Only Two Of Us

Image

Author  : chokyu88

Cast       : -Kim Jong Woon

-Han Ri Ra

Genre   : Romance

Length  : OneShot

Rating   : PG+15

It doesn’t matter if you’re think you’re nothing. But, you can give me everything that I need, and it’s more than everything.

Author POV

Layar laptop itu masih saja menampilkan puluhan live update SuperShow4 Tokyo dan gadis di depannya pun tak bosan-bosannya berdecak kagum setiap live update baru muncul di layar laptop kesayangannya.

“Aigooooo  Eunyuk oppa…tampan sekali dia! OMO OMO dia membawakan lagu Sorry Sorry Answer untuk solonya kali ini!” komentar gadis itu antusias.

Gadis itu memang memuji setiap penampilan solo yang dilakukan member Super Junior, tapi hanya ada satu penampilan solo yang sangat Ia tunggu-tunggu. Siapa lagi kalau bukan, Kim Jong Woon itu?

Han Ri Ra POV

Ckckck harus berapa lama lagi aku menunggu hingga penampilan solonya huh? Ayolah cepat. Aku tak sabar ingin melihatnya bernyanyi. Yah walaupun aku sudah sering melihatnya bernyayi di depanku, tapi aku rasa, aura yang dikeluarkannya saat bernyanyi di atas panggung itu berbeda. Dan aku sangat menyukainya.

Aku membulatkan mataku, ketika salah satu fanbase mengupdate sebuah tweet, “Yesung solo now. He is singing one of his song from Immortal Song 2, The More I Love.”  Aigooooooo…..The More I love itu kan…lagu kesukaanku! Jadi dia benar-benar menyanyikannya? Aku menjadi gugup sendiri ketika melihat update-update fanbase di twitter yang terang-terangan menyatakan bahwa, Yesung bernyanyi dengan sangat sempurna. Tiba-tiba penyesalan menyergapku tanpa ampun. Aisshhh aku menyesal kenapa aku tidak terima saja tawarannya waktu itu untuk ikut ke Tokyo?

Setelah penampilan solonya itu usai, aku segera membuka situs kedua favoriteku, youtube. Aku berharap semoga saja fancam penampilan solonya itu sudah di upload. Bukannya memang biasanya begitu?  Tak sampai sehari, fancam-fancam performance mereka selama SS4 pasti sudah di upload ke situs itu. Aku nyaris terjatuh dari kursi karena senang dengan tebakanku yang tepat. Ya! Ini dia! Aku menemukan satu-satunya fancam Yesung saat bernyanyi The More I Love. Tanpa basa-basi aku segera mendownload video itu dan menontonnya berulang kali. Tak peduli dengan kualitas video itu yang bisa dikatakan sangat jauh dari bagus, tapi aku tetap menontonnya seperti orang gila. Aku benar-benar suka dengan penampilan solonya kali ini.

Saking asyiknya aku menonton video itu, aku jadi melupakan kegiatan yang aku lakukan sebelumnya. Dengan tergesa-gesa aku kembali membuka twitter untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di Tokyo sana. Tapi aku mendengus kesal ketika aku mendapati tweet-tweet dari fanbase itu serentak menyatakan bahwa SuperShow4 Tokyo sudah selesai.

“Aish! Aku pasti melewatkan banyak moment!” gerutuku pada diri sendiri.

Aku mematikan laptopku dan menutupnya perlahan. Meletakkannya kembali di tempat yang seharusnya. Kemudian aku merebahkan diriku di kasur dan mengistirahatkan diriku sejenak.

Namja itu…kapan dia tidak terlihat mempesona? Ekspresinya saat bernyayi…benar-benar sempurna. Aisshhh kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi…….merindukannya? Kim Jong Woon…..apa dia juga merindukanku?

***

Yesung POV

“Ayolah hyung aku mohon! Izinkanlah aku pulang duluan ya?” pintaku setengah memelas pada Leeteuk hyung.

“Yesung-a untuk apa kau pulang duluan hah? Kau ingin membuat masalah baru?”

“Aniyo hyung. Aku tidak ingin membuat masalah baru. Aku hanya ingin segera…”

“Segera menemui gadisnya hyung!” sambung Kyuhyun asal.

“Yak Cho Kyuhyun diam kau tidak usah ikut campur!” ancamku pada si maknae menyebalkan itu.

“Ya~ hyung tapi aku memang benar kan? Kau ingin cepat-cepat pulang ke Korea untuk bertemu dengan gadismu.” Balas Kyuhyun tak mau kalah.

“Yesung-a benar apa yang dikatakan Kyuhyun barusan?” tanya Leeteuk hyung kemudian.

Aku mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Leeteuk hyung. Untuk apa aku berbohong? Toh memang itu yang ingin aku lakukan. Keinginan bertemu dengan gadis itu…terlalu kuat. Nyaris membuatku ingin segera pulang ke Korea setelah Supershow tadi berakhir.

“Tuh kan aku benar! Ahahaha ternyata seperti ini jika seorang Kim JongWoon merindukan seseorang!” ujar Kyuhyun bangga.

Ingin sekali rasanya aku memukul kepalanya itu. Mulutnya itu, apa dia tidak bisa menahannya untuk tidak berkomentar? Aku jadi bingung sendiri kenapa si maknae setan itu bisa menarik perhatian wanita dengan sikap dingin dan pendiamnya. Cih, pendiam darimana?

“Baiklah. Kau aku izinkan untuk pulang lebih awal besok. Tapi ingat kau harus tetap berhati-hati agar tidak membuat masalah baru, eo?”

“Ne hyung! Tenang saja!” balasku penuh semangat. Aku tersenyum puas karena usahaku membujuk Leeteuk hyung berhasil.  Dan seketika itu otakku mulai memikirkan bagaimana reaksinya ketika mendapatiku berada di depan pintu apartemennya esok hari.

***

Author POV

Gadis itu menggeliat kecil di atas tempat tidurnya. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang tertekuk ketika tertidur. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya masuk ke matanya. Gadis itu tampak masih mengantuk, tapi dia tidak peduli dengan kenyataan itu dan segera turun dari tempat tidurnya dan menyalakan laptop yang ada di meja belajarnya.

“Berita apa yang akan aku dapatkan pagi ini?” gumam gadis itu tak jelas.

Gadis itu membelalakan matanya tak percaya ketika melihat foto-foto namja yang sangat dikenalinya itu sedang berada di Incheon airport bertebaran di twitter. Ia memicingkan matanya untuk memastikan namja yang ada di foto itu benar Yesung atau bukan. Gadis itu yakin dia tidak punya masalah dalam penglihatannya, jadi bisa dipastikan bahwa namja itu benar-benar Yesung.

Ri Ra yang masih tidak percaya, berulang kali melihat tanggal di uploadnya foto itu. Tidak ada yang berubah. Tanggal yang tertera tetap tanggal hari ini. Untuk apa dia pulang ke Korea sepagi ini? Ani. Bahkan foto ini sudah diupload 1 jam yang lalu. Lalu ke mana member yang lain? Kenapa hanya dia saja yang terlihat. Jangan-jangan……

TING TONG. Bunyi bel yang memekakan telinga itu nyaris membuatnya terkena serangan jantung mendadak.

“Aissshh siapa sih yang datang-datang pagi begini dan mengangguku?” umpat gadis itu kesal. “Tunggu sebentar.” Jawab gadis itu akhirnya.

Dengan malas ia mematikan laptopnya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya itu. Lagi-lagi ia membelalakan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Namja itu….namja yang sangat dirindukan Ri Ra kini tengah berada tepat di depannya.

“Kau tidak mau menyuruhku masuk? Aku rasa kalau kau terus membiarkanku di luar sini, aku akan ketahuan.” Ucap namja itu sambil membenarkan letak topinya.

“Si..si..lakan masuk oppa.” Balas gadis itu terbata.

Namja itupun segera masuk dan mendahului gadisnya. Dia segera melepas topi, kacamata, masker, dan scarf yang dikenakannya untuk menyamar. Ketika kegiatan itu selesai dilakukannya, gadis itu masih saja belum bisa menemukan kesadarannya kembali.

“Ri Ra-ya~ sampai kapan kau akan terus berdiri mematung seperti itu?” ucap Yesung akhirnya. “Kau tidak merindukanku?” tambahnya lagi. Dan sedetik kemudian, ia menarik gadisnya itu ke dalam pelukannya. Merasakan kehangatan yang sangat ingin dia rasakan sejak 3 hari yang lalu.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Bisik Yesung tepat ditelinga gadisnya.

Respon yang diberikan gadis itu tidak buruk. Ia mengalungkan tangannya di pinggang Yesung sehingga mempererat pelukan mereka berdua. Gadis itu memang tidak akan terang-terangan mengatakan bahwa ia merindukan Yesung, tapi dengan membalas pelukannya, itu sudah lebih dari cukup kan?

“Kau tahu? Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung.” Ucap Ri Ra sambil melepaskan pelukannya.

“Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai kau begitu terkejut?”

“Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya sedang melihat-lihat fotomu yang sedang berada di Incheon airport dan ternyata kau sudah ada di sini.”

“Kau senang kan?”

“Tidak juga. Biasa saja.”  Jawab Ri Ra berbohong untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.

“Ani, kau pasti bohong. Kau pasti senang kan bisa melihatku? Karena aku juga senang bisa melihatmu kembali. Melihat gadisku yang selama 3 hari ini aku rindukan.” Tukas Yesung yang berhasil menciptakan rona merah di pipi gadisnya.

“Ka..kau mau minum apa?” tanya Ri Ra yang tiba-tiba menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Terserah kau saja. Aku tidak menolak apapun yang kau berikan padaku.”

“Termasuk jika aku memberimu racun?”

