My First and Only [ Part 4 ]

Image

 

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.” Kataku mantap. Aku sangat lega karena bisa mengatakan hal itu dengan mantap, walaupun pada kenyataan hatiku pecah berkeping-keping saat mengatakan hal itu.

“Ma-makasudmu?” tanya Eunhyuk terbata.

“Ya, lebih baik kita putus saja. Menurutku itu jalan terbaik. Kau pasti akan lebih bahagia dengan Ji Eun.” Jelasku dengan senyum dipaksa.

“Tapi kenapa begitu?”

“Aku sudah tahu semuanya kejadian tadi siang itu. Walaupun aku sedang menjalani hukuman tapi aku tahu jelas apa yang kau dan Ji Eun lakukan.” Jelasku lagi sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan air mataku. Jangan sekarang Jiyeong, kau tidak boleh menangis sekarang.

“Bahkan aku tahu maksudmu mengajakku untuk bicara, kau ingin memutuskanku kan? Karena kau sudah balikan kembali dengan Ji Eun?” tambahku.

“Aniya Jiyeong. Aku mengajakmu ke sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memutuskan hubungan denganmu.”

Aku tersenyum pahit mendengar penjelasan Eunhyuk barusan. Apa harus aku percaya dengan penuturan laki-laki di depanku ini? Menurutku tidak.

“Aku mengerti. Kau pasti hanya merasa tidak enak padaku. Nah sekarang, jalani kembali hubunganmu dengan Ji Eun, tidak usah pedulikan aku lagi.” Aku makin keras menggigit bibir bawahku. Menahan sekuat tenaga air mataku.

“Dan ohya terima kasih selama beberapa hari ini kau telah mengisi hariku. Terima kasih sudah menjadi teman pertamaku. Mulai sekarang tidak usah pedulikan diriku lagi, dan seriuslah dengan Ji Eun.” Lanjutku kemudian.

“Jiyeong-a, ta-tapi…”

“Aku pulang duluan. Annyeong Eunhyuk-ssi.” Setelah mengucap salam dan membungkukan badan, aku bergegas berbalik dan meninggalkan kafe ini secepat mungkin. Air mataku kini sudah jatuh membasahi pipiku. Dengan sigap aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kafe.

Setelah taksi yang aku berhentikan berhenti, aku segera masuk ke dalam dan menghempaskan diriku pada jok taksi. Kepalaku aku senderkan ke jendela dan mataku menatap kosong ke arah jalanan. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam taksi ini. Masa bodoh dengan tatapan aneh supir taksi itu. Yang penting aku bayar kan?

“Nona, aku harus mengantarmu ke mana?” tanya supir taksi itu.

Aku menyebutkan alamat rumahku dan kembali menatap kosong ke arah jalanan. Sontak seluruh kenangan-kenanganku ketika bersama Eunhyuk kembali mengusik pikiranku.

Kenapa akhirnya harus begini? Kenapa aku terlalu bodoh untuk menerimanya waktu itu? Kenapa aku dengan mudahnya jatuh cinta pada seorang Lee Hyuk Jae…

***

“Jiyeong-a, kau baru pulang?” tanya Hyuri ketika aku memasuki rumah. Kulihat ada Donghae juga disitu.

Aku tidak menggubris pertanyaan Hyuri dan langsung menuju kamarku di lantai dua.

“Jiyeong-a, kau kenapa?” tanyanya lagi.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Ya! Jiyeong-a! Sebenarnya kau kenapa? Ceritakan padaku!”

“Sejak kapan aku harus menceritakan padamu apa yang terjadi denganku hah?” sikap dingin kembali menguasai diriku.

“Tumben sekali kau muram begitu. sejak bertemu dengan Eunhyuk, aku tak pernah melihatmu mu…”

“Jangan sebut nama itu lagi di depanku. Dan jangan bertanya apapun mengenai laki-laki itu.”

“Ya kau bertengkar dengannya?”

“Tidak usah banyak tanya! Ikuti saja perintahku!”

Dengan gusar aku kembali melanjutkan langkah menuju kamarku. Dan membanting pintuku sekuat tenaga sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku melempar tasku ke sembarang tempat dan langsung membenamkan wajahku dalan bantal. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi hari ini.

 

Kim Hyuri’s POV

Hah kenapa sikapnya jadi kembali seperti dulu? Padahal aku sudah sangat senang dengan perubahan sikap Jiyeong padaku  akhir-akhir ini.

Aku berjalan lemah dan menghempaskan diriku di sofa tepat di sebelah Donghae oppa.

“Hyuri-ya~ aku yakin adikmu pasti ada masalah.” Ucap Donghae oppa lembut.

“Ne oppa. Aku juga yakin. Tapi aku tidak tahu masalahnya apa, sepertinya ini masalah yang serius.” Jawabku muram.

“Aisssh tidak usah menjadi muram begitu, cepat atau lambat dengan sendirinya kau pasti akan mengetahui masalah adikmu itu. Jadi jangan terlalu kau pikirkan.” Donghae oppa tersenyum dan membuatku kembali bersemangat.

“Aku rasa apa yang kau bilang barusan itu benar. Baiklah ayo kita mulai lagi mengerjakan tugas kita!” ucapku bersemangat.

“Nah ini baru Hyuri yang aku kenal.” Donghae oppa megacak rambutku yang membuat pipiku memerah karena malu.

Aku dan Donghae oppa mulai berkutat pada soal-soal fisika di hadapan kami. Sesekali Donghae oppa mengajariku karena memang aku lemah dalam bidang fisika. Ketika Donghae oppa ingin memulai penjelasannya, terdengar seseorang memencet bel yang mau tidak mau membuatku harus membukakan pintu.

“Oppa, aku bukakan pintu dulu ya?” ucapku pada Donghae oppa dan berjalan ke arah pintu.

“Annyeong noona. Apakah Jiyeong ada?” tanya Eunhyuk ketika aku membukakan pintu. Oh jadi Eunhyuk yang datang.

“Ne. Dia ada di dalam. Kau ingin bertemu dengannya?” tanyaku.

Aku melihat keraguan dari gelagat Eunhyuk ketika aku bertanya padanya.

“Sebenarnya ada masalah apa antara kau dengan Jiyeong? Kau tahu, hari ini dia pulang sambil menangis.” Kataku seraya menebak alasan dari gelagat keraguan Eunhyuk.

“Mianhae noona, tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu saat ini.” Rasa bersalah kentara sekali dalam nada bicara Eunhyuk.

“Ah begitu. Baiklah itu bukan menjadi masalah. Kajja masuk.” Aku mempersilakan Eunhyuk masuk dan langsung menyuruhnya ke lantai 2.

“Kau tahu kan di mana kamar Jiyeong? Apa perlu aku antar?” tawarku karena Eunhyuk terlihat bingung. “Atau kau merasa sungkan? Hhmm baiklah ayo aku antar.” Aku berjalan mendahului Eunhyuk menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a, ada Eunhyuk di sini. Lebih baik kau keluar untuk menemuinya.” Kataku sambil mengetuk pintu kamar Jiyeong.

Tidak ada jawaban. Aku yakin sekali Jiyeong ada di kamarnya dan dia tidak tidur. Makanya aku memperkeras ketukan pintuku.

“Jiyeong-a! Aku tahu kau tidak tidur. Ayo cepat keluar dan temui Eunhyuk. Selesaikan masalah kalian berdua sekarang.”

Lagi-lagi kesunyian yang membalasku. Jiyeong tetap bersikeras tidak mau keluar kamar atau sekedar menjawab.

“Noona kalau Jiyeong tidak mau menemuiku tidak apa-apa, bisa lain kali. Maaf telah merepotkanmu.” Eunhyuk merasa tak enak padaku.

Belum sempat aku membalas ucapan Eunhyuk, suara Jiyeong tiba-tiba terdengar dari dalam kamar.

“Tidak ada lain kali Eunhyuk-ssi. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menemuimu.”

Aku memandang Eunhyuk dengan tatapan kasihan. Pasti masalah mereka bukan masalah main-main ini pasti masalah serius.

“Noona, tidak usah memandangku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Maaf aku telah merepotkanmu. Aku pamit ya.” Kata Eunhyuk tiba-tiba.

“Ah ne mianhae. Kau hati-hati ya.” Ucapku sambil melihat kepergian Eunhyuk dari lantai 2.

Pasti masing-masing dari mereka saat ini merasakan sakit. Hah tapi apa yang bisa aku lakukan? Mungkin dengan tidak mencampuri urusan mereka itu lebih baik. Aku menuruni anak tangga dan kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda tadi.

 

Eunhyuk’s POV

ARGH. Aku mengacak-acak rambutku frustasi dan bebarapa kali menendangi kaleng kosong bekas minuman ke sembarang tempat.

Ini semua gara-gara gadis sialan itu! Andai saja dia tidak berbuat nekat seperti tadi, pasti tidak akan jadi begini.

Jiyeong-a, kenapa kau sampai memutuskanku seperti tadi? Apa kau tidak tahu aku sangat sedih sekarang hah? Dasar gadis bodoh! Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara tadi? Kenapa kau menarik kesimpulan bodoh seperti itu? Bukannya aku sudah bilang bahwa aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap Ji Eun? Jadi mana mungkin aku balikan kembali dengannya.

Tidak bisa aku pungkiri bahwa selama bebarapa hari ini, Jiyeong lah yang mengisi hariku. Walaupun dia suka bersikap jutek dan keras kepala, tapi itu sama sekali bukan masalah bagiku, malah itu menjadi daya tariknya.

Aku kembali terbayang bagaimana ekspresi mukanya yang ketakutan setengah mati ketika aku dipukuli oleh ahjussi-ahjussi tempo hari lalu. Bagaimana ekspresinya ketika dia cemburu karena aku memuji Ha Na. Dan……ketika aku mendengar degup jantungnya yang begitu keras saat aku menciumnya.

Kim Jiyeong, apakah sebegitu mudahnya untuk jatuh cinta padamu?

Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk sendiri. Dan ketika waktunya sudah cukup menurutku, aku akan menjelaskan semua padamu. Semoga saja kau mau mendengarkanku.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan lemas menuju pintu gerbang sekolahku. Setelah menangis semalaman membuat kepalaku sedikit pening. Dari kejauhan aku melihat Eunhyuk sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Sesekali dia mengedarkan padangannya hendak mencari seseorang. Dia pasti mencari Ji Eun.

Kini langkahku semakin dekat dengannya. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin ketika lewat di depannya.

Brug. Seseorang menabrak bahuku dari belakang.

“Aah.” Rintihku.

“Mianhae. Aku tidak sengaja.” Hah, kenapa pagi-pagi begini aku harus bertemu dengan Ji Eun? Menyebalkan sekali!

“Jelas-jelas kau sengaja.” Gerutuku dalam hati.

“Aku duluan Jiyeong-a!” ucap Ji Eun sok akrab denganku. Aku tidak membalasnya. Dan kembali menempatkan diriku dalam posisi awal sebelum Ji Eun menabrakku.

“Oppa, kau pasti menungguku kan? Aah aku bahagia sekali akhirnya kita bisa kembali seperti dulu lagi.”

Hatiku kembali terasa teriris mendengar ucapan Ji Eun barusan. Rupanya aku tidak salah mengambil keputusan, Eunhyuk pasti lebih bahagia sekarang dengan Ji Eun.

Aku berjalan melewati mereka berdua sambil menunduk. Tidak berani mendongak atau sekedar menyapa Eunhyuk dan Ji Eun. Terlalu sakit bagiku untuk melakukan hal itu.

*

Sampai di kelas aku menyadari sesuatu. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini aku duduk di sebelah Eunhyuk. Dengan ragu-ragu aku meminta pada Min Ra, teman sekelasku untuk bertukar posisi denganku.

“Min Ra-ya, bisakah aku duduk di kursimu? Kau bisa duduk di kursiku?” tanyaku ragu-ragu, khawatir Min Ra akan menolak permintaanku.

“Wae?” tanya Min Ra.

“Aku mengalami gangguan penglihatan, jadi kalau duduk di belakang, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dicatat songsaengnim di papan tulis.” Jawabku berbohong.

“Oh begitu. baiklah, kau bisa duduk di sini.” Balas Min Ra sambil merapikan barangnya dan pindah ke kursiku.

“Min Ra-ya, jeongmal gomawoyo.” Kataku.

“Ne.” Jawab Min Ra sambil tersenyum.

Aku duduk di kursi baruku. Tidak ada Eunhyuk di sampingku. Tidak ada lagi yang melindungiku dari songsaengnim ketika aku tidur di kelas. Ya, tidak ada lagi seorang Lee Hyuk Jae yang dulu menjadi teman pertamaku…

***

Hari-hari berikutnya aku jalani tanpa minat. Tidak ada seorang pun yang mampu menghiburku termasuk Hyuri. Hubunganku dan Eunhyuk semakin memburuk. Kami benar-benar sudah tidak saling bicara, tegur sapa pun tidak. Aku kembali menjadi sosokku yang dulu sebelum bertemu dengan Eunhyuk. Kembali menjadi seorang Kim Jiyeong yang dingin dan kasar. Akibat sikapku itu aku dijauhi oleh teman-teman sekelasku. Aku tak mempunyai seorang temanpun. Jika waktu istirahat tiba, aku ke kantin seorang diri, tidak jarang aku menjadi bahan ejekan teman-temanku sendiri. Tapi biarlah, daripada aku menjadi Kim Jiyeong yang lemah, lebih baik begini. Toh aku sudah terbiasa hidup sendiri. Hidup tanpa ada seorang pun yang peduli padaku.

***

Hari ini aku berjalan gontai menuju kelasku. Sambil tetap menunduk, aku kembali memutar ulang ucapan Hyuri tadi pagi.

Jiyeong-a hari ini eomma pulang. Aku harap kau tidak pulang malam, dan bisa sampai rumah sebelum eomma.

Baiklah, sekarang kehidupanku yang dulu benar-benar kembali. Aku mencelos dalam hati dan merutuki nasibku sendiri. Mengapa aku bisa begitu sial?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Lagi-lagi aku mencelos dalam hati. Benar, sekarang memang tidak ada dan tidak akan ada yang peduli padaku. Dengan lemas, aku duduk di kursiku, dan merebahkan kepalaku di meja. Semalam aku tidur larut lagi, sehingga lagi-lagi aku mengantuk di kelas. Doaku hari ini hanya, semoga aku tidak akan tertidur di kelas.

“Kim Jiyeong, apa sekarang rumahmu sudah pindah hah?” suara berat songsaengnim membangunkanku. Astaga! Ternyata tadi aku tertidur. Tapi kenapa tidak ada yang membangunkanku?

“Ng…ng…maafkan aku songsaengnim. Aku sangat mengantuk tadi.” Jawabku.

“Jadi kalau kau mengantuk, kau boleh tidur seenaknya, begitu?”

“Aniyo, aku tidak bermaksud begitu. Aku…”

“Keluar sekarang. Berdiri di depan kelas sampai pelajaranku selesai. Enak saja kau tidur di saat jam pelajaranku.”

“Songsaengnim…tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian! Cepat keluar! Aku tidak suka pada siswa yang menyepelekan pelajaranku!”

Hah, rupanya doaku tidak terkabul. Aissshhhh dasar menyebalkan! Aku kan hanya tidur sebentar, kenapa malah dibilang menyepelekan pelajarannya? Tidak masuk akal.

Aku berdiri di depan kelas dengan tampang kesal, masih setengah tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan songsaengnim padaku.

“Ini peringatan juga bagi kalian. Tidak ada yang boleh tidur atau tertidur lagi pada jam pelajaranku! Dan sekarang, jika di antara kalian, ada yang mengantuk cepat keluar temani Jiyeong!” perintah songsaengnim yang terdengar samar-samar dari luar.

Errrrr dasar seenaknya saja! Cih, apa semua guru zaman sekarang itu seperti itu?

Cklek. Terdengar pintu suara ditutup. Mwoya? Jadi ada yang tertidur juga di kelas selain aku? Atau dia mengantuk? Hah terserahlah, aku tidak peduli.

“Kau tidur larut lagi semalam?” suara khas milik seseorang yang sudah sangat kukenali itu tiba-tiba memenuhi ruang pendengaranku. Aku hanya mematung dan tidak berani menoleh, karena aku tahu siapa si pemilik suara itu.

“Apa jangan-jangan kau juga tidak sarapan lagi pagi ini?” tambahnya.

Aku memicingkan mataku. Darimana dia tahu semua kebiasaanku itu?

“Kenapa kau ada di sini?” aku melontarkan pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan. Tetap kesan dingin yang masih menguasai diriku.

“Dihukum, sama sepertimu.” Jawabnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Jiyeong-a.” Lanjutnya.

“Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu.”

“Jadi, aku harus memanggilmu bagaimana?”

“Seperti saat kau pertama kali bertemu denganku. Mengerti?”

“Kau pasti bercanda. Shireo! Aku tidak mau.”

“Kalau begitu ini terakhir kali, kau bicara denganku. Kau tahu? Aku sangat ingin muntah jika mendengarmu memanggilku seperti itu.”

Keadaan hening sesaat. Aku tahu omonganku barusan memang sangat kasar, tapi untuk kali ini aku tidak akan minta maaf. Aku rasa aku tidak salah jika mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan.

“Ternyata, Hyuri noona benar. Kau kembali seperti dulu.” Tukasnya kemudian.

“Lalu? Pedulimu apa?”

“Jiyeong-a, tak bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu? Kau itu salah paham.”

“Apa yang harus dijelaskan lagi? Kau pikir, aku ini anak kecil yang bisa mudah salah paham hah?”

“Jiyeong-a…”

“Jiyeong-ssi.” Tukasku tajam.

“Jiyeong-ssi, apa kau tahu? Setiap hari Hyuri noona selalu bercerita padaku mengenai keadaanmu. Kau selalu pulang malam dan tidur larut kemudian keesokan paginya kau selalu tidak sarapan karena bangun kesiangan. Kau juga kembali menjadi sosok yang dingin…”

“Lalu? Apa itu masalah buatmu?”

“Tentu saja. Hyuri noona selalu mendesakku untuk segera menyelesaikan salah paham di antara kau dan aku. Dia bilang, dia sedih melihat adiknya menjadi sosok yang dingin dan keras kepala.”

“Jadi kau terganggu? Baiklah aku akan bilang pada Hyuri, bahwa mulai sekarang, dia tidak usah untuk mendesakmu lagi dan bercerita hal yang tidak penting padamu. Ohiya, tapi apa kau bisa tolong katakan padanya, bahwa aku memang seperti ini dari dulu. Dingin dan keras kepala, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkanku.”

“Jiyeong-a!” teriak Eunhyuk frustasi.

Aku menahan tangisku yang sudah ingin pecah dari tadi. Alih-alih untuk mencegah tangisku, aku mengiggit bibir bawahku dan mencoba bertahan sampai setidaknya pelajaran songsaengnim menyebalkan itu selesai.

“Jiyeong-a, aku mengerti keadaanmu saat ini, makanya aku membiarkanmu untuk sendiri. Tapi, jika aku rasa waktunya sudah cukup, giliran kau yang membiarkanku untuk menjelaskan semuanya padamu.”

Tidak ada jawaban iya atau sekedar anggukan kepala dariku. Aku hanya menganggap ucapan Eunhyuk barusan hanyalah angin lalu.

“TENG!!!”

Bel berbunyi satu kali. Akhirnya hukuman bodoh ini berakhir juga. Cepat-cepat aku masuk ke kelas dan meninggalkan Eunhyuk. Ini yang aku tunggu-tunggu dari tadi, bel tanda pelajaran pertama usai berbunyi.

“Ya! Eunhyuk-a! Kenapa kau tadi berbohong pada songsaengnim? Aku tahu kau tadi tidak mengantuk kan? Aku saja melihat wajahmu segar begitu.” aku mendengar Min Ra yang sekarang duduk di kursiku dulu, bertanya pada Eunhyuk.

“Aissshh bukan urusanmu. Sudah diam saja.” Jawab Eunhyuk.

Mwo? Jadi dia tadi hanya berpura-pura? Cih, apa maksudnya?

***

Hari ini eomma pulang. Apa aku harus menuruti permintaan Hyuri dengan pulang lebih awal? Hah aku rasa tidak, lebih baik aku menghabiskan waktuku di toko kaset langgananku.

Krieet. Aku membuka pintu toko kaset itu perlahan dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Baguslah hari ini tidak terlalu ramai. Aku segera menuju rak musik pop barat dan mencari-cari siapa tahu ada kaset yang bagus.

Drrt…drrt…

Ponselku bergetar. Aku berani jamin bahwa yang menghubungiku adalah Hyuri. Pasti dia ingin mennyuruhku untuk segera pulang.

Drrt…drrt…

Aissshh bisa tidak sih dia membiarkanku melakukan apa yang aku mau?

Drrt…drrt…

Kim Hyuri menyebalkan! Apa dia tidak tahu apa maksudku? Kenapa dia malah terus menelfonku?!

Tak lama setelah itu, ponselku berhenti bergetar. Tapi sebuah pesan baru masuk. Si pengirim sama dengan yang menelfonku itu. Kim Hyuri.

Jiyeong-a! Kau di mana? Kenapa tidak menjawab ponselku? Cepat segera menyusulku di Rumah Sakit Internasional Seoul! Eomma kecelakaan.

Deg. Tubuhku membeku membaca pesan dari Hyuri. Eomma….kecelakaan? Aku kalang kabut. Bagaimana bisa eomma kecelakaan? Aku berlari keluar toko kaset dan segera memanggil taksi. Ya Tuhan kenapa bisa jadi begini? Kenapa eomma bisa kecelakaan?

***

“Hyuri! Di mana eomma? Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?” tanyaku panik saat tiba di rumah sakit.

“Eomma…ada di ruang Unit Gawat Darurat sekarang.” Jawab Hyuri lemah.

“Ya! Aku tanya apa dia baik-baik saja?!”

“Aku tidak tahu. Begitu aku tiba di sini, eomma sudah berada di dalam sana.” Tangis Hyuri mulai terdengar.

“Tapi…….bagaimana bisa?”

“Mobil yang eomma tumpangi menabrak sebuah truk. Supir yang saat itu bersama eomma, tewas di tempat.”

Aku lemas mendengar jawaban Hyuri. Kalau sang supir saja bisa sampai tewas seketika, berarti kecelakaan itu parah. Berarti…….eomma?

Bruk. Aku terduduk lemas di lantai. Pandanganku mulai kabur. Butiran-butiran bening mulai menghiasi mataku. Aku takut sesuatu terjadi pada eomma. Aku tidak mau dia sampai kenapa-kenapa.

“Jiyeong-a, jangan duduk di situ, ayo bangun.”

“Hyuri tolong katakan padaku, apakah separah itu kecelakaan yang dialami eomma?”

“Mungkin. Karena…….aku melihat mobil yang eomma tumpangi ringsek.”

“Hyuri! Kau pasti berbohong kan?!”

“Aniya, aku tidak berbohong! Aku serius. Aku tahu, kau juga pasti khawatir dengan eomma kan, makanya lebih baik sekarang kita berdoa bersama untuknya.”

Hyuri membantuku untuk berdiri dan mendudukkanku di salah satu bangku di ruang tunggu.

“Aku tidak apa-apa.” Ucapku karena melihat kekhawatiran di muka Hyuri. “Kau kembali ke tempatmu saja, biar aku di sini.” Tambahku lagi.

Hyuri menuruti perintahku. Ia segera kembali ke tempatnya, dan aku lihat dia menangis sesegukan di pelukan  Donghae.

Hah miris sekali. Di saat Hyuri mempunyai sandaran ketika ia sedang bersedih seperti ini, aku malah tidak punya siapa- siapa di sampingku. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke ruang tepat di mana eomma berada sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dokter tak kunjung keluar untuk memberi tahu keadaan eomma?

“Tidak usah menangis lagi. Eomma mu pasti tidak apa-apa. Ini pakailah sapu tanganku untuk menghapus air matamu itu.” Ucap seseorang sambil menyodorkan sapu tangannya ke arahku.

Aku mendongak dan mendapati Eunhyuk di depanku. Aku bingung, kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku?

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku dingin bercampur dengan isak tangis.

“Kurasa itu bukan pertanyaan yang penting untuk aku jawab sekarang kan?”

“Lalu, mau apa kau di sini?”

“Aku ingin menemanimu. Aku tidak bisa melihatmu begitu rapuh Jiyeong-a.” Jawab Eunhyuk terang-terangan.

“Tapi aku tidak butuh dirimu. Aku bisa menghadapi ini seorang diri. Jadi lebih baik kau pulang saja.” Tolakku.

“Tch, kau memang keras kepala Jiyeong-a. Tapi apa kau tahu? Aku lebih keras kepala darimu, jadi aku akan tetap di sini, bersamamu.”

Eunhyuk segera mengambil posisi tepat di sebelahku. Aku tidak tahu mengatakan apa pada laki-laki di sebelahku ini. Dia memang benar-benar keras kepala.

“Terserah. Asal kau tidak mengangguku, itu tidak menjadi masalah.”

Hening kemudian. Aku dan Eunhyuk sama-sama tidak mengatakan sepatah kata pun. Ya aku memaklumi hal ini, mungkin saja dia merasa canggung bicara denganku, karena akupun juga merasa canggung berbicara dengannya.

“Apa kalian keluarga dari Nyonya Kim?” tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang Unit Gawat Darurat.

Aku nyaris berlari menghampiri dokter itu. Begitupun dengan Hyuri.

“Ya, benar, kami anaknya.” Jawab Hyuri.

“Kondisi ibu kalian kritis. Beliau mengalami benturan cukup keras di kepalanya. Jadi untuk malam ini dia akan berada di ruang ICU sampai masa kritisnya usai. Kalian berdoalah untuk keselamatan ibu kalian.” Jelas dokter itu.

Aku hanya terperangah mendengar penjelasan sang dokter. Tanpa sadar, tubuhku setengah limbung, tapi Eunhyuk dengan sigap menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

“Tapi dokter, apa boleh kami melihat ibu kami?” tanya Hyuri.

“Maaf, tapi selama ibu kalian berada di ruang ICU, kalian tidak boleh melihatnya.” Jawab sang dokter.

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak.” Ucap Hyuri pasrah.

Sedetik kemudian, pemandangan yang aku lihat adalah, tubuh eomma yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu, dibawa keluar dari UGD menuju ruang ICU. Hyuri yang daritadi tampak tenang, kali ini tampak tidak bisa menahan tangisnya.

“Hyuri-ya, tenanglah. Lebih baik sekarang kita berdoa saja, aku yakin eomma mu pasti bisa lewat dari masa kritisnya.” Ucap Donghae menenagkan sambil menghapus air mata Hyuri.

“Oppa, tapi aku sangat cemas dengan kondisinya sekarang ini.”

“Kau percaya dengan kekuatan doa kan? Apalagi doa seorang anak, pasti akan didengar oleh Tuhan. Sudah ya kau jangan menangis lagi.”

Aku melihat sepasang kekasih itu dengan tatapan tak bisa dibaca. Jujur dari dalam hatiku, aku merasa iri pada Hyuri. Ia mempunyai seseorang yang bisa membuatnya tenang dalam kondisi seperti ini. Tapi segera kutepis perasaanku. Di saat seperti ini, bukan saatnya untuk mempunyai perasaan seperti itu kan?

“Hhm, maaf aku ingin ke toilet sebentar.” Kataku tiba-tiba.

“Ne, Jiyeong-a. Tapi cepat kembali, jangan lama-lama.” Ucap Hyuri yang kini sudah terlihat lebih tenang.

“Biar aku antar.” Ucap Eunhyuk.

“Tidak usah.” Jawabku kemudian dan aku segera pergi ke toilet.

*

Sebenarnya aku ke toliet bukan karena ingin buang air kecil ataupun buang air besar, entah kenapa rasanya aku ingin ke toilet dan menumpahkan tangisku di sini. Dan mungkin keberuntungan sedang berpihak padaku kali ini. Toilet ini benar-benar kosong dan hanya ada aku seorang.

Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin besar yang ada di toilet itu. Betapa menyedihkannya diriku ini. Sudah kehilangan seseorang yang berarti penting, sekarang eomma mengalami kecelakaan. Apakah tidak bisa keadilan berpihak padaku? Kenapa ini semua terjadi hanya dalam jentikan jari saja? Aku menutup mataku dan bulir-bulir bening, aku rasakan mulai membasahi pipiku. Tuhan, aku mohon selamatkan eomma, tolong jangan biarkan dia pergi, karena kalau itu sampai terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku, aku akan selamanya menjadi anak yang durhaka. Air mataku semakin deras mengalir, memikirkan semua sikap dan perilaku burukku pada eomma selama ini, hingga ada sebuah suara yang menginterupsiku.

“Mau sampai kapan kau terus di dalam? Cepat keluar. Jadi yang kau bilang sebentar itu 15 menit hah?”

Tidak usah dicari tahu siapa pemilik suara itu, sudah pasti itu Eunhyuk. Dan lagi-lagi dia muncul di saat yang menurutku tidak tepat.

“Mau apa kau? Ini toilet wanita.” Tukasku.

“Aku tahu. Tapi aku tidak akan segan-segan masuk ke dalam, jika dalam hitungan ke-3 kau tidak juga keluar.” Ancamnya.

Aku mendengus kesal karenanya. Kalau aku keluar sekarang, keadaanku sangat menyedihkan untuk dilihat, tapi kalau tidak, sepertinya dia benar-benar nekat untuk masuk.

“1…2…” Eunhyuk memulai hitungannya. “Ini sudah hitungan kedua Jiyeong-a, aku benar-benar serius dengan ucapanku.” Tambahnya.

Sebelum dia menyelesaikan hitungannya dan bersiap-siap masuk ke dalam toilet, aku keluar dan mendapatinya tepat di depan pintu toilet.

“Aku sudah keluar. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal bodoh dan memalukan itu.”

“Aissshh aku akan melakukan hal itu, kalau kau tidak keluar Jiyeong-a.”

“Terserah kau saja.” Ucapku acuh tak acuh dan mulai berjalan meninggalkannya.

“Jiyeong-a tunggu sebentar!” cegah Eunhyuk sambil mengahampiriku. “Ikut aku.” Katanya lagi sambil menarik tanganku.

Aku tidak berontak ataupun mencoba melepaskan diri, seperti yang biasa aku lakukan kalau Eunhyuk tiba-tiba menarik tanganku. Aku hanya pasrah dan mengikuti ke mana laki-laki ini pergi membawaku.

*

“Sudah sampai.” Kata Eunhyuk dan segera duduk di kursi yang tepat berada di depanku dan Eunhyuk.

Aku mengikutinya dan duduk di sebelah Eunhyuk. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Ini taman yang terletak di belakang rumah sakit yang biasa digunakan pasien untuk berjalan-jalan atau sekedar menghirup udara segar.

“Kemarilah, mendekat padaku. Kau seperti orang lain saja.” Katanya sambil menarikku mendekat.

“Untuk apa?” tanyaku menggantung.

“Ne?” tanyanya bingung.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?”

“Kau lihat kan pasien yang ada di bawah pohon itu? Menurutmu sedang apa dia di sini?”

“Entahlah.” Sambil menatap kosong ke arah yang ditunjuk Eunhyuk.

“Meskipun kondisi kalian berbeda, dia sakit dan kau sehat, tapi aku yakin perasaan kalian sama. Kau dan pasien itu sama-sama sedang sedih dan membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur.”

“Kau tahu darimana dia sedang sedih?” tanyaku yang seolah ingin mengatakan bahwa ia sok tahu.

“Kau tidak lihat? Raut wajahnya itu yang memberi tahuku.”

“Nah itu lihat lagi, ada seseorang yang mengahmpirinya! Pasti orang itu yang akan menghiburnya!” ucap Eunyuk antusias.

“Ya! Tidak usah mengurusi orang lain! Dasar sok tahu! Bisa saja itu salah seorang suster yang ingin membawanya kembali ke dalam.”

“Aniyo Jiyeong-a, apa kau tidak lihat, wajah pasien itu berubah menjadi ceria ketika orang itu datang. Pasti dia orang yang penting bagi pasien itu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Jiyeong-a, apa aku tidak penting bagimu? Mengapa saat aku datang, kau malah menyuruhku untuk pulang?” Eunhyuk bertanya sambil tetap menatap kedua manusia yang tiba-tiba menjadi objek perbincangan aku dan Eunhyuk.

Mungkin memang kau sangat penting bagiku, tapi akulah yang terlalu bodoh untuk tidak bisa menyadari betapa pentingnya dirimu.

“Aku tahu, kau di toilet tadi itu menangis kan? Kenapa kau bahkan tidak mau menangis di depanku? Padahal aku ingin seperti Donghae yang menghapus air mata Hyuri noona ketika dia menangis.”

“Aku…aku…” Aku hanya tidak ingin melihatmu ikut bersedih karena aku menangis.

Sedetik kemudian, Eunhyuk sudah merangkulku dan kini aku sudah berada dalam pelukannya. Hangat tubuh ini….ah sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakannya.

“Sekarang kalau kau ingin menangis, menangislah sesuka hatimu. Dulu aku sudah berjanji kan bahwa akan bersedia meminjamkan bahuku untuk kau menangis?” ucapnya lembut.

Mungkin jika aku dalam keadaan normal, aku akan mendorong tubuhnya dan menjauh darinya saat ini juga. Tapi yang aku lakukan malah sebaliknya. Aku malah memperat pelukannya dan menangis sekencang-kencangnya.

Hanya menangis, itu saja yang aku lakukan. Aku tidak berkata sepatah kata apapun, karena aku yakin, Eunhyuk juga pasti mengerti perasaanku. Eunhyuk mengelus punggungku pelan untuk memberi ketenangan padaku. Setelah aku rasa cukup, aku menjauhkan diriku darinya, tapi masih dalam keadaan sesegukan.

“Kau sudah merasa baikan sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Baguslah. Setidaknya aku bisa sedikit menghiburmu.” Ucap Eunhyuk sambil tersenyum. Senyum yang selalu aku suka itu.

“Gomawo.”

“Tidak usah berterima kasih begitu padaku Jiyeong-a, aku senang bisa membantumu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Andai peristiwa itu tidak pernah terjadi, pasti senyumku akan lebih lebar daripada ini.

“Ya! Kau kedinginan! Ini pakai jasku.” Ucap Eunhyuk sambil melepaskan jaketnya dan memasangkannya di tubuhku.

Ah memang angin bertiup kencang malam ini, tapi entah kenapa aku tidak merasakan apapun.

