My First and Only [ Part 4 ]

Image

 

Author : chokyu88

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

Genre : Romance, Family

Length : Chaptered

Rating : PG+15

 

Kim Jiyeong’s POV

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.” Kataku mantap. Aku sangat lega karena bisa mengatakan hal itu dengan mantap, walaupun pada kenyataan hatiku pecah berkeping-keping saat mengatakan hal itu.

“Ma-makasudmu?” tanya Eunhyuk terbata.

“Ya, lebih baik kita putus saja. Menurutku itu jalan terbaik. Kau pasti akan lebih bahagia dengan Ji Eun.” Jelasku dengan senyum dipaksa.

“Tapi kenapa begitu?”

“Aku sudah tahu semuanya kejadian tadi siang itu. Walaupun aku sedang menjalani hukuman tapi aku tahu jelas apa yang kau dan Ji Eun lakukan.” Jelasku lagi sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan air mataku. Jangan sekarang Jiyeong, kau tidak boleh menangis sekarang.

“Bahkan aku tahu maksudmu mengajakku untuk bicara, kau ingin memutuskanku kan? Karena kau sudah balikan kembali dengan Ji Eun?” tambahku.

“Aniya Jiyeong. Aku mengajakmu ke sini untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memutuskan hubungan denganmu.”

Aku tersenyum pahit mendengar penjelasan Eunhyuk barusan. Apa harus aku percaya dengan penuturan laki-laki di depanku ini? Menurutku tidak.

“Aku mengerti. Kau pasti hanya merasa tidak enak padaku. Nah sekarang, jalani kembali hubunganmu dengan Ji Eun, tidak usah pedulikan aku lagi.” Aku makin keras menggigit bibir bawahku. Menahan sekuat tenaga air mataku.

“Dan ohya terima kasih selama beberapa hari ini kau telah mengisi hariku. Terima kasih sudah menjadi teman pertamaku. Mulai sekarang tidak usah pedulikan diriku lagi, dan seriuslah dengan Ji Eun.” Lanjutku kemudian.

“Jiyeong-a, ta-tapi…”

“Aku pulang duluan. Annyeong Eunhyuk-ssi.” Setelah mengucap salam dan membungkukan badan, aku bergegas berbalik dan meninggalkan kafe ini secepat mungkin. Air mataku kini sudah jatuh membasahi pipiku. Dengan sigap aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kafe.

Setelah taksi yang aku berhentikan berhenti, aku segera masuk ke dalam dan menghempaskan diriku pada jok taksi. Kepalaku aku senderkan ke jendela dan mataku menatap kosong ke arah jalanan. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam taksi ini. Masa bodoh dengan tatapan aneh supir taksi itu. Yang penting aku bayar kan?

“Nona, aku harus mengantarmu ke mana?” tanya supir taksi itu.

Aku menyebutkan alamat rumahku dan kembali menatap kosong ke arah jalanan. Sontak seluruh kenangan-kenanganku ketika bersama Eunhyuk kembali mengusik pikiranku.

Kenapa akhirnya harus begini? Kenapa aku terlalu bodoh untuk menerimanya waktu itu? Kenapa aku dengan mudahnya jatuh cinta pada seorang Lee Hyuk Jae…

***

“Jiyeong-a, kau baru pulang?” tanya Hyuri ketika aku memasuki rumah. Kulihat ada Donghae juga disitu.

Aku tidak menggubris pertanyaan Hyuri dan langsung menuju kamarku di lantai dua.

“Jiyeong-a, kau kenapa?” tanyanya lagi.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus.

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Ya! Jiyeong-a! Sebenarnya kau kenapa? Ceritakan padaku!”

“Sejak kapan aku harus menceritakan padamu apa yang terjadi denganku hah?” sikap dingin kembali menguasai diriku.

“Tumben sekali kau muram begitu. sejak bertemu dengan Eunhyuk, aku tak pernah melihatmu mu…”

“Jangan sebut nama itu lagi di depanku. Dan jangan bertanya apapun mengenai laki-laki itu.”

“Ya kau bertengkar dengannya?”

“Tidak usah banyak tanya! Ikuti saja perintahku!”

Dengan gusar aku kembali melanjutkan langkah menuju kamarku. Dan membanting pintuku sekuat tenaga sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku melempar tasku ke sembarang tempat dan langsung membenamkan wajahku dalan bantal. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi hari ini.

 

Kim Hyuri’s POV

Hah kenapa sikapnya jadi kembali seperti dulu? Padahal aku sudah sangat senang dengan perubahan sikap Jiyeong padaku  akhir-akhir ini.

Aku berjalan lemah dan menghempaskan diriku di sofa tepat di sebelah Donghae oppa.

“Hyuri-ya~ aku yakin adikmu pasti ada masalah.” Ucap Donghae oppa lembut.

“Ne oppa. Aku juga yakin. Tapi aku tidak tahu masalahnya apa, sepertinya ini masalah yang serius.” Jawabku muram.

“Aisssh tidak usah menjadi muram begitu, cepat atau lambat dengan sendirinya kau pasti akan mengetahui masalah adikmu itu. Jadi jangan terlalu kau pikirkan.” Donghae oppa tersenyum dan membuatku kembali bersemangat.

“Aku rasa apa yang kau bilang barusan itu benar. Baiklah ayo kita mulai lagi mengerjakan tugas kita!” ucapku bersemangat.

“Nah ini baru Hyuri yang aku kenal.” Donghae oppa megacak rambutku yang membuat pipiku memerah karena malu.

Aku dan Donghae oppa mulai berkutat pada soal-soal fisika di hadapan kami. Sesekali Donghae oppa mengajariku karena memang aku lemah dalam bidang fisika. Ketika Donghae oppa ingin memulai penjelasannya, terdengar seseorang memencet bel yang mau tidak mau membuatku harus membukakan pintu.

“Oppa, aku bukakan pintu dulu ya?” ucapku pada Donghae oppa dan berjalan ke arah pintu.

“Annyeong noona. Apakah Jiyeong ada?” tanya Eunhyuk ketika aku membukakan pintu. Oh jadi Eunhyuk yang datang.

“Ne. Dia ada di dalam. Kau ingin bertemu dengannya?” tanyaku.

Aku melihat keraguan dari gelagat Eunhyuk ketika aku bertanya padanya.

“Sebenarnya ada masalah apa antara kau dengan Jiyeong? Kau tahu, hari ini dia pulang sambil menangis.” Kataku seraya menebak alasan dari gelagat keraguan Eunhyuk.

“Mianhae noona, tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu saat ini.” Rasa bersalah kentara sekali dalam nada bicara Eunhyuk.

“Ah begitu. Baiklah itu bukan menjadi masalah. Kajja masuk.” Aku mempersilakan Eunhyuk masuk dan langsung menyuruhnya ke lantai 2.

“Kau tahu kan di mana kamar Jiyeong? Apa perlu aku antar?” tawarku karena Eunhyuk terlihat bingung. “Atau kau merasa sungkan? Hhmm baiklah ayo aku antar.” Aku berjalan mendahului Eunhyuk menaiki anak tangga dan berhenti tepat di depan kamar Jiyeong.

“Jiyeong-a, ada Eunhyuk di sini. Lebih baik kau keluar untuk menemuinya.” Kataku sambil mengetuk pintu kamar Jiyeong.

Tidak ada jawaban. Aku yakin sekali Jiyeong ada di kamarnya dan dia tidak tidur. Makanya aku memperkeras ketukan pintuku.

“Jiyeong-a! Aku tahu kau tidak tidur. Ayo cepat keluar dan temui Eunhyuk. Selesaikan masalah kalian berdua sekarang.”

Lagi-lagi kesunyian yang membalasku. Jiyeong tetap bersikeras tidak mau keluar kamar atau sekedar menjawab.

“Noona kalau Jiyeong tidak mau menemuiku tidak apa-apa, bisa lain kali. Maaf telah merepotkanmu.” Eunhyuk merasa tak enak padaku.

Belum sempat aku membalas ucapan Eunhyuk, suara Jiyeong tiba-tiba terdengar dari dalam kamar.

“Tidak ada lain kali Eunhyuk-ssi. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menemuimu.”

Aku memandang Eunhyuk dengan tatapan kasihan. Pasti masalah mereka bukan masalah main-main ini pasti masalah serius.

“Noona, tidak usah memandangku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Maaf aku telah merepotkanmu. Aku pamit ya.” Kata Eunhyuk tiba-tiba.

“Ah ne mianhae. Kau hati-hati ya.” Ucapku sambil melihat kepergian Eunhyuk dari lantai 2.

Pasti masing-masing dari mereka saat ini merasakan sakit. Hah tapi apa yang bisa aku lakukan? Mungkin dengan tidak mencampuri urusan mereka itu lebih baik. Aku menuruni anak tangga dan kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda tadi.

 

Eunhyuk’s POV

ARGH. Aku mengacak-acak rambutku frustasi dan bebarapa kali menendangi kaleng kosong bekas minuman ke sembarang tempat.

Ini semua gara-gara gadis sialan itu! Andai saja dia tidak berbuat nekat seperti tadi, pasti tidak akan jadi begini.

Jiyeong-a, kenapa kau sampai memutuskanku seperti tadi? Apa kau tidak tahu aku sangat sedih sekarang hah? Dasar gadis bodoh! Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara tadi? Kenapa kau menarik kesimpulan bodoh seperti itu? Bukannya aku sudah bilang bahwa aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap Ji Eun? Jadi mana mungkin aku balikan kembali dengannya.

Tidak bisa aku pungkiri bahwa selama bebarapa hari ini, Jiyeong lah yang mengisi hariku. Walaupun dia suka bersikap jutek dan keras kepala, tapi itu sama sekali bukan masalah bagiku, malah itu menjadi daya tariknya.

Aku kembali terbayang bagaimana ekspresi mukanya yang ketakutan setengah mati ketika aku dipukuli oleh ahjussi-ahjussi tempo hari lalu. Bagaimana ekspresinya ketika dia cemburu karena aku memuji Ha Na. Dan……ketika aku mendengar degup jantungnya yang begitu keras saat aku menciumnya.

Kim Jiyeong, apakah sebegitu mudahnya untuk jatuh cinta padamu?

Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk sendiri. Dan ketika waktunya sudah cukup menurutku, aku akan menjelaskan semua padamu. Semoga saja kau mau mendengarkanku.

***

Kim Jiyeong’s POV

Aku berjalan lemas menuju pintu gerbang sekolahku. Setelah menangis semalaman membuat kepalaku sedikit pening. Dari kejauhan aku melihat Eunhyuk sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Sesekali dia mengedarkan padangannya hendak mencari seseorang. Dia pasti mencari Ji Eun.

Kini langkahku semakin dekat dengannya. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin ketika lewat di depannya.

Brug. Seseorang menabrak bahuku dari belakang.

“Aah.” Rintihku.

“Mianhae. Aku tidak sengaja.” Hah, kenapa pagi-pagi begini aku harus bertemu dengan Ji Eun? Menyebalkan sekali!

“Jelas-jelas kau sengaja.” Gerutuku dalam hati.

“Aku duluan Jiyeong-a!” ucap Ji Eun sok akrab denganku. Aku tidak membalasnya. Dan kembali menempatkan diriku dalam posisi awal sebelum Ji Eun menabrakku.

“Oppa, kau pasti menungguku kan? Aah aku bahagia sekali akhirnya kita bisa kembali seperti dulu lagi.”

Hatiku kembali terasa teriris mendengar ucapan Ji Eun barusan. Rupanya aku tidak salah mengambil keputusan, Eunhyuk pasti lebih bahagia sekarang dengan Ji Eun.

Aku berjalan melewati mereka berdua sambil menunduk. Tidak berani mendongak atau sekedar menyapa Eunhyuk dan Ji Eun. Terlalu sakit bagiku untuk melakukan hal itu.

*

Sampai di kelas aku menyadari sesuatu. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini aku duduk di sebelah Eunhyuk. Dengan ragu-ragu aku meminta pada Min Ra, teman sekelasku untuk bertukar posisi denganku.

“Min Ra-ya, bisakah aku duduk di kursimu? Kau bisa duduk di kursiku?” tanyaku ragu-ragu, khawatir Min Ra akan menolak permintaanku.

“Wae?” tanya Min Ra.

“Aku mengalami gangguan penglihatan, jadi kalau duduk di belakang, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dicatat songsaengnim di papan tulis.” Jawabku berbohong.

“Oh begitu. baiklah, kau bisa duduk di sini.” Balas Min Ra sambil merapikan barangnya dan pindah ke kursiku.

“Min Ra-ya, jeongmal gomawoyo.” Kataku.

“Ne.” Jawab Min Ra sambil tersenyum.

Aku duduk di kursi baruku. Tidak ada Eunhyuk di sampingku. Tidak ada lagi yang melindungiku dari songsaengnim ketika aku tidur di kelas. Ya, tidak ada lagi seorang Lee Hyuk Jae yang dulu menjadi teman pertamaku…

***

Hari-hari berikutnya aku jalani tanpa minat. Tidak ada seorang pun yang mampu menghiburku termasuk Hyuri. Hubunganku dan Eunhyuk semakin memburuk. Kami benar-benar sudah tidak saling bicara, tegur sapa pun tidak. Aku kembali menjadi sosokku yang dulu sebelum bertemu dengan Eunhyuk. Kembali menjadi seorang Kim Jiyeong yang dingin dan kasar. Akibat sikapku itu aku dijauhi oleh teman-teman sekelasku. Aku tak mempunyai seorang temanpun. Jika waktu istirahat tiba, aku ke kantin seorang diri, tidak jarang aku menjadi bahan ejekan teman-temanku sendiri. Tapi biarlah, daripada aku menjadi Kim Jiyeong yang lemah, lebih baik begini. Toh aku sudah terbiasa hidup sendiri. Hidup tanpa ada seorang pun yang peduli padaku.

***

Hari ini aku berjalan gontai menuju kelasku. Sambil tetap menunduk, aku kembali memutar ulang ucapan Hyuri tadi pagi.

Jiyeong-a hari ini eomma pulang. Aku harap kau tidak pulang malam, dan bisa sampai rumah sebelum eomma.

Baiklah, sekarang kehidupanku yang dulu benar-benar kembali. Aku mencelos dalam hati dan merutuki nasibku sendiri. Mengapa aku bisa begitu sial?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Lagi-lagi aku mencelos dalam hati. Benar, sekarang memang tidak ada dan tidak akan ada yang peduli padaku. Dengan lemas, aku duduk di kursiku, dan merebahkan kepalaku di meja. Semalam aku tidur larut lagi, sehingga lagi-lagi aku mengantuk di kelas. Doaku hari ini hanya, semoga aku tidak akan tertidur di kelas.

“Kim Jiyeong, apa sekarang rumahmu sudah pindah hah?” suara berat songsaengnim membangunkanku. Astaga! Ternyata tadi aku tertidur. Tapi kenapa tidak ada yang membangunkanku?

“Ng…ng…maafkan aku songsaengnim. Aku sangat mengantuk tadi.” Jawabku.

“Jadi kalau kau mengantuk, kau boleh tidur seenaknya, begitu?”

“Aniyo, aku tidak bermaksud begitu. Aku…”

“Keluar sekarang. Berdiri di depan kelas sampai pelajaranku selesai. Enak saja kau tidur di saat jam pelajaranku.”

“Songsaengnim…tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian! Cepat keluar! Aku tidak suka pada siswa yang menyepelekan pelajaranku!”

Hah, rupanya doaku tidak terkabul. Aissshhhh dasar menyebalkan! Aku kan hanya tidur sebentar, kenapa malah dibilang menyepelekan pelajarannya? Tidak masuk akal.

Aku berdiri di depan kelas dengan tampang kesal, masih setengah tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan songsaengnim padaku.

“Ini peringatan juga bagi kalian. Tidak ada yang boleh tidur atau tertidur lagi pada jam pelajaranku! Dan sekarang, jika di antara kalian, ada yang mengantuk cepat keluar temani Jiyeong!” perintah songsaengnim yang terdengar samar-samar dari luar.

Errrrr dasar seenaknya saja! Cih, apa semua guru zaman sekarang itu seperti itu?

Cklek. Terdengar pintu suara ditutup. Mwoya? Jadi ada yang tertidur juga di kelas selain aku? Atau dia mengantuk? Hah terserahlah, aku tidak peduli.

“Kau tidur larut lagi semalam?” suara khas milik seseorang yang sudah sangat kukenali itu tiba-tiba memenuhi ruang pendengaranku. Aku hanya mematung dan tidak berani menoleh, karena aku tahu siapa si pemilik suara itu.

“Apa jangan-jangan kau juga tidak sarapan lagi pagi ini?” tambahnya.

Aku memicingkan mataku. Darimana dia tahu semua kebiasaanku itu?

“Kenapa kau ada di sini?” aku melontarkan pertanyaan untuk mengalihkan pembicaraan. Tetap kesan dingin yang masih menguasai diriku.

“Dihukum, sama sepertimu.” Jawabnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Jiyeong-a.” Lanjutnya.

“Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu.”

“Jadi, aku harus memanggilmu bagaimana?”

“Seperti saat kau pertama kali bertemu denganku. Mengerti?”

“Kau pasti bercanda. Shireo! Aku tidak mau.”

“Kalau begitu ini terakhir kali, kau bicara denganku. Kau tahu? Aku sangat ingin muntah jika mendengarmu memanggilku seperti itu.”

Keadaan hening sesaat. Aku tahu omonganku barusan memang sangat kasar, tapi untuk kali ini aku tidak akan minta maaf. Aku rasa aku tidak salah jika mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan.

“Ternyata, Hyuri noona benar. Kau kembali seperti dulu.” Tukasnya kemudian.

“Lalu? Pedulimu apa?”

“Jiyeong-a, tak bisakah kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu? Kau itu salah paham.”

“Apa yang harus dijelaskan lagi? Kau pikir, aku ini anak kecil yang bisa mudah salah paham hah?”

“Jiyeong-a…”

“Jiyeong-ssi.” Tukasku tajam.

“Jiyeong-ssi, apa kau tahu? Setiap hari Hyuri noona selalu bercerita padaku mengenai keadaanmu. Kau selalu pulang malam dan tidur larut kemudian keesokan paginya kau selalu tidak sarapan karena bangun kesiangan. Kau juga kembali menjadi sosok yang dingin…”

“Lalu? Apa itu masalah buatmu?”

“Tentu saja. Hyuri noona selalu mendesakku untuk segera menyelesaikan salah paham di antara kau dan aku. Dia bilang, dia sedih melihat adiknya menjadi sosok yang dingin dan keras kepala.”

“Jadi kau terganggu? Baiklah aku akan bilang pada Hyuri, bahwa mulai sekarang, dia tidak usah untuk mendesakmu lagi dan bercerita hal yang tidak penting padamu. Ohiya, tapi apa kau bisa tolong katakan padanya, bahwa aku memang seperti ini dari dulu. Dingin dan keras kepala, jadi dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkanku.”

“Jiyeong-a!” teriak Eunhyuk frustasi.

Aku menahan tangisku yang sudah ingin pecah dari tadi. Alih-alih untuk mencegah tangisku, aku mengiggit bibir bawahku dan mencoba bertahan sampai setidaknya pelajaran songsaengnim menyebalkan itu selesai.

“Jiyeong-a, aku mengerti keadaanmu saat ini, makanya aku membiarkanmu untuk sendiri. Tapi, jika aku rasa waktunya sudah cukup, giliran kau yang membiarkanku untuk menjelaskan semuanya padamu.”

Tidak ada jawaban iya atau sekedar anggukan kepala dariku. Aku hanya menganggap ucapan Eunhyuk barusan hanyalah angin lalu.

“TENG!!!”

Bel berbunyi satu kali. Akhirnya hukuman bodoh ini berakhir juga. Cepat-cepat aku masuk ke kelas dan meninggalkan Eunhyuk. Ini yang aku tunggu-tunggu dari tadi, bel tanda pelajaran pertama usai berbunyi.

“Ya! Eunhyuk-a! Kenapa kau tadi berbohong pada songsaengnim? Aku tahu kau tadi tidak mengantuk kan? Aku saja melihat wajahmu segar begitu.” aku mendengar Min Ra yang sekarang duduk di kursiku dulu, bertanya pada Eunhyuk.

“Aissshh bukan urusanmu. Sudah diam saja.” Jawab Eunhyuk.

Mwo? Jadi dia tadi hanya berpura-pura? Cih, apa maksudnya?

***

Hari ini eomma pulang. Apa aku harus menuruti permintaan Hyuri dengan pulang lebih awal? Hah aku rasa tidak, lebih baik aku menghabiskan waktuku di toko kaset langgananku.

Krieet. Aku membuka pintu toko kaset itu perlahan dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Baguslah hari ini tidak terlalu ramai. Aku segera menuju rak musik pop barat dan mencari-cari siapa tahu ada kaset yang bagus.

Drrt…drrt…

Ponselku bergetar. Aku berani jamin bahwa yang menghubungiku adalah Hyuri. Pasti dia ingin mennyuruhku untuk segera pulang.

Drrt…drrt…

Aissshh bisa tidak sih dia membiarkanku melakukan apa yang aku mau?

Drrt…drrt…

Kim Hyuri menyebalkan! Apa dia tidak tahu apa maksudku? Kenapa dia malah terus menelfonku?!

Tak lama setelah itu, ponselku berhenti bergetar. Tapi sebuah pesan baru masuk. Si pengirim sama dengan yang menelfonku itu. Kim Hyuri.

Jiyeong-a! Kau di mana? Kenapa tidak menjawab ponselku? Cepat segera menyusulku di Rumah Sakit Internasional Seoul! Eomma kecelakaan.

Deg. Tubuhku membeku membaca pesan dari Hyuri. Eomma….kecelakaan? Aku kalang kabut. Bagaimana bisa eomma kecelakaan? Aku berlari keluar toko kaset dan segera memanggil taksi. Ya Tuhan kenapa bisa jadi begini? Kenapa eomma bisa kecelakaan?

***

“Hyuri! Di mana eomma? Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?” tanyaku panik saat tiba di rumah sakit.

“Eomma…ada di ruang Unit Gawat Darurat sekarang.” Jawab Hyuri lemah.

“Ya! Aku tanya apa dia baik-baik saja?!”

“Aku tidak tahu. Begitu aku tiba di sini, eomma sudah berada di dalam sana.” Tangis Hyuri mulai terdengar.

“Tapi…….bagaimana bisa?”

“Mobil yang eomma tumpangi menabrak sebuah truk. Supir yang saat itu bersama eomma, tewas di tempat.”

Aku lemas mendengar jawaban Hyuri. Kalau sang supir saja bisa sampai tewas seketika, berarti kecelakaan itu parah. Berarti…….eomma?

Bruk. Aku terduduk lemas di lantai. Pandanganku mulai kabur. Butiran-butiran bening mulai menghiasi mataku. Aku takut sesuatu terjadi pada eomma. Aku tidak mau dia sampai kenapa-kenapa.

“Jiyeong-a, jangan duduk di situ, ayo bangun.”

“Hyuri tolong katakan padaku, apakah separah itu kecelakaan yang dialami eomma?”

“Mungkin. Karena…….aku melihat mobil yang eomma tumpangi ringsek.”

“Hyuri! Kau pasti berbohong kan?!”

“Aniya, aku tidak berbohong! Aku serius. Aku tahu, kau juga pasti khawatir dengan eomma kan, makanya lebih baik sekarang kita berdoa bersama untuknya.”

Hyuri membantuku untuk berdiri dan mendudukkanku di salah satu bangku di ruang tunggu.

“Aku tidak apa-apa.” Ucapku karena melihat kekhawatiran di muka Hyuri. “Kau kembali ke tempatmu saja, biar aku di sini.” Tambahku lagi.

Hyuri menuruti perintahku. Ia segera kembali ke tempatnya, dan aku lihat dia menangis sesegukan di pelukan  Donghae.

Hah miris sekali. Di saat Hyuri mempunyai sandaran ketika ia sedang bersedih seperti ini, aku malah tidak punya siapa- siapa di sampingku. Aku kembali memfokuskan pandanganku ke ruang tepat di mana eomma berada sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dokter tak kunjung keluar untuk memberi tahu keadaan eomma?

“Tidak usah menangis lagi. Eomma mu pasti tidak apa-apa. Ini pakailah sapu tanganku untuk menghapus air matamu itu.” Ucap seseorang sambil menyodorkan sapu tangannya ke arahku.

Aku mendongak dan mendapati Eunhyuk di depanku. Aku bingung, kenapa dia bisa mengetahui keberadaanku?

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku dingin bercampur dengan isak tangis.

“Kurasa itu bukan pertanyaan yang penting untuk aku jawab sekarang kan?”

“Lalu, mau apa kau di sini?”

“Aku ingin menemanimu. Aku tidak bisa melihatmu begitu rapuh Jiyeong-a.” Jawab Eunhyuk terang-terangan.

“Tapi aku tidak butuh dirimu. Aku bisa menghadapi ini seorang diri. Jadi lebih baik kau pulang saja.” Tolakku.

“Tch, kau memang keras kepala Jiyeong-a. Tapi apa kau tahu? Aku lebih keras kepala darimu, jadi aku akan tetap di sini, bersamamu.”

Eunhyuk segera mengambil posisi tepat di sebelahku. Aku tidak tahu mengatakan apa pada laki-laki di sebelahku ini. Dia memang benar-benar keras kepala.

“Terserah. Asal kau tidak mengangguku, itu tidak menjadi masalah.”

Hening kemudian. Aku dan Eunhyuk sama-sama tidak mengatakan sepatah kata pun. Ya aku memaklumi hal ini, mungkin saja dia merasa canggung bicara denganku, karena akupun juga merasa canggung berbicara dengannya.

“Apa kalian keluarga dari Nyonya Kim?” tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang Unit Gawat Darurat.

Aku nyaris berlari menghampiri dokter itu. Begitupun dengan Hyuri.

“Ya, benar, kami anaknya.” Jawab Hyuri.

“Kondisi ibu kalian kritis. Beliau mengalami benturan cukup keras di kepalanya. Jadi untuk malam ini dia akan berada di ruang ICU sampai masa kritisnya usai. Kalian berdoalah untuk keselamatan ibu kalian.” Jelas dokter itu.

Aku hanya terperangah mendengar penjelasan sang dokter. Tanpa sadar, tubuhku setengah limbung, tapi Eunhyuk dengan sigap menahan tubuhku agar tidak terjatuh.

“Tapi dokter, apa boleh kami melihat ibu kami?” tanya Hyuri.

“Maaf, tapi selama ibu kalian berada di ruang ICU, kalian tidak boleh melihatnya.” Jawab sang dokter.

“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak.” Ucap Hyuri pasrah.

Sedetik kemudian, pemandangan yang aku lihat adalah, tubuh eomma yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu, dibawa keluar dari UGD menuju ruang ICU. Hyuri yang daritadi tampak tenang, kali ini tampak tidak bisa menahan tangisnya.

“Hyuri-ya, tenanglah. Lebih baik sekarang kita berdoa saja, aku yakin eomma mu pasti bisa lewat dari masa kritisnya.” Ucap Donghae menenagkan sambil menghapus air mata Hyuri.

“Oppa, tapi aku sangat cemas dengan kondisinya sekarang ini.”

“Kau percaya dengan kekuatan doa kan? Apalagi doa seorang anak, pasti akan didengar oleh Tuhan. Sudah ya kau jangan menangis lagi.”

Aku melihat sepasang kekasih itu dengan tatapan tak bisa dibaca. Jujur dari dalam hatiku, aku merasa iri pada Hyuri. Ia mempunyai seseorang yang bisa membuatnya tenang dalam kondisi seperti ini. Tapi segera kutepis perasaanku. Di saat seperti ini, bukan saatnya untuk mempunyai perasaan seperti itu kan?

“Hhm, maaf aku ingin ke toilet sebentar.” Kataku tiba-tiba.

“Ne, Jiyeong-a. Tapi cepat kembali, jangan lama-lama.” Ucap Hyuri yang kini sudah terlihat lebih tenang.

“Biar aku antar.” Ucap Eunhyuk.

“Tidak usah.” Jawabku kemudian dan aku segera pergi ke toilet.

*

Sebenarnya aku ke toliet bukan karena ingin buang air kecil ataupun buang air besar, entah kenapa rasanya aku ingin ke toilet dan menumpahkan tangisku di sini. Dan mungkin keberuntungan sedang berpihak padaku kali ini. Toilet ini benar-benar kosong dan hanya ada aku seorang.

Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin besar yang ada di toilet itu. Betapa menyedihkannya diriku ini. Sudah kehilangan seseorang yang berarti penting, sekarang eomma mengalami kecelakaan. Apakah tidak bisa keadilan berpihak padaku? Kenapa ini semua terjadi hanya dalam jentikan jari saja? Aku menutup mataku dan bulir-bulir bening, aku rasakan mulai membasahi pipiku. Tuhan, aku mohon selamatkan eomma, tolong jangan biarkan dia pergi, karena kalau itu sampai terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku, aku akan selamanya menjadi anak yang durhaka. Air mataku semakin deras mengalir, memikirkan semua sikap dan perilaku burukku pada eomma selama ini, hingga ada sebuah suara yang menginterupsiku.

“Mau sampai kapan kau terus di dalam? Cepat keluar. Jadi yang kau bilang sebentar itu 15 menit hah?”

Tidak usah dicari tahu siapa pemilik suara itu, sudah pasti itu Eunhyuk. Dan lagi-lagi dia muncul di saat yang menurutku tidak tepat.

“Mau apa kau? Ini toilet wanita.” Tukasku.

“Aku tahu. Tapi aku tidak akan segan-segan masuk ke dalam, jika dalam hitungan ke-3 kau tidak juga keluar.” Ancamnya.

Aku mendengus kesal karenanya. Kalau aku keluar sekarang, keadaanku sangat menyedihkan untuk dilihat, tapi kalau tidak, sepertinya dia benar-benar nekat untuk masuk.

“1…2…” Eunhyuk memulai hitungannya. “Ini sudah hitungan kedua Jiyeong-a, aku benar-benar serius dengan ucapanku.” Tambahnya.

Sebelum dia menyelesaikan hitungannya dan bersiap-siap masuk ke dalam toilet, aku keluar dan mendapatinya tepat di depan pintu toilet.

“Aku sudah keluar. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk melakukan hal bodoh dan memalukan itu.”

“Aissshh aku akan melakukan hal itu, kalau kau tidak keluar Jiyeong-a.”

“Terserah kau saja.” Ucapku acuh tak acuh dan mulai berjalan meninggalkannya.

“Jiyeong-a tunggu sebentar!” cegah Eunhyuk sambil mengahampiriku. “Ikut aku.” Katanya lagi sambil menarik tanganku.

Aku tidak berontak ataupun mencoba melepaskan diri, seperti yang biasa aku lakukan kalau Eunhyuk tiba-tiba menarik tanganku. Aku hanya pasrah dan mengikuti ke mana laki-laki ini pergi membawaku.

*

“Sudah sampai.” Kata Eunhyuk dan segera duduk di kursi yang tepat berada di depanku dan Eunhyuk.

Aku mengikutinya dan duduk di sebelah Eunhyuk. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Ini taman yang terletak di belakang rumah sakit yang biasa digunakan pasien untuk berjalan-jalan atau sekedar menghirup udara segar.