Yesung mengangguk yakin. “Tapi…kau tidak mungkin memberiku racun kan?” tanyanya dengan senyum di bibirnya.

“Kau terlalu percaya diri Tuan Kim. Bisa saja aku tiba-tiba memberikan racun dalam minumanmu kan?”

“Coba saja kalau kau bisa Nona Han.” Balas Yesung sambil menunjukan senyumnya lagi.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia kalah dengan namja itu. Tentu saja. Dia tidak akan bisa mencelakai namjanya itu meskipun diiming-imingi hadiah keliling dunia sekalipun. Tidak kalau itu berarti dia tidak akan bisa melihat namja itu lagi.

***

“Kau pasti menggunakan penerbangan paling pertama dari Tokyo kan?” tanya Ri Ra sambil memberikan secangkir teh pada Yesung.

“Hhhmm.” Jawab Yesung singkat. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu denganmu.” Tambah Yesung.

“Cih kau gombal.” Ejek Ri Ra sambil terkekeh geli.

“Aku serius. Kau tahu aku tidak punya kesabaran sebanyak itu sampai harus pulang ke Korea bersama dengan member lainnya. Makanya aku memutuskan untuk pulang lebih awal dari member lainnya. Dan kau harus membayarnya karena meminta izin kepada Leeteuk hyung itu tidak mudah. Belum lagi si maknae setan itu yang mengompori Leeteuk hyung agar tidak mengizinkanku.” Ungkap Yesung yang dibalas dengan kekehan geli dari gadisnya.

“Siapa suruh kau pulang lebih awal.” Ujar Ri Ra yang nyaris tak bisa menahan tawanya.

Yesung yang tak tahan melihat kelakuan gadisnya itu, meletakkan cangkir teh yang dipegangnya ke atas meja dan menarik Ri Ra ke dalam pelukannya. Ri Ra sempat tersentak dengan perlakuan Yesung yang tiba-tiba. Cangkir teh yang dipegangnya pun nyaris jatuh kalau ia tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya dengan baik. Yesung mengambil cangkir teh yang dipegang Ri Ra dan meletakannya di atas meja.

“Sudah aku bilang kan kau harus membayar usahaku?” tanya Yesung pelan.

“Jadi kau bermaksud mengekangku seharian dalam pelukanmu seperti ini?”

“Tidak. Yang aku inginkan adalah bersama denganmu seharian. Tapi kalau kau memang ingin dipeluk seperti ini terus, aku tidak keberatan.”

Ri Ra merasa pipinya memanas. Tak perlu kaca untuk mengetahui bagaimana keadaan wajahnya sekarang. Pasti wajahnya seperti kepiting rebus. Belum lagi degupan jantungnya yang berkerja di luar batas normal. Namja itu selalu saja membuatnya seperti itu.

“Yak kau mau main truth or dare tidak?” tawar Yesung kemudian.

“Mana seru jika hanya berdua bodoh!” tolak Ri Ra.

“Ah iya kau benar juga. Aku tahu! Karena kita hanya berdua bagaimana jika kita hanya memainkan ‘truth’nya saja? Maksudku kita saling jujur.”

Ri Ra tampak mengerutkan keningnya untuk berpikir. Tidak ada salahnya untuk bermain, batinnya.

“Baiklah.” Ucap Ri Ra pada akhirnya sambil bangkit dan duduk pada posisinya awal.

“Tapi sebuah permainan pasti ada peraturannya kan? Begini saja, kita boleh menanyakan pertanyaan apapun. Dan kau ataupun aku harus menjawabnya, sekalipun pertanyaan itu sudah sering ditanyakan.”

“Kalau aku tidak mau menjawabnya bagaimana?”

“Tentu saja akan ada hukumannya.” Jawab Yesung sambil tersenyum jahil.

“Aku rasa ini bukan hal yang baik.” Balas Ri Ra curiga.

“Tenang saja. Hukuman yang mudah. Kalau kau tidak menjawab pertanyaanku, itu berarti aku harus menciummu. Begitu juga sebaliknya, kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu, kau harus menciumku. Mudah kan?”

“Yak! Peraturan macam apa itu hah?!”

“Kalau tidak ada peraturan seperti itu bisa saja, kau tidak akan menjawab pertanyaanku kan? Lagipula permainan tanpa ada peraturan di mana letak keseruannya?”

Lagi-lagi Ri Ra mengerucutkan bibirnya kesal.

“Baiklah.” Jawab Ri Ra akhirnya menyetujui ide Yesung.  “Kau yang bertanya duluan padaku.” Pinta Ri Ra.

Kening Yesung tampak berkerut sesaat. Memikirkan apa pertanyaan yang akan ditanyakan pada gadisnya. Tak lama kemudian, Yesung membuka mulutnya dan mengucap pertanyaan pertama.

“Nona Han, sekarang katakan padaku, jika aku sedang tak berada disisimu, misalnya saat aku harus pergi ke luar negeri selama berhari-hari, apa kau merasa bosan dan berpikir untuk meninggalkanku?” tanya Yesung dengan raut wajah serius.

Ri Ra terlihat berpikir sejenak. Terlintas ide jahil untuk menggoda Yesung di otaknya.

“Kau ingin tahu jawabanku?”  Yesung mengangguk yakin. “Hmm aku ingin tahu apa jawabanmu.”

“Kau yakin benar-benar ingin tahu?” Ri Ra sengaja mengulangi pertanyaannya untuk menggoda Yesung. Ri Ra selalu selalu senang melihat ekspresi namjanya yang cemberut karena kesal dengan perbuatannya.

“Nona Han aku peringatkan kau untuk tidak bermain-main denganku. Jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku menciummu.”

“YAK! Sejak kapan kau jadi mesum hah?! Apa sekarang kau sering bergaul dengan Eunhyuk oppa?!”

“Memangnya aku semesum itu? Sudah jawab saja pertanyaanku.”

“Baiklah jika kau benar-benar ingin tahu jawabanku.  Kau bertanya apakah aku merasa bosan jika kau tidak berada disisiku, maka jawabanku adalah iya. Kau tahu aku selalu diserang rasa bosan yang parah saat kau tak ada. Saking parahnya, aku nyaris tak bisa melakukan segala sesuatu dengan benar. Maksudku, semua yang kukerjakan terasa salah. Tapi menurutku, itu wajar kan? Di saat orang yang selalu ada menemanimu mengobrol setiap waktu, tapi ketika orang itu pergi, kau pasti merasa kebosanan setengah mati. Tapi berpikir untuk meninggalkanmu, aku rasa mempunyai niat untuk melakukan hal itu saja tidak. Memikirkan kenyataan bahwa aku harus hidup tanpamu itu sangat mengerikan kau tahu? Makanya kalau kau berpikir aku akan meninggalkanmu itu salah besar, Tuan Kim. Kecuali jika kau yang berpikir akan meninggalkanku.” Jawab Ri Ra panjang lebar. Ri Ra tidak menyangka bahwa ia bisa menyampaikan perasaannya dengan begitu jelas, padahal sebelumnya ia tidak pernah bisa melakukan hal itu.

Yesung pun tak berkedip mendengarkan jawaban Ri Ra. Ia pun juga tidak menyangkan bahwa gadisnya itu akan mengatakan perasaannya secara jelas, mengingat selama ini Yesunglah yang selalu mengutarakan perasaannya secara terang-terangan pada gadis itu.

“Sudah puas belum dengan jawabanku?” tanya Ri Ra yang menyadarkan Yesung dari keterkesimaannya.

“Puas. Sangat puas malah. Aku sebenarnya tak menyangka kau akan mengatakan hal itu…tapi aku suka dengan jawabanmu. Dan Nona Han, aku tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Memikirkannya saja sudah membuatku mual. Jadi jangan harap kau bisa lepas dariku.” Jawab Yesung yang menciptakan senyum di wajah mungil Ri Ra.

“Sekarang giliranku bertanya kan?” Ri Ra tampak antusias tapi kemudian air wajahnya berubah menjadi muram.

“Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Yesung menyadari perubahan pada raut wajah Ri Ra.

“Kenapa kau lebih memilih bersamaku padahal kau bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dariku? Yang lebih baik dariku?  Di luar sana, ah ani maksudku, kau sering bertemu dengan yeoja-yeoja sesama artis yang lebih pintar dan lebih cantik dariku tentunya. Tapi kenapa kau lebih memilih gadis biasa dan bodoh sepertiku?”

Yesung mendengus kesal mendengar pertanyaan Ri Ra. Sudah berapa kali gadis itu bertanya hal yang sama padanya. Dan berkali-kali itu pula Yesung menjawab dengan jawaban yang sama. Tapi kenapa gadis itu tidak pernah mengerti? Kenapa gadis itu selalu merasa ia tidak pantas untuk bersanding dengannya?

“Kapan kau akan bosan menanyakan pertanyaan seperti itu padaku?” tanya Yesung datar. Ia paling tidak suka kalau Ri Ra bertanya seperti itu. Ini masih lebih baik dari kemarin-kemarin. Beruntung kali ini ia tidak menyebut-nyebut nama yeoja yang dikabarkan dekat dengan Yesung. Karena kalau hal itu terjadi, mereka pasti akan berakhir dengan pertengkaran.

“Kau lupa aku boleh bertanya apapun? Termasuk yang sudah sering ditanyakan sekalipun?” tanya Ri Ra retoris.

“Aku tidak lupa. Hanya bingung denganmu. Aku rasa aku sudah menjawab pertanyaanmu itu berulang kali dengan jawaban yang sama, tapi kenapa kau tidak pernah bosan bertanya lagi padaku?”

“Jawab saja pertanyaanku.” Tukas Ri Ra tajam.

“Jadi kali ini jawaban seperti apa yang kau inginkan? Setidaknya yang bisa membuatmu berhenti bertanya padaku tentang hal ini.”