“Kau tidak sadar kau menggigil daritadi?”

“Tidak. Karena aku tidak merasakan apapun.” Jawabku jujur.

“Aissssh dasar kau ini.” Ucapnya sambil mengacak rambutku dan pandangannya mulai menjelajahi sekitar.

Aku melirik ke arah Eunhyuk. Dia bodoh atau apa sih? Dia sendiri menggigil seperti itu, tapi malah memberikan jasnya padaku.

“Ya! Kau mau akting sok kuat di depanku hah?”

Eunhyuk menyipitkan matanya, tanda tak mengerti dengan maksudku.

“Hah, ternyata belum berubah juga. Ini jasmu. Kau juga kan kedinginan, kenapa malah memberikannya padaku?” kataku sambil melepas jasnya.

“Aniyo, kau saja yang pakai itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Cih, dasar sok kuat.” Dengan nada mengejek aku mengatakan hal itu dan kemudian mengembalikan jas miliknya.

“Ya!” teriak Eunhyuk tak terima.

“Aku tidak akan mau tanggung jawab kalau nanti kau mati kedinginan di sini.”

“Aissshh, sudahlah sini mendekatlah padaku, biar kita berdua sama-sama merasa hangat.” Eunhyuk menarikku agar lebih mendekat padanya.

Aku tersenyum simpul karena sikapnya. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke atas bahunya.

“Jiyeong-a?” tanya Eunhyuk yang agak sedikit terkejut karena sikapku ini.

“Aku pinjam bahumu lagi untuk malam ini. Sudah jangan cerewet.”

Bisa aku rasakan ia tersenyum mendengar jawabanku. Terima kasih Tuhan, setidaknya Kau telah memberiku sedikit kenyamanan dan ketenangan melalui orang di sampingku ini.

Aku masih dalam posisiku sekarang, ketika tiba-tiba ponselku bergetar. Aishhhh siapa sih yang berani mengangguku di saat seperti ini? Hyuri? Aku bangkit dari posisiku yang menyandar pada Eunhyuk dan menjawab ponselku tanpa melihat siapa yang menelfon.

“Yoboseyo? Nuguseyo?”

“…”

“Ji-ji eun-ssi?” kataku terbata karena terkejut.

“…”

“Ya. Ada apa?” Aku berhasil mengatasi keterkejutanku dengan kembali bersikap dingin.

“…”

“Tenang saja, aku tidak akan lupa. Baik akan kuberi ponselku padanya.”

Aku memandang Eunhyuk sesaat yang daritadi hanya menatapku bingung.

“Dia ingin bicara padamu. Lain kali angkat telfonnya, jadi dia tidak harus menelfonku.” Kataku sambil menyerahkan ponselku pada Eunhyuk dan beranjak pergi.

“Ini ponselmu. Aku tidak mau bicara dengannya.” Piip terdengar Eunhyuk memutuskan sambungan telfon dan mengembalikan ponselku.

“Kita ke dalam sama-sama.” Lanjutnya lagi sambil menggandeng tanganku untuk kembali masuk ke dalam.

Aku hanya melongo melihat sikapnya itu. Dia memutuskan sambungan telfon begitu saja? Hhhm ani, bahkan dia tidak mau mengangkat telfon dari Ji Eun? Kenapa? Apa jangan-jangan selama ini apa yang aku pikirkan tentang mereka salah? Aissshh itu tidak mungkin! Ya! Kim Jiyeong kau berpikir apa? Kau tidak ingat apa yang tadi Ji Eun katakan? Tiba-tiba saja ucapan Ji Eun di telfon tadi, terulang dengan lancarnya di otakku.

Jiyeong-a meskipun sekarang kau bersamanya, tapi kau tidak boleh lupa, bahwa selamanya Eunhyuk adalah milikku…”

“Jiyeong-a, kau darimana saja? Tadi katanya hanya ke toilet sebentar.” Suara Hyuri tiba-tiba mengembalikan kesadaranku.

“Tadi aku jalan-jalan sekitar rumah sakit ini, mencari udara segar.” Jawabku.

“Aaah begitu. Yasudah aku dan Donghae oppa ingin membeli makanan dulu ya, kalian berdua pasti sudah lapar kan?”

“Hhhmm.” Jawabku singkat.

“Baiklah. Ah Eunhyuk-a, titip adikku sebentar ya!” tambah Hyuri.

“Ya! Kau pikir aku anak kecil?!” teriakku tak terima.

“Aisshh jangan berteriak-teriak seperti itu, nanti pasien lain bisa terganggu. Baik-baik, aku minta maaf.”

“Tch, sudah sana pergi. Aku sudah lapar.”

Hyuri tak membalas ucapanku dan langsung melesat pergi bersama pacaranya itu. Dalam sekejap, mereka sudah tak tampak lagi oleh indera penglihatanku. Tinggalah aku berdua dengan Eunhyuk di ruang tunggu rumah sakit ini. Rasanya aku ingin sekali bertanya padanya, kenapa dia tadi memutuskan sambungan telfon begitu saja. Tapi aku mengurungkan niatku. Lebih baik aku diam saja, pikirku saat itu.

“Kau tidak mau bertanya kenapa tadi aku tidak mau bicara dengan Ji Eun?” tanya Eunhyuk yang memecah keheningan selama sesaat.

“Tidak. Itu bukan urusanku.” Jawabku ketus.

“Padahal jika kau bertanya, aku akan menjelaskannya dengan senang hati. Bahkan tanpa di tanya pun aku akan menjelaskannya padamu.”

“Tidak perlu, aku tidak mau tahu alasannya kenapa.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika Ji Eun menelfonmu lagi dan ingin bicara padaku, langsung saja kau matikan ponselmu, arra?”

Entah kenapa tapi ada perasaan senang yang menggelitik hatiku. Benarkah yang aku dengar barusan? Ah aku tidak peduli apapun alasannya.

“Arra.” Jawabku singkat.

Keheningan lagi-lagi yang menguasai suasana. Aku bingung memilih topik pembicaraan yang pas untuk saat ini, dan pada akhirnya aku menyerah dan hanya bisa berharap semoga Hyuri cepat kembali.

5 menit…10 menit berlalu, dan Hyuri masih belum kembali juga. Aku hampir putus asa dengan suasana seperti ini. Kecanggungan yang aku rasakan begitu besar. Errrghhh ayolah Kim Hyuri cepat kembali, pintaku putus asa.

5 menit lagi berlalu dan akhirnya permintaanku terkabul. Hyuri sudah kembali.

“Ya, mianhae membuat kalian menunggu lama. Tadi antriannya sangat panjang.”

“Lain kali, cari saja kedai makanan yang sepi, jadi aku tak harus menunggumu seperti tadi. Kau tahu? Aku nyaris mati kelaparan.” Kataku sedikit berbohong.

“Bukannya aku tidak mencari tempat lain, ini sudah malam Jiyeong-a, kebetulan kedai makanan yang masih buka hanya ini saja.”

“Aisshh yasudahlah terserah. Mana makananku?”

“Ini.” Jawab Hyuri sambil menyerahkan bungkusan ke arahku. “Ohya, dan ini untukmu Eunhyuk-a.” Tambah Hyuri.

“Gomawo noona.” Balas Eunhyuk dan menghampiriku yang sudah duduk duluan tanpa mengucapkan apa-apa pada Hyuri.

Aku membuka bungkusan itu dengan tidak sabar. Kalau aku bilang tadi aku nyaris mati kelaparan, sebenarnya itu tidak sepenuhnya bohong, karena aku benar-benar lapar. Aku tergelak mendapati apa isi bungkusan itu. Mie ramen. Makanan yang selalu aku hindari karena selalu mengingatkanku dengan Eunhyuk. Dan sekarang, aku memakan makanan ini tepat di sebelahnya?

Aku yang awalnya sangat tidak sabar untuk menyantap makanan, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Tapi aku tetap saja menyuapkan ramen itu ke mulutku. Belum selesai kerongkonganku berhasil memasukan ramen itu ke dalam lambungku, aku sudah menyuapkan lagi ramen itu ke dalam mulutku.

“Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.”

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?”

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!”

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~”

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?”

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kenangan itu muncul lagi dipikiranku hah? Alih-alih untuk mengilangkan pikiran itu, aku kembali dengan nafsunya menyuapkan ramen ke dalam mulutku.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” kata Eunhyuk memperingatiku.

Kata-kata itu…sama persis dengan apa yang dikatakannya waktu itu. Aku tidak menggubris peringatannya dan tetap pada kegiatanku.

“Kim Jiyeong! Aku bilang jangan seperti itu! Nanti kau bisa tersedak!”

“Berisik!” jawabku dengan mulut penuh.

“Mulutmu itu sudah penuh, jangan kau masukkan ramen itu lagi ke dalam mulutmu, sebaiknya kau telan dulu.” Kata Eunhyuk sambil mengambil sumpit yang aku pegang agar aku tidak menyuapkan ramen lagi ke dalam mulutku.

“Kembalikan! Aku mau makan!”

“Tidak sebelum kau telan dulu ramen yang ada di mulutmu itu!”

Aku bingung harus melakukan apa, tapi tiba-tiba, aku melihat sumpit milik Eunhyuk yang sedang tidak terpakai. Segera saja aku mengambilnya, dan kembali memakan ramenku.

“Ya! Kim Jiyeong! Sebenarnya kau kenapa hah?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap pada kegiatanku. Kalau orang lain melihat apa yang aku lakukan saat ini, mungkin orang itu akan menyangka, bahwa aku ini monster yang sudah tidak diberi makan selama berhari-hari.

“Uhuk…uhuk…uhuk…” Aku nyaris kehabisan nafas karena tersedak. Argghh aku sekarang malah tampak seperti orang bodoh. Lihat kan? Sampai Hyuri dan Donghae pun melihat ke arahku.

“Kau tidak apa-apa? Ini minumlah.” Kata Eunhyuk sambil menyodorkan sebotol minuman padaku.

Aku mengambil botol itu dan segera meneguk air itu secepat mungkin. Rasanya tersedak itu benar-benar tidak enak.

“Aku sudah memperingatimu dari awal kan? Kau sendiri yang tidak mendengarnya. Sekarang rasakan akibat ulahmu sendiri.”

“Tch, kalau kau tidak tulus, tidak usah memberiku minum!” bentakku yang sudah berhasil menelan seluruh ramen yang tadinya memenuhi rongga mulutku.

“Kau sudah aku bantu, malah membentakku.”

“Siapa yang suruh kau membantuku hah?”

“Memang tidak ada! Tapi apa aku akan diam saja melihatmu seperti itu?!” Eunhyuk sedikit menaikan nada suaranya sehingga terkesan dia membentakku.

Aku menunduk karena merasa menyesal. Baiklah aku akui aku salah kali ini. Harusnya aku berterima kasih padanya, bukan malah membentaknya seperti tadi.

“Maaf.” Ucapku pelan.

“Bukan maaf, tapi terima kasih.” Ralatnya.

Aku menarik nafasku sesaat dan mencoba mengatakan kalimat singkat itu. “Terima kasih.” Kataku akhirnya sambil tetap menunduk.

Eunhyuk mengangkat daguku dengan lembut sehingga kepalaku terangkat dan kini aku bisa memandang wajahnya.

“Itu baru benar.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku salah tingkah dibuatnya. Harusnya tadi aku tetap menunduk. Arrgghh tidak adakah hal di dunia ini yang bisa aku lakukan dengan benar?

“Ya! Ini makan punyaku saja.” Kata Eunhyuk.

Ah iya aku lupa ramenku tadi tidak sengaja terjatuh, karena saat tersedak tadi, aku kelimpungan mencari air minum.

“Tidak usah. Aku sudah kenyang.”

“Kau yakin sudah kenyang?” tanya Eunhyuk sangsi.

“Ne. Nikmati saja ramenmu itu.” Jawabku yakin.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk. Dan Eunhyuk pun mulai melanjutkan makannya lagi.

***

Jam 02.00 dini hari. Haaaah kapan malam yang panjang ini akan berakhir? Sudah berulang kali aku mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku terus-terusan memikirkan eomma yang sekarang terbaring sendirian di ruang ICU. Aku melirik ke arah Hyuri. Ah rupanya dia sudah tidur. Ya! Apa-apaan dia itu? Kenapa membuat orang iri saja? Bayangkan saja, dia tidur dipangkuan Donghae. Aisshhh dasar.

“Kau belum tidur?”

“A-aku membangunkanmu ya? Maaf.” Ujarku tak enak.

“Tidak juga. Sebenarnya aku juga tidak benar-benar tertidur.”

“Kalau begitu, lanjutkan lagi saja tidurmu, siapa tahu kau benar-benar akan tertidur sekarang. Aku janji tidak akan membangunkanmu lagi.”

“Kau sendiri kenapa sampai sekarang belum tidur? Itu lihat kakakmu sudah tertidur pulas daritadi.”

“Aku tidak bisa tidur. Aku…….selalu memikirkan eomma ketika aku mencoba untuk memejamkan mataku.” Jawabku lemah.

“Jadi karena itu kau tidak bisa tidur? Jiyeong-a dengarkan aku. Seorang ibu adalah sosok yang kuat, jadi eomma mu pasti akan berhasil melewati masa kritisnya. Apalagi kau dan Hyuri noona sudah berdoa untuknya kan? Tenang saja pasti Tuhan akan mendengar doamu dan Hyuri noona.”

Aku menatapnya sangsi. Apakah benar apa yang dikatakannya?

“Kau meragukanku? Baiklah, akan aku beri bukti. Begini, kau pasti tahu kan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya?”

Aku mengangguk,”Ya aku tahu.”

“Nah, kau juga pasti tahu bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan dan taruhannya adalah nyawa? Ibumu sudah berhasil melalui masa yang menyakitkan dan mempertaruhkan nyawanya itu demi melahirkan kau dan Hyuri noona, jadi dia pasti bisa melewati masa kritisnya malam ini. Lagipula aku yakin, ibumu tidak akan mau pertaruhan nyawanya menjadi sia-sia waktu itu, jadi dia pasti akan kembali sadar.”

Aku benar-benar terharu mendengar apa yang Eunhyuk katakan. Tidak aku sangka laki-laki dihadapanku ini bisa mengatakan hal mengharukan seperti itu.

“Kau benar Eunhyuk-a. Eomma pasti akan sadar.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa kau tidak tersenyum begitu daritadi hah? Baguslah kalau kau sudah yakin. Ya! Sekarang lebih baik kau tidur. Kau tidak mau kan ketika besok eommamu sadar tapi kau malah tertidur?”

“Aisssshh iya baiklah. Aku akan mencoba untuk tidur.”

“Baiklah kalau begitu kemari.” Eunhyuk membimbing kepalaku agar bersandar di bahunya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak akan mau kan jika aku suruh tidur seperti Hyuri noona?” katanya sambil tertawa.

“Tentu saja tidak!”

“Yasudah, makanya kau menurut saja denganku.”

Aku merengut kesal, tapi tetap saja bersandar padanya. Dan tak lama kemudian, aku pun tertidur. Semoga malam yang seperti ini hanya akan terjadi satu kali seumur hidupku.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena mendengar sedikit kebisingan. Saat aku benar-benar berhasil membuka mataku secara sempurna, aku mendapati Hyuri sedang mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku bangkit dari posisi bersandarku dan mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku melirik ke arah Eunhyuk yang masih terlelap. Aku berusaha bangun dari kursi ini dengan sangat pelan-pelan agar tidak membangunkan Eunhyuk yang tampaknya baru tidur 2 jam yang lalu.

“Hyuri-ya, ada apa? Kenapa kau mondar-mandir seperti itu? Eomma sudah sadar?” tanyaku ketika berhasil menghampiri Hyuri.

“Aku tidak tahu, kita tunggu saja kabar dari dokter yang menangani eomma. Dia baru saja masuk.”

“Ya! Kalau begitu kenapa kau tidak membangunkanku hah?”

“Kau pikir aku akan membangunkanmu yang baru tidur 3 jam lalu? Aku tidak setega itu!”

“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada eomma? Apa kau akan tetap membiarkanku tertidur?”

“Aisssh baik-baik aku salah, maafkan aku.” Kata Hyuri akhirnya mengalah.

“Ya! Tapi darimana kau tahu aku baru tidur 3 jam yang lalu?”

“Eunhyuk-mu.”

“Dia bukan Eunhyuk ku!”

“Bukan “bukan” tapi belum.”

“Ya! Kim Hyuri kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?”

“Hei sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?” lerai Donghae dan entah dari kapan tapi tiba-tiba Eunhyuk sudah berada di sampingku.

“Ka-kau sudah bangun?” tanyaku pada Eunhyuk.

“Ne.” Jawabnya singkat. Terlihat jelas dari raut mukanya bahwa ia masih sangat mengantuk. Aisshh ini semua gara-gara Hyuri!

Cklek. Terdengar suara pintu terbuka dan munculah seorang dokter muda dengan stetoskop dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jubahnya.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanyaku tak sabar.

Dokter itu tersenyum. Aah ini pasti pertanda baik!

“Aku ucapkan selamat buat kalian berdua. Eomma kalian berhasil melewati masa kritisnya dengan baik. Dan kalian tahu? Bahkan seorang eomma kalian sudah sadar.” Kata dokter itu sumringah.

“Jinjjayo?” kataku dan Hyuri nyaris bersamaan.

“Tentu saja. Ohya, boleh aku tanya sesuatu? Di antara kalian siapa yang bernama…hhmm…Kim…Hyuri?” dokter itu terlihat bingung sesaat tapi kemudian dia bisa menyelesaikan ucapannya.

Aku yang tadinya sangat antusias mendadak tak bersemangat. Kenapa dokter itu menanyakan Hyuri?

“Aku. Aku Kim Hyuri. Wae?” jawab Hyuri dan langsung balik bertanya pada dokter itu.

“Ah ibumu, saat dia sadar tadi, dia langsung menyebut-nyebut namamu. Bahkan dia langsung memintaku untuk segera memanggilmu, katanya begini, “Dokter, apakah bisa kau panggilkan Kim Hyuri anakku? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”

Hyuri? Hanya Hyuri saja yang eomma cari? Hanya Hyuri yang ingin ditemuinya? Lantas aku? Apa aku benar-benar tidak berarti untuk eomma?

“Ya, hari ini juga ibu kalian akan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, jadi kalian bisa menemuinya.” Tambah dokter itu.

“Ah baiklah. Terima kasih banyak dokter.” Kata Hyuri sambil tersenyum.

“Ne. Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian.” Balas dokter itu sambil kemudian berlalu pergi.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah tahu akan begini. Sudah sana cepat temui eomma.” Kataku pada Hyuri sambil mencoba menahan rasa kecewaku.

“Tapi….kau…”

“Dokter itu bilang kan, eomma sudah tidak sabar bertemu denganmu? Jadi kau tunggu apalagi? Cepat sana temui eomma.”

“Kau tidak ikut bersamaku?”

“Aku bisa lain kali menemui eomma. Sangat tidak lucu jika aku dan eomma bertengkar, padahal eomma baru saja sadar kan?”

“Baiklah kalau itu maumu. Aku masuk sekarang ya.”

Hyuri dan Donghae segera memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Dan aku di sini hanya bisa melihat dari celah kaca yang ada di pintu. Biarlah asalkan aku bisa melihat eomma membuka matanya itu sudah lebih dari cukup.

 

Author POV

Eunhyuk menatap nanar gadis di sebelahnya. “Bagaimana bisa dia bersikap tegar padahal aku tahu dia sangat ingin menangis sekarang. Kalau aku bisa, aku akan menyeretnya saat ini juga masuk ke dalam, tapi apa boleh buat, dia sendiri yang melarangku untuk melakukan hal itu.” Batin Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, aku sangat senang sekarang.” Kata Jiyeong sambil terus menatap ke arah Hyuri dan ibunya.

“Kalau kau sangat senang, harusnya kau tersenyum, bukan malah murung seperti itu.” Balas Eunhyuk.

“Siapa bilang aku murung? Aku hanya iri dengan Hyuri…dia bisa langsung menemui eomma, sementara aku? Harus menunggu lain waktu.”

“Kan kau sendiri yang menginginkan hal itu.”

“Ah iya kau benar. Aku lupa.”

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Eunhyuk dan Jiyeong kembali disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hyuri yang mungkin daritadi memperhatikan Jiyeong dari dalam akhirnya tak tahan dan meminta ibunya agar mau bertemu dengan adiknya itu.

“Eomma sebenarnya yang datang ke sini bukan hanya aku saja, tetapi Jiyeong juga datang.”

“Hyuri kau bercanda? Mana mungkin adikmu itu datang.”

“Eomma aku serius. Aku panggilkan dia ya.”

“Tidak usah. Kepalaku bisa kembali pusing jika bertemu adikmu itu.”

“Eomma aku mohon….” Hyuri memelas pada eommanya.

“Hhhm baiklah, tapi tolong kau suruh adikmu jangan membuat ribut di sini.”

“Tidak akan eomma. Dia tidak akan membuat ribut, aku yakin.”

Hyuri pun segera keluar dan menemui Jiyeong. Jiyeong agak sedikit terkejut karena Hyuri tiba-tiba keluar.

“Jiyeong-a! Ayo masuk!” ajak Hyuri antusias.

“Mworago? Aku? Masuk ke dalam?”

“Ne! Ayolah bukannya kau ingin masuk?”

“Memang aku ingin, tapi….”

“Aku tahu. Tenang saja, aku sudah bilang pada eomma kok.”

Jiyeong tersenyum mendengar pernyataan kakaknya. Ia pun segera masuk ke dalam bersama Hyuri.

“Eunhyuk-a kau tidak ikut masuk?” tanya Hyuri yang melihat Eunhyuk tidak bergerak dari tempatnya.

“Aniyo noona, biar aku menunggu di luar saja.” Tolak Eunhyuk halus.

“Baiklah, kalau begitu kami masuk dulu ya.”  Balas Hyuri sambil menggandeng Jiyeong masuk.

Kim Jiyeong POV

Jantungku makin berdetak tidak karuan begitu aku memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Astaga! Memang awalnya aku sangat ingin masuk, tapi begitu sekarang aku masuk, aku malah gugup dan malah ingin keluar. Aku bingung harus mengatakan apa pada eomma nanti.

“Eomma, aku tidak bohong kan? Lihat ini Jiyeong!” seru Hyuri pada eomma.

Aku tersenyum kikuk. Bukan karena kegugupanku tapi lebih kepada raut muka eomma yang sepertinya tidak suka dengan kehadiranku.

“Eomma…” kataku tersendat.

“Ada apa?” tanya eomma dingin.

“Aku…senang kau sudah sadar.” Aku berusaha untuk tersenyum, walaupun akhirnya senyum yang aku keluarkan adalah senyum yang dibuat-buat.

“Kau yakin?”

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Bukannya kau berharap supaya aku tidak akan pernah sadar lagi?”

Bahuku mulai bergetar. Mataku mulai terasa panas. Tidak sekarang Kim Jiyeong, kau pasti bisa tahan.

“Tentu saja aku tidak berharap seperti itu. Sungguh, aku sangat senang eomma sudah sadar.”

“Terserahlah aku tak peduli. Kau sudah selesai kan? Kalau sudah kau bisa keluar sekarang. Biar Hyuri saja yang menemaniku di sini. Kepalaku sakit jika melihatmu lebih lama lagi.”

“Eomma, jangan terlalu kasar seperti itu. Ingat kau baru sadar.” Kata Hyuri mengingatkan eomma.

“Maaf kalau kehadiranku membuat eomma sakit. Aku akan keluar sekarang.” Aku berbalik dan segera menuju pintu keluar. Harusnya tadi aku tidak usah menerima tawaran Hyuri untuk masuk.

“Hyuri! Jangan menahan adikmu! Biarkan saja dia keluar. Kau tetap di sini bersama eomma.” Kata eomma yang mencegah Hyuri untuk menahanku.

Aku mempercepat langkahku dengan tujuan agar aku bisa segera keluar. Ternyata terlalu menyakitkan untuk berada di kamar ini. Dengan susah payah aku menahan tangisku agar tidak pecah, tapi sia-sialah semua usahaku itu. Dengan lancangnya air mataku turun membasahi pipiku.

Karena aku menangis, aku tidak menyadari bahwa Eunhyuk sudah menungguku tepat di depan pintu dan aku pun menabrak tubuhnya.

“Aku tidak tahu apa yang dikatakan eommamu barusan. Tapi kalau kau sampai menangis, berarti itu pasti kata-kata yang sangat menyakitkan.”

“Bisa bawa aku pergi dari sini? Aku janji tidak akan memberontak atau apapun. Ke manapun kau membawaku aku akan mengikutimu.”

“Aku mengerti perasaanmu. Baik kalau itu yang kau mau. Sekarang ikut aku.”

 

 

-TBC-

Love of Mathematics

Image

Title:                           Love Of Mathematics

Author:                       Stevian             a.k.a     Park Kiyong

Length:                       Oneshot

Genre:                         Frienship, romance

Rated:                         General

Cast:

  • All member of Super Junior
  • Choi Hyunji                                      a.k.a                 Hyunji
  • Park Ki Young (Author)                     a.k.a                 Kiyoung
  • Lee Eun Ji                                       a.k.a                 Eunji
  • Im Yoon Ah                                     a.k.a                 Yoona

 

Author note:

Anyeonghaseyo readers ^^

Senang sekali akhirnya aku bisa menyelesaikan ff-ku untuk ‘pertama kalinya’. Kalau dulu, baru ngetik satu paragraf aja rasanya males banget buat ngelanjutinnya.

Oh ya, ff ini terinspirasi dari seorang penceramah. Waktu itu sih ceramahannya bertema ‘Berdana’, jadi ada satu kalimat yang benar-benar masuk ke otakku. Terus aku urain kalimat itu menjadi seperti ini “Berdana itu bukannya kasih contekan ke teman”. Habis itu author ga dengerin lagi apa yang diceramahkan, author malah sibuk nyusun cerita nih ff *jangan dicontoh*

Pasti readers pada bingung, apa hubungannya menyontek sama nih ff? Dari judul aja ‘jauh’. Oh ya, judul Love Of Matematics ini terinspirasi dari Kyuhyun yang pintar matematika bahkan pernah memenangkan olimpiade matematika. Hebat ya ^^

Anggap aja tokoh utama cewek ini kamu dan Park Kiyoung adalah author ^^

Jangan lupa RCL (read, coment, like) ya! ^^

–Author Pov–

“Mashita. Nasi goreng Beijing ini benar-benar enak.” Seru Eunji setelah menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing penuh ke dalam mulutnya.

“Ne, ini benar-benar enak. Restaurant ini akan masuk ke daftar restaurant favoritku.” Ujar Hyunji menimpali sambil menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing ke dalam mulutnya.

“Dan restaurant ini hanya ada satu di Korea. Aku tidak menyangka Hangeng bisa membuka restaurant dengan nasi goreng selezat ini.” Ujar Kiyoung masih mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Hangeng?” Tanya Hyunji mengernyit dan menghentikan sendok berisi penuh nasi goreng Beijing yang hendak masuk ke mulutnya.

“Sepertinya nama itu tidak asing.” Seru Eunji menimpali sambil mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Ne, Hangeng itu teman sekelas kita dulu. Saat kita duduk di bangku kelas 2 SMA. Kalian masih ingat tidak?” Jelas Kiyoung panjang lebar.

“Aku ingat. Dia adalah murid kesayangan Heechul seonsaengnim.” Ujar Hyunji kesal mengingat kelakuan gurunya yang satu itu.

“Dia itu kan murid pindahan dari China dulu. Pantas saja nama restoran ini aksennya terkesan seperti bahasa China. ‘Meihua Dumplings’.” Ujar Eunji sambil membaca tulisan yang terdapat di dalam ruangan tersebut.

“Ne, restoran ‘Meihua Dumplings’ terdapat 3 cabang di China. Kalau kita ke China nanti, kita harus berkunjung ke Restaurant itu.” Tambah Kiyoung lalu menyeruput softdrink miliknya.

“Hebat sekali dia. Padahal dulu dia tidak bisa berbicara bahasa Korea sama sekali.” Seru Eunji kagum.

“Itu semua berkat Heechul seonsaengnim. Dulu, sehabis pulang sekolah, Heechul seonsaengnim selalu memberikan pelajaran tambahan Bahasa Korea khusus untuk Hangeng. Mengingat Heechul seonsaengnim adalah wali kelas kita, makanya dia tidak ingin ada anak didiknya yang ketinggalan pelajaran, padahal dia guru matematika.” Jelas Hyunji panjang lebar sambil meminum softdrink miliknya, karena nasi goreng Beijing miliknya sudah habis. Hyunji bisa tahu kejadian tersebut karena setiap sehabis piket kelas setelah pulang sekolah, Hyunji melihat Heechul seonsaengnim selalu mengajarkan Hangeng berbahasa Korea yang baik dan benar. Meski terkadang dia memarahi Hangeng, tapi niat Heechul seonsaengnim tetaplah baik.

“Oh begitu rupanya.” Timpal Eunji mengangguk dan menyendokkan suapan terakhir nasi goreng miliknya.

“Tapi, kenapa kau bisa tahu restaurant ini milik Hangeng?” Tanya Hyunji bingung pada Kiyoung. Mengingat Kiyoung tidak dekat dengan Hangeng.

“Srup~”

“Ne, kenapa kau bisa tahu? Aku saja tidak tahu.” Tambah Eunji setelah menghabiskan softdrink miliknya.

“Aku tahu dari Jongsoo.” Ujar Kiyoung singkat lalu mengambil softdrink miliknya dan meminumnya sampai habis, guna menghilangkan rasa malunya tadi saat dia mengucapkan nama ‘Jongsoo’ dihadapan sahabat-sahabatnya itu.

“Jongsoo namja chingumu? Pantas saja kau tahu, Jongsoo kan teman dekatnya Hangeng.” Seru Hyunji mengangguk mengerti.

“Padahal kalian dulu selalu bertengkar karena hal kecil. Tidak disangka sekarang kalian bisa menjadi sepasang kekasih.” Sambung Eunji sambil mengingat-ingat masa SMA mereka dulu. Sudah kuduga, mereka pasti mengungkitnya lagi. Batin Kiyoung kesal dengan sahabat-sahabatnya itu.

“Sudahlah, aku sedang tidak membahas Jongsoo. Oh ya, Hyunji-ah, bukanya kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya Kiyoung pada Hyunji untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang hubungannya dengan Jongsoo.

“Ne, aku sudah melamar ke 12 perusahaan, dan mereka bilang sedang tidak membutuhkan karyawan” jelas Hyunji sambil menghela napas.

“Jongsoo bilang, temannya sedang membutuhkan seorang sekretaris. Tapi sekretaris itu harus bisa mengalahkannya bermain game. Apa kau mau?” Tawar Kiyoung pada Hyunji.

“Memangnya kau bisa bermain game? Rasanya tidak mungkin.” Ejek Eunji sambil tersenyum meremehkan Hyunji.

“Tentu saja aku bisa. Jangan meremehkan seorang Hyunji.” Balas Hyunji sambil tersenyum optimis.

“Ini alamat perusahaannya. Biar aku yang membayar semua ini. Aku pergi dulu, 2 jam lagi SS4 Seoul akan dimulai. Anyeong.” Ujar Kiyoung memberikan secarik kertas kepada Hyunji, lalu meletakan uang di meja kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu menuju pintu restaurant dengan setengah berlari.

“Benar-benar tidak berubah.” Gumam Hyunji melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Hyunji pun melihat secarik kertas yang diberikan Kiyoung yang berisikan alamat dan nama perusahaan itu.

“Masih tetap menyukai Super Junior.” Sambung Eunji tersenyum mengingat masa-masa SMA mereka dulu.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Jadi ini perusahaan ‘GaemGyu’, ini kan perusahaan pembuatan game. Batin Hyunji setibanya ia di depan gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Semoga saja kali ini dia tidak ditolak. Mengingat perkataan Kiyoung bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan seorang sekretaris, sepertinya sedikit kemungkinan dia akan ditolak.

Hyunji pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Lalu menyerahkan map yang berisi lamaran kerjanya pada pihak yang berwenang dalam hal ini. Hyunji sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, dan ini adalah untuk ke-13 kalinya. Tentu saja dia pernah melakukannya, dan dia selalu ditolak. Semoga saja ini adalah terakhir kali aku melakukannya. Batin Hyunji malas dengan ritual untuk melamar kerja macam ini.

Saat ini, Hyunji sedang duduk di ruang tunggu. Hyunji sudah menunggu selama 30 menit di ruang tunggu, karena sang direktur perusahaan ini sedang melakukan meeting dengan klien.

Hyunji sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan ini, sayangnya masih ada satu lagi persyaratan yang belum dia penuhi. Mengalahkan pertarungan game dengan sang direktur perusahaan ini. Hanya itu yang harus Hyunji lakukan agar dia bisa diterima menjadi seorang sekretaris. Hanya itu.

“Nona Choi” Panggil seorang namja yang berdiri di hadapan Hyunji.

“Ne??” Sahut Hyunji yang sedang duduk di ruang tunggu.

“Silahkan masuk ke ruangan direktur Cho. Beliau sudah selesai meeting.” Ujar namja itu lagi.

“Ne” Balas Hyunji singkat lalu bangkit dan tersenyum pada namja itu. Akhirnya, selesai juga meeting-nya. Batin Hyunji bersyukur.

Di sepanjang perjalanan menuju ruang direktur, mereka berdua hanya terdiam.

“Kau bekerja di bagian apa?” Tanya Hyunji membuka pembicaraan.

“Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Lee Donghae imnida, bekerja sebagai asisten tuan Cho di perusahaan ini.” Ujar namja itu menghentikan langkah kakinya untuk memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya.

“Choi Hyunji imnida” Hyunji ikut berhenti berjalan lalu membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

“Tok tok tok” Donghae mengetuk pintu ruang direktur dari luar setiba mereka di depan ruang direktur.

“Masuk” Ujar tuan Cho dari dalam yang merupakan direktur di perusahaan ini.

“Klek” Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan.

Setiba mereka di dalam, Donghae pun langsung membungkuk pada tuan Cho dan diikuti Hyunji. Tuan Cho terlihat sedang sibuk. Bahkan hanya untuk melirik mereka pun tidak. Dia sedang berkutat dengan laptop putih yang terletak di atas meja kerjanya, dan tidak menghiraukan kehadiran Donghae maupun Hyunji.