“Kemarilah, mendekat padaku. Kau seperti orang lain saja.” Katanya sambil menarikku mendekat.

“Untuk apa?” tanyaku menggantung.

“Ne?” tanyanya bingung.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?”

“Kau lihat kan pasien yang ada di bawah pohon itu? Menurutmu sedang apa dia di sini?”

“Entahlah.” Sambil menatap kosong ke arah yang ditunjuk Eunhyuk.

“Meskipun kondisi kalian berbeda, dia sakit dan kau sehat, tapi aku yakin perasaan kalian sama. Kau dan pasien itu sama-sama sedang sedih dan membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur.”

“Kau tahu darimana dia sedang sedih?” tanyaku yang seolah ingin mengatakan bahwa ia sok tahu.

“Kau tidak lihat? Raut wajahnya itu yang memberi tahuku.”

“Nah itu lihat lagi, ada seseorang yang mengahmpirinya! Pasti orang itu yang akan menghiburnya!” ucap Eunyuk antusias.

“Ya! Tidak usah mengurusi orang lain! Dasar sok tahu! Bisa saja itu salah seorang suster yang ingin membawanya kembali ke dalam.”

“Aniyo Jiyeong-a, apa kau tidak lihat, wajah pasien itu berubah menjadi ceria ketika orang itu datang. Pasti dia orang yang penting bagi pasien itu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Jiyeong-a, apa aku tidak penting bagimu? Mengapa saat aku datang, kau malah menyuruhku untuk pulang?” Eunhyuk bertanya sambil tetap menatap kedua manusia yang tiba-tiba menjadi objek perbincangan aku dan Eunhyuk.

Mungkin memang kau sangat penting bagiku, tapi akulah yang terlalu bodoh untuk tidak bisa menyadari betapa pentingnya dirimu.

“Aku tahu, kau di toilet tadi itu menangis kan? Kenapa kau bahkan tidak mau menangis di depanku? Padahal aku ingin seperti Donghae yang menghapus air mata Hyuri noona ketika dia menangis.”

“Aku…aku…” Aku hanya tidak ingin melihatmu ikut bersedih karena aku menangis.

Sedetik kemudian, Eunhyuk sudah merangkulku dan kini aku sudah berada dalam pelukannya. Hangat tubuh ini….ah sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakannya.

“Sekarang kalau kau ingin menangis, menangislah sesuka hatimu. Dulu aku sudah berjanji kan bahwa akan bersedia meminjamkan bahuku untuk kau menangis?” ucapnya lembut.

Mungkin jika aku dalam keadaan normal, aku akan mendorong tubuhnya dan menjauh darinya saat ini juga. Tapi yang aku lakukan malah sebaliknya. Aku malah memperat pelukannya dan menangis sekencang-kencangnya.

Hanya menangis, itu saja yang aku lakukan. Aku tidak berkata sepatah kata apapun, karena aku yakin, Eunhyuk juga pasti mengerti perasaanku. Eunhyuk mengelus punggungku pelan untuk memberi ketenangan padaku. Setelah aku rasa cukup, aku menjauhkan diriku darinya, tapi masih dalam keadaan sesegukan.

“Kau sudah merasa baikan sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Baguslah. Setidaknya aku bisa sedikit menghiburmu.” Ucap Eunhyuk sambil tersenyum. Senyum yang selalu aku suka itu.

“Gomawo.”

“Tidak usah berterima kasih begitu padaku Jiyeong-a, aku senang bisa membantumu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Andai peristiwa itu tidak pernah terjadi, pasti senyumku akan lebih lebar daripada ini.

“Ya! Kau kedinginan! Ini pakai jasku.” Ucap Eunhyuk sambil melepaskan jaketnya dan memasangkannya di tubuhku.

Ah memang angin bertiup kencang malam ini, tapi entah kenapa aku tidak merasakan apapun.

“Kau tidak sadar kau menggigil daritadi?”

“Tidak. Karena aku tidak merasakan apapun.” Jawabku jujur.

“Aissssh dasar kau ini.” Ucapnya sambil mengacak rambutku dan pandangannya mulai menjelajahi sekitar.

Aku melirik ke arah Eunhyuk. Dia bodoh atau apa sih? Dia sendiri menggigil seperti itu, tapi malah memberikan jasnya padaku.

“Ya! Kau mau akting sok kuat di depanku hah?”

Eunhyuk menyipitkan matanya, tanda tak mengerti dengan maksudku.

“Hah, ternyata belum berubah juga. Ini jasmu. Kau juga kan kedinginan, kenapa malah memberikannya padaku?” kataku sambil melepas jasnya.

“Aniyo, kau saja yang pakai itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Cih, dasar sok kuat.” Dengan nada mengejek aku mengatakan hal itu dan kemudian mengembalikan jas miliknya.

“Ya!” teriak Eunhyuk tak terima.

“Aku tidak akan mau tanggung jawab kalau nanti kau mati kedinginan di sini.”

“Aissshh, sudahlah sini mendekatlah padaku, biar kita berdua sama-sama merasa hangat.” Eunhyuk menarikku agar lebih mendekat padanya.

Aku tersenyum simpul karena sikapnya. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke atas bahunya.

“Jiyeong-a?” tanya Eunhyuk yang agak sedikit terkejut karena sikapku ini.

“Aku pinjam bahumu lagi untuk malam ini. Sudah jangan cerewet.”

Bisa aku rasakan ia tersenyum mendengar jawabanku. Terima kasih Tuhan, setidaknya Kau telah memberiku sedikit kenyamanan dan ketenangan melalui orang di sampingku ini.

Aku masih dalam posisiku sekarang, ketika tiba-tiba ponselku bergetar. Aishhhh siapa sih yang berani mengangguku di saat seperti ini? Hyuri? Aku bangkit dari posisiku yang menyandar pada Eunhyuk dan menjawab ponselku tanpa melihat siapa yang menelfon.

“Yoboseyo? Nuguseyo?”

“…”

“Ji-ji eun-ssi?” kataku terbata karena terkejut.

“…”

“Ya. Ada apa?” Aku berhasil mengatasi keterkejutanku dengan kembali bersikap dingin.

“…”

“Tenang saja, aku tidak akan lupa. Baik akan kuberi ponselku padanya.”

Aku memandang Eunhyuk sesaat yang daritadi hanya menatapku bingung.

“Dia ingin bicara padamu. Lain kali angkat telfonnya, jadi dia tidak harus menelfonku.” Kataku sambil menyerahkan ponselku pada Eunhyuk dan beranjak pergi.

“Ini ponselmu. Aku tidak mau bicara dengannya.” Piip terdengar Eunhyuk memutuskan sambungan telfon dan mengembalikan ponselku.

“Kita ke dalam sama-sama.” Lanjutnya lagi sambil menggandeng tanganku untuk kembali masuk ke dalam.

Aku hanya melongo melihat sikapnya itu. Dia memutuskan sambungan telfon begitu saja? Hhhm ani, bahkan dia tidak mau mengangkat telfon dari Ji Eun? Kenapa? Apa jangan-jangan selama ini apa yang aku pikirkan tentang mereka salah? Aissshh itu tidak mungkin! Ya! Kim Jiyeong kau berpikir apa? Kau tidak ingat apa yang tadi Ji Eun katakan? Tiba-tiba saja ucapan Ji Eun di telfon tadi, terulang dengan lancarnya di otakku.

Jiyeong-a meskipun sekarang kau bersamanya, tapi kau tidak boleh lupa, bahwa selamanya Eunhyuk adalah milikku…”

“Jiyeong-a, kau darimana saja? Tadi katanya hanya ke toilet sebentar.” Suara Hyuri tiba-tiba mengembalikan kesadaranku.

“Tadi aku jalan-jalan sekitar rumah sakit ini, mencari udara segar.” Jawabku.

“Aaah begitu. Yasudah aku dan Donghae oppa ingin membeli makanan dulu ya, kalian berdua pasti sudah lapar kan?”

“Hhhmm.” Jawabku singkat.

“Baiklah. Ah Eunhyuk-a, titip adikku sebentar ya!” tambah Hyuri.

“Ya! Kau pikir aku anak kecil?!” teriakku tak terima.

“Aisshh jangan berteriak-teriak seperti itu, nanti pasien lain bisa terganggu. Baik-baik, aku minta maaf.”

“Tch, sudah sana pergi. Aku sudah lapar.”

Hyuri tak membalas ucapanku dan langsung melesat pergi bersama pacaranya itu. Dalam sekejap, mereka sudah tak tampak lagi oleh indera penglihatanku. Tinggalah aku berdua dengan Eunhyuk di ruang tunggu rumah sakit ini. Rasanya aku ingin sekali bertanya padanya, kenapa dia tadi memutuskan sambungan telfon begitu saja. Tapi aku mengurungkan niatku. Lebih baik aku diam saja, pikirku saat itu.

“Kau tidak mau bertanya kenapa tadi aku tidak mau bicara dengan Ji Eun?” tanya Eunhyuk yang memecah keheningan selama sesaat.

“Tidak. Itu bukan urusanku.” Jawabku ketus.

“Padahal jika kau bertanya, aku akan menjelaskannya dengan senang hati. Bahkan tanpa di tanya pun aku akan menjelaskannya padamu.”

“Tidak perlu, aku tidak mau tahu alasannya kenapa.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika Ji Eun menelfonmu lagi dan ingin bicara padaku, langsung saja kau matikan ponselmu, arra?”

Entah kenapa tapi ada perasaan senang yang menggelitik hatiku. Benarkah yang aku dengar barusan? Ah aku tidak peduli apapun alasannya.

“Arra.” Jawabku singkat.

Keheningan lagi-lagi yang menguasai suasana. Aku bingung memilih topik pembicaraan yang pas untuk saat ini, dan pada akhirnya aku menyerah dan hanya bisa berharap semoga Hyuri cepat kembali.

5 menit…10 menit berlalu, dan Hyuri masih belum kembali juga. Aku hampir putus asa dengan suasana seperti ini. Kecanggungan yang aku rasakan begitu besar. Errrghhh ayolah Kim Hyuri cepat kembali, pintaku putus asa.

5 menit lagi berlalu dan akhirnya permintaanku terkabul. Hyuri sudah kembali.

“Ya, mianhae membuat kalian menunggu lama. Tadi antriannya sangat panjang.”

“Lain kali, cari saja kedai makanan yang sepi, jadi aku tak harus menunggumu seperti tadi. Kau tahu? Aku nyaris mati kelaparan.” Kataku sedikit berbohong.

“Bukannya aku tidak mencari tempat lain, ini sudah malam Jiyeong-a, kebetulan kedai makanan yang masih buka hanya ini saja.”

“Aisshh yasudahlah terserah. Mana makananku?”

“Ini.” Jawab Hyuri sambil menyerahkan bungkusan ke arahku. “Ohya, dan ini untukmu Eunhyuk-a.” Tambah Hyuri.

“Gomawo noona.” Balas Eunhyuk dan menghampiriku yang sudah duduk duluan tanpa mengucapkan apa-apa pada Hyuri.

Aku membuka bungkusan itu dengan tidak sabar. Kalau aku bilang tadi aku nyaris mati kelaparan, sebenarnya itu tidak sepenuhnya bohong, karena aku benar-benar lapar. Aku tergelak mendapati apa isi bungkusan itu. Mie ramen. Makanan yang selalu aku hindari karena selalu mengingatkanku dengan Eunhyuk. Dan sekarang, aku memakan makanan ini tepat di sebelahnya?

Aku yang awalnya sangat tidak sabar untuk menyantap makanan, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Tapi aku tetap saja menyuapkan ramen itu ke mulutku. Belum selesai kerongkonganku berhasil memasukan ramen itu ke dalam lambungku, aku sudah menyuapkan lagi ramen itu ke dalam mulutku.

“Hhhm Jiyeong-a, bagaimana jika nanti pulang sekolah kau kutraktir makan ramen? Ya anggaplah ini sebagai permohonan maafku.”

“Serius kau mau mentraktirku? Tentu saja aku mau! Mana ada orang yang menolak untuk ditraktir kan?”

“Aisshhh mendengar kata traktir saja kau baru senang. Iya, pulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu, jadi kita pulang bersama. Awas kalau kau kabur!”

“Ya! Mana mungkin aku kabur! Aku tidak akan melewatkan momen memakan ramen gratis, Eunhyuk-a~”

“Melewatkan momen makan ramen gratis atau momen makan denganku?”

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kenangan itu muncul lagi dipikiranku hah? Alih-alih untuk mengilangkan pikiran itu, aku kembali dengan nafsunya menyuapkan ramen ke dalam mulutku.

“Ya! Makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak!” kata Eunhyuk memperingatiku.

Kata-kata itu…sama persis dengan apa yang dikatakannya waktu itu. Aku tidak menggubris peringatannya dan tetap pada kegiatanku.

“Kim Jiyeong! Aku bilang jangan seperti itu! Nanti kau bisa tersedak!”

“Berisik!” jawabku dengan mulut penuh.

“Mulutmu itu sudah penuh, jangan kau masukkan ramen itu lagi ke dalam mulutmu, sebaiknya kau telan dulu.” Kata Eunhyuk sambil mengambil sumpit yang aku pegang agar aku tidak menyuapkan ramen lagi ke dalam mulutku.

“Kembalikan! Aku mau makan!”

“Tidak sebelum kau telan dulu ramen yang ada di mulutmu itu!”

Aku bingung harus melakukan apa, tapi tiba-tiba, aku melihat sumpit milik Eunhyuk yang sedang tidak terpakai. Segera saja aku mengambilnya, dan kembali memakan ramenku.

“Ya! Kim Jiyeong! Sebenarnya kau kenapa hah?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap pada kegiatanku. Kalau orang lain melihat apa yang aku lakukan saat ini, mungkin orang itu akan menyangka, bahwa aku ini monster yang sudah tidak diberi makan selama berhari-hari.

“Uhuk…uhuk…uhuk…” Aku nyaris kehabisan nafas karena tersedak. Argghh aku sekarang malah tampak seperti orang bodoh. Lihat kan? Sampai Hyuri dan Donghae pun melihat ke arahku.

“Kau tidak apa-apa? Ini minumlah.” Kata Eunhyuk sambil menyodorkan sebotol minuman padaku.

Aku mengambil botol itu dan segera meneguk air itu secepat mungkin. Rasanya tersedak itu benar-benar tidak enak.

“Aku sudah memperingatimu dari awal kan? Kau sendiri yang tidak mendengarnya. Sekarang rasakan akibat ulahmu sendiri.”

“Tch, kalau kau tidak tulus, tidak usah memberiku minum!” bentakku yang sudah berhasil menelan seluruh ramen yang tadinya memenuhi rongga mulutku.

“Kau sudah aku bantu, malah membentakku.”

“Siapa yang suruh kau membantuku hah?”

“Memang tidak ada! Tapi apa aku akan diam saja melihatmu seperti itu?!” Eunhyuk sedikit menaikan nada suaranya sehingga terkesan dia membentakku.

Aku menunduk karena merasa menyesal. Baiklah aku akui aku salah kali ini. Harusnya aku berterima kasih padanya, bukan malah membentaknya seperti tadi.

“Maaf.” Ucapku pelan.

“Bukan maaf, tapi terima kasih.” Ralatnya.

Aku menarik nafasku sesaat dan mencoba mengatakan kalimat singkat itu. “Terima kasih.” Kataku akhirnya sambil tetap menunduk.

Eunhyuk mengangkat daguku dengan lembut sehingga kepalaku terangkat dan kini aku bisa memandang wajahnya.

“Itu baru benar.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku salah tingkah dibuatnya. Harusnya tadi aku tetap menunduk. Arrgghh tidak adakah hal di dunia ini yang bisa aku lakukan dengan benar?

“Ya! Ini makan punyaku saja.” Kata Eunhyuk.

Ah iya aku lupa ramenku tadi tidak sengaja terjatuh, karena saat tersedak tadi, aku kelimpungan mencari air minum.

“Tidak usah. Aku sudah kenyang.”

“Kau yakin sudah kenyang?” tanya Eunhyuk sangsi.

“Ne. Nikmati saja ramenmu itu.” Jawabku yakin.

“Baiklah.” Balas Eunhyuk. Dan Eunhyuk pun mulai melanjutkan makannya lagi.

***

Jam 02.00 dini hari. Haaaah kapan malam yang panjang ini akan berakhir? Sudah berulang kali aku mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku terus-terusan memikirkan eomma yang sekarang terbaring sendirian di ruang ICU. Aku melirik ke arah Hyuri. Ah rupanya dia sudah tidur. Ya! Apa-apaan dia itu? Kenapa membuat orang iri saja? Bayangkan saja, dia tidur dipangkuan Donghae. Aisshhh dasar.

“Kau belum tidur?”

“A-aku membangunkanmu ya? Maaf.” Ujarku tak enak.

“Tidak juga. Sebenarnya aku juga tidak benar-benar tertidur.”

“Kalau begitu, lanjutkan lagi saja tidurmu, siapa tahu kau benar-benar akan tertidur sekarang. Aku janji tidak akan membangunkanmu lagi.”

“Kau sendiri kenapa sampai sekarang belum tidur? Itu lihat kakakmu sudah tertidur pulas daritadi.”

“Aku tidak bisa tidur. Aku…….selalu memikirkan eomma ketika aku mencoba untuk memejamkan mataku.” Jawabku lemah.

“Jadi karena itu kau tidak bisa tidur? Jiyeong-a dengarkan aku. Seorang ibu adalah sosok yang kuat, jadi eomma mu pasti akan berhasil melewati masa kritisnya. Apalagi kau dan Hyuri noona sudah berdoa untuknya kan? Tenang saja pasti Tuhan akan mendengar doamu dan Hyuri noona.”

Aku menatapnya sangsi. Apakah benar apa yang dikatakannya?

“Kau meragukanku? Baiklah, akan aku beri bukti. Begini, kau pasti tahu kan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya?”

Aku mengangguk,”Ya aku tahu.”

“Nah, kau juga pasti tahu bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan dan taruhannya adalah nyawa? Ibumu sudah berhasil melalui masa yang menyakitkan dan mempertaruhkan nyawanya itu demi melahirkan kau dan Hyuri noona, jadi dia pasti bisa melewati masa kritisnya malam ini. Lagipula aku yakin, ibumu tidak akan mau pertaruhan nyawanya menjadi sia-sia waktu itu, jadi dia pasti akan kembali sadar.”

Aku benar-benar terharu mendengar apa yang Eunhyuk katakan. Tidak aku sangka laki-laki dihadapanku ini bisa mengatakan hal mengharukan seperti itu.

“Kau benar Eunhyuk-a. Eomma pasti akan sadar.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa kau tidak tersenyum begitu daritadi hah? Baguslah kalau kau sudah yakin. Ya! Sekarang lebih baik kau tidur. Kau tidak mau kan ketika besok eommamu sadar tapi kau malah tertidur?”

“Aisssshh iya baiklah. Aku akan mencoba untuk tidur.”

“Baiklah kalau begitu kemari.” Eunhyuk membimbing kepalaku agar bersandar di bahunya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak akan mau kan jika aku suruh tidur seperti Hyuri noona?” katanya sambil tertawa.

“Tentu saja tidak!”

“Yasudah, makanya kau menurut saja denganku.”

Aku merengut kesal, tapi tetap saja bersandar padanya. Dan tak lama kemudian, aku pun tertidur. Semoga malam yang seperti ini hanya akan terjadi satu kali seumur hidupku.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena mendengar sedikit kebisingan. Saat aku benar-benar berhasil membuka mataku secara sempurna, aku mendapati Hyuri sedang mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku bangkit dari posisi bersandarku dan mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku melirik ke arah Eunhyuk yang masih terlelap. Aku berusaha bangun dari kursi ini dengan sangat pelan-pelan agar tidak membangunkan Eunhyuk yang tampaknya baru tidur 2 jam yang lalu.

“Hyuri-ya, ada apa? Kenapa kau mondar-mandir seperti itu? Eomma sudah sadar?” tanyaku ketika berhasil menghampiri Hyuri.

“Aku tidak tahu, kita tunggu saja kabar dari dokter yang menangani eomma. Dia baru saja masuk.”

“Ya! Kalau begitu kenapa kau tidak membangunkanku hah?”

“Kau pikir aku akan membangunkanmu yang baru tidur 3 jam lalu? Aku tidak setega itu!”

“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada eomma? Apa kau akan tetap membiarkanku tertidur?”

“Aisssh baik-baik aku salah, maafkan aku.” Kata Hyuri akhirnya mengalah.

“Ya! Tapi darimana kau tahu aku baru tidur 3 jam yang lalu?”

“Eunhyuk-mu.”

“Dia bukan Eunhyuk ku!”

“Bukan “bukan” tapi belum.”

“Ya! Kim Hyuri kenapa kau jadi menyebalkan begini sih?”

“Hei sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar?” lerai Donghae dan entah dari kapan tapi tiba-tiba Eunhyuk sudah berada di sampingku.

“Ka-kau sudah bangun?” tanyaku pada Eunhyuk.

“Ne.” Jawabnya singkat. Terlihat jelas dari raut mukanya bahwa ia masih sangat mengantuk. Aisshh ini semua gara-gara Hyuri!

Cklek. Terdengar suara pintu terbuka dan munculah seorang dokter muda dengan stetoskop dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jubahnya.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanyaku tak sabar.

Dokter itu tersenyum. Aah ini pasti pertanda baik!

“Aku ucapkan selamat buat kalian berdua. Eomma kalian berhasil melewati masa kritisnya dengan baik. Dan kalian tahu? Bahkan seorang eomma kalian sudah sadar.” Kata dokter itu sumringah.

“Jinjjayo?” kataku dan Hyuri nyaris bersamaan.

“Tentu saja. Ohya, boleh aku tanya sesuatu? Di antara kalian siapa yang bernama…hhmm…Kim…Hyuri?” dokter itu terlihat bingung sesaat tapi kemudian dia bisa menyelesaikan ucapannya.

Aku yang tadinya sangat antusias mendadak tak bersemangat. Kenapa dokter itu menanyakan Hyuri?

“Aku. Aku Kim Hyuri. Wae?” jawab Hyuri dan langsung balik bertanya pada dokter itu.

“Ah ibumu, saat dia sadar tadi, dia langsung menyebut-nyebut namamu. Bahkan dia langsung memintaku untuk segera memanggilmu, katanya begini, “Dokter, apakah bisa kau panggilkan Kim Hyuri anakku? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”

Hyuri? Hanya Hyuri saja yang eomma cari? Hanya Hyuri yang ingin ditemuinya? Lantas aku? Apa aku benar-benar tidak berarti untuk eomma?

“Ya, hari ini juga ibu kalian akan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, jadi kalian bisa menemuinya.” Tambah dokter itu.

“Ah baiklah. Terima kasih banyak dokter.” Kata Hyuri sambil tersenyum.

“Ne. Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian.” Balas dokter itu sambil kemudian berlalu pergi.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah tahu akan begini. Sudah sana cepat temui eomma.” Kataku pada Hyuri sambil mencoba menahan rasa kecewaku.

“Tapi….kau…”

“Dokter itu bilang kan, eomma sudah tidak sabar bertemu denganmu? Jadi kau tunggu apalagi? Cepat sana temui eomma.”

“Kau tidak ikut bersamaku?”

“Aku bisa lain kali menemui eomma. Sangat tidak lucu jika aku dan eomma bertengkar, padahal eomma baru saja sadar kan?”

“Baiklah kalau itu maumu. Aku masuk sekarang ya.”

Hyuri dan Donghae segera memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Dan aku di sini hanya bisa melihat dari celah kaca yang ada di pintu. Biarlah asalkan aku bisa melihat eomma membuka matanya itu sudah lebih dari cukup.

 

Author POV

Eunhyuk menatap nanar gadis di sebelahnya. “Bagaimana bisa dia bersikap tegar padahal aku tahu dia sangat ingin menangis sekarang. Kalau aku bisa, aku akan menyeretnya saat ini juga masuk ke dalam, tapi apa boleh buat, dia sendiri yang melarangku untuk melakukan hal itu.” Batin Eunhyuk.

“Eunhyuk-a, aku sangat senang sekarang.” Kata Jiyeong sambil terus menatap ke arah Hyuri dan ibunya.

“Kalau kau sangat senang, harusnya kau tersenyum, bukan malah murung seperti itu.” Balas Eunhyuk.

“Siapa bilang aku murung? Aku hanya iri dengan Hyuri…dia bisa langsung menemui eomma, sementara aku? Harus menunggu lain waktu.”

“Kan kau sendiri yang menginginkan hal itu.”

“Ah iya kau benar. Aku lupa.”

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Eunhyuk dan Jiyeong kembali disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hyuri yang mungkin daritadi memperhatikan Jiyeong dari dalam akhirnya tak tahan dan meminta ibunya agar mau bertemu dengan adiknya itu.

“Eomma sebenarnya yang datang ke sini bukan hanya aku saja, tetapi Jiyeong juga datang.”

“Hyuri kau bercanda? Mana mungkin adikmu itu datang.”

“Eomma aku serius. Aku panggilkan dia ya.”

“Tidak usah. Kepalaku bisa kembali pusing jika bertemu adikmu itu.”

“Eomma aku mohon….” Hyuri memelas pada eommanya.

“Hhhm baiklah, tapi tolong kau suruh adikmu jangan membuat ribut di sini.”

“Tidak akan eomma. Dia tidak akan membuat ribut, aku yakin.”

Hyuri pun segera keluar dan menemui Jiyeong. Jiyeong agak sedikit terkejut karena Hyuri tiba-tiba keluar.

“Jiyeong-a! Ayo masuk!” ajak Hyuri antusias.

“Mworago? Aku? Masuk ke dalam?”

“Ne! Ayolah bukannya kau ingin masuk?”

“Memang aku ingin, tapi….”

“Aku tahu. Tenang saja, aku sudah bilang pada eomma kok.”

Jiyeong tersenyum mendengar pernyataan kakaknya. Ia pun segera masuk ke dalam bersama Hyuri.

“Eunhyuk-a kau tidak ikut masuk?” tanya Hyuri yang melihat Eunhyuk tidak bergerak dari tempatnya.

“Aniyo noona, biar aku menunggu di luar saja.” Tolak Eunhyuk halus.

“Baiklah, kalau begitu kami masuk dulu ya.”  Balas Hyuri sambil menggandeng Jiyeong masuk.

Kim Jiyeong POV

Jantungku makin berdetak tidak karuan begitu aku memasuki kamar tempat di mana eomma berada. Astaga! Memang awalnya aku sangat ingin masuk, tapi begitu sekarang aku masuk, aku malah gugup dan malah ingin keluar. Aku bingung harus mengatakan apa pada eomma nanti.

“Eomma, aku tidak bohong kan? Lihat ini Jiyeong!” seru Hyuri pada eomma.

Aku tersenyum kikuk. Bukan karena kegugupanku tapi lebih kepada raut muka eomma yang sepertinya tidak suka dengan kehadiranku.

“Eomma…” kataku tersendat.

“Ada apa?” tanya eomma dingin.

“Aku…senang kau sudah sadar.” Aku berusaha untuk tersenyum, walaupun akhirnya senyum yang aku keluarkan adalah senyum yang dibuat-buat.

“Kau yakin?”

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Bukannya kau berharap supaya aku tidak akan pernah sadar lagi?”

Bahuku mulai bergetar. Mataku mulai terasa panas. Tidak sekarang Kim Jiyeong, kau pasti bisa tahan.

“Tentu saja aku tidak berharap seperti itu. Sungguh, aku sangat senang eomma sudah sadar.”

“Terserahlah aku tak peduli. Kau sudah selesai kan? Kalau sudah kau bisa keluar sekarang. Biar Hyuri saja yang menemaniku di sini. Kepalaku sakit jika melihatmu lebih lama lagi.”

“Eomma, jangan terlalu kasar seperti itu. Ingat kau baru sadar.” Kata Hyuri mengingatkan eomma.

“Maaf kalau kehadiranku membuat eomma sakit. Aku akan keluar sekarang.” Aku berbalik dan segera menuju pintu keluar. Harusnya tadi aku tidak usah menerima tawaran Hyuri untuk masuk.

“Hyuri! Jangan menahan adikmu! Biarkan saja dia keluar. Kau tetap di sini bersama eomma.” Kata eomma yang mencegah Hyuri untuk menahanku.

Aku mempercepat langkahku dengan tujuan agar aku bisa segera keluar. Ternyata terlalu menyakitkan untuk berada di kamar ini. Dengan susah payah aku menahan tangisku agar tidak pecah, tapi sia-sialah semua usahaku itu. Dengan lancangnya air mataku turun membasahi pipiku.

Karena aku menangis, aku tidak menyadari bahwa Eunhyuk sudah menungguku tepat di depan pintu dan aku pun menabrak tubuhnya.

“Aku tidak tahu apa yang dikatakan eommamu barusan. Tapi kalau kau sampai menangis, berarti itu pasti kata-kata yang sangat menyakitkan.”

“Bisa bawa aku pergi dari sini? Aku janji tidak akan memberontak atau apapun. Ke manapun kau membawaku aku akan mengikutimu.”

“Aku mengerti perasaanmu. Baik kalau itu yang kau mau. Sekarang ikut aku.”

 

 

-TBC-

Me, You and Us [ Part 5 ]

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

Eunhyuk POV

Sungguh, demi tuhan. Demi apapun. Apa yang baru kukatakan tadi. Aku sudah gila. Ya memang, aku sudah tidak waras. Bagaimana bisa aku mengatakan 3 kata gila itu. Astaga Lee Hyukjae, apa angin malam ini benar-benar membuat otakku sedikit gila, hah?

“ Ne!? ” pekiknya sekali lagi.

“ Aniya! Yak! Aku hanya bercanda, kau tahu? Wajahmu itu sangat memalukakan jika seperti itu. Aish, ternyata aku pembuat lelucon yang hebat. ”

Bodoh. Seharusnya aku cari alasan yang lebih keren. Arghhh, Jooyoung pasti akan mencekik habis-habisan. Ah ani, mungkin lebih dari itu.

“ Mwoya??! Ini tidak lucu sama sekali! ” teriaknya.

“ Ini kan hanya bercanda. Ayolah, Jooyoung kau tidak punya selera humoris sama sekali. ” selaku lagi.

“ Lalu kau mau apa jika aku punya selera humoris yang tinggi? Membuat lelucon yang lebih keren, begitu? ”

“ Sayang sekali. Aku tidak suka cara bercandamu, Hyukjae-ssi. ” tukasnya tajam.

Hey, seharusnya aku tahu. Seharusnya, aku tidak mengatakan jika ini bercandaan. Lihat saja raut wajahnya itu, menyeramkan. Perkataannya barusan, dia memanggilku dengan sebutan ‘ssi’. Aku belum pernah mendengarnya memanggilku dengan nama begitu. Apa dia sedang menunjukan padaku, bahwa dia benar-benar tidak suka dengan sikapku. Dia marah padaku?

“ Yak, kau mau kemana!? ” tanyaku. Dia beranjak pergi, mendorong bangku yang sedang ia duduk-ki dengan kasar. Dia diam, tidak bergeming. Tidak menjawab pertanyaanku. Melihat ke arahku saja, sepertinya tidak akan dia lakukan saat ini.

