya mengisyaratkan, bahwa aku tak mengerti maksud omongannya.

“ Mading sekolah. Acara akhir semester tahun ini. “ Aku mencoba berpikir sejenak. Mading sekolah? Acara akhir semester tahun ini? Sungmin…Sungmin…Lee Sungmin? Ah…sepetinya aku ingat.

“ Arraseo, couple sing and dance, eo? “

“ Ah..benar!! “  Yang benar saja, berarti dia itu kelas 12. Acara itu kan hanya diadakan untuk kelas 12 saja.

“ Kau kelas 12? “ tanyaku langsung.

“ Hmm.. “  Astaga, wajahnya itu tidak mendukung sama sekali.

“ Lee Chae Yeon, ini kartumu. “ aku menoleh ke arah penjaga perpus.

“ Gamsahamnida! “ aku mengambil kartuku lalu berjalan keluar. Aku menoleh kebelakang, ternyata dia mengikutiku. Hah..sepertinya aku akan memulai basa-basi ini.

“ Kau baru, disini? Sepertinya aku tak pernah melihatmu. “

“ Hmm.aku baru pindah. “

“ Kelas 12? “

“ Yyyiaap. “ katanya sambil mengangguk.

“ Kenapa baru pindah saat kau kelas 12? Tanggung sekali. “

“ Appaku. Biasa..urusan pekerjaan, mengahruskan keluargaku untuk pindah. “

“ Kau pindahan dari mana? “

“ Dyeongga School, Busan. “

“ Arraseo! “

“ Chae Yeon-ssi! Aku harus kembali ke kelas sekarang! Senang bisa berkenalan denganmu. Acara untuk nanti kita bicarakan besok. “  Ahh..bahkan aku lupa soal itu, aku juga baru ingat dia adalah ‘couple’ ku nanti.

“ Annyeong “ katanya sambil melambaikan tangan padaku dan pergi. Aku hanya membalas bungkukan dan senyuman itu saja hanya sekedar basa-basi. Mataku mengikuti arah kemana dia pergi. Aku tak habis pikir, wajahnya itu sangat tidak mendukung dengan umurnya saat ini. Wajahnya jauh lebih muda dengan umurnya.

“ Ikut aku sekarang. “ Tubuhku menegang. Kenapa tiba-tiba ada seseorang yang berbicara tepat ditelingaku. Aku diam. Masih diam, tak bergerak sedikitpun. Aigoo..aku seperti sedang berperan dalam film-film horror. Seakan-akan disini tak ada orang sama sekali, gelap, sepi. Cihh..berlebihan sekali.

“ Bodoh, kau tak dengar aku? Ikut aku sekarang!”  Bodoh!? Aku langsung cepat menoleh kebelakang. Tuan Cho, kau mau mati muda,hah!!!?

“ ANI! “

“ Yak! Ada yang harus aku bicarakan! “ tiba-tiba dia menarik lenganku dan menyeretku pergi.

“ Shireo!! “ aku melepaskan pegangan tangannya itu.

“ Bicarakan saja disini. “ lanjutku lagi.

“ Tidak bisa, disini banyak orang! “

“ Lalu mau kau dimana, hah!? Sekolah itu pasti selalu ramai! Tch..bodoh sekali “

“ Halaman belakang. Setidaknya disana tidak terlalu ramai.” Dia langsung menarik lenganku. Menyeret pergi ke halaman belakang. Aku melepaskan genggamannya itu dengan kasar saat sudah sampai. Memang benar, disini tidak terlalu ramai. Hhh..dia pasti selalu benar dan aku benci akui itu.

“ Apa yang mau kau bicarakan? Cepat, tak perlu basa-basi. “

“ Cek ponselmu. “

“ Ponselku tertinggal tadi. Ada apa memang? Langsung saja pada permasalahannya. “ Dia lalu menyodorkan ponselnya tepat di depan wajahku. Dahiku mnegkerut.

“ Baca ini. “ aku melihat ke arah ponselnya. Membaca tulisan per-tulisan yang tertera pada ponselnya.

“ MWORAGO!!? Apa-apaan ini? Siapa yang mengirimnya? “ tanyaku setengah teriak.

“ Tebak saja. Pasti kau tahu. “

“ Ahjumma! “ tebakku. Ah..bahkan tidak seperti tebakkan, aku yakin aku benar.

“ Hmm. “ jawabnya singakat.

“ Shireo! Aku tak mau! “

“ Ya!! Kau kira aku mau!? Berhadapan denganmu saja, aku harus berpikir berulang kali. Kalau bukan demi kaset gameku, aku tidak akan memberi tahu ini padamu. “

“ Kaset game-mu? Hanya demi kaset game-mu? Cih..itu urusanmu, bukan urusanku. Kau urus saja sendiri. Aku tidak peduli sama sekali!!. “ Aku langsung berbalik dan berjalan pergi. Tapi sepertinya tidak bisa, Kyuhyun menahanku. Aku berbalik lagi dan melihatnya. Dia hanya diam.

“ Mwo!!? “ kataku tak mengerti. Tiba-tiba dia memperkecil jarak diantara kami dengan memajukan kakinya selangkah. Apa yang mau kau lakukan, Cho Kyuhyun? Astaga. Dia memajukan kakinya selangkah lagi dan memasang senyum evilnya. Bahkan Edward Cullen si Vampir yang senyumannya mengerikan itu sekalipun akan kalah mengerikannya dengan mahkluk satu ini. Kau tahu? INI…BENAR-BENAR..M-E-N-G-E-R-I-K-A-N. Aku melepaskan genggamannya kembali.

“ Baiklah! Aku pulang denganmu nanti. “ Hhh..sial! Aku kalah kali ini. Hanya karena sikapnya yang mengerikan ini? Ck..Lee Chae Yeon pengecut sekali.

“ Kau cepat sekali berubah pikiran. “ Kulihat dia mengecek jam tangannya. “ Kuhitung..tak sampai 1 menit. “ dia menyeringai. Arghh!! Aku menyesal harus mengalah dengannya. Lihat saja! Aku muak melihat tampak kemenangannya itu. Cho Kyuhyun!!! Lain kali aku tidak akan mengalah denganmu!! Catat itu!!

“ Kenapa kau cepat sekali berubah pikiran? “ kali ini dia tersenyum. Herghhh!! Sok imut sekali! Dasar licik! Aku tahu sikapnya tadi hanya memancingku saja. Dan sekarang..aku tidak mungkin memberi tahu alasan ini padanya.

“  Tak perlu kau jawab Chae Yeon Lee. Aku tau kau memang sangat ingin pulang dengaku. “ Ish..sok inggris sekali dia.

“ YAK!!!! CHO KYUHYUN AWAS KAU!!!!!!!!!! “

***

Jooyoung POV

Hari ini aku kacau sekali. Tidur di kelas? Bahkan aku baru melakukannya sekali selama aku bersekolah. Datang terlambat, itu memang kebiasaanku. Tapi alasan datang terlambat tidak pernah kupakai untuk alasan tidur di kelas. Suatu penghargaan bagiku, hari ini aku tisak datang terlambat. Tapi, ada suatu penghargaan baru untukku. Hanya tidur dalam waktu 2 jam kurang. Gara-gara kau HYUK JAE!!!! Aku hampir tidak tidur kemarin seharian. SIALAN!! Hanya karena mengurusinya saja!!! Aku seperti orang kelebihan energy saja, berani sekali siswa sekolah seperti tidur hanya tidur kurang dari 2 jam. Bahkan kantung mataku semakin menjadi-jadi saja. Tch, sepertinya aku harus operasi menghilangkan kantung mata. Seperti artis-artis. Aku mencoba menegakan kepalaku, berusaha bangun maksudnya. Arghh..mataku berat sekali untuk dibuka. Aku melihat ke arah tempat duduk Chae Yeon. Chae Yeon kemana? Hanya ke perpustakaan lama sekalu. Aku berdiri dari tempat dudukku, sedikit menimbulkan suara keras dari bangku-ku. Cuci muka! Itu ide yang baik! Tidak tahan lama memang, pasti nanti aku akan ngantuk lagi. Tapi setidaknya, itu menunda ‘kekantukkan-ku’ LEE HYUK JAE SIALAN!! AKU BENCI KAU!!