“Aku sudah membawa calon sekretarismu tuan.” Ujar Donghae yang telah melaksanakan tugas pemberian tuan Cho. Sementara Hyunji sedang sibuk memikirkan game apa yang akan mereka mainkan nanti.

“Ne, kau boleh pergi.” Ujar tuan Cho singkat pada asistennya. Tuan Cho masih berkutat dengan laptopnya yang berwarna putih. Laptopnya tersebut memiliki gambar sebual apel yang memiliki bekas gigitan.

“Silahkan duduk.” Tuan Cho mempersilahkan Hyunji duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya, sedangkan dia masih memusatkan perhatian dan menggerakkan jari-jarinya pada laptop miliknya.

“Aish” Pekik tuan Cho saat melihat tulisan ‘Game Over’ di layar laptopnya. Hyunji yang sedang sibuk memikirkan game jenis apa yang akan dimainkannya pun tampak bingung dengan kelakuan sang direktur. Hyunji pun menolehkan wajahnya sebentar kearah tuan Cho lalu kembali ke dunianya. Aku belum berlatih bermain game, eotteokhae? Batin Hyunji.

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

>>>>Flash back

–Hyunji Pov–

“Buk” Ku tolehkan wajahku kearah seorang namja yang duduk di sebelahku. Apa yang dilakukan namja ini? Kenapa dia tiba-tiba menyenggol tanganku? Kertas ulangan matematika-ku jadi tercoret karenanya. Huh~ aku jadi harus menghapus coretan yang kuperbuat karena ulahnya.

“Wae?” Tanyaku heran dengannya. Dia hanya melihat kearahku dengan wajah innocent miliknya. Benar-benar aneh namja ini. Huh~ mengganggu konsentrasiku saja.

“buk”

“Ada apa lagi tuan Cho?” Tanyaku sinis dan menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak sengaja.” Jawabnya datar. Kuhapus lagi coretan yang tidak sengaja dia perbuat padaku. Okay, dia tidak sengaja.

“buk”

Kutolehkan wajahku kearahnya dengan tajam. Ini sudah ketiga kalinya, tidak mungkin kali ini juga karena ‘tidak sengaja’.

“Opps, aku tidak sengaja. Penghapusku ada di sebelah tanganmu.” Jawabnya sambil mengeluarkan smirk evilnya. Kuhapus lagi coretan itu. Bukannya dia meminta maaf padaku malah mengeluarka smirk evilnya. Huh~ benar-benar menyebalkan. Awas saja kalau dia menyenggolku sekali lagi, tidak akan ku maafkan!

“Buk”

“Brak” Kupukul meja di hadapanku dan berdiri menghadapnya yang berada di sampingku.

“YA!! CHO KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN??” Teriakku penuh emosi padanya. Aku sangat kesal padanya. Jika saat ini sedang tidak ujian aku tidak akan se-emosi ini. Apalagi saat ini sedang ujian matematika yang merupakan pelajaran kesukanku. Tunggu… bukannya saat ini sedang…

“YA!! CHOI HYUNJI” Teriak seonsaengnim meneriaki namaku sambil berjalan kearah meja kami –mejaku dan Kyuhyun-.

“Omo” Pekikku kaget. Aku lupa, saat ini kan sedang ujian. Mati kau Hyunji. Apalagi Heechul seonsaengnim merupakan guru ter-killer di sekolah ini. Aku tidak tahu nasibku setelah ini.

“Seonsaengnim, ini semua bisa kujelaskan.” Untunglah Kyuhyun membelaku. Mungkin dia merasa bersalah padaku.

“Hyunji terus menyenggol tanganku dan tiba-tia dia meneriaki namaku. Mungkin karena aku tidak memberikannya contekan sehingga dia marah padaku. Aigoo Hyunji-ah, seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu. Itu akan mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika.” Mwo?? Apa yang dia katakan? Kukira dia membelaku. Apa maksudnya aku menyenggol tangannya? Bukanya dia yang dari tadi menyenggol tanganku sehingga aku berteriak padanya. Dan apa maksudnya aku meminta ‘contekan’ padanya, jelas-jelas soal matematika ini sangat mudah. Dan satu hal lagi, ucapannya tadi ‘mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika’ seolah-olah teman-teman sekelas kita ini tidak pintar dan dia yang paling pintar. Aigoo, namja ini benar-benar.

“Aniyo, aku tidak meminta contekan padanya. Tapi dia yang terus menyenggol tanganku sehingga lembar jawabanku tercoret untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya pula aku harus menghapus coretan tersebut hingga dia menyenggolku lagi dan membuat kesabaranku habis.” Elakku cepat sebelum Heechul seosaengnim termakan ucapannya.

“Benar apa yang dikatakan Kyuhyun, aku juga melihatnya terus menyenggol tangan Kyuhyun dan meminta contekan. Kristal-ah, kau juga melahatnya bukan?” Ujar Jessica yang duduk bersama Kristal di belakangku membela namja sialan ini. Kristal pun mengangguk dengan mantap. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kedua yeoja bermarga ‘Jung’ ini.

“Choi Hyunji, cepat berdiri di luar kelas dengan satu kaki diangkat sampai bel istirahat berbunyi.” Perintah Heechul seonsaengnim tegas padaku.

“Tapi, seon…”

“KELUAR!!” Teriak seonsaengnim memotong ucapanku. Jika Heechul seonsaengnim sudah marah, tak ada yang bisa melawannya. Padahal aku belum menyelesaikan soal ujian matematika tadi. Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Dan ini semua berkat ‘Cho Kyuhyun’.

“Benar seonsaengnim, lebih baik dia keluar dari pada mengganggu ketenangan kami dalam mengerjakan soal ujian ini.” Sahut Jessica pada Heechul seosaengnim. Ada apa dengan yeoja satu itu? Benar-benar…

“Sudah, semuanya diam dan kerjakan soal ujian kalian dengan tenang! 30 menit lagi waktu habis.” Terang Heechul seonsaengnim dan berjalan kembali ke meja guru.

Aku pun melangkahkan kakiku menuju keluar kelas. Sebelumnya kulirik mataku dengan sinis ke arah Kyuhyun, dan dia mengeluarkan smirk evil-nya padaku. Cih, aku muak sekali dengan wajahnya. Aku berjanji tidak akan berteman bahkan menikah dengan orang yang bermarga ‘Cho’. Okay, mungkin itu berlebihan. Tapi Dia benar-benar jahat padaku, dan itu tak bisa dimaafkan!

–Author Pov–

“Teng~ teng~” Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa-siswi di sekolah SMA SM pun menuju kantin untuk menhilangkan rasa lapar dan stress mereka setelah mengerjakan soal matematika terkutuk itu.

Hyunji yang mendengar bel tersebut pun merasa lega dan bersyukur karena dia tidak perlu terus berdiri lebih lama lagi dengan satu kaki. 30 menit sudah lebih dari cukup. Benar-benar kelewatan Heechul seonsaengnim itu. Batin Hyunji sambil bejalan menuju ke dalam kelas dengan kaki terpincang-pincang karena berdiri dengan satu kaki terlalu lama.

Di dalam kelas hanya ada beberapa murid. Mungkin yang lainnya pergi ke kantin. Untunglah tak ada namja sialan itu di sini. Kalau ada, Hyunji tidak ingin masuk kelas karena sudah muak dengan wajah setan itu. Pikir Hyunji.

Hyunji pun melangkahkan kakinya ke bangku-nya yang bersebelahan dengan bangku Kyuhyun.

“Hyunji-ah, aku tidak percaya kau meminta contekan pada Kyuhyun.”

Sambut Eunji sambil menghampiri Hyunji setiba Hyunji masuk ke dalam kelas mereka. Eunji pun langsung duduk di bangku Kyuhyun yang bersebelahan dengan Hyunji.

“Ne, kau memang harus percaya padaku. Mana mungkin aku menyontek pada namja sialan itu, lagi pula nilai matematika ku selalu mendapat seratus.” Ujar Hyunji penuh emosi mengingat kejadian tadi.

“Dan nilai matematika-nya juga selalu mendapat seratus ditambah lagi saat SMP dulu dia menjuarai olimpiade matematika.” Sambung Eunji kagum.

“Ya! Kau seharusnya membelaku. Huh~ Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih duduk dengannya. Ini semua gara-gara Heechul seonsaengnim. Kenapa ujian kali ini harus diacak dengan nomor undian. Mentang-mentang dia wali kelas kita dan dia dapat bertindak seenaknya. Dan sialnya lagi aku mendapat nomor yang sama dengan nomor namja sialan itu, sehingga aku harus sebangku dengannya. Nomor 13, aku benci angka itu.” Ujar Hyunji panjang lebar dengan raut wajah yang kesal.

“Tapi itu bagus, sekali-kali merubah suasana baru. Itu kan tidak salah. Lagi pula aku bosan selalu duduk sebangku denganmu. Dari SMP hingga SMA, apa kau tidak bosan? Sudahlah, lagi pula hanya dua minggu kau duduk dengannya. Setelah itu, kita bisa duduk bersama lagi.” Ujar Eunji dengan bijak.

“Apa maksudmu bosan duduk denganku? Bilang saja kau lebih senang duduk dengan Kibum dari pada duduk denganku.” Sahut Hyunji dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

“Aniyo, aku tidak bilang aku lebih senang duduk dengan kibum. Tapi, dia namja yang baik.” Ujar Eunji cepat sambil mengeluarkan seringaiannya.

“Huh~ munafik” Sahut Hyunji. Bilang saja kau menyukainya, aku tahu itu Eunji. Batin Hyunji kesal dengan sahabatnya yang satu itu.

“Hyunji-ah, kau tahu tidak? Hanya kelas 2-1 saja yang diacak posisi duduknya, sedangkan kelas yang lainnya normal-normal saja. Itu keren kan?” Ujar Eunji bangga.

“Apanya yang keren? Itu berarti kelas kita sial tahu. Lebih baik aku duduk dengan Yesung dari pada duduk dengan namja setan itu.” Timpal Hyunji.

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Hyunji.

–Hyunji Pov–

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja ku katakan.

“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya teringat kata-kata Siwon sewaktu aku pertama kali masuk ke dalam kelas 2-1.” Sambung ku cepat sebelum Eunji berpikir yang tidak-tidak tentang diriku.

Eunji adalah sahabatku dari SMP YG. Dia benar-benar tidak berubah, selalu saja mengambil kesimpulan terlalu cepat sebelum mendengar penjelasan orang lain. Kami berdua dulu bersekolah di SMP yang sama, dan sekarang kami pun bersekolah di SMA yang sama. Ya, kami sekarang bersekolah di SMA SM. SM itu bukan singkatan dari Soo Man yang merupakan kepala sekolah kami. Tapi, SM itu singkatan dari ‘Star Musseum’. Dinamakan Star Musseum karena sekolah ini berisi siswa-siswi yang cerdas.

Wajar saja saat Eunji bilang bosan duduk sebangku denganku. Sewaktu kami duduk di bangku kelas 1 SMA, dia sekelas denganku dan kami pun duduk bersama. Kemudian  sekarang, saat kami naik ke kelas 2. Kami pun duduk bersama lagi. Sebenarnya, kelas 2-1 ini adalah kelas yang berisi murid-murid yang pintar sampai dengan kelas 2-4 yang berisi murid-murid terbodoh. Bukan berarti siswa-siswi di kelas 2-4 itu bodoh. Itu semua tergantung ranting nilai kita saat kelas 1 dulu. Jadi, aku dan Eunji bisa masuk ke kelas 2-1 ini karena kami memiliki nilai dengan ranting yang tinggi.

“Memangnya apa yang dikatakan Siwon padamu?” Tanya Eunji ingin tahu.

“Dia bilang ‘lebih baik duduk dengan orang yang kau benci dari pada duduk dengan orang seperti Yesung’. Dia bilang seperti itu karena saat kelas 1-4 dulu dia duduk dengan namja bernama Yesung. Setiap kali dia berada di dekat Yesung selalu ada aura ‘aneh’ yang muncul dan Yesung hobby sekali memegang bagian atas bibirnya Siwon.” Ceritaku panjang lebar pada Eunji sambil mengingat saat aku pertama kali masuk ke kelas 2-1 ini, dan Siwon adalah namja pertama yang menyambutku dengan ‘kalimat’ seperti itu.

Saat ini, Siwon dan Yesung juga sekelas denganku. Di kelas 2-1 ini. Tapi, Siwon sekarang tidak sebangku dengan Yesung lagi, melainkan dengan Kibum. Mereka berdua bersahabat dengan baik. Dan Yesung sekarang sebangku dengan Ryeowook. Ryeowook adalah namja yang baik dan manis. Hanya dia yang betah duduk dengan Yesung di kelas ini. Mereka berdua juga bersahabat dengan baik.

Tapi, kali ini Siwon sedang tidak beruntung. Karena dia mengambil nomor undian yang sama dengan nomor Yesung. Sial sekali dia. Sama sepertiku. Apa boleh buat, ini akan berakhir hingga ujian selesai.

“Apa benar siwon mengatakan hal seperti itu tentangku?” Tanya Yesung tiba-tiba yang entah datang dari mana, dan membuat kami berdua terlonjak kaget dengan keberadaan Yesung.

“Yesung-ah, aku tidak mengatakan hal seperti ‘itu’ tentangmu. Percayalah padaku. Dan ingatlah, bahwa Tuhan itu baik.” Ujar Siwon tiba-tiba dan langsung memeluk Yesung yang berada di samping kami. Siwon memang selalu seperti itu. Selalu ‘memeluk siapa saja’ dan setiap kalimat yang dia ucapkan pasti ada kata-kata seperti ‘Tuhan itu baik’, karena itulah dia disebut sebagai namja ter-religius di kelas ini.

“Ya!! Kenapa kau menghapusnya?” Teriak Kiyoung ketika ada seorang namja yang hendak menghapus tulisan di papan tulis. Kiyoung adalah sahabatku dan sahabat Eunji juga.

“Aku tidak suka melihat papan tulis ini kotor.” Balas namja yang merupakan ketua kelas kami dengan santai sambil menghapus tulisan ‘Super Junior’, ‘Everlasting Friend’, ‘ELF’, ‘SUPER JUNIOR THE LAST MAN STANDING’, ‘PROM15E TO 13ELIEVE SUPER JUNIOR’, ‘13’, ‘I’m Proud To Be ELF’ yang ditulis Kiyoung.

“YA!! BERHENTI MENGHAPUSNYA!! JUNGSOO. Aku tahu kau sedang tidak piket kelas hari ini, jadwal piketmu sama dengan jadwal piketku, yaitu hari jumat. Dan sekarang bukan hari jumat.” Teriak Kiyoung kesal dengan apa yang dilakukan Jungsoo.

“Selesai, ini terlihat lebih indah.” Ujar Jungsoo sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan kedua tangannya yang tidak kotor, kemudian dia tersenyum penuh kemenangan kearah Kiyoung. Dia lalu kembali ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan namja yang berasal dari China bernama Hangeng.

“Dia benar-benar seorang ELF” Sahut Eunji tiba-tiba kepada kami ber-empat –aku, Eunji, Yesung, Siwon- yang melihat pertengkaran singkat antara Kiyoung dan Jungsoo, dan Siwon pun langsung melepaskan pelukannya dari Yesung tadi.

–Author Pov–

“Teng~ teng~” bel pulang pun berbunyi usai ulangan B. Inggris.

“Hyunji-ah, Eunji-ah, ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film Super Junior ‘Attack On The Pin-Up Boys’.” Ujar Kiyoung penuh semangat ketika mereka keluar dari kelas tadi.

“Aigo Kiyoung-ah, saat ujian seperti ini kau masih memikirkan Super Junior? Kau benar-benar seorang ELF.” Sahut Eunji sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sahabatnya satu itu.

“Ne, aku tahu itu. Sudahlah ayo cepat.” Ujar Kiyoung singkat sambil menarik tangan Hyunji dan tangan Eunji agar mereka berjalan lebih cepat.

Setiba mereka di depan gerbang sekolah, mereka bertiga pun berpisah karena arah rumah mereka berbeda.

“Hyunji-ah, anyeong.” Ujar Kiyoung dan Eunji serentak sambil melambaikan tangan mereka. Rumah mereka berdua searah, tapi tidak dengan Hyunji.

“Anyeong, berhati-hatilah di jalan.” Balas Hyunji singkat sambil melambaikan tangannya juga dan membalas senyum kedua sahabatnya itu.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Hyunji pun berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang namja yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hyunji pun memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sudah malas dan muak dengan namja itu. Saat ujian B. Inggris berlangsung pun Hyunji tidak berniat sedikit pun untuk menyapa namja itu, padahal mereka berdua sebangku.

>>>>Flashback End

–Author Pov–

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir tadi.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

“Sruk” Hyunji langsung bangkit dari kursi yang dia duduki.

“Aku tidak jadi melamar kerja sebagai sekretarismu.” Ujar Hyunji bangkit dari duduknya.

“Anyeong” Pamit Hyunji membungkukkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.

“Chakkaman” Seru Kyuhyun menghentikan langkah Hyunji.

“Wae?” Tanya Hyunji malas dan membalikkan badannya ke arah Kyuhyun.

“Aku melakukannya agar kau ingat padaku.” Ujar Kyuhyun dan berjalan ke arah Hyunji.

“Ingat? Ingat apa?” Tanya Hyunji mengernyit bingung.

“Taman kanak-kanak, psp putih milikku, matematika, dan kau meminjam jari-jariku. Kau ingat?” Seru Kyuhyun mencoba mengingatkan Hyunji.

>>>>Flashback

“buk” Seorang yeoja kecil menyenggol seorang namja seusianya yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa Hyunji?” Tanya namja kecil itu tanpa menolehkan matanya pada Hyunji, karena mata namja kecil itu masih tertuju pada PSP berwarna putih di tangannya.

“Ehmm.. Aku..” Jawab Hyunji ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan. Sedangkan namja kecil itu masih sibuk dengan PSP-nya dan tidak peduli dengan Hyunji.

“Kyu~ Kyu~” Panggil Hyunji sambil mengguncang tangan namja kecil yang masih berkutat dengan PSP-nya.

“Hmm” Gumam Kyu sambil mempercepat jari-jari kecilnya di tombol-tombol PSP-nya, karena sebentar lagi dia akan mati dalam pertarungan game yang sedang dimainkan-nya.

“Boleh aku pinjam jari-jarimu?” Tanya Hyunji polos pada Kyu.

“Tunggu sebentar, jari-jariku sedang sibuk Hyunji.” Ujar Kyu cepat dan masih sibuk mengalahkan musuh-musuh di PSP-nya itu.

“Huh~” Dengus Hyunji dan mengalihkan perhatiannya pada anak-anak yang lainnya.

Saat ini kedua anak itu sedang berada di sekolah. Di sekolah taman kanak-kanak. Di taman kanak-kanak ini, anak-anak belajar dan bermain dari usia 4 – 5 tahun.

Di kelas ini hanya terdapat satu buah mejar bundar yang besar dan anak-anak duduk melingkari meja bundar tersebut. Tapi mereka tidak harus selalu duduk di meja tersebut, karena guru di sini memberikan kebebasan pada anak-anak di sini untuk bermain dan belajar. Hyunji duduk bersebelahan dengan namja kecil bernama Kyu. Kyu duduk di sisi kirinya, anak itu selalu sibuk dengan PSP-nya. Sementara di sisi kanannya duduk seorang namja kecil bernama Kangin yang merupakan ketua kelas mereka. Anak yang bernama kangin itu benar-benar nakal dan hiperaktif, dan dia jarang duduk di bangku karena dia tidak bisa diam. Makanya Hyunji tidak meminjam jari-jari Kangin.

Mata Hyunji tertarik pada kedua namja kecil yang berada di pojok ruangan.

“Hyuk-ah, ayo kita bermain ikan di aquarium.” Ajak seorang namja kecil menghampiri Hyuk yang sedang belajar di meja bundar tersebut. Saat ini Hyuk sedang membaca buku atau lebih tepatnya melihat berbagai macam gambar binatang di buku yang sedang dipegangnya.

“Ayo Hae, tapi tunggu sebentar.” Ujar Hyuk riang sambil meletakan pembatas buku tepat di halaman buku yang bergambar binatang jenis ‘monyet’.

Kedua namja kecil itu memainkan ikan-ikan yang berada di dalam aquarium. Aqurium tersebut pendek, tujuannya agar anak-anak ini bisa melihatnya dan letaknya terletak di pojok ruangan tersebut. Tidak heran anak-anak ini bisa menjangkau aquarium tersebut.

“Bok bok bok bok”

“Hahahahahahaha”

Mereka berdua mengobok-obok air di aqurium tersebut sambil tertawa dengan riang.

“Hae-ah, ikannya pasti pusing. Hahahaha…” Ujar Hyuk pada Hae dengan tangan yang masih mengobok-obok air di aquarium sambil tertawa.

“Ne Hyuk-ah. Hahahaha…” Balas Hae masih mengobok-obok air di aquarium itu dengan tawa yang tak kalah riang dari Hyuk. Bagi mereka berdua, ‘permainan’ itu sangat menyenangkan.

“Lee Donghae? Lee Hyukjae? Apa yang sedang kalian lakukan pada ikan-ikan hias itu?” Tanya Guru taman kanak-kanak mereka.

“Aku dan Hyuk sedang bermain dengan ikan Yoona seonsongnim.” Ujar Hae polos. Mereka berdua sudah tidak mengobok-obok air lagi.

“Yoona seonsongnim, kenapa ikan-ikan itu diam?” Tanya seorang namja kecil berpipi chubi yang tiba-tiba datang karena tertarik dengan ‘permainan’ yang dimainkan oleh Hae dan Hyuk.

“Omo!! Ikan-ikannya mati” Pekik Yoona kaget saat melihat ikan-ikan hias  tersebut hanya diam terbawa ‘arus’ yang dibuat oleh Hae dan Hyuk. Yoona benar-benar tidak habis pikir dengan kedua namja kecil bermarga ‘Lee’ itu. Padahal di sekolah taman kanak-kanak ini disediakan banyak sekali permainan, tapi kenapa mereka malah bermain dengan ikan-ikan hias itu?

“Huh~ Sudahlah, kalian bertiga pergi bermain bola bersama Sungmin saja.” Yoona menghela napas sambil menunjuk bola sepak berwarna pink yang sedang dimainkan seorang namja kecil. Sepertinya meletakan aquarium di kelas bukan hal yang bagus. Batin Yoona.

“Hae-ah, Dong-ah, ayo kita ke sana.” Ajak Hyuk riang pada Hae dan Shindong atau biasa dipanggil Dong.

“Min-ah, apa kami boleh ikut bermain?” Tanya Hae pada namja kecil yang sedari tadi bermain dengan bola sepak berwarna pink itu.

“Ne, tentu saja.” Balas Sungmin yang dipanggil ‘Min’ itu sambil tersenyum pada ketiga anak itu.

“Kyu-ah, ayo pinjamkan jari-jarimu pada ku.” Ujar Hyunji yang perhatiannya sempat teralihkan pada ke-empat namja kecil yang sekarang sedang bermain bola sepak berwarna pink -Hyuk, Hae, Dong, Min-.

“Ya!! Aku jadi kalah. Ini semua gara-gara kau Hyunji.” Ujar Kyu kesal pada Hyunji sambil meratapi layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hiks hiks” Hyunji kaget dan tangisnya pun pecah karena Kyu yang tiba-tiba berteriak kearahnya.

“Yoona seonsongnim, cepat ke sini.” Teriak Kyu pada guru mereka karena tidak mengerti cara menghentikan tangis Hyunji.

“Ada apa Kyu?” Tanya Yoona setiba di hadapan Kyu. Anak ini benar-benar tidak sopan, memanggil orang seperti memanggil pembantu. Batin Yoona.

“Tiba-tiba Hyunji menangis tepat saat aku kalah bermain game.” Ujar Kyu polos mengingat layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hyunji-ah, sudah, jangan menangis lagi ya. Anak baik tidak boleh menangis ya.” Bujuk Yoona pada Hyunji yang tangisnya sudah mulai reda.

“Hiks, aku hiks ingin meminjam jari-jarinya Kyu.” Ujar Hyunji yang masih sesenggukkan.

“Hyunji-ah, untuk apa kau meminjam jari-jarinya Kyu?” Tanya Yoona bingung dengan permintaan Hyunji.

“Jari tanganku tak cukup untuk menghitung sampai 13. Aku hanya mempunyai 10 jari, sedangkan soal di buku itu ’10 + 3 = …’

Aku tahu jawabannya adalah 13. Tapi aku ingin memastikannya.” Ujar yeoja bernama Hyunji itu polos.

“Oh, begitu rupanya. Kyu-ah, pinjamkan 3 jarimu untuk Hyunji.” Pinta Yoona pada Kyu yang sedang berpikir ‘apakah benar 10 + 3 = 13?’

“Ne, seonsongnim” Kyu mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan 3 jarinya            -jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis- ke pada Hyunji.

“Satu, dua, tiga… Tiga belas.” Hyunji menghitung dengan melipat jari-jarinya kedalam dan menghitung 3 jari milik Kyu.

“Wah.. Hyunji pintar” Seru Yoona setelah Hyunji menyelesaikan hitungannya sampai pada angka 13. Yoona merasa lucu dengan anak ini. Meminjam jari? Untuk memastikan 10 + 3 = 13? Lucu sekali. Batin Yoona geli.

“Gomawo Kyu-ah, gomawo seonsongnim.” Ucap Hyunji sambil membungkuk kepada Kyu dan Yoona.

Yoona pun meninggalkan Hyunji dan Kyu. Yoona pergi ke pojok ruangan tersebut, karena dia melihat ke-empat namja kecil -Hyuk, Hae, Dong, Min- itu sedang mengobok-obok air di aquarium itu lagi. Ada apa dengan anak-anak itu? Malah mengajak teman lebih banyak. Sepertinya memang benar-benar tidak baik meletakan aquarium di kelas. Batin Yoona frustasi dengan ke-empat namja kecil itu.

“Hyunji-ah, kenapa kau bisa tahu 10 + 3 = 13?” Tanya Kyu masih bingung.

“Aku menghitungnya menggunakan ini.” Jawab Hyunji dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah dada kecil milik Kyu

“Apa ini?” Tanya Kyu yang juga menunjukan jari telunjuknya ke arah dadanya.

“Hati. Aku menghitungnya di dalam hati. Dan kau juga bisa menghitungnya menggunakan hatimu Kyu.” Jawab Hyunji polos dan membuka buku matematikanya.

“Bagaimana caranya? Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu penuh semangat.

“Belajar” Ujar Hyunji singkat, sambil melanjutkan hitungan di jarinya yang tertunda karena pertanyaan dari Kyu.

“Oh, jadi begitu.” Sahut Kyu riang dan mengeluarkan buku matematika dari tas kecilnya yang berwarna sapphire blue dan bergambar robot transformers. Kyu pun mengerjakan soal-soal matematika itu dengan sesekali bertanya pada Hyunji karena dia tidak mengerti.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Seorang anak laki-laki yang merupakan ketua kelas di taman kanak-kanak ini berlari-lari mengelilingi kelas ini, menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Anak ini benar-benar hiperaktif. Itulah dia, Kangin. Nama Kangin itu sendiri mempunyai arti: Jalan penghidupan yang tentram, rakus/kuat, kegembiraan, merdeka, bahagia dan sempurna. Wajar saja sikapnya seperti itu, namanya saja mengandung arti seperti itu.

Kangin pun lelah dan akhirnya berhenti berlari-lari di dalam kelas. Sekujur tubuhnya penuh dengan keringat karena sehabis berlari-larian, ditambah lagi saat ini sedang musim panas. Padahal AC di kelas ini sudah dinyalakan, tapi tetap saja keringatnya tidak berhenti mengalir.

“Wah ada kipas angin.” Seru Kangin saat melihat sebuah kipas angin berkaki di pojok ruangan kelas.

“Trek” Kangin pun menekan tombol dengan kecepatan paling tinggi pada kipas angin berkaki tersebut.

“Aaaahh” Kangin membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar. Kangin merasa ini adalah permainan yang sangat menarik dan bisa membuat rasa gerahnya sedikit berkurang.

Di lain sisi, tepatnya di meja bundar tersebut. Duduklah Kyu yang sedang memegang PSP putih miliknya tanpa ada minat sedikit pun untuk memainkannya.

Selama dua minggu ini, Kyu selalu murung meratapi PSP miliknya tanpa memainkannya. Ini semua karena seseorang. Ya, ini semua karena Hyunji. Dua minggu yang lalu, Hyunji pindah sekolah ke daerah namsan karena rumahnya juga pindah ke sana. Kyu merasa kesepian, biasanya saat Kyu sedang bermain PSP selalu ada Hyunji yang menemani di sebelahnya, dan sekarang tak ada yang menemaninya bermain. Sebenarnya Hyunji tidak pernah menemani Kyu bermain PSP, Hyunji hanya selalu belajar matematika di samping Kyu dan Kyu beranggapan bahwa Hyunji selalu menemaninya bermain PSP. Itu semua hanya pikiran Kyu.

Kyu yang sedang bosan pun mengedarkan perhatiannya pada teman-temannya. Mata Kyu tertarik pada Kangin yang sedang bermain dengan kipas angin di ujung ruangan sana.

Kyu pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Kangin. Dia meninggalkan PSP miliknya di atas meja bundar tersebut, dan itu merupakan pertama kalinya Kyu meninggalkan benda kesayangannya di sembarang tempat.

Saat ini Kyu sedang berdiri di samping Kangin. Melihati Kangin yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin tersebut. Kangin yang menyadari kehadiran Kyu pun menutup mulutnya dan menoleh ke arah Kyu.

“Wae?” Tanya Kangin merasa terganggu dengan kehadiran Kyu.

“Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu tertarik lalu membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

Kangin pun melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

“Aaaahh…” Suara mereka berdua menggema di dalam ruangan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Itu berbahaya.” Seru Yoona yang mendengar suara ‘Aaaahh’ dan berlari ke arah mereka berusaha menghentikan permainan mereka.

“Akh” Pekik Kangin kaget mendengar suara guru mereka.

“Hua~ Hua~” Jerit Kangin menangis. Lidah Kangin berdarah terkena baling-baling kipas yang sedang berputar tersebut.

“Tek” Yoona langsung menekan tombol berwarna merah untuk mematikan kipas angin tersebut. Sedangkan Kyu berdiri di samping Kangin dan melihati Kangin yang sedang menangis.

“Lain kali jangan bermain kipas angin lagi.” Ujar Yoona menasehati Kangin dan membawanya untuk diobati. Menjadi guru TK benar-benar repot. Batin Yoona lelah dengan tingkah laku anak-anak ini.

Kyu sendirian lagi. Padahal dia sangat senang saat bermain dengan Kangin tadi.

Yoona seonsongnim mengganggu saja. Batin Kyu kesal dengan gurunya itu.

Kyu berjalan kembali ke tempat duduknya, dan mengambil PSP yang ditinggalkannya di atas meja bundar tersebut.

Kyu hanya memegang PSP itu tanpa memainkannya. Pikirannya melayang. Apa saat ini Hyunji sedang belajar matematika?

Matematika? Benar, aku harus belajar matematika. Suatu saat nanti saat aku bertemu dengan Hyunji, dia pasti kaget kalau aku bisa mengerjakan soal matematika. Aku akan mengalahkannya agar dia kaget sampai mati. Hahahaha. Batin Kyu mengandai-andai.

>>>>Flashback End

 

–Author Pov–

“Apa benar kau itu Kyu si maniak game?” Tanya Hyunji meyakinkan.

“Ne, akhirnya kau ingat juga.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum ke arah Hyunji.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu?” Tanya Hyunji kesal.

“Itu salahmu. Kenapa dulu kau selalu menghindariku? Bahkan untuk melihat wajahku pun tidak.” Ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Itu semua salahmu. Kenapa kau menyenggol tanganku dan bilang pada Heechul seonsongnim bahwa aku menyenggol tanganmu dan meminta contekan padamu?” Seru Hyunji kesal mengingat kejadian dulu.

“Kau masih ingat kejadian itu rupanya.” Seru Kyuhyun ke arah Hyunji.

“Ne tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya semudah itu. Berkat seorang namja bernama ‘Cho Kyuhyun’ aku bisa mendapatkan nilai 35 di ujian matematikaku, dan itu adalah nilai terburuk dalam hidupku.” Sahut Hyunji masih kesal lalu melipat kedua tangan di dadanya.

“Aku menyenggol tanganmu agar kau mengingatku. Saat TK dulu kau juga menyenggol tanganku berulang kali hingga aku gagal mengalahkan musuh di PSP-ku” Ujar Kyuhyun memberi alasan.

“Tapi kenapa kau bilang pada Heechul seonsaengnim aku meminta contekan padamu?” Balas Hyunji tidak puas dengan alasan Kyuhyun.

“Aku hanya ingin sedikit bermain.” Ujar Kyuhyun polos.

“Sedikit bermain? Dan membuatku mendapat nilai 35?” Sindir Hyunji.

“35 cukup bagus.” Sahut Kyuhyun tersenyum dengan wajah innocent-nya.

“Huh~ Itu tidak terdengar seperti pujian” sindir Hyunji.

“Baiklah, aku akan minta maaf. Mianhae Hyunji-ah” Ujar Kyuhyun tulus.

Hyunji menyipitkan matanya menatap Kyuhyun sinis.

“Sulit sekali menerima maaf darimu. Kalau begitu aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” Bujuk Kyuhyun.

“Jinjayo?” Tanya Hyunji tertarik.

“Ne, setelah kau memenangkan pertarungan game denganku. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu ditambah kau bekerja menjadi sekretarisku. Tapi jika aku yang menang kau harus mengabulkan satu permintaanku juga ditambah kau tetap menjadi sekretarisku. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kyuhyun.

“Baiklah, aku mau. Bersiaplah untuk kalah tuan Cho.”  Ledek Hyunji.

“Percaya diri sekali kau.” Sahut Kyuhyun.

Mereka berdua pun bertanding game dengan laptop milik Kyuhyun.

“YA!!” Pekik Hyunji saat dia kalah melawan Kyuhyun di perterungan game tadi.

“Hahahaha. Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku semudah itu. sekarang kau harus mengabulkan permintaanku.” Pinta Kyuhyun.

“Kau ingin apa?” Tanya Hyunji malas.

“Aku ingin kau menjadi yeoja chinguku!”