“ Yak! Kang Jooyoung! ” teriakku lagi. Aku mencekal lengannya, membuatnya berhenti melangkah. Hah, aku tidak menyangka akan jadi begini.

“ Aku mau pulang. Lepaskan! ”  perintahnya. Dia menepis lenganku dengan kasar.

“ Masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu. ”

“ Shireo! Aku yang mau pulang, kenapa jadi kau juga yang ikut pulang?!! ” tolaknya mantap.

“ Cepat masuk! ”

Aku kembali pada meja tempat kami makan tadi. Meninggalkan uang untuk membayar jajangmyeon tadi. Ahjumma itu, seharusnya tahu keadaan aku dan Jooyoung sekarang. Karena, kami membuat sedikit keributan disini.

“ Aku tidak peduli kalau kau tidak suka mendengar penolakan dari seseorang. Aku tetap ingin pulang sekarang. Sendiri! Tidak denganmu! ”

“ Jangan bersikap seperti anak kecil, Jooyoung! ” nada bicaraku sedikit tinggi. Aku sudah agak kehabisan kesabaran.

“ Jangan seperti anak kecil kau bilang? Yak! Apa kau juga tidak sadar, hah!? Sikapmu ini jauh lebih seperti anak kecil! ” teriaknya.

“ Kau pikir untuk apa aku rela menunggu untuk mengantarmu pulang? Kau pikir untuk apa aku memperdulikanmu untuk memakai penghangat tubuh di cuaca seperti ini!? Memperdulikanmu jika tidak makan akan sakit? Untuk apa!? ” nada bicaraku sudah benar-benar meninggi sekarang.

Emosiku, benar-benar meluap hanya karena seseorang yang baru kukenal ini. Yang berhasil menarik perhatianku hanya karena melihatnya. Dan dengan bodohnya aku membuat lelucon konyol seperti itu. Membuatnya merasa.. mungkin sedikit dipermainkan. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti banyak soal perasaan wanita. Terutama, gadis didepanku ini.

“ Mungkin ini termasuk dari lelucon-mu itu. Aku tidak tahu pasti. Kau seorang pelucon yang hebat, bukan? ”

***

Chunwa High School

07.15 AM

 

Author POV

“ Masalahmu bagaimana? Sudah selesai? ” tanya Chae Yeon antusias. Ya, sahabatnya itu pikir Jooyoung kemarin benar-benar membicarakan masalahnya dengan Hyukjae. Dia pikir Jooyoung memang benar-benar tidak tahan dengan tuduhan yang menimpanya itu. Tidak tahan dengan sindiran yang menghujamnya terus.

“ Aku tidak tahu. Tolong, jangan bicarakan itu dulu. Aku pusing ” jawab Jooyoung malas. Tentu saja, membicarakan masalah itu. Sama saja, mengingatkannya tentang pertengkarannya dengan Hyukjae samalam. Hanya karena hal sekecil itu. Tidak pikir Jooyoung, tidak sekecil orang-orang pikirkan. Lelucon Hyukjae menyangkut perasaan, apa maksudnya itu.

“ Ada apa lagi? Ayo ceritakan padaku. ” bujuk sahabatnya. Chae Yeon sudah tahu jelas bagaimana raut wajahnya sahabatnya jika ada masalah yang menjanggal padanya.

“ Bukan apa-apa. Sudahlah, aku memang pusing karena kurang tidur. ” dusta Jooyoung.

“ Aku akan tetap memintamu ceritakan masalah yang ini sewaktu-waktu. ”

“ Chae Yeon, ayolah! Aku tidak apa-apa, masalahku hanya itu saja tidak ada yang lain. ”

“ Kalau tidak ada masalah lain, raut wajahmu tidak akan seperti itu. ”

***

Jooyoung POV

Aku merasakan benda yang berada pada saku jasku bergetar. Ponselku. Menandakan ada pesan masuk. Aku meronggoh saku jasku malas. Mengeluarkan ponsel dan melihat layar pada ponselku. Sungguh, rasanya aku ingin membanting ponsel sekarang ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselku. Hyukjae. Aku men-touch tanda ‘open’ dan langsung membaca pesan yang ia kirimkan.

Kita harus bicara dengan Choi Seoseongnim sekarang.

Hey, setelah kejadian semalam. Ternyata dia masih berani mengirimku pesan? Hebat. Kukira, dia pengecut. Aku mengambaikan pesan itu. Apa yang perlu dibicarakan dengan seoseongnim? Tentang pelaku kertas busuk itu? Kukira tidak perlu, 2 orang telah mengatakan hal yang sama tentang tidak mungkin seoseongnim yang melakukannya. Yah, memang 2 dari sekian banyaknya siswa di sekolah ini memang tidak bisa memastikan keputusan yang benar. Tapi setidaknya, untukku bisa. Berapa banyak orang yang berteman denganku? Kurasa semuanya, bisa dihitung oleh jari.

Aku mengitari padanganku ke sekitar kelas. Lagi-lagi, aku sendirian di kelas. Semua siswa pasti berhamburan keluar saat jam istirahat. Termasuk Chae Yeon, akhir-akhir ini dia senang pergi ke luar kelas. Aku tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi yang jelas dia tidak mungkin bergerombol dan membicarakan gossip yang masih ‘hangat’ di sekolah ini.

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan pesan masuk, tapi panggilan masuk. Aku melihat malas pada layar ponselku. Lagi. Si ‘pelucon hebat’ itu yang meneleponku. Aku membanting ponselku asal ke mejaku. Mengabaikan getaran yang sejak tadi terus terjadi pada ponselku. Biarkan saja, aku anggap masalah ini sudah selesai. Masa bodoh, tentang pendapat orang-orang terhadapku. Aku sudah tidak peduli. Masalah ini selesai, aku tidak perlu melihat wajah pria menyebalkan itu lagi di hadapanku.

“ Arghhh, bodoh! Apa kau tidak bisa berhenti menelepon-ku? ” teriakku frustasi. Karena sejak tadi ponselku masih saja bergetar.

“ Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kau menjawab telepone-ku. ”

Aku merasakan suara khas yang bergema di telingaku. Aku menoleh. Tebak siapa? Tuan Lee Hyukjae si ‘Pembuat Lelucon’ itu. Aku segera memalingkan wajahku. Tidak, tidak melihat wajahnya. Tidak melihat wajahnya yang memuakkan itu.

“ Apa yang kau lakukan disini? Ini kelasku! Kau keluar sekarang! ”

“ Yak! Bisakah kau lupakan masalah yang semalam? Jangan pikirkan dirimu sendiri, ini masalah kita! Aku mau masalah ini segera selesai. Tolong jangan egois, Jooyoung. ”

Lupakan masalah semalam? Apa dia bilang? Lupakan? Sialan! Apa dia tidak mengerti bagaimana rasanya? Apa dia tidak berpikir, aku sedikit merasa dipermainkan jika seperti itu. Apa dia tidak berpikir tentang hal itu?

“ Lalu? Apa yang harus kulakukan? ”

“ Jinjja. Neo Mitcheosseyo?! Kau jangan berpura-pura bodoh! Kau jangan berpikir masalah ini sudah selesai. Jangan berpikir masalah ini hanya ada kau saja didalamnya ” bentaknya.

“ Geraeyo? Aku memang menganggap masalah ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Choi Seoseongnim, kau tahu sendiri bagaimana sikapnya. Siswa sekolah ini, jika hal-hal yang sedang dibicarakannya itu tidak nampak lagi, mungkin hal itu akan dengan sendirinya menghilang. ”

“ Jadi, kalau kau masih menganggap masalah itu belum selesai. Kau bisa selesaikan itu sendiri, tidak usah melibatkanku. ”

Ada nada sedikit menantang saat aku berbicara tadi. Biar saja, aku sudah tidak tahan melihat tampangnya yang seolah-olah tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun.

“ Wae!? Kau marah padaku, kau dendam padaku karena masalah kemarin!? Sifatmu itu seperti anak kecil, kau tahu? Kau marah hanya karena lelucon kecil itu. Kau pikir aku akan terus memintamu untuk tetap terlibat dalam masalal ini? Kau pikir, aku akan tetap mengemis padamu untuk membicarakan masalah ini pada seoseongnim. ”

“ Silahkan saja kau berpikir begitu. Aku setuju denganmu, masalah ini sudah ku anggap selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Biarkan saja masalahnya berlalu, pasti akan hilang dengan sendirinya. Masalah ini selesai, dan kita tidak akan ada urusan lagi satu sama lain. Tidak akan bertemu lagi. Masalah acara akhir tahun nanti, aku akan membujuk panitia untuk men-tiadakan nama kita. Kau tidak perlu repot-repot untuk menuruti keinginanku yang meminta untuk berlatih. ”

“ Kau sudah cukup puas, itu keinginanmu saat ini kan? ”

***

Chae Yeon POV

Astaga, dasar anak itu. Sepertinya moodnya benar-benar sedang buruk hari ini. Lihat, ke kantin saja tidak mau. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dikelas. Menghindar dari tatapan sindirian dari siswa-siswa sekolah ini? Sepertinya tidak. Karena apa? Tch, dia sama sekali tidak mau menceritakannya padaku. Aku tahu ada masalah baru yang menghadapnya, entah apa itu. Aku terpaksa menghabiskan makananku sendirian. Tapi tiba-tiba, pikiranku melayang pada seseorang. Cho Kyuhyun. Apa dia sudah sembuh? Dia masuk sekolah? Jika dia masuk sekolah, apa ada yang peduli dengannya jika dia masih sakit? Ada yang mengurusi pola makannya saat disekolah? Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan konyol itu melintas dipikiranku. Lee Chae Yeon, kau benar sudah gila.

Aku melanjutkan makanku yang juga hendak untuk segera pergi ke kelas. Bagaimanapun, aku tidak suka sendirian. Ya, walaupun di tengah keramaian. Aku berjalan menyusuri koridor dan dari kejauhan aku melihat ada seorang laki-laki yang baru keluar dari kelasku. Aku menyipitkan mataku. Bukankah itu, Hyukjae? Tanyaku dalam hati. Apa urusannya dia masuk ke kelasku? Ah, Jooyoung. Bocah satu itu, pasti membuat masalah lagi dengan Hyukjae. Lihat saja, wajahnya saat keluar kelas tadi. Mengerikan.

“ Yak! Sebenarnya apa masalahmu dengan Hyukjae, hah? ” tanyaku ketika aku sudah berada di kelas.

“ Masalahku? Masalah tentang kertas busuk itu? Aku dan Hyukjae sudah memutuskan untuk mengabaikannya. Pasti nanti akan hilang dengan sendirinya. ” jawabnya datar

“ Bukan kau yang memutuskan? ”

“ Tentu saja bukan! Tadi dia baru saja keluar, kami baru membicarakannya. ”

“ Dengan kau memarah-marahinya? Kau membicarakan masalah ini dengan emosi? ”

“ Ne? ”

“ Tch, ada suatu masalah yang hanya kalian saja yang tahu. Dan itu, membuat kalian memutuskan untuk mengambaikan masalah ini. Ah, sepertinya bukan kalian yang memutuskan. Tapi kau memaksanya untuk juga mengabaikan masalah ini. ”

“ Kau pikir siswa disini akan dengan santainya mengabaikan suatu masalah? Yak! Ini masalahmu dengan Hyukjae! Seharusnya kau berpikiran jernih untuk menyelesaikannya. Bukan dengan seperti ini. Kau harus berpikir, Jooyoung. Masalahmu sekarang bukan main-main. Seisi sekolah pun sudah tahu semua. ”

“ Aku tahu. Sudah kubilang, caraku dan Hyukjae adalah dengan mengabaikannya. ”

“ Marhaebwa! Katakan apa yang terjadi dengan kau dan Hyukjae. ”

“ Aish, tidak apa-apa. ”

“ Mungkin aku akan percaya dengan kata-katamu. Kalau saja, aku tidak melihat tampang mengerikan Hyukjae saat keluar dari kelas. ”

“ Mwo? ”

“ Jangan bertele. Sudahlah, aku tahu kalian bertengkar tadi. ”

“ Bertengkar? Hey, kata itu seperti menggambarkan aku sudah kenal lama dengannya. ”

“ Terserah apa katamu, dasar keras kepala. Ayo cepat ceritakan. ”

Dia menarik nafas pasrah, setelah itu dia mulai menceritakannya padaku. Aku benar-benar mendengarkannya. Meneliti apa masalahnya sampai dia bisa seperti itu dengan Hyukjae. Dan, betapa terkejutnya aku saat mendengar penjelasan panjang lebar yang dikeluarkan dari mulutnya itu.

“ Mitcheoseo? ” teriakku.

“ Jangan berkomentar. ”

“ Kau gila, hah? Tingkahmu itu benar-benar seperti anak kecil. Yak, usiamu berapa? Jangan bersikap seperti anak kecil bodoh yang sedikit saja bergurau langsung seperti itu. ”

“ Perkataanmu sama persis dengannya. ”

“ Ya, memang. Mungkin pikiranku dengannya memang sama persis. Aku tahu guraun itu memang sedikit keterlaluan. Tapi kau juga jangan bersikap egois. Kau juga harus memikirnya, kau pikirkan bagaimana dia mendapat sindiran dari setiap siswa disini! ”

“ Itu juga terjadi padaku. ”

“ Kau tidak peduli. Tapi Hyukjae peduli. ”

“ Aku tahu. Aku sudah menawarkannya untuk menyelesaikan masalahnya. ”

“ Sendirian begitu?  Tidak denganmu? Kau gila. Masalah ini melibatkan kau dengannya. Hanya kalian saja yang bisa memperbaiki keadaan. Hanya kau dengan Hyukjae yang bisa membuat masalah ini akan hilang. Apa kau tidak berpikir? Aku tahu seberapa kesal kau dengan Hyukjae, aku tahu. Aku bisa merasakannya. Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu. ”

***

Club

20.12 PM

 

Jooyoung POV

Aku sedikit tidak bisa berkonsentrasi bekerja saat ini. “Tapi, apa kau juga tidak berpikir tentang persaannya. Perasaan yang sama persis denganmu.”

Kata-kata itu tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku egois? Sikapku seperti anak kecil? Apakah aku seburuk itu? Aku terus memikirkan kata-kata yang dilontarkan Chae Yeon terhadapku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan ucapannya. Kalimat itu juga tidak lepas dari bayang-bayang wajah Hyukjae yang terus hinggap di pikiranku. Wajahnya saat marah padaku siang tadi. Hentakkan kaki yang menunjukan bahwa dia sedang emosi saat keluar kelas tadi.  Sungguh, aku perlu mengisirahatkan otakku seceptanya.

Aku kembali berusaha memfokuskan pikiranku untuk bekerja saat ini. Aku mengambil sebotol wine yang ada pada rak minuman untuk menuangkan pada gelas pengunjung di hadapanku ini. Pikirkaranku lelah, juga mengakibatkan tanganku ini tidak punya tenaga sama sekali. PRANG!!!!!

Suara pecahan botol wine ini terdengar sangat jelas. Tapi juga tidak mampu untuk mengalahkan suara kencang musik disko yang diputar di Club ini. Aku langsung tersentak. Tanganmu otomastis langsung terulur untuk segera memunguti pecahan beling itu.

“ Aahhhh! ” aku sedikit berteriak kesakitan karena telunjuk jari kananku tergores beling.

“ Ya, gwechana? ” seorang temanku disini yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“ Ne. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, sebentar juga sembuh. ” kataku.

“ Lukamu kecil tapi kalau dalam seperti itu bagaiman bisa cepat sembuh? ”

“ Aku baik-baik saja, sungguh. Aku akan bereskan semua ini. ”

“ Tch, sudahlah! Biar aku saja, kau obati lukamu saja dulu. Kalau dibiarkan itu bisa infeksi. ”

“ Gomawo ”

 

Aku beranjak pergi dari tempat itu. Menuju toilet untuk mencuci lukaku. Aku menyalakan kerannya dan mulai mencuci lukaku. Aku memejamkan mataku sejenak. Ada apa denganmu, Kang Jooyoung. Kenapa bisa hanya dengan kata-kata seperti itu saja, pikiranku jadi kemana-mana. Tidak konsentrasi saat bekerja, memecahkan sebotol wine, dan sekarang jariku berdarah karena juga tidak kosentrasi saat memungut pecahan belingnya. Aku mematikan air di wastafel, dan menatap bayanganku di cermin. Aku tidak mungkin sedang memikirkan perasaan Hyukjae, kan?

***

Artyyer Boutique, Gwongnam, Seoul.

Kyuhyun POV

Aish, membosankan. Apa ada kegiatan paling konyol lagi selain hanya berdiri dan menunggu seseorang yang sejak tadi berganti-ganti baju. Aku bosan! Kenapa wanita itu ribet sekali jika masalah dalam penampilan. Aku beridiri dengan berbalut jas dan celana putih. Dan dasi bewarna hitam dan ada sedikit hiasan pada saku atas jasnya. Aku sedang menunggu Chae Yeon yang sejak tadi belum juga keluar dari ruang ganti butik ini.

Aku menoleh ketika aku merasa ruang ganti itu sudah terbuka. Aku terkesiap. Nafasku sukses tercekat beberapa detik, akibat pemandangan yang ada di depanku ini. Dia terlihat…. cantik sekali. Dengan gaun putih yang sedikit bisa menyapu lantai, lengan yang sedikit pendek tapi tidak sampai seperti gaun tanpa lengan, dan atasan berbentuk ‘V’ tapi tidak seperti model-model di televisi yang dengan lenggangnya mereka mempamerkan tubuh mereka di depan banyak orang. Gaun yang sederhana. Tapi menjadi gaun yang terlihat indah, jika dipakai gadis ini.

Chae Yeon sedikit terkesiap saat ruang gantinya terbuka. Terkesiap karena melihat pemandangan didepannya. Apa dia terpesona….. denganku?

“ A-apa yang kau lihat? ” tanyanya.

“ Aniya. Kau lama sekali hanya mencoba 1 baju saja. ”

“ Ish, sudah aku usahakan cepat begini kau masih protes? ”

“ Aku yang menunggu sejak tadi, bagaimana bisa kau bilang cepat! ”

“ Kau saja yang tidak sabar. ” katanya lagi.

“ Sama sepertimu, kan? ” godaku. Wajah shock-nya itu terlihat jelas sekarang. Sudah berapa kali aku mengatakan tentangnya sewaktu kecil, tapi tetap saja dia terlihat masih kaget begitu. Kalau sudah seperti ini, pasti dia mati kutu. Lihat, sekarang dia malah terlihat salah tingkah dan langung diam. Tch, dasar Lee Chae Yeon babo! Kapan kau akan ingat tentangku saat masih kecil?

“ Kalian terlihat sangat serasi. Sepertinya kalian saling mencintai. ” ucap salah satu penjaga butik ini.

“ Ne!? ” pekikku dan Chae Yeon bersamaan.

“ A-ah, kau ada-ada saja. Jangan berlebihan. ” ucap Chae Yeon.

“ Kalian yang berlebihan, pasangan calon suami istri seharusnya akan senang jika dipuji seperti tadi. Bukan berteriak seperti itu. ”

“ Kami hanya kaget saja. Baru pertama kali, ada seorang yang bilang begitu. ” ralatku.

Chae Yeon langsung menatapku dengan tatapan tajam. Aku mengabaikannya, tidak membalas melihatnya. Biar saja, aku suka sekali jika membuat wajahnya jadi seperti itu.

“ Kalian harus hidup bahagia nantinya. ” kata penjaga itu lagi.

Chae Yeon terlihat tambah kesal dengan perkataan penjaga itu. Mungkin dia pikir, penjaga butik ini makin menjadi-jadi saja karena perkataanku barusan.

“ Ya, kau sudah cocok dengan bajunya? ” tanyaku akhirnya.

“ Setidaknya ini yang lebih baik dari baju-baju yang lain. Aku tidak suka model baju terbuka seperti itu. ”

“ Baguslah. Aku juga lebih suka melihat kau mengenakan gaun ini. Terlihat cantik. ”

***

Chae Yeon POV

Ada sedikit perasaan canggung yang sedang menjalar padaku sekarang. Bagimana tidak? Bayangkan saja, di tempat seperti itu masih saja mengatakan hal-hal yang kurasa tidak mungkin dikatannya di saat seperti itu. Rrghh, sepertinya dia tahu persis apa reaksiku ketika dia mengatakan hal-hal konyol.

Sekarang kami sedang berada dalam perjalan pulang. Aku melirik sekilas ke arahnya. Sampai sekarang pun, aku belum bisa mengingat apapun tentangnya. Namanya terdengar familir saja, tidak. Mungkin benar apa yang dikatakan Kyuhyun. Aku terlalu membencinya saat dia sekeluarga pindah ke Australia.

“ Apa yang kau pikirkan? Pernikahan kita nanti? ” godanya.

“ Mwoya? Jangan bersikap narsis seperti itu. Aku bisa langsung mendadak mual. ”

“  Jangan berlebihan. ”

“ Kau yang belebihan. ” balasku lagi.

Kyuhyun tidak membalas perkataanku lagi. Dia diam, berkonsentrasi pada pada kemudi mobil ini. Baru kali ini, aku melihatnya menyetir mobil. Terlihat sangat keren di mataku, kau tahu? Aku tidak bisa menepis pikiranku saat ini. Ini jelas, sangat jelas. Kenyataan bahwa, aku sedikit terpesona saat melihatnya memakai jas seperti tadi. Terlihat tampan dan gagah dalam balutan pakaian seperti itu. Sepertinya, aku sudah sedikit terperangkap dengan….. pesonanya.

***

Jooyoung’s Home

06.13 AM

 

Jooyoung POV

Aku menyibakan selimut dengan malas. Membiarkannya terjuntai di lantai kamarku. Rasanya  bosan sekali, menjalankan rutinitasku setiap hari. Aku melirik ke arah jarum jam. Tumben sekali, aku bangun sepagi ini. Ini pasti karena penyakit insomnia yang menyerangku secara tiba-tiba. Hasilnya, aku tidak bisa tidur dan memilih bangun lebih awal seperti ini. Dan sekarang aku merasa pusing dan mual, entah karena apa. Aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Rasanya memikirkan bahwa tubuhku akan terkena percikan air saja, aku sudah malas mendekati pintu kamar mandi ini.

***

“ Eomma, apa kau tidak membuatkan sarapan untukku? ” tanyaku. Aku sudah selesai bersiap-siap, dan sekarang aku menuju meja makan.

“ Kau buat saja sendiri. Eomma tidak ada waktu. ” jawabnya ketus.

“ Eomma! Aku bertanya denganmu baik-baik. Kenapa kau jadi ketus begitu!? ”

“ Yak! Nada bicaraku memang seperti ini. Sudahlah kau tidak usah banyak omong! ”

Aku mengepalkan tanganku. Andai saja appa tahu sifat eomma tiriku yang sebenarnya. Sepertinya appa akan menendang jauh-jauh wanita ini.

“ Aku tidak akan bicara denganmu kalau tidak situasi yang membuatku begitu, Nyonya Kang! ”

“ Yak, kau sangat keterlaluan! Berani-beraninya kau memanggilku seperti itu?! ”

“ Sudah bagus sekali aku memanggil dengan sebutan keluargaku. ”

PLAK!!

Aku mendapat tamparan keras pagi ini. Aku memegangi pipiku yang memerah akibat tamparan eomma. Apa dia tidak melihat wajahku yang sedikit pucat karena menahan pusing? Ah! Wanita ini benar-benar!

“ Apa!? Kau mau marah padaku? Yak! Kau ini sudah keterlaluan! ” teriaknya.

“ Aku bersikap keterlaluan pada eomma? Apa bukan sebaliknya!? ” aku tertawa sinis tanpa bersuara. PLAK!! Tamparan satu lagi yang mendarat sukses di pipiku.

“ Aku yang bersikap keterlaluan karena eomma!! Aku yang tidak pernah menuruti semua kemauan eomma, karena eomma! ” teriakku.

“ Dasar anak kurang ajar! ” teriak eomma lagi.

“ Apa pantas eomma menyebutku sebagai anak? Apa kau pernah merasa melahirkanku? Ya, ingatlah kau bukan eomma kandungku. ” sindirku. Aku masih memgangi pipiku yang memerah ini akibat tamparannya.

“ Kau bisa mengatakan ini didepan appa-mu! ”

“ Terserah saja. Tapi, apa kau tidak takut ketahuan sikap buruk ini dibelakang appa? ”

PLAK!!

Tiga tamparan dalam sehari yang kudapat. Itu bisa dijadikan rekor dalam kamusku. Kepalaku semakin pusing saja. Aku tidak bisa jamin, bisa datang ke sekolah tepat waktu karena keadaanku ini. Aku memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Aku tidak menghiraukan amarah perempuan itu terhadapku. Masa bodoh. Dia bukan siapa-siapaku.

***

Aku memasuki sekolah dengan langkah yang gontai. Jujur saja, berjalan dengan benar saja aku tidak bisa. Kepalaku terasa berat dan ditambah dengan perutku ini yang terasa mual. Aku tidak melihat lagi perkumpulan para murid yang biasa memojokkanku di mading. Tapi, sindiran-sindiran dari beberapa orang yang aku lewati itu tidak sedikit. Aku memasuki kelasku dan kudapasti Chae Yeon sedang duduk dengan ponselnya yang sedang ia mainkan. Aku menuju  tempat dudukku.

“ Jooyoung-a, kau sakit? ” tanyanya langsung ketika aku sampai pada tempat dudukku.

“ Hanya pusing saja. Tidak apa-apa. ”

“ Tapi, wajahmu pucat seperti itu ”

“ Aku tidak apa-apa. Sebentar juga nanti akan hilang. ”

“ Tidak apa-apa apanya? Suaramu lemas seperti itu, kau bilang tidak apa-apa. Kau belum sarapan? ”

“ Yak, belum sarapan itu adalah hal biasa untukku. Jangan berlebihan. ”

“ Kau terlalu sering bekerja sampai malam. Tidurmu juga sering tidak teratur, kan? Yak, kau cari tempat kerja yang lain saja. ”

“ Sayangnya hanya tempat itu yang mengizinkanku untuk bekerja setelah pulang sekolah. ”

“ Aish, susah sekali berbicara denganmu tentang pekerjaan. ”

“ Aku tidak memintamu untuk membahas masalah pekerjaanku. ”

***

Eunhyuk POV

Shin Soo Ae. Nama itu terus berputar di otakku. Entah kenapa, aku sedikit membenarkan perkataan Jooyoung terhadapku. Bisa saja benar dia yang melakukannya, setelah aku menolak pernyataan cintanya secara kasar. Lalu sekarang balasannya, tapi kenapa Jooyung ikut campur dalam masalah ini? Jooyoung. Nama itu kembali mengingatkanku lagi tentang kata-kata yang kuutarakan siang kemarin padanya. Jujur, aku benar-benar tidak seperti yang kubicarakan dengan Jooyoung.

Kebiasaan burukku ini, selalu bertindak sebelum berpikir. Aku tahu saat itu memang aku dan Jooyoung sama-sama sedang emosi. Jadi, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku. Tapi aku tidak mungkin, dengan gampangnya muncul di hadapannya dan berkata bahwa perkataanku kemarin hanya karena emosi? Tidak. Harga diriku itu penting, sangat tidak mungkin dengan gampang aku menjatuhkannya. Tidak akan. Walaupun demi masalah ini, aku bisa menyelesaikannya sendiri sedikit-sedkit.

Aku sedang dalam perjalanan menuju kelas setelah bel berbunyi menandakan pelajaran akan dimulai kembali setelah waktu istirahat. Tapi pemadangan di depanku ini, membuatku menghentikan langkah. Aku memerhatikan yeoja yang sejak tadi hanya diam saja. Tidak membalas perkataan orang didepannya yang sepertinya sedang memarahi orang didepannya.

Aku menyipitkan mataku. Jooyoung. Kenapa gadis itu hanya diam saja? Kenapa dia diam saja menerima cacian-cacian yang di tumpahkan padanya. Tunggu, bukankah itu Soo Ae? Aku lebih berjalan mendekat agar bisa memastikan. Aku menghela nafasku. Akan kupastikan masalah ini akan selesai secepatnya.

 

Jooyoung POV

Sejak tadi aku hanya diam. Biarkan saja orang didepanku ini yang lelah mengajak seseorang untuk berbicara, tapi orang sedang ia ajak bicara hanya diam.

“ Apa kau sudah selesai? ” tanyaku.

“ Aku belum selesai, dan tidak akan pernah selesai. ”

“ Kenapa kau hanya mengangguku saja? Kenapa dengan Hyukjae tidak? ”

“ Aku pikir dia tidak bersalah. Kau yang dengan sengaja masuk ke toilet pria dan sengaja berlama-lama disana kan? ”

“ Mwo? ” tanyaku tak mengerti.

“ Kau jangan besikap sok polos! Yak, perempuan nakal aku tahu semua rencana busukmu itu! ”

“ Jaga mulutmu. ”

“  Apa aku telah membocorkan rahasia busuku-mu itu? Ah, mian. Aku hanya tidak sengaja. ”

Aku baru mau mendaratkan tamparanku padanya. Tapi, dengan sigap ada seseorang yang menahan tanganku. Aku menoleh ke arah orang itu. Sialan, di saat-saat seperti ini kenapa dia selalu saja datang tiba-tiba. Aku menepis tangannya dengan kasar. Membuang wajahku agar tidak perlu lagi melihatnya.

“ Aku perlu bicara denganmu. ”

Awalnya, kupikir kalimat itu bertuju untukku. Tetapi tidak. Aku melihat Hyukjae menarik lengan yeoja yang sejak tadi berbicara denganku. Aku berbalik dan melihat Hyukjae pergi, entah kemana dengan yeoja tadi. Aku mengehala nafasku. Apa dia mencoba untuk mencampuri urusanku? Tch, sikapnya yang menyebalkan itu, apa tidak bisa hilang darinya? Bicara apa dia dengan perempuan tadi. Apa mereka saling kenal? Kenapa sepertinya Hyukjae dekat dengan perempuan tadi? Aku masih memperhatikan mereka yang pergi dan sampai tak terlihat lagi                                                                        denganku.

“ Ah, mian. Aku tidak sengaja ”

Aku merasa setengah bagian atasan seragamku basah karena minuman yang tumpah. Aku melihat ke arah orang yang katanya tidak sengaja menumpahkannya.

“ Kau bersihkan saja nodanya dengan air. Kau bisa sendiri kan? Apa perlu kubantu? ” sindirnya.

Aku hanya bisa menahan emosiku. Aku sedang tidak dalam mood untuk adu mulut.

“ Tidak perlu. Aku bisa sendiri. ” kataku tajam.

 

Eunhyuk POV

Aku membawaya ke halaman belakang sekolah. Tempat ini memang jarang dilewati para siswa, jadi paling tidak tidak terlalu banyak yang mendengar pembcaraanku. Aku melepaskan lengannya dengan kasar. Aku menatapnya tajam.

“ Katakan apa masalahmu? ”

“ Ne!? ”

“ Kau yang menempelkan kertas itu di mading sekolah, kan? Kau juga yang menyebarkan berita tuduhan itu ke semua siswa disini?! ” tanyaku marah.

“ Menurutmu? ”

“ Aku serius, Shin Soo Ae! ” kataku setengah teriak.