***

Aku melangkahkan kakiku menuju toilet. Astaga, aku seperti mengigau saat ini. Aku masuk ke toilet itu. Hhh..tumben sekali, toilet wanita sepi. Biasanya dipenuhi yeoja-yeoja yang asik berdandan. Aku meuju wastafel, mebuka keran air itu, dan mencipratkan airnya ke wajahku. Aku menatap bayanganku di cermin. “ Ah.astaga! Sepertinya aku harus benar-benar melakukan operasi itu. “  “Wajahku menyedihkan sekali.” Tambahku lagi. Aku masih melihat bayanganku di cermin sampai tiba-tiba aku melihat dari cermin seseorang baru keluar dari bilik toilet. Ini bukan mimpi kan!!? Ke-ke-kenapa di toilet wanita bisa ada namja sialan jelek itu!? Tunggu-tunggu..aku pasti sedang mengingau. Iya..iyaa benar..ini efek karena hampir tidak tidur seharian dan mungkin aku terlalu lama dengannya, jadi..seorang yeoja saja bisa ku kira itu Hyuk Jae. Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya langsung. Ayolah..kenapa aku tak bangun-bangun dari mimpi ini.

“ YAK!! NONA KANG! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!!!?? “  1 Jawaban paling penting! Ini..sekali lagi kutekan INI BUKAN MIMPI. AKU TIDAK SEDANG BERMIMPI.

“ Bodoh! Yang seharusnya bertanya itu aku!! Kenapa kau ada disini!? Kau mengendap- ngendap masuk kesini? Untuk melihat yeoja-yeoja..begitu? Iya!? “

“ Kau pasti sedang mimpi indah di tidur siang nyenyakmu ini, hm? Bangunlah!! Ini toilet pria, ada-ada saja kau!! “

“ Kau lupa memakai kacamatamu memang ya? Matamu minus berapa, memang? Membedakan toilet saja kau tidak bisa, cih.. “

 

Eunhyuk POV

“ Kau lupa memakai kacamatamu memang ya? Matamu minus berapa, memang? Membedakan toilet saja kau tidak bisa, cih.. “  Aish! Yeoja ini benar-benar keras kepala sekali! Jelas-jelas tadi aku melihat tanda pria di pintu sebelum masuk, tak perlu lihat juga sebenarnya juga tidak terlalu masalah. Semua murid disini pasti sudah hafal betul dengan letak toiletnya. Tch..yang sedang tidur nyenyak sebenarnya aku apa dia, hah!?

“ Yak! Kubilang bangun, ayo bangun! Bilang saja, kau pura-pura salah toilet demi melihat namja yang berada disini. Kau pikir aku segampang itu, percaya padamu? ”  Tiba-tiba dari arah pintu toilet..aku mendengar suara kenop pintu dibuka. Sialan! Mau tidak mau, aku harus menjaga gadis ini agar tidask ketahuan. Yang benar saja, ini benar-benar toilet pria, pasti tak lain dari namja yang masuk kesini. Aku langsung cepat merangkulnya dan mendorongnya masuk ke bilik toilet. Bayangkan saja, apa yang dipikirkan orang jika melihat seorang namja dan yeoja berada dalam satu ruangan dang hanya berdua. Dan itu di toilet. Tch.mau taruh dimana nanti wajahku. Gadis ini tidak berontak sama sekali saat aku mendorongnya masuk, mungkin dia sudah sadar dari ‘mimpinya’ , tidak mengira ini toilet wanita lagi. Pasti dia sehabis tidur di kelas. Lihat saja! Penampilannya kacau sekali. Aku yakin dia pulang larut lagi setelah kerja. Aku mengunci pintu bilik itu. Memberi isyarat pada Jooyoung untuk tidak macam-macam, saat ini saja. Dia mengangguk kecil. Pasti dia berpikir sama denganku tentang pemikiran tentang orang lain. Ck..ternyata dia pintar juga. Aku menunggu 5 menit..7 menit. Sial! Kenapa jadi banyak sekali orang yang ke toilet. Aku menoleh ke arah Jooyoung. Astaga! Aku lupa melepas rangkulanku. Jadi selama itu aku memegangnya? Hhh..tumben sekali dia tak langsung respon melepasku dan mencaciku. Biasanya, aku hanya memaksanya saja, pasti dia langsung mencaciku habis-habisan.

“ Lepaskan tanganmu! “ Aku langsung melepaskan tangaku. Hh..baru saja aku pikirkan, ini sudah langsung terjadi.

“ Kau harus bayar padaku, karena kau sudah memegangku tanpa izin. “

“ Kau harus berlatih dance bersamaku karena aku sudah menolongmu. “  Haa..kau kira aku akan kalau dengan ancamanmu.

“ Kau kira ini bisa dikatakan menolong? Kau mendorongku dengan paksa untuk kesini. “

“ Kalau begitu, seharusnya kau menolak dari awal. “

“ Keadannya sangat mendesak. Jadi aku..mau tidak mau harus menerimanya dengan sangat terpaksa. “

“ Jadi kau mau menerima pertolonganku? “

“ Sudah kubilang itu tidak bisa dikatan menolong. “

“ Tapi kau menerimanya. “

“ Keadaan sangat terpaksa! Sudah kukatakan sejak tadi. “

“ Berarti kau mengaku salah? “

“ Salah apa? “

“ Ini toilet pria. “

 

Jooyoung POV

“ Ini toilet pria. “ SIALAN! KU BUNUH KAU LEE HYUK JAE!!

“ Kau diam kan? Berati kau salah. Sudahlah…mengaku saja. “

“ Jangan harapkan itu. “

“ Tetap saja kau salah. “

“ Terserah apa katamu! “  Aku kembali mengintip dari sela-sela pintu ini. Ayolah..bel cepat berbunyi. Dengan begitu kan, koridor sekolah menjadi sepi. Aku sudah muak berlama-lama dengan namja ini.

Kringgg…Kringgg….

Ahhh ternyata tuhan masih sayang padaku. Aku segera meraih kenop pintu bilik itu.

“ Kau mau kemana? “  Aku tidak menggubrisnya. Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian ku lanjutkan kegiatanku tadi.

“ Yak! Kau mau kemana? “  Dia menahan lenganku. Aku berbalik kearahnya.

“ Apalagi?! “

“ Kau mau kemana? “

“ Tentu saja ke kelas. Kau tak dengar ini sudah bel. “ jawabku.

“ Setidaknya tunggu sebentar lagi. Kau seperti tidak tahu keadaan sekolah saja, sekalipun sudah bel, tetap saja koridor sekolah masih ramai. “ jelas Hyuk Jae. Astaga! Kenapa aku bisa lupa tentang itu. Aku menepis tangannya.

“ Bayaranmu bertambah, karena memegangku lagi. “

“ Tch, kau matre sekali. Gajimu di Club memang belum cukup, hah!? “  Aish..aku tahu dia meledekku sekarang.

“ Tidak usah menyangkutkannya tentang Club. “

“ Kau lupa sesuatu tuan Lee! “ kataku lagi.

“ Mwo? “

“ Benar-benar tak ingat? “ tanyaku dengan nada menyindir.

“ Apa!!!? “

“  AKU YANG MENGURUSIMU SAAT KAU MABUK KEMARIN. GARA-GARA KAU! AKU HAMPIR TIDAK TIDUR SEHARIAN KEMARIN!!!!! “ teriakku.

“ Ne!? Kau yang membawaku kerumah semalam? “ tanyanya panik.

“ Kau tidak mengucapkan terima kasih padaku? “

“ Kang Jooyoung! Cepat jawab aku! “  Hhhhh! Dasar! Dia suka sekali memaksa!

“ Hmm… “ jawabku singkat.

“ Kau tahu alamat rumahku dari mana? “ tanyanya curiga.

“Kau pikir aku tidak punya akal? “

“ Sanjangnim. “ tambahku lagi.

“ Kau mengantarku sampai kamar? “

“ Hal tak penting begitu masih kau tanyakan? Sudah untung aku mau membantumu. “

“ Siapa yang membukakan pintu untukmu? “  Astaga! Apa aku sedang diselidiki sekarang?

“ Aku tidak mengenalnya, yang jelas dia perempuan. “

“ Jelas saja kau tidak mengenalnya, kau baru pertama kali bertemu dengannya”

“ Siapa itu? Noona-mu? “

“ Hmm.. “

“ Jinjja? Wajah kalian tidak mirip sama sekali. Noona-mu itu cantik sekali, tidak sepertimu! “

“ Tentu saja! Aku ini bukan yeoja! “

“ Untuk ukuran namja bodoh! Noona-mu cantik seharusnya kau itu tampan! “

“ Aku tampan. “

“ Tch..kau pikir kau tampan? Kau itu jelek! “

“ Kau pikir kau cantik? Kau jelek! “ kataku tak mau kalah.

“ Ya! Kau jelek! Tidak usah mengatai orang jelek, kau juga jelek! “

Clek…

“ Yak! Kalian apa yang kalian lakukan disini, hah!!? “  Jleb! Astaga! Aku mencoba melihat ke sumber suara. Mati aku sekarang! Mati!

“ Kau! Kau kenapa bisa ada disini? Jelas-jelas ini toilet pria! “ orang yang berbicara itu menoleh ke arahku.