“Aku kan yang bertanya padamu, kenapa malah membalikannya padaku?”

Yesung mengacak rambutnya gusar. Sebenarnya ia tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan dari Ri Ra. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan akhirnya membuka suaranya, “Kalau aku bilang aku memilihmu karena yang aku cintai adalah kau, apa kau puas dengan jawabanku?”

“Ah tidak kau pasti tidak puas dengan jawabanku.” Sekali lagi Yesung menarik nafasnya perlahan dan mulai meluncurkan kata demi kata untuk menjawab pertanyaan Ri Ra. “Kau benar jika di luar sana banyak gadis yang lebih pintar darimu, lebih cantik darimu, dan bahkan lebih dari segalanya darimu. Tapi menurutmu, apa gadis-gadis itu akan sukarela mengantarkan makan siang saat aku tak punya waktu bahkan untuk menyentuh makanan? Apa gadis-gadis itu akan dengan sukarela mendengarkan ocehanku yang kadang tidak bisa dihentikan ini? Dan yang paling penting, gadis-gadis itu tidak akan mampu mencintaiku seperti kau mencintaiku. Mereka memang mempunyai banyak kelebihan daripada dirimu, tapi satu hal yang bisa kau lakukan tapi mereka tak bisa lakukan. Kau bisa membuatku ingin terus bertemu denganmu, ingin terus bersamamu. Sedangkan mereka? Yang aku pikirkan saat sedang bersama mereka hanyalah cara untuk segera melarikan diri.”

Yesung menelan ludahnya dan kemudian melanjutkan ucapannya, “Jika kau masih belum puas dengan jawabanku, aku tak tahu harus mencari jawaban seperti apa lagi yang akan membuatmu puas. Dan kau harus ingat, aku bukan Donghae yang bisa meluluhkan hati wanita dengan kata-kata manisnya. Aku ini Kim Jong Woon yang akan berterus terang dengan segala yang aku rasakan dan cendrung blak-blakan. Jadi terserah kau akan menyukainya atau tidak. Karena selamanya aku akan selalu menjadi Kim Jong Woon yang seperti itu. Dan aku minta maaf padamu karena harus mempunyai namja seperti diriku, Nona Han.” Yesung mengakhiri ucapannya sambil tersenyum menatap Ri Ra.

“Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bicara.” Desis Ri Ra tanpa bisa menahan senyumnya.

Jawaban dari Yesung kali ini, sudah sangat membuatnya puas.

“Memiliki namja sepertimu aku rasa bukan hal yang buruk.” Ucap Ri Ra dengan senyum terkulum.

“Nah sekarang giliranku bertanya! Ng….Ri Ra ya, aku ingin bertanya…sebesar apa rasa cintamu padaku?”  tanya Yesung sedikit malu.

“Kalau bertanya seperti itu saja kenapa harus malu? Hahaha kau ini lucu sekali!” “Baiklah kalau kau bertanya sebesar apa cintaku padamu…nggg mungkin ini akan terdengar menjijikan dan kau Kim Jong Woon awas kalau kau sampai mentertawakanku!” Ancam Ri Ra pada Yesung.

“Aniya aku tidak akan mentertawakanmu. Memangnya kau sedang melawak? Kecuali kalau memang kau sedang melawak, baru aku akan mentertawakanmu habis-habisan.”

“Sebenarnya aku sendiri juga bingung harus merefleksikan sebesar apa rasa cintaku ini padamu. Kalau aku katakan sebesar samudera, itu terlalu biasa, lagipula kau tahu? Samudera itu bisa saja mengecil sewaktu-waktu kan? Jadi aku rasa itu tidak tepat, karena cintaku padamu itu tidak akan mengecil ataupun berkurang. Lalu kalau aku katakan sebesar alam semesta ini, aku rasa itu juga tidak tepat, sebesar-sebesarnya alam semesta itu pasti ada batasnya juga kan? Walaupun tidak ada ilmuwan mana pun yang tahu batas alam semesta itu. Nah, jadi maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu seseuatu yang tepat untuk merefleksikan sebesar apa rasa cintaku padamu. Kau tahu maksudku kan? Cintaku padamu itu begitu besar. Kecuali jika suatu saat nanti aku sudah menemukan seseuatu yang tepat, pasti aku akan memberitahukannya padamu.” Ri Ra mengakhiri ucapannya sambil tersenyum puas. Setidaknya hari ini dia sudah 2 kali membuat namjanya itu terkesima.

“Sebesar itukah kau mencintaiku?” tanya Yesung yang sukses membuat mulut Ri Ra menganga lebar. Tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu.

Ri Ra tampak salah tingkah sekaligus malu. Memang sebesar itu dia mencintai Yesung, tapi bisa kan dia tidak usah memperjelasnya?

“Tidak usah di jawab lagi, aku sudah tahu jawabanmu, hahaha. Nah sekarang giliran kau untuk bertanya.”

“Aku ingin bertanya pertanyaan yang sama denganmu. Seberapa besar kau mencintaiku?”

“Seberapa besar aku mencintaimu?” tanya Yesung mengulangi pertanyaan Ri Ra. “Kau yakin ingin mendengarnya? Kau yakin tidak akan lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutmu karena bisa saja jawabanku ini terlalu menjijikan.”

“Ya! Aku tidak setega itu! Aku tidak akan lari ke kamar mandi, paling-paling aku akan menutup rapat mulutku agar tawaku tidak pecah saat mendengar jawabanmu.”

“Itu sama saja! Terserahlah apa responmu nanti, aku tidak peduli. Kau tahu sebesar apa aku mencintaimu? Sebesar kau mencintaiku, bahkan lebih. Dan kau bahkan tidak akan bisa menebak seberapa besarnya cintaku padamu. Ngg…Donghae selalu bilang pada gadisnya, bahwa gadis itu adalah segalanya bagi Donghae. Tapi aku rasa, kau lebih dari segalanya.”

“Kau berlebihan oppa. Tidak. Aku bukan segalanya untukmu.” Tukas Ri Ra cepat.

“Kau mungkin memang bukan segalanya, tapi kau memberiku segala yang aku butuhkan.” Balas Yesung tenang.

“Memangnya apa yang sudah aku berikan padamu? Setahuku aku tak pernah memberikan apa-apa padamu. Malah kau lah yang memberi banyak padaku.”

“Saat aku berada dalam posisi terendah, pada titik jenuh maksudku, kau selalu bisa menyemangatiku dengan senyummu itu. Suaramu itu merupakan ketenangan tersendiri bagiku saat aku mendengarnya. Dan kasih sayangmu itu, yang paling utama. Aku hanya butuh kau untuk tetap hidup dengan benar. Jadi aku tak keberatan jika harus kehilangan uangku, atau pekerjaanku sekalipun, asalkan kau tetap bersamaku, aku rasa itu bukan masalah.”

“Oppa…….aku rasa kau terlalu banyak bergaul dengan Donghae oppa. Sejak kapan kau menjadi romantis seperti ini? Ah jangan-jangan kata-kata itu kau menyalinnya dari Donghae oppa? Benarkan?”

“Kau ini tidak bisa diajak romantis sedikit sih! Kau tahu, aku memikirkan kata-kata itu semalaman sampai-sampai aku tidak bisa tidur dengan benar! Tapi kau malah menuduhku menyalinnya dari Donghae. Kau jahat Ri Ra-ya~”

“Dan sejak kapan kau menjadi manja seperti ini? Astaga! Jadi selain harus mempunyai namja cerewet sepertimu…aku juga harus memiliki namja yang manja? Ya Tuhan apa dosaku sebesar itu?”

“Jadi kau tidak suka? Aku kan sudah bilang tadi, terserah kau mau menyukai sikapku ini atau tidak, kau tetap tidak akan bisa lepas dariku.”

“Memangnya siapa yang mau pergi darimu bodoh! Gunakan otakmu dulu sebelum bicara.” Ujar Ri Ra diplomatis. “Nah kita sudah selesai kan? Aku ingin membuat makanan dulu, aku yakin kau pasti tidak sempat makan kan?” sambung Ri Ra sambil hendak beranjak dari posisinya.

Tapi dengan cepat Yesung menarik tangan gadis itu hingga ia terduduk lagi.

“Ada apa lagi?” tanya Ri Ra tak sabar.

“Aku belum menanyakan pertanyaan terakhirku padamu.” Jawab Yesung pelan. Entah hanya perasaan Ri Ra atau memang Yesung yang menariknya mendekat. Membuat gadis itu nyaris kehilangan kendalinya. Membuatnya nyaris tidak bisa mengontrol degup jantungnya yang sudah meronta-ronta daritadi.

“A..ap..apa?” tanya gadis itu gugup.

“Apa yang ingin kau katakan padaku saat ini?” tanya Yesung tepat di depan wajah gadis itu.

Ri Ra tidak mengerti apa maksud Yesung bertanya seperti itu. Apa Yesung dendam karena tadi Ri Ra tidak mengatakan langsung pada Yesung kalau ia merindukannya? Kalau ditilik dari sifat namja ini, bukan tidak mungkin hal itu menjadi alasanya.

“Kau punya waktu 5 detik untuk menjawabnya Nona Han.” Ucap Yesung lagi.

Ri Ra bisa merasakan hembusan nafas namja itu. Terlalu dekat sampai ia tidak bisa berpikir jernih. “5 detik katanya? Bahkan waktu itu tidak cukup untuk merangkai kata-kata dengan otak bodohku ini!” umpat Ri Ra dalam hati.

“Satu…..dua…..ti…ga…” Yesung memulai hitungannya sampai detik ketiga. Sementara Ri Ra belum menemukan hal apa yang ingin dikatakannya pada Yesung.

“Waktumu hampir habis Nona…” Yesung memberi peringatan pada Ri Ra dan semakin meminimalkan jarak di antara mereka.