^0^ The End ^0^

 

Kamus:

– Ne= ya, benar

– Anyeong= sapaan saat bertemu seseoorang, pamit, halo, selamat pagi/siang/sore/malam

– Mwo= apa

– Aniyo= tidak, bukan

– Namja= laki-laki

– Yeoja= perempuan

– Seonsaengnim= guru

– Gomawo= terimakasih

– Aigo= ya ampun, ya tuhan

– Omo= ekspresi kaget

– Chakkaman= tunggu

– Wae= kenapa

– Yeoja chingu/Namja chingu= pacar

– Eotteokhae= aku harus bagaimana?

– Jinjayo= benarkah?

Sebagian besar ff ini berisi fakta aneh member Super Junior. Itu semua karena author rindu banget sama Super Junior yang membernya masih 13 dan akan tetap selamanya 13 :’)

Oh ya, faktanya Hangeng emang punya tiga cabang restaurant ‘Meihua Dumplings’ di China, dan itu adalah usaha keluarganya. Dan faktanya SM itu emang bukan singkatan dari Soo Man, melainkan Star Museum.

^^ I’m Proud To Be ELF ^^

Facebook: Ni SanElf KangBum

Twitter: @ni_san47

My First and Only [ Part 3 ]

 

Author : chokyu88

 

Cast     : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

 

Genre  : Romance, Family

 

Length : Chaptered

 

Rating : PG+15

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Tapi aku menyukaimu.” Deg. Kata-kata singkat yang keluar dari mulut Eunhyuk itu sukses membuatku mematung di tempat dan membuatku kehilangan akal sehat. Debar jantungku ini berdetak sungguh keras sampai-sampai aku takut bahwa saking kerasnya ia bekerja, jantungku ini akan lelah dan akhirnya berhenti bekerja. Baiklah mungkin aku terlalu berlebihan kali ini.

 

“A-apa yang kau katakan barusan hah?” tanyaku sambil berusaha menemukan kembali suaraku.

 

“Aku menyukaimu Kim Jiyeong, apa masih kurang jelas? Atau aku perlu berteriak di depanmu saat ini, bilang bahwa aku menyukaimu?” jawab Eunhyuk mantap.

 

“Tch rupanya karena terkena angin malam seperti ini membuatmu bicara melantur Eunhyuk-a, jadi sebaiknya aku cepat mengobati luka di sudut bibirmu itu dan kita pulang.” Aku berusaha bersikap setenang mungkin dan kembali menyibukkan diriku dengan menuangkan sedikit alkohol di kapas kemudian berniat melap bekas darah di sudut bibir Eunhyuk.

 

“Aku sedang tidak bercanda, Kim Jiyeong. Aku serius dalam mengatakan bahwa aku menyukaimu.” Balas Eunhyuk. Memang aku yakini dari nadanya bicara saat ini dia memang tidak sedang bercanda.

 

“Memangnya kau pikir aku sedang bercanda hah? Sudah tidak usah banyak bicara lagi, kemari aku akan obati lukamu itu dan segera pulang.” Eunhyuk tidak membalas lagi ucapanku dan aku merasa senang akan hal itu. Setidaknya aku bisa meredakan sedikit debar jantungku yang bekerja di luar biasanya ini.

 

Aku mengusap pelan-pelan darah yang ada di sudut bibirnya. Aisshhh bukannya malah reda debar jantungku ini malah berdetak makin tak karuan. Rupanya aku salah mengambil keputusan. Dasar Kim Jiyeong bodoh!

 

“Ya! Untuk apa kau memandangiku seperti itu hah?” protesku yang merasa risih karena pandangan Eunhyuk padaku.

 

Hening. Eunhyuk tidak merespon protesku itu. Errr apa perlu laki-laki di depanku ini aku lempar dengan sepatu agar dia tak memandangiku seperti itu? Perbuatan bodohnya itu membuatku salah tingkah sendiri! Apa dia tidak menyadarinya? Huh.

 

“Ya! Lee Hyuk Jae! Tidak bisakah kau berhenti memandangiku seper…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Eunhyuk menarikku dan mendaratkan bibirnya tepat dibibirku, dan kini kedua bibir kami saling bertemu. Aku benar-benar terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Ketika aku berusaha melepaskan diri, Eunhyuk malah menarik diriku agar lebih dekat dengannya dan memperdalam ciumannya padaku. Entah sekarang mukaku sudah seperti apa, tapi aku yakin sekali bahwa mukaku sudah berubah sangat merah seperti kepiting rebus atau bahkan seorang badut. Dan debar jantungku ini bekerja 3 kali lipat dari biasanya. Aisshh pasti Eunhyuk mengetahui hal ini dilihat dari posisinya yang sangat dekat denganku .

 

Tak lama kemudian Eunhyuk melepaskan ciumannya dan tersenyum singkat penuh arti. Aku buru-buru menundukkan wajahku karena tidak mau terlihat bodoh di depannya.

 

“Lee Hyuk Jae sialan, apa baru kau lakukan padaku hah?” protesku geram dengan tetap menundukkan wajahku.

 

“Menghukummu.” Balasnya santai.

 

“Ne?!” tanyaku bingung.

 

“Iya itu akibatnya karena kau menolakku.”

 

“Menolakmu? Memangnya kau meminta apa padaku?”

 

“Tadi saat aku bilang bahwa aku menyukaimu, kau tidak merespon apapun, jadi itu aku anggap sebagai penolakan.”

 

Aku makin tidak mengerti apa yang dimaksud Eunhyuk. Menolaknya? Bukannya tadi dia hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku? Dia kan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya atau apalah, tapi kenapa dia bilang aku menolaknya?

 

“Itu sama saja artinya aku menyatakan perasaanku padamu bodoh! Hah aku pikir kau cukup pintar untuk mengerti apa yang aku maksud, tapi aku salah. Kau itu benar-benar bodoh.” Kata Eunhyuk yang seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

 

“Ya! Jangan mengataiku bodoh! Itu salahmu sendiri karena tidak mengatakannya dengan jelas!” balasku membela diri.

 

“Aisshh.” Eunhyuk terlihat frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri. “Hah baiklah jika ini yang kau minta…” Eunhyuk menarik nafasnya dalam dan kemudian membuka suaranya lagi. Bukan main-main kali ini. Aku tahu dia sangat serius. Aku belum pernah melihat Eunhyuk seserius ini sebelumnya.

 

“Kim Jiyeong tolong dengarkan aku baik-baik dan aku mohon kau menyimak apa yang aku katakan, karena aku tidak akan mengulanginya dua kali atau repot-repot menjelaskan apa maksud dari yang ingin aku katakan sekarang.”

 

Aku menarik nafasku dalam-dalam, sekedar untuk mencari oksigen untuk paru-paruku karena jujur aku sudah hampir tidak bisa bernafas sekarang.

 

“Jiyeong-a, aku menyukaimu. Mungkin ini terdengar aneh karena aku baru kenal denganmu 3 hari yang lalu, tapi aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, tapi perlu kau ketahui satu hal, sejak kau masuk ke kelas hingga akhirnya kau duduk disebelahku, aku merasa kau gadis yang menarik dan aku yakin cepat atau lambat aku akan menyukaimu. Dan ternyata hal itu terbukti, semakin aku mengenalmu, aku semakin menyukaimu, dan tadi saat kau dengan nekatnya menolongku dari amukan ahjussi-ahjussi itu, aku memarahimu karena aku takut kau terluka. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku ingin selalu melindungimu. Jadi, apa kau mau membantuku mewujudkan keinginanku itu? Apa kau mau menjadi kekasihku, Kim Jiyeong?” Eunhyuk menggapai tanganku dan menggenggamnya.

 

Aku masih terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa atau bersikap apa. Tidak semua dari kata-kata Eunhyuk barusan bisa aku cerna dengan baik. Tapi hati kecilku ini mengatakan bahwa aku harus berkata iya, karena aku merasakan hal yang sama dengannya.  Aku tahu pasti Eunhyuk sangat menunggu jawabanku, tapi tidak mungkin aku langsung menerimanya. Aku tidak mau dia menganggapku gadis gampangan.

 

“Ohya aku lupa memperingatimu satu hal, aku tidak suka penolakan. Dan kali ini, aku sedang berbaik hati dan memberikanmu dua pilihan jawaban, “Ya” atau “Mau”, jadi bagaimana apa kau mau menjadi kekasihku?” Eunhyuk kembali bertanya padaku.

 

“Tch, kalau begitu apa bedanya bodoh! Kalau seperti itu bagaimana bisa aku menolakmu hah?” kataku menggodanya.

 

“Jadi kau mau menolakku lagi?” tanyanya dengan nada penuh ancaman.

 

“Iya. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menolakmu?” balasku tidak mau kalah.

 

“Aku akan menghukummu lagi kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum nakal dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan hah?” Aku memukul kepalanya karena sikapnya itu.

 

“Hahaha Jiyeong-a kau itu sangat lucu. Aku tahu sebenarnya kau itu juga menyukaiku kan? Sudah tidak usah pura-pura lagi, cepat kau terima saja aku.”

 

“Cih dasar sok tahu.”

 

“Mukamu yang memerah dan kerasnya debar jantungmu saat aku menciummu itu membuktikan padaku bahwa kau juga menyukaiku. Apa kau masih mau mengelak?”

 

Argghhh berarti usahaku tadi sia-sia saja. Eunhyuk tetap saja mengetahui keadaanku yang memalukan itu.

 

“Sudah puas kau membuatku seperti orang bodoh hah?” teriakku frustasi.

 

“Belum sampai kau mau menerimaku.”

 

“Dasar keras kepala! Baik-baik, aku mengalah! Aku menerimamu. Puas?”

 

“Jinjja? Jadi kau sekarang menjadi kekasihku?” Eunhyuk terlihat sangat gembira.

 

“Hhhmm.” Jawabku acuh. Padahal sebenarnya saat ini aku juga sama gembiranya dengannya.

 

Aku tetap dalam posisiku yang menyilangkan tanganku di depan dada sampai Eunhyuk mencium pipiku singkat dan kemudian berlari menjauhiku. Aku tahu, pasti dia takut aku akan mengamuk karena perlakuannya itu.

 

“Lee Hyuk Jae! Apa yang kau lakukan hah?” aku berteriak tidak terima dan berlari mengejarnya. “Kau berhenti atau aku akan kembali menarik ucapanku?!” teriakku lagi. Sebenarnya aku tidak serius dengan apa yang aku katakan barusan, aku hanya tidak ingin berlari-lari untuk mengejarnya, menurutku hal itu sangat menjijikan, sama persis seperti yang ada di drama-drama.

 

Aku lihat Eunhyuk berhenti. Hahaha pasti dia takut dengan ancamanku barusan. Kemudian aku berjalan santai menuju ke arahnya.

 

“Kau tidak serius dengan apa yang kau katakan kan?” tanya Eunhyuk ketakutan.

 

“Karena kau menuruti apa yang aku perintahkan, jadi aku tidak serius dengan apa yang kukatakan barusan.” Jawabku santai.

 

“Ah baguslah. Kajja kita pulang.” Eunhyuk terlihat lega dan menggandeng tanganku yang bebas (?) agar aku mendekat dengannya.

 

“Apa yang kau lakukan hah?”

 

“Menggandeng tangan gadisku, apa tidak boleh?” tanyanya sambil tersenyum.

 

Gadisku? Aku tersenyum mendengar Eunhyuk memanggilku dengan sebutan barunya itu. Ya aku akui itu lumayan keren.

 

“Ne, kajja kita pulang.” Balasku sambil ikut tersenyum ke arahnya.

 

***

 

“Nah sekarang sudah sampai. Kau cepat masuk ke dalam, di luar ini udaranya dingin sekali.” Perintah Eunhyuk ketika kami sudah sampai di depan rumahku.

 

“Hhmm baiklah.” Kataku menurut sambil membalikan badanku berniat untuk masuk ke dalam. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya, tapi Eunhyuk benar, udara di luar saat ini sungguh dingin.

 

“Jiyeong-a, tunggu dulu.”

 

“Apa lagi?”

 

Eunhyuk terlihat menarik nafasnya sesaat dan kemudian menjawab pertanyaanku.

 

“Aku mencintaimu. Terima kasih untuk hari ini.” Eunhyuk tersenyum dan kemudian berbalik untuk pulang. Barusan dia bilang apa? Mencintaiku? Aku tidak salah dengarkan? Bukannya tadi  dia hanya bilang bahwa dia menyukaiku?

 

“Eunhyuk-a! Hati-hati di jalan! Aku juga mencintaimu.” Balasku malu-malu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan rentetan kata menjijikan seperti itu, tapi apa boleh buat.

 

Eunhyuk menghentikan langkahnya kemudian berbalik lagi menghadapku. “Aku tahu. Sudah sana cepat masuk, aku tidak mau kau mati membeku di sana.”

 

“Ne!” balasku dan kemudian Eunhyuk melanjutkan langkahnya.

 

Aku sendiri pun segera masuk ke dalam rumah. Bayangan-bayangan kejadian saat bersama Eunhyuk pun mulai memenuhi pikiranku, dan efek yang ditimbulkannya adalah aku tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila.

 

Cklek. Aku menutup pintu rumahku pelan dan segera menuju kamarku dengan terus tersenyum. Aku tidak tahu bahwa daritadi Hyuri memperhatikanku, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerguku.

 

“Jiyeong-a, kau baru pulang?”

 

“Ne.” Jawabku.

 

“Dengan siapa?”

 

“Eunhyuk.” Jawabku lagi.

 

“Oh.” Hyuri meng-oh-kan jawabanku dan lebih memilih untuk diam.

 

“Kau tidak tidur? Ini sudah malam.” Tidak biasanya aku bertanya seperti itu pada Hyuri, tapi entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

 

“Ne? Ah tadi aku menunggumu, makanya belum tidur.” Jawab Hyuri setengah bingung.

 

“Sekarang aku sudah pulang, lebih baik kau tidur.” Suruhku. Tidak heran kalau Hyuri akan bertambah bingung terhadap sikapku ini.

 

“Jiyeong-a, kau sakit?”

 

“Ya! Kenapa malah tanya begitu? Aku bersikap kasar, kau protes! Sekarang aku bersikap baik begini, kau protes juga! Sebenarnya maumu apa hah?”

 

“Aniya. Aku hanya bingung dengan sikapmu itu. Kau tiba-tiba berubah, apa ini semua karena Eunhyuk?”

 

“Tch, tidak usah sok tahu. Aku begini karena moodku sedang baik saja! Tidak usah bawa-bawa Eunhyuk! Sudah aku mau ke kamar.” Bentakku pada Hyuri.

 

“Aku kan hanya bertanya. Yasudah sana pergi ke kamarmu. Ini sudah malam, lebih baik kau tidur kalau besok tidak mau terlambat ke sekolah.”

 

“Ne.” Jawabku malas sambil melangkahkan kakiku ke kamar.

 

Apa benar Eunhyuk yang merubah sikapku? Aku masih sibuk bertanya-tanya pada diriku sendiri, sampai ponselku bergetar dan otomatis menyadarkanku.

 

Aku mengernyit melihat layar ponselku. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang tak dikenal. “Ini siapa?” gumamku sambil mengklik tombol ‘open’ pada layar ponselku.

 

Jiyeong-a! Simpanlah nomorku! –Eunhyuk

 

Ha? Eunhyuk? Darimana dia tahu nomor ponselku? Setahuku aku belum memberi tahunya.

 

Darimana kau tahu nomor ponselku hah?

 

Aku sibuk berpikir sendiri darimana Eunhyuk mengetahui nomor ponselku, hingga untuk kedua kalinya ponselku kembali bergetar.

 

Rahasia. Kau tidak perlu tahu aku dapat darimana. Sudah ya, sekarang kau tidur. Selamat malam Jiyeong-a~

 

Aku tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang dikirim oleh Eunhyuk tersebut dan segera saja aku membalasnya.

 

Aisshh baiklah. Ne, kau juga tidur. Selamat malam~

 

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, aku meletakkan ponselku di meja belajarku dan segera membersihkan diriku. Haaah mungkin malam ini aku akan mimpi indah, batinku sendiri.

 

***

 

“Kau baru sampai? Ke mana saja hah?” tanya Eunhyuk ketika aku baru sampai di gerbang sekolah.

 

“Kau menunggu di sini?” bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya.

 

“Kau tidak lihat?”

 

“Aishh iya aku lihat. Tapi buat apa kau menungguku di sini? Kan kau bisa menungguku di kelas?”

 

“Tidak mau. Kalau aku menunggu di kelas, itu sama saja aku akan lebih lama untuk melihatmu.”

 

“Cih, dasar gombal.” Ledekku pada Eunhyuk dan berjalan duluan menuju kelas.

 

“Jiyeong-a! Aku tidak gombal, aku serius!” teriak Eunhyuk sambil mengejarku.

 

“Aku ingatkan padamu, jangan sering-sering memakai kata-kata gombal seperti itu kalau kau mau aku tetap menjadi pacarmu.”

 

“Mwo?! Kenapa begitu? bukankah itu wajar untuk sepasang kekasih?

 

“Bagiku tidak. Itu sangat menjijikan.”

 

“Ah kau tidak asik Jiyeong-a~ Lalu bagaimana aku menyalurkan bakat gombalku ini kalau kau tidak suka?” tanya Eunhyuk sambil memamerkan gummy smile-nya itu.

 

“Putuskan saja aku dan cari gadis lain hhmm atau bisa juga kau kembali pada man…”

 

“Ya! Aku hanya bercanda! Baik-baik aku mengerti. Tapi jangan pernah kau suruh aku untuk memutuskanmu!” gerutu Eunhyuk.

 

“Hahaha aku juga hanya bercanda, sudah jangan cemberut seperti itu. Ayo cepat ke kelas.” Kataku sambil tertawa.

 

Baru saja kami ingin masuk kelas, seorang gadis yang sebenarnya kehadirannya tidak kuharapkan ini muncul di hadapan kami berdua dan langsung mengalungkan lengannya di lengan Eunhyuk.

 

“Oppa, kau ke mana saja? Aku menunggumu tadi di gerbang sekolah.” Ucap gadis itu manja sambil tetap menggandeng tangan Eunhyuk.

 

Ya! Apa dia tidak melihat di sini ada aku? Dasar gadis menyebalkan!

 

“Ji Eun-ssi lepaskan aku.” Ucap Eunhyuk risih dan mencoba melepas paksa tangan Ji Eun.

 

“Oppa, apa kau lupa? Dulu sewaktu kita pacaran, kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan kau mengantarkanku kelas. Aku ingat waktu orang-orang sangat iri melihat kita.” Rajuk gadis itu lagi.

 

Errrrr kupingku panas mendengar rajukan manja gadis itu pada Eunhyuk. Rasanya aku sudah ingin mencakar mukanya saja!

 

“Jangan ungkit-ungkit hal itu lagi, Ji Eun-ssi. Sekarang aku sudah menemukan penggantimu, dan dia sekarang sedang berdiri dihadapanmu.”

 

Mendengar Eunhyuk mengucapkan hal itu, aku jadi tidak enak sendiri. Dengan canggung aku membungkukkan tubuhku sekedar untuk memberi salam padanya.

 

“Annyeong Ji Eun-ssi.” Ucapku pura-pura ramah, karena sebenarnya aku ingin melempar mukanya itu dengan sepatuku ini.

 

“Ah jadi ini gadis pengganntiku.” Balasnya dengan tampang meremehkan.

 

“Jadi, aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan untuk mendekatimu?” tanya gadis itu lagi pada Eunhyuk.

 

Mwo?! Sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Eunhyuk sudah mempunyai aku, kenapa dia masih bertanya seperti itu?

 

“Tidak sama sekali. Aku sangat mencintainya, dan lebih baik kau mencari lelaki lain saja.” Jawab Eunhyuk sinis.

 

Aku menyikut lengan Eunhyuk karena menganggapnya bicara terlalu kasar pada Ji Eun. Meskipun aku kesal padanya, tapi tetap saja aku kasihan padanya. Aku tahu dia itu juga wanita, pasti perasaannya sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang dicintainya.

 

“Eunhyuk-a, jangan terlalu kasar seperti itu.” Bisikku pada Eunhyuk, tapi aku yakin Ji Eun juga bisa mendengarnya,

 

“Baiklah, ternyata aku sudah tidak punya kesempatan ya? Hhmm kalau begitu, boleh kah aku bicara sebentar denganmu oppa?” Ji Eun memasang muka penuh harapan pada Eunhyuk. Eunhyuk sendiri pun bingung antara mengiyakan permintaan Ji Eun atau tidak. Karena melihat hal itu, aku segera mengambil keputusan.

 

“Sudah sana biacaralah dengan Ji Eun, aku akan menunggumu di kelas.” Kataku pada Eunhyuk.

 

“Benarkah? Kau tidak apa-apa jika kutinggal?”

 

“Ya! Tentu saja tidak apa-apa! Kau pikir aku anak kecil hah?” balasku kesal.

 

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk. “Ji Eun-ssi, ayo cepat. Kita bicara sambil aku antarkan kau ke kelasmu.” Kata Eunhyuk lagi pada Ji Eun.

 

Aku sendiri lebih memilih untuk diam dan berjalan menuju kelasku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena mendengar ucapan Ji Eun yang sebenarnya lebih ditujukan pada Eunhyuk itu.

 

“Dia tidak memanggilmu oppa? Tch bagaimana bisa? Bukannya kau dulu memaksaku hingga mengancam untuk memutuskanku agar aku memanggilmu oppa?” tanya Ji Eun.

 

“Jangan banyak bicara atau aku tidak jadi bicara denganmu.”  Jawab Eunhyuk.

 

Aku tidak mendengar suara Ji Eun lagi setelah itu. Aku tahu dia pasti lebih memilih menuruti perintah Eunhyuk daripada kehilangan kesempatan emasnya untuk bicara dengan Eunhyuk. Hah benar-benar gadis menyebalkan!

 

***

 

Eunhyuk’s POV

 

Kalau bukan Jiyeong yang menyuruhku untuk mengikuti kemauan gadis ini, mungkin sekarang aku sudah di kelas dan berbincang dengan Jiyeong. Haaaah sebenarnya mau gadis ini apa sih? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak mengangguku lagi? Dan katanya tadi dia ingin bicara denganku? Tapi kenapa sampai saat ini dia belum juga membuka suaranya? Apa dia ingin mempermainkanku?

 

“Ya! Ji Eun-ssi, kita sekarang sudah sampai di depan kelasmu, tapi kenapa kau belum bicara juga? Sebenarnya apa maumu hah?” tanyaku tak sabar.

 

“Tidak ada. Aku hanya ingin berdua saja denganmu.” Jawab Ji Eun santai.

 

“Yak!” teriakku kesal karena merasa dipermainkan.

 

“Kau kesal padaku?” tanya Ji Eun.

 

“Tentu saja! Kau bilang padaku tadi kau mau bicara padaku, dan sekarang kau seenaknya mengatakan bahwa tidak ada yang mau kau bicarakan dan hanya ingin berdua padaku! Bagaimana aku tidak kesal hah?” bentakku pada Ji Eun.

 

“Itu salahmu sendiri karena lebih memilih gadis itu daripada aku. Dan rupanya aku perlu memberi tahumu satu hal, selain aku tidak ada yang boleh memilikimu. Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menjadi milikku.”

 

“Kau kira aku ini barang yang bisa seenaknya kau dapatkan hah? Sudah aku menyesal sudah menuruti permintaanmu, lebih baik aku aku kembali ke kelas saja.” Balasku sambil berbalik meninggalkan Ji Eun.

 

“Aku serius, tuan Lee.” Ucap Ji Eun kemudian tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan seakan-akan tidak mendengar ucapannya.

 

Memangnya apa yang akan dia lakukan? Lihat saja, sekeras apapun dia berusaha, aku tidak akan menjadi miliknya lagi.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Kira-kira apa yang dibicarakan oleh mereka berdua? Apa mungkin Ji Eun tetap meminta Eunhyuk kembali menjadi kekasihnya? Kalau benar begitu, apa mungkin Eunhyuk menerima permintaan Ji Eun, dan memilih menyembunyikan hubungan mereka di belakangku? Andwae! Itu tidak boleh terjadi! Ya! Lee Hyuk Jae, kalau kau berani melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkanmu! Aku meracau sendiri dan tak sadar sudah memukul-mukulkan tanganku sendiri ke atas meja.

 

“Kau kenapa? Kenapa menyebut namaku seperti itu?” tanya Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berada di hadapanku. Tentu saja aku kaget bukan main dan pasti wajahku berubah menjadi sangat konyol saat ini.

 

“Ani tidak apa-apa.” Jawabku sambil menyembunyikan rasa maluku.

 

“Oh, kupikir kau tadi merindukanku sampai-sampai menyebut namaku seperti itu.”

 

“Tidak! Kau jangan terlalu percaya diri! Tadi aku tidak menyebut namamu, kau mungkin salah dengar.” Elakku.

 

“Aah jadi aku salah dengar ya? Baiklah kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum singkat lalu kembali ke tempat duduknya. Dan bertepatan dengan hal itu, bel berbunyi dan songsaengnim memasuki kelas.

 

Entah kenapa tapi tumben sekali Eunhyuk sedari tadi diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Rasanya aku ingin sekali bertanya apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku mengurungkan niatku. Mungkin dia akan bercerita padaku jika dia mau, batinku dalam hati dan kembali fokus kepada pelajaran.

 

***

 

“Eunhyuk-a, aku mau ke kantin. Kau mau ikut?” tanyaku pada Eunhyuk.

 

“Kau tidak pa-pa kan jika harus ke kantin sendirian? Aku ingin menyelesaikan catatan yang diberikan oleh songsaengnim dulu.” Jawab Eunhyuk.

 

“Kau tidak sakit kan?” tanyaku lagi karena merasa cemas dengan sikap Eunhyuk yang tiba-tiba aneh ini.

 

“Tidak. Kau tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Jawab Eunyuk menenangkanku.

 

“Hhmm baiklah, aku ke katin dulu ya.” Ucapku akhirnya sambil meninggalkan Eunhyuk.

 

Apa yang sedang dipikirkannya sampai dia menjadi aneh begitu? hah sudahlah lebih baik aku tidak mencampuri urusannya.

 

***

 

Menurutku ini lucu. Aku sudah bersekolah di sini selama 4 hari, tapi baru hari ini aku bisa ke kantin. Hahaha aku tersenyum kecil karena mengetahui fakta tersebut. Aku memilih soup ayam dan jus jeruk untuk menu makananku hari ini. Yah sekolah ini lumayan juga, makanan yang disediakan di kantin cukup lengkap.

 

BRUK. PRANG. Nampan yang berisi soup ayam dan jus jeruk ini tumpah semua ke bajuku.

 

“Aawww! Aisshhh jinjja panas sekali!” rintihku karena terkena kuah panas soup ayam yang kupesan. Setahuku tadi di depanku tidak ada orang, kenapa aku bisa terjatuh?

 

“Ups. Rupanya kakiku menyelengkat seseorang ya?” suara Ji Eun terdengar kemudian.

 

Ah jadi dia rupanya yang menyelengkatku sampai jatuh begini? Dasar menyebalkan! Lihat saja kali ini aku tidak akan tinggal diam padanya!

 

“Kau memang tidak lihat ada orang berjalan hah?” kataku marah sambil mencoba untuk bangun. “Ini lihat seragamku jadi kotor kerena ulahmu!” kataku lagi.

 

“Itu salahmu kenapa tidak memperhatikan jalan! Kau jangan menyalahkanku!”

 

“Nona Ji Eun tapi aku sudah sangat berhati-hati saat berjalan tadi, kau yang memang sengaja untuk menyelengkatku!”

 

“Aku? Sengaja menyelengkatmu? Yang benar saja!”

 

“Tch.” Umpatku kesal sambil mencoba membersihkan seragamku.

 

“Mana Eunhyuk oppa? Kau tidak bersamanya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Buat apa kau menanyakannya hah? Sudah tak penting berdebat denganmu di sini, aku lebih baik kembali ke kelas.” Ucapku jengkel. Cih bisa-bisanya dia mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau tidak akan mengadu pada Eunhyuk kan kalau aku menyelengkatmu? Oh atau kau akan mengadu pada kakakmu?” tanya Ji Eun dengan nada mengejek.

 

“Siapa yang kau maksud kakakku hah?”

 

“Kim Hyuri eonnie, memangnya siapa lagi?”

 

Aish dia tau darimana Hyuri itu kakakku?

 

“Kau tahu darimana Hyuri itu kakakku hah?”

 

“Kau tidak memanggilnya eonnie? Ah ternyata aku tak salah dengar waktu itu.”

 

“Mworago?! Tidak salah dengar apa maksudmu?!” aku panik. Jangan-jangan dia mendengar pembicaraanku dan Eunhyuk tempo hari yang lalu.

 

“Ya, aku mendengar semuanya, dan ternyata semua yang kudengar itu ternyata tidak salah.”

 

Aku hanya terdiam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Ji Eun kali ini. Masalahnya sekarang semua rahasiaku telah diketahui olehnya.

 

“Dan, hhmm kalau boleh aku mengutarakan pendapatku mengenai masalahmu itu, menurutku kau itu…..anak haram.” Ji Eun mengatakan hal tersebut tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

 

“Ne? Apa maksudmu?”

 

“Kau tidak mengerti apa maksudku? Baik, akan kujelaskan.” Kata Ji Eun sembari mendekat ke arahku dan memasang tatapan intimidasinya kepadaku. “Apakah ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun hanya karena alasan harta?” tanyanya.

 

Hening. Aku tidak menjawab pertanyaan Ji Eun barusan. Pikiran-pikiran aneh yang seketika menyelubungiku ini menganggu kerja otaku saat ini.

 

“Aku masih tidak mengeti Ji Eun-ssi, tolong kau langsung saja, jangan berbelit-belit seperti ini.”

 

“Aisshh ternyata kau memang gadis bodoh, aku heran kenapa Eunhyuk oppa mau menjadi kekasihmu.”

 

“Tidak usah membawa-bawa Eunhyuk dalam urusan ini.” Ucapku tajam.

 

“Aigoo kau galak sekali, aku jadi enggan menjelaskannya padamu kalau begitu.” balas Ji Eun dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

 

“Ji Eun-ssi tolong kau jangan main-main, cepat jelaskan apa maksudmu!” perintahku. Kini darah sudah mulai mengalir ke ubun-ubunku hingga aku menjadi sedikit emosi, tapi sebisa mungkin aku tahan.

 

“Kau dan Hyuri eonnie berasal dari rahim ibu yang berbeda, itu maksudku! Makanya selama ini sikap ibumu terhadap Hyuri eonnie dan dirimu itu jauh berbeda. Perbuatanmu waktu itu yang menyebabkan kerugian pada perusahaan ibumu itu sebenarnya hanya dijadikan alasan, karena tidak mungkin ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun! Apa sekarang kau sudah mengerti maksudku hah?”

 

“Aku dan Hyuri dari rahim ibu yang berbeda? Maksudmu…..”

 

“Benar sekali! Ayahmu berselingkuh dengan wanita lain dan kau adalah hasil dari hubungan mereka itu!”

 

Hatiku sakit. Mataku terasa panas. Ingin rasanya aku teriak bahwa tidak mungkin seperti itu kenyataannya, tapi kenapa hati kecilku ini mengatakan bahwa apa yang dibicarakan oleh Ji Eun itu benar.

 

“Kenapa kau diam? Kau pasti sekarang sedang membenarkan ucapanku kan? Hah dasar gadis bodoh! Kenapa hal begitu saja bisa tidak terpikirkan olehmu?”

 

“Kalau memang benar diriku seperti apa yang kau bicarakan barusan, lalu apa yang mau kau lakukan?” akhirnya aku membuka suaraku.

 

“Menyuruhmu putus dengan Eunhyuk oppa.” Jawabnya santai.

 

“Pu-putus dengannya?” aku terkejut dengan jawaban yang diutarakan oleh Ji Eun.

 

“Ne. Karena menurutku anak haram sepertimu tidak pantas mendapatkan Eunhyuk oppa.”

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, Ji Eun-ssi?”

 

“Memangnya kenapa kau memang anak haram kan?”

 

Emosiku sudah benar-benar tak bisa dikendalikan saat ini. Tanpa sadar aku menaikkan tanganku hendak ingin menampar gadis di depanku ini, tapi gerakan tanganku ini terhenti oleh seseorang…

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

Jiyeong pasti bingung dengan sikapku yang tiba-tiba aneh ini. Semoga saja dia tidak salah paham denganku, aku begini karena aku memikirkan apa yang akan Ji Eun lakukan setelah kejadian tadi pagi saat aku mengantarnya ke kelas. Aku tahu dia bukan gadis yang ucapannya main-main, jika dia berkata sesuatu, pasti itu akan menjadi kenyataan. Tapi apa yang akan dilakukannya kali ini? Tidak mungkin kan kalau dia sampai mencelakakan Jiyeong?

 

“Ya! Teman-teman! Ayo kita ke kantin! Kalian tahu? Ji Eun sedang bertengkar dengan anak baru itu!” seorang siswa laki-laki berteriak di depan kelas layaknya mengumumkan sayembara kerajaan. Sontak seluruh murid di kelasku ini berbondong-bondong menuju ke kantin.

 

Ji Eun dan anak baru? Apa mungkin itu Jiyeong?

 

Seakan-akan tidak mau kalah dengan muridn lainnya, aku ikut berlari juga menuju kantin, aku berharap kalau mereka salah orang. Aku harap bukan Jiyeong, gumamku dalam hati.

 

Sampai di kantin kulihat murid-murid sudah bergerombol membentuk lingkaran seperti anak-anak yang siap menonton sebuah pertunjukkan sulap. Aku menerobos gerombolan murid-murid itu dan mendapati Ji Eun dan Jiyeong sedang beradu mulut. Aku sengaja membiarkan mereka karena ingin tahu apa yang mereka permasalahkan tapi hasilnya nihil aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan, hingga aku melihat Jiyeong mengangkat tangan kanannya hendak menampar  Ji Eun, dan saat itu juga aku mengambil tindakan untuk mencegah Jiyeong.

 

Jiyeong tampak terkesiap ketika aku menahan tangannya.

 

“Kenapa kau menahanku” tanyanya dingin.

 

“Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah.”

 

“Lepaskan.” Ujarnya lagi sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.

 

“Tidak. Lebih baik kita ke ke…”

 

“Oppa, tolong aku. Lihat dia! Dia jahat! Dia ingin menamparku, padahal kan aku hanya memberi saran padanya.” Belum sempat tadi aku menyelesaikan ucapanku, Ji Eun tiba-tiba memelukku dan karena terkejut aku melepaskan tangan Jiyeong.