“ Kenapa diam!!!? Yak! Jawab aku! “

“ Seoseonghamnida seoseongnim. “ kata Hyuk Jae akhirnya. Aku melirik ke arah Hyuk Jae. Pas sekali dia juga sedang melihat ke arahku. Aku langsung membuang tatapanku, lebih baik aku mencari objek yang lebih baik untuk dilihat.

“ Kalian berdua! Temui aku saat pulang sekolah, arra!!? “  Hyuk Jae mengangguk, tapi aku tidak. Demi tuhan! Aku malas sekali jika harus berurusan dengan sekolah! Gawat! Ini pasti akan jadi masalah.

 

Chae Yeon POV

Aku melihat ke arah tempat duduk Jooyoung. Kemana dia?

“ Seoseohamnida. “ tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan itu dari arah pintu. Hmm? Jooyoung? Aku langsung cepat menoleh ke arah pintu.

“ Dari mana saja kau? “ Tanya seoseongnim.

“ Ruang kesehatan. “  eh? Jooyoung sakit?

“ Kau sakit? “

“ Sedikit pusing. “

“ Kau masih tetap bisa mengikuti pelajaranku? “  Kulihat Jooyoung hanya tersenyum kecil tanda meng-iya-kan.

“ Baiklah. Cepat masuk! “  Jooyoung hanya menunduk kecil dan langsung berjalan pelan ke arah tempat duduknya.

“ Kau sakit? “

“ Ani. “

“ Pusing? “

“ Sedikit. “  Hh..Kang Jooyoung manis, pusing atau sakit bukannya itu sama saja?

“ Kenapa kau tidak istirahat saja di ruang kesehatan? “

“ Ini pelajaran Biologi! Kau tahu akan sangat lemah di pelajaran itu. “

“ Pelajaran ini akan lebih memusingkan lagi. “

“ Aku tahu itu, tapi biarlah…akan lebih memusingkan jika aku hanya diam disana. “

***

Aish! Apa aku harus benar-benar menepati omonganku tadi? Pulang dengannya? Akan kupastikan itu hanya akan terjadi kemarin dan hari ini. Sial! Licik sekali dia!

“ Chae Yeon-a kau pulang duluan saja! Aku akan menemui Choi Seoseongnim di ruangannya. “

“ Kau membuat masalah ya? Sejak kemarin kau di panggil sana-sini terus oleh seoseongnim. “ gurauku

“ Aniya! Aku tak tahu sekarang ada apa! “

“ Yak~aku hanya bercanada. “ kataku sambil menyenggol lengannya.

“ Kau hati-hati dijalan. Aku kesana dulu, Annyeong! “ dia berlalu pergi sambil melambaikan tangannya padaku. Asal kau tahu Kang Jooyoung! Bisa-bisa aku tak selamat sampai rumah, karena kau tahu? Aku akan pulang dengan Cho Kyuhyun. Pria dingin yang mengerikan itu.

“ Hmm..Annyeong! “ balasku. Aku berjalan ke arah gerbang sekolah. Sial! Dia belum ada disana? Belum tahu saja aku paling tidak suka kalau harus menunggu. Jika aku kesana dan menunggunya, itu sama saja seperti aku yang terlalu mengharapkan. Tch..itu tidak akan terjadi. Aku lebih memilih berjalan-jalan di sekitar gerbang. Supaya tidak terlalu terlihat sedang menunggunya. Eh?  Jadi sekarang aku menunggunya. Aku merasa ada yang menepuk pundakku. Aku berbalik.

“ Kau menugguku lama? Ahh..ternyata benar, memang kau yang ingin pulang denganku. “  Aku menepis tangannya yang berada di pundakku.

“ Tidak! Aku baru disini. “ jawabku sinis.

“ Aku baru selesai pelajaran. “

“ Pelajaran apa memang? Bel bukannya sudah berbunyi dari tadi? “

“ Ahh! Benar kan berarti sejak tadi kau menugguku. “

“ Terserah! Cepat! Kau mau pulang apa tidak!!? “

***

Jooyoung POV

Masalah ini pasti akan dibesar-besarkan. Tch..sekolah ini keterlaluan sekali. Aku melangkahkan kakiku gusar menuju ruangan seoseongnim. Aku berjalan sambil menunduk. Tiba-tiba aku melihat sepasang kaki yang letaknya tidak terlalu jauh dariku. Aku mendongakkan kepalaku. Hyuk Jae. Tentu saja, dia juga terlibat dalam masalah ini. Masalah? Ini masalah? Hh..aku baru sadar sekarang aku terkena masalah. Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan mendahului Hyuk Jae. Aku mengetuk pintu itu, membukanya, membungkan badan sedikit, yahh…sekedar basa-basi. Seoseongnim menyuruh masuk dan duduk di ruangannya. Tidak lama Hyuk Jae juga ikut masuk.

“ Sekarang! Kalian jawab aku! Apa yang kalian lakukan tadi?! “

Kami diam.

“ Kalian masih tidak menjawabku? Baiklah… “

“ Jooyoung salah masuk toilet. “ jawab Hyuk Jae akhirnya. Aku melirik sekilas ke arah Hyuk Jae.

“ Kau salah masuk toilet? Kenapa bisa? “  Seoseongnim melihat ke arahku.

“ Aku sedang mengantuk. “ jawabku sesingkat mungkin.

“ Kau mengantuk? Kenapa bisa? “

“ Seoseongnim, semua orang pasti bisa mengantuk. “  Bodoh! Seperinya jaman sekarang murid itu lebih pintar dari gurunya.

“ Maksudku apa yang menyebabkan kau mengantuk di sekolah?! “  Deg! Sekarang aku harus menjawab apa? Sangat tidak mungkin, jika aku menjawab ‘ aku mengantuk karena kemarin hamir tidak tidur seharian karena harus bekerja ‘ Hhh..itu namanya aku mencari mati. Aku yakin jika aku menjawab itu, pasti seoseongnim tidak akan percaya. Bekerja? Pada masa SMA? Sepertinya jarang ada yang melakukan.

“ Kau tidak menjawab kan? Alasan kau mengantuk, itu berarti hanya ada-ada mu  saja. “  Aku menghela nafas. Astaga! Sekarang dia mulai menyalahkanku?

“ Apa? Kau mau mencari alasan lain? Itu berarti kau ada maksud lain untuk pergi ke toilet itu. “

“ Seoseongnim! Aku yakin dia benar-benar mengantuk saat mau ke toilet. “ kata Hyuk Jae. Tch..sekarang dia malah membelaku.

“ Kau yakin? Apa kau bisa memberi alasan yang bisa kupercaya selain mengantuk? Hm? “

“ Seoseongnim! Sungguh! Aku benar-benar mengantuk saat itu!! “  Astaga! Aku tak percaya sekarang aku sedang mengemis kepercayaannya.

“ Lalu apa alasanmu untuk mengantuk!!!? Kau pikir apa yang dipikirkan orang-orang jika melihat dua orang yeoja dan namja hanya berdua di toilet!? Bisa saja orang itu berpikirkan yang tidak-tidak.. “   Jadi, dia pikir kami melakukan sesuatu yang tidak-tidak? Benar-benar!!

“ Seoseongnim adalah orang yang berpikir tidak-tidak? “ tanyaku. Pasti jawabannya adalah iya.

“ Iya. “

“ Maksudmu? Mengira kami melakukan sesuatu yang tidak-tidak? “ kini Hyuk Jae yang bertanya.

“ Itu kau tahu persis. “

“ Seoseongnim, seingatku tadi kau masih melihat kami saat kau masuk toilet. Melihat kami sedang tidak melakukan apa-apa.“ kataku.

“ Lalu, kalau kau sudah tau kalau salah toilet, kenapa kau tidak keluar daritadi?“

“ Niatku memang ingin keluar langsung, tapi tiba-tiba ada siswa yang masuk ke toilet. Jadi kami bersembunyi dulu di bilik toilet, kami sengaja menunggu bel berbunyi, supaya tak banyak orang di koridor sekolah. Baru setelah itu kami keluar. “

“ Bel sudah berbunyi. Kenapa tadi kalian tidak langsung keluar? “

“ Saat kau masuk, kami baru mau keluar. “

“ Tapi aku tidak melihat tanda-tanda itu dari kalian. “

“ Mungkin kau tidak terlalu memperhatikannya. “ kata Hyuk Jae.

“ Kalian melawanku!!? “ nada biacaranya semakin tinggi saja.

“ Kami tidak melawanmu. Tapi kami hanya memberi pembelaan. “

“ Tidak ada bukti yang kuat. “  Benarkan? Kubilang apa, pasti masalah ini akan dibesar-besarkan. Aku sudah lelah menghadapi seoseongnim satu ini. Aku tidak pernah menemui guru yang memojokkan muridnya sendiri.