“Aku…..” Baru saja Ri Ra mengucapkan kata pertama ketika dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

“Waktumu habis Nona Han.” Dan sedetik kemudian Yesung kembali melumat bibir gadisnya pelan. Tidak ada tuntutan ataupun paksaan dari ciuman itu. Ri Ra menutup matanya karena tidak sanggup menatap Yesung dalam keadaan mereka seperti ini. Tak lama Yesung melepaskan ciumannya. Dan menatap Ri Ra intens.

“Saranghae.” Ucapnya kemudian.

Satu kata tapi sukses membuat degupan jantung Ri Ra yang belum bekerja normal itupun harus bekerja lebih keras lagi.

“Aku tahu.” Jawab gadis itu pelan dan bangkit dari posisinya sambil tetap menunduk. Dia bergegas ke dapur, melaksanakan niatnya yang sempat tertunda tadi.

“Ri Ra-ya~ bagaimana rasanya dicium oleh Yesung Super Junior hah?” tanya Yesung jahil.

“Biasa saja.” Jawab Ri Ra singkat sambil terus berusaha menutupi wajahnya yang memerah.

“Ah berarti tadi aku kurang lama menciummu. Baiklah aku akan melakukannya lagi. Lebih lama tentunya.”

“YAK! Awas kalau kau berani melakukannya!” teriak Ri Ra geram bercampur malu.

“Wae? Padahal tadi kau terlihat sangat menikmati ciumanku.” Balas Yesung makin menjadi-jadi.

“KIM JONGWOON KAU MATI HAH?!?!” teriak Ri Ra yang kali ini benar-benar tidak bisa menahan perasaannya.

“Aniyo aku tidak mau mati muda. Kasihan dengan ELF nanti, pasti mereka akan menangis karena kehilangan pangeran mereka, dan belum lagi pasti mereka akan mengejarmu, kau tidak takut? Dan pasti kau akan sangat kehilanganku…jadi tidak mung…”

“Kim Jongwoon kau diam atau penggorengan ini akan benar-benar melayang ke arahmu?!” potong Ri Ra cepat sebelum Yesung bicara yang semakin aneh.

“Baiklah aku diam.” Kata Yesung akhirnya. Ri Ra bernafas lega karena akhirnya dia berhasil membuat namja itu diam.

“Ri Ra-ya~”

“Apalagi sekarang?” tanya Ri Ra acuh.

“Saranghae.” Kata Yesung pelan untuk kedua kalinya.

Ri Ra menarik nafasnya dan menhembuskannya kembali, mencoba menemukan kesadarannya kembali.

“Nado saranghae oppa.” Jawab Ri Ra pelan. Nyaris tidak ada yang mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Ri Ra yakin tanpa perlu diucapakannya pun Yesung sudah mengetahui perasaannya.

 

THE END

Iklan

Love of Mathematics

Image

Title:                           Love Of Mathematics

Author:                       Stevian             a.k.a     Park Kiyong

Length:                       Oneshot

Genre:                         Frienship, romance

Rated:                         General

Cast:

  • All member of Super Junior
  • Choi Hyunji                                      a.k.a                 Hyunji
  • Park Ki Young (Author)                     a.k.a                 Kiyoung
  • Lee Eun Ji                                       a.k.a                 Eunji
  • Im Yoon Ah                                     a.k.a                 Yoona

 

Author note:

Anyeonghaseyo readers ^^

Senang sekali akhirnya aku bisa menyelesaikan ff-ku untuk ‘pertama kalinya’. Kalau dulu, baru ngetik satu paragraf aja rasanya males banget buat ngelanjutinnya.

Oh ya, ff ini terinspirasi dari seorang penceramah. Waktu itu sih ceramahannya bertema ‘Berdana’, jadi ada satu kalimat yang benar-benar masuk ke otakku. Terus aku urain kalimat itu menjadi seperti ini “Berdana itu bukannya kasih contekan ke teman”. Habis itu author ga dengerin lagi apa yang diceramahkan, author malah sibuk nyusun cerita nih ff *jangan dicontoh*

Pasti readers pada bingung, apa hubungannya menyontek sama nih ff? Dari judul aja ‘jauh’. Oh ya, judul Love Of Matematics ini terinspirasi dari Kyuhyun yang pintar matematika bahkan pernah memenangkan olimpiade matematika. Hebat ya ^^

Anggap aja tokoh utama cewek ini kamu dan Park Kiyoung adalah author ^^

Jangan lupa RCL (read, coment, like) ya! ^^

–Author Pov–

“Mashita. Nasi goreng Beijing ini benar-benar enak.” Seru Eunji setelah menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing penuh ke dalam mulutnya.

“Ne, ini benar-benar enak. Restaurant ini akan masuk ke daftar restaurant favoritku.” Ujar Hyunji menimpali sambil menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing ke dalam mulutnya.

“Dan restaurant ini hanya ada satu di Korea. Aku tidak menyangka Hangeng bisa membuka restaurant dengan nasi goreng selezat ini.” Ujar Kiyoung masih mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Hangeng?” Tanya Hyunji mengernyit dan menghentikan sendok berisi penuh nasi goreng Beijing yang hendak masuk ke mulutnya.

“Sepertinya nama itu tidak asing.” Seru Eunji menimpali sambil mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Ne, Hangeng itu teman sekelas kita dulu. Saat kita duduk di bangku kelas 2 SMA. Kalian masih ingat tidak?” Jelas Kiyoung panjang lebar.

“Aku ingat. Dia adalah murid kesayangan Heechul seonsaengnim.” Ujar Hyunji kesal mengingat kelakuan gurunya yang satu itu.

“Dia itu kan murid pindahan dari China dulu. Pantas saja nama restoran ini aksennya terkesan seperti bahasa China. ‘Meihua Dumplings’.” Ujar Eunji sambil membaca tulisan yang terdapat di dalam ruangan tersebut.

“Ne, restoran ‘Meihua Dumplings’ terdapat 3 cabang di China. Kalau kita ke China nanti, kita harus berkunjung ke Restaurant itu.” Tambah Kiyoung lalu menyeruput softdrink miliknya.

“Hebat sekali dia. Padahal dulu dia tidak bisa berbicara bahasa Korea sama sekali.” Seru Eunji kagum.

“Itu semua berkat Heechul seonsaengnim. Dulu, sehabis pulang sekolah, Heechul seonsaengnim selalu memberikan pelajaran tambahan Bahasa Korea khusus untuk Hangeng. Mengingat Heechul seonsaengnim adalah wali kelas kita, makanya dia tidak ingin ada anak didiknya yang ketinggalan pelajaran, padahal dia guru matematika.” Jelas Hyunji panjang lebar sambil meminum softdrink miliknya, karena nasi goreng Beijing miliknya sudah habis. Hyunji bisa tahu kejadian tersebut karena setiap sehabis piket kelas setelah pulang sekolah, Hyunji melihat Heechul seonsaengnim selalu mengajarkan Hangeng berbahasa Korea yang baik dan benar. Meski terkadang dia memarahi Hangeng, tapi niat Heechul seonsaengnim tetaplah baik.

“Oh begitu rupanya.” Timpal Eunji mengangguk dan menyendokkan suapan terakhir nasi goreng miliknya.

“Tapi, kenapa kau bisa tahu restaurant ini milik Hangeng?” Tanya Hyunji bingung pada Kiyoung. Mengingat Kiyoung tidak dekat dengan Hangeng.

“Srup~”

“Ne, kenapa kau bisa tahu? Aku saja tidak tahu.” Tambah Eunji setelah menghabiskan softdrink miliknya.

“Aku tahu dari Jongsoo.” Ujar Kiyoung singkat lalu mengambil softdrink miliknya dan meminumnya sampai habis, guna menghilangkan rasa malunya tadi saat dia mengucapkan nama ‘Jongsoo’ dihadapan sahabat-sahabatnya itu.

“Jongsoo namja chingumu? Pantas saja kau tahu, Jongsoo kan teman dekatnya Hangeng.” Seru Hyunji mengangguk mengerti.

“Padahal kalian dulu selalu bertengkar karena hal kecil. Tidak disangka sekarang kalian bisa menjadi sepasang kekasih.” Sambung Eunji sambil mengingat-ingat masa SMA mereka dulu. Sudah kuduga, mereka pasti mengungkitnya lagi. Batin Kiyoung kesal dengan sahabat-sahabatnya itu.

“Sudahlah, aku sedang tidak membahas Jongsoo. Oh ya, Hyunji-ah, bukanya kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya Kiyoung pada Hyunji untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang hubungannya dengan Jongsoo.

“Ne, aku sudah melamar ke 12 perusahaan, dan mereka bilang sedang tidak membutuhkan karyawan” jelas Hyunji sambil menghela napas.

“Jongsoo bilang, temannya sedang membutuhkan seorang sekretaris. Tapi sekretaris itu harus bisa mengalahkannya bermain game. Apa kau mau?” Tawar Kiyoung pada Hyunji.

“Memangnya kau bisa bermain game? Rasanya tidak mungkin.” Ejek Eunji sambil tersenyum meremehkan Hyunji.

“Tentu saja aku bisa. Jangan meremehkan seorang Hyunji.” Balas Hyunji sambil tersenyum optimis.

“Ini alamat perusahaannya. Biar aku yang membayar semua ini. Aku pergi dulu, 2 jam lagi SS4 Seoul akan dimulai. Anyeong.” Ujar Kiyoung memberikan secarik kertas kepada Hyunji, lalu meletakan uang di meja kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu menuju pintu restaurant dengan setengah berlari.

“Benar-benar tidak berubah.” Gumam Hyunji melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Hyunji pun melihat secarik kertas yang diberikan Kiyoung yang berisikan alamat dan nama perusahaan itu.