 

“Oppa! Jangan diam saja! Apa kau terima melihatku diperlakukan seperti itu olehnya?” kata Ji Eun setengah merengek.

 

Aku melirik ke arah Jiyeong, tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang sangat mengerikan. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu, seakan-akan ingin membunuh seseorang.

 

Aku merutuki diriku sendiri yang malah di saat seperti ini tidak bisa segera mengambil tindakan dan kepuutusan yang tepat.

 

Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Perasaanku makin kacau dan mataku semakin panas ketika melihat Ji Eun merengek seperti itu pada Eunhyuk, terlebih-lebih Eunhyuk diam saja, tidak melakukan penolakan atau apapun terhadap sikap Ji Eun tersebut. Tanpa sadar, tanganku sudah mengepal keras dan nafasku memburu. Ingin rasanya aku segera menghabisi gadis di depanku saat ini. Alih-alih untuk mencoba meredam emosiku ini, aku mengambil keputusan untuk kembali ke kelas.

 

“Jiyeong-a kau mau ke mana? Bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Eunhyuk ketika aku berhasil melewati posisi di mana Eunhyuk dan Ji Eun.

 

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Eunhyuk. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan berbalik dan menjelaskan semuanya saat ini juga.

 

“Jiyeong-a!” panggil Eunhyuk lagi. Aku membalikan tubuhku sesaat, tapi bukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Tanyakan saja pada mantan pacarmu itu.” Jawabku dingin dengan menekankan nada bicaraku pada kata ‘mantan pacar’. Aku melihat Eunhyuk dan Ji Eun sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku segera berbalik dan kembali menuju kelasku. Tapi  sepertinya nasibku sedang sial hari ini…

 

“Kim Jiyeong, Jang Ji Eun, kalian berdua ikut saya ke ruang kepala sekolah! Sekarang!” perintah seorang songsaengnim yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku.

 

“Ne.” Jawabku lemah sambil mengikuti songsaengnim itu. Aku merasa Ji Eun berjalan mengikutiku. Ah pasti aku akan terkena masalah!

 

 

 

Author’s POV

 

Jiyeong dan Ji Eun memasuki ruang kepala sekolah.

 

“Kalian tunggu di sini. Bapak kepala sekolah akan menemui kalian segera.” Perintah songsaengnim yang tadi menyuruh Jiyeong dan Ji Eun untuk ke ruang kepala sekolah.

 

Tak lama kemudian Bapak kepala sekolah yang ditunggu itupun datang dan segera mengintrogasi Jiyeong dan Ji Eun.

 

Di lain sisi, Eunhyuk yang penasaran dengan apa yang terjadi di ruang kepala sekolah itupun menguping dari luar.

 

“Kalian berdua, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Seorang pria dengan perwawakan tegas itu mulai membuka suaranya.

 

“Tadi aku hanya bercanda dengan Jiyeong di kantin, tapi entah kenapa Jiyeong tidak terima dan hampir menamparku. Untung ada seorang siswa yang menahannya, mungkin kalau tidak ada, sekarang aku sudah babak belur.” Ji Eun memulai penjelasan yang terkesan lebih memojokkan Jiyeong.

 

“Apa benar begitu Kim Jiyeong?” tanya Kepala Sekolah itu lagi.

 

“Apa kalau aku memberi penjelasan, bapak akan percaya padaku?” Jiyeong malah balik bertanya.

 

“Kau aku suruh untuk menjelaskan! Bukan malah balik bertanya seperti itu!” suara yang daritadi terdengar rendah berat, kini mulai terdengar tinggi.

 

Jiyeong tidak gentar. Ia malah semakin bersikap berani pada sang Kepala Sekolah.

 

“Bukannya penjelasan dari satu orang sudah cukup?”

 

“Jadi apa yang dikatakan Ji Eun itu benar? Kau hampir menamparnya?”

 

Jiyeong terdiam mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Kepala Sekolah. Memang benar dia hampir menamparnya, tapi ada alasan di balik itu, dan Jiyeong memlih untuk tidak menceritakannya saat ini. Di depan Ji Eun dan Kepala Sekolah.

 

“Kau diam. Aku anggap kau membenarkan ucapan saudari Ji Eun. Jadi sudah jelas di sini kau yang salah, Kim Jiyeong. Sebagai hukumannya, kau aku perintahkan untuk membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Kau tidak boleh pulang sebelum hukumanmu itu selesai, apa kau mengerti?” nada memerintah sangat kentara sekali terdengar dari ucapan Kepala Sekolah.

 

Jiyeong mengangguk lemah. Di lain sisi Ji Eun tersenyum puas, karena dia berhasil membuat Jiyeong terkena hukuman.

 

“Kalian boleh keluar sekarang. Dan untuk kau, Jiyeong, segera lakukan hukumanmu.”

 

“Ne.” Jawab Jiyeong lemas dan mereka berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah tersebut.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Jang Ji Eun, apa sekarang kau puas hah? Sudah membuatku menerima hukuman seperti ini?!” Umpatku kesal.

 

Aku berjalan lemas keluar ruangan Kepala Sekolah dan mendapati Eunhyuk sudah berdiri di hadapanku. Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk bicara dengannya, makanya aku lebih memilih berjalan cepat sambil menundukkan wajahku.

 

“Kenapa kau tadi diam saja?” tanya Eunhyuk sambil menarik lenganku. Aku tetap tidak berbalik ke arahnya.

 

“Aku diam atau tidak hasilnya akan sama saja.” Jawabku dan aku menghentakkan tanganku keras agar terlepas dari pegangan Eunhyuk.

 

Dengan kasar aku melangkahkan kakiku untuk menjalani hukumanku. Sebenarnya saat ini, aku mengharap bahwa Eunhyuk akan mengejarku dan menawarkan bantuan untukku, tapi nihil. Eunhyuk sama sekali tidak mengejarku dan…kenapa dia malah menarik Ji Eun?! Mereka mau ke mana?! Aishhh jangan-jangan dugaanku benar…mereka berdua kembali berpacaran dan sengaja menyembunyikannya dariku. Dan mungkin karena hal itu juga, Eunhyuk tadi menahan tanganku dan tidak membelaku sama sekali? Ya! Tidak mungkin Eunhyuk seperti itu! Aku menepis pikiran burukku itu dan dengan malas mulai memasuki toilet pertama yang akan aku bersihkan.

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

“Ji Eun-ssi sekarang kau ikut aku!” perintahku sambil menarik paksa tangan Ji Eun untuk mengikutiku.

 

“Kita mau ke mana oppa?” tanyanya.

 

“Jangan cerewet! Ikut saja denganku!”

 

Aku menarik tangan Ji Eun dengan kasar, dan ketika sampai di tempat yang kutuju aku menghempaskan tangannya dengan kasar pula.

 

“Oppa, jangan kasar seperti itu.” Rintihnya kesakitan.

 

“Aku tidak akan bersikap lembut padamu sekarang! Kenapa kau tega memfitnah Jiyeong dan membiarkannya menerima hukuman seperti itu hah?” tanyaku geram.

 

“Aku tidak memfitnahnya, apa yang aku jelaskan tadi sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya.”

 

“Aku tidak percaya padamu! Tidak mungkin Jiyeong akan menamparmu, jika kau tidak berbuat yang memancing emosinya seperti itu!”

 

“Kau memang tahu apa tentangnya?!”

 

“Aku kekasihnya! Jadi aku tahu sifat Jiyeong!”

 

“Kalian baru menjadi sepasang kekasih tidak lebih dari satu hari! Jadi tidak mungkin kau mengetahui sifatnya! Siapa tahu Jiyeong memang orang yang mudah emosi dan tidak bisa diajak bercanda!”

 

“Tapi dia tidak akan marah seperti itu kalau tidak ada penyebabnya! Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau katakan tadi sehingga membuat Jiyeong marah seperti itu!”

 

“Kenapa kau terus membelanya hah? Tidak bisakah kau sedikit berpikir positif terhadapku?”

 

“Tidak bisa, karena memang kenyatanyaannya, semenjak Jiyeong menjadi kekasihku, kau selalu berusaha untuk menjatuhkannya!”

 

“Memang itu yang ku mau! Aku ingin dia menyerah dan akhirnya aku bia mendapatkanmu lagi! Bahkan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuat Jiyeong menyesal dan akhirnya memutuskanmu.” Ji Eun tersenyum licik.

 

Aku menjadi gugup. Terlebih-lebih mungkin karena aku berteriak-teriak sedari tadi mengundang murid-murid lain untuk mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi di antara aku dan Ji Eun.

 

“Apa yang kau mau lakukan hah?” tanyaku sedikit gugup.

 

“Jadi sekarang kau takut?”

 

“Tidak. Coba saja kau lakukan rencanamu itu! Aku yakin Jiyeong tidak akan menyerah dan tetap akan menjadi kekasihku.” Tantangku.

 

“Baiklah kalau begitu.” Untuk kedua kalinya Ji Eun tersenyum licik dan dengan sigap mengambil ponselku yang ada di kantong celanaku yang kebetulan tidak terlalu dalam.

 

“Rupanya kau ceroboh juga.” Gumamnya dan segera melemparkan ponselku pada seorang siswi yang posisinya dekat dengan Ji Eun.

 

“Ya! Jika aku menjentikkan jariku, segera kau potret apa yang kau lihat di depanmu! Apa kau mengerti?” tanya Ji Eun pada gadis tersebut. Awalnya gadis itu terlihat bingung tapi tak lama kemudia dia mengangguk tanda mengerti.

 

“Yak! Apa yang mau kau lakukan hah?”

 

“Membuktikan ucapanku barusan.” Dengan santainya dia menjawab dan menarik kerah bajuku sehingga posisiku dan Ji Eun kini sangat dekat, bahkan hidung kami nyaris beradu.

 

“Ya, kau siap-siap.” Perintah Ji eun pada gadis itu lagi.

 

Aku mencoba berontak dan sebisa mungkin menjauhakn diriku dari Ji Eun. Tapi terlambat. Sedetik kemudian Ji Eun kembali menarikku mencium paksa diriku. Kemudian terdengar suara jentikan jari Ji Eun dan…Cklik… terlihat blitz dari kamera ponselku dan gemuruh tepuk tangan mulai terdengar.

 

Merasa ini suatu hal yang tidak beres, aku segera dengan kasar mendorong tubuh Ji Eun ke dinding dan melap bibirku.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN JANG JI EUN?” teriakku geram.

 

“Aku sudah bilang padamu dari awal kan bahwa aku akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu kembali? Ini salah satu caraku.” Jawab Ji Eun sambil membenarkan seragamnya. “Ya, kau sekarang segera kirim gambar itu kepada Jiyeong, cari saja nomornya di daftar nomor telfon, pasti ada.” Perintah Ji Eun pada gadi yang sekarang sedang memegan ponselku.

 

“Jangan!” cegahku sambil berusaha untuk merebut ponselku, tapi Ji Eun menghalangiku dan memberi isyarat pada gadis itu untuk terus melakukan apa yang disuruhnya.

 

“Dasar licik! Minggir kau!” kudorong tubuh Ji Eun dengan kasar hingga tubuhnya terhempas ke lantai. Segera saja aku merebut ponselku kembali dan mengecek apakah gambar itu sudah terkirim atau belum. Tubuhku melemas ketika mengetahui gambar itu sudah berhasil terkirim.

 

“Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Lee Hyuk Jae.” Ji Eun berkata licik dan dan bangun dari posisinya yang tersungkur itu dan pergi meninggalkanku.

 

ARRGGH. Aku mengacak rambutku frustasi karena ulah Ji Eun. Apa yang harus aku katakan pada Jiyeong?

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Ini sudah hampir toilet yang ke-3 yang aku bersihkan. Tanganku masih saja bergerak menyikat lantai toilet dengan jijik. Yaisshh kotor sekali toliet ini, ujarku sambil sesekali menutup hidungku karena bau tidak sedap. Tiba-tiba ada segerombol siswi memasuki toilet yang sedang aku bersihkan. Dengan seenaknya mereka menginjak lantai yang baru saja aku bersihkan. Errr ingin sekali aku rasanya membentak mereka, tapi aku mengurungkan niatku dan tetap terus menyikat lantai.

 

“Ya, apa kau tahu bahwa Ji Eun dan Eunhyuk kembali berpacaran?” seorang siswi bertanya pada temannya. Mwo? Apa yang barusan dia katakan? Aku lebih memilih menguping pembicaraan mereka ketimbang menanyakan langsung pada mereka.

 

“Ne? Bukannya mereka sudah putus?”

 

“Memang mereka sudah putus. Tapi apa kau tidak lihat tadi?”

 

“Melihat apa hah? Ya! Kau jangan membuatku penasaran!”

 

“Itu tadi Ji Eun dan Eunhyuk berciuman di depan murid-murid tingkat 2, bukannya itu sangat romantis?”

 

“Jinjja? Aigooo romantis sekali mereka, aku jadi iri dengan Ji Eun, andaikan aju mempunyai kekasih seperti Eunhyuk.”

 

Deg. Benarkah apa yang mereka bicarakan? Benarkah Eunhyuk kembali berpacaran dengan Ji Eun? Hatiku kembali merasa sakit dan tiba-tiba saja air mata sudah menggenangi pelupuk mataku. Tapi aku berusaha menahan tangisku dan memberanikan diri bertanya pada siswi-siswi itu. Mungkin aku salah dengar, batinku.

 

“Hhmm maaf, tapi apa benar kau melihat mereka, ehm maksudku Eunhyuk dan Ji Eun tadi berciuman?” tanyaku hati-hati.

 

“Ne. Aku melihatnya. Dan kalau tidak salah tadi, ada seorang siswi yang memotret kejadian itu, jadi kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan padanya.” Jawabnya.

 

Nafasku tercekat. Jadi benar dugaanku tadi…

 

“Oh bisa juga kau bertanya dengan gadis yang bernama Jiyeong, setahuku tadi Ji Eun menyuruh gadis yang memotret kejadian tadi, mengirim gambar itu pada gadis yang bernama Jiyeong itu, mungkin dia mempunyai gambarnya.” Tambahya kemudian.

 

Air mataku makin mendesak untuk keluar. Jiyeong? Gadis itu kan aku? Apa maksudnya ini? Apa mungkin dia sengaja untuk memberi tahuku tanpa harus bicara langsung padaku?

 

“Ah ne, jeongmal gomawoyo.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

 

“Cheonmaneyo.” Balas siswi itu dan kemudian dia keluar toilet bersama temannya.

 

Aku tinggal sendiri sekarang. Tubuhku tiba-tiba melemas dan akhirnya aku terjatuh. Pandanganku menjadi kabur karena air mata yang jatuh. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Kenapa Eunhyuk tega melakukan ini padaku? Air mataku jatuh makin deras. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambil ponselku yang aku letakkan di kantung seragamku dan benar saja, satu pesan baru masuk ke ponselku. Dari Eunhyuk? Aku mengernyitkan dahiku dan dengan tangan bergetar membuka pesan tersebut.

 

Mataku membelalak ketika melihat isi pesan tersebut. Bukan sebuah tulisan, tapi sebuah gambar. Gambar yang sukses membuatku mengeluarkan air mata lebih banyak lagi. Ya, gambar yang dimaksud siswi tadi. Ponselku terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku tidak peduli bahwa ponselku akan rusak atau tidak, yang aku tahu sekarang hatiku sangat sakit karena Eunhyuk tega berbuat begini padaku.

 

*

 

Entah sudah berapa lama aku menangis di toilet ini, hingga aku tak sadar jika sudah waktunya pulang sekolah. Aku tahu pasti sekarang mataku sangat bengkak. Aku mencoba untuk berdiri dan keluar dari toilet ini, tapi dari jauh aku mendengar suara Ji Eun dan aku mengurungkan niatku ini, alih-alih aku malah masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Aku tidak mau keberadaanku diketahui oleh Ji Eun.

 

“Sekarang bagaimana? Kau menyesalkan menerima Eunhyuk menjadi pacarmu?” tanya Ji Eun. Dia bertanya pada siapa? Apa dia bertanya padaku? Tapi darimana dia tahu ada aku di sini?

 

“Ya, aku sedang bertanya padamu Kim Jiyeong. Kau pasti menyesalkan menerima Eunhyuk sebagai pacarmu? Hah dasar gadis bodoh, coba kau pikir sekarang, mana ada pria yang akan tulus menyukaimu dalam jangka waktu yang sangat singkat? Tidak ada kan? Pasti dia itu hanya mempermainkanmu! Dan lihat kan sekarang apa yang terjadi? Hahaha kasian sekali dirimu itu, Jiyeong-ssi.” Kata Ji Eun kemudian.

 

Ucapan Ji Eun ada benarnya. Mana ada pria yang akan tulus menyukai seorang wanita dalam jangka waktu yang sangat singkat? Argh aku memang bodoh!

 

“Baru sekarang kau sadar bahwa kau bodoh? Tch dasar.” Aku dengar Ji Eun berjalan keluar toilet dan untuk memastikannya aku mengintip dari lubang kunci. Yakin bahwa Ji Eun sudah benar-benar pergi, aku keluar dari bilik toilet.

 

Di depan cermin besar yang ada di toilet ini, aku merapikan diriku. Melap bekas air mataku dan mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku tahu jika aku kembali ke kelas sekarang, pasti ada Eunhyuk di sana dan dia akan menerorku dengan sejuta alasan yang ingin dijelaskan padaku. Ya! Kim Jiyeong, kau harus tunjukkan padanya kalau kau bisa! Kim Jiyeong, hwaiting!

 

***

 

Saat ini aku sudah sampai di kelas. Dan dugaanku tadi salah. Eunhyuk tidak ada di sini. Aisshh aku lupa, mungkin Eunhyuk sudah pulang duluan dengan Ji Eun tadi. Aku merapikan barang-barangku sambil berpikir sendiri.

 

“Hhhmm mungkin tidak lama lagi Eunhyuk akan datang padaku dan meminta putus dariku karena dia sudah kembali lagi dengan Ji Eun. Ya aku yakin itu pasti akan terjadi. Tapi lebih baik aku yang memutuskannya daripada harga diriku dijatuhkan dengan diputuskan oleh seorang pria.”

 

“Tapi aku perlu menyiapkan diriku terlebih dahulu agar saat aku memutuskannya, aku tidak menangis. Memang mungkin aku baru satu hari menjadi pacarnya, tapi aku merasa aku sudah sangat nyaman dengannya. Aku bisa menceritakan semua rahasiaku yang belum pernah aku ceritakan dengan orang lain. Dia bisa menghiburku ketika benar-benar tidak ada orang lain yang bisa menghiburku…”

 

Tes. Air mataku kembali jatuh. Aku sengaja tidak melapnya, lagipula buat apa? Toh tidak ada yang melihatku kan saat ini?

 

Aku berjalan gontai keluar kelasku. Makin lama pandanganku semakin kabur. Aku menangis lagi. Ya! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa bertahan untuk tidak menangis jika di depan Eunhyuk nanti?!

 

Aku berjalan  terus sambil menunduk. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku dan membuatku sedikit terkejut. Tak perlu mendongakan wajah untuk tahu siapa orang yang ada di depanku itu. Dari caranya dia berdiri, aku sudah tahu bahwa orang itu adalah Eunhyuk.

 

Mau apa dia di sini hah? Dengan tetap menunduk aku berbelok ke arah kanan agar bisa menghindarinya, tapi dia malah mengikutiku. Hal yang sama pun terjadi ketika aku berbelok ke arah kiri, dia pun juga mengikutiku. Sebenarnya maunya apa sih?!

 

“Minggir. Aku mau lewat.” Perintahku dingin.

 

“Tidak sebelum kau mau aku ajak bicara.”

 

Yap. Tepat dugaanku pasti dia ingin mengajakku bicara, ehm bukan maksudku memutuskanku. Tapi kenapa secepat ini? Aku belum siap.

 

“Aku bilang minggir.” Perintahku lagi sambil berusaha mencari jalan untuk melarikan diri.

 

“Aku bilang aku tidak akan minggir sebelum kau mau ku ajak bicara!” Eunhyuk tidak mau kalah denganku.

 

Hhm mungkin ini sudah saatnya. Dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Eunhyuk.

 

“Jangan di sini. Cari tempat lain.” Jawabku sambil terus mencoba menahan air mataku yang entah sejak kapan sudah mendesak ingin keluar.

 

“Baik kita ke kafe dekat sekolah ini saja.” Balas Eunhyuk dan menggandeng tanganku.

 

“Lepas. Aku bisa jalan sendiri.”

 

Kebetulan aku sudah tahu kafe yang dimaksud oleh Eunhyuk, jadi aku berjalan mendahuluinya dan sambil terus menguatkan diriku sendiri.

 

*

 

Aku mengambil tempat duduk persis di ujung kafe. Tak lama kemudian Eunhyuk menyusulku dan langsung mengambil tempat tepat di depanku. Perasaanku makin kacau dan gugup, makanya aku daritadi tidak berani memandang Eunhyuk dan menundukan wajahku.

 

“Mau bicara apa? Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu.” Aku tetap tidak menghilangkan kesan dingin dalam nada bicaraku.

 

“Kau tidak mau pesan minum dulu?” tanya Eunhyuk basa-basi.

 

“Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk memesan minum, lebih baik aku pulang sekarang.” Jawabku sambil beranjak dari kursiku.

 

“Baiklah. Aku akan langsung bicara sesuai dengan keinginanmu.”

 

Aku mengurungkan niatku untuk pergi dan kembali duduk.

 

Inilah saatnya…sebentar lagi Eunhyuk pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Kim Jiyeong lakukan sesuatu! Jangan mau harga dirimu dilecehkan karena diputuskan oleh seorang pria. Ayo Kim Jiyeong kau pasti bisa!

 

“Jiyeong-a sebenarnya aku ingin menjelaskan padamu bahwa…”

 

Tidak-tidak aku tidak bisa Eunhyuk mengatakannya duluan padaku. Tidak bisa. Aku menarik nafasku dalam dan meremas rokku dengan kuat seraya memberanikan diri untuk membuka suara.

 

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.”

 

 

 

 

 

-TBC-

 

My First and Only [ Part 2 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?” suara eomma menghentikan kegiatan kami berdua.

“Eo-eomma.” Kataku terbata. Aish ini pasti akan menjadi buruk.

“Aku pikir kau benar-benar sakit. Tapi ternyata dugaanku benar, dari awal memang kau membohongiku. Kau hanya pura-pura sakitkan untuk mendapatkan perhatianku?”

“Ehm maaf ahjumma, tapi Jiyeong benar-benar sakit. Tadi dia sampai jatuh pingsan di sekolah.” Eunhyuk yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya. Hah ini pasti akan menjadi perang besar.

“Jadi kau dibayar berapa oleh Jiyeong?”

“Ne?” tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Aku tahu kau pasti berkomplot dengan Jiyeong untuk membohongiku kan?” eomma melipat tangannya di depan dada. “Cepat katakan padaku kau dibayar berapa oleh Jiyeong! Akan aku tambahkan jika bayaranmu kurang, asalkan kau jangan pernah menemui Jiyeong lagi!” tambah eomma.

“Eomma! Jangan bicara seperti itu! Memangnya Eunhyuk orang macam apa yang mau kubayar hah?” teriakku marah.

“Kau mencoba membela lelaki ini, Kim Jiyeong?” eomma benar-benar terlihat murka sekarang.

“Iya aku membelanya karena dia temanku! Lebih baik eomma tidak mencampuri urusanku kali ini! Dan jangan mencoba untuk melarangku berteman dengannya!”

“Sampai kapan kau akan menjadi anak kurang ajar Kim Jiyeong! Bahkan di depan temanmu sendiri kau tidak bisa bersikap hormat dengan eomma!”

“Karena eomma memang tidak pantas untuk aku hormati!” Jujur aku sama tidak senang mengatakan hal ini. Apalagi di depan Eunhyuk.

“Aku benar-benar malu mempunyai anak sepertimu!” Lagi-lagi eomma mengatakan hal itu. Tidak boleh Kim Jiyeong, kau tidak boleh menangis. Tidak untuk di depan laki-laki ini.

“Terus saja kau mengatakan hal itu! Apa eomma masih tidak mengerti apa yang kukatakan kemarin? Kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa eomma tidak titipkan saja aku pada ahjumma dan ahjusii yang tinggal di Busan, atau kalau perlu sekalian saja kau habisi aku sekarang!”

PLAK. Lagi-lagi eomma menamparku. Bahkan tamparannya kali ini lebih keras. Kepalaku yang masih pusing malah makin bertambah pusing dengan tamparan eomma.

“Eomma kenapa kau selalu menamparku?” kali ini air mataku benar-benar sudah bisa ditahan lagi.

“Itu pelajaran untukmu. Kau pantas mendapatkan hal itu.” Jawab eomma. Apa? Aku tidak salah dengar kan? Apakah ada seorang ibu yang mengatakan hal itu di depan anaknya? Terlebih-lebih di depan teman anaknya.

“Ya, aku memang pantas mendapatkan tamparan eomma. Aku memang anak kurang ajar yang tak tahu terima kasih, bukan begitu?”

“Tepat sekali. Itu yang mau kukatakan padamu. Rupanya kau sekarang sudah jauh lebih pintar.” Eomma bertepuk tangan yang maksudnya untuk mengejekku. “Sekarang lebih baik suruh temanmu ini pulang atau eomma yang akan menyeretnya keluar!” perintah eommaku.

“Dia tamuku. Eomma tidak berhak untuk mengusirnya. Lebih baik sekarang eomma yang keluar dari kamarku!”

“Memangnya siapa yang akan terus disini hah? Aku juga sudah muak berada di kamarmu cih.” Kalau memang dia tidak betah di sini kenapa juga dia harus masuk hah? Dasar aneh!

Tak lama setelah itu eomma keluar. Dan tinggalah aku dan Eunhyuk berdua di kamar.

“Eunhyuk-ssi ini sudah malam lebih baik kau pulang. Aku mau istirahat.” Sebelum Eunhyuk bertanya yang aneh-aneh lebih baik aku suruh dia segera pulang.

“Kau tahu kan di mana letak pintu keluar? Atau perlu aku panggilkan Hyuri untuk mengantarkanmu?” tambahku lagi.

“Tidak usah aku bisa sendiri.” Jawab Eunhyuk.

“Bagus kalau begitu aku tak usah repot-repot untuk memanggil Hyuri untuk mengantarmu. Ah iya satu lagi aku lupa, tolong tutup pintunya jika kau keluar.” Perasaanku sekarang ini benar-benar kacau sampai-sampai untuk bicarapun nadaku terdengar bergetar. Hhh semoga Eunhyuk tak menyadarinya.

“Kau tunggu apalagi hah? Aku sudah bilang kan, aku mau istirahat.” Tak peduli bagaimana reaksi Eunhyuk, aku membaringkan tubuhku di kasur dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Tidak. Jangan sekarang Kim Jiyeong, tahan sebentar lagi. Kau tidak mau menangis di hadapan laki-laki ini lagi kan?

“Tidak ada yang kutunggu. Maaf telah menganggumu. Aku pulang sekarang Jiyeong-a.” Cklek. Kudengar suara pintu ditutup. Aku mengintip dari balik selimut hanya untuk memastikan apakah Eunhyuk benar-benar sudah pergi atau belum.

“Hhh baguslah dia sudah pergi. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya tadi aku tak enak harus bersikap begitu terhadap Eunhyuk. Tapi kalau aku tidak begitu, aku akan terlihat lemah di depannya. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun. Aku ini Kim Jiyeong. Seorang gadis yang kuat.” Aku menyemangati diriku sendiri dan mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa melewati ini semua. Kim Jiyeong fighting!

***

“Jiyeong-a bangun. Kau sekolah kan hari ini?” Errrrr Hyuri memang benar-benar menyebalkan, apa dia tidak bisa tidak mengangguku walau hanya sehari saja?

“Hhhhmm ne.” Jawabku dengan malas. Aku bangun dari tempat tidurku dan dengan malas berjalan ke kamar mandi.

“Oke. Aku tunggu kau di bawah, kita akan berangkat bersama.” Sahut Hyuri. Ck, harus berapa kali aku bilang sih, aku tidak mau berangkat bersamanya? Dasar menyebalkan.

“Kau duluan saja berangkat dengan eommamu itu, tidak usah menungguku, aku lebih senang jika berangkat dengan bis. Kau tahu? Itu lebih mengasyikan daripada harus satu mobil denganmu dan eommamu.”

“Eomma sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali. Ia ada tugas selama 1 minggu di Jepang.” Mwo? Hyuri bilang apa tadi? Eomma ada tugas di Jepang selama 1 minggu? Wah ini benar-benar kesempatan langka! Aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

“Jiyeong-a kau masih mendengarku kan?”

“Tentu saja bodoh! Aku tidak tuli! Keputusanku tetap tidak berubah. Hari ini dan hari-hari selanjutnya aku akan berangkat sekolah sendiri. Sendiri. Itu artinya tidak bersamamu. Kau mengerti?”

“Terserah kau saja. Aku tidak mengerti kenapa kau begitu tidak mau berangkat sekolah denganku. Ya! Aku duluan, jangan lupa kunci pintu.”

“Arra-yo Hyuri-ssi.” Aku benar-benar tidak tahu harus mengekspresikan kebahagiaanku ini dengan cara apa. Aaaah 1 minggu tanpa eomma, itu sama saja selama 1 minggu aku tidak melihat wajahnya yang menyebalkan itu dan tentu saja tidak mendengar omelannya yang nyaris membuat kupingku putus. Nasibku hari ini benar-benar sedang beruntung. Hoaaah dan moodku benar-benar baik sekarang. Hhmm baiklah di sekolah nanti, aku akan minta maaf pada Eunhyuk atas sikapku kemarin.

***

Eunhyuk’s POV

Aissssh apa yang harus aku lakukan nanti jika bertemu dengan Jiyeong? Minta maaf? Mwo? Tapi buat apa aku minta maaf? Seharusnya juga dia yang meminta maaf padaku atas sikapnya itu. Hhhmm tapi kalau dia tidak menegurku bagaimana? Apa aku juga ikut-ikutan tidak menegurnya? Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, saat tiba-tiba aku merasa dipeluk seseorang dari belakang.

“Oppa, kau ke mana saja? Neomu bogoshipo~” Hah lagi-lagi gadis ini. Ya, tunggu! Bukankah dia bilang sudah berjanji untuk tidak mengangguku? Kenapa sekarang begini?

“Lepaskan aku Ji Eun-ssi. Tidak enak dilihat orang.” Kataku dingin sambil mencoba melepaskan pelukannya.

“Oppa, memang kenapa? Kita sudah lama kan tidak seperti ini?”

“Kau jangan bermimpi! Aku sudah bukan kekasihmu lagi, apa kau lupa? Dan bukannya kau sudah berjanji untuk tidak menganggu lagi?”

“Iya memang, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu oppa. Aku yakin kau juga masih belum melupakanku kan?” Ji Eun kembali mengeratkan pelukannya.

“Ya ya lebih baik kau sekarang ke kamar mandi dan cuci mukamu, sepertinya kau belum sepenuhnya sadar dari mimpimu. Dan tolong lepaskan aku sekarang juga.”

“Tidak oppa, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menerimaku lagi menjadi kekasihmu. Aku mencintaimu oppa~” Ji Eun berkata dengan nada manja dan suara yang dibuat-buat. Aku benar-benar muak padanya sekarang. Memintaku menjadi kekasihnya kembali? Cih apa itu tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita?

“Oppa, bagaimana kau mau kan menjadi kekasihku lagi?” ulang Ji Eun.

“Ji Eun-ssi lebih baik kau lepaskan pelukanmu sekarang juga atau aku akan…” Ucapanku terhenti ketika mataku menangkap sosok Jiyeong. Astaga! Pasti dia akan berpikir macam-macam jika melihatku seperti ini dengan Ji Eun. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Jiyeong. Dan kulihat ekspresinya benar-benar datar.

“Atau apa oppa?” Tanya Ji Eun lagi.

“Jang Ji Eun lepaskan aku!” Aku berteriak pada Ji Eun agar dia melepaskan pelukannya. Aku tak mau jika Jiyeong salah sangka terhadapku dan Ji Eun. Dan benar saja, berkat teriakanku itu Ji Eun melepaskan pelukannya.

“Oppa, kenapa kau berteriak seperti itu padaku?” tanya Ji Eun takut-takut.

“Karena kau tak mendengar perintahku tadi. Ya! Dengarkan aku baik-baik. Kau dan aku, itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan untuk jawaban dari pertanyaanmu tadi itu adalah tidak. Aku tidak mau kembali menjadi kekasihmu. Aku sudah tidak mencintaimu. Kau mengerti?” aku sengaja mengeraskan volume suaraku agar Jiyeong bisa mendengarnya.

“Oppa-oppa…” isak tangis Ji Eun mulai terdengar.

“Kalau kau pikir dengan kau menangis seperti itu akan merubah keputusanku, kau salah besar. Justru itu membuatku semakin yakin dengan keputusanku. Ya, Ji Eun-ssi, hubungan kita sudah berakhir dan aku mohon denganmu, jangan ganggu kehidupanku lagi. Masih banyak lelaki di luar sana yang menunggumu. Lebih baik kau lupakan aku dan cari lelaki yang lebih pantas dariku.” Kali ini aku menurunkan sedikit nada suaraku.

“Oppa, tapi aku hanya mencintaimu…dan kau adalah satu-satunya lelaki yang pantas untukku.”

“Aku yakin bukan aku orangnya. Dan kau mulai sekarang jalani kehidupanmu sendiri dan bukalah hati untuk pria lain. Karena aku sudah membuka hatiku untuk wanita lain. Sudah ya Ji Eun, aku duluan! Ingat kata-kataku! Cobalah untuk membuka hatimu untuk pria lain! Arra?” Hah ini benar-benar sudah terlambat. Seharusnya aku mengejarnya saat itu juga. Aissssh Lee Hyuk Jae bodoh! Aku pun segera berlari meninggalkan Ji Eun dan menyusul Jiyeong. Semoga Jiyeong tak salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi.

***

Kau bahkan berani meninggalkanku seperti itu Lee Hyuk Jae? Baiklah jika itu maumu. Asal kau tahu hanya aku yang boleh memilikimu dan jika aku pun tak bisa memilikimu tak ada seorang pun yang bisa memilikimu.