“ Kau percaya saja dengan pendapatmu sendiri! Percuma saja, aku memberi berbagai alasan, sepertinya kau tidak akan percaya padaku. “

“ Baiklah, aku anggap kalian melakukan sesuatu yang TIDAK-TIDAK!! “  seoseongnim mengangkat kedua tangannya membentuk ‘V’ lalu menggerakannya  ke bawah-atas-bawah-atas. Satu lagi, aku juga tidak pernah bertemu guru yang menuduh muridnya

“ Kau tidak bisa menolak! Karena kau yang meminta perca……… “

“ Bisa aku keluar sekarang? “ aku memotong pembicaraanya.

“ Hmm? Silahkan. “  Kukira, seoseongnim akan tambah memarahiku karena aku memotong pembicaraanya. Aku langsung beranjak pergi dari ruangan itu. Biarkan saja, aku tidak memberinya salam sebelum pergi. Aku melangkahkan kakiku kasar. Aku benar-benar sedang tidak mood setelah ini. Ah..bahkan aku lupa, sekarang seharusnya aku sudah berada di Club. Aku benar-benar terlambat sekarang. Pasti sanjangnim akan memarahiku habis-habisan. Pantas saja, minggu-minggu ini aku sering sekali datang terlamabat. Langkahku terhenti saat seseorang menahan lengaku. Pasti Hyuk Jae.

TBC

Me, You, and Us [ Part 1 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

Kriinggg….Kriinggg…Jam wekerku berbunyi.

“ Aigoo. jam berapa ini?” tanyaku pada diri sendiri. Kulihat jam wekerku……”MWO!!!?? 06.30?? Aahhh..eottokhae, aku akan terlambat pasti. Langsung saja, aku turun dari tempat tidurku, ku sibak langsung selimutku. Langsung menuju kamar mandi dan tentunya mandi dengan super cepat. Seperti biasa, rambutku sengaja ku gerai..ehmm yaaa itu memang style-ku dan memakai kacamata, walaupun itu sebenarnya kacamata palsu. Cih..pasti kalian pikir aku ini banyak gaya..tidak, aku sengaja memakainya untuk menutupi kantung mataku yang hitam. Setiap malam, aku harus membantu keluarga-ku bekerja di Club. Bekerja di Club, memang sangat tidak enak, banyak orang-orang yang tak waras datang kesana dan menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk membeli minuman dan menari bersama para yeoja-yeoja yang ya..tahu sendirilah.

“  Eomma, aku berangkat.” kataku sambil berlari kecil kearah pintu rumahku.

“ Hmm..” jawab eommaku. Ya..memang seperti itu biasanya, kau tahu itu bukan eomma kandungku itu adalah eomma tiriku, appa dan eommaku sudah berpisah lama karena pertengkaran besar yang terjadi entah apa, sampai sekarang aku tidak tahu. Aku memutuskan ikut dengan appa dan ternyata appa memilih menikah lagi dengan wanita ini dan…sampai sekarang, eomma tiriku sepertinya tidak terlalu menyukaiku, dia bersikap sangat cuek dan tidak peduli. Ahh..sangat menyebalkan bukan?

Aku berlari sedikit kencang ke arah halte bis, dan ternyata..”aishh, jinjja kenapa bis ini penuh sekali?’ kataku dalam hati. Dan..yak!! bukankah itu siswa Chunwa High School? Seragamnya sama persis denganku, hanya saja dia mengenakan celana. Aku duduk disebelahnya karena memang itu tempat satu-satunya yang kosong. Ah..canggung sekali rasanya, bagaimana tidak? Kami memakai seragam sama tapi tidak bertegur sapa sama sekali. Cihh..keren sekali.

***

Aku langsung berlari ke dalam sekolah, setelah akhirnya sampai di depan gerbang sekolah. Tok..tokk..tok…Aku mengetuk pintu kelasku.

“ Seoseohamnida, seoseongnim ”  kataku sambil menunduk setelah mebuka pintu.

“ Ahh..kau selalu seperti ini Kang Jooyoung! Cepat masuk! ” kata seoseongnim.

“ Ne..gamsahamnida.” jawabku sambil berlari kecil ke arah tempat duduk-ku. disebelah sahabatku. Lee Chae Yeon

“ Yak! Kau pulang larut lagi? ” sergahnya.

“ Tentu saja.” kataku santai

“ Kau tak bisa seperti ini terus! “ nasihatnya.

“ Yak! Tentu saja bisa, aku harus membantu keluargaku, bagaimana kau ini? Kenapa kau jadi aneh seperti ini? “

“ Terus saja kau tutupi kantung matamu yang hitam itu itu dengan kacamata palsumu itu! Tidak ada gunanya tau! “ bentaknya sambil menarik paksa kacamataku.

“ Yak! Appo! Kembalikan! “ kataku sambil menarik-narik bajunya agar tanganya mendekat padaku.

“ Kang Jooyoung! Lee Chae Yeon! Bisakah kalian tidak ribut?! “ bentak seoseongnim.

“ Ne..seoseonghamnida seosongnim.” Jawab kami sedikit serempak.

“ Ya, baiklah kita lanjutkan saja! Kalian semua paham kan? tentang acara yang kita akan adakan akhir semester nanti ‘Couple Sing and Dance’? Pasangan kalian bisa dilihat di mading sekolah saat istirahat nanti! Arraseo? “ jelas seoseongnim

“ Ne!!!!! ” jawab murid lain serempak.

“ IGE MWOYA!!!? “ kataku dengan suara kecil. Lalu aku menoleh pada Chae Yeon dengan ‘apa-apaan ini?’ lalu Chae Yeon mengangkat bahunya tanda tak tahu dengan tampangnya yang meledek itu.

“ Aishh! Aku yakin dia tahu tentang ini! Dia kan, lebih dulu di kelas ini” kataku dalam hati. MENYEBALKAN!! AWAS KAU LEE CHAE YEON!!!!

“ Baiklah, kita lanjutkan pelajaran sekarang! “ kata seoseongnim.

***

Kringgg…Kringggg…Bel tanda istirahat berdering. Murid-murid yang lain mulai berlalu meninggalkan kelas.

“ Yak! Lee Chae Yeon! Kau mau kemana? “ tanyaku.

“ Tentu saja, melihat pengumuman di mading sekolah! “

“ Jelaskan padaku! “ kataku to-the-point.

“ Jelaskan apa? “ tanyanya dengan tampak sok imutnya itu!

“ Tak usah pura-pura tidak tahu!!! “ jawab ketus.

“ Tidak akan kujelaskan, kalu kau tidak ikut denganku! “ ancamnya sambil melipat tangannya di depan dada.

“ Mwo!? Aniyo, aku tak mau! Aku malas! “

“ Yasudah! Terserah kau saja” dia berlalu pergi. Nona Lee!!!!!! Kau licik sekali!!!

“ Yak! Yak! Chae Yeon-a! Chankamman! “ kataku.

“ Mwo?” tanyanya sambil berbalik ke arahku.

“ Aku ikut denganmu.” Kataku dengan sangat terpaksa.

“ Aku sudah tau itu! Kajja! “ katanya dengan senyum evil-nya.

Aku berjalan bersama Chae Yeon keluar kelas. Ku selipkan tanganku ke dalam kantong jas sekolahku. Yak! Kenapa sampai sekarang Chae Yeon belum juga menceritakannya padaku?!

“Yak! Chae Yeon! Ceritakan padaku! Ppali!!! “ kataku.

“ Ya..ya..ya…baiklah! Jadi sekolah kita ini akan mengadakan acara akhir semester dengan cara sedikit berbeda. Ya…kau tahulah. “ jelas Chae Yeon.

“ Tahu apa!!?? “ tanyaku penasaran.

“ Couple Sing and Dance”

“ Mwo!!!??? Couple???!! Berarti itu kan ber-2. “ kataku sambil menunjuk jari tengah dan jari telunjuk-ku membentuk ‘V’

“ Yeoja dan namja??!! Chae Yeon-a!! Pasangan dintetukan oleh siapa? “ tanyaku lagi.

“ Yak!Yak! Kau banyak omong, aku mau lihat kesana dulu. “

“ Chae Yeon-a jawab pertanyaan-ku dulu! Yak!! Aish jinjja! “ apa pentingnya memang, hah? Kau ini gila apa apa, Chae Yeon! Aku melipat kedua tanganku di depan dada, dambil bersender di salah satu tembok di dekat madding sambil menunggu Chae Yeon kembali.

 

Eunhyuk POV

Aku berjalan keluar kelas dengan malas. Aku berjalan menuju mading sekolah. Aku melipat kedua tanganku sambil mendekat ke arah mading yang dipenuhi yeoja-yeoja yaa..yang menurut terlalu lebay. Cihh, semangat sekali!

“ Yeoja gila, lebay!!! “ kataku tiba-tiba.