“ Kau pikir aku sedang main-main, hah? ”

“ Kau yang melakukannya? ” tanyaku lagi.

“ Ne! Memangnya kenapa? ” tanyanya menantang.

“ Neo mitcheseo!? ”

“ Waeyo? Aku ingin sekali melihatmu di permalukan di depan umum. Aku ingin melihat kau sedang berusaha menutupi wajahmu karena malu. Aku ingin kau merasakan, apa yang aku rasakan satu tahun lalu. ”

Deg! Jadi benar? Jadi benar apa yang dikatakan Jooyoung padaku waktu itu? Aku menatapnya geram.

“ Kenapa kau campuri Jooyoung dalam masalah ini? ”

“ Itu bukan mauku. Itu hanya kebutalan. ”

“ Silahkan saja kau membalas perbuataanku padamu saat ini. Tapi jangan sampai kau melampiaskannya pada Jooyoung! ”

“ Kau mencoba melidunginya? Ah, kisah cinta yang romantis. Apa kalian berpacaran? ”

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

“ Apa hakmu melarangku? Kau bukan siapa-siapanya. Sepasang kekasih, bukan. Teman? Sepertinya dekat saja kalian tidak.  ”

“ Jangan mencari masalah denganku. ”

“ Aku… mencari masalah denganmu? Yak! Apa omonganmu itu tepat untuk kau katakan padaku? Apa kau tidak merasa sudah pernah mencari masalah denganku?! ”

“ Apa kau masih menyukaiku? ”

Soo Ae langsung tersentak ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Dia terlihat salah tingkah. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia lebih memilih untuk diam.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

***

Tidak. Tidak boleh menyesal karena perkataanku tadi. Ah, lagi-lagi aku bertindak sebelum berpikir. Apa aku gila? Dengan seenaknya berbicara seperti itu? Tapi aku tidak egois, aku lebih baik melakukan tindakan gila seperti ini. Dari pada melihat Jooyoung terus di kucilkan oleh-oleh siswa disini. Itu sama saja dia tersiksa karenaku.

***

Chae Yeon POV

Aku sedang berjalan di lorong sekolah ini. Saat seseorang memanggilku. Aku berbalik. Ahh, pria berwajah imut itu rupanya.

“ Chae Yeon-ssi. ”

“ Oh, Sungmin-ssi. Annyeong! ”

“ Kau sendirian? ”

“ Apa kau melihat orang lain lagi di sampingku? ”

“ Tidak. ”

“ Yasudah. Ada apa kau memanggilku? ”

“ Ah, apa kau ada waktu setelah pulang sekolah? ”

“ Tentu saja. Ada apa memang? ”

“ Kita berlatih untuk menampilkan sesuatu pada acara akhir tahu nanti, eo? ”

“  Asal kau tahu, aku tidak punya bakat apapun. ”

“ Menyanyi? ”

“ Suaraku sangat buruk. ”

“ Menari? ”

“ Apalagi itu, aku paling tidak bisa jika disuruh menari. ”

“ Apa suaramu seburuk itu? ”

“ Mungkin tidak juga. Tapi aku tidak akan menyanyi pada acara akhir tahun nanti. ”

“ Ya, wae? ” tanyanya kecewa. Sepertinya, Sungmin kecewa sekali mendengarku tidak bisa melakukan apapun.

“ Aku tidak mau. Aku tidak akan membiarkan orang lain tertawa karena mendengar suaraku.  ” tolakku.

“ Kau belum mencobanya. ”

“ Aku sudah tahu hasilnya akan jadi bagaimana. Sudahlah pikirkan saja penampilan yang lain.  ” usulku.

“ Kalau kau belum mencobanya, bagimana kau bisa tahu. Jangan suka mengabil kesimpulan sendiri. Ayolah! Setidaknya kau bisa mencoba menyanyi di depanku. ”

“ Kau akan menertawakanku? ”

“ Tidak akan. ”

“ Baiklah. Sepulang sekolah nanti. ”

***

Astaga, bagimana aku bisa lupa tentang Kyuhyun. Aku harus pulang bersamanya, tapi di saat itu aku sudah janji dengan Sungmin untuk berlatih. Ahh, ini kesempatan bagus untuk menghindar darinya. Bilang saja pada eomma jika aku ada belajar kelompok. Pasti eomma akan percaya. Kyuhyun? Bocah satu itu tidak usah terlalu dipikirkan. Bukannya dia juga senang tidak pulang denganku. Aku sedang berjalan di sekitar taman belakang sekolah, berniat mencari Kyuhyun. Untuk memberitahukan hal ini tentunya.

“ Kenapa kau mencampuri Jooyoung dalam masalah ini? ” samar-samar ku dengar seseorang sedang berbicara. Aku mendekati sumber suara itu. Aku mengintip sedikit ke arah orang itu di balik tembok.

“ Kuperingatkan sekali lagi. Jangan kau lampiaskan dendam-mu pada Jooyoung! ”

Jooyoung? Kenapa nama anak itu dibawa-bawa dalam pembicaraan orang itu. Aku sedikit lebih menyipitkan mataku. Melihat siapa orang yang sedang membicarakan Jooyoung. Ah, sayang sekali orang itu sedang membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku masih terus berusaha untuk mencari tahu orang itu. Walaupun orang itu membelakangiku tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“ Jika iya. Aku bisa mempertimbangkannya. Asal kau tidak menganggu Jooyoung lagi. ”

Aku mengkerutkan dahiku. Apa maksud yang dibicarakan orang itu? Kenapa Jooyoung selalu dibicarakan pada setiap perkataannya. Aku jadi tidak mengerti. Sebenarnya siapa orang itu, aku makin penasaran saja. Ayolah, segera berbalik agar aku bisa melihat wajahnya. Aku mengkatup mulutku dengan tangan kananku ketika orang itu berbalik. Jadi….

***

“ Kau yakin akan tetap masuk kerja hari ini? ” tanyaku ketika pelajaran terakhir telah selesai.

“ Hmm. ” gumamnya pelan.

“ Dengan kondisimu seperti ini? ”

“ Tentu saja. ” jawabnya lemah.

Aku memandangnya iba. Jooyoung-a sepertinya kau sedang berada dalam posisi dibawah layaknya ban mobil yang berputa terus. Kau seperti dilimpahkan masalah yang tidak henti-henti. Aku masih ragu untuk membitahukan tentang kejadian tadi siang. Aku tidak tahu pasti siapa yang sedang bicara dengan Hyukjae. Ketika dia berbalik dia langsung berjalan ke arahku, mau tidak mau aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan telah mendengar pembicaraannya. Aku menghela nafasku pelan. Aku akan memberitahunya, nanti. Saat waktu yang tepat.

“ Kau pulang duluan? Aku ada urusan sebentar. ” kataku.

“ Hmm.. Annyeong. ”

“ Yak, kau hati-hati dijalan. ”

Jooyoung hanya mengacungkan jempolnya kebelakang tanpa melihatku. Aku kembali membereskan buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Aku segera menggemblok tasku dan segera keluar dari kelas. Ahh, kemana bocah itu? Kemana sejak tadi aku tidak melihatnya disekolah? Aku belum memberitahunya bahwa aku tidak akan pulang dengannya. Apa dia tidak masuk? Jangan-jangan dia masih sakit. Ah, tidak mungkin. Keadaannya saja tidak meyakinkan sama sekali untuk menunjukan dia masih sakit.

Aku masih mengedarkan pengelihatanku ke arah seluruh sudut sekolah ini. Saat aku menangkap seseorang yang sejak tadi kucari. Aku baru mau menghampirinya. Tapi mataku menangkap sosok orang lain disebelahnya. Aku menyipitkan mataku. Siapa perempuan itu? Kenapa sepertinya dia sedang menangis. Aish, dan bocah satu itu, kenapa sikapnya selalu sok manis begitu jika dihadapan perempuan lain. Sikap menyebalkannya itu pasti tidak akan terlihat jika dia sedang bersama orang lain.

Aku kembali memperhatikan mereka. Aku membelakkan mataku. Kemana mereka? Kenapa mereka pergi? Aku segera mengitarkan pandanganku ke seluruh sudut di sekolah ini. Aku sedikit melihat punggung Kyuhyun yang berbelok ke arah atap sekolah ini. Aku segera mengikuti mereka bukan maksudku untuk ikut campur, maksudnya aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.

Aku menjaga jarak seaman mungkin untuk tidak ketahuan oleh mereka. Sungguh, aku sangat penasaran. Gerak-geriknya, ekspresi wajah yeoja itu saat tadi juga sangat membuatku penasaran. Aku mengikuti mereka, sampai saat aku berada pada atap sekolah. Aku bersembunyi pada belakang tembok disini.

“ Wae geurae? ”

“ Na.. Na… ”

“ Ppaliwa, katakan padaku. Ada apa sebenarnya? ”

“ Bolehkah aku meminjam bahumu untuk menangis. Aku perlu menenangkan diri. ”

Aku membelakkan mataku kaget. Mwoya? Apa-apaan dia!? Kenapa tiba-tiba menangis begitu. Hey! Kenapa dia juga harus memeluk Kyuhyun. Sungguh, perempuan gila! Apa maunya sebenarnya, hah? Kenapa dia manja sekali. Kyuhyun! Sikapnya itu selalu bertolak belakang jika bersamaku. Lihat saja, sekarang dengan gampangnya dia memeluk yeoja itu. Keterlaluan! Aish, Cho Kyuhyun awas kau!

Aku menelan ludahku. Tunggu-tunggu.. kenapa aku harus semarah ini dengannya. Kenapa aku harus…. Aish! Jinjja! Arghhh, otakku pasti sudah terkontaminasi sebagian olehnya. Pasti aku sudah tidak waras stadium akhir. Untuk apa aku harus mengurusi urusannya, kecuali kalau aku….

“ Chae Yeon? ”

Aku segera menolehkan kepalaku ke samping. Ah! Kiamat duniaku dimulai sekarang sepertinya.

“ Ne!? ”

“ Sedang apa kau disini? ”

“ A.. ”

Aku baru mau melanjutkan perkataanku. Tapi yeoja yang sejak tadi bersama Kyuhyun itu, tiba-tiba muncul dibelakangnya. Dengan sisa-sisa isak tangisnya, dia memegang tisu ditangannya dan menyeka air mata yang tersisa. Moodku. Sungguh, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Moodku tiba-tiba turun begitu saja. Mengingat kembali bahwa tadi Kyuhyun sempat memeluknya, aku sedikit… tidak suka melihat itu.

“ Aku kebetulan lewat sini. ” jawabku asal.

“ Aku juga mau pergi. Annyeong. ” kataku lagi. Aku menyinggungkan senyum tipis. Walaupun sedikit memaksa. Aku berbalik dan segera pergi. Tapi dengan sigap Kyuhyun menahan lenganku.

“ Kajja. Kita pulang. ” ajaknya. Aku melepaskan lengaku dari pegangannya.

“ Aku tidak pulang denganmu. Aku harus belajar bersama dengan temanku. ”

Aku kembali melanjutkan langkahku. Bahkan aku saja lupa tentang Sungmin, yang mungkin sudah menungguku sejak tadi. Aku mempercepat langkahku ketika instingku mengatakan bahwa Kyuhyun mengikutiku. Aku tidak tahu kenapa berniat untuk menghindarinya, untuk tidak berhadapan langsung dengannya. Entah kenapa, mungkin setiap aku melihatnya bayang-bayang Kyuhyun memeluk yeoja tadi selalu langsung menempati otakku. Dan, sudah kubilang sejak awal. Aku tidak suka melihat itu.

“ Sungmin-ssi! Menungguku lama? ” tanyaku ketika aku sudah melihatnya di dekat gerbang sekolah.

“ Aniya. Kajja. ”

“ Chae Yeon! ” tiba-tiba aku mendengar suara Kyuhyun memanggilku. Aku menghiraukannya, tetap berjalan saja. Tidak menoleh kebelakang.

“ Ya, Lee Chae Yeon! ” panggilan kedua yang diperuntukan untukku. Tapi untuk yang kedua kalinya juga, aku tidak menghiraukannya.

“ Chae Yeon-ssi, ada yang memanggilmu. ” kata Sungmin yang seperti mengingatkanku karena tidak mendengarnya. Aku justru, pura-pura tidak mendengarnya.

“ Biarkan saja. Tidak penting. ”

“ Tapi sepertinya, ada yang ingin dia bicarakan denganmu. ”

“ Hiraukan saja. Aku tidak kenal dengannya. ”

 

TBC

Love of Mathematics

Image

Title:                           Love Of Mathematics

Author:                       Stevian             a.k.a     Park Kiyong

Length:                       Oneshot

Genre:                         Frienship, romance

Rated:                         General

Cast:

  • All member of Super Junior
  • Choi Hyunji                                      a.k.a                 Hyunji
  • Park Ki Young (Author)                     a.k.a                 Kiyoung
  • Lee Eun Ji                                       a.k.a                 Eunji
  • Im Yoon Ah                                     a.k.a                 Yoona

 

Author note:

Anyeonghaseyo readers ^^

Senang sekali akhirnya aku bisa menyelesaikan ff-ku untuk ‘pertama kalinya’. Kalau dulu, baru ngetik satu paragraf aja rasanya males banget buat ngelanjutinnya.

Oh ya, ff ini terinspirasi dari seorang penceramah. Waktu itu sih ceramahannya bertema ‘Berdana’, jadi ada satu kalimat yang benar-benar masuk ke otakku. Terus aku urain kalimat itu menjadi seperti ini “Berdana itu bukannya kasih contekan ke teman”. Habis itu author ga dengerin lagi apa yang diceramahkan, author malah sibuk nyusun cerita nih ff *jangan dicontoh*

Pasti readers pada bingung, apa hubungannya menyontek sama nih ff? Dari judul aja ‘jauh’. Oh ya, judul Love Of Matematics ini terinspirasi dari Kyuhyun yang pintar matematika bahkan pernah memenangkan olimpiade matematika. Hebat ya ^^

Anggap aja tokoh utama cewek ini kamu dan Park Kiyoung adalah author ^^

Jangan lupa RCL (read, coment, like) ya! ^^

–Author Pov–

“Mashita. Nasi goreng Beijing ini benar-benar enak.” Seru Eunji setelah menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing penuh ke dalam mulutnya.

“Ne, ini benar-benar enak. Restaurant ini akan masuk ke daftar restaurant favoritku.” Ujar Hyunji menimpali sambil menyuapkan sesendok nasi goreng Beijing ke dalam mulutnya.

“Dan restaurant ini hanya ada satu di Korea. Aku tidak menyangka Hangeng bisa membuka restaurant dengan nasi goreng selezat ini.” Ujar Kiyoung masih mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Hangeng?” Tanya Hyunji mengernyit dan menghentikan sendok berisi penuh nasi goreng Beijing yang hendak masuk ke mulutnya.

“Sepertinya nama itu tidak asing.” Seru Eunji menimpali sambil mengunyah nasi goreng Beijing di mulutnya.

“Ne, Hangeng itu teman sekelas kita dulu. Saat kita duduk di bangku kelas 2 SMA. Kalian masih ingat tidak?” Jelas Kiyoung panjang lebar.

“Aku ingat. Dia adalah murid kesayangan Heechul seonsaengnim.” Ujar Hyunji kesal mengingat kelakuan gurunya yang satu itu.

“Dia itu kan murid pindahan dari China dulu. Pantas saja nama restoran ini aksennya terkesan seperti bahasa China. ‘Meihua Dumplings’.” Ujar Eunji sambil membaca tulisan yang terdapat di dalam ruangan tersebut.

“Ne, restoran ‘Meihua Dumplings’ terdapat 3 cabang di China. Kalau kita ke China nanti, kita harus berkunjung ke Restaurant itu.” Tambah Kiyoung lalu menyeruput softdrink miliknya.

“Hebat sekali dia. Padahal dulu dia tidak bisa berbicara bahasa Korea sama sekali.” Seru Eunji kagum.

“Itu semua berkat Heechul seonsaengnim. Dulu, sehabis pulang sekolah, Heechul seonsaengnim selalu memberikan pelajaran tambahan Bahasa Korea khusus untuk Hangeng. Mengingat Heechul seonsaengnim adalah wali kelas kita, makanya dia tidak ingin ada anak didiknya yang ketinggalan pelajaran, padahal dia guru matematika.” Jelas Hyunji panjang lebar sambil meminum softdrink miliknya, karena nasi goreng Beijing miliknya sudah habis. Hyunji bisa tahu kejadian tersebut karena setiap sehabis piket kelas setelah pulang sekolah, Hyunji melihat Heechul seonsaengnim selalu mengajarkan Hangeng berbahasa Korea yang baik dan benar. Meski terkadang dia memarahi Hangeng, tapi niat Heechul seonsaengnim tetaplah baik.

“Oh begitu rupanya.” Timpal Eunji mengangguk dan menyendokkan suapan terakhir nasi goreng miliknya.

“Tapi, kenapa kau bisa tahu restaurant ini milik Hangeng?” Tanya Hyunji bingung pada Kiyoung. Mengingat Kiyoung tidak dekat dengan Hangeng.

“Srup~”

“Ne, kenapa kau bisa tahu? Aku saja tidak tahu.” Tambah Eunji setelah menghabiskan softdrink miliknya.

“Aku tahu dari Jongsoo.” Ujar Kiyoung singkat lalu mengambil softdrink miliknya dan meminumnya sampai habis, guna menghilangkan rasa malunya tadi saat dia mengucapkan nama ‘Jongsoo’ dihadapan sahabat-sahabatnya itu.

“Jongsoo namja chingumu? Pantas saja kau tahu, Jongsoo kan teman dekatnya Hangeng.” Seru Hyunji mengangguk mengerti.

“Padahal kalian dulu selalu bertengkar karena hal kecil. Tidak disangka sekarang kalian bisa menjadi sepasang kekasih.” Sambung Eunji sambil mengingat-ingat masa SMA mereka dulu. Sudah kuduga, mereka pasti mengungkitnya lagi. Batin Kiyoung kesal dengan sahabat-sahabatnya itu.

“Sudahlah, aku sedang tidak membahas Jongsoo. Oh ya, Hyunji-ah, bukanya kau sedang mencari pekerjaan?” Tanya Kiyoung pada Hyunji untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang hubungannya dengan Jongsoo.

“Ne, aku sudah melamar ke 12 perusahaan, dan mereka bilang sedang tidak membutuhkan karyawan” jelas Hyunji sambil menghela napas.

“Jongsoo bilang, temannya sedang membutuhkan seorang sekretaris. Tapi sekretaris itu harus bisa mengalahkannya bermain game. Apa kau mau?” Tawar Kiyoung pada Hyunji.

“Memangnya kau bisa bermain game? Rasanya tidak mungkin.” Ejek Eunji sambil tersenyum meremehkan Hyunji.

“Tentu saja aku bisa. Jangan meremehkan seorang Hyunji.” Balas Hyunji sambil tersenyum optimis.

“Ini alamat perusahaannya. Biar aku yang membayar semua ini. Aku pergi dulu, 2 jam lagi SS4 Seoul akan dimulai. Anyeong.” Ujar Kiyoung memberikan secarik kertas kepada Hyunji, lalu meletakan uang di meja kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu menuju pintu restaurant dengan setengah berlari.

“Benar-benar tidak berubah.” Gumam Hyunji melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Hyunji pun melihat secarik kertas yang diberikan Kiyoung yang berisikan alamat dan nama perusahaan itu.

“Masih tetap menyukai Super Junior.” Sambung Eunji tersenyum mengingat masa-masa SMA mereka dulu.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Jadi ini perusahaan ‘GaemGyu’, ini kan perusahaan pembuatan game. Batin Hyunji setibanya ia di depan gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Semoga saja kali ini dia tidak ditolak. Mengingat perkataan Kiyoung bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan seorang sekretaris, sepertinya sedikit kemungkinan dia akan ditolak.

Hyunji pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan GaemGyu tersebut. Lalu menyerahkan map yang berisi lamaran kerjanya pada pihak yang berwenang dalam hal ini. Hyunji sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya, dan ini adalah untuk ke-13 kalinya. Tentu saja dia pernah melakukannya, dan dia selalu ditolak. Semoga saja ini adalah terakhir kali aku melakukannya. Batin Hyunji malas dengan ritual untuk melamar kerja macam ini.

Saat ini, Hyunji sedang duduk di ruang tunggu. Hyunji sudah menunggu selama 30 menit di ruang tunggu, karena sang direktur perusahaan ini sedang melakukan meeting dengan klien.

Hyunji sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan ini, sayangnya masih ada satu lagi persyaratan yang belum dia penuhi. Mengalahkan pertarungan game dengan sang direktur perusahaan ini. Hanya itu yang harus Hyunji lakukan agar dia bisa diterima menjadi seorang sekretaris. Hanya itu.

“Nona Choi” Panggil seorang namja yang berdiri di hadapan Hyunji.

“Ne??” Sahut Hyunji yang sedang duduk di ruang tunggu.

“Silahkan masuk ke ruangan direktur Cho. Beliau sudah selesai meeting.” Ujar namja itu lagi.

“Ne” Balas Hyunji singkat lalu bangkit dan tersenyum pada namja itu. Akhirnya, selesai juga meeting-nya. Batin Hyunji bersyukur.

Di sepanjang perjalanan menuju ruang direktur, mereka berdua hanya terdiam.

“Kau bekerja di bagian apa?” Tanya Hyunji membuka pembicaraan.

“Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Lee Donghae imnida, bekerja sebagai asisten tuan Cho di perusahaan ini.” Ujar namja itu menghentikan langkah kakinya untuk memperkenalkan diri dan membungkukkan badannya.

“Choi Hyunji imnida” Hyunji ikut berhenti berjalan lalu membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

“Tok tok tok” Donghae mengetuk pintu ruang direktur dari luar setiba mereka di depan ruang direktur.

“Masuk” Ujar tuan Cho dari dalam yang merupakan direktur di perusahaan ini.

“Klek” Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan.

Setiba mereka di dalam, Donghae pun langsung membungkuk pada tuan Cho dan diikuti Hyunji. Tuan Cho terlihat sedang sibuk. Bahkan hanya untuk melirik mereka pun tidak. Dia sedang berkutat dengan laptop putih yang terletak di atas meja kerjanya, dan tidak menghiraukan kehadiran Donghae maupun Hyunji.

“Aku sudah membawa calon sekretarismu tuan.” Ujar Donghae yang telah melaksanakan tugas pemberian tuan Cho. Sementara Hyunji sedang sibuk memikirkan game apa yang akan mereka mainkan nanti.

“Ne, kau boleh pergi.” Ujar tuan Cho singkat pada asistennya. Tuan Cho masih berkutat dengan laptopnya yang berwarna putih. Laptopnya tersebut memiliki gambar sebual apel yang memiliki bekas gigitan.

“Silahkan duduk.” Tuan Cho mempersilahkan Hyunji duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh meja kerjanya, sedangkan dia masih memusatkan perhatian dan menggerakkan jari-jarinya pada laptop miliknya.

“Aish” Pekik tuan Cho saat melihat tulisan ‘Game Over’ di layar laptopnya. Hyunji yang sedang sibuk memikirkan game jenis apa yang akan dimainkannya pun tampak bingung dengan kelakuan sang direktur. Hyunji pun menolehkan wajahnya sebentar kearah tuan Cho lalu kembali ke dunianya. Aku belum berlatih bermain game, eotteokhae? Batin Hyunji.

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

>>>>Flash back

–Hyunji Pov–

“Buk” Ku tolehkan wajahku kearah seorang namja yang duduk di sebelahku. Apa yang dilakukan namja ini? Kenapa dia tiba-tiba menyenggol tanganku? Kertas ulangan matematika-ku jadi tercoret karenanya. Huh~ aku jadi harus menghapus coretan yang kuperbuat karena ulahnya.

“Wae?” Tanyaku heran dengannya. Dia hanya melihat kearahku dengan wajah innocent miliknya. Benar-benar aneh namja ini. Huh~ mengganggu konsentrasiku saja.

“buk”

“Ada apa lagi tuan Cho?” Tanyaku sinis dan menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak sengaja.” Jawabnya datar. Kuhapus lagi coretan yang tidak sengaja dia perbuat padaku. Okay, dia tidak sengaja.

“buk”

Kutolehkan wajahku kearahnya dengan tajam. Ini sudah ketiga kalinya, tidak mungkin kali ini juga karena ‘tidak sengaja’.

“Opps, aku tidak sengaja. Penghapusku ada di sebelah tanganmu.” Jawabnya sambil mengeluarkan smirk evilnya. Kuhapus lagi coretan itu. Bukannya dia meminta maaf padaku malah mengeluarka smirk evilnya. Huh~ benar-benar menyebalkan. Awas saja kalau dia menyenggolku sekali lagi, tidak akan ku maafkan!

“Buk”

“Brak” Kupukul meja di hadapanku dan berdiri menghadapnya yang berada di sampingku.

“YA!! CHO KYUHYUN, APA YANG KAU LAKUKAN??” Teriakku penuh emosi padanya. Aku sangat kesal padanya. Jika saat ini sedang tidak ujian aku tidak akan se-emosi ini. Apalagi saat ini sedang ujian matematika yang merupakan pelajaran kesukanku. Tunggu… bukannya saat ini sedang…

“YA!! CHOI HYUNJI” Teriak seonsaengnim meneriaki namaku sambil berjalan kearah meja kami –mejaku dan Kyuhyun-.

“Omo” Pekikku kaget. Aku lupa, saat ini kan sedang ujian. Mati kau Hyunji. Apalagi Heechul seonsaengnim merupakan guru ter-killer di sekolah ini. Aku tidak tahu nasibku setelah ini.

“Seonsaengnim, ini semua bisa kujelaskan.” Untunglah Kyuhyun membelaku. Mungkin dia merasa bersalah padaku.

“Hyunji terus menyenggol tanganku dan tiba-tia dia meneriaki namaku. Mungkin karena aku tidak memberikannya contekan sehingga dia marah padaku. Aigoo Hyunji-ah, seharusnya kau tidak perlu berteriak seperti itu. Itu akan mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika.” Mwo?? Apa yang dia katakan? Kukira dia membelaku. Apa maksudnya aku menyenggol tangannya? Bukanya dia yang dari tadi menyenggol tanganku sehingga aku berteriak padanya. Dan apa maksudnya aku meminta ‘contekan’ padanya, jelas-jelas soal matematika ini sangat mudah. Dan satu hal lagi, ucapannya tadi ‘mengganggu teman-teman kita yang sedang kesulitan mengerjakan soal matematika’ seolah-olah teman-teman sekelas kita ini tidak pintar dan dia yang paling pintar. Aigoo, namja ini benar-benar.

“Aniyo, aku tidak meminta contekan padanya. Tapi dia yang terus menyenggol tanganku sehingga lembar jawabanku tercoret untuk kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya pula aku harus menghapus coretan tersebut hingga dia menyenggolku lagi dan membuat kesabaranku habis.” Elakku cepat sebelum Heechul seosaengnim termakan ucapannya.

“Benar apa yang dikatakan Kyuhyun, aku juga melihatnya terus menyenggol tangan Kyuhyun dan meminta contekan. Kristal-ah, kau juga melahatnya bukan?” Ujar Jessica yang duduk bersama Kristal di belakangku membela namja sialan ini. Kristal pun mengangguk dengan mantap. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kedua yeoja bermarga ‘Jung’ ini.

“Choi Hyunji, cepat berdiri di luar kelas dengan satu kaki diangkat sampai bel istirahat berbunyi.” Perintah Heechul seonsaengnim tegas padaku.

“Tapi, seon…”

“KELUAR!!” Teriak seonsaengnim memotong ucapanku. Jika Heechul seonsaengnim sudah marah, tak ada yang bisa melawannya. Padahal aku belum menyelesaikan soal ujian matematika tadi. Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Dan ini semua berkat ‘Cho Kyuhyun’.

“Benar seonsaengnim, lebih baik dia keluar dari pada mengganggu ketenangan kami dalam mengerjakan soal ujian ini.” Sahut Jessica pada Heechul seosaengnim. Ada apa dengan yeoja satu itu? Benar-benar…

“Sudah, semuanya diam dan kerjakan soal ujian kalian dengan tenang! 30 menit lagi waktu habis.” Terang Heechul seonsaengnim dan berjalan kembali ke meja guru.

Aku pun melangkahkan kakiku menuju keluar kelas. Sebelumnya kulirik mataku dengan sinis ke arah Kyuhyun, dan dia mengeluarkan smirk evil-nya padaku. Cih, aku muak sekali dengan wajahnya. Aku berjanji tidak akan berteman bahkan menikah dengan orang yang bermarga ‘Cho’. Okay, mungkin itu berlebihan. Tapi Dia benar-benar jahat padaku, dan itu tak bisa dimaafkan!

–Author Pov–

“Teng~ teng~” Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa-siswi di sekolah SMA SM pun menuju kantin untuk menhilangkan rasa lapar dan stress mereka setelah mengerjakan soal matematika terkutuk itu.

Hyunji yang mendengar bel tersebut pun merasa lega dan bersyukur karena dia tidak perlu terus berdiri lebih lama lagi dengan satu kaki. 30 menit sudah lebih dari cukup. Benar-benar kelewatan Heechul seonsaengnim itu. Batin Hyunji sambil bejalan menuju ke dalam kelas dengan kaki terpincang-pincang karena berdiri dengan satu kaki terlalu lama.

Di dalam kelas hanya ada beberapa murid. Mungkin yang lainnya pergi ke kantin. Untunglah tak ada namja sialan itu di sini. Kalau ada, Hyunji tidak ingin masuk kelas karena sudah muak dengan wajah setan itu. Pikir Hyunji.

Hyunji pun melangkahkan kakinya ke bangku-nya yang bersebelahan dengan bangku Kyuhyun.

“Hyunji-ah, aku tidak percaya kau meminta contekan pada Kyuhyun.”

Sambut Eunji sambil menghampiri Hyunji setiba Hyunji masuk ke dalam kelas mereka. Eunji pun langsung duduk di bangku Kyuhyun yang bersebelahan dengan Hyunji.

“Ne, kau memang harus percaya padaku. Mana mungkin aku menyontek pada namja sialan itu, lagi pula nilai matematika ku selalu mendapat seratus.” Ujar Hyunji penuh emosi mengingat kejadian tadi.

“Dan nilai matematika-nya juga selalu mendapat seratus ditambah lagi saat SMP dulu dia menjuarai olimpiade matematika.” Sambung Eunji kagum.

“Ya! Kau seharusnya membelaku. Huh~ Aku yakin, nilai ujian kali ini adalah nilai ujian matematika terburuk dalam hidupku. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih duduk dengannya. Ini semua gara-gara Heechul seonsaengnim. Kenapa ujian kali ini harus diacak dengan nomor undian. Mentang-mentang dia wali kelas kita dan dia dapat bertindak seenaknya. Dan sialnya lagi aku mendapat nomor yang sama dengan nomor namja sialan itu, sehingga aku harus sebangku dengannya. Nomor 13, aku benci angka itu.” Ujar Hyunji panjang lebar dengan raut wajah yang kesal.