***

Kim Jiyeong’s POV

Moodku sedang baik hari ini bahkan sangat baik sampai aku melihat si Hyukjae bodoh itu berpelukan dengan seorang gadis dan moodku langsung benar-benar jelek. Aisssshh apa yang kau pikirkan Kim Jiyeong! Biarkan saja kalau dia berpelukan dengan gadis lain, memangnya aku siapa? Apa aku punya hak untuk melarangnya untuk berpelukan? Siapa tahu gadis itu memang pacarnya. Ya! Tapi, bukankah tadi Eunhyuk bilang bahwa dia tak mencintai gadis itu lagi? Itu berarti tak mungkin gadis itu pacarnya. Hhmm kalau bukan pacarnya, mungkin dia mantan pacarnya. Pletak! Aku memukul kepalaku sendiri karena pikiranku yang melantur ini. Memangnya urusanku apa? Buat apa aku pikirkan siapa gadis itu? Mau dia pacarnya Eunhyuk atau bukan juga tidak ada pengaruhnya untukku kan? Aishhh dasar Lee Hyuk Jae sialan! Bisa-bisanya dia merusak moodku!

“Jiyeong-a, bisa bicara sebentar? Ada sesuatu yang harus aku jelaskan padamu.” Baru saja aku mau memasuki kelas ketika ada suara yang menghentikan langkahku. Hah mau apa sih dia? Apa dia kurang puas sudah merusak moodku hah?

“Mau bicara apa? Cepat katakan saja di sini. Aku tidak punya banyak waktu.” Ujarku dingin.

“Tidak bisa di sini Jiyeong-a, aku tak mau ada orang lain yang mendengar.”

“Yasudah kalau begitu kau tidak usah bicara saja padaku. Lagipula ini sudah mau bel, aku tidak mau membuang waktuku dan akhirnya aku terlambat masuk kelas hanya karena bicara denganmu.”

“Baik. Karena aku tetap harus bicara denganmu jadi aku akan menunggu sampai waktu istirahat dan saat itu kau harus ikut denganku.”

“Jadi sekarang kau memerintahku hah? Aku tidak mau. Memangnya apa yang kau mau biacarakan sampai kau berani memerintahku seperti itu, Lee Hyuk Jae?” aku menaikan sebelah alisku yang sengaja untuk menantangnya.

“Mengenai masalah tadi.” Jawabnya santai.

“Masalah apa hah? Aku rasa aku tidak mempunyai masalah denganmu.” Jawabku pura-pura tidak tahu.

“Jangan pura-pura tidak tahu Jiyeong-a, aku tahu kau pasti melihatnya kan?” Sial! Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sekarang aku harus menjawab apa? Memang tadi aku melihatnya, jadi aku tak mungkin berbohong padanya.

“Hah benar dugaanku kau pasti salah paham. Ya tenang saja, aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Jika mencekik orang itu tidak berdosa, mungkin aku sudah mencekik laki-laki menyebalkan di depanku ini daritadi.

“Lalu apa urusannya denganku? Mau kau masih mempunyai hubungan dengan gadis itu atau bahkan sedang menjalani hubungan dengan gadis itu memangnya itu urusanku?!” hampir saja aku melempar buku yang aku pegang ke wajahnya jika bel tidak berbunyi.

“Ya Eunhyuk-ssi, kau beruntung. Andai saja bel ini tidak berbunyi mungkin buku ini sudah melayang ke arahmu.” Aku segera berbalik dan meninggalkan Eunhyuk yang masih berdiri di depan pintu. Lihat saja nanti! Kau, Lee Hyuk Jae, akan aku acuhkan kau hari ini!

***

“Aissshh perutku lapar sekali, tapi aku juga sedang malas ke kantin. Dan tak mungkin aku meminta tolong pada makhluk di sebelahku ini kan?” Hah kali ini rasa laparku mengalahkan rasa malasku. Dengan malas aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas menuju kantin.

“Jiyeong-a, kau mau ke mana?” Aku diam tidak menanggapi pertanyaannya dan dengan santai aku melanjutkan perjalananku ke kantin.

“Jiyeong-a! Kau mau ke mana?” Kali ini Eunhyuk mengeraskan volume suaranya. Ya! Memangnya aku tuli apa? Haha rasakan kau! Hari ini aku akan mengacuhkanmu. Cih dasar Hyukjae menyebalkan!

Sret. Tiba-tiba Eunhyuk menarik tanganku, memang tidak terlalu kasar tapi tetap saja untuk seorang wanita cengkramannya ini terlalu keras.

“Yak! Lepaskan tanganmu ini! Kau pikir ini tidak sakit hah? Aaah.” Aku meringis kesakitan.

“Aku sudah bertanya padamu baik-baik tapi kau malah mengacuhkanku. Kau yang memaksaku untuk melakukan ini Kim Jiyeong.” Eunhyuk membalasku dengan ucapan tajam.

“Kau sebenarnya mau melakukan apa hah?! Jangan bertele-tele! Cepat katakan apa maumu di sini!”

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menarikku keluar kelas. Aisssshhh dia ini maunya apa sih?

“YA! LEE HYUK JAE! LEPASKAN AKU! KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA HAH?!” aku berteriak padanya karena kesal dengan sikapnya yang seenaknya itu. Cih, memangnya siapa dia, menarikku dengan seenaknya?

“Jangan berteriak bodoh! Aku tidak tuli!”

“KALAU BEGITU CEPAT KATAKAN KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA?!” aku masih juga belum mengurangi volume suaraku.

“Lihat saja nanti. Jangan cerewet!”

Errrgghhh rasanya aku sudah sangat ingin melemparkan sepatuku ini ke wajahnya! Dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae sialan! Seenaknya saja dia bersikap begini padaku! Ya! Lihat kan sekarang? Aku menjadi tontonan murid-murid lain! Awas saja kau nanti! Kau tidak akan lolos dariku!

“Yap. Sekarang kita sampai!” kata Eunhyuk yang sontak menyadarkanku.

“Ini kan taman belakang sekolah. Mau apa kau mengajakku ke sini?”

“Untuk bicara denganmu.”

“Bisa tidak kau kurangi sifat bodohmu itu? Kalau hanya bicara kenapa harus mengajakku ke sini?”

“Aku sudah bilang aku tidak mau ada orang lain yang mendengarnya.”

“Memangnya sepenting apa yang mau kau bicarakan sampai-sampai kau ingin tidak ada orang lain yang mendengarnya?”

“Memang menurutmu mungkin tidak penting, tapi ini menurutku penting.”

“Jangan membuatku penasaran! Cepat bicara sekarang!”

“Hhhmm baik sebenarnya aku ingin menjelaskan…”

“Yak! Tunggu! Sebelum bicara panjang lebar, lepaskan tanganku dulu. Cengkramanmu itu menyakitkan sekali Eunhyuk-a.”

“Oh maaf. Aku lupa.” Eunhyuk melepaskan tanganku. Dia terlihat salah tingkah. Dan wajahnya itu…hahaha sangat menggelikan.

“Ya, wajahmu kenapa begitu?  hahaha jadi seoarang seorang Lee Hyuk Jae sedang salah tingkah?” Aku menggodanya. Dan benar saja wajahnya itu semakin lucu.

“Jiyeong-a bukan saatnya untuk bercanda, sekarang itu waktunya serius. Aku ingin menjelaskan padamu kejadian tadi pagi. Kau tahu? Semua yang kau lihat itu tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kau jangan salah paham. Aku dan Ji Eun, gadis yang tidak sengaja kau lihat sedang berpelukan tadi pagi sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Ya, aku akui dia mantan kekasihku. Kami sudah putus enam bulan yang lalu. Aku yang  memutuskannya karena dia mengkhianatiku. Dia mempunyai seorang kekasih lagi di belakangku. Awalnya memang aku kecewa, tapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa memang dari awal aku tak pernah mencintainya. Dan tadi pagi itu, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali. Jelas saja aku menolaknya karena memang aku tak mempunyai perasaan apapun lagi terhadapnya. Nah, jadi kau tidak salah paham lagi kan kepadaku?” Eunhyuk menyudahi penjelasannya itu. Aku hanya melongo mendengarnya. Tidak tahu harus merespon apa. Tap yah aku akui aku merasa sedikit lega dengan penjelasannya barusan.

“Ya! Apa kau masih salah paham juga? Kenapa kau diam saja?” ulang Eunhyuk.

“Jadi, kau jauh-jauh membawaku ke sini dan membuat tanganku merah begini, hanya karena ingin menjelaskan hal itu? Aissshhhh kau benar-benar bodoh! Memangnya aku meminta penjelasanmu itu hah? Memangnya urusanku dengan kalian berdua apa? Bagiku tidak ada masalah jika kau masih mempunyai perasaan dengan mantan kekasihmu itu.”

“Tapi bagiku itu masalah Jiyeong-a, aku tidak mau membuatmu salah paham.”

“Tuan Lee yang sok tahu, makanya lain kali kau bertanya dulu sebelum mengambil keputusan atau berbuat sesuatu. Perlu kau ketahui, aku sama sekali tidak salah paham. Aku sudah mendengarnya tadi pagi saat kau menolaknya. Bukankah kau sengaja tadi mengeraskan suaramu agar aku mendengarmu?”

“A-a-aku kira kau tidak mendengarnya makanya aku menjelaskannya padamu.”

“Aissshhh sudahlah kau sudah selesai bicara kan? Baiklah aku pergi sekarang. Aku lapar ingin ke kantin.” Aku berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Eunhyuk.

“Tunggu dulu. Sekarang giliran kau yang menjelaskan semuanya padaku.” Eunhyuk kembali menarik tanganku.

“Mwo? Giliran aku? Memangnya apa yang harus aku jelaskan padamu? Ayolah Eunhyuk-a, jangan bercanda, aku ini sudah tidak makan 2 hari, perutku lapar sekali.”

“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk tidak makan hah? Itu salahmu sendiri! Sekarang jelaskan padaku, sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Hyuri noona dan eommamu.” Perintah Eunhyuk. Hhhh. Aku menarik nafasku dalam. Jadi ini yang dia minta jelaskan dariku? Bagaimana hubunganku sebenarnya dengan Hyuri dan eomma? Ani. Aku tidak bisa menjelaskan padanya. Aku paling tidak bisa menahan air mataku jika sudah menyangkut mereka berdua. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya. Bagaimana jika nanti aku menangis saat menceritakannya? Tidak bisa. Aku sudah pernah sekali, ehm bukan maksudku dua kali menangis di depannya, jadi tidak mungkin kali ini aku menangis di depannya lagi.

“Jiyeong-a, ayo cepat jelaskan padaku.” Pinta Eunhyuk lagi.

“Apa yang harus kujelaskan hah?! Tentu saja hubunganku dengan mereka baik! Kau ada-ada saja menanyakan hal bodoh seperti itu. Sudah ya, aku mau ke kantin. Perutku sudah berkali-kali berbunyi minta diisi. Sampai nanti…”

“Bohong. Kau pasti bohong. Jika memang hubunganmu baik dengan mereka, lalu kenapa kau memanggil Hyuri noona tanpa embel-embel eonni? Lalu kenapa eommamu bisa menamparmu seperti kemarin malam? Setahuku seorang ibu tidak akan tega menampar anaknya sendiri. Dan lagi pula…”

“Hentikan Lee Hyuk Jae.” Aku nyaris kehilangan kesabaranku karena mendengar ucapan Eunhyuk.

“Aku belum selesai, Jiyeong-a. Dan lagi pula jika memang hubunganmu baik eommamu, ia pasti akan tergesa-gesa pulang dari kantornya begitu mendengarmu sakit. Tapi yang kulihat malah sebaliknya. Eommamu malah memarahimu dan…”

“AKU BILANG HENTIKAN LEE HYUK JAE!” aku kembali memotong ucapannya. Kali ini benar-benar kesabaranku sudah habis. Hatiku kembali merasa sakit.

“Memangnya kenapa hah? Jadi benarkan apa yang aku kira? Hubunganmu dengan mereka memang tidak baik! Sekarang cepat jelaskan padaku yang sebenarnya!”

“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu.” Jawabku sinis. Aku sudah sekuat tenaga menahan emosiku agar tidak meledak-ledak dan yang paling penting agar aku tidak menangis.

“Kenapa tidak bisa? Kau membuatku merasa menjadi seorang teman yang gagal kau tahu? Lalu apa gunaku di sini jika tidak bisa mendengarkan semua keluh kesahmu? Apa kau takut akan menangis di depanku? Ya! Jiyeong-a, meski kau mencoba berusaha tegar, aku tahu kau tetaplah seorang gadis yang rapuh. Kau mungkin bisa saja menutupi perasaan sedihmu itu di depan eommamu dan Hyuri noona dengan bersikap kasar, tapi tidak denganku. Aku mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Jadi jika memang kau ingin menangis, menangislah sepuasnya sekarang, di depanku. Aku tidak akan keberatan dengan hal itu.” Untuk yang kedua kalinya aku melongo mendengar ucapannya. Bahkan seorang Lee Hyuk Jae yang baru aku kenal 2 hari yang lalu lebih mengerti perasaanku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku belasan tahun. Ini benar-benar aneh.

“Hah, jadi aku harus memulai darimana?” tanyaku pasrah.

“Kau bisa mulai dari alasan eommamu bersikap kasar terhadapmu.” Jawabnya. Aisshh benarkah aku harus menjelaskan hal ini padanya? Menjelaskan kejadian yang terjadi belasan tahun yang lalu, yang membuat eomma begitu membenciku? Aku yakin Eunhyuk pasti tidak akan mempercayainya, karena aku pun juga begitu. Alasan bodoh yang tidak masuk akal. Aku membuka mulutku dan memulai penjelasanku.

“Aku sebenarnya juga tidak yakin dengan alasan ini. Karena menurutku ini alasan bodoh dan tidak masuk akal. Dulu sekitar umurku masih 6 tahun dan Hyuri 8 tahun, eomma mengajak kami ke pesta pernikahan relasi bisnisnya. Tapi sebelum itu eomma sudah memberi tahuku dan Hyuri, jika nanti ditanya oleh teman eomma di mana keberadaan appa, eomma menyuruh kami untuk mengatakan bahwa appa sudah meninggal. Aku juga tidak tahu mengapa eomma menggunakan alasan itu. Padahal yang aku tahu, appa masih hidup, tapi aku tidak tahu di mana keberadaannya. Memang aku sering mendengar eomma bertengkar dengan appa di telfon, eomma mengatakan bahwa, appa itu suka main wanita, tukang mabuk, dan kerjaannya hanya memoroti uang eomma, makanya eomma dan appa berpisah. Aku yang waktu itu belum terlalu mengerti, mengiyakan permintaan eommaku. Dan akhirnya ketika aku ditanya oleh relasi bisnis eomma, tentang keberadaan appaku, aku menjawab tidak sesuai dengan apa yang eomma minta. Aku menjawab dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang aku tahu. Waktu itu eomma bilang pada temannya jangan mempercayai omongan seorang anak kecil. Tapi sepertinya teman eomma tidak mau mendengarnya, dan ia pun kecewa dengan eomma yang sudah membohonginya dan akhirnya memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan eomma. Memang perusahaan eomma tidak bangkrut, tapi eomma mengalami kerugian besar. Dan saat itu juga, eomma menyeretku pulang ke rumah dan memakiku di rumah. Eomma mengurungku di kamar selama 3 hari tanpa memberiku makanan atau minuman dan sampai pada akhirnya aku sakit. Tapi kau tahu? Saat itu eomma tidak memperdulikanku sama sekali. Dia bilang bahwa, kerugian yang diderita eomma itu salahku, jadi aku pantas mendapatkan hukuman itu, dan bahkan katanya hukuman yang aku dapatkan belum sebanding dengan kerugian yang eomma derita…” Butir-butir bening mulai menggenangi pelupuk mataku. Aku mulai kesusahan untuk mengucapkan kata-kata berikutnya.

“Tenanglah Jiyeong, jika kau memang ingin menangis, menangislah. Tidak apa-apa.” Eunhyuk menenangkanku sambil menepuk bahuku. Aku merasa sedikit mendapat kekuatan darinya dan aku pun mulai melanjutkan ceritaku.

“Dan mulai saat itu, eomma terus mengacuhkanku, tapi tidak dengan Hyuri. Apa yang didapatkan Hyuri berbanding terbalik dengan yang aku dapatkan. Hyuri selalu mendapat pujian dari eomma dan aku selalu mendapat cacian darinya. Eomma selalu menuntutku untuk bisa seperti Hyuri. Tapi aku tidak suka itu. Makanya aku sering berbuat onar di mana-mana, itu semua aku lakukan semata-mata untuk menunjukkan bahwa aku tidak suka dan aku butuh perhatian dari eomma. Dan jika kau mau tahu, eomma sudah menamparku puluhan kali, jadi jangan kaget jika kau melihatnya menamparku semalam hehehe.” Aku tertawa getir saat mengatakan hal itu. “Jadi bagaimana? Sudah puaskan kau sekarang? Aku sudah menjelaskan semuanya padamu.” Tambahku lagi.

“Jiyeong-a, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih begitu. Aku tidak tahu jika eomma mu seperti itu.”

“Hahaha sudahlah tidak apa-apa. Ya Eunhyuk-a, kau adalah orang pertama yang aku ceritakan masalah ini. Kau beruntung, Eunhyuk-a~ kau selalu jadi yang pertama hahaha.” Aku tertawa lagi. Tapi tidak untuk hatiku. Justru hatiku ini rasanya sakit sekali.

“Kau tidak usah menyembunyikan air matamu dengan tawamu itu. Aku tahu walau kau tertawa tapi hatimu tidak kan?” Yap. Tepat sekali. Aku memang berusaha tertawa untuk menyembunyikan air mata yang sebenarnya sudah mendesak ingin keluar.

“Lalu aku harus bagaimana Eunhyuk-a? Aku sudah berusaha untuk mengatakan pada eomma, bahwa aku juga butuh perhatian seperti Hyuri, tapi eomma malah balik memarahiku dan selalu mengungkit kebodohan yang aku lakukan di masa lalu. Aku tahu aku memang bodoh, tapi apakah eomma tidak bisa memaafkanku? Apakah harta lebih penting dariku? Ani. Maksudku apakah harta lebih penting dari nyawaku? Aku sering ragu dan bertanya pada diriku sendiri, apakah dia ibuku atau bukan? Sakit sekali rasanya. Melihat saudaramu di puji di depanmu dan kau hanya dijadikan barang rongsokan yang hanya pantas untuk dibuang. Aku merasa kesepian, aku merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti aku. Aku sudah lelah Eunhyuk-a, aku lelah merasakan sakit ini, aku lelah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” kali ini air mataku benar-benar tak bisa dibendung lagi. Dengan derasnya air mataku jatuh membanjiri pipiku. Sekarang aku tak berusaha untuk menahan tangisku, karena aku pikir dengan menangis semua beban yang selama ini aku rasakan bisa hilang.

Author’s POV

Tangisan Jiyeong semakin menjadi-jadi saja. Eunhyuk yang tidak tega melihat Jiyeong menangis seperti itu, akhirnya menarik Jiyeong ke dalam pelukannya. Awalnya Jiyeong agak terkejut dengan perlakuan Eunhyuk tersebut dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi Eunhyuk malah mempererat pelukannya itu dan mengusap punggung belakang Jiyeong.

“Ya, sekarang kau menangislah sepuasnya dan tolong dengarkan aku. Jiyeong-a, mianhae aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagimu, aku tak bisa memberimu saran atas apa yang harus kau lakukan dengan Hyuri noona dan eommamu karena jujur aku tak mengalaminya. Tapi kau punya aku di sampingmu yang akan terus mendukungmu. Kau bisa ceritakan semua keluh kesahmu agar kau menjadi lega, atau kau bisa pinjam bahuku untuk menangis. Jadi kau mau memaafkanku kan?” kata Eunhyuk sambil melepaskan pelukannya terhadap jiyeong.

“Kau bodoh! Untuk apa kau minta maaf padaku hah? ” jawab Jiyeong yang masih terisak. “Dengan kau mau mendengarkan ceritaku saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, dan ketika aku menceritakannya padamu aku merasa sedikit lega. Aku tidak tahu kenapa, kau yang baru kukenal 2 hari yang bahkan bisa jauh lebih mengerti aku daripada Hyuri dan eomma yang sudah tinggal bersamaku selama belasan tahun.” Lanjut Hyuri lagi, tapi kini dengan tangisan yang sudah mereda.

Eunhyuk hanya diam mendengar ucapan Jiyeong dan kemudian tersenyum.

“Kalau benar begitu, aku siap menjadi teman setia curhatmu. Kau boleh datang ke rumahku atau kau hubungi aku kapan saja saat kau ingin mengeluarkan semua keluh kesahmu.” Ucap Eunhyuk sambil mengusap air mata Jiyeong.

“Ya! Bagaimana jika aku nanti ke rumahmu larut malam? Apa kau akan tetap menerimaku?” tanya jiyeong tak percaya.

“Tentu saja. Bukankah itu gunanya teman? Sudah ya, kau jangan menangis lagi, wajahmu itu jelek sekali saat menangis hahaha.” Eunhyuk tertawa saat mengatakan hal itu dan menunjukkan gummy smile-nya.

Jiyeong mematung di tempat saat melihat Eunhyuk tertawa seperti itu. “Senyumannya terlalu menawan, sampai-sampai aku tak bisa mengontrol detak jantungku yang makin tak karuan ini.” Batin Jiyeong.

“Ya! Sekarang kau malah diam begitu. Kau menyeramkan sekali Jiyeong-a~” Eunhyuk bergidik ngeri.

“Eh? Kau pikir aku ini kesurupan begitu?” tanya Joyeong tak terima.

“Ani bukan maksudku begitu, hanya saja kau habis menangis tiba-tiba berdiri mematung seperti itu, makanya aku kira kau kesurupan.” Jawab Eunhyuk santai. “Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.” tawar Eunhyuk pada Jiyeong.

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?” kini Jiyeong sudah berhasil untuk menghentikan tangisnya sepenuhnya.

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!” ancam Eunyuk.

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~” jawab Jiyeong.

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?” goda Eunhyuk.

“Te-tentu saja makan ramen gratis bodoh! Percaya diri sekali kau ini.” Jiyeong terlihat salah tingkah.

“Tidak usah malu-malu begitu Jiyeong-a~ Kalau kau memang senang makan denganku, ada yang salah?” Eunhyuk malah makin menggoda Jiyeong. Dan Jiyeong pun makin terlihat salah tingkah.

“Dasar menyebalkan! Sudahlah kalau begitu aku tak jadi mau ditraktir denganmu.” Balas Jiyeong pura-pura marah.

“Aisssh kau pemarah sekali Jiyeong-a~ aku kan hanya bercanda. Yasudah ayo kembali ke kelas! Pasti sebentar lagi bel akan berbunyi.” Eunhyuk mengacak rambut Jiyeong pelan sambil tersenyum.

Dasar Lee Hyuk Jae menyebalkan! Sudah berapa kali dia membuatku tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri hah?

“Ya! Kenapa masih di situ? Ayo cepat ke kelas!” kata Eunhyuk lagi. Dan kali ini Eunhyuk menarik tangan Jiyeong. Kali ini tarikan Eunhyuk lebih lembut, tidak seperti tadi yang menarik Jiyeong dengan kasar.

Mereka berdua berjalan ke kelas dengan sedikit terburu-buru karena memang bel sudah berbunyi. Tapi meskipun begitu, sesekali terlihat Eunhyuk sedang meledek Jiyeong dan Jiyeong pun yang tak terima atas ledekan Eunhyuk membalasnya. Terdengar sesekali teriakan Jiyeong yang mengatakan. “Lee Hyuk Jae bodoh!” atau “Lee Hyuk Jae menyebalkan! Awas kau ya!” Eunhyuk dan Jiyeong terlalu asik dengan aktivitas mereka sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka daritadi.

“Jadi karena gadis itu kau menolakku, Lee Hyuk Jae?” Ji Eun yang sedari tadi memperhatikan Jiyeong dan Eunhyuk di taman belakang sekolah itu pun geram. “Baiklah kita tunggu siapa yang akhirnya jadi pemenangnya, aku atau gadis sialan itu.” Nada bicara Ji Eun benar-benar terdengar mengerikan dan memberi isyarat bahwa sudah pasti pemenangnya adalah Ji Eun.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a~ kau mau pesan apa?” tanya Eunhyuk. Ya kami sekarang sudah berada di kedai ramen.

“Aku tidak pernah makan di sini. Jadi aku ikut saja denganmu.” Jawabku.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk sambil mengangkat tangannya untuk memanggil ahjumma penjaga kedai ini. “Aku minta 2 mangkuk ramen ya!” pinta Eunhyuk. “Ne.” Jawab Ahjumma itu ramah.

“Kau sering makan di sini?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Hhhm tidak juga. Biasanya aku makan di sini bersama noonaku, tapi karena sekarang dia sedang sibuk, aku jadi jarang ke sini. Memangnya kenapa?”

“Ooh begitu. Tidak pa-pa, hanya saja aku melihatmu sudah sering makan di sini.”

“Tenang saja, ramen di sini rasanya tidak ada duanya, mungkin kau akan meminta tambah nanti jika kau sudah memakannya.”

“Ya! Kau pikir aku serakus apa hah? Memang aku sudah tidak makan 2 hari, tapi untuk memesan ramen sampai 2 mangkuk rasanya itu terlalu berlebihan.”

“Aku kan hanya menebak. Kau benar, ramen di sini itu sungguh porsinya sangat besar, jadi tidak mungkin seseorang bisa makan sampai 2 mangkuk. Ya kecuali jika orang itu memiliki perut karet.” Eunhyuk berkata dengan wajah polosnya itu.

“Ternyata kau bisa membuat lelucon juga ya hahaha.” Aku tertawa karena mendengar leluconnya itu. “Eunhyuk-a~ sehabis makan ramen ini bagaimana jika kita jalan-jalan? Aku malas pulang ke rumah.” Tanyaku pada Eunhyuk.

“Aku sih tidak keberatan. Tapi bagaimana nanti jika kau dimarahi eommamu karena pulang malam?”

“Tidak akan. Kau tenang saja, eomma sedang bertugas di Jepang selama satu minggu, jadi aku bebas.” Jawabku senang. “Jadi bagaimana, kau mau tidak?” ulangku.

“Hhhmm jika aku mau, apa imbalan yang akan kau berikan untukku?”

“Ya! Katanya kau temanku! Kenapa malah meminta imbalan?”

“Aissshhh kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda Jiyeong-a~ baiklah aku mau menemanimu jalan-jalan.”

“Jinjja? Ah jeongmal gomawo Eunhyuk-a~” ucapku sambil tersenyum.

Tak lama kemudian ramen yang kami pesan datang. Aku pun langsung melahap ramenku itu karena memang perutku sudah sangat lapar. Terserah Eunhyuk mau mengatakan bahwa aku ini ini gadis rakus atau apa yang penting sekarang adalah perutku segera diisi.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” Eunhyuk memperingatiku.

“Biarlah, aku sangat lapar. Kau jangan urus aku, kau nikmati saja ramenmu itu!” balasku.

“Tch terserah sajalah. Tapi kalau kau tersedak jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatimu.”

Baru saja Eunhyuk menyudahi ucapannya itu, benar saja aku tersedak ramen yang hendak mau kutelan.

“Uhuk uhuk uhuk.” Aku kelimpungan mencari air minum.

“Sudah kubilang kalau makan pelan-pelan, kau tidak percaya padaku sih. Ini minum.” Eunhyuk menyodorkan sebuah gelas berisi air putih ke arahku. Aku mengambilnya dan segera meminum air putih itu.

“Aaah, gomawo.” Kataku yang sudah merasa sedikit lega.

“Hhhm. Lanjutkan makanmu sekarang, tapi ingat jangan sampai tersedak lagi. Dan sehabis ini kita jalan-jalan.”

“Arra-yo, Eunhyuk-a~”

Aku kembali melanjutkan menyantap ramenku. Kali ini lebih pelan, karena aku takut tersedak lagi. Aku baru menyadari sekarang bahwa ramen ini benar-benar enak. Eunhyuk pintar sekali memilih kedai makan yang tepat.

***

“Jiyeong-a, sekarang kau mau ke mana lagi hah? Ini sudah malam, apa kau tidak lelah?” tanya Eunhyuk padaku. Ya, sehabis makan tadi, aku dan Eunhyuk berjalan-jalan di sekitar Seoul, dan mungkin sepertinya aku lupa waktu jadi tidak menyadari kalau ini sudah malam.

“Hhhm aku mau berjalan-jalan di sekitar Sungai Han dulu. Pemandangan di sana sangat indah pada malam hari seperti ini.” Jawabku sambil melayangkan pandanganku ke sekitar.

“Apa kau tidak bosan? Bukannya setiap hari kau melewati Sungai Han saat mau ke sekolah?”

“Iya memang. Tapi pemandangan di pagi dan malam hari itu jauh berbeda Eunhyuk-a~ Coba itu lihat! Bagus sekali kan?” tunjukku pada air mancur yang berwarna-warni yang memang hanya indah jika dilihat malam hari.

“Aku sudah sering melihatnya. Kau ini seperti bukan penduduk Seoul saja, yang norak jika melihat air mancur itu. Air mancur itu kan memang selalu begitu setiap malam.”

“Ya! Kau! Kalau tidak mau melihat yasudah sana pulang! Lagipula berjalan-jalan dengan orang cerewet sepertimu tidak asik! Lebih baik aku jalan-jalan sendiri.”

“Aku kan hanya bilang yang sebenarnya. Kau memang norak, melihat seperti itu saja seperti anak kecil yang kegirangan saat mendapat permen dari ibunya.”

“Cih terserah kau sajalah.” Aku mengekerucutkan bibirku karena sedikit kesal dengan Eunhyuk. Seenaknya saja dia mengataiku norak dan seperti anak kecil! Huh.

Aku masih saja memandangi indahnya pemandangan Sungai Han di malam hari ketika aku melihat seorang gadis yang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang…hhhmm sepertinya mereka mabuk. Tunggu sebentar, seragam yang dikenakan gadis itu, sama seperti seragam yang aku kenakan! Berarti gadis itu satu sekolah denganku dan Eunhyuk. Aku harus menolongnya, kasihan gadis itu jika sampai di apa-apakan oleh ahjussi pemabuk itu.

“Eunhyuk-a! Coba lihat gadis itu! Dia satu sekolah dengan kita kan?” aku menunjuk ke arah gadis itu dan Eunhyuk pun melihat ke arah yang aku tunjuk.

“Iya benar. Jiyeong-a, dia sedang diganggu oleh ahjussi-ahjussi yang sedang mabuk. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Eunhyuk panik. Di saat seperti ini saja sifat bodohnya itu belum hilang juga.

“Tentu saja menolongnya bodoh! Kau ini laki-laki kan? Pasti bisa melawan ahjussi-ahjussi itu, apalagi mereka sedang mabuk, jadi pasti mudah untuk melawannya.”

“Ah iya kau benar. Ayo kita ke sana.” Eunhyuk menarik tanganku dan mendekat ke arah gadis itu.

Sampai di sana, Eunhyuk melepaskan tangannya dan membisikan sesuatu pelan di telingaku.

“Ya, kau jangan dekat-dekat dengan mereka. Meskipun mereka itu seorang ahjussi tapi mereka sedang mabuk, dan aku tidak tahu apakah mereka membawa senjata tajam atau tidak. Kau mengerti?”

“Aku mengerti.” Eunhyuk segera mendorongku ke belakang tubuhnya. Di saat seperti ini Eunhyuk benar-benar terlihat seperti lelaki sejati yang ada di drama-drama. Aku pun tak henti-hentinya berdecak kagum dengan sikapnya itu.

“Ya! Ahjussi! Mau apa kalian menganggu gadis itu hah?” tanya Eunhyuk tajam.

“Kau ini siapa anak muda? Jangan coba-coba menganggu kami. Kami hanya ingin bermain-main sebentar dengan gadis ini.” Jawab salah seorang ahjussi itu.

“Aku ini temannya! Kau tidak lihat seragam yang kami pakai sama hah?” balas Eunhyuk lagi. “Ya, sudah jangan ganggu gadis ini lagi, lebih baik ahjussi seperti kalian pulang ke rumah saja!” ejek Eunhyuk.

“Dasar anak kurang ajar! Kau meledek kami hah? Apa kau belum pernah dihajar?!” seorang dari mereka mulai merasa geram dengan Eunhyuk. Eunhyuk yang tidak takut dengan gertakan ahjussi itu malah melangkah maju dan menantang mereka.

“Aku tidak takut dengan kalian! Kalian itu kan hanya ahjussi-ahjussi, jadi tidak mungkin menang melawanku meskipun kalian berdua dan aku sendiri!” tantang Eunhyuk. “Ssst kau nona, untuk apa masih disitu? Cepat lari ke sini. Kau tidak mau kena pukulanku kan?” tambah Eunhyuk pada gadis itu. Aku lihat gadis itu tak banyak bicara dan menuruti perintah Eunhyuk. Ia segera pergi dari tempatnya dan berlari ke arahku. Aku melihat wajahnya pucat. Ya, dia pasti ketakutan setengah mati.

“Jiyeong-a, kau jaga gadis itu. Dan ingat jangan sekali-sekali mencoba mendekat. Sepertinya mereka itu berbahaya.” Kata Eunhyuk pelan. Aku hanya mengangguk. Dan aku melihat Eunhyuk melangkah sedikit demi sedikit ke arah mereka.

“Ya! Sini lawan aku jika kalian berani!” tantang Eunhyuk. Aissshh dasar bodoh! Kenapa dia malah menantang begitu? bagaimana nanti jika dia kalah hah?

BAK. BUK. BAK. Pukulan demi pukulan Eunhyuk berikan pada ahjussi-ahjussi itu. Awalnya memang Eunhyuk yang menguasai perkelahian itu, tapi lama kelamaan, karena Eunhyuk sendiri dan mereka berdua, Eunhyuk kelelahan dan jatuh setelah diselengkat oleh seorang dari mereka.

“Ya, kau anak muda ini balasannya jika kau bersikap kurang ajar terhadap orang tua.” Seorang dari mereka membangunkan Eunhyuk secara kasar dengan menarik kerah bajunya dan memojokkan Eunhyuk ke pohon. Eunhyuk berusaha melawan tapi mungkin tenaganya yang sudah terkuras itu tidak mampu melawan dua orang sekaligus. Aku dan gadis di sebelahku ini hanya bisa menonton perkelahian itu. Aku dan dia tidak ada yang berani mendekat.