“ Ne!!!!!!?? “ tiba-tiba kudengar suara yeoja disebelahku. Aku melihat yeoja itu dengan tatapan meledek.

“ Wae? Kau keberatan? Ahh..kau seorang yeoja juga ya.. “ kataku

“ Ani! Siapa yang keberatan! Memang kau siapa, hah? Berani sekali berbicara seperti itu, cihh “ cibirnya.

“ Na? Peduli apa kau tau siapa aku? Lagipula…..aku juga tak gampang berkenalan dengan orang lain!! “

“ Yak! Siapa yang ajak berkenalan memang!? Kau tak lihat, para namja juga sedang mengerubuti mading! “

“ Mengalihkan pembicaraan? Sayang sekali kau tak pandai dalam hal ini. “

Baru saja dia akan memukulku, ada seorang yeoja yang memanggilnya dan itu berhasil menghentikan aktifitas yeoja gila ini.

“ Yak! Couple-mu Lee Hyuk Jae! “ kata yeoja itu.

“ Mwo? Lee Hyuk Jae? Siapa lagi itu” Tanya yeoja ini.

Tunggu..Tunggu..apa yang dia bilang tadi? Lee Hyuk Jae? Telingaku tuli apa tiba-tiba syaraf telingaku putus? Jangan…Jangan..

“ Apa yang harus kulakukan dengan si Hyuk Jae Hyuk Jae itu? “ katanya.

“ Yak! Itu keputusan kau dengannya. Aku tau tak akan mengurus soal itu! “ kata teman yeoja ini.

“ Siapa yang minta di urusi memang? “ Yeoja ini, sepertinya keras sekali.

 

Jooyoung POV

“ Siapa yang minta untuk di urusi memang? “ kataku

“ Yak! Kau ini! Baik, kalu mau seperti itu aku tak akan mengurusimu”

“ Silahkan. “ kataku dengan senyuman menyeringai, sambil berlari pergi meninggalkan Chae Yeon dan namja itu…siapa namanya? Mollaseo, aku tidak terlalu peduli.

“ Yak! Kembali kau!! Tunggu aku >.<! “ Kulihat Chae yeon berlari ke arahku,

“ Ayo, kita pergi ke kantin. “ ajak Chae Yeon.

“ Ani, aku sedang malas ke kantin. “ kataku pura-pura, padahal sebenarnya perutku sudah berteriak-teriak minta di isi.

“ Tak usah bohong! Aku tahu perutmu sudah minta diisi. “ kata Chae Yeon seakan-sakan dia bisa membaca pikiranku.

“ Aniya, aku memang sedang tak lapar, kau saja yang ke kantin aku mau ke toilet. “ kataku bohong lagi. Ah…sebetulnya aku ingin mengirit uang-ku.

“ Kau bilang tak lapar? Kang Jooyoung, kau ini pulang sangat larut aku yakin kau pasti langsung tidur, kau bnagun kesiangan dan pasti langsung berangkat sekokah tanpa mengisi perutmu itu. Aku benarkan? Sudahlah..tak usah mengelak. Aku traktir.”

Baiklah aku kalah kali ini….

“ Ya..yaa baiklah aku makan, tapi kau duluan saja ya..sudah ku bilang aku mau ke toilet dulu, aku menyusul nanti. Annnyeong Chae Yeon-a!! “ kataku sambil pergi dan melambaikan tangan pada Chae Yeon. Lalu, aku kembali berjalan seperti biasa menuju toilet, setelah Chae Yeon mulai berjalan menuju kantin.

“ Yak! “ teriak seseorang dari belakang. Aku berbalik dan kudapati….namja itu lagi.

“ Neo? Kang Jooyoung? Aku benar kan? “

“ Yak!! Kau tau dari mana namaku? “ tanyaku penasaran.

“ Cih..Na! L-E-E-H-Y-U-K-J-A-E “ katanya dengan nada megeja.

“ Lee Hyuk Jae? Lee Hyuk Jae….Hyuk Jae…MWO!!?? Kau Lee Hyuk Jae? Jeongmalleyo? “ kataku tak percaya.

“ Tak usah berteriak, bodoh! “

“ Kau Hyuk Jae benar? “ tanyaku sekali lagi.

“ Hmm.” Dia berdeham.

“ Astaga, apa ini? Setahuku aku tak pernah mimpi seburuk ini. Tuhan sayang sekalli padaku, meberiku mimpi seburuk ini. “ sindirku

“ Bodoh! Jangan mengigau! “ katanya sambil menjitak kepalaku.

“ Tak usah menyentuhku! “ kataku sambil mengusap-usap kepalaku.

“ Nona, pulang sekolah aku tunggu kau di depan gerbang, ada yang ingin aku bicarakan. “

“ Yak! Siapa  kau mengatur seenaknya? Kalau ada yang ingin kau biacarakan, sekarang saja. Itu saja kalau aku punya waktu. “

“ Aku tak terima penolakan! Awas kau kabur! “ ancamnya

Cihhh..siapa dia, kenapa tiba-tiba berani mengancamku.

“ Mataku masih bagus, jadi kau tak bisa kabur. Aku ingat semua yang ada pada dirimu, rambut, wajah dan juga postur tubuhmu.Cihh, postur tubuhmu itu gampang sekali untuk di ingat. Jelek!! Lain sekali dengan yeoja-yeoja yang sering kutemui. “

“ TERSERAH APA KATAMU!!!!!! “ bentaku. Aku langsung berbalik dan pergi, sedikit menyenggol bahunya tanda bahwa aku sangat tidak suka diperlakukan seperti tadi. Yahh..walupun tidak pas di bahunya. Wajar saja, tinggiku tidak sejajarnya dengannya.

“ Menyenggol bahuku? Kau harus tau diri nona, kau itu pendek.”

“ SIALAN!!!!” umpatku dalam hati.

 

Chae Yeon POV

YAK!! KANG JOOYOUNG!! Kau selalu seperti ini!! Hanya ke toilet saja!!!!!! Kenapa lama sekali >.< Hhhhh!! Kau tau kan, aku paling tidak suka menunggu,kususul kau!

Slerkkk….(suara makanan tumpah)

Okay. Nasibku cukup buruk hari ini.

“ Yak! Apa kau punya mata, hah!!? “ kataku yang baru melihat seseorang yang ‘menurutku’ telah menabrakku.

“ Kau yang tak punya mata! Kau jalan main jalan saja! Kau tak lihat orang sekitarmu? “ Tanya namja itu. Yaaa, dia namja.

“ Cih..Kau yangt melihatku sedang berjalan kan?! Kenapa kau tak hati-hati? “ teriaku kesal. Kau tahu sekarang seragam sekolahku sudah tercampur sup tomat yang tumpah tadi, sial.

“ Aku jalan selalu berhati-hati. Sudah kubilang kau jalan main jalan saja, tidak memperdulikan orang sekitarmu.

Yacsshhh..aku sudah tak tahan!! Namja ini ketelaluan!! Langsung saja,ku tumpahkan sisa sup tomat yang masih ada di mangkuk itu dengan sengaja ke seragamnya itu. Sedikit memang, tapi setidaknya itu adil.

“ Yak!!!!! “ katanya marah. Aku tersentak kaget, ketika dia menarik jas sekolahku untuk meneglap bekas sup tomat yang ada pada kemejanya itu.

“ Yak! Apa-apaan kau??!! “ kataku sambil berusaha melepaskan jasku drainya. Tiba-tiba kulihat Jooyoung  berlari kecil menuju kesini. Jooyoung-a kau telat sekali-_-

“ Ige mwoya?? “ tanyanya bingung.

 

Kyuhyun POV

Kutarik saja jasnya untuk membersihkan kotoran yang ada di jasku. Siapa dia? Seenaknya saja bersikap seperti itu padaku. Awas kau!

“ Ige mwoya?? “ Tanya seorang yeoja toba-tiba. Aku menoleh kearahnya… Mwo??! Ini kan yeoja yang kutemui di bus tadi.

“ Chae Yeon-a apa yang kau lakukan? “ tanyanya. Langsung saja kulepaskan jasnya yang tadi sempat ku tarik dan otomatis yeoja ini langsung sedikit tersungkur ke belakang.

“ Yak! Bisakah kau tidak bertindak kasar??!! Sejak tadi aku tak main fisik denganmu! “ katanya tak terima.

“ Tidak main fisik kau bilang? Lalu ini apa? “ kataku sambil menunjuk sup tomat yang ada di kemejaku.

“ Apa itu bisa di bilang fisik? Apa kau terluka? Kau bodoh sekali. “

“ Yak ! Chae Yeon-a! Sebenarnya apa yang terjadi? Tanya ‘teman’ yeoja ini. Tiba-tiba dia menarik tangan temannya itu bermaksud untuk pergi.Cih..main pergi saja? Liat saja kau nona, kau belum kenal dengan Cho Kyuhyun bukan?