“Tapi itu bagus, sekali-kali merubah suasana baru. Itu kan tidak salah. Lagi pula aku bosan selalu duduk sebangku denganmu. Dari SMP hingga SMA, apa kau tidak bosan? Sudahlah, lagi pula hanya dua minggu kau duduk dengannya. Setelah itu, kita bisa duduk bersama lagi.” Ujar Eunji dengan bijak.

“Apa maksudmu bosan duduk denganku? Bilang saja kau lebih senang duduk dengan Kibum dari pada duduk denganku.” Sahut Hyunji dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.

“Aniyo, aku tidak bilang aku lebih senang duduk dengan kibum. Tapi, dia namja yang baik.” Ujar Eunji cepat sambil mengeluarkan seringaiannya.

“Huh~ munafik” Sahut Hyunji. Bilang saja kau menyukainya, aku tahu itu Eunji. Batin Hyunji kesal dengan sahabatnya yang satu itu.

“Hyunji-ah, kau tahu tidak? Hanya kelas 2-1 saja yang diacak posisi duduknya, sedangkan kelas yang lainnya normal-normal saja. Itu keren kan?” Ujar Eunji bangga.

“Apanya yang keren? Itu berarti kelas kita sial tahu. Lebih baik aku duduk dengan Yesung dari pada duduk dengan namja setan itu.” Timpal Hyunji.

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Hyunji.

–Hyunji Pov–

“Kau menyukai Yesung?” Tanya Eunji kaget dengan apa yang baru saja ku katakan.

“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya teringat kata-kata Siwon sewaktu aku pertama kali masuk ke dalam kelas 2-1.” Sambung ku cepat sebelum Eunji berpikir yang tidak-tidak tentang diriku.

Eunji adalah sahabatku dari SMP YG. Dia benar-benar tidak berubah, selalu saja mengambil kesimpulan terlalu cepat sebelum mendengar penjelasan orang lain. Kami berdua dulu bersekolah di SMP yang sama, dan sekarang kami pun bersekolah di SMA yang sama. Ya, kami sekarang bersekolah di SMA SM. SM itu bukan singkatan dari Soo Man yang merupakan kepala sekolah kami. Tapi, SM itu singkatan dari ‘Star Musseum’. Dinamakan Star Musseum karena sekolah ini berisi siswa-siswi yang cerdas.

Wajar saja saat Eunji bilang bosan duduk sebangku denganku. Sewaktu kami duduk di bangku kelas 1 SMA, dia sekelas denganku dan kami pun duduk bersama. Kemudian  sekarang, saat kami naik ke kelas 2. Kami pun duduk bersama lagi. Sebenarnya, kelas 2-1 ini adalah kelas yang berisi murid-murid yang pintar sampai dengan kelas 2-4 yang berisi murid-murid terbodoh. Bukan berarti siswa-siswi di kelas 2-4 itu bodoh. Itu semua tergantung ranting nilai kita saat kelas 1 dulu. Jadi, aku dan Eunji bisa masuk ke kelas 2-1 ini karena kami memiliki nilai dengan ranting yang tinggi.

“Memangnya apa yang dikatakan Siwon padamu?” Tanya Eunji ingin tahu.

“Dia bilang ‘lebih baik duduk dengan orang yang kau benci dari pada duduk dengan orang seperti Yesung’. Dia bilang seperti itu karena saat kelas 1-4 dulu dia duduk dengan namja bernama Yesung. Setiap kali dia berada di dekat Yesung selalu ada aura ‘aneh’ yang muncul dan Yesung hobby sekali memegang bagian atas bibirnya Siwon.” Ceritaku panjang lebar pada Eunji sambil mengingat saat aku pertama kali masuk ke kelas 2-1 ini, dan Siwon adalah namja pertama yang menyambutku dengan ‘kalimat’ seperti itu.

Saat ini, Siwon dan Yesung juga sekelas denganku. Di kelas 2-1 ini. Tapi, Siwon sekarang tidak sebangku dengan Yesung lagi, melainkan dengan Kibum. Mereka berdua bersahabat dengan baik. Dan Yesung sekarang sebangku dengan Ryeowook. Ryeowook adalah namja yang baik dan manis. Hanya dia yang betah duduk dengan Yesung di kelas ini. Mereka berdua juga bersahabat dengan baik.

Tapi, kali ini Siwon sedang tidak beruntung. Karena dia mengambil nomor undian yang sama dengan nomor Yesung. Sial sekali dia. Sama sepertiku. Apa boleh buat, ini akan berakhir hingga ujian selesai.

“Apa benar siwon mengatakan hal seperti itu tentangku?” Tanya Yesung tiba-tiba yang entah datang dari mana, dan membuat kami berdua terlonjak kaget dengan keberadaan Yesung.

“Yesung-ah, aku tidak mengatakan hal seperti ‘itu’ tentangmu. Percayalah padaku. Dan ingatlah, bahwa Tuhan itu baik.” Ujar Siwon tiba-tiba dan langsung memeluk Yesung yang berada di samping kami. Siwon memang selalu seperti itu. Selalu ‘memeluk siapa saja’ dan setiap kalimat yang dia ucapkan pasti ada kata-kata seperti ‘Tuhan itu baik’, karena itulah dia disebut sebagai namja ter-religius di kelas ini.

“Ya!! Kenapa kau menghapusnya?” Teriak Kiyoung ketika ada seorang namja yang hendak menghapus tulisan di papan tulis. Kiyoung adalah sahabatku dan sahabat Eunji juga.

“Aku tidak suka melihat papan tulis ini kotor.” Balas namja yang merupakan ketua kelas kami dengan santai sambil menghapus tulisan ‘Super Junior’, ‘Everlasting Friend’, ‘ELF’, ‘SUPER JUNIOR THE LAST MAN STANDING’, ‘PROM15E TO 13ELIEVE SUPER JUNIOR’, ‘13’, ‘I’m Proud To Be ELF’ yang ditulis Kiyoung.

“YA!! BERHENTI MENGHAPUSNYA!! JUNGSOO. Aku tahu kau sedang tidak piket kelas hari ini, jadwal piketmu sama dengan jadwal piketku, yaitu hari jumat. Dan sekarang bukan hari jumat.” Teriak Kiyoung kesal dengan apa yang dilakukan Jungsoo.

“Selesai, ini terlihat lebih indah.” Ujar Jungsoo sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan kedua tangannya yang tidak kotor, kemudian dia tersenyum penuh kemenangan kearah Kiyoung. Dia lalu kembali ke tempat duduknya yang bersebelahan dengan namja yang berasal dari China bernama Hangeng.

“Dia benar-benar seorang ELF” Sahut Eunji tiba-tiba kepada kami ber-empat –aku, Eunji, Yesung, Siwon- yang melihat pertengkaran singkat antara Kiyoung dan Jungsoo, dan Siwon pun langsung melepaskan pelukannya dari Yesung tadi.

–Author Pov–

“Teng~ teng~” bel pulang pun berbunyi usai ulangan B. Inggris.

“Hyunji-ah, Eunji-ah, ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film Super Junior ‘Attack On The Pin-Up Boys’.” Ujar Kiyoung penuh semangat ketika mereka keluar dari kelas tadi.

“Aigo Kiyoung-ah, saat ujian seperti ini kau masih memikirkan Super Junior? Kau benar-benar seorang ELF.” Sahut Eunji sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sahabatnya satu itu.

“Ne, aku tahu itu. Sudahlah ayo cepat.” Ujar Kiyoung singkat sambil menarik tangan Hyunji dan tangan Eunji agar mereka berjalan lebih cepat.

Setiba mereka di depan gerbang sekolah, mereka bertiga pun berpisah karena arah rumah mereka berbeda.

“Hyunji-ah, anyeong.” Ujar Kiyoung dan Eunji serentak sambil melambaikan tangan mereka. Rumah mereka berdua searah, tapi tidak dengan Hyunji.

“Anyeong, berhati-hatilah di jalan.” Balas Hyunji singkat sambil melambaikan tangannya juga dan membalas senyum kedua sahabatnya itu.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Hyunji pun berbalik dan hendak melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang namja yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hyunji pun memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sudah malas dan muak dengan namja itu. Saat ujian B. Inggris berlangsung pun Hyunji tidak berniat sedikit pun untuk menyapa namja itu, padahal mereka berdua sebangku.

>>>>Flashback End

–Author Pov–

“Baiklah ayo kita bertanding game” Ajak tuan Cho lalu mengalihkan perhatiannya ke arah Hyunji setelah permainannya berakhir tadi.

“KAU??” Pekik tuan Cho kaget saat melihat wajah Hyunji. Hyunji pun kaget dan menolehkan wajahnya ke arah tuan Cho.

“CHO KYUHYUN??” Pekik Hyunji tak kalah kaget dengan tuan Cho.

“Sruk” Hyunji langsung bangkit dari kursi yang dia duduki.

“Aku tidak jadi melamar kerja sebagai sekretarismu.” Ujar Hyunji bangkit dari duduknya.

“Anyeong” Pamit Hyunji membungkukkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.

“Chakkaman” Seru Kyuhyun menghentikan langkah Hyunji.

“Wae?” Tanya Hyunji malas dan membalikkan badannya ke arah Kyuhyun.

“Aku melakukannya agar kau ingat padaku.” Ujar Kyuhyun dan berjalan ke arah Hyunji.

“Ingat? Ingat apa?” Tanya Hyunji mengernyit bingung.

“Taman kanak-kanak, psp putih milikku, matematika, dan kau meminjam jari-jariku. Kau ingat?” Seru Kyuhyun mencoba mengingatkan Hyunji.

>>>>Flashback

“buk” Seorang yeoja kecil menyenggol seorang namja seusianya yang duduk di sebelahnya.

“Ada apa Hyunji?” Tanya namja kecil itu tanpa menolehkan matanya pada Hyunji, karena mata namja kecil itu masih tertuju pada PSP berwarna putih di tangannya.

“Ehmm.. Aku..” Jawab Hyunji ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan. Sedangkan namja kecil itu masih sibuk dengan PSP-nya dan tidak peduli dengan Hyunji.

“Kyu~ Kyu~” Panggil Hyunji sambil mengguncang tangan namja kecil yang masih berkutat dengan PSP-nya.

“Hmm” Gumam Kyu sambil mempercepat jari-jari kecilnya di tombol-tombol PSP-nya, karena sebentar lagi dia akan mati dalam pertarungan game yang sedang dimainkan-nya.

“Boleh aku pinjam jari-jarimu?” Tanya Hyunji polos pada Kyu.

“Tunggu sebentar, jari-jariku sedang sibuk Hyunji.” Ujar Kyu cepat dan masih sibuk mengalahkan musuh-musuh di PSP-nya itu.

“Huh~” Dengus Hyunji dan mengalihkan perhatiannya pada anak-anak yang lainnya.

Saat ini kedua anak itu sedang berada di sekolah. Di sekolah taman kanak-kanak. Di taman kanak-kanak ini, anak-anak belajar dan bermain dari usia 4 – 5 tahun.

Di kelas ini hanya terdapat satu buah mejar bundar yang besar dan anak-anak duduk melingkari meja bundar tersebut. Tapi mereka tidak harus selalu duduk di meja tersebut, karena guru di sini memberikan kebebasan pada anak-anak di sini untuk bermain dan belajar. Hyunji duduk bersebelahan dengan namja kecil bernama Kyu. Kyu duduk di sisi kirinya, anak itu selalu sibuk dengan PSP-nya. Sementara di sisi kanannya duduk seorang namja kecil bernama Kangin yang merupakan ketua kelas mereka. Anak yang bernama kangin itu benar-benar nakal dan hiperaktif, dan dia jarang duduk di bangku karena dia tidak bisa diam. Makanya Hyunji tidak meminjam jari-jari Kangin.

Mata Hyunji tertarik pada kedua namja kecil yang berada di pojok ruangan.

“Hyuk-ah, ayo kita bermain ikan di aquarium.” Ajak seorang namja kecil menghampiri Hyuk yang sedang belajar di meja bundar tersebut. Saat ini Hyuk sedang membaca buku atau lebih tepatnya melihat berbagai macam gambar binatang di buku yang sedang dipegangnya.

“Ayo Hae, tapi tunggu sebentar.” Ujar Hyuk riang sambil meletakan pembatas buku tepat di halaman buku yang bergambar binatang jenis ‘monyet’.

Kedua namja kecil itu memainkan ikan-ikan yang berada di dalam aquarium. Aqurium tersebut pendek, tujuannya agar anak-anak ini bisa melihatnya dan letaknya terletak di pojok ruangan tersebut. Tidak heran anak-anak ini bisa menjangkau aquarium tersebut.

“Bok bok bok bok”

“Hahahahahahaha”

Mereka berdua mengobok-obok air di aqurium tersebut sambil tertawa dengan riang.

“Hae-ah, ikannya pasti pusing. Hahahaha…” Ujar Hyuk pada Hae dengan tangan yang masih mengobok-obok air di aquarium sambil tertawa.

“Ne Hyuk-ah. Hahahaha…” Balas Hae masih mengobok-obok air di aquarium itu dengan tawa yang tak kalah riang dari Hyuk. Bagi mereka berdua, ‘permainan’ itu sangat menyenangkan.

“Lee Donghae? Lee Hyukjae? Apa yang sedang kalian lakukan pada ikan-ikan hias itu?” Tanya Guru taman kanak-kanak mereka.

“Aku dan Hyuk sedang bermain dengan ikan Yoona seonsongnim.” Ujar Hae polos. Mereka berdua sudah tidak mengobok-obok air lagi.

“Yoona seonsongnim, kenapa ikan-ikan itu diam?” Tanya seorang namja kecil berpipi chubi yang tiba-tiba datang karena tertarik dengan ‘permainan’ yang dimainkan oleh Hae dan Hyuk.

“Omo!! Ikan-ikannya mati” Pekik Yoona kaget saat melihat ikan-ikan hias  tersebut hanya diam terbawa ‘arus’ yang dibuat oleh Hae dan Hyuk. Yoona benar-benar tidak habis pikir dengan kedua namja kecil bermarga ‘Lee’ itu. Padahal di sekolah taman kanak-kanak ini disediakan banyak sekali permainan, tapi kenapa mereka malah bermain dengan ikan-ikan hias itu?

“Huh~ Sudahlah, kalian bertiga pergi bermain bola bersama Sungmin saja.” Yoona menghela napas sambil menunjuk bola sepak berwarna pink yang sedang dimainkan seorang namja kecil. Sepertinya meletakan aquarium di kelas bukan hal yang bagus. Batin Yoona.

“Hae-ah, Dong-ah, ayo kita ke sana.” Ajak Hyuk riang pada Hae dan Shindong atau biasa dipanggil Dong.

“Min-ah, apa kami boleh ikut bermain?” Tanya Hae pada namja kecil yang sedari tadi bermain dengan bola sepak berwarna pink itu.

“Ne, tentu saja.” Balas Sungmin yang dipanggil ‘Min’ itu sambil tersenyum pada ketiga anak itu.

“Kyu-ah, ayo pinjamkan jari-jarimu pada ku.” Ujar Hyunji yang perhatiannya sempat teralihkan pada ke-empat namja kecil yang sekarang sedang bermain bola sepak berwarna pink -Hyuk, Hae, Dong, Min-.

“Ya!! Aku jadi kalah. Ini semua gara-gara kau Hyunji.” Ujar Kyu kesal pada Hyunji sambil meratapi layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hiks hiks” Hyunji kaget dan tangisnya pun pecah karena Kyu yang tiba-tiba berteriak kearahnya.

“Yoona seonsongnim, cepat ke sini.” Teriak Kyu pada guru mereka karena tidak mengerti cara menghentikan tangis Hyunji.

“Ada apa Kyu?” Tanya Yoona setiba di hadapan Kyu. Anak ini benar-benar tidak sopan, memanggil orang seperti memanggil pembantu. Batin Yoona.

“Tiba-tiba Hyunji menangis tepat saat aku kalah bermain game.” Ujar Kyu polos mengingat layar PSP-nya yang bertuliskan ‘Game Over’

“Hyunji-ah, sudah, jangan menangis lagi ya. Anak baik tidak boleh menangis ya.” Bujuk Yoona pada Hyunji yang tangisnya sudah mulai reda.

“Hiks, aku hiks ingin meminjam jari-jarinya Kyu.” Ujar Hyunji yang masih sesenggukkan.

“Hyunji-ah, untuk apa kau meminjam jari-jarinya Kyu?” Tanya Yoona bingung dengan permintaan Hyunji.

“Jari tanganku tak cukup untuk menghitung sampai 13. Aku hanya mempunyai 10 jari, sedangkan soal di buku itu ’10 + 3 = …’

Aku tahu jawabannya adalah 13. Tapi aku ingin memastikannya.” Ujar yeoja bernama Hyunji itu polos.

“Oh, begitu rupanya. Kyu-ah, pinjamkan 3 jarimu untuk Hyunji.” Pinta Yoona pada Kyu yang sedang berpikir ‘apakah benar 10 + 3 = 13?’

“Ne, seonsongnim” Kyu mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan 3 jarinya            -jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis- ke pada Hyunji.

“Satu, dua, tiga… Tiga belas.” Hyunji menghitung dengan melipat jari-jarinya kedalam dan menghitung 3 jari milik Kyu.

“Wah.. Hyunji pintar” Seru Yoona setelah Hyunji menyelesaikan hitungannya sampai pada angka 13. Yoona merasa lucu dengan anak ini. Meminjam jari? Untuk memastikan 10 + 3 = 13? Lucu sekali. Batin Yoona geli.

“Gomawo Kyu-ah, gomawo seonsongnim.” Ucap Hyunji sambil membungkuk kepada Kyu dan Yoona.

Yoona pun meninggalkan Hyunji dan Kyu. Yoona pergi ke pojok ruangan tersebut, karena dia melihat ke-empat namja kecil -Hyuk, Hae, Dong, Min- itu sedang mengobok-obok air di aquarium itu lagi. Ada apa dengan anak-anak itu? Malah mengajak teman lebih banyak. Sepertinya memang benar-benar tidak baik meletakan aquarium di kelas. Batin Yoona frustasi dengan ke-empat namja kecil itu.

“Hyunji-ah, kenapa kau bisa tahu 10 + 3 = 13?” Tanya Kyu masih bingung.

“Aku menghitungnya menggunakan ini.” Jawab Hyunji dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah dada kecil milik Kyu

“Apa ini?” Tanya Kyu yang juga menunjukan jari telunjuknya ke arah dadanya.

“Hati. Aku menghitungnya di dalam hati. Dan kau juga bisa menghitungnya menggunakan hatimu Kyu.” Jawab Hyunji polos dan membuka buku matematikanya.

“Bagaimana caranya? Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu penuh semangat.

“Belajar” Ujar Hyunji singkat, sambil melanjutkan hitungan di jarinya yang tertunda karena pertanyaan dari Kyu.