“Masih tetap menyukai Super Junior.” Sambung Eunji tersenyum mengingat masa-masa SMA mereka dulu.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Jadi ini perusahaan ‘GaemGyu’, ini kan perusahaan pembuatan game. Batin Hyunji setibanya ia di depan gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Semoga saja kali ini dia tidak ditolak. Mengingat perkataan Kiyoung bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan seorang sekretaris, sepertinya sedikit kemungkinan dia akan ditolak.

Hyunji pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Lalu menyerahkan map yang berisi lamaran kerjanya pada pihak yang berwenang dalam hal ini. Hyunji sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, dan ini adalah untuk ke-13 kalinya. Tentu saja dia pernah melakukannya, dan dia selalu ditolak. Semoga saja ini adalah terakhir kali aku melakukannya. Batin Hyunji malas dengan ritual untuk melamar kerja macam ini.

Saat ini, Hyunji sedang duduk di ruang tunggu. Hyunji sudah menunggu selama 30 menit di ruang tunggu, karena sang direktur perusahaan ini sedang melakukan meeting dengan klien.

Hyunji sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan ini, sayangnya masih ada satu lagi persyaratan yang belum dia penuhi. Mengalahkan pertarungan game dengan sang direktur perusahaan ini. Hanya itu yang harus Hyunji lakukan agar dia bisa diterima menjadi seorang sekretaris. Hanya itu.

“Nona Choi” Panggil seorang namja yang berdiri di hadapan Hyunji.

“Ne??” Sahut Hyunji yang sedang duduk di ruang tunggu.

“Silahkan masuk ke ruangan direktur Cho. Beliau sudah selesai meeting.” Ujar namja itu lagi.

“Ne” Balas Hyunji singkat lalu bangkit dan tersenyum pada namja itu. Akhirnya, selesai juga meeting-nya. Batin Hyunji bersyukur.

Di sepanjang perjalanan menuju ruang direktur, mereka berdua hanya terdiam.

“Kau bekerja di bagian apa?” Tanya Hyunji membuka pembicaraan.

“Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Lee Donghae imnida, bekerja sebagai asisten tuan Cho di perusahaan ini.” Ujar namja itu menghentikan langkah kakinya untuk memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya.

“Choi Hyunji imnida” Hyunji ikut berhenti berjalan lalu membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

“Tok tok tok” Donghae mengetuk pintu ruang direktur dari luar setiba mereka di depan ruang direktur.

“Masuk” Ujar tuan Cho dari dalam yang merupakan direktur di perusahaan ini.

“Klek” Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan.

Setiba mereka di dalam, Donghae pun langsung membungkuk pada tuan Cho dan diikuti Hyunji. Tuan Cho terlihat sedang sibuk. Bahkan hanya untuk melirik mereka pun tidak. Dia sedang berkutat dengan laptop putih yang terletak di atas meja kerjanya, dan tidak menghiraukan kehadiran Donghae maupun Hyunji.

“Aku sudah membawa calon sekretarismu tuan.” Ujar Donghae yang telah melaksanakan tugas pemberian tuan Cho. Sementara Hyunji sedang sibuk memikirkan game apa yang akan mereka mainkan nanti.

“Ne, kau boleh pergi.” Ujar tuan Cho singkat pada asistennya. Tuan Cho masih berkutat dengan laptopnya yang berwarna putih. Laptopnya tersebut memiliki gambar sebual apel yang memiliki bekas gigitan.

“Silahkan duduk.” Tuan Cho mempersilahkan Hyunji duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya, sedangkan dia masih memusatkan perhatian dan menggerakkan jari-jarinya pada laptop miliknya.

“Aish” Pekik tuan Cho saat melihat tulisan ‘Game Over’ di layar laptopnya. Hyunji yang sedang sibuk memikirkan game jenis apa yang akan dimainkannya pun tampak bingung dengan kelakuan sang direktur. Hyunji pun menolehkan wajahnya sebentar kearah tuan Cho lalu kembali ke dunianya. Aku belum berlatih bermain game, eotteokhae? Batin Hyunji.

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

>>>>Flash back

–Hyunji Pov–

“Buk” Ku tolehkan wajahku kearah seorang namja yang duduk di sebelahku. Apa yang dilakukan namja ini? Kenapa dia tiba-tiba menyenggol tanganku? Kertas ulangan matematika-ku jadi tercoret karenanya. Huh~ aku jadi harus menghapus coretan yang kuperbuat karena ulahnya.

“Wae?” Tanyaku heran dengannya. Dia hanya melihat kearahku dengan wajah innocent miliknya. Benar-benar aneh namja ini. Huh~ mengganggu konsentrasiku saja.

“buk”

“Ada apa lagi tuan Cho?” Tanyaku sinis dan menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak sengaja.” Jawabnya datar. Kuhapus lagi coretan yang tidak sengaja dia perbuat padaku. Okay, dia tidak sengaja.

“buk”

Kutolehkan wajahku kearahnya dengan tajam. Ini sudah ketiga kalinya, tidak mungkin kali ini juga karena ‘tidak sengaja’.

“Opps, aku tidak sengaja. Penghapusku ada di sebelah tanganmu.” Jawabnya sambil mengeluarkan smirk evilnya. Kuhapus lagi coretan itu. Bukannya dia meminta maaf padaku malah mengeluarka smirk evilnya. Huh~ benar-benar menyebalkan. Awas saja kalau dia menyenggolku sekali lagi, tidak akan ku maafkan!

“Buk”

“Brak” Kupukul meja di hadapanku dan berdiri menghadapnya yang berada di sampingku.

“YA!! CHO KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN??” Teriakku penuh emosi padanya. Aku sangat kesal padanya. Jika saat ini sedang tidak ujian aku tidak akan se-emosi ini. Apalagi saat ini sedang ujian matematika yang merupakan pelajaran kesukanku. Tunggu… bukannya saat ini sedang…

“YA!! CHOI HYUNJI” Teriak seonsaengnim meneriaki namaku sambil berjalan kearah meja kami –mejaku dan Kyuhyun-.

“Omo” Pekikku kaget. Aku lupa, saat ini kan sedang ujian. Mati kau Hyunji. Apalagi Heechul seonsaengnim merupakan guru ter-killer di sekolah ini. Aku tidak tahu nasibku setelah ini.

“Seonsaengnim, ini semua bisa kujelaskan.” Untunglah Kyuhyun membelaku. Mungkin dia merasa bersalah padaku.

“Hyunji terus menyenggol tanganku dan tiba-tia dia meneriaki namaku. Mungkin karena aku tidak memberikannya contekan sehingga dia marah padaku. Aigoo Hyunji-ah, seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu. Itu akan mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika.” Mwo?? Apa yang dia katakan? Kukira dia membelaku. Apa maksudnya aku menyenggol tangannya? Bukanya dia yang dari tadi menyenggol tanganku sehingga aku berteriak padanya. Dan apa maksudnya aku meminta ‘contekan’ padanya, jelas-jelas soal matematika ini sangat mudah. Dan satu hal lagi, ucapannya tadi ‘mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika’ seolah-olah teman-teman sekelas kita ini tidak pintar dan dia yang paling pintar. Aigoo, namja ini benar-benar.

“Aniyo, aku tidak meminta contekan padanya. Tapi dia yang terus menyenggol tanganku sehingga lembar jawabanku tercoret untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya pula aku harus menghapus coretan tersebut hingga dia menyenggolku lagi dan membuat kesabaranku habis.” Elakku cepat sebelum Heechul seosaengnim termakan ucapannya.

“Benar apa yang dikatakan Kyuhyun, aku juga melihatnya terus menyenggol tangan Kyuhyun dan meminta contekan. Kristal-ah, kau juga melahatnya bukan?” Ujar Jessica yang duduk bersama Kristal di belakangku membela namja sialan ini. Kristal pun mengangguk dengan mantap. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kedua yeoja bermarga ‘Jung’ ini.

“Choi Hyunji, cepat berdiri di luar kelas dengan satu kaki diangkat sampai bel istirahat berbunyi.” Perintah Heechul seonsaengnim tegas padaku.

“Tapi, seon…”

“KELUAR!!” Teriak seonsaengnim memotong ucapanku. Jika Heechul seonsaengnim sudah marah, tak ada yang bisa melawannya. Padahal aku belum menyelesaikan soal ujian matematika tadi. Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Dan ini semua berkat ‘Cho Kyuhyun’.

“Benar seonsaengnim, lebih baik dia keluar dari pada mengganggu ketenangan kami dalam mengerjakan soal ujian ini.” Sahut Jessica pada Heechul seosaengnim. Ada apa dengan yeoja satu itu? Benar-benar…

“Sudah, semuanya diam dan kerjakan soal ujian kalian dengan tenang! 30 menit lagi waktu habis.” Terang Heechul seonsaengnim dan berjalan kembali ke meja guru.

Aku pun melangkahkan kakiku menuju keluar kelas. Sebelumnya kulirik mataku dengan sinis ke arah Kyuhyun, dan dia mengeluarkan smirk evil-nya padaku. Cih, aku muak sekali dengan wajahnya. Aku berjanji tidak akan berteman bahkan menikah dengan orang yang bermarga ‘Cho’. Okay, mungkin itu berlebihan. Tapi Dia benar-benar jahat padaku, dan itu tak bisa dimaafkan!

–Author Pov–

“Teng~ teng~” Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa-siswi di sekolah SMA SM pun menuju kantin untuk menhilangkan rasa lapar dan stress mereka setelah mengerjakan soal matematika terkutuk itu.

Hyunji yang mendengar bel tersebut pun merasa lega dan bersyukur karena dia tidak perlu terus berdiri lebih lama lagi dengan satu kaki. 30 menit sudah lebih dari cukup. Benar-benar kelewatan Heechul seonsaengnim itu. Batin Hyunji sambil bejalan menuju ke dalam kelas dengan kaki terpincang-pincang karena berdiri dengan satu kaki terlalu lama.