 

Jooyoung POV

Setelah kejadianku dengan si Hyuk Jae itu, aku langsung berlari kecil menuju kantin. Aish..aku yakin Chae Yeon sudah sangat kesal padaku, dia kan paling tidak suka jika harus menuggu.

“ Ige mwoya?? “ tanyaku bingung ketika kulihat Chae Yeon sedang bertengkar dengan seorang namja…chankaman, bukannya itu namja yang kutemui di bus tadi.

“ Yak! Chae Yeon-a, apa yan terjadi sebenarnya? “ tanyaku lagi. Tiba-tiba Chae Yeon menarik tanganku bermaksud untuk pergi. Aku yakin dia sulit menjawab saat itu.

“ Yak! Apa yang kau lakukan tadi? Kenapa jasmu ditarik olehnya? Dan…kenapa kau jadi kotor seperti ini? “ tanyaku tanpa henti.

“ Kang Jooyoung! Kenapa kau lama sekali tadi??! “

“ Yak! Tak usah mengalihkan pembicaraan! Jawab aku!! “

“ Tadi namja itu tidak sengaja menumpahkan sup tomatnya padaku! “ jawabnya ketus.

“ Lalu? Kau tak terima? “

“ Tentu saja! Dia yang menumpahkan kenapa dia yang menyalahkanku. “

“ Kau yakin? “ tanyaku memastikan. Karena setahuku Chae Yeon tidak pernah mau mengalah.

“ Kau membelanya? “

“ Tidak. Aku hanya memastikan. “

“ Aku yakin!! “

“ Yasudah! Sebaiknya kau bersihkan seragam-mu itu aku ingin ke kelas “ kataku sambil menepuk pundaknya lalu pergi.

“ Jooyoung-a kau tidak mau membantuku? “ tanyanya memelas.

“ Aniya, kau kan bisa sendiri! Aku sibuk! :p “ kataku meledek

 

Chae Yeon POV

“ Jooyoung-a kau tidak mau membantuku? “ tanyaku memelas.

“ Aniya, kau kan bisa sendiri! Aku sibik! :p “ katanya meledek.

“ Aishh” kataku sambil berlalu pergi menuju toilet.

***

“ Dasar namja sialan!! Ini tidak akan terjadi kalau bukan gara-gara kau! “ umpatku.

Krinngg….Kringgg

“ Hashhh..kenapa bel cepat sekali berbunyi “

Langsung ku percepat kegiatanku, saat aku udah selesai. Aku buru-buru keluar dan…..

Brukkk!

Yak! Bisakah kau… “ belum sempat aku melanjutkan perkataanku.

“ Cihh, kau lagi “ katanya.

“ Jangan main-main denganku lagi, aku sedang terburu-buru. “ balasku yang langsung pergi. Tapi langkahku terhenti saat namja itu menarik jasku kembali.

“ Mau kemana kau? Seenaknya saja.“ tanyanya

“ Bodoh! Ini waktunya ke kelas! “

“ Tidak bisa! Bersihkan dulu kotoran yang ada di kemejaku! “

“ Shireo!! Kenapa harus aku? Itu kan urusanmu.”

“ Karena kau yang menumpahkannya.” Jawabnyat anpa rasa bersalah SEDIKITPUN

“ Mwo!? Kau tak lihat? “ kataku sambil menunjuk sisa kotoran di jasku yang belum semua kubersihkan karena bel.”Siapa lagi kalau bukan kau! Kau tidak membantuku membersihkan ini semua!! “ lanjutku.

“ Salah sendiri kenapa kau tak minta padaku. “

“ Percuma, aku minta bantuanmu juga kau tak akan membantuku! “

“ Kau tahu jawaban “ jawabnya singkat. Arghhh…lama-lama aku bisa gila kalau bersama namja ini terus!! Menyebalkan!!

“ Kajja! Kau harus membantuku, ah..ani kau harus bersihkan ini semua. Aku tak mau tahu! “ katanya sambil menarik paksa tanganku.

“ Shireo! Shireo!! Aku tak mau! Seenak saja kau menyuruh-nyuruhku! Kalau kau bisa lakukan sendiri kenapa tidak! Apa kau sebegitu bodoh? Sampai hal sekecil ini saja kau tidak bisa “ ledekku sambil mencoba melepaskan cengkramannya. Tapi, sepertinya percuma saja karena cengkaramannya itu terlalu kuat.

“ Yak! Lepaskan aku,bodoh!!! “

“ Tidak akan! Sebelum kau bersihkan kemejaku! “

“ Sudah kubilang itu semua urasanmu! “ Dasar keras kepala! Dia tetap saja, bersikeras memaksa ku untuk membersihkannya. Apan-apan ini? Kenapa dia membawa ku ke toilet pria?

“ Toilet pria? “

“ Tentu saja, aku ini kan seorang namja. “

“ Yak! Kau anggapa aku ini apa? “ teriaku kesal.

“ Yeoja. Aku tau kau yeoja! Tapi apa kau tidak berpikir? sekarang ini sudah sepi,jadi kemungkinan kecil untuk beberapa menit kedepan tidak akan ada yang ke toilet.”

Aku mengabaikan perkataanya. Aku terus memaksa agar terlepas dari cengkramannya itu. Tapi, sudah kubilang nasibku sedang buruk saat ini. Aku tidak melihat jika lantai di toilet itu sedikit ada genangan air yang licin (?) Brukkkkk

Aku tak sadar sekarang posisiku berada tepat di atas namja ini >.< Mata kami sempat bertemu beberapa detik. Terlalu dekat..sampai aku tak bisa mengatur detak jantung jika posisiku dengannya sampai sedekat ini. Astaga, apa yang ku pikirkan! Aku langsung menggelengkan kepalaku. Aku langsung buru-buru untuk bangun atau sekedar membetulkan posisi. Tapi sepertinya tidak berhasil, namja ini menahanku dengan menarik lenganku.

“ Gwechana? “ tanyanya padaku.

 

Kyuhyun POV

“ Gwechana? “ tanyaku seketika. Aku yakin aku sedang bermimpi sekarang, kenapa aku bisa mengatakan itu. Tapi….sepertinya aku tidak bermimpi, aku rasa…aku pantas  mengatakan itu.

“ Yak! “ kataku sekali lagi.

“ Ne? Oh..ne, gwechana^_^ “ jawabnya ‘gugup’. Dia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat aku tahan sebentar tadi.

“ Kau? “

“ Mwo? “

“ Kau tak pa-pa? “

“ Tidak. Lenganku sakit karena menahanmu tadi. Kau berat sekali.”

“ Yak! Kau niat menolongku apa tidak?!! ”

***

#Pulang Sekolah

Jooyoung POV

“ Yak! Kenapa kau tidak ikut pelajaran tadi? “ tanyaku bingung.

“ Ahh..ehmm..tadi aku ikut dipanggil Lee seoseongnim iya…Lee seoseongnim. “

“ Lee seoseongnim? Ada perlu apa memang? “

“ Ah..tak penting. “ jawabnya ragu. Aku menatap Chae Yeon ragu, kurasa dia bohong.

“ Sungguh.” Tambahnya lagi.

“ Baiklah..baiklah, aku percaya! “ Astaga, aku lupa dengan Hyuk Jae sialan itu. Dasar namja! Selalu semau-maunya saja.

“ Chae Yeon-a kau pulang duluan saja, aku lupa ingin menyerahkan tugas pada Kang seoseongnim. Deadline-nya hari ini. “ kataku bohong.

“ Tugas apa? Apa aku juga belum mengumpulkannya? “ tanyanya panik. Seorang Lee Chae Yeon, pasti akan selalu panik jika menyangkut hal pelajaran.

“ Ah..kau sudah waktu itu. “

“ Aku tunggu kau di depan gerbang saja.” Aishh, justru pintu gerbang itulah yang kuhindari dari tadi.

“ Ani. Kau pulang duluan saja mungkin aku sedikit lama. “ Bodoh. Dimana-mana mengumpulkan tugas hanya butuh waktu beberapa menit.

“ Baiklah. Aku pulang duluan, kalau begitu. Annyeong!! “ katanya sambil melambaikan tangan padaku. Aigoo, aku jadi tidak tega bohong padanya. Sekali ini saja..Chae Yeon-a mianhae:”)

Yang harus kupikirkan adalah Hyuk Jae sialan itu!! Arghhh, membuat orang repot saja. Aku menoleh kearah gerbang sekolah, masih disana. Sial, dia benar memegang omongannya. Lebih baik, aku sembunyi saja, aku yakin jika aku terlalu lama tak datang dia akan pergi. Aku berjalan, mencari tempat persembunyian yang strategis. Ahh..disini!! Aku yakin di sini tidak akan ketahuan.

..