“Nona-nona manis, apakah salah seorang dari kalian tidak berniat untuk menolong teman kalian yang kurang ajar ini hah?” tanya seorang ahjussi itu dengan sinis. Aku dan dia sedikit mundur karena ahjussi itu berjalan mendekati kami.

“Ahjussi sialan! Jangan coba mendekati mereka!” teriak Eunhyuk.

BUK. Seorang Ahjussi yang memegangi Eunhyuk itu menendang perut Eunhyuk. Darah muncrat dari mulutnya.

“Kau belum puas hah? Mau kami pukul lagi?” tanyanya pada Eunhyuk.

“Pukul saja aku asalkan jangan ganggu kedua gadis itu!” tantang Eunhyuk.

Dan benar benar saja kedua ahjussi itu memukuli Eunhyuk lagi dengan tanpa ampun. Darah sudah keluar baik dari hidung maupun mulutnya. Aku yang melihat kejadian itu benar-benar geram. Aku tidak bisa melihat Eunhyuk diperlakukan seperti itu sementara aku diam saja seperti ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar untuk mencari sesuatu yang setidaknya cukup keras dan bisa digunakan untuk memukul. Dan yap, akhirnya aku mendapatkan sebalok kayu. Aku mundur perlahan-lahan agar tidak diketahui. Setelah aku dapatkan balok kayu itu, aku segera maju dan memukul kedua ahjussi itu dengan sekuat tenaga. Mereka berdua yang tadinya berniat untuk memukuli Eunhyuk lagi, terpental karena pukulan yang aku berikan. Aku melempar balok kayu itu ke sembarang tempat. Dan segera menghampiri Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, kau tidak apa-apa?” tanyaku panik.

“Untuk apa kau ke sini hah? Sudah kubilang kau jangan mendekat!” teriak Eunhyuk marah. Aku hanya menunduk karena mendengar teriakan Eunhyuk. Jujur aku sekarang lebih takut dengan teriakan Eunhyuk daripada kedua ahjussi menyebalkan itu.

“Ta-tapi aku ingin…”

Bruk. Eunhyuk mendorongku sehingga aku jatuh ke tanah bersamanya. Aku yang kaget hanya memejamkan mataku. Tapi setelah beberapa lama, tidak ada yang terjadi. Akhirnya aku membuka mataku perlahan.

“Eunhyuk-a. Apa yang terjadi?” tanyaku pelan.

“Salah seorang dari mereka ingin memukulmu dengan balok kayu dan kau tidak melihatnya, makanya aku mendorong kau ke tanah. Aku pikir, aku yang akan terkena pukulan itu, tapi aku tidak merasakan apa-apa.” Jawab Eunhyuk.

“Lalu…apa yang terjadi dengn ahjussi itu?” tanyaku lagi. Jujur aku tidak bisa berpikir jernih sekarang. Posisi Eunhyuk yang berada di atas tubuhku ini menyebabkan kerja otakku tidak beres. Dari dekat aku bisa melihat wajahnya yang babak belur dan darah di mana-mana.

“Rasakan itu! Dasar ahjussi menyebalkan! Awas kalau kau berani menganggu kami lagi!” bukan Eunhyuk yang berkata seperti itu, tapi gadis yang sedari tadi diam di sampingku itu.

“Mereka sudah kuberi pelajaran dengan memukulnya dengan balok kayu berkali-kali. Dan mereka sekarag sudah pergi. Kalian tidak apa-apa?” tanya gadis itu. Ia membantu Eunhyuk berdiri dan kemudian Eunhyuk membatuku untuk berdiri. Aissshh tanganku sakit sekali karena terbentur tanah tadi saat didorong Eunhyuk.

“Ya tidak apa-apa.” Jawab aku dan Eunhyuk nyaris bersamaan.

“Hei bodoh! Mana bisa kau bilang dirimu tidak apa-apa hah? Itu lihat mukamu babak belur begitu!” kataku kesal pada Eunhyuk.

“Aku tidak mungkin kan bilang bahwa aku sakit? Cih mau taruh di mana martabatku sebagai laki-laki?”

“Sudah babak belur begitu masih memikirkan masalah martabat.” Jawabku sinis. Gadis itu hanya tertawa melihat aku dan Eunhyuk. Tunggu tunggu, bukannya gadis itu yang aku temui di rumah sakit waktu itu ya? Yang kekasihnya aku tolong karena kecelakaan itu! Ah iya ini pasti dia.

“Hhmm maaf nona, bukankah kau gadis yang waktu itu bertemu denganku di rumah sakit?” tanyaku pelan-pelan takut salah orang. Gadis itu terlihat mengamati wajahku sebentar lalu membuka suaranya.

“Ah, Jiyeong-ssi. Kim Jiyeong, benar kan?” tebaknya. Ah syukurlah rupanya dia masih ingat, jadi aku tak perlu repot-repot membantunya mengingat.

“Ne. Syukurlah kau masih ingat denganku. Jadi siapa namamu? Kalau tidak salah waktu itu kau belum menyebutkan namamu.” Kataku mengingat-ingat.

“Ha Na. Cho Ha Na.” Jawabnya.

“Ah, jadi namamu Ha Na? Hhmm nama yang bagus.” Timbrung Eunhyuk. “Orangnya juga cantik.” Tambah Eunhyuk lagi. Tch dasar pria, meski sudah babak belur masih saja bisa menggoda wanita.

“Ah terima kasih Eunhyuk-ssi.” Jawab Ha Na malu-malu. Aku kesal melihat pemandangan di depanku ini. Kenapa malah jadi aku yang tak dianggap?

“Eunhyuk-ssi, Jiyeong-ssi, terima kasih banyak telah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kalian.” Kata Ha Na sambil membungkukan badannya.

“Tidak usah berterima kasih begitu Ha Na-ssi, itu kan sudah menjadi tugas seorang pria untuk menolong seorang wanita.” Jawab Eunhyuk. Errrrr sudah babak belur begitu masih saja menggoda Ha Na, dasar menyebalkan. Lihat saja nanti akan aku tambah babak belur di wajahnya.

“Ah ne, cheonmaneyo Ha Na-ssi. Jangan memanggilku formal seperti itu, panggil saja aku Jiyeong.” Balasku.

“Baiklah Jiyeong-a. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Aku pamit duluan ya, ini sudah malam.” Ha Na berpamitan dan sekali lagi membungkukan badannya.

“Ne, Ha Na-ssi! Hati-hati di jalan!” jawab Eunhyuk sambil melambaikan tangannya.

Sepeninggal Ha Na, aku pun ikut-ikutan berjalan meninggalkan Eunhyuk yang masih sibuk melambaikan tangannya. Hhhhh dasar menyebalkan! Lee Hyuk Jae menyebalkan!

“Ya, Jiyeong-a, tunggu aku!” panggil Eunhyuk. “Mukamu kenapa cemberut begitu?” tanya Eunhyuk ketika sudah berhasil menyamakan posisinya denganku.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau cemburu ya ketika aku tadi memuji Ha Na?” tebaknya.

“Tch untuk apa aku cemburu memang?”

“Buktinya wajahmu cemberut begitu.”

“Jangan terlalu percaya diri tuan Lee. Itu kan hakmu untuk memuji seseorang, jadi apa yang harus aku cemburui?”

“Kau mau aku bilang cantik juga?”

“Tidak perlu. Cukup Ha Na saja yang kau bilang cantik.”

“Tuh kan, kau pasti cemburu pada Ha Na.”

“Sudah aku bilang aku tidak cemburu!” teriakku mulai kesal.

“Kau galak sekali sih! Kalau kau memang cemburu katakan saja, Jiyeong-a~”

“Kau mau aku lempar dengan sepatu atau aku pukul dengan balok kayu hah?”

“Aigooo baik-baik aku kalah. Iya aku tidak akan membahas hal ini lagi.”

“Bagus. Awas kalau kau membahas hal ini lagi. Jangan kaget kalau tiba-tiba sepatuku melayang ke arah wajahmu!” ancamku.

“Hhhmm.” Jawab Eunhyuk. “Jadi kau tega membiarkanku pulang dengan keadaan seperti ini? Kau tidak mau mengobatiku?” tanya Eunhyuk tiba-tiba. Ah iya benar juga, aku tidak mungkin tega membiarkannya pulang dengan keadaan seperti itu.

“Kau duduk dulu saja di sini. Aku akan kembali setelah membeli alkohol, obat merah, dan kapas yang setidaknya bisa mengobati lukamu itu.” Kataku sambil menyuruh Eunhyuk duduk di kursi yang kebetulan ada di pinggir jalan.

“Kau mau membelinya di mana? Ini kan sudah malam?” tanya Eunhyuk.

“Apotik tidak mungkin tutup walau sudah jam 12 malam kan?”

“Ah iya kau benar. Yasudah jangan lama-lama cepat kembali.” Kata Eunhyuk.

Aku segera berlari dan mencari apotik terdekat. Semoga benar perkiraanku. Apotik tidak akan tutup walau sudah jam 12 malam.

***

“Eunhyuk-a, maaf membuatmu menunggu lama. Kukira apotik di sekitar sini masih buka, tapi ternyata sudah tutup, jadi aku membelinya di mini market yang buka 24 jam di ujung jalan sana.” Kataku sambil mencoba mengatur nafas karena habis berlari.

“Ne, gwenchanayo. Sini kau duduk dulu, nafasmu jadi terengah-engah begitu karena berlari.” Eunhyuk menggeser duduknya ke ujung kursi agar aku bisa duduk di sampingnya. Aku menurut dan langsung mengambil tempat tepat di sampingnya.

“Sini mana wajahmu biar kuobati. Makanya jadi orang jangan sok pahlawan, dengan beraninya menantang kedua ahjussi tadi. Kau itu benar-benar bodoh! Walaupun mereka itu setengah mabuk, tetap saja mereka berdua dan kau sendiri, sudah bisa dipastikan kau akan kalah. Untung saja aku cepat tanggap, coba kalau tidak, kau pasti sudah habis dihajar mereka!” omelku pada Eunhyuk. Tapi meskipun begitu tanganku tetap bergerak melap bekas darah di hidungnya dan mengobati memar di wajahnya.

“Yak! Appo! Pelan-pelan sedikit!” ringis Eunhyuk. “Kenapa kau mengomeliku sekarang? Bukannya kau tadi menyuruhku untuk menolong gadis itu?” tanya Eunhyuk bingung.

“Iya memang, tapi caranya bukan begitu! Bisa saja kan kau bicara baik-baik dengan ahjussi itu, tidak harus dengan kekerasan. Bagaimana kalau tadi aku tak segera memukul ahjussi itu dengan balok kayu hah? Apa yang akan terjadi padamu? Kau bisa mati tahu dihajar oleh mereka!” aku makin tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Unek-unek yang sedari tadi aku pendam, akhirnya aku keluarkan juga.

“Jadi….kau takut aku mati?” tanya Eunhyuk hati-hati.

Aku terkesiap mendengar pertanyaan Eunhyuk barusan. Aku menyadari memang bahwa ucapanku barusan itu tersirat makna, bahwa aku benar-benar takut kalau Eunhyuk mati karena dihajar oleh kedua ahjussi itu dan alasan itu pula yang mendorongku untuk nekat memukul ahjussi itu dengan balok kayu.

“Ng..ng..ng.. tentu saja aku takut kau mati! Kau itu kan temanku, mana ada teman yang menginginkan kematian temannya sendiri kan? Lagipula kalau kau mati, nanti tidak ada yang mengantarku pulang! Dasar bodoh!” jawabku kesal. Aissshh jinjja kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku? Hah biar sajalah, yang penting Eunhyuk tidak mengetahui perasaanku sebenarnya.

“Kau yang bodoh tapi malah meneriaki orang bodoh.”

“Mwo? Apa maksudmu hah?”

“Jadi, kau takut aku akan mati hanya karena khawatir tidak ada yang mengantarmu pulang, begitu?” Pandangan Eunhyuk yang tadinya melihat bebas, kini malah fokus melihatku, dan sukses membuatku semakin salah tingkah.

“I-iya.” Jawabku terbata. Oh ayolah Kim Jiyeong, mana keberanian dirimu itu hah? Kenapa di saat begini kau malah terlihat seperti orang bodoh?

“Kau pikir itu alasan yang masuk akal? Tidak mungkin alasannya hanya itu. Aku yakin kau takut aku mati, karena kau menyukaiku kan? Dan kau takut akan kehilanganku?” tanya Eunhyuk tepat sasaran.

Glek. Aku hanya bisa menelan ludahku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang aku akui itu alasan bodoh yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Tapi mau bagaimana lagi, hanya alasan itu yang terlintas diotakku saat ini.

“Ti-tidak, aku tidak menyukaimu. Sudah aku bilang kan tadi bahwa kau itu temanku, dan tidak ada seorang teman pun yang menginkan kematian temannya sendiri…apa itu kurang jelas?” aku menjawab sebisa mungkin dan nada bicara sedatar mungkin agar Eunhyuk tak salah tangkap dengan apa yang aku ucap.

“Tapi aku menyukaimu.”

-TBC-

My First and Only [ Part 1 ]

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan tanpa minat di sepanjang jalan Dongdaemun. Sehabis menolong  sepasang kekasih itu malah membuat moodku semakin memburuk. Kasihan sekali si gadis tadi, tepat di hari natal, kekasihnya malah mengalami kecelakaan. Benar-benar tragis.

Berkali-kali aku menendang kaleng minuman kosong yang ada di depanku. Tidak adakah hal menarik yang bisa kukerjakan saat ini? Aku mendengus kesal. Andai aku mempunyai saudara atau teman yang bisa kuajak bertukar pikiran, kuajak adu panco, atau hal-hal menantang lainnya. Aishhhhh Kim Hyuri itu memang tidak berguna. Kerjaannya hanya belajar, belajar, dan belajar. Ani, kalau tidak belajar ia akan pergi kencan dengan kekasihnya, Lee Donghae. Yak aku muak dengan kehidupanku. Aku ingin bebas melakukan sesuatu yang aku suka, tidak selalu dibawah bayang-bayang Hyuri. Iya aku tahu dia memang gadis yang sempurna, cantik, baik hati, lembut, dan tidak suka membuat onar sepertiku, tapi seharusnya eomma tidak membanding-bandingkan diriku dengannya!

Jiyeong, kenapa kau masih tidur jam segini hah?! Lihat kakakmu! Dia sudah membantu eomma di dapur!”

“Jiyeong! Lihat kakakmu ini! Dia selalu mendapat peringkat 1 di kelasnya! Harusnya kau mencontoh kakakmu!”

“Jiyeong, tak bisakah kau bersikap sopan pada eomma mu hah? Contoh kakakmu! Dia selalu sopan dengan eomma!”

“Kali ini kau membuat onar di mana hah?! Bisa tidak kau tidak membuat malu eomma?!”

Ya begitulah setiap hari teriakan eomma padaku. Eomma selalu membela dan memperhatikan Hyuri. Dan aku? Cih bahkan eomma tidak peduli padaku. Mau aku sakit atau tidak, eomma tidak pernah memperdulikanku. Mungkin jika aku mati sekalipun, aku yakin eomma tidak akan menangisi kepergianku. Ya itu semua karena Hyuri sialan itu. Aku benar-benar muak dengannya. Selalu saja dia bersikap baik padaku, tapi aku yakin itu pasti semua dia lakukan untuk mencari perhatian eomma saja. Itu alasan mengapa aku tak betah di rumah. Dan kalau aku suka membuat onar, itu hanya caraku untuk mendapat perhatian dari eomma, karena tidak ada cara lain selain itu.

***

            Sudah seharian aku jalan-jalan tanpa tujuan. Aku tak peduli jika hari ini hari natal sekalipun. Memangnya apa yang spesial? Bagiku tidak ada. Tapi mungkin bagi Hyuri sialan itu ada. Ya, apalagi selain kencan dengan kekasihnya itu?

Aku menatap pakaianku yang penuh bekas darah ini. Aishhhhh aku yakin sekali, pasti eomma akan memarahiku lagi.

***

“Kim Jiyeong! Dari mana saja kau?” teriak eomma ketika aku baru tiba di rumah.

“Cih tumben sekali eomma peduli padaku? Sejak kapan eomma peduli dengan apa yang aku lakukan hah?”

“Dasar anak kurang ajar! Cepat katakan kau darimana!”

“Jalan-jalan.” Jawabku singkat.

“Kau membuat onar di mana lagi hah? Siapa lagi yang kau ajak berkelahi? Ck bahkan bekas darahnya masih menempel seperti itu dibajumu.”

“Apa peduli eomma padaku?! Ah ya asal eomma tahu, aku sehabis menolong orang yang kecelakaan.”

“Jadi, sejak kapang seorang Kim Jiyeong suka menolong orang?”

“Terserah apa kata eomma, aku tak peduli.” Aku berjalan meninggalkan eomma dan segera menuju kamarku.

“KIM JIYEONG! EOMMA BELUM SELESAI BICARA!” Lagi-lagi eomma berteriak padaku.

“Hhhmm…” jawabku malas sambil tetap tidak menoleh.

“Lusa, kau akan satu sekolah dengan kakakmu.”

“MWORAGO? Apa yang barusan eomma katakan hah? Aku satu sekolah dengan Hyuri? Yak! Yang benar saja!” balasku tak terima.

“Dia kakakmu! Panggil dia eonni!”

“Eomma, tapi kenapa? Aku betah dengan sekolahku sekarang. Lagipula aku tidak mau satu sekolah dengan Hyuri!” protesku.

“Kali ini aku tidak mau kau bantah. Kau akan terus membuat onar jika tidak ada yang mengawasimu kan?”

“Eomma! Jangan bilang bahwa kau menyuruh Hyuri untuk mengawasiku?”

“Sudah kubilang panggil dia eonni! Ya, eomma memang menyuruhnya mengawasimu! Kau tahu eomma sangat malu mempunyai anak sepertimu! Selalu membuat onar di mana-mana! Kau pikir mau taruh dimana nanti wajah eomma, ketika bertemu dengan relasi bisnis eomma hah?”

“Ah jadi alasannya itu? Baiklah kalau memang eomma malu mempunyai anak sepertiku, kenapa tidak dari dulu saja eomma membuangku? Oh atau sekalian kenapa eomma tidak menggugurkanku saja ketika aku masih dalam kandungan…”

PLAK. Eomma menamparku. Pipiku terasa panas. Bukan hanya pipiku tapi hatiku juga.

“Berhentilah jadi anak yang kurang ajar! Kali ini eomma benar-benar marah padamu. Eomma tidak mau tahu, lusa kau sudah harus pindah sekolah!”

“Aku tetap tidak mau. Tapi jika eomma memaksa, aku akan mengurung diriku di kamar, dan tidak akan keluar sampai eomma membiarkanku tetap sekolah di sekolahku yang sekarang!” Aku berbalik dan meninggalkan eomma di ruang tamu. Aku tidak main-main dengan kata-kataku barusan. Biarlah kalau perlu aku mati kelaparan saja di dalam kamar.

“Terserah apa yang mau kau lakukan. Keputusan eomma sudah tidak bisa diganggu gugat.”

BLAM. Aku membanting pintu kamarku. Aku menenggelamkan wajahku di bantal dan menangis sekuat-kuatnya. Mengapa eomma tidak pernah mengerti perasaanku? Kau tahu? Rasanya sangat menyakitkan saat orangtua kita sendiri mengatakan malu mempunyai anak seperti kita. Jika eomma tetap memaksaku untuk satu sekolah dengan Hyuri, aku benar-benar tidak akan keluar dari kamar ini!

            Cukup lama aku menangis. Mungkin karena aku lelah setelah menangis, aku pun tertidur.

***

Kim Hyuri’s POV

“Ya, oppa, kau tidak mau masuk dulu?” tawarku pada Donghae oppa.

“Anio, tidak usah chagi, aku langsung pulang saja, lagipula ini sudah malam aku takut akan menganggu eommamu.” Tolaknya lembut.

“Ah baiklah oppa. Kau hati-hati di jalan ya!”

“Ne Hyuri-ah~ Aku pulang dulu ya. Ah semoga kau mimpi indah.” Donghae oppa mengecup pipiku singkat.

“Ya! Oppa apa-apaan kau?”

“Wae? Kau malu? Aku ini kan pacarmu, kenapa kau malu?”

“Tidak aku tidak malu. Hanya saja kau terlalu tiba-tiba!”

“Aishhh jangan begitu Hyuri-ah~ bukannya kau suka kejutan dariku?”

“Oppa! Kau bilang tadi katanya mau pulang! Sudah sana pulang!”

“Jadi sekarang kau mengusirku?”

“Bukan begitu oppa, habis kau menyebalkan sekali sih.”

“Arra Hyuri-ah~ aku hanya bercanda, tidak usah cemberut begitu dong.”

“Hhhmm.”

“Nah begitu baru cantik. Sudah aku pulang ya, sampaikan salamku untuk eomma dan dongsaengmu.”

“Ne, akan kusampaikan nanti pada mereka. Hati-hati di jalan oppa.”

“Ne, annyeong Hyuri-ah~”

Aku menatap mobil Donghae oppa yang menjauhi rumahku. Aaah benar-benar natal yang berkesan, ucapku dalam hati. Aku segera masuk ke dalam rumah, karena cuaca di luar benar-benar dingin.

“Hyuri-ya~ kau sudah pulang?” tanya eomma dari meja makan.

“Sudah eomma.” Jawabku.

“Sudah makan?” tanya eomma lagi.

“Ah kebetulan sudah tadi. Ohya, di mana Jiyeong? Dia belum pulang? Kok tumben dia tidak ikut makan bersama eomma?”

“Biarkan saja adikmu. Mungkin dia sudah tidur. Sudah lebih baik kau lekas mandi dan istirahat.”

“Ne eomma.” Aku mengiyakan eommaku dan segera menuju kamarku. Aissshh pasti Jiyeong dan eomma bertengkar lagi.

Aku berhenti tepat di depan kamar Jiyeong. Aku yakin sekali pasti dia belum makan malam. Lebih baik aku bangunkan dia.

***

Kim Jiyeong’s POV

“Jiyeong-a ayo bangun. Kau pasti belum makan malam kan?” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar suara Hyuri dari luar. Mau apa dia ke sini? Ah pasti mau sok peduli lagi padaku.

“Pergi kau! Jangan ganggu aku! Aku tidak mau makan malam!” usirku dari dalam kamar.

“Ya, kalau kau tidak makan malam, kau bisa sakit nanti. Ayolah Jiyeong-a~ Kau mau aku ambilkan makananmu ke sini?”

“Sudah kubilang aku tidak mau! Lalu kenapa kalau aku sakit hah? Memangnya ada yang peduli? Bukannya justru bagus kalau aku sakit?”

“Tentu tidak Jiyeong-a~ Aish kau kenapa sih? Baiklah aku akan mengambilkan makan malammu sekarang.”

“KIM HYURI BERHENTILAH SOK PERHATIAN DAN PEDULI PADAKU! AKU TAK BUTUH ITU! LEBIH BAIK KAU TAK USAH GANGGU AKU DAN KEMBALI SAJA KE KAMARMU!” teriakku geram.

“Jiyeong-a~ asal kau tahu, aku tak pernah sekalipun sok perhatian atau sok peduli padamu, aku ini kakakmu, aku sangat menyayangimu, jadi tentu saja jika aku perhatian dan peduli padamu. Kalau kau tak mau makan malam yasudah itu terserah padamu, tapi kalau kau sampai jatuh sakit, aku tak akan membiarkanmu.”

Aku tak membalas ucapannya. Aku sudah terlalu muak dengan semua kata-kata manis darinya. Cih, apa katanya? Dia menyayangiku? Wajar jika dia perhatian dan peduli padaku? Pasti lagi-lagi itu caranya untuk menarik perhatian eomma.

“Selamat malam, Jiyeong-a~” katanya lagi.

Ah akhirnya dia pergi juga. Sakit telingaku mendengar setiap uacapannya. Ah, aku memegangi perutku yang tiba-tiba sakit. Aishhh, aku lapar sekali. Aku segera bangkit dan membuka lemari tempatku biasa menyimpan makanan. Sial! Persediaan makananku habis! Aigooo aku lapar sekali. Apa aku lebih baik keluar sebentar ya untuk mengambil makanan dan segera kembali lagi ke kamar? Yak! Apa yang kau pikirkan! Tidak boleh! Bagaimana nanti jika eomma atau Hyuri memergokiku sedang mengambil makanan? Ani itu tidak boleh terjadi. Kim Jiyeong fighting! Yaa, setidaknya aku harus bertahan sampai lusa nanti, kataku lemah.

Aku bolak-balik mengganti channel tv. Aisshhh kenapa acara tv tidak ada yang bagus sih? Piiip. Aku mematikan tv dan kembali membaringkan tubuhku di kasur. Mungkin tidur bisa menghilangkan rasa laparku ini.

Sudah berkali-kali aku berusaha mencoba tidur, tapi mataku tidak mau terpejam juga. Arrrggghhh! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Akupun tidak bisa tidur karena perutku terus berbunyi minta diisi. Ah iya! Kata orang minum air putih bisa membantu untuk mengurangi rasa lapar. Aigooo kenapa baru teringat sekarang sih? Aku melirik ke arah galon air yang berada tepat di sebelah meja belajarku. Huh syukurlah airnya masih terisi penuh. Tak perlu menunggu waktu lama, aku segera mengambil gelas yang kebetulan sudah ada di sana dan meminum air sebanyak-banyaknya, ya setidaknya sampai rasa laparku berkurang.

“Hah sudah sudah aku tak kuat minum lagi, perutku sudah hampir mau meledak rasanya.” Aku menghentikan kegiatanku itu dan kembali merebahkan tubuhku dikasur. Lagi-lagi mencoba untuk tidur.

***

“…eomma kau keterlaluan!” Aku membuka mataku perlahan karena mendengar teriakan Hyuri dari bawah.

“Masa aku tidak boleh membawakan sarapan untuk Jiyeong? Dia sudah tidak makan dari kemarin eomma!” terdengar suara Hyuri lagi. Bisa tidak sih perempuan itu tidak mengangguku? Aku memegang kepalaku yang sedikit sakit. Apa dia tidak tahu? Aku ini baru bisa tidur 3 jam yang lalu! Aishhh ini juga sebenarnya juga salahku. Aku tak bisa tidur karena bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil karena minum terlalu banyak.

“Biarkan saja adikmu itu! Itu salahnya sendiri kenapa tidak mau makan! Dan kau, sejak kapan kau berani berteriak pada eomma seperti itu? Apa kau sudah ketularan adikmu hah?” balas eomma pada Hyuri.

Hah, benarkan apa kataku. Eomma memang tidak peduli padaku, dan tidak akan pernah peduli padaku. Lihat? Bahkan dia tega membiarkanku kelaparan dan melarang Hyuri untuk membawakan sarapanku. Yah meskipun aku akan menolak sarapan yang nanti akan dibawakan Hyuri padaku.

“Aniyo eomma, tidak maksudku begitu. Aku hanya takut Jiyeong sakit.” Kata Hyuri lagi.

“Aku bilang tidak usah ya tidak usah! Kau itu terlalu baik padanya! Dia itu tidak pernah menghormatimu sebagai kakak, memanggilmu saja tanpa embel-embel eonni. Sudah biarkan saja, aku ingin memberikan pelajaran padanya. Awas kalau kau sampai berani memberinya sarapan pagi ini!” ancam eomma.

“Ne eomma.” Jawab Hyuri akhirnya. Aku tahu tidak akan ada yang bisa membantah eomma, termasuk Hyuri sekalipun.

“Yasudah, eomma berangkat kerja dulu. Mungkin eomma akan pulang larut. Kau jaga dirimu dan rumah ini baik-baik ya.” Ucap eomma.

Aku tersenyum miris di kamarku. Mana ada eomma seperti itu? Harusnya dia itu mengatakan, “Kau jaga dirimu dan adikmu baik-baik ya.” Aku jadi ragu sebenarnya aku ini anaknya apa bukan sih? Ah biarkanlah, lagipula dari awal aku memang sudah tak dianggapnya sebagai anak. Lebih baik aku lanjutkan tidurku, kepalaku ini pusing sekali rasanya.

***

Kim Hyuri’s POV

Eomma keterlaluan. Aku tahu memang Jiyeong itu suka membantah pada eomma, tapi kenapa beliau sampai tega membiarkan Jiyeong kelaparan? Maafkan aku eomma, sekali ini saja aku melanggar perintahmu. Aku segera menyiapkan sarapan untuk Jiyeong dan mengantarkannya ke kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a~ kau sudah bangun belum? Ini aku bawakan sarapan untukmu.” Kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.

Tidak terdengar jawaban dari dalam. Apa dia masih tidur?

“Jiyeong-a~” panggilku lagi.

“Hmmm.” Ucapnya dari dalam kamar.

“Oh ternyata benar kau sudah bangun. Ini aku bawakan sarapan untukmu. Kau pasti lapar kan? Perutmu belum diisi apapun sejak semalam.”

“Ya. Taruh saja di depan kamarku. Nanti akan kuambil.”

“Ne. Kau jangan sampai tidak makan ya.” Aku meletakkan nampan berisi sarapan itu di depan kamar Jiyeong. Ada apa dengannya? Mengapa reaksinya seperti itu? Aku kira dia akan memakiku seperti semalam. Sudahlah itu tidak penting, yang penting dia mau makan.

“Ya, Jiyeong-a~ kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku.” Kataku lagi. Jujur aku cemas dengan kondisi Jiyeong sekarang. Aku takut dia sakit.

“Tidak usah repot-repot. Aku tidak akan apa-apa.” Jawab Jiyeong.

Aku menarik nafasku. Sepertinya aku tidak usah cemas padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

            Aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Baguslah dia sudah pergi. Andai saja kepalaku tak pusing begini, mungkin aku akan kembali memakinya seperti semalam. Cih, memangnya siapa yang akan memakannya? Aku bahkan tidak berniat untuk menyentuhnya. Biarlah makanan itu menjadi basi dengan sendirinya. Malah sekarang aku tak mempunyai selera makan. Yang aku rasakan sekarang itu perutku mual dan kepalaku pusing. Lebih baik aku melanjutkan tidurku saja. Siapa tahu ketika bangun nanti aku merasa lebih baik.

***

Aku melirik ke arah jam wekerku. Ah sudah jam 6 pagi. Mwo?! Jadi aku tidur selama itu? Hahaha aku seperti mayat hidup saja. Tidak ada kan manusia normal yang mampu tidur selama itu selain aku? Ya tapi kenapa kepalaku makin bertambah sakit? Lebih-lebih sekarang aku menggiggil kedinginan. Tidak. Jangan katakan kalau aku sakit! Aishhh aku tidak mungkin sakit. Tapi sungguh badanku tidak enak. Untuk mengangkat kepala saja rasanya sakit sekali. Aigooo, mana hari ini aku harus masuk sekolah. Masuk ke penjara maksudku. Aishh pasti sebentar lagi eomma akan masuk ke kamarku dan meneriakiku agar segera bangun dan berangkat sekolah bersama Hyuri.

“KIM JIYEONG CEPAT BUKA PINTU KAMARMU!” Yap. Tepat sekali duganku. Itu suara eomma yang memaksaku untuk membuka pintu kamarku.

“Tidak dikunci.” Jawabku lemah. Jujur untuk bicarapun tenggorokanku terasa sakit.

Setelah membuka kasar pintu kamarku, eomma dan lagi-lagi Hyuri masuk ke kamarku. Eomma memarahi aku kenapa belum bangun dan bersiap-siap untuk sekolah.

“Kau mau begitu sampai kapan hah?”

Aku tidak menjawab. Aku malah meringkuk lagi ke dalam selimutku.

“Jawab aku, Kim Jiyeong!”

“Aku sakit eomma.” Jawabku pasrah. Aku tidak mau bertengkar dengan eomma dalam kondisiku yang seperti ini.

“Apa kau bilang kau sakit? Seorang anak seperti kau bisa jatuh sakit? Hah aku tidak percaya! Bilang saja kau tidak mau pergi ke sekolah bersama kakakmu kan, jadi kau pura-pura sakit?”

“Tidak, eomma, tapi aku benar-benar sakit.” Jawabku serak. Mungkin perasaan seseorang akan jauh lebih sensitif jika sedang sakit. Ya inilah yang aku rasakan. Entah kenapa air mataku sudah mendesak ingin keluar mendengar perkataan eomma barusan, padahal biasanya aku tak gentar dengan perkataan eomma seperti apapun. Aku kembali merapatkan selimutku, agar eomma tidak bisa melihat aku menangis.

BRAK. Tiba-tiba eomma menarik selimutku.

“Aku tidak percaya padamu! Cepat bangun dan mandi. Aku tidak mau Hyuri terlambat karena harus menunggumu terlalu lama.”

“Ya eomma. Jangan terlalu kasar seperti itu. Itu lihat wajah Jiyeong pucat sekali, dia pasti benar-benar sakit.” Hyuri akhirnya membuka suara.

“Jangan coba-coba kau membelanya di depanku! Aku tahu persis wataknya. Itu pasti hanya akal-akalannya saja supaya aku kasihan padanya.” Kali ini air mataku benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Aku menangis.

“Wah wah sekarang kemampuan aktingmu sudah meningkat Jiyeong-a.” Kata eomma lagi. Aku tak suka mendengar nada saat dia mengatakan itu. “Tak usah repot-repot kau keluarkan air matamu itu, aku tak akan tertipu olehmu. Ah ya dan caramu untuk menarik perhatianku salah besar. Sekarang cepat turun dari kasurmu dan segera mandi!” perintah eomma sambil menyeretku turun dari tempat tidur.

Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini. Hatiku benar-benar sakit.

“Eomma…aku tahu sekeras apapun aku berusaha, aku tak akan pernah mendapatkan perhatianmu. Sekeras apapun aku mencoba, kau tak akan pernah menganggapku sebagai anak. Aku tahu aku hanya beban bagimu dan Hyuri. Aku hanya akan mempermalukan keluarga ini. Aku tahu aku selalu membantah perintah eomma dan maafkan aku karena aku tidak bisa seperti Hyuri. Baik untuk kali ini aku akan menuruti kemauan eomma dengan satu sekolah dengan Hyuri. Ya untuk kali ini saja. Setidaknya dengan begitu kau akan memandangku sedikit kan, eomma?” kata-kataku barusan meluncur dari mulutku diiringi dengan isak tangisku. Bodohnya aku! Kenapa aku malah bersikap lemah seperti ini sih?