“Oh, jadi begitu.” Sahut Kyu riang dan mengeluarkan buku matematika dari tas kecilnya yang berwarna sapphire blue dan bergambar robot transformers. Kyu pun mengerjakan soal-soal matematika itu dengan sesekali bertanya pada Hyunji karena dia tidak mengerti.

~~~~o0o~~~~

–Author Pov–

Seorang anak laki-laki yang merupakan ketua kelas di taman kanak-kanak ini berlari-lari mengelilingi kelas ini, menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Anak ini benar-benar hiperaktif. Itulah dia, Kangin. Nama Kangin itu sendiri mempunyai arti: Jalan penghidupan yang tentram, rakus/kuat, kegembiraan, merdeka, bahagia dan sempurna. Wajar saja sikapnya seperti itu, namanya saja mengandung arti seperti itu.

Kangin pun lelah dan akhirnya berhenti berlari-lari di dalam kelas. Sekujur tubuhnya penuh dengan keringat karena sehabis berlari-larian, ditambah lagi saat ini sedang musim panas. Padahal AC di kelas ini sudah dinyalakan, tapi tetap saja keringatnya tidak berhenti mengalir.

“Wah ada kipas angin.” Seru Kangin saat melihat sebuah kipas angin berkaki di pojok ruangan kelas.

“Trek” Kangin pun menekan tombol dengan kecepatan paling tinggi pada kipas angin berkaki tersebut.

“Aaaahh” Kangin membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar. Kangin merasa ini adalah permainan yang sangat menarik dan bisa membuat rasa gerahnya sedikit berkurang.

Di lain sisi, tepatnya di meja bundar tersebut. Duduklah Kyu yang sedang memegang PSP putih miliknya tanpa ada minat sedikit pun untuk memainkannya.

Selama dua minggu ini, Kyu selalu murung meratapi PSP miliknya tanpa memainkannya. Ini semua karena seseorang. Ya, ini semua karena Hyunji. Dua minggu yang lalu, Hyunji pindah sekolah ke daerah namsan karena rumahnya juga pindah ke sana. Kyu merasa kesepian, biasanya saat Kyu sedang bermain PSP selalu ada Hyunji yang menemani di sebelahnya, dan sekarang tak ada yang menemaninya bermain. Sebenarnya Hyunji tidak pernah menemani Kyu bermain PSP, Hyunji hanya selalu belajar matematika di samping Kyu dan Kyu beranggapan bahwa Hyunji selalu menemaninya bermain PSP. Itu semua hanya pikiran Kyu.

Kyu yang sedang bosan pun mengedarkan perhatiannya pada teman-temannya. Mata Kyu tertarik pada Kangin yang sedang bermain dengan kipas angin di ujung ruangan sana.

Kyu pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Kangin. Dia meninggalkan PSP miliknya di atas meja bundar tersebut, dan itu merupakan pertama kalinya Kyu meninggalkan benda kesayangannya di sembarang tempat.

Saat ini Kyu sedang berdiri di samping Kangin. Melihati Kangin yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin tersebut. Kangin yang menyadari kehadiran Kyu pun menutup mulutnya dan menoleh ke arah Kyu.

“Wae?” Tanya Kangin merasa terganggu dengan kehadiran Kyu.

“Aku juga ingin mencobanya.” Ujar Kyu tertarik lalu membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

Kangin pun melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Membuka mulutnya lebar-lebar di depan baling-baling kipas angin yang sedang berputar.

“Aaaahh…” Suara mereka berdua menggema di dalam ruangan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Itu berbahaya.” Seru Yoona yang mendengar suara ‘Aaaahh’ dan berlari ke arah mereka berusaha menghentikan permainan mereka.

“Akh” Pekik Kangin kaget mendengar suara guru mereka.

“Hua~ Hua~” Jerit Kangin menangis. Lidah Kangin berdarah terkena baling-baling kipas yang sedang berputar tersebut.

“Tek” Yoona langsung menekan tombol berwarna merah untuk mematikan kipas angin tersebut. Sedangkan Kyu berdiri di samping Kangin dan melihati Kangin yang sedang menangis.

“Lain kali jangan bermain kipas angin lagi.” Ujar Yoona menasehati Kangin dan membawanya untuk diobati. Menjadi guru TK benar-benar repot. Batin Yoona lelah dengan tingkah laku anak-anak ini.

Kyu sendirian lagi. Padahal dia sangat senang saat bermain dengan Kangin tadi.

Yoona seonsongnim mengganggu saja. Batin Kyu kesal dengan gurunya itu.

Kyu berjalan kembali ke tempat duduknya, dan mengambil PSP yang ditinggalkannya di atas meja bundar tersebut.

Kyu hanya memegang PSP itu tanpa memainkannya. Pikirannya melayang. Apa saat ini Hyunji sedang belajar matematika?

Matematika? Benar, aku harus belajar matematika. Suatu saat nanti saat aku bertemu dengan Hyunji, dia pasti kaget kalau aku bisa mengerjakan soal matematika. Aku akan mengalahkannya agar dia kaget sampai mati. Hahahaha. Batin Kyu mengandai-andai.

>>>>Flashback End

 

–Author Pov–

“Apa benar kau itu Kyu si maniak game?” Tanya Hyunji meyakinkan.

“Ne, akhirnya kau ingat juga.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum ke arah Hyunji.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu?” Tanya Hyunji kesal.

“Itu salahmu. Kenapa dulu kau selalu menghindariku? Bahkan untuk melihat wajahku pun tidak.” Ujar Kyuhyun tak mau kalah.

“Itu semua salahmu. Kenapa kau menyenggol tanganku dan bilang pada Heechul seonsongnim bahwa aku menyenggol tanganmu dan meminta contekan padamu?” Seru Hyunji kesal mengingat kejadian dulu.

“Kau masih ingat kejadian itu rupanya.” Seru Kyuhyun ke arah Hyunji.

“Ne tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya semudah itu. Berkat seorang namja bernama ‘Cho Kyuhyun’ aku bisa mendapatkan nilai 35 di ujian matematikaku, dan itu adalah nilai terburuk dalam hidupku.” Sahut Hyunji masih kesal lalu melipat kedua tangan di dadanya.

“Aku menyenggol tanganmu agar kau mengingatku. Saat TK dulu kau juga menyenggol tanganku berulang kali hingga aku gagal mengalahkan musuh di PSP-ku” Ujar Kyuhyun memberi alasan.

“Tapi kenapa kau bilang pada Heechul seonsaengnim aku meminta contekan padamu?” Balas Hyunji tidak puas dengan alasan Kyuhyun.

“Aku hanya ingin sedikit bermain.” Ujar Kyuhyun polos.

“Sedikit bermain? Dan membuatku mendapat nilai 35?” Sindir Hyunji.

“35 cukup bagus.” Sahut Kyuhyun tersenyum dengan wajah innocent-nya.

“Huh~ Itu tidak terdengar seperti pujian” sindir Hyunji.

“Baiklah, aku akan minta maaf. Mianhae Hyunji-ah” Ujar Kyuhyun tulus.

Hyunji menyipitkan matanya menatap Kyuhyun sinis.

“Sulit sekali menerima maaf darimu. Kalau begitu aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” Bujuk Kyuhyun.

“Jinjayo?” Tanya Hyunji tertarik.

“Ne, setelah kau memenangkan pertarungan game denganku. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu ditambah kau bekerja menjadi sekretarisku. Tapi jika aku yang menang kau harus mengabulkan satu permintaanku juga ditambah kau tetap menjadi sekretarisku. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kyuhyun.

“Baiklah, aku mau. Bersiaplah untuk kalah tuan Cho.”  Ledek Hyunji.

“Percaya diri sekali kau.” Sahut Kyuhyun.

Mereka berdua pun bertanding game dengan laptop milik Kyuhyun.

“YA!!” Pekik Hyunji saat dia kalah melawan Kyuhyun di perterungan game tadi.

“Hahahaha. Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku semudah itu. sekarang kau harus mengabulkan permintaanku.” Pinta Kyuhyun.

“Kau ingin apa?” Tanya Hyunji malas.

“Aku ingin kau menjadi yeoja chinguku!”

^0^ The End ^0^

 

Kamus:

– Ne= ya, benar

– Anyeong= sapaan saat bertemu seseoorang, pamit, halo, selamat pagi/siang/sore/malam

– Mwo= apa

– Aniyo= tidak, bukan

– Namja= laki-laki

– Yeoja= perempuan

– Seonsaengnim= guru

– Gomawo= terimakasih

– Aigo= ya ampun, ya tuhan

– Omo= ekspresi kaget

– Chakkaman= tunggu

– Wae= kenapa

– Yeoja chingu/Namja chingu= pacar

– Eotteokhae= aku harus bagaimana?

– Jinjayo= benarkah?

Sebagian besar ff ini berisi fakta aneh member Super Junior. Itu semua karena author rindu banget sama Super Junior yang membernya masih 13 dan akan tetap selamanya 13 :’)

Oh ya, faktanya Hangeng emang punya tiga cabang restaurant ‘Meihua Dumplings’ di China, dan itu adalah usaha keluarganya. Dan faktanya SM itu emang bukan singkatan dari Soo Man, melainkan Star Museum.

^^ I’m Proud To Be ELF ^^

Facebook: Ni SanElf KangBum

Twitter: @ni_san47

Me, You, and Us [ Part 3 ]

 

Author :  amryeong

Cast     :  Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun, Kang Jooyoung, Lee Chae Yeon

Genre  :  Romance, Friendship

Length :  Chapterd

Rating :  PG+15

 

Jooyoung POV

“ Lepaskan! “ bentakku.

“ Tidak! “

“ Kubilang lepaskan!!! “

“ Aku tahu hari ini kau kerja. Aku antar kau sampai Club. Ini sudah sangat lewat dari jam kerjamu, aku benarkan? Jadi tidak usah menolak. “  dia langsung menarikku pergi

“ Tidak usah sok peduli padaku! Kau kira aku anak kecil! Aku bisa sendiri! “  Hyuk Jae tidak menggubrisku. Dia tetap menarikku sampai tetap berada di mobilnya.

“ Cepat masuk! “ perintahnya.

“ Aku bilang aku bisa sendiri! “ tolakku.

“ Nona Kang! Kubilang masuk! “ Sial!! Dia memakai kata-kataku barusan. Dia sedikit mendorongku masuk ke dalam mobilnya, dia berjalan berbalik mengambil tempat di kursi kemudi. Dia menstarter mobilnya dan langsung mengemudikannya. Aku memandang Hyuk Jae dendam! Aku sangat membecinya! Suka sekali memaksa orang! Dan..satu lagi, apa yang kupikirkan sampai aku dengan mudahnya mengikuti kemaunnya. Tiba-tiba dia melihatku sekilas. Aku langsung memalingkan wajahku.

“ Mwo? “

“ Ani. Kau percepat saja kecepatan mobilmu, aku sudah benar-benar terlambat saat ini. “  Aku mengambil ponselku yang berada di saku jasku. 18.45 PM. Aku sudah terlambat 20 menit. Hhh…habislah aku. Tiba-tiba kulihat Hyuk Jae menyodorkan ponselnya ke arahku.

“ Mwo!? “

“ Masukan nomer ponselmu! “  Aku menatapnya bingung.

“ Aku tak mau! “

“ Masukan cepat! “

“ Kau memaksaku? “  Aku langsung meraih ponselnya. Bukan memasukan nomer ponselku. Tapi, aku menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku jasnya.

“ Konsentrasi dalam mengemudi! Aku tidak mau mati muda! “   Kulihat dia mengeluarkan ponselnya lagi. Hhh..keras kepala sekali!!

“ Masukan cepat! “

“ Untuk apa, ha…!? “  Aku belum sempat menyelesaikan perkataanku saat sebuah tangan (?) menyekap mulutku. Aku tersentak. Bingung. Karena sentuhan tangannya itu, tapi aku langsung menyingkirkan tangan itu dari mulutku. Lee yuk Jae!! Awas kau!

“ MWOYA!!? “ kataku setelah melepaskan tangannya dari mulutku.

“ Kau berisik sekali! Aku pusing mendengarnya! “

“ Kalau begitu kau tidak perlu repot-repot untuk meminta nomer ponselku! “ teriakku.

“ Ya, kau yang membuat repot sendiri, apa susahnya hanya memasukan nomer ponsel saja. “

Aku melihatnya malas, sungguh susah sekali berdebat dengan namja satu ini. Sangat sangat terpaksa, aku kembali meronggoh saku jasnya, mengambil ponselnya dan memasukkan nomorku pada ponselnya. Aku kembali menaruh ponsel pada saku jasnya.

“ Jangan bicara padaku lagi! Jalankan saja terus mobilnya. “

***

Saat sampai di Club, aku langsung turun dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Hyuk Jae. Ck, aku tidak sopan sekali. Biarkanlah, toh dia yang menawarkan diri untuk mengantarkanku, bukan aku. Aku berlari kecil memasuki tempat kerjaku dan pasti sajangnim telah menuggu dengan tanduk ganasnya itu. Mengerikan.

“ KAU DARI MANA SAJA, HAH!!!? “ geram sajangnim.

“ seo-seohamnida, sajangnim. “ kataku sambil menunduk.

“ Ini sudah sekian kalinya kau terlambat!! Kau pikir kali ini aku akan memaafkanmu, begitu? “

“ Maaf hyung, tadi kami belajar bersama, aku lupa melihat waktu. Jooyoung sudah beberapa kali mengingatkanku, tapi itu ku abaikan. Tugas kami terlalu banyak. “  Aku menoleh pada sumber suara. Hyuk Jae. Dia pikir apa yang dia lakukan?

***

 

Kyuhyun POV

“ Ya, menurutmu apa dulu kita berteman dekat? “ tanyanya. Aku tidak menoleh ke arahnya, masih tetap lurus pada pandanganku.

“ Mollaseo. “ jawabku singkat.

“ Jangan-jangan ini hanya akal-akalan eomma, supaya kita menerima perjodohan ini. “  Perjodohan? Hh, aku mendengar istilah itu lagi.

“ Kita? Aku tidak menerima perjodohan ini. “

“ Yak! Aku hanya berandai-andai saja. Aku juga sangat tidak mau menikah denganmu! Kau jelek! Tidak menarik mintaku sama sekali. “

“ Kau juga jelek! Dari atas sampai bawah, semuanya rata! Tidak menarik! “

“ Yak!! Apa kau bilang!? “

“ Dari atas sampai bawah, semuanya rata! Kau tidak menarik sama sekali. “ ulangku. Detik kemudian dia sudah memukul kepalaku dengan buku yang dia bawa.

“ YAK!!! “  Aku memukul kepalanya balik.

“ Hey!  Anak muda, sepasang kekasih tidak baik jika bertengkar di jalanan, lebih baik kalian membicarakan masalah kalian secara damai “ tiba-tiba ada seorang ahjumma yang berbicara pada kami.

Apa!!? Sepasang kekasih!? Apa aku dan Chae Yeon benar-benar terlihat seperti itu? Mata ahjumma itu perlu di periksa lagi, sepertinya.

“ Ah-ahjumma…kami bukan sepasang kekasih.” elak Chae Yeon.

“ Aigoo, kalian bukan sepasang kekasih, tapi tingkah kalian seperti sepasang kekasih. Ahh, sudahlah, selesaikan masalah kalian. Jangan bertengkar lagi, eo? “  Ahjumma itu pergi berlalu, meninggalkan kami.

“ Aish, mata ahjumma itu buta apa dia lupa memakai kacamata? Benar-benar. “ kataku.

“ Yak! Tidak boleh bicara seperti itu pada orang yang lebih tua! “

“ Aku tidak terima ucapannya! “

“ Bicara yang baik dengannya, tidak perlu mengumpat seperti itu. “

“ Kau sudah bilang padanya kan, bahwa kita bukan sepasang kekasih? Tapi tetap saja, dia abaikan. “

“ Biarkanlah, ahjumma itu juga sudah pergi. Tidak usah dibahas lagi. “

“ Kau ingin sekali ya? Dikira orang-orang bahwa kau kekasih ku? “ godaku.

“ Yak!! Naega eonje!!? “

“ Kau bilang perkataan ahjumma itu sudah tidak usah dibahas lagi, berarti sekian persen kau menyetejuinya. “

“ CHO KYUHYUN!!!!! “

***

 

Chae Yeon POV

Akhirnya kami sampai rumah. Ah, ternyata rumahku dan Kyuhyun benar-benar bersebelah. Aku tidak menyangka punya tetangga sepertinya. Hmm? Itu ahjumma? Kenapa dia ada diluar?

“ Ya~~eomma tahu kalian akan pulang bersama. “  Aku tersenyum miris. Jadi alasan itu kenapa ahjumma berada diluar. Tidak penting sekali.

“ Eomma! Kembalikan semua kaset gameku. Aku sudah pulang bersamanya kan? “ kata Kyuhyun tiba-tiba. Ahh, aku lupa, kami pulang bersama hanya demi menyelematkan kaset game-nya kan. Tch, berarti disini aku yang dirugikan.

“ Kau pulang dengan Chae Yeon setiap hari, setelah itu baru akan eomma kembalikan. “

“ Eomma! Mana bisa begitu!? Pulang dengannya? Lebih baik aku tidak memainkan psp-ku selama 1 bulan! “

“ Yak! Kau kira akan aku akan mau pulang denganmu lagi!? Jadikan itu sebagai mimpi indahmu! “

“ Ya..ya..ya, mana bisa bertengkar seperti itu, sudahlah. “ kata ahjumma. Padanganku beralih pada ahjumma. Aku menghela nafas pasrah. Untuk kali ini saja, biarlah ahjumma berhasil melerai aku dan Kyuhyun. Aku sedang lelah.

“ Aku masuk dulu. “

***

 

Club

10.15 PM

Jooyoung POV

Sungguh aku masih memkirkan sikap Hyuk Jae tadi. Dia membelaku? Setelah kejadian aku memarah-marahinya? Dia tetap membelaku? Hyuk Jae tak seburuk yang kupikirkan.

“ Kang Jooyoung. “

“ Ah? Ne, sajangnim? “ jawabku. Aku sedikit takut mengahadapinya, setelah sajangnim memarahiku.

“  Kau benar mengerjakan tugas sekolah, sampai bisa kau terlambat? “

“ Ne. “  Kuusahakan nada raguku tidak terdengar supaya tidak ketahuan berbohong.

“ Kau temannya Hyuk Jae? Kenapa tak bilang sejak dulu, apalagi kau teman sekelasnya kan? “

“Aku baru mengenalnya, kami baru sekelas tahun ini. “  Hyuk Jae! Gara-gara kau, aku jadi harus mencari-cari alasan.

“ Kau baru mengenalnya? Yang benar saja, Eunhyuk sepertinya akrab sekali denganmu. “

“ Dia yang sok akrab denganku. “

“ Sok akrab? Kalau begitu kenapa kau bisa kesini dengannya? Ah..kau juga mengerjakan tugas dengannya, kan? “

“ Ya! Kenapa jadi membicarakan soal ini?! “

“ Ck, yasudahlah! Kau kuijinkan pulang lebih awal hari ini. Tadi Eunyuk bilang kalian banyak tugas, kan? Aku jadi tak enak tadi memarahimu. Pulanglah. “

“ Ne!? Sajangnim, kau serius? “

“ Aish! Cepat pulanglah! Sebelum aku berubah pikiran! “  Aku melihatnya bingung. Astaga, sajangnim mengijinkanku pulang lebih awal. Tumben sekali, biasanya jika aku terlambat 15 menit saja, pasti langsung kena amukannya. Sekarang? Yang benar saja, jam kerjaku masih 2 jam lagi dan sekarang dia menyuruhku pulang. Ck, benar-benar.

 

Aku bergegas mengganti seragamku. Akhirnya! Aku mendapat tambahan waktu tidur. Menyedihkan sekali, orang-orang senang jika mereka dapat tambahan gaji. Tapi aku? Tambahan waktu tidur saja, senangnya bukan main. Ponselku berdering. Aku segera mengambilnya. Aku mengernyit. Nuguya? Nomor tidak dikenal. Biasanya, aku tidak akan menjawab jika nomornya tidak kukenal. Mungkin, suasana hatiku sedang sangat baik saat ini, jadi…aku menjawabnya.

 

“ Yoboseyo? “

“ Nona Kang! “  Tunggu..tunggu, suara ini…aku kenal sekali.

“ Hyuk Jae!? “

“ Kau mengenaliku? “

“ Tentu saja! Suaramu pasaran sekali, sangat gampang untuk diingat. Cepat katakan! Apa yang mau kau sampaikan, aku tidak punya waktu banyak. “

“ Yak! Kau jangan pulang terlalu malam, aku hanya ingin menyampaikan itu. “

“ Kau jangan sok peduli padaku! “

“ Sebagai teman, aku hanya mengingatkanmu. “

“ Aku tidak merasa punya teman sepertimu. “

“ Ya, jangan seperti itulah, aku kenal denganmu dan kau kenal denganku. Itu sudah kuanggap berteman. “

“ Tuan Lee Hyuk Jae! Kau jangan sok tahu makanya! Saat ini, aku disuruh pulang lebih awal oleh sajangnim. Kau tahu? Dia benar-benar mengira aku mempunyai tugas banyak. “

“ Jinjja? Kalau begitu, kau harus berterima kasih padaku. “

“ Aish! Aku tidak memintamu mencarikan alasanku datang terlambat. “

“ Ya! Tapi tetap saja karenaku, kau pulang lebih awal kan? “

“ Apa kau sudah selesai bicara? Aku ingin cepat-cepat sampai rumah. “

“  Ya, kau galak sekali. “

“ Memang! Kau baru tahu? Tadi kau bilang hanya ingin menyampaikan itu saja kan? “

“ Kau benar-benar tidak mengerti istilah basa-basi, ya? “

“ Kututup teleponnya! “

“ Ya! Ya! Ya! Tunggu dulu. “

“ Apa lagi?! “

“ Hati-hati dijalan. “

***

 

Chae Yeon POV

“ Eomma, hanya sebentar setelah itu langsung pulang, eo? Aku besok ada ujian matematika. “  Ck, yang benar saja, besok aku ujian matematika dan malam ini aku harus ke rumah namja dingin itu, makan malam bersama dan membicarakan soal pernikahan. Hey! Ada yang bisa membunuhku sekarang?

“ Besok kau ujian matematika? Kalau begitu itu bagus! Kau tidak ingat? Kyuhyun pernah menjuarai olimpiade matematika. “

“ Lalu? “

“ Setelah makan malam, kau bisa belajar dengannya. “

“ Eomma, jinjjayo! Aku belajar sendiri saja. “

“ Belajar dengan Kyuhyun! Nilai matematika-mu itu kan tidak jauh dari angka 6-7. “ paksa eomma. Sepertinya aku sangat salah mengatakan besok ujian matematika. Lebih baik nilaiku 0 sekalipun daripada harus belajar dengannya. Juara olimpiade?  Mukanya tidak mendukung sama sekali.

***

“ Makan yang banyak! Ahh..sayur ini juga, Kyuhyun pasti tidak akan menyentuhnya sama sekali. “ kata ahjumma. Aku melirik ke arah Kyuhyun. Eh? Dia tidak suka sayuran? Sebenarnya dia orang korea asli apa bukan sih?

“ Ah-ahjumma, itu cukup sekali. Tidak usah ditambah lagi. “

“ Aish, tidak usah malu-malu. Dulu porsi makanmu itu banyak sekali. Sekarang?  Kau sudah megurangi porsi makanmu, ahh..atau diet? Ck, dasar anak muda. “  What? Diet? No way, di kamusku kata itu benar-benar tidak ada. Apa enaknnya diet? Menahan untuk tidak memakan makanan yang menurut tips-tips di majalah bisa membuat gemuk. Memang apa salahnya gemuk?

“ Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Semua persiapan untuk pernikahan kalian sudah appa siapkan, kalian tidak bisa menolak. “

“ Uhuk! “ aku hampir tersedak makananku saat ahjussi mengatakan itu. Menikah? Dengannya? Minggu depan!!?

“ Appa! Minggu depan itu terlalu cepat! “ kata Kyuhyun. Apa? Dia bilang terlalu cepat? Dia tidak menolaknya? Bodoh.

“ Appa sudah bilang kalian tidak bisa menolak. “

“ Ahjussi, Kyuhyun benar. Minggu depan itu terlalu cepat. “ kataku. Astaga!! Dan sekarang aku juga bilang itu terlalu cepat? Chae Yeon bodoh, Chae Yeon bodoh.

“ Kalian tenang saja, semua sudah diurus. Hanya tinggal pakaian yang akan kalian pakai saat pernikahan nanti. Appa tidak mau mencampuri soal itu, biar kalian saja yang memilih. Lusa sabtu kan? Datanglah ke butik langganan eomma. “

“ Lusa aku tidak bisa. “ jawab Kyuhyun dingin.

“ Kalau begitu besok saja. “

“ Kami masih harus sekolah, appa. “

“ Sepulang sekolah. “

“ Kami masih pakai seragam sekolah. “

“ Apa salahnya jika masih memakai seragam sekolah? “

“ Kalau ada yang melihat kami, bagaimana? “ kini aku yang berbicara.

“ Supir appa akan mejemput kalian ia bisa membawa pakaian ganti untuk kalian, selesai kan?  “ kini ahjumma yang berbicara. Aku menghela nafas pasrah. Benar-benar, mereka memaksa aku dan Kyuhyun untuk menikah dan mereka juga yang mengurus segala sesuatunya. Kalau begitu, kenapa tidak mereka saja yang menikah?

“ Kyuhyun-a! Setelah ini kau belajar bersama Chae Yeon, ya? Chae Yeon bilang besok dia ujian matematika. “

“ Eomma! Tidak usah, aku belajar sendiri saja. “

“ Aish, kau malu belajar dengan Kyuhyun? “

“ Eomma!!…….. “

“ Tidak protes! Kau harus belajar dengan Kyuhyun! “ paksa eomma. Aku melirik ke arah Kyuhyun. SIALAN! Apa yang dia tertawakan? Apa ini lucu? Hhh, ku bunuh kau!!!

***

 

Kyuhyun POV

“ Seharusnya itu dikurang bukan di tambah! Kau mengerti tidak, sih!? “ kataku. Ck, Chae Yeon benar-benar bodoh sekali dalam matematika. Lihat! Begitu saja tidak bisa.

“ Diam kau! “

“ Kau tidak mau mendapat nilai sempurna? “

“ Kau peduli apa denganku? Lagipula aku sama sekali tidak berniat mendapat nilai sempurna, 8 saja aku sudah bersyukur sekali. “

“ Ish, terserah kau! “  Aku kembali memainkan psp-ku. Sesekali aku melirik ke arah Chae Yeon. Astaga, wajahnya itu…aku akui, saat seperti itu, justru wajahnya terlihat sangat polos. Sepertinya, wajah ini tidak terlalu asing bagiku. Ish! Cho Kyuhyun! Apa yang kau pikirkan, pasti aku sudah gila. Padanganku beralih pada soal yang sedang di kerjakannya. Benar-benar, semua yang dikerjakan itu sebagian besar, salah semua.

“ Ya, kalau x berhadapan dengan RW, berartu itu sama saja besarnya, kau tidak ingat pelajaran sewaktu tingkat pertama? Itu kan sudah dipelajari, kenapa soal itu jadi kau kurang-kurangkan. “

“ Tingkat pertama?! Itu sudah lama, aku tak ingat sama sekali. “

“ Sama sekali? Ck, bodoh! Bagaimana bisa mengerjakan, kalau tidak mengerti sama sekali. Buka catatan-mu, lihat caranya! “

“ Aku tidak pernah menyatatnya. “ jawabnya santai.

“ Mwo? Yak! Ujian bab ini susah sekali jika tidak belajar benar-benar. “

“ Susah? Dari mana kau tahu? Kau sudah ujian bab ini ya? “ tanyanya menyelidik.

“ Sekalipun kujawab iya, aku tidak akan memberi tahu soal ujian ini. “

“ Aish, jangan begitulah. Chingu-ya, Kyuhyun Cho, yang paling baik dan tampan, beritahu aku, eo? “

“ Kalau saat seperti ini kau baru bilang bahwa aku tampan, apa mata-mu itu terbuka di saat seperti ini? Aku memang tampan. “

“ Ish, terserah kau sajalah. Ayo! Beri tahu soalnya. “

“ Tidak akan! Aku pasti dirugikan! “

“ Ya, kau pikir pulang bersamamu itu tadi aku merasa tidak dirugikan? Itu sama saja merugikan bodoh! Menyelamatkan kaset game-mu? Hmm? “

“ Kaset game-ku tidak ada di tanganku sekarang! Kau tidak dirugikan berarti. “

“ Yak! Lupakan masalah itu! Aku ingin soal untuk ujian besok,eo? Aku benar-benar butuh. “

“ Itu curang namanya. Kau tidak usaha sendiri. Tidak! Tidak, akan ku beri. “

“ Ya, kalaupun aku usaha sendiri aku juga tidak akan mendapat nilai bagus. Pasti eomma akan memarahiku lagi. “

“ Itu salahmu sendiri, kau tidak mencatat setiap pelajaran yang diberikan, pasti kau juga malas-malasan saat sedang dijelaskan. Seharusnya, kalau kau mau bisa catat setiap pelajaran yang diberikan, konsentrasi saat sedang dijelaskan.“

“ Aish, kenapa kau jadi seperti menasihatiku? Aku tidak butuh nasihat-mu. Aku butuh soal ujian besok, ayolah Kyuhyun. “

“ Tidak! “  Aku memalingkan wajahku, kembali pada psp-ku. Tiba-tiba Chae Yeon mencondongkan tubuhnya mendekatiku. Aku mendongak. Astaga, wajahnya benar-benar dekat sekali dengan wajahku. Dia menempelkan kedua telapak tangannya dan memasang tampak memelasnya itu. Bagaimana pun, aku pria normal juga, jika sedekat ini, hanya berdua dalam satu ruangan. Hhh, aku tidak habis pikir.

“ Yak! Apa yang kau lakukan!? “ teriakku. Tubuhku otomatis langsung mundur ke belakang.

“ Ish, kau tidak perlu berteriak! Kau pikir apa, hah!? Soalnya! Beri tahu soal itu! “

“ Aish! Dasar licik! Ku beri tahu tapi ada satu syarat! “  Hah, bagaimana pun, aku tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Sekalipun dia melakukan tindakan aneh seperti tadi.

“ Ish! Hanya tinggal memberikan soal saja, harus ada syaratnya. Kau pikir ini perlombaan? “

“ Kau mau apa tidak!? “ pekikku.

“ Yayaya, baiklah. “ jawabnya pasrah.

“ Belikan aku kaset game pengeluaran terbaru tahun ini. “

“ MWOYA!? “

***

 

Chae Yeon POV

“ Yak! Kau gila!? Kau pikir harga kaset game itu murah? “ pekikku.

“ Karena itu tidak murah, makanya kau yang belikan itu untukku. “

“ Berapa harganya? “

“ Kalau tidak salah itu 50000 won. “ jawabnya santai.

“ Mworago!? Yak! Itu mahal sekali~ “

“ Aish, itu kan sebanding jika kau mendapat nilai bagus. “

“ Kau tidak punya otak!? Tapi, itu mahal sekali. “

“ Kalau kau tidak mau…baiklah. Soalnya tidak jadi ke beri tahu. “

“ Aish! Terserah kau saja! Lagipula, aku sudah tidak tertarik dengan soal itu. “ kataku. 50000 won? Apa itu tidak terlalu mahal untuk ukuran kaset game? Yang benar saja, lebih baik aku menghabiskan uang itu dengan membeli makanan kesukaanku.

“ Orang paling pintar di kelasku saja, tidak mendapat nilai sempurna. “

“ Kau mencoba menggodaku, hah? “

“ Tidak. Aku hanya memberi tahu kejadian yang terjadi. “

Aku diam. Bagaimana jika nanti aku benar-benar mendapat nilai jelek? Aish! Pasti eomma, akan memarahiku habis-habisan.

“ Aku masih menerima jika kau berubah pikiran. “ lanjutnya lagi.

“ Baiklah. Aku terima syarat-mu! Tapi aku hanya punya setengahnya saja, aku pinjam uang-mu dulu. Kapan-kapan aku ganti. “

“ Hey, mana bisa begitu? Soal ujian itu berarti juga akan kuberi tahu setengah saja. “

“ Arghhhh!!!! “ teriakku frustasi.

“ Baiklah! Akan kubelikan game itu! SEPENUHNYA! DENGAN UANGKU. “ kataku akhirnya.

 

Kyuhyun tertawa. Sial! Aku kalah lagi dengannya.

 

 

Chunhwa High School

06.30 AM

 

Jooyoung POV

Aku berjalan memasuki gedung sekolah itu. Rasanya agak sedikit segar hari ini, mendapat tambahan waktu tidur 1 jam. Paling tidak aku tidak akan tertidur di kelas sepanjang kelas berlangsung. Aku melewati mading sekolah yang memang berada dekat pintu gedung sekolah-ku. Tunggu, pasti ada yang salah disini. Tumben sekali, kenapa semua orang berkumpul di depan mading? Kulihat, salah satu dari mereka menoleh ke arahku.

“ Yak! Teman-teman! Lihat siapa yang datang!? “  Aku mengernyit. Apa maksudnya? Sekarang, semua anak sudah melihat ke arahku. Ada masalah. Pasti.

“ Tampangnya sangat biasa, tapi kelakuannya benar-benar mengejutkan. Aku tidak pernah menyangka. “

“ Zaman sekarang, jangan percayakan seseorang hanya dari tampangnya saja. Tampang polos, baik, siapa tahu saja sifat aslinya, tidak seperti itu. “

Benar-benar! Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan. Mereka bicara, seolah-olah memang sedang memojokkan-ku. Aku memandang sekeliling-ku dengan ekspresi datar. Mataku tertuju pada selembar kertas yang di tempel di mading. Aku segera berjalan mendekati kertas itu.

 

Kang Jooyoung murid 3B

Dan

Lee Hyuk Jae murid 3E

 

Tertangkap basah oleh seorang guru, sedang berdua-an di toilet pria.

 

 

 

 

 

 

Aku menggigit bibir bawahku. IGE MWOYA!! Siapa yang melakukan ini?! Aku segera menarik kasar kertas itu. Sialan.

“ Kau mengambil kertasnya? “ tiba-tiba ada seorang murid yang berbicara padaku. Aku melihat ke arahnya.

“ Kami sudah punya semua. “ murid itu mengeluarkan ponselnya. Menunjukan bahwa, berita ini sudah disebar ke seluruh murid di sekolah ini. Jadi, itu berarti semuanya sudah tahu? Demi tuhan, siapa yang melakukan ini!? Brengsek. Aku segera berbalik dan pergi dari situ. Bermaksud segera menghindari mereka, tapi sepertinya percuma. Kulihat Hyuk Jae sudah berdiri tidak jauh dariku. Ada lagi masalah lain yang akan datang padaku? Kukira masalah ini tidak akan dibahas lagi.

“ Ya, sekarang Hyuk Jae juga ada disini! Apa mereka tidak tahu malu ya? Lihat saja, mereka masih berani berdiri disini. “  Kudengar suara tertawa yang benar-benar sangat meledek. Tidak bisakah? Satu hari saja, tidak ada yang merusak mood-ku. Jangan..jangan sekarang, jangan menangis hanya karena di remehkan. Aku berjalan melewati Hyuk Jae tanpa melihatnya. Langkahku terhenti. Lagi-lagi Hyuk Jae menarik lenganku. Bodoh. Dengan seperti ini akan memperbesar masalah. Aku melihatnya gusar. Well, dia memang tidak mengatakan apa-apa. Tapi perlakuannya saat ini, sama saja memperbesar masalah. Bukan sama saja, sepertinya ini lebih. Aku tidak tahu dia menarikku kemana. Aku berusaha melepaskan cengkramannya. Jujur, cengkramannya sakit sekali. Cengkraman seseorang yang sedang emosi.

“ Yak! Lepaskan! Ini sakit! “  Aku masih berusaha melepaskan lenganku. Sampai Hyuk Jae, akhirnya melepaskan lenganku. Dia melihat ke arahku. Aku tidak membalas melihatnya, aku lebih memilih melihat lenganku yang saat ini sudah merah karena cengkramannya itu. Aku melihat dengan ujung mataku. Hyuk Jae melihat ke arah lenganku. Aku segera menutupi bekas merah yang yang ada di lenganku.