Di dalam kelas hanya ada beberapa murid. Mungkin yang lainnya pergi ke kantin. Untunglah tak ada namja sialan itu di sini. Kalau ada, Hyunji tidak ingin masuk kelas karena sudah muak dengan wajah setan itu. Pikir Hyunji.

Hyunji pun melangkahkan kakinya ke bangku-nya yang bersebelahan dengan bangku Kyuhyun.

“Hyunji-ah, aku tidak percaya kau meminta contekan pada Kyuhyun.”

Sambut Eunji sambil menghampiri Hyunji setiba Hyunji masuk ke dalam kelas mereka. Eunji pun langsung duduk di bangku Kyuhyun yang bersebelahan dengan Hyunji.

“Ne, kau memang harus percaya padaku. Mana mungkin aku menyontek pada namja sialan itu, lagi pula nilai matematika ku selalu mendapat seratus.” Ujar Hyunji penuh emosi mengingat kejadian tadi.

“Dan nilai matematika-nya juga selalu mendapat seratus ditambah lagi saat SMP dulu dia menjuarai olimpiade matematika.” Sambung Eunji kagum.

“Ya! Kau seharusnya membelaku. Huh~ Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih duduk dengannya. Ini semua gara-gara Heechul seonsaengnim. Kenapa ujian kali ini harus diacak dengan nomor undian. Mentang-mentang dia wali kelas kita dan dia dapat bertindak seenaknya. Dan sialnya lagi aku mendapat nomor yang sama dengan nomor namja sialan itu, sehingga aku harus sebangku dengannya. Nomor 13, aku benci angka itu.” Ujar Hyunji panjang lebar dengan raut wajah yang kesal.

“Tapi itu bagus, sekali-kali merubah suasana baru. Itu kan tidak salah. Lagi pula aku bosan selalu duduk sebangku denganmu. Dari SMP hingga SMA, apa kau tidak bosan? Sudahlah, lagi pula hanya dua minggu kau duduk dengannya. Setelah itu, kita bisa duduk bersama lagi.” Ujar Eunji dengan bijak.

“Apa maksudmu bosan duduk denganku? Bilang saja kau lebih senang duduk dengan Kibum dari pada duduk denganku.” Sahut Hyunji dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

“Aniyo, aku tidak bilang aku lebih senang duduk dengan kibum. Tapi, dia namja yang baik.” Ujar Eunji cepat sambil mengeluarkan seringaiannya.

“Huh~ munafik” Sahut Hyunji. Bilang saja kau menyukainya, aku tahu itu Eunji. Batin Hyunji kesal dengan sahabatnya yang satu itu.

“Hyunji-ah, kau tahu tidak? Hanya kelas 2-1 saja yang diacak posisi duduknya, sedangkan kelas yang lainnya normal-normal saja. Itu keren kan?” Ujar Eunji bangga.

“Apanya yang keren? Itu berarti kelas kita sial tahu. Lebih baik aku duduk dengan Yesung dari pada duduk dengan namja setan itu.” Timpal Hyunji.

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Hyunji.

–Hyunji Pov–

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja ku katakan.

“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya teringat kata-kata Siwon sewaktu aku pertama kali masuk ke dalam kelas 2-1.” Sambung ku cepat sebelum Eunji berpikir yang tidak-tidak tentang diriku.

Eunji adalah sahabatku dari SMP YG. Dia benar-benar tidak berubah, selalu saja mengambil kesimpulan terlalu cepat sebelum mendengar penjelasan orang lain. Kami berdua dulu bersekolah di SMP yang sama, dan sekarang kami pun bersekolah di SMA yang sama. Ya, kami sekarang bersekolah di SMA SM. SM itu bukan singkatan dari Soo Man yang merupakan kepala sekolah kami. Tapi, SM itu singkatan dari ‘Star Musseum’. Dinamakan Star Musseum karena sekolah ini berisi siswa-siswi yang cerdas.

Wajar saja saat Eunji bilang bosan duduk sebangku denganku. Sewaktu kami duduk di bangku kelas 1 SMA, dia sekelas denganku dan kami pun duduk bersama. Kemudian  sekarang, saat kami naik ke kelas 2. Kami pun duduk bersama lagi. Sebenarnya, kelas 2-1 ini adalah kelas yang berisi murid-murid yang pintar sampai dengan kelas 2-4 yang berisi murid-murid terbodoh. Bukan berarti siswa-siswi di kelas 2-4 itu bodoh. Itu semua tergantung ranting nilai kita saat kelas 1 dulu. Jadi, aku dan Eunji bisa masuk ke kelas 2-1 ini karena kami memiliki nilai dengan ranting yang tinggi.

“Memangnya apa yang dikatakan Siwon padamu?” Tanya Eunji ingin tahu.

“Dia bilang ‘lebih baik duduk dengan orang yang kau benci dari pada duduk dengan orang seperti Yesung’. Dia bilang seperti itu karena saat kelas 1-4 dulu dia duduk dengan namja bernama Yesung. Setiap kali dia berada di dekat Yesung selalu ada aura ‘aneh’ yang muncul dan Yesung hobby sekali memegang bagian atas bibirnya Siwon.” Ceritaku panjang lebar pada Eunji sambil mengingat saat aku pertama kali masuk ke kelas 2-1 ini, dan Siwon adalah namja pertama yang menyambutku dengan ‘kalimat’ seperti itu.

Saat ini, Siwon dan Yesung juga sekelas denganku. Di kelas 2-1 ini. Tapi, Siwon sekarang tidak sebangku dengan Yesung lagi, melainkan dengan Kibum. Mereka berdua bersahabat dengan baik. Dan Yesung sekarang sebangku dengan Ryeowook. Ryeowook adalah namja yang baik dan manis. Hanya dia yang betah duduk dengan Yesung di kelas ini. Mereka berdua juga bersahabat dengan baik.

Tapi, kali ini Siwon sedang tidak beruntung. Karena dia mengambil nomor undian yang sama dengan nomor Yesung. Sial sekali dia. Sama sepertiku. Apa boleh buat, ini akan berakhir hingga ujian selesai.

“Apa benar siwon mengatakan hal seperti itu tentangku?” Tanya Yesung tiba-tiba yang entah datang dari mana, dan membuat kami berdua terlonjak kaget dengan keberadaan Yesung.

“Yesung-ah, aku tidak mengatakan hal seperti ‘itu’ tentangmu. Percayalah padaku. Dan ingatlah, bahwa Tuhan itu baik.” Ujar Siwon tiba-tiba dan langsung memeluk Yesung yang berada di samping kami. Siwon memang selalu seperti itu. Selalu ‘memeluk siapa saja’ dan setiap kalimat yang dia ucapkan pasti ada kata-kata seperti ‘Tuhan itu baik’, karena itulah dia disebut sebagai namja ter-religius di kelas ini.

“Ya!! Kenapa kau menghapusnya?” Teriak Kiyoung ketika ada seorang namja yang hendak menghapus tulisan di papan tulis. Kiyoung adalah sahabatku dan sahabat Eunji juga.

“Aku tidak suka melihat papan tulis ini kotor.” Balas namja yang merupakan ketua kelas kami dengan santai sambil menghapus tulisan ‘Super Junior’, ‘Everlasting Friend’, ‘ELF’, ‘SUPER JUNIOR THE LAST MAN STANDING’, ‘PROM15E TO 13ELIEVE SUPER JUNIOR’, ‘13’, ‘I’m Proud To Be ELF’ yang ditulis Kiyoung.

“YA!! BERHENTI MENGHAPUSNYA!! JUNGSOO. Aku tahu kau sedang tidak piket kelas hari ini, jadwal piketmu sama dengan jadwal piketku, yaitu hari jumat. Dan sekarang bukan hari jumat.” Teriak Kiyoung kesal dengan apa yang dilakukan Jungsoo.

“Selesai, ini terlihat lebih indah.” Ujar Jungsoo sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan kedua tangannya yang tidak kotor, kemudian dia tersenyum penuh kemenangan kearah Kiyoung. Dia lalu kembali ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan namja yang berasal dari China bernama Hangeng.

“Dia benar-benar seorang ELF” Sahut Eunji tiba-tiba kepada kami ber-empat –aku, Eunji, Yesung, Siwon- yang melihat pertengkaran singkat antara Kiyoung dan Jungsoo, dan Siwon pun langsung melepaskan pelukannya dari Yesung tadi.

–Author Pov–

“Teng~ teng~” bel pulang pun berbunyi usai ulangan B. Inggris.

“Hyunji-ah, Eunji-ah, ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film Super Junior ‘Attack On The Pin-Up Boys’.” Ujar Kiyoung penuh semangat ketika mereka keluar dari kelas tadi.

“Aigo Kiyoung-ah, saat ujian seperti ini kau masih memikirkan Super Junior? Kau benar-benar seorang ELF.” Sahut Eunji sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sahabatnya satu itu.

“Ne, aku tahu itu. Sudahlah ayo cepat.” Ujar Kiyoung singkat sambil menarik tangan Hyunji dan tangan Eunji agar mereka berjalan lebih cepat.

Setiba mereka di depan gerbang sekolah, mereka bertiga pun berpisah karena arah rumah mereka berbeda.

“Hyunji-ah, anyeong.” Ujar Kiyoung dan Eunji serentak sambil melambaikan tangan mereka. Rumah mereka berdua searah, tapi tidak dengan Hyunji.

“Anyeong, berhati-hatilah di jalan.” Balas Hyunji singkat sambil melambaikan tangannya juga dan membalas senyum kedua sahabatnya itu.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Hyunji pun berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang namja yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hyunji pun memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sudah malas dan muak dengan namja itu. Saat ujian B. Inggris berlangsung pun Hyunji tidak berniat sedikit pun untuk menyapa namja itu, padahal mereka berdua sebangku.