Sudah hamper 15 menit. Aku kembali melihat ke arah gerbang sekolah.

“ Yak! Kubilang apa, dia pasti tidak akan tahan menuggu terlalu lama. See? Sekarang dia sudah tidak ada. “ kataku.

“ Aku disini, bodoh! “

 

Chae Yeon POV

Tumben sekali Jooyoung menyuruhku pulang duluan. Pasti ada yang di sembunyikan dariku. Taka pa, itu lebih baik dari pada dia terus mencecar dengan pertanyaan kenapa aku tak ikut jam pelajaran terakhir. Huhh.tetap saja, pulang sendirian memang mebosankan tidak ada teman mengobrol. Jeez, SIAL!! Kenapa aku harus bertemu dengan namja itu lagi. Sepertinya memang benar, nasib buruk sedang menemuiku hari ini. Mau tidak mau, aku menuggu bus di sebelahnya..Jarak jauh, tentu saja. Orang mana yang ingin mendekati namja dingin sepertinya. Sekitar 5 menit, bus itu akhirnya datang.

“ Maaf, hanya bisa satu orang saja mauatn bus ini sudah terlalu penuh. “ kata petugas bus itu.

“ Aku yang naik! “ sergahku. Bagaimana pun, dia kan seorang namja harus bisa mengalah pada yeoja.

“ Aku yang menuggu disini duluan! Kenapa jadi kau yang naik duluan? “ katanya dengan nada emosi.

“ Yak! Mengalah sedikit, aku sedang terburu-buru! “

“ Kau pikir aku sedang tidak terburu-buru, HAH??!! “ tiba-tiba nada suaranya menjadi tinggi, tapi tetap pada sikap dinginnya itu.

“ Kalian berdua! Jangan seperti anak kecil begitulah! “ nasihat petugas bus itu. Siapa kau? Ikut campur dalam masalah kami.

“ Aku yang naik duluan! Minggi kau! “ katanya sambil mendorongku.

“ Shireo! “ aku kembali ke depan pintu bus itu sebelum dia, menginjakan kaki pada pintu itu.

Mungkin..mungkin karena ‘kami’ terlalu berdebat, supir bus itu main jalan saja.

“ Yak! Sial! Mereka tak ingin uang memang? “ teriaknya. Dia menoleh kearah ku..

“ Gara-gara kau,bodoh! “

“ Mworago!!??! Kalau saja kau membiarkanku naik duluan, kau akan dapat bus selanjutnya “

“ Butuh waktu 30 menit untuk menunggunya lagi. “ jawabnya dingin. Aku diam, tidak membalas perkataannya lagi. Aku langsung pergi meninggalkannya.

“ Cih..rajin sekali jika aku menuggu bus berikutnya datang. “ Eomma pasti akan mencaciku jika aku pulang terlambat, eommaku ini sensitive sekali. Lebih baik aku berjalan, dari pada harus menggu bus datang. DISANA! BERSAMA NAMJA SIALAN ITU! Aku sedikit menoleh kebelakang, hanya memastikan namja itu….

“ Hhhh, mencari masalah ternyata” katatu dalam hati.

“ YAK! KAU MENGIKUTI HAH?! “ teriaku.

“ Siapa yang mengikuti mu, HAH?! “ tiba-tiba nada suaranya meninggi lagi.

“ La..lu.Lalu, kenapa kau jalan di belakangku? “ gugup. Okay sekarang mungkin disini aku yang salah, mungkin bisa aja dia searah denganku.

“ Rumahku lewat sini juga bodoh! “ Gotcha! Benar apa kataku.

“ Ya..ya..ya! Aku bodoh, aku tau! “ Aku langsung pergi saja, berjalan sedikit berlari malah. Aku malas jika harus berhadapan lagi dengan namja itu.

 

Kyuhyun POV

Aku tau dia malu karena salah. Cih..dasar main pergi saja, mau kau sedikit berlalari atau sekalipun berlari aku masih bisa menyusulmu. Bodoh!! Langkah-ku ini besar. Dan lagi, orang-orang sekitar sini sedang memperhatikanku, melihatku mungkin mereka piker aku sedang menguntit yeoja yang ada di depanku ini.

“ APA LAGI,HAH?! “ tanyanya ketika aku berada disampingnya. Aku sengaja mendiami-nya, malas sekali berdebat dengan yeoja cerewet ini.

“ YAK!! “ teriaknya lagi.

“ Diam kau! “  bentak-ku. “ Lihat saja, orang-orang sekitar sini sedang memperhatikanku! Mereka pikir mungkin aku sedang menguntimu “ tambahku lagi. Aku melihat dia melihat ke sekeliling sini (?). Memastikan.

“ Terserah apa katamu! “ jawabnya ketus.

***

Kami diam selama perjalanan pulang. Kau tau, tumben sekali aku merasa canggung.

“ Rumahmu daerah sini juga? “ tanyanya tiba-tiba.

“ Hmm “ jawabku singkat.

“ Aneh. Kebetulan sekali. “ katanya.

“ Hmm..ini lucu sekali. “ Lucu? Bahkan tak ada yang ditertawakan saat ini. Bodoh.

“ Lucu? “ kini dia menoleh ke arahku.

“ Disekolah kita tak sengaja bertemu, di kamar mandi tadi juga, di halte saat aku menuggu bus, kau tiba-tiba datang. Lalu, sekarang..’aku dan kau’ berjalan dan sampai sekarang belum ada yang memisahkan diri.”

“ Memisahkan diri? Maksudmu? “ Cihh..sepertinya kau bodoh sekali. Seperti itu saja tidak mengerti.

Ini berarti jarak antara rumah kita mungkin tidak terlalu jauh, bodoh! “

“ Yak! Kau senang sekali mengatai-ku dengan kata bodoh, hah!!? “ cecarnya,

“ Wae? Aku salah? Tapi benar, kau memang bodoh! “

“ Terserah! “ Ahh..aku tau, pada akhirnya dia memang selalu kalah denganku.

“ Jangan katakan sebentar lagi kau akan sampai. “ tebakku.

“ Memang….Chankaman. “ Aku menoleh ke arahnya, rupanya ponselnya bergetar.

 

Chae Yeon POV

“ Jangan katakan sebentar lagi kau akan sampai. “ tebaknya.

“ Memang….” Drt..drt..drt..tiba-tiba ponsel di saku jasku bergetar. “ Chankaman. “

 

“ Yoboseyo”

“ …………. “

“ Ah, eomma! “

“ …………. “

“ Na? Aku masih dijalan,waeyo? “

“ …………. “

“ Jigeum? “

“ ………….. “

“ Arraseo. Annyeong! “ flip.. Aku menoleh ke arahnya.

 

“ Eommaku…. “

“ Aku tak tanya! “

“ Yak! Aku belum selesai biacara!! “

“ Hmm.. “

“ Aishhh, kau ini sangat menyebalkan!!! “

“ Memang iya. “

“ Terserah apa katamu! Aku dulaun! Ada urusan yang penting! “

“ Silahkan! Itu lebih baik! “

Cihh..namja ini!! Benar-benar! Hanya sekedar mengatakan ‘Annyeong’ saja sepertinya susah sekali. Aku berlari sedikit cepat, karena yaa…tempat tadi dan rumahku tidak terlalu jauh. Pasti ada hal penting, aku yakin. Eomma sampai menyuruh pulang secepatnya sekarang juga.

***

“ Ah..ah..ahh. Ternyata lebih cape dari yangkupikirkan” kataku ketika aku sudah sampai di depan gerbang rumhaku.

“ Eomma! Annyeong!!^^ “ Aku menoleh ke arah orang asing yang ada di depan eommaku. Hmm..mungkin dia tamu eommaku, aku membungkukan badan ke arah mereka. Mereka membalasku dengan bungkukan kecil dan seulas senyuman. Seorang ahjumma dan ahjussi? Sepertinya, aku belum pernah melihat teman eomma yang satu ini.

“ Chae Yeon-a kemari! “ kata eommaku.

“ Ah..ye, eomma. “ Aku berjalan ke arah sofa di ruang tamuku.

“ Agasshi, sebaiknya kau ganti baju dulu.” Kata ahjumma ini tiba-tiba.

“  Aniya ahjumma, gwechana..sepertinya ini penting sekali, sampai eomma menyuruhku pulang cepat. “

“ Chae Yeon-a, ahjumma dan ahjussi ini orang pindahan di sebelah rumah kita“

“ Ahh.. (bow) Bangeupsemnida ahjumma, ahjussi. Lee Chae Yeon imnida “ ucapku penuh semangat.

“ Aigoo, kau masih sama dengan Chae Yeon yang dulu, periang, ramah dan sopan. Hanya sekarang, kau tumbuh lebih dewasa. “

“ Ne? “ Dulu… apa aku pernah kenal lama dengan ahjumma dan ahjussi ini?