“ Mianhae. Aku tidak bermak… “

“ Kalau kau otak-mu masih berfungsi, kau tidak akan menarikku kesini. Kau tahu? Dengan seperi ini, masalahnya akan lebih besar lagi. “

“ Aku tidak tahu masalahnya. Itu masalahku. “   Mwoya!? Dia bilang masalahnya hanya itu?! Apa tidak ada kata lebih dari bodoh untuknya?

“ Kau pura-pura bodoh, atau memang bodoh!? “ aku merendahkannya. Tidak lama, aku melemparkan kertas yang tadi ku ambil ke arahnya. Hhh, ternyata masih ada di tanganku. Kukira tadi terbuang. Tapi ini lebih baik, aku tidak perlu memelukan energi untuk menjelaskan masalah ini. Aku melihat wajahnya. Saat sedang emosi seperti ini, Hyuk Jae kelihatan sangat mengerikan.

“ Sekarang kau tahu masalahnya? Apa otak-mu sudah berfungsi? Menarik-ku kesini akan memperbesar masalah, bukan? “ tanyaku sinis.

Hyuk Jae meremas kertas yang ada ditangannya.

“ Aku tahu. “ jawabnya dingin. Baru saat ini, aku mendengar nada bicaranya seperti itu. Aku jadi ngeri  jika harus berbicara lagi dengannya.

“ Nanti kau ke Club? “ tanyanya. Eh? Kenapa jadi tempat kerjaku yang dibicarakan?

“ Apa hubungannya dengan tem….. “

“ Kang Jooyoung cepat jawab! “ katanya, sedikit berteriak. Aku belum menyelesaikan perkataan-ku tapi dia sudah menyela? Ish! Keterlaluan.

“ Tentu saja. “

“ Bicarakan masalah ini, di sana. “

“ Kenapa harus disana? “

“ Kau bilang aku menarik-mu kesini itu malah membuat masalah lebih besar kan? Membicarakan masalah ini, jauh lebih dari itu. Bisa saja, murid lain mendengarnya. “

“ Tapi itu… “

“ Aku tidak terima penolakan! “

“ Yak! Bukan itu…. “

“ Tae Hwan hyung? Aku akan bicarakan ini sebelumnya. Kau tenang saja. “

Catatan untuk seorang Lee Hyuk jae, dia itu tipe orang yang suka memaksa.

***

 

Aku memasuki ruang kelasku setelah bel berbunyi tadi. Semua orang di kelasku menatapku tak percaya. Tatapan mengejek, itu juga tidak jarang kutemui. Aku bergegas melalui tatapan rang-orang itu, menuju tempat dudukku yang berada paling pojok. Aku melihat Chae Yeon sudah duduk di tempatnya. Chae Yeon? Pasti dia sudah tahu soal ini.

“ Hey! Jelaskan padaku! “

“ Aku tahu! Tapi kau bisa berpikir kan? Tidak mungkin aku menceritakan semuanya sekarang. Seoseongnim sudah masuk. “

“ Aku tagih janjimu saat istirahat. “

“ Masalah ini aku tidak kan lupa, kau tidak usah menagihku. Aku pasti ingat. “

“ Arraseo. “

Pandanganku beralih pada seoseongnim. Pelajaran pertama hari ini matematika. Hhh, pasti 1 jam 20 menit berikutnya akan sangat membosankan.

“ Masukan semua buku! Tidak ada buku diatas meja, atau di kolong meja! “

MWORAGO!!? HARI INI UJIAN!? Astaga, bagaimana bisa aku lupa soal ini. Ish! Sial! Hari ini benar-benar sial.

“ Chae Yeon-a, kau tidak menelepon-ku semalam? Mengingatkan ku begitu? “

“ Aku menelepon-mu? Besok paginya aku tidak akan selamat, kau akan mencekik-ku karena aku menggangu jam kerjammu. Bukannya kau yang bilang sendirin padaku, jangan menelepon-ku saat aku sedang bekerja. “

“ Aish! Aku tahu, tapi setidaknya kau bisa mengirim pesan padaku! “

“ Kau bilang mengirim pesan juga tidak boleh! “

“ Arggghh! Bagaimana ini? Kau tahu kemampuanku tidak terlalu pintar dalam pelajaran ini. “

“ Setidaknya kemampuamu lebih keren daripada ku. “

“ Tidak untuk materi kali ini! “

“ Kerjakan saja semampu-mu! “

“ Semampu-ku? Aku akan menyerah sebelum melihat soalnya. “

“ Hey! Optimis, saja! Paling tidak kau bisa mengerjakan beberapa soal, 5 mungkin “

“ 5 dari 25 soal. Hhh, itu sama saja bohong! “

“ Hey, kalian! Mengobrol saja! Kerjakan ujiannya! “ bentak seoseongnim tiba-tiba. Aku dan Chae Yeon tersentak. Aku langsung membetulkan posisi duduku. Dan, sekarang aku menghadap ke arah soal ujian ini. Habislah aku.

***

“ Berapa banyak soal yang bisa kau kerjakan? “ tanya Chae Yeon saat istirahat.

“ Tidak ada. “

“ Aku serius. “

“ Aku juga serius. “

“ Tidak mungkin. “

“ Semuanya bisa saja terjadi. Aku benar-benar tidak bisa mengerjakan soal itu. Otak-ku buntu. Andai saja ujian tadi adalah pelajaran Biologi, pasti aku bisa mengerjakannya. Paling tidak aku tidak akan mendapat nilai 7. “

“ Jangan ber-andai. Ujian sudah terjadi. “

“Aku tahu itu. “

“ Hey! Jelaskan padaku apa masalahmu! Aku tidak tahan melihat tatapan mengejek semua orang padamu. “

“ Kau baru sadar sekarang? Sejak pagi, mereka sudah seperti itu. “

“ Aish! Ayo ceritakan. “

Aku menceritakan semuanya pada Chae Yeon. Sejak awal, bagaimana aku bisa bertemu Hyuk Jae, ekspresinya sedikit terkejut saat ku bilang dia adalah couple untuk acara akhir tahun nanti. Mungkin dia tidak menyangka, perkenalan ku dengan Hyuk Jae akan jadi masalah. Dan, saat ku ceritakan bagaimana aku bisa salah masuk toilet. Chae Yeon mengernyit.

“ Tunggu, bukannya saat itu aku sedang ke perpustakaan? “

“ Hmm. “

“ Dan, kau datang terlambat saat pelajaran mulai. Kau bilang kau dari ruang kesehatan? Kau bohong. “

“ Memang. Dan, aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Hwang seoseongnim. “

“ Kenapa kau tidak menceritakan ini sebelumnya padaku!? “ tanyanya mendelik.

“ Waktunya sangat tidak tepat. “

“ Jadi kau menyelesaikan masalah ini dengannya saja? “

“ Terpaksa. “

“ Itu salahmu sendiri. “

“ Chae Yeon, menurutmu ini bukan Choi seoseongnim kan yang melakukannya? “

“ Ya, jadi kau pikir dia yang melakukan semuanya? Aku yakin, sekejam-kejam-nya seoseongnim, aku tidak pernah berpikir bahwa dia yang melakukan. Guru tidak akan rela menghabiskan waktunya hanya demi itu. “

“ Lalu siapa!? “

“ Aku pikir, pikiranmu denganku akan sama, ternyata tidak. Apa setelah kau keluar dari ruangannya, sekolah masih ramai? “

“ Di dalam sekolah tidak, tapi di luar ada beberapa murid. “

“ Kau mengatakan tidak apa kau melihat sekeliling saat keluar? “ tanya Chae Yeon lagi. Aku menggeleng.

“ Kalau begitu kau tidak bisa menyimpulkannya langsung. Bicarakan masalah ini dengan Hyuk Jae-mu! “

“ Yak! Apa katamu? Hyuk Jae-ku? “

“ Hyuk Jae teman-mu. Aish, kau pasti berpikiran yang aneh-aneh. “ goda Chae Yeon.

“ Aniyo! Aku memang akan bicarakan masalah ini dengannya. “

“ Jooyoung-a. “

“ Apa? “

“ Masalah ini pasti akan selesai, kau tenang saja. “

“ Aku tahu. Gomawo. “

***

05.55 P.M

Chae Yeon POV

“ Yak! Kenapa kau lama sekali? Seharusnya, tadi lebih baik aku meninggalkanmu. “

“ Kau hanya menunggu 10 menit. Manja sekali. “ jawabnya dingin.

“ Aku ingin cepat sampai rumah, bodoh! Ayo, pulang! “ kataku. Dia berjalan mendahuluiku. Dasar tidak tahu terima kasih, sudah untung aku rela menunggunya. Ini juga demi kaset game-nya. Aku berusaha, menyamai langkahnya.

“ Hey, Kyuhyun! Kecilkan langkahmu! “ teriakku. Langkahnya, sedikit kecil sekarang.

“ Kau saja yang pendek, langkah-mu jadi kecil begitu! “ ledeknya.

“ Jangan berpikir kau orang paling tinggi sedunia! “

“ Aku tidak merasa tinggi, aku hanya bilang kau pendek. “

“ Jangan menghina-ku! “

“ Aku tidak mengina-mu, tapi aku mengatakan fakta. “

“ Terserah kau! “

“ Chae Yeon, kau tidak lupa dengan janji-mu kan? “  Hah..pasti tentang kaset game.

“ Janji apa? “ tanyaku pura-pura tidak tahu.

“ Jangan pura-pura tidak tahu. “

“ Aku rasa aku tidak punya janji apapun padamu. “

“ Tentang kaset game, bodoh! “ dia menjitak kepalaku.

“ Tidak perlu menjitakku! “

“ Dengan menjitakmu, pasti kau ingat kan? “

“ Tidak juga. “

“ Yak! Aku sudah mengatakannya, babo! “

“ Aish! Arraseo, arraseo. Akan aku belikan, tapi kapan-kapan. “

“ Yak! Mana bisa seperti itu, pasti kaset game-nya sudah terjual habis! “

“ Sudah kubilang tabunganku belum mencapai segitu. Kau saja yang memaksa! “

“ Kau bisa pinjam uang teman-mu dulu. “

“ Kau pikir meminjam uang segampang itu!? “ teriakku.

“ Mungkin. Aku tidak tahu. “

“ Bodoh! Kau tidak pernah meminjam uang pada teman-mu memang? “

“ Aku tidak pernah kekurangan uangku. “

“ Jangan menyombongkan diri, jadi kau pikir aku kekurangan uangku, begitu? “

“ Kau bilang tabunganmu belum cukup untuk membeli kaset game kan? “

“  Aku bilang tabunganku bukan uangku, berarti itu hanya sebagian. “

“ Tabunganmu dengan uangmu sama saja, sebagian uangmu yang bukan tabunganmu itu pasti uang eomma-mu kan? “

“ Kalau kau merasa punya uang banyak, kenapa tidak kau saja yang mebelinya?! “

“ Janji adalah hutang. “

“ Diam kau!! “

 

Setelah pertengkaran singkat tadi, aku dan Kyuhyun berjalan menuju halte bus dekat sekolah. Hhh, pasti akan lama menunggu bus-nya. Lihat saja, bus biasanya akan datang 20 menit lagi. Aku dan Kyuhyun duduk pada salah bangku disana.

“ Sebentar lagi hujan, tapi bus-nya belum datang-datang. Lebih baik kita jalan saja, bagaimana?”

“ Tunggu sebentar lagi. “

“ 5 menit saja, setelah itu kalau tidak datang-datang juga, lebih baik kita jalan kaki saja. “

“ Iya! Bawel! “

Aku mengerucutkan bibirku. Kerjaannya hanya menghina saja, seperti tidak ada kekurangannya saja.

“ Kyuhyun, ini sudah lebih dari 5 menit. Cuacanya juga semakin buruk saja. “

“ Kau mau kita jalan kaki saja? “ tanyanya. Aku mengangguk.

“ Ayo! “

Akhirnya kami meninggalkan halte bus itu. Aku dan Kyuhyun lebih memelilih berjalana saja. Cuacanya juga sedang buruk, sebentar lagi pasti hujan. Kalau tetap menunggu disana, pasti pada akhirnya aku tidak bisa pulang dan terjebak disana. Yang paling penting, dengan orang di sebelahku ini. Aku merasakan, tetesan air mengenai kepalaku. Jangan bilang ini sudah hujan. Aku mengadah melihat ke atas. Aish, ini bahkan lebih buruk daripada terjebak disana dengan Kyuhyun. Hujannya makin deras saja. Sebagian bajuku juga sudah basah.

“ Lebih baik berteduh dulu, hujannya pasti akan lebih deras lagi. “ teriak Kyuhyun. Suaranya sedikit keras, karena takut aku tidak mendengarnya karena suara hujan yang makin menjadi-jadi.

“ Terserah kau, saja! “ teriakku juga. Aku dan Kyuhyun sedikit berlari kecil mencari tempat berteduh.

“ Kalau saja tadi menunggu sebentar lagi pasti kita tidak akan kehujanan! Bodoh. “

“ Kau juga bodoh, kenapa menyetujuiku? Kalau kau tidak setuju, aku bisa berjalan sendiri. “

“ Kalau begitu aku yang bodoh. Membiarkanmu pulang sendiri? Pasti sampai rumah aku akan dicekik eomma. Apalagi kau pulang dengan keadaan basah kuyup. Aku yakin kalau kau pulang sendiri, kau tidak akan berhenti dulu. Tetap saja, berjalan sampai rumah tidak peduli kalau sedang hujan. “

Aku melongo. Bagaima bisa Kyuhyun tahu tentang aku yang suka bermain hujan? Dulu, sewaktu kecil jika hujan turun saat pulang sekolah. Aku senang sekali menerobos hujannya, semakin hujan bertambah deras. Pasti aku akan senang sekali.

“ Jangan sok tahu! “

“  Aku ingat dulu kau sewaktu kecil, Yeon-a. “

 

TBC

 

My First and Only [ Part 3 ]

 

Author : chokyu88

 

Cast     : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Jiyeong, Kim Hyuri.

 

Genre  : Romance, Family

 

Length : Chaptered

 

Rating : PG+15

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Tapi aku menyukaimu.” Deg. Kata-kata singkat yang keluar dari mulut Eunhyuk itu sukses membuatku mematung di tempat dan membuatku kehilangan akal sehat. Debar jantungku ini berdetak sungguh keras sampai-sampai aku takut bahwa saking kerasnya ia bekerja, jantungku ini akan lelah dan akhirnya berhenti bekerja. Baiklah mungkin aku terlalu berlebihan kali ini.

 

“A-apa yang kau katakan barusan hah?” tanyaku sambil berusaha menemukan kembali suaraku.

 

“Aku menyukaimu Kim Jiyeong, apa masih kurang jelas? Atau aku perlu berteriak di depanmu saat ini, bilang bahwa aku menyukaimu?” jawab Eunhyuk mantap.

 

“Tch rupanya karena terkena angin malam seperti ini membuatmu bicara melantur Eunhyuk-a, jadi sebaiknya aku cepat mengobati luka di sudut bibirmu itu dan kita pulang.” Aku berusaha bersikap setenang mungkin dan kembali menyibukkan diriku dengan menuangkan sedikit alkohol di kapas kemudian berniat melap bekas darah di sudut bibir Eunhyuk.

 

“Aku sedang tidak bercanda, Kim Jiyeong. Aku serius dalam mengatakan bahwa aku menyukaimu.” Balas Eunhyuk. Memang aku yakini dari nadanya bicara saat ini dia memang tidak sedang bercanda.

 

“Memangnya kau pikir aku sedang bercanda hah? Sudah tidak usah banyak bicara lagi, kemari aku akan obati lukamu itu dan segera pulang.” Eunhyuk tidak membalas lagi ucapanku dan aku merasa senang akan hal itu. Setidaknya aku bisa meredakan sedikit debar jantungku yang bekerja di luar biasanya ini.

 

Aku mengusap pelan-pelan darah yang ada di sudut bibirnya. Aisshhh bukannya malah reda debar jantungku ini malah berdetak makin tak karuan. Rupanya aku salah mengambil keputusan. Dasar Kim Jiyeong bodoh!

 

“Ya! Untuk apa kau memandangiku seperti itu hah?” protesku yang merasa risih karena pandangan Eunhyuk padaku.

 

Hening. Eunhyuk tidak merespon protesku itu. Errr apa perlu laki-laki di depanku ini aku lempar dengan sepatu agar dia tak memandangiku seperti itu? Perbuatan bodohnya itu membuatku salah tingkah sendiri! Apa dia tidak menyadarinya? Huh.

 

“Ya! Lee Hyuk Jae! Tidak bisakah kau berhenti memandangiku seper…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Eunhyuk menarikku dan mendaratkan bibirnya tepat dibibirku, dan kini kedua bibir kami saling bertemu. Aku benar-benar terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Ketika aku berusaha melepaskan diri, Eunhyuk malah menarik diriku agar lebih dekat dengannya dan memperdalam ciumannya padaku. Entah sekarang mukaku sudah seperti apa, tapi aku yakin sekali bahwa mukaku sudah berubah sangat merah seperti kepiting rebus atau bahkan seorang badut. Dan debar jantungku ini bekerja 3 kali lipat dari biasanya. Aisshh pasti Eunhyuk mengetahui hal ini dilihat dari posisinya yang sangat dekat denganku .

 

Tak lama kemudian Eunhyuk melepaskan ciumannya dan tersenyum singkat penuh arti. Aku buru-buru menundukkan wajahku karena tidak mau terlihat bodoh di depannya.

 

“Lee Hyuk Jae sialan, apa baru kau lakukan padaku hah?” protesku geram dengan tetap menundukkan wajahku.

 

“Menghukummu.” Balasnya santai.

 

“Ne?!” tanyaku bingung.

 

“Iya itu akibatnya karena kau menolakku.”

 

“Menolakmu? Memangnya kau meminta apa padaku?”

 

“Tadi saat aku bilang bahwa aku menyukaimu, kau tidak merespon apapun, jadi itu aku anggap sebagai penolakan.”

 

Aku makin tidak mengerti apa yang dimaksud Eunhyuk. Menolaknya? Bukannya tadi dia hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku? Dia kan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya atau apalah, tapi kenapa dia bilang aku menolaknya?

 

“Itu sama saja artinya aku menyatakan perasaanku padamu bodoh! Hah aku pikir kau cukup pintar untuk mengerti apa yang aku maksud, tapi aku salah. Kau itu benar-benar bodoh.” Kata Eunhyuk yang seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

 

“Ya! Jangan mengataiku bodoh! Itu salahmu sendiri karena tidak mengatakannya dengan jelas!” balasku membela diri.

 

“Aisshh.” Eunhyuk terlihat frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri. “Hah baiklah jika ini yang kau minta…” Eunhyuk menarik nafasnya dalam dan kemudian membuka suaranya lagi. Bukan main-main kali ini. Aku tahu dia sangat serius. Aku belum pernah melihat Eunhyuk seserius ini sebelumnya.

 

“Kim Jiyeong tolong dengarkan aku baik-baik dan aku mohon kau menyimak apa yang aku katakan, karena aku tidak akan mengulanginya dua kali atau repot-repot menjelaskan apa maksud dari yang ingin aku katakan sekarang.”

 

Aku menarik nafasku dalam-dalam, sekedar untuk mencari oksigen untuk paru-paruku karena jujur aku sudah hampir tidak bisa bernafas sekarang.

 

“Jiyeong-a, aku menyukaimu. Mungkin ini terdengar aneh karena aku baru kenal denganmu 3 hari yang lalu, tapi aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, tapi perlu kau ketahui satu hal, sejak kau masuk ke kelas hingga akhirnya kau duduk disebelahku, aku merasa kau gadis yang menarik dan aku yakin cepat atau lambat aku akan menyukaimu. Dan ternyata hal itu terbukti, semakin aku mengenalmu, aku semakin menyukaimu, dan tadi saat kau dengan nekatnya menolongku dari amukan ahjussi-ahjussi itu, aku memarahimu karena aku takut kau terluka. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku ingin selalu melindungimu. Jadi, apa kau mau membantuku mewujudkan keinginanku itu? Apa kau mau menjadi kekasihku, Kim Jiyeong?” Eunhyuk menggapai tanganku dan menggenggamnya.

 

Aku masih terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa atau bersikap apa. Tidak semua dari kata-kata Eunhyuk barusan bisa aku cerna dengan baik. Tapi hati kecilku ini mengatakan bahwa aku harus berkata iya, karena aku merasakan hal yang sama dengannya.  Aku tahu pasti Eunhyuk sangat menunggu jawabanku, tapi tidak mungkin aku langsung menerimanya. Aku tidak mau dia menganggapku gadis gampangan.

 

“Ohya aku lupa memperingatimu satu hal, aku tidak suka penolakan. Dan kali ini, aku sedang berbaik hati dan memberikanmu dua pilihan jawaban, “Ya” atau “Mau”, jadi bagaimana apa kau mau menjadi kekasihku?” Eunhyuk kembali bertanya padaku.

 

“Tch, kalau begitu apa bedanya bodoh! Kalau seperti itu bagaimana bisa aku menolakmu hah?” kataku menggodanya.

 

“Jadi kau mau menolakku lagi?” tanyanya dengan nada penuh ancaman.

 

“Iya. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menolakmu?” balasku tidak mau kalah.

 

“Aku akan menghukummu lagi kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum nakal dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan hah?” Aku memukul kepalanya karena sikapnya itu.

 

“Hahaha Jiyeong-a kau itu sangat lucu. Aku tahu sebenarnya kau itu juga menyukaiku kan? Sudah tidak usah pura-pura lagi, cepat kau terima saja aku.”

 

“Cih dasar sok tahu.”

 

“Mukamu yang memerah dan kerasnya debar jantungmu saat aku menciummu itu membuktikan padaku bahwa kau juga menyukaiku. Apa kau masih mau mengelak?”

 

Argghhh berarti usahaku tadi sia-sia saja. Eunhyuk tetap saja mengetahui keadaanku yang memalukan itu.

 

“Sudah puas kau membuatku seperti orang bodoh hah?” teriakku frustasi.

 

“Belum sampai kau mau menerimaku.”

 

“Dasar keras kepala! Baik-baik, aku mengalah! Aku menerimamu. Puas?”

 

“Jinjja? Jadi kau sekarang menjadi kekasihku?” Eunhyuk terlihat sangat gembira.

 

“Hhhmm.” Jawabku acuh. Padahal sebenarnya saat ini aku juga sama gembiranya dengannya.

 

Aku tetap dalam posisiku yang menyilangkan tanganku di depan dada sampai Eunhyuk mencium pipiku singkat dan kemudian berlari menjauhiku. Aku tahu, pasti dia takut aku akan mengamuk karena perlakuannya itu.

 

“Lee Hyuk Jae! Apa yang kau lakukan hah?” aku berteriak tidak terima dan berlari mengejarnya. “Kau berhenti atau aku akan kembali menarik ucapanku?!” teriakku lagi. Sebenarnya aku tidak serius dengan apa yang aku katakan barusan, aku hanya tidak ingin berlari-lari untuk mengejarnya, menurutku hal itu sangat menjijikan, sama persis seperti yang ada di drama-drama.

 

Aku lihat Eunhyuk berhenti. Hahaha pasti dia takut dengan ancamanku barusan. Kemudian aku berjalan santai menuju ke arahnya.

 

“Kau tidak serius dengan apa yang kau katakan kan?” tanya Eunhyuk ketakutan.

 

“Karena kau menuruti apa yang aku perintahkan, jadi aku tidak serius dengan apa yang kukatakan barusan.” Jawabku santai.

 

“Ah baguslah. Kajja kita pulang.” Eunhyuk terlihat lega dan menggandeng tanganku yang bebas (?) agar aku mendekat dengannya.

 

“Apa yang kau lakukan hah?”

 

“Menggandeng tangan gadisku, apa tidak boleh?” tanyanya sambil tersenyum.

 

Gadisku? Aku tersenyum mendengar Eunhyuk memanggilku dengan sebutan barunya itu. Ya aku akui itu lumayan keren.

 

“Ne, kajja kita pulang.” Balasku sambil ikut tersenyum ke arahnya.

 

***

 

“Nah sekarang sudah sampai. Kau cepat masuk ke dalam, di luar ini udaranya dingin sekali.” Perintah Eunhyuk ketika kami sudah sampai di depan rumahku.

 

“Hhmm baiklah.” Kataku menurut sambil membalikan badanku berniat untuk masuk ke dalam. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengannya, tapi Eunhyuk benar, udara di luar saat ini sungguh dingin.

 

“Jiyeong-a, tunggu dulu.”

 

“Apa lagi?”

 

Eunhyuk terlihat menarik nafasnya sesaat dan kemudian menjawab pertanyaanku.

 

“Aku mencintaimu. Terima kasih untuk hari ini.” Eunhyuk tersenyum dan kemudian berbalik untuk pulang. Barusan dia bilang apa? Mencintaiku? Aku tidak salah dengarkan? Bukannya tadi  dia hanya bilang bahwa dia menyukaiku?

 

“Eunhyuk-a! Hati-hati di jalan! Aku juga mencintaimu.” Balasku malu-malu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan rentetan kata menjijikan seperti itu, tapi apa boleh buat.

 

Eunhyuk menghentikan langkahnya kemudian berbalik lagi menghadapku. “Aku tahu. Sudah sana cepat masuk, aku tidak mau kau mati membeku di sana.”

 

“Ne!” balasku dan kemudian Eunhyuk melanjutkan langkahnya.

 

Aku sendiri pun segera masuk ke dalam rumah. Bayangan-bayangan kejadian saat bersama Eunhyuk pun mulai memenuhi pikiranku, dan efek yang ditimbulkannya adalah aku tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila.

 

Cklek. Aku menutup pintu rumahku pelan dan segera menuju kamarku dengan terus tersenyum. Aku tidak tahu bahwa daritadi Hyuri memperhatikanku, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerguku.

 

“Jiyeong-a, kau baru pulang?”

 

“Ne.” Jawabku.

 

“Dengan siapa?”

 

“Eunhyuk.” Jawabku lagi.

 

“Oh.” Hyuri meng-oh-kan jawabanku dan lebih memilih untuk diam.

 

“Kau tidak tidur? Ini sudah malam.” Tidak biasanya aku bertanya seperti itu pada Hyuri, tapi entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

 

“Ne? Ah tadi aku menunggumu, makanya belum tidur.” Jawab Hyuri setengah bingung.

 

“Sekarang aku sudah pulang, lebih baik kau tidur.” Suruhku. Tidak heran kalau Hyuri akan bertambah bingung terhadap sikapku ini.

 

“Jiyeong-a, kau sakit?”

 

“Ya! Kenapa malah tanya begitu? Aku bersikap kasar, kau protes! Sekarang aku bersikap baik begini, kau protes juga! Sebenarnya maumu apa hah?”

 

“Aniya. Aku hanya bingung dengan sikapmu itu. Kau tiba-tiba berubah, apa ini semua karena Eunhyuk?”

 

“Tch, tidak usah sok tahu. Aku begini karena moodku sedang baik saja! Tidak usah bawa-bawa Eunhyuk! Sudah aku mau ke kamar.” Bentakku pada Hyuri.

 

“Aku kan hanya bertanya. Yasudah sana pergi ke kamarmu. Ini sudah malam, lebih baik kau tidur kalau besok tidak mau terlambat ke sekolah.”

 

“Ne.” Jawabku malas sambil melangkahkan kakiku ke kamar.

 

Apa benar Eunhyuk yang merubah sikapku? Aku masih sibuk bertanya-tanya pada diriku sendiri, sampai ponselku bergetar dan otomatis menyadarkanku.

 

Aku mengernyit melihat layar ponselku. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang tak dikenal. “Ini siapa?” gumamku sambil mengklik tombol ‘open’ pada layar ponselku.

 

Jiyeong-a! Simpanlah nomorku! –Eunhyuk

 

Ha? Eunhyuk? Darimana dia tahu nomor ponselku? Setahuku aku belum memberi tahunya.

 

Darimana kau tahu nomor ponselku hah?

 

Aku sibuk berpikir sendiri darimana Eunhyuk mengetahui nomor ponselku, hingga untuk kedua kalinya ponselku kembali bergetar.

 

Rahasia. Kau tidak perlu tahu aku dapat darimana. Sudah ya, sekarang kau tidur. Selamat malam Jiyeong-a~

 

Aku tersenyum sendiri membaca pesan singkat yang dikirim oleh Eunhyuk tersebut dan segera saja aku membalasnya.

 

Aisshh baiklah. Ne, kau juga tidur. Selamat malam~

 

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, aku meletakkan ponselku di meja belajarku dan segera membersihkan diriku. Haaah mungkin malam ini aku akan mimpi indah, batinku sendiri.

 

***

 

“Kau baru sampai? Ke mana saja hah?” tanya Eunhyuk ketika aku baru sampai di gerbang sekolah.

 

“Kau menunggu di sini?” bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya.

 

“Kau tidak lihat?”

 

“Aishh iya aku lihat. Tapi buat apa kau menungguku di sini? Kan kau bisa menungguku di kelas?”

 

“Tidak mau. Kalau aku menunggu di kelas, itu sama saja aku akan lebih lama untuk melihatmu.”

 

“Cih, dasar gombal.” Ledekku pada Eunhyuk dan berjalan duluan menuju kelas.

 

“Jiyeong-a! Aku tidak gombal, aku serius!” teriak Eunhyuk sambil mengejarku.

 

“Aku ingatkan padamu, jangan sering-sering memakai kata-kata gombal seperti itu kalau kau mau aku tetap menjadi pacarmu.”

 

“Mwo?! Kenapa begitu? bukankah itu wajar untuk sepasang kekasih?

 

“Bagiku tidak. Itu sangat menjijikan.”

 

“Ah kau tidak asik Jiyeong-a~ Lalu bagaimana aku menyalurkan bakat gombalku ini kalau kau tidak suka?” tanya Eunhyuk sambil memamerkan gummy smile-nya itu.

 

“Putuskan saja aku dan cari gadis lain hhmm atau bisa juga kau kembali pada man…”

 

“Ya! Aku hanya bercanda! Baik-baik aku mengerti. Tapi jangan pernah kau suruh aku untuk memutuskanmu!” gerutu Eunhyuk.

 

“Hahaha aku juga hanya bercanda, sudah jangan cemberut seperti itu. Ayo cepat ke kelas.” Kataku sambil tertawa.

 

Baru saja kami ingin masuk kelas, seorang gadis yang sebenarnya kehadirannya tidak kuharapkan ini muncul di hadapan kami berdua dan langsung mengalungkan lengannya di lengan Eunhyuk.

 

“Oppa, kau ke mana saja? Aku menunggumu tadi di gerbang sekolah.” Ucap gadis itu manja sambil tetap menggandeng tangan Eunhyuk.

 

Ya! Apa dia tidak melihat di sini ada aku? Dasar gadis menyebalkan!

 

“Ji Eun-ssi lepaskan aku.” Ucap Eunhyuk risih dan mencoba melepas paksa tangan Ji Eun.

 

“Oppa, apa kau lupa? Dulu sewaktu kita pacaran, kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan kau mengantarkanku kelas. Aku ingat waktu orang-orang sangat iri melihat kita.” Rajuk gadis itu lagi.

 

Errrrr kupingku panas mendengar rajukan manja gadis itu pada Eunhyuk. Rasanya aku sudah ingin mencakar mukanya saja!

 

“Jangan ungkit-ungkit hal itu lagi, Ji Eun-ssi. Sekarang aku sudah menemukan penggantimu, dan dia sekarang sedang berdiri dihadapanmu.”

 

Mendengar Eunhyuk mengucapkan hal itu, aku jadi tidak enak sendiri. Dengan canggung aku membungkukkan tubuhku sekedar untuk memberi salam padanya.

 

“Annyeong Ji Eun-ssi.” Ucapku pura-pura ramah, karena sebenarnya aku ingin melempar mukanya itu dengan sepatuku ini.

 

“Ah jadi ini gadis pengganntiku.” Balasnya dengan tampang meremehkan.

 

“Jadi, aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan untuk mendekatimu?” tanya gadis itu lagi pada Eunhyuk.

 

Mwo?! Sudah jelas-jelas dia tahu bahwa Eunhyuk sudah mempunyai aku, kenapa dia masih bertanya seperti itu?

 

“Tidak sama sekali. Aku sangat mencintainya, dan lebih baik kau mencari lelaki lain saja.” Jawab Eunhyuk sinis.

 

Aku menyikut lengan Eunhyuk karena menganggapnya bicara terlalu kasar pada Ji Eun. Meskipun aku kesal padanya, tapi tetap saja aku kasihan padanya. Aku tahu dia itu juga wanita, pasti perasaannya sangat sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang dicintainya.

 

“Eunhyuk-a, jangan terlalu kasar seperti itu.” Bisikku pada Eunhyuk, tapi aku yakin Ji Eun juga bisa mendengarnya,

 

“Baiklah, ternyata aku sudah tidak punya kesempatan ya? Hhmm kalau begitu, boleh kah aku bicara sebentar denganmu oppa?” Ji Eun memasang muka penuh harapan pada Eunhyuk. Eunhyuk sendiri pun bingung antara mengiyakan permintaan Ji Eun atau tidak. Karena melihat hal itu, aku segera mengambil keputusan.

 

“Sudah sana biacaralah dengan Ji Eun, aku akan menunggumu di kelas.” Kataku pada Eunhyuk.

 

“Benarkah? Kau tidak apa-apa jika kutinggal?”

 

“Ya! Tentu saja tidak apa-apa! Kau pikir aku anak kecil hah?” balasku kesal.

 

“Baiklah.” Jawab Eunhyuk. “Ji Eun-ssi, ayo cepat. Kita bicara sambil aku antarkan kau ke kelasmu.” Kata Eunhyuk lagi pada Ji Eun.

 

Aku sendiri lebih memilih untuk diam dan berjalan menuju kelasku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena mendengar ucapan Ji Eun yang sebenarnya lebih ditujukan pada Eunhyuk itu.

 

“Dia tidak memanggilmu oppa? Tch bagaimana bisa? Bukannya kau dulu memaksaku hingga mengancam untuk memutuskanku agar aku memanggilmu oppa?” tanya Ji Eun.

 

“Jangan banyak bicara atau aku tidak jadi bicara denganmu.”  Jawab Eunhyuk.

 

Aku tidak mendengar suara Ji Eun lagi setelah itu. Aku tahu dia pasti lebih memilih menuruti perintah Eunhyuk daripada kehilangan kesempatan emasnya untuk bicara dengan Eunhyuk. Hah benar-benar gadis menyebalkan!

 

***

 

Eunhyuk’s POV

 

Kalau bukan Jiyeong yang menyuruhku untuk mengikuti kemauan gadis ini, mungkin sekarang aku sudah di kelas dan berbincang dengan Jiyeong. Haaaah sebenarnya mau gadis ini apa sih? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak mengangguku lagi? Dan katanya tadi dia ingin bicara denganku? Tapi kenapa sampai saat ini dia belum juga membuka suaranya? Apa dia ingin mempermainkanku?

 

“Ya! Ji Eun-ssi, kita sekarang sudah sampai di depan kelasmu, tapi kenapa kau belum bicara juga? Sebenarnya apa maumu hah?” tanyaku tak sabar.

 

“Tidak ada. Aku hanya ingin berdua saja denganmu.” Jawab Ji Eun santai.

 

“Yak!” teriakku kesal karena merasa dipermainkan.

 

“Kau kesal padaku?” tanya Ji Eun.

 

“Tentu saja! Kau bilang padaku tadi kau mau bicara padaku, dan sekarang kau seenaknya mengatakan bahwa tidak ada yang mau kau bicarakan dan hanya ingin berdua padaku! Bagaimana aku tidak kesal hah?” bentakku pada Ji Eun.

 

“Itu salahmu sendiri karena lebih memilih gadis itu daripada aku. Dan rupanya aku perlu memberi tahumu satu hal, selain aku tidak ada yang boleh memilikimu. Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menjadi milikku.”

 