>>>>Flashback End

–Author Pov–

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir tadi.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

“Sruk” Hyunji langsung bangkit dari kursi yang dia duduki.

“Aku tidak jadi melamar kerja sebagai sekretarismu.” Ujar Hyunji bangkit dari duduknya.

“Anyeong” Pamit Hyunji membungkukkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.

“Chakkaman” Seru Kyuhyun menghentikan langkah Hyunji.

“Wae?” Tanya Hyunji malas dan membalikkan badannya ke arah Kyuhyun.

“Aku melakukannya agar kau ingat padaku.” Ujar Kyuhyun dan berjalan ke arah Hyunji.

“Ingat? Ingat apa?” Tanya Hyunji mengernyit bingung.

“Taman kanak-kanak, psp putih milikku, matematika, dan kau meminjam jari-jariku. Kau ingat?” Seru Kyuhyun mencoba mengingatkan Hyunji.

>>>>Flashback

“buk” Seorang yeoja kecil menyenggol seorang namja seusianya yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa Hyunji?” Tanya namja kecil itu tanpa menolehkan matanya pada Hyunji, karena mata namja kecil itu masih tertuju pada PSP berwarna putih di tangannya.

“Ehmm.. Aku..” Jawab Hyunji ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan. Sedangkan namja kecil itu masih sibuk dengan PSP-nya dan tidak peduli dengan Hyunji.

“Kyu~ Kyu~” Panggil Hyunji sambil mengguncang tangan namja kecil yang masih berkutat dengan PSP-nya.

“Hmm” Gumam Kyu sambil mempercepat jari-jari kecilnya di tombol-tombol PSP-nya, karena sebentar lagi dia akan mati dalam pertarungan game yang sedang dimainkan-nya.

“Boleh aku pinjam jari-jarimu?” Tanya Hyunji polos pada Kyu.

“Tunggu sebentar, jari-jariku sedang sibuk Hyunji.” Ujar Kyu cepat dan masih sibuk mengalahkan musuh-musuh di PSP-nya itu.

“Huh~” Dengus Hyunji dan mengalihkan perhatiannya pada anak-anak yang lainnya.

Saat ini kedua anak itu sedang berada di sekolah. Di sekolah taman kanak-kanak. Di taman kanak-kanak ini, anak-anak belajar dan bermain dari usia 4 – 5 tahun.

Di kelas ini hanya terdapat satu buah mejar bundar yang besar dan anak-anak duduk melingkari meja bundar tersebut. Tapi mereka tidak harus selalu duduk di meja tersebut, karena guru di sini memberikan kebebasan pada anak-anak di sini untuk bermain dan belajar. Hyunji duduk bersebelahan dengan namja kecil bernama Kyu. Kyu duduk di sisi kirinya, anak itu selalu sibuk dengan PSP-nya. Sementara di sisi kanannya duduk seorang namja kecil bernama Kangin yang merupakan ketua kelas mereka. Anak yang bernama kangin itu benar-benar nakal dan hiperaktif, dan dia jarang duduk di bangku karena dia tidak bisa diam. Makanya Hyunji tidak meminjam jari-jari Kangin.

Mata Hyunji tertarik pada kedua namja kecil yang berada di pojok ruangan.

“Hyuk-ah, ayo kita bermain ikan di aquarium.” Ajak seorang namja kecil menghampiri Hyuk yang sedang belajar di meja bundar tersebut. Saat ini Hyuk sedang membaca buku atau lebih tepatnya melihat berbagai macam gambar binatang di buku yang sedang dipegangnya.

“Ayo Hae, tapi tunggu sebentar.” Ujar Hyuk riang sambil meletakan pembatas buku tepat di halaman buku yang bergambar binatang jenis ‘monyet’.

Kedua namja kecil itu memainkan ikan-ikan yang berada di dalam aquarium. Aqurium tersebut pendek, tujuannya agar anak-anak ini bisa melihatnya dan letaknya terletak di pojok ruangan tersebut. Tidak heran anak-anak ini bisa menjangkau aquarium tersebut.

“Bok bok bok bok”

“Hahahahahahaha”

Mereka berdua mengobok-obok air di aqurium tersebut sambil tertawa dengan riang.

“Hae-ah, ikannya pasti pusing. Hahahaha…” Ujar Hyuk pada Hae dengan tangan yang masih mengobok-obok air di aquarium sambil tertawa.

“Ne Hyuk-ah. Hahahaha…” Balas Hae masih mengobok-obok air di aquarium itu dengan tawa yang tak kalah riang dari Hyuk. Bagi mereka berdua, ‘permainan’ itu sangat menyenangkan.

“Lee Donghae? Lee Hyukjae? Apa yang sedang kalian lakukan pada ikan-ikan hias itu?” Tanya Guru taman kanak-kanak mereka.

“Aku dan Hyuk sedang bermain dengan ikan Yoona seonsongnim.” Ujar Hae polos. Mereka berdua sudah tidak mengobok-obok air lagi.

“Yoona seonsongnim, kenapa ikan-ikan itu diam?” Tanya seorang namja kecil berpipi chubi yang tiba-tiba datang karena tertarik dengan ‘permainan’ yang dimainkan oleh Hae dan Hyuk.

“Omo!! Ikan-ikannya mati” Pekik Yoona kaget saat melihat ikan-ikan hias  tersebut hanya diam terbawa ‘arus’ yang dibuat oleh Hae dan Hyuk. Yoona benar-benar tidak habis pikir dengan kedua namja kecil bermarga ‘Lee’ itu. Padahal di sekolah taman kanak-kanak ini disediakan banyak sekali permainan, tapi kenapa mereka malah bermain dengan ikan-ikan hias itu?

“Huh~ Sudahlah, kalian bertiga pergi bermain bola bersama Sungmin saja.” Yoona menghela napas sambil menunjuk bola sepak berwarna pink yang sedang dimainkan seorang namja kecil. Sepertinya meletakan aquarium di kelas bukan hal yang bagus. Batin Yoona.

“Hae-ah, Dong-ah, ayo kita ke sana.” Ajak Hyuk riang pada Hae dan Shindong atau biasa dipanggil Dong.

“Min-ah, apa kami boleh ikut bermain?” Tanya Hae pada namja kecil yang sedari tadi bermain dengan bola sepak berwarna pink itu.

“Ne, tentu saja.” Balas Sungmin yang dipanggil ‘Min’ itu sambil tersenyum pada ketiga anak itu.

“Kyu-ah, ayo pinjamkan jari-jarimu pada ku.” Ujar Hyunji yang perhatiannya sempat teralihkan pada ke-empat namja kecil yang sekarang sedang bermain bola sepak berwarna pink -Hyuk, Hae, Dong, Min-.

“Ya!! Aku jadi kalah. Ini semua gara-gara kau Hyunji.” Ujar Kyu kesal pada Hyunji sambil meratapi layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hiks hiks” Hyunji kaget dan tangisnya pun pecah karena Kyu yang tiba-tiba berteriak kearahnya.

“Yoona seonsongnim, cepat ke sini.” Teriak Kyu pada guru mereka karena tidak mengerti cara menghentikan tangis Hyunji.

“Ada apa Kyu?” Tanya Yoona setiba di hadapan Kyu. Anak ini benar-benar tidak sopan, memanggil orang seperti memanggil pembantu. Batin Yoona.

“Tiba-tiba Hyunji menangis tepat saat aku kalah bermain game.” Ujar Kyu polos mengingat layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hyunji-ah, sudah, jangan menangis lagi ya. Anak baik tidak boleh menangis ya.” Bujuk Yoona pada Hyunji yang tangisnya sudah mulai reda.

“Hiks, aku hiks ingin meminjam jari-jarinya Kyu.” Ujar Hyunji yang masih sesenggukkan.

“Hyunji-ah, untuk apa kau meminjam jari-jarinya Kyu?” Tanya Yoona bingung dengan permintaan Hyunji.

“Jari tanganku tak cukup untuk menghitung sampai 13. Aku hanya mempunyai 10 jari, sedangkan soal di buku itu ’10 + 3 = …’

Aku tahu jawabannya adalah 13. Tapi aku ingin memastikannya.” Ujar yeoja bernama Hyunji itu polos.

“Oh, begitu rupanya. Kyu-ah, pinjamkan 3 jarimu untuk Hyunji.” Pinta Yoona pada Kyu yang sedang berpikir ‘apakah benar 10 + 3 = 13?’

“Ne, seonsongnim” Kyu mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan 3 jarinya            -jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis- ke pada Hyunji.

“Satu, dua, tiga… Tiga belas.” Hyunji menghitung dengan melipat jari-jarinya kedalam dan menghitung 3 jari milik Kyu.

“Wah.. Hyunji pintar” Seru Yoona setelah Hyunji menyelesaikan hitungannya sampai pada angka 13. Yoona merasa lucu dengan anak ini. Meminjam jari? Untuk memastikan 10 + 3 = 13? Lucu sekali. Batin Yoona geli.

“Gomawo Kyu-ah, gomawo seonsongnim.” Ucap Hyunji sambil membungkuk kepada Kyu dan Yoona.

Yoona pun meninggalkan Hyunji dan Kyu. Yoona pergi ke pojok ruangan tersebut, karena dia melihat ke-empat namja kecil -Hyuk, Hae, Dong, Min- itu sedang mengobok-obok air di aquarium itu lagi. Ada apa dengan anak-anak itu? Malah mengajak teman lebih banyak. Sepertinya memang benar-benar tidak baik meletakan aquarium di kelas. Batin Yoona frustasi dengan ke-empat namja kecil itu.