“Darimana kau belajar kata-kata seperti itu? Jangan harap aku tersentuh dengan perkataanmu barusan. Kau benar, selama kau tidak seperti Hyuri, kau tidak akan mendapat perhatianku.” Aku bingung apa ada seorang ibu yang berkata seperti ini di depan anaknya sendiri? Ani aku lupa, aku ini kan bukan anaknya.

“Eomma, sudahlah, kenapa malah jadi bertengkar seperti ini? Katanya kau tidak mau aku terlambat, tapi jika eomma terus memarahi Jiyeong, dia kan jadi tidak bisa bersiap-siap. Ayo keluar eomma. Aku sudah siapkan sarapan, lebih baik kita menunggu Jiyeong di bawah.” Lerai Hyuri.

“Jiyeong-ah, sudah lebih baik kau cepat bersiap-siap. Aku dan eomma akan menunggu kau dibawah.” Kata Hyuri lagi.

“Aniyo, Hyuri-ssi, tidak usah repot-repot. Kau berangkat duluan saja. Eommamu ini kan takut kau terlambat. Aku biar naik bis saja nanti.”

“Tidak bisa. Aku akan menunggumu. Bagaimana jika kalau nanti kau tiba-tiba pingsan di jalan? Lihat wajahmu pucat sekali.”

“Hyuri! Sudah kalau dia tidak mau biarkan saja! Benar apa katanya, eomma tidak mau kau terlambat. Kajja, kita sarapan dan segera berangkat.” Kata eomma lagi.

Eomma segera menarik Hyuri keluar dari kamarku. Aku hanya menatap kepergian mereka dengan hati terluka. Aku lupa menanyakan sesuatu pada eomma. “Apakah jika aku mati sekalipun, dia tetap tidak akan memperhatikanku?”

***

Aku keluar dari kamarku setelah selesai bersiap-siap dan segera menuju ruang tamu. Aku penasaran, apakah Hyuri benar menungguku apa tidak. Begitu aku tiba di ruang tamu, tak kudapati eomma ataupun Hyuri. Ya, mereka benar-benar meninggalkanku.

            Aku berjalan lemas keluar rumah dan menuju halte bis. Jujur saja, kepalaku pusing sekali, dan lagi-lagi aku tidak sarapan. Ah masa bodoh, lagipula tidak akan ada yang peduli denganku. Aku melirik jam tanganku. Aish setidaknya, jika bis datang tepat waktu aku tidak akan terlambat. Ah pasti hari-hariku disekolah nanti akan menjadi lebih suram. Ya, satu sekolah dengan Hyuri adalah satu-satunya hal yang tidak aku inginkan. Tak sampai 10 menit kemudian, akhirnya bis yang kutunggu datang. Segera saja aku masuk ke dalam bis dan syukurlah untung aku masih mendapat tempat duduk kosong.

***

Kim Hyuri’s POV

“Hyuri-ya~ katanya mulai hari ini adikmu akan pindah ke sini? Di mana dia? Aku tidak melihatnya sedari tadi. Kau tidak berangkat bersamanya?” tanya Donghae oppa.

“Tidak oppa. Tadi dia memaksa untuk berangkat sendiri.” Jawabku.

“Ah jadi itu yang membuatmu berdiri terus dipintu masuk ini? Kau menunggu adikmu benar? Lalu apa yang kau cemaskan? Aku lihat kau gelisah daritadi.”

“Dia sedang sakit oppa. Tapi eomma memaksanya untuk tetap sekolah.”

“Jadi hubungan eomma dan adikmu belum membaik juga?”

“Malah justru lebih buruk dari sebelumnya.” Jawabku lemas.

“Jangan sedih begitu Hyuri-ya~ aku yakin nanti suatu saat mereka pasti bisa berbaikan.”

“Ya aku harap begitu oppa.”

“Ya! Lihat itu adikmu datang!” kata Donghae oppa yang membuatku langsung mencari-cari keberadaan Jiyeong.

“Benar katamu, Hyuri-ya~ dia pucat sekali.” “Ya ya itu lihat dia berjalan ke arah kita.” Kata Donghae oppa lagi.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aish aku baru sampai tapi sudah disambut oleh makhluk yang paling tidak aku harapkan kehadirannya.

“Jiyeong-ah~ kau sudah sampai. Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya sok perhatian padaku.

“Tidak usah sok perhatian padaku Hyuri-ssi. Memangnya kalau aku kenapa-kenapa, kau peduli hah?”

“Ya aku tidak sok perhatian padamu. Sudah kubilang aku ini kakakmu! Jadi wajar jika aku memperhatikanmu.”

“Tapi aku tak butuh perhatian darimu. Ah iya, aku mohon dengan sangat padamu, tolong kau jangan bilang kepada siapapun bahwa aku ini adikmu. Aku tidak mau mendapat perhatian yang berlebihan dari orang-orang karena tahu aku ini adikmu. Kau mengerti, Hyuri-ssi?”

“Tapi kenapa begitu? Apakah hubungan kita seburuk itu, sampai-sampai kau tidak mau mengakuiku sebagai kakakmu?”

“Bukankah hubungan kita memang tidak pernah baik dari awal? Apa alasanku masih kurang jelas? Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak mau mendapat perhatian berlebih dari orang-orang hanya karena tahu bahwa aku adikmu. Aku ingin menjadi diriku sendiri!”

“Baiklah jika itu maumu. Sekarang katakan padaku di mana kelasmu? Biar aku antar.”

“Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil yang ke mana-mana harus diantar.” “Ah Donghae-ssi maaf jika aku berkata tidak sopan pada kekasihmu. Jangan tanya alasannya, karena kau pasti sudah tahu. Aku duluan.” Kataku pada mereka berdua.

***

Errghhh ternyata sekolah ini lumayan besar. Aku sudah berkeliling untuk mencari di mana kelasku tapi tetap tidak kutemukan. “TEEEEENGG!!! TEEEENGG!!!” Aish jinjja! Bel sudah berbunyi dan aku belum menemukan kelasku! Aduh bagaimana ini? Aku panik dan terus mencari di mana kelasku. 5 menit setelah bel berbunyi, akhirnya aku menemukan kelasku. Dengan takut-takut aku mengetuk pintu dan melangkah masuk.

“Annyeong songsaengnim, maaf aku terlambat.” Kataku ketika memasuki kelas.

“Ah jadi kau murid baru itu ya? Gwenchana, ayo sini lekas masuk.” Ah syukurlah ternyata songsaengnim ini tidak galak seperti yang kubayangkan.

“Anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Nah sekarang perkenalkan dirimu.” Kata songsaengnim itu lagi. Ini sebenarnya sekolah menengah atas atau taman kana-kanak sih? Masa aku harus memperkenalkan diriku segala? Aish ini memalukan.

“Ah ye songsaengim.” Jawabku akhirnya dan aku pun mulai memperkenalkan diriku.

“Annyeong. Joneun Kim Jiyeong imnida. Bangapseubnida.” Ujarku sambil membungkukkan badan.

“Nah sekarang kau pilih di mana kau mau duduk.” Ujar Songsaengnim itu lagi. Ya, songsaengnim itu bodoh atau apa sih? Jelas-jelas bangku kosong yang tersisa hanya satu! Kenapa menyuruhku untuk memilih tempat duduk?

“Ne songsaengnim.” Jawabku. Aku segera mengambil tempat duduk yang tersisa di belakang. Aku suka posisi di belakang. Setidaknya aku tidak langsung kelihatan jika nanti aku tertidur di kelas.

“Baiklah anak-anak mari kita lanjutkan pelajaran kita.” Kata songsaengnim yang kembali meminta para siswa untuk kembali fokus pada pelajaran.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kata seorang pria di sebelahku yang memperkenalkan dirinya sebagai Eunhyuk.

Aku hanya tersenyum dalam menanggapi ucapannya. Aku tidak ingin terlalu banyak bicara. Jujur saja, kepalaku rasanya benar-benar mau pecah sekarang.

***

Eunhyuk’s POV

Aku melihat gadis itu mendekat ke arahku. Ya pasti dia akan duduk di sebelahku. Tapi kenapa sedari tadi dia menunduk terus?  Ah itu bukan urusanku. Begitu dia duduk di bangkunya aku segera menyapanya dan memperkenalkan diriku.

“Hei kau. Nama yang bagus. Kenalkan, aku Lee Hyuk Jae, tapi teman-teman di sini biasa memanggilku Eunhyuk. Dan kau sekarang duduk di sampingku, jadi kita akan lebih sering mengobrol.” Kataku padanya.

Dia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Astaga wajahnya pucat sekali. Apa karena itu dia menunduk sedari tadi? Aku tidak berani menganggunya lagi. Lagipula sorot wajah gadis itu menunjukkan bahwa perasaannya sedang tidak baik. Apa yang terjadi dengannya ya? Yak! Apa urusanmu Lee Hyuk Jae! Sudah, sudah lebih baik aku kembali fokus pada pelajaran yang disampaikan songsaengnim.

Selama pelajaran berlangsung, sesekali aku melirik ke arahnya. Dia terlihat benar-benar sedang tidak enak badan. Sedari tadi dia merebahkan kepalanya ke meja. Dan aku tidak bohong jika wajahnya pucat sekali. Persis seperti mayat hidup. Aku ingin bertanya padanya, tapi aku segera mengurungkan niatku. Lebih baik aku tak usah ikut campur urusannya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aissshhh kapan sih pelajaran yang membosankan ini berakhir. Aku sama sekali tak berminat untuk memperhatikan apa yang dijelaskan songsaengnim di depan, apalagi mencatatnya. Kepalaku benar-benar terasa pusing, jadi selama pelajaran berlangsung, aku merebahkan kepalaku di atas meja.

“Yak anak-anak apa kalian mengerti tentang materi ini?” tanya songsaenim.

“Ye songsaengnim.” Jawab murid-murid serempak.

“Baguslah, kalau kalian mengerti aku akan memberi tugas pada kalian. Buka buku kalian halaman 123, dan lihat disitu ada latihan soal yang berjumlah 100 soal kan? Nah kalian kerjakan itu dan jangan lupa besok dikumpulkan!” perintah songsaengnim lagi.

“Ye, songsaengninm.” Jawab murid-murid yang lagi-lagi serempak.

Mwo? Apa-apaan mereka? Mengapa mereka tidak menolak diberi tugas sebanyak itu hah? Aku sih tidak mau. Ya ya andai saja ini bukan hari pertamaku bersekolah disini, aku pasti akan langsung protes pada songsaengnim itu! Enak saja dia memberi tugas sebanyak itu, dia pikir aku ini robot apa? Gerutuku dalam hati.

“Ya, Kim Jiyeong, apa kau sudah mengerti tugasmu?” tanya songsaengnim tiba-tiba.

“Ah ne, aku mengerti songsaengnim.” Tch, kenapa dia menanyaiku seperti itu hah? Lihat kan sekarang aku jadi pusat perhatian siswa lain. Seakan-akan aku ini siswi pindahan baru yang sangat bodoh.

“Anak-anak kita cukupkan pelajaran kita hari ini. Jangan lupa kalian kerjakan tugas kalian di rumah.” Songsaengnim itu berkata sambil merapikan barang bawaannya.

“Gamsahamnida songsaengnim.”

TEEEEENGGG!!! TEEEEENGGG!!!” Baguslah akhirnya bel tanda istirahat berbunyi juga. Setidaknya sekarang aku bisa tidur di kelas. Baru saja aku ingin melaksanakan niatku, lelaki yang bernama Eunhyuk itu menanyaiku dengan pertanyaan yang tidak penting, menurutku.

“Jiyeong-ssi, kau tidak ke kantin?”

“Tidak.”

“Kau kenapa? Sakit?”

“Tidak.”

“Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

“Aku bilang aku tidak sakit! Sudah jangan mengangguku!”

“Ah mianhae, tapi aku hanya khawatir padamu, aku lihat wajahmu sangat pucat, makanya aku pikir kau sakit.”

“Tidak usah minta maaf dan kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Eunhyuk-ssi. Lebih baik sekarang kau urusi saja urusanmu, jangan ganggu aku, aku ingin tidur!” usirku padanya.

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk akhirnya.

Eunhyuk’s POV

“Baiklah.” Jawabku akhirnya. Aku segera meninggalkan kelas dan bergegas ke kantin.

Aigooo gadis itu benar-benar galak. Bisa-bisanya dia mengusirku seperti tadi! Awas saja lain kali akan kubalas perbuatannya! Aku melonggarkan ikatan dasiku yang terasa sangat mencekik leherku ini. Ah begini lebih baik. Aku tidak suka berpenampilan rapi seperti murid-murid lain, toh justru dengan penampilanku seperti ini, banyak yeoja-yeoja yang menyukaiku kan? Hahaha.

“Ya Hyukkie oppa! Kau mau ke mana?” Aisshh suara yeoja menyebalkan itu lagi. “Oppa tunggu aku!” katanya lagi.

Aku tetap tak menghentikan langkahku, malah makin mempercepat langkahku. Aku malas berurusan dengan yeoja satu itu. Ya aku akui dia mantanku, tapi tidak bisakah dia berhenti merecokiku?

“Oppa, kenapa terburu-buru begitu sih?” ucapnya yang kini sudah ada di sampingku.

“Aku lapar, ingin segera membeli makanan ke kantin.”

“Ya, jadi kau sudah merubah sikapmu menjadi dingin seperti ini terhadapku oppa? Kau jahat! Kau bilang meskipun sudah putus, kau tetap akan bersikap baik padaku.”

“Memangnya sekarang aku tak bersikap baik padamu, Ji Eun-ssi?

“Kau bahkan memanggilku dengan embel-embel –ssi! Kau benar-benar keterlaluan oppa! Kau jahat!”

“Lalu aku harus memanggilmu dengan embel-embel apa hah? Chagiya? Iya begitu maumu?”

“Aku ingin kita seperti dulu oppa.” Ucap Ji Eun yang kini sudah mulai menangis.

“Hah, jangan mimpi Ji Eun-ssi, kita tak akan bisa seperti dulu. Kau yang mengkhianatiku waktu itu.”

“Tapi aku kan sudah minta maaf.”

“Apa kau pikir minta maaf saja sudah cukup hah? Sudahlah minggir kau! Aku jadi membuang-buang waktu istirahatku yang berharga ini dengan bicara denganmu.”

“Jadi sekarang waktu istrirahatmu lebih berharga dariku?”

“Tepat sekali! Sudah sana minggir, dan aku mohon padamu jangan mengangguku lagi.”

“Baik jika itu maumu, aku tak akan menganggumu, tapi aku pastikan kau akan kembali bertekuk lutut padaku, tuan Lee.” Kini nada bicaranya berubah menjadi ancaman.

“Kau mengancamku? Tch, coba saja kalau kau bisa.” Tantangku balik padanya. Aku pun tak perlu berpikir lama, aku segera meninggalkannya dan melanjutkan niat awalku, pergi ke kantin.

“Sialan! Tunggu saja tanggal mainnya dan aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku!” geram Ji Eun.

Aku tak memperdulikannya. Dasar gadis agresif, harusnya kan lelaki yang mengejar wanita, kenapa malah sebaliknya?

“TEEEEENGG!!! TEEEEENGG!!!”

Aissshh dasar! Gara-gara Ji Eun, aku jadi tak sempat ke kantin! Dasar wanita menyebalkan! Aku mengurungkan niatku ke kantin dan kembali menuju kelasku. Ah syukurlah aku tiba lebih dulu sebelum songsaengnim. Aku segera menuu tempat dudukku dan mendapati Jiyeong masih tertidur.

“Ya, apa dia tidak mendengar bunyi bel berbunyi? Atau bunyi bel itu masih kurang kencang untuk membangunkannya?” tanyaku dalam hati. Dengan hati-hati aku membangunkan Jiyeong.

“Jiyeong-ssi, bangunlah. Bel sudah berbunyi. Kau mau kena marah songsaengnim karena melihatmu tertidur di kelas?” aku membangunkannya pelan-pelan sekali, takut dia akan marah. Tapi, dia tak segera menanggapiku. Ah baiklah mungkin dia benar-benar tak mau kuganggu. Lebih baik aku kembali ke tempat dudukku.

“Eunhyuk-ssi…bisakah aku minta tolong padamu?” dia menarik tanganku tiba-tiba. Astaga tangannya dingin sekali! Dan kenapa suaranya serak begitu?

“Ya, kau kenapa? Kau sakit?” refleks aku menempelkan telapak tanganku di dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya. “Yak! Badanmu panas sekali! Ayo aku antarkan kau ke ruang kesehatan!” kataku lagi.

“Bukan itu yang aku minta padamu. Tolong kau halangi aku dari songsaengim, aku ingin tidur di kelas, kepalaku pusing sekali, bisa kan?”

“Tapi badanmu itu panas sekali! Lebih baik kau istirahat di ruang kesehatan.”

“Jangan berteriak seperti itu. Aku hanya pusing! Tidak usah berlebihan. Kalau kau tidak bisa menolongku, yasudah tidak apa-apa. Biarkan sekalian songsaengnim melihatku, dan mengeluarkanku dari kelas.”

“Aish bukan begitu maksudku. Baik-baik aku akan menolongmu.”

“Gomawo Eunhyuk-ssi.” Aku masih bisa melihatnya tersenyum ditengah-tengah wajah pucatnya itu.

Belum sempat aku menjawabnya, songsaengnim sudah memasuki kelas. Aku segera duduk di bangkuku dan membantu gadis itu. Entah bagaimana caranya aku sendiri juga bingung, tapi aku sudah berjanji padanya.

***

Kim Jiyeong’s POV

Baguslah laki-laki itu mau menolongku. Satu-satunya alasan mengapa aku tak mau di ruang kesehatan adalah karena aku takut bertemu dengan Hyuri. Kalau tidak salahkan dia itu petugas kesehatan di sekolah ini, makanya aku tidak mau dibawa Eunhyuk ke ruang kesehatan meskipun kepalaku ini benar-benar pusing.

“Ya! Kau jangan menengok ke arahku terus! Nanti bisa ketahuan! Katanya kau mau menolongku, tapi jika kau begitu sama saja! Pada akhirnya aku akan ketahuan juga!” protesku pelan pada Eunhyuk yang sedari tadi menengok ke arahku.

“Aku hanya memastikan keadaanmu.” Bisiknya pelan. Entah kenapa tapi aku mendengar nada khawatir dari suaranya.

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasku. Eunhyuk menuruti perintahku. Dia tidak menganggu lagi. Akhirnya aku bisa melanjutkan tidurku lagi.

Eunhyuk’s POV

“Aku baik-baik saja. Sudah aku mau tidur lagi.” Balasnya. Aku menuruti perintahnya dan tidak menganggunya lagi. Aku membiarkannya untuk istirahat.

Selama pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi. Aku sebenarnya ingin sekali menengok ke arahnya lagi dan melihat apa yang dilakukannya. Tapi tidak jadi. Benar apa katanya, kalau aku bersikap begitu terus, bisa-bisa songsaengnim mencurigai kami dan akhirnya Jiyeong akan dikeluarkan dari kelas. Hah aku hanya berharap bahwa bel pulang sekolah segera berbunyi dan songsaengnim pergi meninggalkan kelas.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku sudah cukup sabar menunggu sampai akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-teman yang lain mulai berlalu meninggalkan kelas. Mungkin langsung pulang atau mungkin mereka mempunyai acara lain. Kini tinggal aku dan Eunhyuk berdua di dalam kelas. Aku segera merapikan barangku dan Eunhyuk pun melakukan hal yang sama denganku.

“Jiyeong-ssi, rumahmu di mana?” tanyanya yang memecah keheningan di antara kami.

“Kenapa kau menanyakan rumahku?” Eunhyuk tampak berpikir sebentar kemudian berkata lagi.

“Aku ingin mengantarmu pulang. Dengan melihat kondisimu sekarang, aku takut kau pingsan di jalan.”

“Ya apa pedulimu memang? Aku bisa pulang sendiri! Memangnya aku gadis lemah yang akan pingsan begitu saja? Jangan mentang-mentang tadi aku meminta tolong padamu jadi kau bersikap begini padaku!”

-Hening-

Mungkin aku terlalu kasar padanya. Baik kali ini aku akan melunakkan sikapku.

“Ya, Eunhyuk-ssi, aku hanya tidak mau kau repot-repot mengantarku pulang.” Kataku akhirnya.

“Tapi aku tidak merasa direpotkan jika harus mengantarmu pulang.” Aissshhh laki-laki ini ngeyel sekali sih.

“Kau memaksaku sekarang? Hhmm sepertinya aku perlu memberi tahumu satu hal penting Eunhyuk-ssi, aku tidak suka dipaksa. Jika diawal aku berkata tidak, itu berarti tidak akan ada yang berubah. Kau mengerti?” tanyaku tajam padanya.

“Aish iya iya terserah kau sajalah. Sebagai temanmu aku hanya merasa khawatir.” Mwo? Apa dia bilang barusan? Aku tidak salah dengar kan?

“Sejak kapan kau jadi temanku?”

“Sejak tadi kau memperkenalkan dirimu di depan kelas.” Jawabnya santai.

“Tapi aku tidak menganggapmu sebagai teman. Bagimana?” balasku enteng.

“Kalau begitu perkenalkan, aku Lee Hyuk Jae. Senang berkenalan denganmu. Kita sudah menjadi temankan sekarang?” ucapnya sambil mengulurkan tangannya, berniat untuk bersalaman denganku.

“Hah lucu sekali sikapmu itu. Baiklah aku Kim Jiyeong. Senang berkenalan denganmu tuan Lee.” Aku membalas uluran tangannya. Entah apa yang ada dipikiranku sekarang sampai-sampai aku bisa bersikap seperti ini. Ya mungkin ini efek dari sakit kepala yang kuderita.

“Yak! Katanya kita berteman kok memanggilku seperti itu?” protesnya .

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Itu terserah padamu mau memanggilku apa, asal jangan kau panggil aku dengan embel-embel –ssi atau panggilan formal lainnya.”

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Kataku akhirnya mengalah.

Eunhyuk’s POV

“Yah baiklah, karena kau orang pertama yang kuanggap sebagai temanmu, aku akan menuruti kemauanmu.” Katanya mengalah.

He? Aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman? Apa sebelumnya dia tidak pernah menganggap orang lain sebagai temannya? Ah bukan urusanku. Tidak tahu kenapa tapi aku senang dengan kenyataan bahwa aku orang pertama yang dianggapnya sebagai teman. Keren kan?

“Ya! Kenapa kau senyum-senyum begitu hah? Memangnya ada yang lucu?”

“Aniya Jiyeong-a, tidak ada yang lucu. Kau sensitif sekali sih.” Jawabku sambil terus menahan senyum ini.

“Tch dasar aneh, tidak ada yang lucu tapi tersenyum tidak jelas begitu. Sudahlah aku pulang duluan ya.”

“Kau yakin tidak mau kuantar?”

“Perlu kujelaskan lagi kalau aku tak suka dipaksa hah?”

“Aissshhh yasudah sana pulang. Ya! Jiyeong-a hati-hati dijalan!” aku melambaikan tanganku padanya dan kembali merapikan barangku yang tadi sempat tertunda.

“Ne.” Jawabnya singkat.

Kim Jiyeong’s POV

Aku berbalik meninggalkannya dan tersenyum sendiri. Setidaknya di hari pertamaku sekolah ini tidak terlalu buruk, aku mendapatkan seorang teman. Baru saja aku mau keluar kelas, tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing sekali. Astaga kali ini aku benar-benar tidak bisa menahannya.

BRUK. Aku terjatuh tepat di depan kelasku. Kepalaku benar-benar pusing. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar Eunhyuk meneriaki namaku.

Eunhyuk’s POV

BRUK. Aku mendengar seseorang jatuh di depan kelas. Aku refleks melihat siapa orang itu. Astaga! Itu Jiyeong! Dia pingsan!

“Kim Jiyeong! Kau tidak apa-apa?” aku berlari menghampirinya.

“Jiyeong-a! Bangun, kau tidak apa-apa?” ulangku lagi.

Aku panik. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apalagi sekarang sudah waktunya pulang sekolah pasti di ruang kesehatan juga sudah tidak ada penjaganya lagi. Ah apa sebaiknya aku membawanya ke rumahnya? Aishhh tapi kan aku tidak tahu di mana rumahnya. Aku berpikir sebentar dan akhirnya menemukan sesuatu yang harusnya sudah kuketahui dari awal. Ah dasar Lee Hyuk Jae bodoh! Setiap murid di sini pasti kan mempunyai buku identitas diri kan? Kenapa aku tak melihat alamat rumah Jiyeong di buku itu saja?

Aku segera mencari buku itu dan melihat di mana alamat rumah Jiyeong. Yes, aku sudah mendapatkannya!

“Ya Jiyeong-a, bertahanlah, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku bergegas menggendong Jiyeong dan mengantarkannya pulang. Untunglah hari ini aku membawa kendaraan, jadi tak perlu berdesak-desakan di bis.

***

Ternyata tak susah mencari di mana rumahnya. Kini aku sudah berada di depan rumah Jiyeong. Astaga pintu ini terkunci? Bagaimana caranya masuk kalau begitu?

“Tentu saja dengan membuka kuncinya bodoh! Kuncinya ada di dalam tasku.” Kata Jiyeong pelan.

“Kau sudah sadar rupannya. Tch dasar dalam kondisi begitu kau masih bisa mengatai orang bodoh.”

Aku segera mencari kunci rumah yang dimaksud dalam tasnya. Yap ini dia! Kataku sambil mengeluarkan kunci tersebut dan membuka pintu rumahnya.

“Yak Jiyeong-a kamarmu di mana?” Aku terkagum-kagum dengan rumahnya yang bisa dibilang sangat besar ini.

“Di lantai 2.” Jawabnya singkat.

“Rumahmu besar sekali Jiyeong-a~”

“Kau jangan berlebihan.”

“Aishh aku kan hanya mengatakan apa yang aku lihat. Kau pasti betah tinggal di sini.” Aku tak henti-hentinya mengagumi interior rumah Jiyeong yang sangat mewah.

“Tidak sama sekali. Kau tahu? Justru aku merasa seperti dipenjara.”

“Hah? Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.

“Tidak usah banyak bertanya. Itu kamarku tepat di samping tangga.” Aku mengikuti arah yang ditunjuk Jiyeong.

Aku merebahkan tubuh Jiyeong di tempat tidurnya. Dia pun segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

“Orang rumah yang lain di mana? Kau tinggal sendiri di sini?” tanyaku akhirnya.

“Mereka belum pulang. Ah kau bisa pulang sekarang Eunhyuk-a~”

“Kau pikir aku teman macam apa yang akan membiarkan temannya sendiri dalam kesusahan hah? Kau sudah pingsan seperti tadi, apa kau mengira bahwa aku akan meninggalkanmu sendirian begitu? Tidak. Aku akan di sini sampai setidaknya eomma mu pulang.”

“Dia akan pulang larut. Sudah pulang sana. Aku mau istirahat.”

“Sudah kubilang aku akan menunggumu sampai salah satu orang rumahmu pulang. Biarlah aku menunggu sampai larut jika perlu.”

“Terserah.”

“Ya, kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Bohong.”

“Aku bilang sudah ya sudah! Kau cerewet sekali sih!”

“Baiklah aku akan mengambil makanan untukmu. Sekarang katakan padaku di mana letak dapurnya.”

“Cari saja sendiri.” Katanya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Tch dasar kau! Baik aku akan mencari sendiri di mana dapurnya. Tapi kau harus makan setelah aku kembali.”

“Tidak mau.”

“Aku tidak suka penolakan. Kau harus makan.”

“Aku tidak suka dipaksa, apa kau lupa?”

“Tapi ini untuk kebaikanmu. Sudah sudah aku akan segera kembali.”

“Ya Eunhyuk-a~ hati-hati tersesat.” Katanya. Aku bisa mendengar dia tertawa kecil.

“Tidak akan kau tenang saja.” Balasku.

Mwo? Memangnya rumah ini sebesar apa sampai dia memperingati agar aku tidak tersesat? Hah pasti itu bisa-bisanya saja agar aku tak mengambilkan makanan untuknya. Aku menutup pintu kamar Jiyeong dan segera mencari dapur. Yah semoga saja aku benar-benar tidak tersesat.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku mendengar suara pintu kamarku ditutup. Ya! Bahkan dia lebih cerewet dari seorang ibu sekalipun. Ani, aku lupa. Aku tak mempunyai seorang ibu. Aku kembali memegangi kepalaku yang kembali terasa sakit. Untung tadi Eunhyuk menolongku, coba kalau tidak ada dia, pasti aku akan menginap di sekolah malam ini.

Cklek. Seseorang membuka pintu kamarku. Apa itu Eunhyuk? Kenapa dia cepat sekali?

“Ah ternyata benar kau sudah pulang.” Ternyata tebakanku salah. Yang datang bukan Eunhyuk melainkan Hyuri sialan itu.

“Mau apa kau ke sini? Sudah sana pergi!” usirku padanya. Aku tak mau Eunhyuk melihat Hyuri di sini dan mengetahui bahwa dia kakakku.

“Aku mendengar dari teman sekelasmu bahwa kau sakit. Makanya aku segera pulang. Aku sudah sengaja membatalkan janjiku dengan Donghae oppa.”

“Salahmu sendiri. Sudah kubilang sana pergi!” usirku lagi karena Hyuri belum beranjak juga dari kamarku.

“Di mana temanmu? Kau diantar pulang dengan temanmu kan?”

“Kim Hyuri sialan, sudah kubilang jangan banyak tanya, keluar saja dari kamarku!” umpatku kesal. “Dia ada di dapur. Sedang mengambilkan makanan untukku.” Jawabku akhirnya.

“Seorang pria?” Kenapa dia jadi cerewet begini sih.

“Ne.” Jawabku singkat.

“Oh jadi benar dugaanku. Ya, kau tunggu disini aku akan mengambilkan kompres untukmu. Oya Jiyeong-a, tadi eomma menelfonku, dia bilang dia tidak jadi pulang larut hari ini.”

“Lalu apa urusannya denganku?”

“Ya setidaknya kau bisa diurusi oleh eomma.”

“Sejak kapan eomma mau mengurusiku hah? Dan kau, sudahlah lebih baik kau kembali ke kamarmu dan kerjakan saja tugasmu! Jangan pedulikan aku!”

“Mana bisa aku tidak peduli dengan adikku sendiri hah?” Bertepatan dengan Hyuri mengatakan hal itu, Eunhyuk sudah kembali ke kamarku. Aku melihat ekspresi terkejut dari Eunhyuk.

“Su-sunbae?” kata Eunhyuk terbata.

“Ah jadi kau yang mengantar adikku pulang.” Balas Hyuri. Cih apa-apaan dia, bukannya sudah kubilang, jangan katakan pada orang lain jika aku ini adiknya? Kim Hyuri itu memang benar-benar menyebalkan.

“Ah ne sunbae. Jadi kau kakaknya Jiyeong?” tanya Eunhyuk sambil melirik ke arahku. Lee Hyuk Jae awas saja kau.

“Ye. Terima kasih sudah mengantar adikku pulang…”

“Lee Hyuk Jae, atau sunbae bisa memanggilku Eunhyuk.”

“Baiklah, terima kasih sudah mengantar adikku pulang Eunhyuk-ssi.” Kata Hyuri. “Ohya jangan memanggilku dengan sebutan sunbae, panggil saja aku noona.” Tambah Hyuri.

Eunhyuk tak membalas ucapan Hyuri tapi dia hanya mengangguk dan tersenyum. Cih noona, menggelikan sekali mendengar Eunhyuk memannggilnya noona.

“Eunhyuk-a, kau tunggu di sini sebentar ya, aku ingin mengambil kompres untuk Jiyeong.”

“Baik noona.” Jawab Eunhyuk menurut. Hyuri pun keluar dari kamarku dan meninggalkan aku dan Eunhyuk berdua di kamarku.

“Kau sudah bisa pulang sekarang. Hyuri sudah pulang. Jadi ada yang menemaniku di sini.”

“Kau tidak memanggilnya eonni?” tanya Eunhyuk bingung.

“Tidak. Dan tidak akan pernah.” Jawabku.

“Aish terserahlah, ini makananmu. Cepat kau makan.”

“Tidak mau. Aku sedang tidak nafsu makan. Sudah sana kau pulang saja.” Suruhku lagi padanya. Aku tidak mau Eunhyuk melihat aku bertengkar dengan eomma makanya aku suruh dia pulang.

“Kenapa kau ingin sekali aku pulang sih?”

“Ini sudah sore, apa ibumu tidak akan mencarimu?”

“Ya aku ini bukan anak kecil lagi. Lagipula ibuku mempercayaiku sepenuhnya, jadi kau tidak usah khawatir.”

“Beruntung sekali kau mempunyai ibu seperti itu.” Kataku padanya. Jelas sekali ada rasa iri dalam nada bicaraku.

“Memangnya ibumu tidak seperti itu?”

“Tidak usah membahas ibuku.” Jawabku ketus. Bahkan aku ragu, sebenarnya dia ibuku atau bukan.

Kami terdiam sesaat dan akhirnya Eunhyuk membuka suaranya lagi.

“Yak makan ini.” Katanya. “Atau jika kau tetap tidak mau makan, aku akan menyuapimu.” Ancam Eunhyuk kali ini.

“Yak! Aku bilang aku tidak mau makan! Awas kalau kau berani menyuapiku!” kini giliran aku yang mengancamnya.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu! Kau harus makan! Sini buka mulutmu!” Eunhyuk menyodorkan sesendok nasi padaku. Aku tetap tidak membuka mulutku. Sudah kubilang aku tidak suka dipaksa.

“Yak buka mulutmu, atau aku akan…”

“Akan apa hah? Memangnya kau berani padaku?” tantangku padanya.

“Akan menciummu. Dengan begitu kau akan membuka mulutmu kan? Dan saat itu aku akan memasukkan makanan ke mulutmu.” Dia menjawabku enteng.

Aku menganga mendengar ucapannya. Apa dia gila hah?

“Dasar otak mesum! Kau kira aku takut dengan ancamanmu hah?”

“Aku tidak main-main dengan ucapanku Jiyeong-a~” Eunhyuk mendekatkan wajahnya ke wajahku dan…

“YAK! APPO!” teriaknya sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Haha rasakan itu! Sudah kubilang kau jangan main-main denganku.” Eunhyuk terlihat sangat jengkel dan berencana membalasku tapi kegiatannya terhenti oleh sebuah suara. Suara yang saat ini tidak ingin kudengar.

“Jadi ini yang kau bilang sedang sakit, Kim Jiyeong?”

-TBC-