“Kau kira aku ini barang yang bisa seenaknya kau dapatkan hah? Sudah aku menyesal sudah menuruti permintaanmu, lebih baik aku aku kembali ke kelas saja.” Balasku sambil berbalik meninggalkan Ji Eun.

 

“Aku serius, tuan Lee.” Ucap Ji Eun kemudian tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan seakan-akan tidak mendengar ucapannya.

 

Memangnya apa yang akan dia lakukan? Lihat saja, sekeras apapun dia berusaha, aku tidak akan menjadi miliknya lagi.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Kira-kira apa yang dibicarakan oleh mereka berdua? Apa mungkin Ji Eun tetap meminta Eunhyuk kembali menjadi kekasihnya? Kalau benar begitu, apa mungkin Eunhyuk menerima permintaan Ji Eun, dan memilih menyembunyikan hubungan mereka di belakangku? Andwae! Itu tidak boleh terjadi! Ya! Lee Hyuk Jae, kalau kau berani melakukan hal itu, aku tidak akan memaafkanmu! Aku meracau sendiri dan tak sadar sudah memukul-mukulkan tanganku sendiri ke atas meja.

 

“Kau kenapa? Kenapa menyebut namaku seperti itu?” tanya Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berada di hadapanku. Tentu saja aku kaget bukan main dan pasti wajahku berubah menjadi sangat konyol saat ini.

 

“Ani tidak apa-apa.” Jawabku sambil menyembunyikan rasa maluku.

 

“Oh, kupikir kau tadi merindukanku sampai-sampai menyebut namaku seperti itu.”

 

“Tidak! Kau jangan terlalu percaya diri! Tadi aku tidak menyebut namamu, kau mungkin salah dengar.” Elakku.

 

“Aah jadi aku salah dengar ya? Baiklah kalau begitu.” Eunhyuk tersenyum singkat lalu kembali ke tempat duduknya. Dan bertepatan dengan hal itu, bel berbunyi dan songsaengnim memasuki kelas.

 

Entah kenapa tapi tumben sekali Eunhyuk sedari tadi diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Rasanya aku ingin sekali bertanya apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku mengurungkan niatku. Mungkin dia akan bercerita padaku jika dia mau, batinku dalam hati dan kembali fokus kepada pelajaran.

 

***

 

“Eunhyuk-a, aku mau ke kantin. Kau mau ikut?” tanyaku pada Eunhyuk.

 

“Kau tidak pa-pa kan jika harus ke kantin sendirian? Aku ingin menyelesaikan catatan yang diberikan oleh songsaengnim dulu.” Jawab Eunhyuk.

 

“Kau tidak sakit kan?” tanyaku lagi karena merasa cemas dengan sikap Eunhyuk yang tiba-tiba aneh ini.

 

“Tidak. Kau tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Jawab Eunyuk menenangkanku.

 

“Hhmm baiklah, aku ke katin dulu ya.” Ucapku akhirnya sambil meninggalkan Eunhyuk.

 

Apa yang sedang dipikirkannya sampai dia menjadi aneh begitu? hah sudahlah lebih baik aku tidak mencampuri urusannya.

 

***

 

Menurutku ini lucu. Aku sudah bersekolah di sini selama 4 hari, tapi baru hari ini aku bisa ke kantin. Hahaha aku tersenyum kecil karena mengetahui fakta tersebut. Aku memilih soup ayam dan jus jeruk untuk menu makananku hari ini. Yah sekolah ini lumayan juga, makanan yang disediakan di kantin cukup lengkap.

 

BRUK. PRANG. Nampan yang berisi soup ayam dan jus jeruk ini tumpah semua ke bajuku.

 

“Aawww! Aisshhh jinjja panas sekali!” rintihku karena terkena kuah panas soup ayam yang kupesan. Setahuku tadi di depanku tidak ada orang, kenapa aku bisa terjatuh?

 

“Ups. Rupanya kakiku menyelengkat seseorang ya?” suara Ji Eun terdengar kemudian.

 

Ah jadi dia rupanya yang menyelengkatku sampai jatuh begini? Dasar menyebalkan! Lihat saja kali ini aku tidak akan tinggal diam padanya!

 

“Kau memang tidak lihat ada orang berjalan hah?” kataku marah sambil mencoba untuk bangun. “Ini lihat seragamku jadi kotor kerena ulahmu!” kataku lagi.

 

“Itu salahmu kenapa tidak memperhatikan jalan! Kau jangan menyalahkanku!”

 

“Nona Ji Eun tapi aku sudah sangat berhati-hati saat berjalan tadi, kau yang memang sengaja untuk menyelengkatku!”

 

“Aku? Sengaja menyelengkatmu? Yang benar saja!”

 

“Tch.” Umpatku kesal sambil mencoba membersihkan seragamku.

 

“Mana Eunhyuk oppa? Kau tidak bersamanya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Buat apa kau menanyakannya hah? Sudah tak penting berdebat denganmu di sini, aku lebih baik kembali ke kelas.” Ucapku jengkel. Cih bisa-bisanya dia mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau tidak akan mengadu pada Eunhyuk kan kalau aku menyelengkatmu? Oh atau kau akan mengadu pada kakakmu?” tanya Ji Eun dengan nada mengejek.

 

“Siapa yang kau maksud kakakku hah?”

 

“Kim Hyuri eonnie, memangnya siapa lagi?”

 

Aish dia tau darimana Hyuri itu kakakku?

 

“Kau tahu darimana Hyuri itu kakakku hah?”

 

“Kau tidak memanggilnya eonnie? Ah ternyata aku tak salah dengar waktu itu.”

 

“Mworago?! Tidak salah dengar apa maksudmu?!” aku panik. Jangan-jangan dia mendengar pembicaraanku dan Eunhyuk tempo hari yang lalu.

 

“Ya, aku mendengar semuanya, dan ternyata semua yang kudengar itu ternyata tidak salah.”

 

Aku hanya terdiam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Ji Eun kali ini. Masalahnya sekarang semua rahasiaku telah diketahui olehnya.

 

“Dan, hhmm kalau boleh aku mengutarakan pendapatku mengenai masalahmu itu, menurutku kau itu…..anak haram.” Ji Eun mengatakan hal tersebut tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

 

“Ne? Apa maksudmu?”

 

“Kau tidak mengerti apa maksudku? Baik, akan kujelaskan.” Kata Ji Eun sembari mendekat ke arahku dan memasang tatapan intimidasinya kepadaku. “Apakah ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun hanya karena alasan harta?” tanyanya.

 

Hening. Aku tidak menjawab pertanyaan Ji Eun barusan. Pikiran-pikiran aneh yang seketika menyelubungiku ini menganggu kerja otaku saat ini.

 

“Aku masih tidak mengeti Ji Eun-ssi, tolong kau langsung saja, jangan berbelit-belit seperti ini.”

 

“Aisshh ternyata kau memang gadis bodoh, aku heran kenapa Eunhyuk oppa mau menjadi kekasihmu.”

 

“Tidak usah membawa-bawa Eunhyuk dalam urusan ini.” Ucapku tajam.

 

“Aigoo kau galak sekali, aku jadi enggan menjelaskannya padamu kalau begitu.” balas Ji Eun dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

 

“Ji Eun-ssi tolong kau jangan main-main, cepat jelaskan apa maksudmu!” perintahku. Kini darah sudah mulai mengalir ke ubun-ubunku hingga aku menjadi sedikit emosi, tapi sebisa mungkin aku tahan.

 

“Kau dan Hyuri eonnie berasal dari rahim ibu yang berbeda, itu maksudku! Makanya selama ini sikap ibumu terhadap Hyuri eonnie dan dirimu itu jauh berbeda. Perbuatanmu waktu itu yang menyebabkan kerugian pada perusahaan ibumu itu sebenarnya hanya dijadikan alasan, karena tidak mungkin ada seorang ibu yang tega mengacuhkan anaknya sendiri selama bertahun-tahun! Apa sekarang kau sudah mengerti maksudku hah?”

 

“Aku dan Hyuri dari rahim ibu yang berbeda? Maksudmu…..”

 

“Benar sekali! Ayahmu berselingkuh dengan wanita lain dan kau adalah hasil dari hubungan mereka itu!”

 

Hatiku sakit. Mataku terasa panas. Ingin rasanya aku teriak bahwa tidak mungkin seperti itu kenyataannya, tapi kenapa hati kecilku ini mengatakan bahwa apa yang dibicarakan oleh Ji Eun itu benar.

 

“Kenapa kau diam? Kau pasti sekarang sedang membenarkan ucapanku kan? Hah dasar gadis bodoh! Kenapa hal begitu saja bisa tidak terpikirkan olehmu?”

 

“Kalau memang benar diriku seperti apa yang kau bicarakan barusan, lalu apa yang mau kau lakukan?” akhirnya aku membuka suaraku.

 

“Menyuruhmu putus dengan Eunhyuk oppa.” Jawabnya santai.

 

“Pu-putus dengannya?” aku terkejut dengan jawaban yang diutarakan oleh Ji Eun.

 

“Ne. Karena menurutku anak haram sepertimu tidak pantas mendapatkan Eunhyuk oppa.”

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, Ji Eun-ssi?”

 

“Memangnya kenapa kau memang anak haram kan?”

 

Emosiku sudah benar-benar tak bisa dikendalikan saat ini. Tanpa sadar aku menaikkan tanganku hendak ingin menampar gadis di depanku ini, tapi gerakan tanganku ini terhenti oleh seseorang…

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

Jiyeong pasti bingung dengan sikapku yang tiba-tiba aneh ini. Semoga saja dia tidak salah paham denganku, aku begini karena aku memikirkan apa yang akan Ji Eun lakukan setelah kejadian tadi pagi saat aku mengantarnya ke kelas. Aku tahu dia bukan gadis yang ucapannya main-main, jika dia berkata sesuatu, pasti itu akan menjadi kenyataan. Tapi apa yang akan dilakukannya kali ini? Tidak mungkin kan kalau dia sampai mencelakakan Jiyeong?

 

“Ya! Teman-teman! Ayo kita ke kantin! Kalian tahu? Ji Eun sedang bertengkar dengan anak baru itu!” seorang siswa laki-laki berteriak di depan kelas layaknya mengumumkan sayembara kerajaan. Sontak seluruh murid di kelasku ini berbondong-bondong menuju ke kantin.

 

Ji Eun dan anak baru? Apa mungkin itu Jiyeong?

 

Seakan-akan tidak mau kalah dengan muridn lainnya, aku ikut berlari juga menuju kantin, aku berharap kalau mereka salah orang. Aku harap bukan Jiyeong, gumamku dalam hati.

 

Sampai di kantin kulihat murid-murid sudah bergerombol membentuk lingkaran seperti anak-anak yang siap menonton sebuah pertunjukkan sulap. Aku menerobos gerombolan murid-murid itu dan mendapati Ji Eun dan Jiyeong sedang beradu mulut. Aku sengaja membiarkan mereka karena ingin tahu apa yang mereka permasalahkan tapi hasilnya nihil aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan, hingga aku melihat Jiyeong mengangkat tangan kanannya hendak menampar  Ji Eun, dan saat itu juga aku mengambil tindakan untuk mencegah Jiyeong.

 

Jiyeong tampak terkesiap ketika aku menahan tangannya.

 

“Kenapa kau menahanku” tanyanya dingin.

 

“Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah.”

 

“Lepaskan.” Ujarnya lagi sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.

 

“Tidak. Lebih baik kita ke ke…”

 

“Oppa, tolong aku. Lihat dia! Dia jahat! Dia ingin menamparku, padahal kan aku hanya memberi saran padanya.” Belum sempat tadi aku menyelesaikan ucapanku, Ji Eun tiba-tiba memelukku dan karena terkejut aku melepaskan tangan Jiyeong.

 

“Oppa! Jangan diam saja! Apa kau terima melihatku diperlakukan seperti itu olehnya?” kata Ji Eun setengah merengek.

 

Aku melirik ke arah Jiyeong, tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang sangat mengerikan. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu, seakan-akan ingin membunuh seseorang.

 

Aku merutuki diriku sendiri yang malah di saat seperti ini tidak bisa segera mengambil tindakan dan kepuutusan yang tepat.

 

Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Perasaanku makin kacau dan mataku semakin panas ketika melihat Ji Eun merengek seperti itu pada Eunhyuk, terlebih-lebih Eunhyuk diam saja, tidak melakukan penolakan atau apapun terhadap sikap Ji Eun tersebut. Tanpa sadar, tanganku sudah mengepal keras dan nafasku memburu. Ingin rasanya aku segera menghabisi gadis di depanku saat ini. Alih-alih untuk mencoba meredam emosiku ini, aku mengambil keputusan untuk kembali ke kelas.

 

“Jiyeong-a kau mau ke mana? Bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Eunhyuk ketika aku berhasil melewati posisi di mana Eunhyuk dan Ji Eun.

 

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Eunhyuk. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan berbalik dan menjelaskan semuanya saat ini juga.

 

“Jiyeong-a!” panggil Eunhyuk lagi. Aku membalikan tubuhku sesaat, tapi bukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Tanyakan saja pada mantan pacarmu itu.” Jawabku dingin dengan menekankan nada bicaraku pada kata ‘mantan pacar’. Aku melihat Eunhyuk dan Ji Eun sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku segera berbalik dan kembali menuju kelasku. Tapi  sepertinya nasibku sedang sial hari ini…

 

“Kim Jiyeong, Jang Ji Eun, kalian berdua ikut saya ke ruang kepala sekolah! Sekarang!” perintah seorang songsaengnim yang entah sejak kapan sudah berdiri di depanku.

 

“Ne.” Jawabku lemah sambil mengikuti songsaengnim itu. Aku merasa Ji Eun berjalan mengikutiku. Ah pasti aku akan terkena masalah!

 

 

 

Author’s POV

 

Jiyeong dan Ji Eun memasuki ruang kepala sekolah.

 

“Kalian tunggu di sini. Bapak kepala sekolah akan menemui kalian segera.” Perintah songsaengnim yang tadi menyuruh Jiyeong dan Ji Eun untuk ke ruang kepala sekolah.

 

Tak lama kemudian Bapak kepala sekolah yang ditunggu itupun datang dan segera mengintrogasi Jiyeong dan Ji Eun.

 

Di lain sisi, Eunhyuk yang penasaran dengan apa yang terjadi di ruang kepala sekolah itupun menguping dari luar.

 

“Kalian berdua, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Seorang pria dengan perwawakan tegas itu mulai membuka suaranya.

 

“Tadi aku hanya bercanda dengan Jiyeong di kantin, tapi entah kenapa Jiyeong tidak terima dan hampir menamparku. Untung ada seorang siswa yang menahannya, mungkin kalau tidak ada, sekarang aku sudah babak belur.” Ji Eun memulai penjelasan yang terkesan lebih memojokkan Jiyeong.

 

“Apa benar begitu Kim Jiyeong?” tanya Kepala Sekolah itu lagi.

 

“Apa kalau aku memberi penjelasan, bapak akan percaya padaku?” Jiyeong malah balik bertanya.

 

“Kau aku suruh untuk menjelaskan! Bukan malah balik bertanya seperti itu!” suara yang daritadi terdengar rendah berat, kini mulai terdengar tinggi.

 

Jiyeong tidak gentar. Ia malah semakin bersikap berani pada sang Kepala Sekolah.

 

“Bukannya penjelasan dari satu orang sudah cukup?”

 

“Jadi apa yang dikatakan Ji Eun itu benar? Kau hampir menamparnya?”

 

Jiyeong terdiam mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Kepala Sekolah. Memang benar dia hampir menamparnya, tapi ada alasan di balik itu, dan Jiyeong memlih untuk tidak menceritakannya saat ini. Di depan Ji Eun dan Kepala Sekolah.

 

“Kau diam. Aku anggap kau membenarkan ucapan saudari Ji Eun. Jadi sudah jelas di sini kau yang salah, Kim Jiyeong. Sebagai hukumannya, kau aku perintahkan untuk membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Kau tidak boleh pulang sebelum hukumanmu itu selesai, apa kau mengerti?” nada memerintah sangat kentara sekali terdengar dari ucapan Kepala Sekolah.

 

Jiyeong mengangguk lemah. Di lain sisi Ji Eun tersenyum puas, karena dia berhasil membuat Jiyeong terkena hukuman.

 

“Kalian boleh keluar sekarang. Dan untuk kau, Jiyeong, segera lakukan hukumanmu.”

 

“Ne.” Jawab Jiyeong lemas dan mereka berdua pun keluar dari ruang kepala sekolah tersebut.

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

“Jang Ji Eun, apa sekarang kau puas hah? Sudah membuatku menerima hukuman seperti ini?!” Umpatku kesal.

 

Aku berjalan lemas keluar ruangan Kepala Sekolah dan mendapati Eunhyuk sudah berdiri di hadapanku. Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk bicara dengannya, makanya aku lebih memilih berjalan cepat sambil menundukkan wajahku.

 

“Kenapa kau tadi diam saja?” tanya Eunhyuk sambil menarik lenganku. Aku tetap tidak berbalik ke arahnya.

 

“Aku diam atau tidak hasilnya akan sama saja.” Jawabku dan aku menghentakkan tanganku keras agar terlepas dari pegangan Eunhyuk.

 

Dengan kasar aku melangkahkan kakiku untuk menjalani hukumanku. Sebenarnya saat ini, aku mengharap bahwa Eunhyuk akan mengejarku dan menawarkan bantuan untukku, tapi nihil. Eunhyuk sama sekali tidak mengejarku dan…kenapa dia malah menarik Ji Eun?! Mereka mau ke mana?! Aishhh jangan-jangan dugaanku benar…mereka berdua kembali berpacaran dan sengaja menyembunyikannya dariku. Dan mungkin karena hal itu juga, Eunhyuk tadi menahan tanganku dan tidak membelaku sama sekali? Ya! Tidak mungkin Eunhyuk seperti itu! Aku menepis pikiran burukku itu dan dengan malas mulai memasuki toilet pertama yang akan aku bersihkan.

 

 

 

Eunhyuk’s POV

 

“Ji Eun-ssi sekarang kau ikut aku!” perintahku sambil menarik paksa tangan Ji Eun untuk mengikutiku.

 

“Kita mau ke mana oppa?” tanyanya.

 

“Jangan cerewet! Ikut saja denganku!”

 

Aku menarik tangan Ji Eun dengan kasar, dan ketika sampai di tempat yang kutuju aku menghempaskan tangannya dengan kasar pula.

 

“Oppa, jangan kasar seperti itu.” Rintihnya kesakitan.

 

“Aku tidak akan bersikap lembut padamu sekarang! Kenapa kau tega memfitnah Jiyeong dan membiarkannya menerima hukuman seperti itu hah?” tanyaku geram.

 

“Aku tidak memfitnahnya, apa yang aku jelaskan tadi sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya.”

 

“Aku tidak percaya padamu! Tidak mungkin Jiyeong akan menamparmu, jika kau tidak berbuat yang memancing emosinya seperti itu!”

 

“Kau memang tahu apa tentangnya?!”

 

“Aku kekasihnya! Jadi aku tahu sifat Jiyeong!”

 

“Kalian baru menjadi sepasang kekasih tidak lebih dari satu hari! Jadi tidak mungkin kau mengetahui sifatnya! Siapa tahu Jiyeong memang orang yang mudah emosi dan tidak bisa diajak bercanda!”

 

“Tapi dia tidak akan marah seperti itu kalau tidak ada penyebabnya! Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau katakan tadi sehingga membuat Jiyeong marah seperti itu!”

 

“Kenapa kau terus membelanya hah? Tidak bisakah kau sedikit berpikir positif terhadapku?”

 

“Tidak bisa, karena memang kenyatanyaannya, semenjak Jiyeong menjadi kekasihku, kau selalu berusaha untuk menjatuhkannya!”

 

“Memang itu yang ku mau! Aku ingin dia menyerah dan akhirnya aku bia mendapatkanmu lagi! Bahkan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuat Jiyeong menyesal dan akhirnya memutuskanmu.” Ji Eun tersenyum licik.

 

Aku menjadi gugup. Terlebih-lebih mungkin karena aku berteriak-teriak sedari tadi mengundang murid-murid lain untuk mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi di antara aku dan Ji Eun.

 

“Apa yang kau mau lakukan hah?” tanyaku sedikit gugup.

 

“Jadi sekarang kau takut?”

 

“Tidak. Coba saja kau lakukan rencanamu itu! Aku yakin Jiyeong tidak akan menyerah dan tetap akan menjadi kekasihku.” Tantangku.

 

“Baiklah kalau begitu.” Untuk kedua kalinya Ji Eun tersenyum licik dan dengan sigap mengambil ponselku yang ada di kantong celanaku yang kebetulan tidak terlalu dalam.

 

“Rupanya kau ceroboh juga.” Gumamnya dan segera melemparkan ponselku pada seorang siswi yang posisinya dekat dengan Ji Eun.

 

“Ya! Jika aku menjentikkan jariku, segera kau potret apa yang kau lihat di depanmu! Apa kau mengerti?” tanya Ji Eun pada gadis tersebut. Awalnya gadis itu terlihat bingung tapi tak lama kemudia dia mengangguk tanda mengerti.

 

“Yak! Apa yang mau kau lakukan hah?”

 

“Membuktikan ucapanku barusan.” Dengan santainya dia menjawab dan menarik kerah bajuku sehingga posisiku dan Ji Eun kini sangat dekat, bahkan hidung kami nyaris beradu.

 

“Ya, kau siap-siap.” Perintah Ji eun pada gadis itu lagi.

 

Aku mencoba berontak dan sebisa mungkin menjauhakn diriku dari Ji Eun. Tapi terlambat. Sedetik kemudian Ji Eun kembali menarikku mencium paksa diriku. Kemudian terdengar suara jentikan jari Ji Eun dan…Cklik… terlihat blitz dari kamera ponselku dan gemuruh tepuk tangan mulai terdengar.

 

Merasa ini suatu hal yang tidak beres, aku segera dengan kasar mendorong tubuh Ji Eun ke dinding dan melap bibirku.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN JANG JI EUN?” teriakku geram.

 

“Aku sudah bilang padamu dari awal kan bahwa aku akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu kembali? Ini salah satu caraku.” Jawab Ji Eun sambil membenarkan seragamnya. “Ya, kau sekarang segera kirim gambar itu kepada Jiyeong, cari saja nomornya di daftar nomor telfon, pasti ada.” Perintah Ji Eun pada gadi yang sekarang sedang memegan ponselku.

 

“Jangan!” cegahku sambil berusaha untuk merebut ponselku, tapi Ji Eun menghalangiku dan memberi isyarat pada gadis itu untuk terus melakukan apa yang disuruhnya.

 

“Dasar licik! Minggir kau!” kudorong tubuh Ji Eun dengan kasar hingga tubuhnya terhempas ke lantai. Segera saja aku merebut ponselku kembali dan mengecek apakah gambar itu sudah terkirim atau belum. Tubuhku melemas ketika mengetahui gambar itu sudah berhasil terkirim.

 

“Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Lee Hyuk Jae.” Ji Eun berkata licik dan dan bangun dari posisinya yang tersungkur itu dan pergi meninggalkanku.

 

ARRGGH. Aku mengacak rambutku frustasi karena ulah Ji Eun. Apa yang harus aku katakan pada Jiyeong?

 

 

 

Kim Jiyeong’s POV

 

Ini sudah hampir toilet yang ke-3 yang aku bersihkan. Tanganku masih saja bergerak menyikat lantai toilet dengan jijik. Yaisshh kotor sekali toliet ini, ujarku sambil sesekali menutup hidungku karena bau tidak sedap. Tiba-tiba ada segerombol siswi memasuki toilet yang sedang aku bersihkan. Dengan seenaknya mereka menginjak lantai yang baru saja aku bersihkan. Errr ingin sekali aku rasanya membentak mereka, tapi aku mengurungkan niatku dan tetap terus menyikat lantai.

 

“Ya, apa kau tahu bahwa Ji Eun dan Eunhyuk kembali berpacaran?” seorang siswi bertanya pada temannya. Mwo? Apa yang barusan dia katakan? Aku lebih memilih menguping pembicaraan mereka ketimbang menanyakan langsung pada mereka.

 

“Ne? Bukannya mereka sudah putus?”

 

“Memang mereka sudah putus. Tapi apa kau tidak lihat tadi?”

 

“Melihat apa hah? Ya! Kau jangan membuatku penasaran!”

 

“Itu tadi Ji Eun dan Eunhyuk berciuman di depan murid-murid tingkat 2, bukannya itu sangat romantis?”

 

“Jinjja? Aigooo romantis sekali mereka, aku jadi iri dengan Ji Eun, andaikan aju mempunyai kekasih seperti Eunhyuk.”

 

Deg. Benarkah apa yang mereka bicarakan? Benarkah Eunhyuk kembali berpacaran dengan Ji Eun? Hatiku kembali merasa sakit dan tiba-tiba saja air mata sudah menggenangi pelupuk mataku. Tapi aku berusaha menahan tangisku dan memberanikan diri bertanya pada siswi-siswi itu. Mungkin aku salah dengar, batinku.

 

“Hhmm maaf, tapi apa benar kau melihat mereka, ehm maksudku Eunhyuk dan Ji Eun tadi berciuman?” tanyaku hati-hati.

 

“Ne. Aku melihatnya. Dan kalau tidak salah tadi, ada seorang siswi yang memotret kejadian itu, jadi kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan padanya.” Jawabnya.

 

Nafasku tercekat. Jadi benar dugaanku tadi…

 

“Oh bisa juga kau bertanya dengan gadis yang bernama Jiyeong, setahuku tadi Ji Eun menyuruh gadis yang memotret kejadian tadi, mengirim gambar itu pada gadis yang bernama Jiyeong itu, mungkin dia mempunyai gambarnya.” Tambahya kemudian.

 

Air mataku makin mendesak untuk keluar. Jiyeong? Gadis itu kan aku? Apa maksudnya ini? Apa mungkin dia sengaja untuk memberi tahuku tanpa harus bicara langsung padaku?

 

“Ah ne, jeongmal gomawoyo.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

 

“Cheonmaneyo.” Balas siswi itu dan kemudian dia keluar toilet bersama temannya.

 

Aku tinggal sendiri sekarang. Tubuhku tiba-tiba melemas dan akhirnya aku terjatuh. Pandanganku menjadi kabur karena air mata yang jatuh. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Kenapa Eunhyuk tega melakukan ini padaku? Air mataku jatuh makin deras. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku segera mengambil ponselku yang aku letakkan di kantung seragamku dan benar saja, satu pesan baru masuk ke ponselku. Dari Eunhyuk? Aku mengernyitkan dahiku dan dengan tangan bergetar membuka pesan tersebut.

 

Mataku membelalak ketika melihat isi pesan tersebut. Bukan sebuah tulisan, tapi sebuah gambar. Gambar yang sukses membuatku mengeluarkan air mata lebih banyak lagi. Ya, gambar yang dimaksud siswi tadi. Ponselku terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku tidak peduli bahwa ponselku akan rusak atau tidak, yang aku tahu sekarang hatiku sangat sakit karena Eunhyuk tega berbuat begini padaku.

 

*

 

Entah sudah berapa lama aku menangis di toilet ini, hingga aku tak sadar jika sudah waktunya pulang sekolah. Aku tahu pasti sekarang mataku sangat bengkak. Aku mencoba untuk berdiri dan keluar dari toilet ini, tapi dari jauh aku mendengar suara Ji Eun dan aku mengurungkan niatku ini, alih-alih aku malah masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Aku tidak mau keberadaanku diketahui oleh Ji Eun.

 

“Sekarang bagaimana? Kau menyesalkan menerima Eunhyuk menjadi pacarmu?” tanya Ji Eun. Dia bertanya pada siapa? Apa dia bertanya padaku? Tapi darimana dia tahu ada aku di sini?

 

“Ya, aku sedang bertanya padamu Kim Jiyeong. Kau pasti menyesalkan menerima Eunhyuk sebagai pacarmu? Hah dasar gadis bodoh, coba kau pikir sekarang, mana ada pria yang akan tulus menyukaimu dalam jangka waktu yang sangat singkat? Tidak ada kan? Pasti dia itu hanya mempermainkanmu! Dan lihat kan sekarang apa yang terjadi? Hahaha kasian sekali dirimu itu, Jiyeong-ssi.” Kata Ji Eun kemudian.

 

Ucapan Ji Eun ada benarnya. Mana ada pria yang akan tulus menyukai seorang wanita dalam jangka waktu yang sangat singkat? Argh aku memang bodoh!

 

“Baru sekarang kau sadar bahwa kau bodoh? Tch dasar.” Aku dengar Ji Eun berjalan keluar toilet dan untuk memastikannya aku mengintip dari lubang kunci. Yakin bahwa Ji Eun sudah benar-benar pergi, aku keluar dari bilik toilet.

 

Di depan cermin besar yang ada di toilet ini, aku merapikan diriku. Melap bekas air mataku dan mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku tahu jika aku kembali ke kelas sekarang, pasti ada Eunhyuk di sana dan dia akan menerorku dengan sejuta alasan yang ingin dijelaskan padaku. Ya! Kim Jiyeong, kau harus tunjukkan padanya kalau kau bisa! Kim Jiyeong, hwaiting!

 

***

 

Saat ini aku sudah sampai di kelas. Dan dugaanku tadi salah. Eunhyuk tidak ada di sini. Aisshh aku lupa, mungkin Eunhyuk sudah pulang duluan dengan Ji Eun tadi. Aku merapikan barang-barangku sambil berpikir sendiri.

 

“Hhhmm mungkin tidak lama lagi Eunhyuk akan datang padaku dan meminta putus dariku karena dia sudah kembali lagi dengan Ji Eun. Ya aku yakin itu pasti akan terjadi. Tapi lebih baik aku yang memutuskannya daripada harga diriku dijatuhkan dengan diputuskan oleh seorang pria.”

 

“Tapi aku perlu menyiapkan diriku terlebih dahulu agar saat aku memutuskannya, aku tidak menangis. Memang mungkin aku baru satu hari menjadi pacarnya, tapi aku merasa aku sudah sangat nyaman dengannya. Aku bisa menceritakan semua rahasiaku yang belum pernah aku ceritakan dengan orang lain. Dia bisa menghiburku ketika benar-benar tidak ada orang lain yang bisa menghiburku…”

 

Tes. Air mataku kembali jatuh. Aku sengaja tidak melapnya, lagipula buat apa? Toh tidak ada yang melihatku kan saat ini?

 

Aku berjalan gontai keluar kelasku. Makin lama pandanganku semakin kabur. Aku menangis lagi. Ya! Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa bertahan untuk tidak menangis jika di depan Eunhyuk nanti?!

 

Aku berjalan  terus sambil menunduk. Tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku dan membuatku sedikit terkejut. Tak perlu mendongakan wajah untuk tahu siapa orang yang ada di depanku itu. Dari caranya dia berdiri, aku sudah tahu bahwa orang itu adalah Eunhyuk.

 

Mau apa dia di sini hah? Dengan tetap menunduk aku berbelok ke arah kanan agar bisa menghindarinya, tapi dia malah mengikutiku. Hal yang sama pun terjadi ketika aku berbelok ke arah kiri, dia pun juga mengikutiku. Sebenarnya maunya apa sih?!

 

“Minggir. Aku mau lewat.” Perintahku dingin.

 

“Tidak sebelum kau mau aku ajak bicara.”

 

Yap. Tepat dugaanku pasti dia ingin mengajakku bicara, ehm bukan maksudku memutuskanku. Tapi kenapa secepat ini? Aku belum siap.

 

“Aku bilang minggir.” Perintahku lagi sambil berusaha mencari jalan untuk melarikan diri.

 

“Aku bilang aku tidak akan minggir sebelum kau mau ku ajak bicara!” Eunhyuk tidak mau kalah denganku.

 

Hhm mungkin ini sudah saatnya. Dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Eunhyuk.

 

“Jangan di sini. Cari tempat lain.” Jawabku sambil terus mencoba menahan air mataku yang entah sejak kapan sudah mendesak ingin keluar.

 

“Baik kita ke kafe dekat sekolah ini saja.” Balas Eunhyuk dan menggandeng tanganku.

 

“Lepas. Aku bisa jalan sendiri.”

 

Kebetulan aku sudah tahu kafe yang dimaksud oleh Eunhyuk, jadi aku berjalan mendahuluinya dan sambil terus menguatkan diriku sendiri.

 

*

 

Aku mengambil tempat duduk persis di ujung kafe. Tak lama kemudian Eunhyuk menyusulku dan langsung mengambil tempat tepat di depanku. Perasaanku makin kacau dan gugup, makanya aku daritadi tidak berani memandang Eunhyuk dan menundukan wajahku.

 

“Mau bicara apa? Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu.” Aku tetap tidak menghilangkan kesan dingin dalam nada bicaraku.

 

“Kau tidak mau pesan minum dulu?” tanya Eunhyuk basa-basi.

 

“Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk memesan minum, lebih baik aku pulang sekarang.” Jawabku sambil beranjak dari kursiku.

 

“Baiklah. Aku akan langsung bicara sesuai dengan keinginanmu.”

 

Aku mengurungkan niatku untuk pergi dan kembali duduk.

 

Inilah saatnya…sebentar lagi Eunhyuk pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Kim Jiyeong lakukan sesuatu! Jangan mau harga dirimu dilecehkan karena diputuskan oleh seorang pria. Ayo Kim Jiyeong kau pasti bisa!

 

“Jiyeong-a sebenarnya aku ingin menjelaskan padamu bahwa…”

 

Tidak-tidak aku tidak bisa Eunhyuk mengatakannya duluan padaku. Tidak bisa. Aku menarik nafasku dalam dan meremas rokku dengan kuat seraya memberanikan diri untuk membuka suara.

 

“Eunhyuk-ssi lebih baik kita mengakhiri hubungan kita saja.”

 

 

 

 

 

-TBC-