“Hyunji-ah, kenapa kau bisa tahu 10 + 3 = 13?” Tanya Kyu masih bingung.

“Aku menghitungnya menggunakan ini.” Jawab Hyunji dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah dada kecil milik Kyu

“Apa ini?” Tanya Kyu yang juga menunjukan jari telunjuknya ke arah dadanya.

“Hati. Aku menghitungnya di dalam hati. Dan kau juga bisa menghitungnya menggunakan hatimu Kyu.” Jawab Hyunji polos dan membuka buku matematikanya.

“Bagaimana caranya? Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu penuh semangat.

“Belajar” Ujar Hyunji singkat, sambil melanjutkan hitungan di jarinya yang tertunda karena pertanyaan dari Kyu.

“Oh, jadi begitu.” Sahut Kyu riang dan mengeluarkan buku matematika dari tas kecilnya yang berwarna sapphire blue dan bergambar robot transformers. Kyu pun mengerjakan soal-soal matematika itu dengan sesekali bertanya pada Hyunji karena dia tidak mengerti.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Seorang anak laki-laki yang merupakan ketua kelas di taman kanak-kanak ini berlari-lari mengelilingi kelas ini, menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Anak ini benar-benar hiperaktif. Itulah dia, Kangin. Nama Kangin itu sendiri mempunyai arti: Jalan penghidupan yang tentram, rakus/kuat, kegembiraan, merdeka, bahagia dan sempurna. Wajar saja sikapnya seperti itu, namanya saja mengandung arti seperti itu.

Kangin pun lelah dan akhirnya berhenti berlari-lari di dalam kelas. Sekujur tubuhnya penuh dengan keringat karena sehabis berlari-larian, ditambah lagi saat ini sedang musim panas. Padahal AC di kelas ini sudah dinyalakan, tapi tetap saja keringatnya tidak berhenti mengalir.

“Wah ada kipas angin.” Seru Kangin saat melihat sebuah kipas angin berkaki di pojok ruangan kelas.

“Trek” Kangin pun menekan tombol dengan kecepatan paling tinggi pada kipas angin berkaki tersebut.

“Aaaahh” Kangin membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar. Kangin merasa ini adalah permainan yang sangat menarik dan bisa membuat rasa gerahnya sedikit berkurang.

Di lain sisi, tepatnya di meja bundar tersebut. Duduklah Kyu yang sedang memegang PSP putih miliknya tanpa ada minat sedikit pun untuk memainkannya.

Selama dua minggu ini, Kyu selalu murung meratapi PSP miliknya tanpa memainkannya. Ini semua karena seseorang. Ya, ini semua karena Hyunji. Dua minggu yang lalu, Hyunji pindah sekolah ke daerah namsan karena rumahnya juga pindah ke sana. Kyu merasa kesepian, biasanya saat Kyu sedang bermain PSP selalu ada Hyunji yang menemani di sebelahnya, dan sekarang tak ada yang menemaninya bermain. Sebenarnya Hyunji tidak pernah menemani Kyu bermain PSP, Hyunji hanya selalu belajar matematika di samping Kyu dan Kyu beranggapan bahwa Hyunji selalu menemaninya bermain PSP. Itu semua hanya pikiran Kyu.

Kyu yang sedang bosan pun mengedarkan perhatiannya pada teman-temannya. Mata Kyu tertarik pada Kangin yang sedang bermain dengan kipas angin di ujung ruangan sana.

Kyu pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Kangin. Dia meninggalkan PSP miliknya di atas meja bundar tersebut, dan itu merupakan pertama kalinya Kyu meninggalkan benda kesayangannya di sembarang tempat.

Saat ini Kyu sedang berdiri di samping Kangin. Melihati Kangin yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin tersebut. Kangin yang menyadari kehadiran Kyu pun menutup mulutnya dan menoleh ke arah Kyu.

“Wae?” Tanya Kangin merasa terganggu dengan kehadiran Kyu.

“Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu tertarik lalu membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

Kangin pun melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

“Aaaahh…” Suara mereka berdua menggema di dalam ruangan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Itu berbahaya.” Seru Yoona yang mendengar suara ‘Aaaahh’ dan berlari ke arah mereka berusaha menghentikan permainan mereka.

“Akh” Pekik Kangin kaget mendengar suara guru mereka.

“Hua~ Hua~” Jerit Kangin menangis. Lidah Kangin berdarah terkena baling-baling kipas yang sedang berputar tersebut.

“Tek” Yoona langsung menekan tombol berwarna merah untuk mematikan kipas angin tersebut. Sedangkan Kyu berdiri di samping Kangin dan melihati Kangin yang sedang menangis.

“Lain kali jangan bermain kipas angin lagi.” Ujar Yoona menasehati Kangin dan membawanya untuk diobati. Menjadi guru TK benar-benar repot. Batin Yoona lelah dengan tingkah laku anak-anak ini.

Kyu sendirian lagi. Padahal dia sangat senang saat bermain dengan Kangin tadi.

Yoona seonsongnim mengganggu saja. Batin Kyu kesal dengan gurunya itu.

Kyu berjalan kembali ke tempat duduknya, dan mengambil PSP yang ditinggalkannya di atas meja bundar tersebut.

Kyu hanya memegang PSP itu tanpa memainkannya. Pikirannya melayang. Apa saat ini Hyunji sedang belajar matematika?

Matematika? Benar, aku harus belajar matematika. Suatu saat nanti saat aku bertemu dengan Hyunji, dia pasti kaget kalau aku bisa mengerjakan soal matematika. Aku akan mengalahkannya agar dia kaget sampai mati. Hahahaha. Batin Kyu mengandai-andai.

>>>>Flashback End

 

–Author Pov–

“Apa benar kau itu Kyu si maniak game?” Tanya Hyunji meyakinkan.

“Ne, akhirnya kau ingat juga.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum ke arah Hyunji.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu?” Tanya Hyunji kesal.

“Itu salahmu. Kenapa dulu kau selalu menghindariku? Bahkan untuk melihat wajahku pun tidak.” Ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Itu semua salahmu. Kenapa kau menyenggol tanganku dan bilang pada Heechul seonsongnim bahwa aku menyenggol tanganmu dan meminta contekan padamu?” Seru Hyunji kesal mengingat kejadian dulu.

“Kau masih ingat kejadian itu rupanya.” Seru Kyuhyun ke arah Hyunji.

“Ne tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya semudah itu. Berkat seorang namja bernama ‘Cho Kyuhyun’ aku bisa mendapatkan nilai 35 di ujian matematikaku, dan itu adalah nilai terburuk dalam hidupku.” Sahut Hyunji masih kesal lalu melipat kedua tangan di dadanya.

“Aku menyenggol tanganmu agar kau mengingatku. Saat TK dulu kau juga menyenggol tanganku berulang kali hingga aku gagal mengalahkan musuh di PSP-ku” Ujar Kyuhyun memberi alasan.

“Tapi kenapa kau bilang pada Heechul seonsaengnim aku meminta contekan padamu?” Balas Hyunji tidak puas dengan alasan Kyuhyun.

“Aku hanya ingin sedikit bermain.” Ujar Kyuhyun polos.

“Sedikit bermain? Dan membuatku mendapat nilai 35?” Sindir Hyunji.

“35 cukup bagus.” Sahut Kyuhyun tersenyum dengan wajah innocent-nya.

“Huh~ Itu tidak terdengar seperti pujian” sindir Hyunji.

“Baiklah, aku akan minta maaf. Mianhae Hyunji-ah” Ujar Kyuhyun tulus.

Hyunji menyipitkan matanya menatap Kyuhyun sinis.

“Sulit sekali menerima maaf darimu. Kalau begitu aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” Bujuk Kyuhyun.

“Jinjayo?” Tanya Hyunji tertarik.

“Ne, setelah kau memenangkan pertarungan game denganku. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu ditambah kau bekerja menjadi sekretarisku. Tapi jika aku yang menang kau harus mengabulkan satu permintaanku juga ditambah kau tetap menjadi sekretarisku. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kyuhyun.

“Baiklah, aku mau. Bersiaplah untuk kalah tuan Cho.”  Ledek Hyunji.

“Percaya diri sekali kau.” Sahut Kyuhyun.

Mereka berdua pun bertanding game dengan laptop milik Kyuhyun.

“YA!!” Pekik Hyunji saat dia kalah melawan Kyuhyun di perterungan game tadi.

“Hahahaha. Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku semudah itu. sekarang kau harus mengabulkan permintaanku.” Pinta Kyuhyun.

“Kau ingin apa?” Tanya Hyunji malas.

“Aku ingin kau menjadi yeoja chinguku!”

^0^ The End ^0^

 

Kamus:

– Ne= ya, benar

– Anyeong= sapaan saat bertemu seseoorang, pamit, halo, selamat pagi/siang/sore/malam

– Mwo= apa

– Aniyo= tidak, bukan

– Namja= laki-laki

– Yeoja= perempuan

– Seonsaengnim= guru

– Gomawo= terimakasih

– Aigo= ya ampun, ya tuhan

– Omo= ekspresi kaget

– Chakkaman= tunggu

– Wae= kenapa

– Yeoja chingu/Namja chingu= pacar

– Eotteokhae= aku harus bagaimana?

– Jinjayo= benarkah?

Sebagian besar ff ini berisi fakta aneh member Super Junior. Itu semua karena author rindu banget sama Super Junior yang membernya masih 13 dan akan tetap selamanya 13 :’)

Oh ya, faktanya Hangeng emang punya tiga cabang restaurant ‘Meihua Dumplings’ di China, dan itu adalah usaha keluarganya. Dan faktanya SM itu emang bukan singkatan dari Soo Man, melainkan Star Museum.

^^ I’m Proud To Be ELF ^^

Facebook: Ni SanElf KangBum

Twitter: @ni_san47