***

Chunwa High School

05.45  P.M

Jooyoung POV

“ Aku disini bodoh. “ tiba-tiba seseorang berkata dibelakangku. Oh.god, jangan sampai…Hyuk Jae…Aku menoleh ke belakang, ternyata benar Hyuk Jae. Sebentar, disini pasti ada yang salah, wajahku terlalu dekat dengannya. Hanya dengan satu sikutan, pasti hidung kami sudah bersentuhan. Tapi astaga..kinerja otak-ku kenapa tiba-tiba tidak bekerja dengan baik. Aku menggelengkan kepalaku, lalu segera menjauhkan diri dari Hyuk Jae. Sedikit canggung memang.

“ A..a..Kau pikir aku akan pergi karena kau tak datang? “ tanyanya yang kurasa ‘sedikit gugup’.

“ Mungkin saja, orang waras berpikir begitu. “ masih sedikit canggung memang. Aneh..apa terlalu gila hah!? Tuan Lee..apa kau merasa canggung? Nada bicara-mu sedikit aneh.

“ Cepat! Apa yang ingin kau bicarakan aku tak punya banyak waktu banyak! “ sambungku lagi.

“ Cihh..tak punya banyak waktu kau bilang? Yak!…..”

“ Tuan Lee! Aku tak suka basa-basi! “ sambarku. Aku tau dia belum selesai bicara.

“ Aku mau….setiap pulang sekolah atau paling tidak 2 minggu sekali kita berlatih dance di tempatku! “

“ Mwo! Shireo! Kau saja yang beraltih! Sudah kubilang aku tak punya banyak waktu! “ tolakku mentah-mentah.

“ Kita. Itu artinya kau dan aku. “

“ Aku tak mau. “

“ Nona Kang! Aku tidak menerima penolakan! “ Sial! Licik sekali dia. Aku tidak berpikir dulu, langsung saja aku pergi. Jujur, sekarang yang aku takutkan adalah INI SUDAH HAMPIR PUKUL 6 SORE!! ASTAGA!! Semoga aku tak terlambat kerja. Aku merasa lenganku ada yang nahan. Oh..ayolah Hyuk Jae apalagi.. Aku menoleh kebelakang.

“ Kau sepakat atau….. “

“ Mwo!!!?? “ Cihh, dia mengancamku ternyata. Kau kira aku akan takut.

“ Ahhh…sudahlah! Aku tak mau, kau harus sepakat denganku “ teriaknya frustasi.

“ A.. “

“ Sudah kubilang, aku tidak menerima penolakan nona Kang! “ Aku langsung melepaskan cengkramnnya dan langsung pergi. Dia pikir aku main-main dengan alas an tak punya waktu.

***

Drtt..Drtt  Ponsel-ku bergetar

Chae Yeon

Calling…..

“ Yoboseyo! “

“ Jooyoung-a kau sudah di tempat kerjamu? “

“ Ah..aku masih di perjalanan. Kondisi jalanan, sedang buruk saat ini. “ Oouh~alasan bohong keberapa yang kukatakan pada Chae Yeon “ Waeyo? “

“ Ani. Hanya mengingatkanmu, kau jangan pulang terlalu malam, belakangan ini kau sering datang terlambat ke sekolah.”

“ Yak! Aku selalu dapat dapat shift perpanjangan, kau tahu? Bagaimana mungkin aku menolaknya! Itu kan, sama saja aku mendapat bonus”

“ Shift perpanjangan, bonus…terserah istilah apa yang kau gunakan. Kalau kau begitu terus kau bisa jatuh sakit,bodoh! Organ hati-mu tidak bisa bekerja. “

“ Yayaya, aku janji ini yang terakhir. Tapi jangan salahkan aku, kalau aku tergoda karena sanjangnim memaksaku untuk ambil shift itu.kekeke~ “

“ Bodoh! Itu sama saja! “

“ Chae Yeon-a ku tutup dulu telephonenya ya..sebentar lagi aku sampai “

“ Hmm “

“ Annyeong!!! “ flip

Aku segera berlari turun dari bus ketika bus sudah sampai di halte dekat tempat kerjaku.

“ Jooyoung Kang! Kemana saja kau? “

“ Ah, sanjangnim, maklumi sajalah aku ini kan mahasiswi, terlambat sedikit juga tak pa-pa kan?” aku menyegir hebat, semoga sanjangnim bisa memaklumiku kali ini.

“ Ah, pakai saja alas an itu setiap kau terlambat. “ tegasnya.

“ Seoseonghamnida. “ kali ini aku menunduk.

“ Ah, yasudah! Cepat ganti seragammu, hari ini ada ‘tamu special’ ku akan datang “ tamu special? Setahu-ku kau selalu menyebut pelangganmu dengan sebutan ‘tamu special’.

“ Ini sangat special, sudah ku anggap dongsaeng-ku sendiri. “ “ Oh, iya, hari ini kau jaga di tender ara? “ tambahnya lagi.

“ Tender? “

“ So hee, izin tidak masuk hari ini. “

“ Ah..arraseo! Aku kesana dulu. “

 

Eunhyuk POV

“ Sudah kubilang, aku tidak menerima penolakan nona Kang! “ Dia langsung melepaskan cengkramanku dan langsung pergi. Cih..bodohnya kau Lee Hyuk Jae kenapa kau biarkan pergi. Bagimana kalau dia keras kepala dan tetap bersikeras untuk menolak. Ah..sial!! Ini menyangkut reputasiku sebagai ‘Dancing Mechine’

Drtt.Drtt….Ponselku bergetar

“ Yoboseyeo? “

“ Eunhyuk-a! Hari ini kau datang ke club-ku bagaiman? Seminggu lalu kau sudah janji. “

“ Tae Hwan hyung!? “ suaranya sudah taka sing lagi bagiku.

“ Kau tak meng-save nomorku memang? “ Aku langsung menjauhkan ponsel dari telingaku, melihat layar ponselku. Ahh..benar ini Tae Hwan hyung.

“ Mian hyung. Aku tidak melihat layar ponselku. “

“ Ada yang sedang kau pikir kan memang? “

“ Tidak ada. “ jawabku malas. Astaga, kalau sudah begini Tae Hwan hyung pasti akan menanyai ku terus.

“ Aku sudah lama mengenalmu Lee Hyuk Jae. “  Benarkan, apa kataku.

“ Ani, hyung. Apa katamu tadi? Datang ke club-mu? “ Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.

“ Hmm, kau bisa? “

“ Malam ini, pukul 8 “ kataku sambil mengecek ke arah jam tanganku.

“ Arraseo, aku tunggu “ tut…bunyi panggilan terputus.

 

Kyuhyun POV

Dasar aneh. Pasti daia mengharap aku mengatakan ‘Annyeong’ cihh..dasar kau pikir aku seperti namja lain. Bersikap lebut, ramah, baik hati. Bukannya aku tak seperti itu, hanya saja, terlalu jijik, mendengarnya saja aku sudah mau muntah. Aku sudah sampai di rumahku. Benarkan ini rumahnya? Eomma bilang, rumahnya tepat disebelah rumah baruku. Eomma dan appa ada-ada saja, bersosialisasi dengan tetangga barukan bisa nanti-nati saja, kenapa harus sekarang. Aku mencoba mngetuk pintu rumah ini. Tokk..tok..tok..Hergg..dari sini saja, aku bisa mendegar suara cekikikan eomma-_-

“ An..nnyeong..ha.seyo “ sapaku ragu sambil perlahan aku kubuka pintu nya

“ Ah..uri Kyuhyunnie^^ Yak, sini kau kemari “ Aku berjalan mendekati eomma dan apa. Tak ada orang lain lagi disini. Hanya aku, eomma, appa dan..ahjumma ini,pasti dia pemilik rumahnya. Aku menundukan kepalaku bermaksud menyapa.

“ Ahjuma..Ahjussi, apa kalian per….. “ aku menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba berhenti.

 

Chae Yeon POV

Aku baru keluar dari kamarku setelah berganti baju. Astaga, kenapa ahjumma itu memaksa ku untuk tetap berganti baju. Dan dia bilang apa tadi…aku masih sama dengan yang dulu? Apa aku pernah kenal dekat dengan ahjumma dan ahjussi itu. Mereka juga bilang, masih ada seseorang lagi yang ingin ditunggu. Siapa lagi? Anak mereka? Anak mereka, yang ingin berkenalan denganku?

“ Ahjuma..Ahjussi, apa kalian per….. “ perkataanku berhenti seketika, saat kulihat..ada seorang namja yang duduk di sebelah mereka? Anak mereka? Tiba-tiba namja itu menoleh ke arahku. Tunggu..tunggu..pengelihatanku yang salah apa aku sedang mengingau. Tidak, ini nyata.

Namja itu, tak salah lagi.

-TBC-